Anda di halaman 1dari 15

Jurnal Perencanaan Wilayahdan Pembangunan , Volume 1 Nomor 1, Nopember 2009

BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS FISKAL DI PROPINSI JAWA TIMUR


Etsie Veraningsih Alumni Pascasarjana Universitas Jember Program Studi Ilmu Ekonomi

Abstract Kapasitas fiskal merupakan cerminan kemampuan keuangan suatu daerah yang dijadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam perolehan Dana Alokasi Umum pada era desentralisasi ini. Oleh karena itu penelitian dilakukan untuk mencari solusi yang tepat dalam rangka memperkuat keuangan daerah. Permasalah dalam penelitian ini apakah PDRB perkapita, tingkat pertumbuhan ekonomi dan struktur ekonomi daerah berpengaruh terhadap kapasitas fiskal suatu daerah. Penelitian ini dilakukan di Propinsi Jawa Timur selama Tahun 2004-2006. Sampel dalam penelitian ini 29 (dua puluh sembilan) kabupaten/kota yang dipilih berdasarkan ketersediaan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PDRB perkapita memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kapasitas fiskal. Artinya bahwa semakin tinggi PDRB perkapita, maka makin besar kapasitas fiskal daerah. Pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap kapasitas fiskal. Artinya adanya pertumbuhan akan diikuti penurunan kapasitas fiskal. Dari temuan ini diduga bahwa terdapat faktor lose dari pengumpulan pajak yang seharusnya bisa diperoleh pemerintah. Rasio sektor pertanian dengan sektor industri tidak berpengaruh terhadap kapasitas fiskal. Oleh karena itu disarankan untuk meningkatkan kemampuan keuangan daerah dapat dilakukan melalui upaya peningkatan PDRB perkapita, pengefektifan penerimaan pajak, pengembangan perekonomian daerah sesuai potensi daerah tanpa menitikberatkan pada salah satu sektor. Kata kunci : kapasitas fiskal, PDRBperkapita, pertumbuhan ekonomi

Abstract 1

Etsie Veraningsih,, Faktor yang Mempengaruhi Kapasitas Fiskal Di Propinsi Jawa Timur

FACTORS INFLUENCING FISCAL CAPACITIES IN EAST JAVA PROVINCE Fiscal capacities is reflection of monetary ability an area taken as as one of consideration in acquirement of Dana Alokasi Umum at this decentralization era. Therefore research done to look for correct solution for the agenda of strengthening area finance. Permasalah in this research is PDRB perkapita, level of economic growth and area economics structure influential to fiscal capacities an area. This research done in Propinsi Jawa Timur during Tahun 2004-2006. Sample in this research 29 kabupaten/kota selected based on availibility of data. Result of this research indicates that PDRB perkapita to have positive influence signifikan to fiscal capacities. Mean that excelsior PDRB perkapita, hence more and more big area fiscal capacities. Economic growth has negativity influence signifikan to fiscal capacities. Mean existence of growth will be followed degradation of fiscal capacities. From this finding anticipated that there is loge factor from gathering of tax which ought to able to be obtained government. Agricultural sector ratio with industrial sector doesn't have an effect on to fiscal capacities. Therefore suggested to increase finance ability of area can be done through improvement effort of PDRB perkapita, effective of tax acceptance?receiving, economics expansion of area according to area potency without menitikberatkan at one of sector. Key word : fiscal capacities, PDRBPERKAPITA, economic growth

I. PENDAHULUAN Pada dasarnya berbagai teori tentang fiscal federalism menjelaskan timbulnya dampak ekonomi dari desentralisasi. Teori-teori tersebut dapat digolongkan dalam dua perspektif yaitu traditional theories (first generation theories) dan new perspective theories (second generation theories). Teori tradisional menekankan manfaat adanya desentralisasi yaitu memberikan allocative efficiency dan menciptakan dimensi persaingan. Teori pertama dikemukakan oleh Hayek (1945) yang menjelaskan bahwa dalam proses pengambilan keputusan yang terdesentralisasi akan semakin mudah dengan penggunaan informasi yang efisien karena pemerintah daerah lebih dekat dengan masyarakatnya. Teori kedua oleh Tiebout (1956) yaitu menjelaskan akan ada kompetisi antar pemerintah daerah tentang alokasi pengeluaran publik, sehingga memungkinkan masyarakat memilih berbagai barang dan jasa publik yang sesuai dengan selera dan keinginan mereka. Teori fiscal federalism lainnya yaitu oleh Musgrave (1959) dan Oates (1972) yang menekankan pentingnya revenue and expenditure assigment antar tingkat pemerintahan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (M.Khusairy, Dr; 90) Second Generation Theory berpandangan bahwa dengan implementasi desentralisasi fiskal akan terjadi perubahan prilaku pemerintah daerah ketika pusat menyerahkan berbagai kewenangan kepada pemerintah daerah, yaitu semakin berusaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Sebagaimana konsep money follows function, bahwa penyerahan kewenangan daerah juga dibarengi dengan penyerahan 2

Jurnal Perencanaan Wilayahdan Pembangunan , Volume 1 Nomor 1, Nopember 2009

sumber-sumber pendanaan yang sebelumnya masih dipegang oleh Pemerintah Pusat. Dengan demikian diharapkan daerah menjadi mampu untuk melaksanakan segala urusannya sendiri sebab sumber-sumber pembiayaan juga sudah diserahkan. Apabila mekanisme tersebut sudah terwujud maka cita-cita kemandirian daerah dapat direalisasikan. Jaya (1999: 11) menyatakan sumber pembiayaan pembangunan yang penting untuk diperhatikan adalah penerimaan daerah sendiri, karena sumber inilah yang merupakan wujud partisipasi langsung masyarakat suatu daerah dalam mendukung proses pembangunan. Koswara (2000:50) berpandangan bahwa ciri utama yang menunjukkan suatu daerah otonom mampu berotonomi terletak pada kemampuan keuangan daerah. Artinya, daerah otonom harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan sendiri, mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerahnya. Ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin, sehingga Pendapatan Asli Daerah harus menjadi bagian sumber keuangan terbesar, yang didukung oleh kebijakan perimbangan keuangan pusat dan daerah sebagai prasyarat mendasar dalam sistem pemerintahan negara. Berdasarkan UU No 33 Tahun 2004 sumber keuangan Negara telah diserahkan kepada Pemerintahan Daerah yang dimanifestasikan dalam bentuk Pendapatan Asli Daerah (PAD). PAD bersumber dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain PAD yang sah. PAD inilah sumber pembiayaan yang memang benarbenar harus digali dari daerah itu sendiri sehingga dapat mencerminkan kondisi riil daerah. Jika struktur PADnya sudah kuat, maka dapat dikatakan daerah juga memiliki kemampuan pembiayaan sendiri yang kuat. Untuk itu tentu dibutuhkan struktur perekonomian yang mantap beserta obyek pajak dan retribusi yang taat. Sementara DAU dan berbagai bentuk transfer dari Pemerintah Pusat seyogyanya hanya bersifat pendukung bagi pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan di daerah Namun, tujuan tersebut tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Fenomena yang terjadi dewasa ini justru sebaliknya yaitu daerah makin bergantung kepada alokasi transfer dari Pemerintah Pusat, terutama DAU. Banyak penelitian sebelumnya menunjukkan suatu fakta yang sangat memprihatinkan, yaitu hampir di semua daerah di Indonesia rasio DAU terhadap Total Pendapatan Daerah melebihi angka 50%. Tidak berbeda dengan hasil penelitian tersebut sebelumnya, selama ini Dana Perimbangan yang merupakan transfer dari Pemerintah Pusat masih merupakan kontributor terbesar dalam Total Penerimaan di kabupaten/kota di Jawa Timur. Tabel 1.1 menunjukkan proporsi Dana Perimbangan terhadap Total Penerimaan di kabupaten/kota di Jawa Timur ( M.Khusaini, Dr; 2006). Dana perimbangan yang berasal dari pemerintah pusat terhadap APBD setelah desentralisasi fiskal masih menunjukkan nilai yang sangat besar, yaitu mencapai rata-rata sebesar 91,3 %. Hal ini menunjukkan bahwa pada era otonomi daerah justru bukan kemandirian daerah yang terwujud, melainkan ketergantungan daerah yang makin besar kepada Pusat.

Etsie Veraningsih,, Faktor yang Mempengaruhi Kapasitas Fiskal Di Propinsi Jawa Timur

Tabel 1.1. Proporsi Dana Perimbangan Terhadap Total Penerimaan


Sebelum Desentralisasi Fiskal (1999) Setelah Desentralisasi Fiskal (2000) Dana Total % Dana Total % Perimbangan Penerimaan Perimbangan Penerimaan (Rp Juta) (Rp Juta) (Rp Juta) (Rp Juta) Total 6.578.943 7.036.964 93,5 10.723.281 11.913.373 90,0 Rata-rata 177.809 190.188 94,5 289.818 289.818 91,3 Sumber : APBD Kab/kota di Jawa Timur, dalam M.Khusaini, Dr, 2006 Kab/kota Ket

Turun turun

Demikian pula kontribusi PAD dalam penerimaan daerah di kabupaten/kota di Indonesia jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kontribusi PAD dalam penerimaan daerah di tingkat propinsi (M.Khusaini, Dr, 2006). Tabel 1.2. memperlihatkan bahwa pada tahun 2001 kontribusi PAD untuk kabupaten/kota di Indonesia kurang dari 5%, sementara dana perimbangan mencapai 72,58% dan untuk daerah propinsi kontribusi PAD rata-rata 32,23 % Tabel 1.2. Komposisi Penerimaan Daerah di Indonesi 1999-2001 1999(%) 2000(%) 100 100 Propinsi PAD 37,22 32,3 Dana Bagi Hasil 18,66 15,94 DAU/DAK 44,12 51,76 100 100 Kabupaten/Kota PAD 10,31 9,04 Dana Bagi Hasil 12,39 11,31 DAU/DAK 77,3 79,65
Sumber: Departemen Keuangan; dalam Simanjuntak dan Mahi 2003

2001(%) 100, 32,23 25,89 41,88 100 4,99 22,43 72,58

Sebenarnya konsekuensi pelaksanaan otonomi daerah berdasarkam UU No 32 tahun 2004 dan UU No 33 tahun 2004 adalah adanya reformasi dalam manajemen keuangan daerah. Dengan reformasi manajemen keuangan daerah yang tepat akan dapat menumbuhkan kemandirian daerah. Secara garis besar manajemen keuangan daerah dapat dibagi menjadi manajemen pengeluaran daerah dan manajemen penerimaan daerah. Pada manajemen pengeluaran daerah telah dilakukan budgeting reform yaitu perubahan dari traditional budget ke performance budget. Dengan performance budget maka sistem penyusunan dan pengelolaan anggaran daerah berorientasi pada pencapaian kinerja. Kinerja tersebut harus mencerminkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik. Dalam kaitannya pengelolaan anggaran ini, Sultan Suhab (2004) dengan mengutip World Bank (1994) secara spesifik merekomendasikan dua hal pokok yaitu pengalokasian anggaran belanja pemerintah daerah pada kegiatan pembangunan yang mempunyai cost recovery tertinggi dan pengalokasian anggaran belanja daerah pada kegiatan pembangunan yang mampung merangsang penerimaan daerah. Atau dengan kata lain program-program pemerintah daerah harus diarahkan pada upaya menumbuhkan aktivitas ekonomi daerah serta membuka jaringan distribusi barang dan jasa melalui penciptaan infrastruktur perdagangan sehingga perekonomian daerah meningkat dan pada gilirannya pajak dan retribusi daerah meningkat. 4

Jurnal Perencanaan Wilayahdan Pembangunan , Volume 1 Nomor 1, Nopember 2009

Sedangkan dari sisi manajemen penerimaan daerah diperlukan upaya peningkatan kapasitas fiskal daerah (fiscal capacity). Peningkatan kapasitas fiskal daerah sebenarnya tidak hanya menyangkut peningkatan PAD melainkan optimalisasi sumber-sumber penerimaan daerah. Karena bagaimanapun juga sulit sekali bagi daerah untuk dapat membiayai seluruh pengeluaran rutin dan modalnya dari PAD saja mengingat sumber-sumber PAD sangat kecil. Selain itu juga perlu diingat bahwa peningkatan kapasitas fiskal bukan berarti anggaran yang besar jumlahnya, sebab anggaran yang besar bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan masalah. Kapasitas fiskal merupakan salah satu ukuran kemampuan keuangan suatu daerah. Semakin besar kapasitas fiskal suatu daerah, semakin kuat kemampuan keuangan daerah tersebut. Berdasarkan besar kapasitas fiskal, Daerah di Indonesia dibagi dalam 4 (empat) kelompok yaitu Daerah berkapasitas fiskal sangat tinggi, tinggi, sedang dan rendah. Pada tabel 1.3. Peta Kapasitas Fiskal Kabupaten/Kota, Lampiran Keputusan Menteri Keuangan RI No 129/PMK.02/2005 dapat dilihat besar kapasitas fiskal kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur cenderung rendah. Propinsi Jawa Timur yang terdiri dari 38 kab/kota (29 kabupaten dan 9 kota) hanya 4 kota yang tergolong kapasitas fiskal tinggi yaitu Kota Blitar, Kota Madiun, Kota Mojokerto dan Kota Pasuruan. Sedangkan yang tergolong kapasitas fiskal sedang terdapat 5 kota yaitu Kota Batu, Kota Surabaya, Kota Probolinggo, Kota Malang dan Kota Kediri. Sisanya tergolong kapasitas fiskal rendah. Realita tersebut menunjukkan bahwa kemampuan keuangan daerah kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur cenderung masih lemah. Oleh karenanya Daerah perlu mencari solusi yang tepat untuk memperkuat keuangan Daerah sejalan dengan nafas otonomi dan desentralisasi. Dengan kata lain, kabupaten/kota harus mampu meningkatkan kapasitas fiskalnya, agar kelak Daerah dapat mengembangkan diri untuk menciptakan suatu pola kemandirian daerah dan sekaligus mensejahterakan masyarakatnya. Potensi kemampuan keuangan suatu daerah tidak bisa lepas dari faktor kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi daerah. Sementara cepat lambatnya laju pertumbuhan ekonomi daerah tak kan terpisahkan dari faktor kondisi struktur ekonomi daerah. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Mengetahui pengaruh PDRB terhadap kapasitas fiskal kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur. 2. Mengetahui pengaruh jumlah penduduk terhadap kapasitas fiskal kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur. 3. Mengetahui pengaruh aktivitas industri dan perdagangan terhadap kapasitas fiskal kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur. 4. Untuk mengkaji faktor pengaruhnya paling dominan terhadap kapasitas fiskal.

II. METODE PENELITIAN Obyek penelitian ini adalah kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur. Penelitian ini ditujukan untuk mencari pengaruh PDRB perkapita dan Pertumbuhan terhadap Kapasitas Fiskal. Jenis penelitian ini merupakan penelitian diskriptif yang menggunakan pendekatan analisa kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder. Data yang berkaitan dengan PAD dan Dana Bagi Hasil diperoleh dari Laporan Realisasi APBD Kabupaten, Kota dan Propinsi se- Propinsi Jawa Timur TA. 2004 TA. 2006 yang dikeluarkan oleh instansi 5

Etsie Veraningsih,, Faktor yang Mempengaruhi Kapasitas Fiskal Di Propinsi Jawa Timur

Departemen Keuangan DJAPK Subdirektorat Dana Perimbangan (www.sikd.djapk.com). Sedangkan data yang berkaitan dengan masalah PDRB perkapita dan Pertumbuhan didapat dari instansi BPS Pusat. Adapun periode waktu yang digunakan terdiri dari data time series mulai tahun 2004 hingga tahun 2006 yang akan dikombinasikan dengan data cross section pada 29 kabupaten di propinsi Jawa Timur yang dipilih sebagai daerah sampel. Analsisis dalam penelitian ini digunakan regresi linear berganda. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kapasitas Fiskal adalah : PDRB perkapita, pertumbuhan dan rasio antara sektor pertanian terhadap sektor industri . Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut :
b0 b1 1 b22 b33 e

Keterangan: Y X1 X2 X3 b0 b1 b2 b3 E

= = = = = = = = =

kapasitas fiskal PDRB perkapita Pertumbuhan Rasio antara sektor pertanian dengan sektor industri Konstanta Koefisien besarnya pengaruh PDRB perkapita terhadap Kapasitas Fiskal Koefisien besarnya pengaruh pertumbuhan terhadap Kapasitas Fiskal Koefisien besarnya pengaruh rasio antara sektor pertanian dengan sektor industri terhadap kapasitas fiskal variabel pengganggu

Untuk menguji secara bersama-sama koefisien regresi variabel PDRB perkapita, pertumbuhan dan rasio antara sektor pertanian dengan sektor industri. Apakah mempunyai pengaruh nyata atau tidak terhadap kapasitas fiskal di Propinsi Jawa Timur. Menurut Gujarati (2000:120), rumus uji F sebagai berikut: R2 k 1 F = 1 R2 N k Dimana: R2 = Koefisien determinasi k = Jumlah variabel N = Jumlah sampel Untuk menguji secara individual variabel bebas PDRB perkapita, Pertumbuhan, dan rasio antara sektor pertanian dengan sektor industri terhadap variabel terikat Kapasitas Fiskal (Gujarati, 2000:140):

Jurnal Perencanaan Wilayahdan Pembangunan , Volume 1 Nomor 1, Nopember 2009

Dimana:
bi

t
= = Koefisien regresi Standart error deviasi

bi Se b i

Se b i

Untuk mengukur proporsi kontribusi variasi variabel bebas PDRB perkapita , Pertumbuhan dan rasio antara sektor pertanian dengan sektor industri terhadap varibel terikat kapasitas fiskal (Gujarati, 2000:139). R2 =
ESS TSS

R2 =

y i x 1i

y i x 2i yi
2

......... k

y i x ki

Dimana: R2 = Koefisien determinasi ESS = Jumlah kuadrat yang dijelaskan RSS = Jumlah kuadrat total (ESS+RSS) RSS = Jumlah kuadrat residual Pengujian asumsi klasik meliputi: uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi. Uji Multikolinieritas, digunakan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang sempurna atau tidak antara variabel-variabel bebas, sehingga sulit untuk memisahkan pengaruh antara variabel-variabel tersebut secara individu terhadap variabel terikat. Uji Heteroskedastisitas, digunakan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedatisitas. Dan, jika varians berbesa disebut heteroskedatisitas. Untuk mengetahui adanya heteroskedatisitas dilakukan dengan menggunakan uji scatterplot. Uji Autokorelasi. digunakan untuk mengetahui adanya korelasi antara variabel itu sendiri pada pengamatan yang berbeda waktu atau individu. Dengan menggunakan uji Durbin watson, dapat dikatakan tidak terjadi autokorelasi apabila nilai d ( durbin watson hitung) memenuhi kriteria: du < d < 4-du (maka dalam hal ini dapat dikatakan tidak terjadi atau tidak ada korelasi positif maupun negatif). Dengan model statistik Durbin Watson adalah sebagai berikut (Nakhrowi, 2002:143):
2

Ut Ut
d=
t 2

Ut
t 2

Etsie Veraningsih,, Faktor yang Mempengaruhi Kapasitas Fiskal Di Propinsi Jawa Timur

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Analsisis Data Penelitian Analisis regresi berganda pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel independen X1 (PDRB perkapita), X2 (Pertumbuhan) dan X3 (rasio sektor pertanian terhadap sektor industri) terhadap variabel dependen Y (kapasitas fiskal). Untuk mengetahui hasil analisis regresi linier berganda dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1: Rekapitulasi Hasil Analisis Regresi Variabel Koefisien Regresi 143.104,381 Konstanta PDRB perkapita Pertumbuhan Rasio pertanian terhadap industri R. Square = 0,766 Adjusted R. Square = 0,758 Sumber : data sekunder diolah, 2009. 0,22 -45.833,041 1.333,507

t hitung 2,141 16,070 -3,619 1,592

Probabilitas .035 .000 .001 .115

F ratio = 90,809 Probabilitas = 0,000

Model persamaan regresi yang terbentuk adalah : Y = 143.104,381 + 0.22 X1 - 45.833,041 X2 Koefisien regresi merupakan angka yang menunjukkan besarnya pengaruh masingmasing variabel independen terhadap variabel dependen. Besarnya pengaruh masing-masing variabel tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Angka konstanta menunjukkan nilai 143.104,381. Artinya pada saat PDRB perkapita dan pertumbuhan = 0, kapasitas fiskal daerah sebesar 143.104,381 b) Koefisien regresi dari PDRB perkapita adalah sebesar 0,003 yang berarti bahwa setiap kenaikan satu juta PDRB perkapita akan menyebabkan kenaikan jumlah kapasitas fiskal yang diperoleh masing-masing daerah sebesar Rp 0.22 juta dengan asumsi bahwa pertumbuhan dianggap konstan ; c) Koefisien regresi dari pertumbuhan adalah sebesar -45.833,041 yang berarti bahwa setiap kenaikan 1% pertumbuhan, maka akan menyebabkan penurunan nilai kapasitas fiskal daerah sebesar Rp -45.833,041 juta dengan asumsi bahwa variabel PDRB perkapita dianggap konstan ; d) Koefisien regresi dari rasio sektor pertanian terhadap sektor industri adalah sebesar 1.333,507, namun berdasarkan nilai signifikansinya yang sebesar 0.115 maka dapat dinyatakan koefisien ini tidak signifikan sehingga todak digunakan dalam persamaan.

Jurnal Perencanaan Wilayahdan Pembangunan , Volume 1 Nomor 1, Nopember 2009

Untuk menguji koefisien regresi secara serentak dari variabel bebas yaitu : PDRB perkapita (X1) , pertumbuhan (X2), rasio sektor pertanian dengan sektor industri (X3) terhadap variabel terikat kapasitas fiskal di gunakan uji F (Fisher Test). Dengan menggunakan derajat keyakinan sebesar 95% ( = 0,05 ) maka hasil perhitungan diketahui bahwa nilai probabilitas F lebih kecil dari yaitu 0,000 < 0,05 maka dinyatakan signifikan. Oleh karena itu, Ho ditolak dan Ha diterima, artinya PDRB perkapita, pertumbuhan dan rasio sektor pertanian dengan sektor industri secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap kapasitas fiskal daerah. Untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel bebas yaitu PDRB perkapita (X1), pertumbuhan (X2) dan rasio sektor pertanian dengan sektor industri (X3) terhadap variabel terikat kapasitas fiskal kabupaten/kota digunakan uji t. Berdasarkan lampiran 1, maka pengujian hipotesis secara parsial untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah : a) Pengujian hipotesis variabel PDRB perkapita terhadap kapasitas fiskal yang diperoleh daerah dengan tingkat keyakinan 95% ( = 0,05) diperoleh nilai probabilitas t < yaitu 0,000 < 0.05 yang berarti signifikan, maka Ho ditolak dan H1 diterima artinya variabel PDRB perkapita berpengaruh terhadap variabel kapasitas fiskal daerah. b) Pengujian hipotesis variabel pertumbuhan terhadap kapasitas fiskal yang diperoleh daerah dengan tingkat keyakinan 95% ( = 0,05) diperoleh nilai probabilitas t < yaitu 0,001 < 0.05 yang berarti signifikan, maka Ho ditolak dan H1 diterima artinya variabel pertumbuhan berpengaruh signifikan terhadap variabel kapasitas fiskal daerah; c) Pengujian hipotesis variabel rasio sektor pertanian dengan sektor industri terhadap kapasitas fiskal yang diperoleh daerah dengan tingkat keyakinan 95% ( = 0,05) diperoleh nilai probabilitas t > yaitu 0,115 < 0.05 yang berarti tidak signifikan, maka Ho diterima dan H1 ditolak artinya variabel rasio sektor pertanian dengan sektor industri tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel kapasitas fiskal daerah. Analisis yang digunakan untuk mengetahui besarnya kontribusi sumbangan variabel bebas atau independen (X1 , X2, X3) terhadap variasi perubahan naik atau turunnya variabel terikat atau dependen (Y) adalah dengan menggunakan koefisien determinasi berganda (R2). Hasil perhitungan R2 diketahui bahwa kontribusi atau sumbangan variabel bebas terhadap variasi naik turunnya variabel dependen (Y) adalah sebesar 0,766 dengan nilai koefisien determinasi yang disesuaikan sebesar 0,758. Hal ini berarti perubahan PDRB perkapita dan laju pertumbuhan mempunyai kontribusi atau sumbangan terhadap naik turunnya kapasitas fiskal daerah sebesar 76,6 % sedangkan sisanya yaitu 23,4 % dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian ini. Untuk mengetahui pengaruh yang paling dominan dari variabel independen terhadap perubahan variabel dependen dilakukan dengan membandingkan nilai beta standar (Beta Standardized). Variabel yang mempunyai nilai beta standar paling tinggi adalah variabel yang paling dominan memberikan pengaruh terhadap kapasitas fiskal, ditunjukkan tabel 1.

Etsie Veraningsih,, Faktor yang Mempengaruhi Kapasitas Fiskal Di Propinsi Jawa Timur

Tabel 1: Variabel yang Berpengaruh Paling Dominan Variabel Standardized Koefisien (Beta) PDRB perkapita 0,965 Pertumbuhan -0,215 Sumber : data sekunder diolah, 2009. Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa variabel PDRB perkapita memiliki nilai beta standar paling tinggi yaitu 0,965. Dengan demikian PDRB perkapita dapat dikatakan mempunyai pengaruh paling besar terhadap besar kecilnya kapasitas fiskal kabupaten/kota Propinsi Jawa Timur tahun 2004-2006. Uji Asumsi Klasik 1) Uji Multikolinearitas Untuk mengetahui ada atau tidak adanya multikolinearitas pada sebuah variabel dapat diketahui dengan metode Variance Inflation faktor (VIF) masing-masing dari variabel bebasnya tersebut. Sedangkan nilai VIF yang digunakan sebagai ukuran yaitu kurang dari 5 dapat dinyatakan tidak ada indikasi multikoliniaritas antar variabel bebas. Berdasarkan perhitungan diperoleh seperti tabel 2. Tabel 2: Hasil analisis Variance Inflation Factor Variabel PDRB perkapita Pertumbuhan Sumber : data sekunder diolah, 2009. Collinearity Statistics Tolerance VIF .929 1.281 .929 1.254

Dari hasil analisis diatas yang sesuai dengan lampiran 5 maka dapat disimpulkan bahwa variabel bebas PDRB perkapita dan Pertumbuhan memiliki nilai VIF tidak lebih dari 5, untuk PDRB perkapita 1,281 dan Pertumbuhan sebesar 1.254 Cara lain untuk melihat multikolinearitas dapat dilihat dari perhitungan koefisien korelasi antara PDRB perkapita dan pertumbuhan seperti pada tabel 4.7. Cara pengukurannya yaitu bila koefisien korelasi sebesar 1 disebut korelasi sempurna, sehingga semakin mendekati 1 maka korelasinya semakin kuat yang berarti terdapat indikasi multikolinearitas, ditunjukkan tabel 3. Tabel 3. Coefficient Correlations Model 1 Correlations PDRBperkapita Pertumbuhan Covariances PDRB perkapita Pertumbuhan Sumber : data sekunder diolah, 2009.

PDRBperkapita Pertumbuhan 1.000 -.378 -.378 1.000 0.000 -6.421 -6.421 0.000

10

Jurnal Perencanaan Wilayahdan Pembangunan , Volume 1 Nomor 1, Nopember 2009

Berdasarkan nilai korelasi antara PDRB perkapita dan pertumbuhan yaitu hanya sebesar 0,266 tidak mendekati 1, berarti kedua variabel tersebut tidak ada korelasinya atau multikolinearitas. 2) Uji Autokorelasi Hasil perhitungan terhadap Autokorelasi pada kapasitas fiskal ini dilakukan guna mengetahui atau menguji suatu model apakah variabel pengganggu masing-masing variabel bebas saling mempengaruhi, hal tersebut dapat dilihat dari hasil Durbin Watson yang nilai sebesar 1,785. Kriteria untuk terpenuhi asumsi autokorelasi yaitu du < DW < 4 du (1,4 < 1,785 < ( 4 1,4), dengan hasil tersebut disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah dengan gejala autokorelasi. 3) Uji Heteroskedatis Digunakan untuk mengetahui apakah varian dari gangguan adalah seragam untuk semua variabel. Pendeteksian gejala heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat scatter plot. Hasil analisis regresi menghasilkan scatter plot seperti pada gambar 1.

Scatterplot

Dependent Variable: Fiskal


8

Regression Studentized Deleted (Press) Residual

-2

-4 -2 0 2 4 6

Regression Standardized Predicted Value

Gambar 1. Scatter Plot

Dari gambar tersebut dapat dilihat titik-titik berkumpul diantara titik -2 dan 2. Hal ini menunjukkan bahwa varian dari pengganggu tidak besar atau seragam artinya tidak ada gejala heteroskedatis. 2. Pembahasan Hasil Penelitian Kapasitas fiskal merupakan ukuran kemampuan pemerintah daerah untuk memperoleh pendapatan dari sumber-sumber yang dimilikinya. Oleh karena itu kapasitas fiskal dapat dianggap sebagai salah satu tolak ukur kemampuan keuangan daerah ataupun sebagai potret kemandirian daerah. Menghitung kapasitas fiskal diperlukan untuk menentukan besarnya intergovermental grants atau dana perimbangan dari pusat dengan tujuan pemerataan sumber daya yang dimiliki setiap daerah. Di Indonesia istilah ini dikenal sebagai Dana Alokasi Umum.

11

Etsie Veraningsih,, Faktor yang Mempengaruhi Kapasitas Fiskal Di Propinsi Jawa Timur

Meskipun demikian, menghitung atau menentukan kapasitas fiskal yang tepat tidaklah mudah. Salah satu penyebabnya adalah adanya perbedaan antara pendapatan riil yang diterima pemerintah daerah dengan potensi kemampuan pemerintah daerah untuk memperoleh pendapatan. Apabila yang digunakan adalah penerimaan riil maka nilai tersebut belum mencerminkan kemampuan yang sebenarnya. Demikian pula penghitungan potensi tidaklah sederhana karena perbedaan tarif pajak dan dasar pengenaan pajak dari sumbersumber pajak yang mungkin dipungut. Satu hal yang membedakan metode penghitungan kapasitas fiskal di Indonesia dengan negara lain yaitu sumber-sumber penerimaannya. Di negara lain seperti Inggris, Amerika Serikat, Rusia penghitungan kapasitas fiskalnya hanya dari sumber pajak saja. Bahkan berdasar rekomendasi dari Advisory Commision On Intergovernmental Relation (US) telah dikembangkan 6 (enam) metode yang semuanya berdasar sumber pajak saja. Sedangkan di Indonesia penghitungan kapasitas fiskal meliputi pula Dana Bagi Hasil. Dalam Dana Bagi Hasil terdapat pula komponen Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Sumber Daya Alam. Jadi penghitungannya meliputi penerimaan dari sumber daya alam. Demikian pula dalam formula penghitungan DAU berdasarkan UU No 33 tahun 2004 yang menempatkan kapasitas fiskal sebagai faktor pengurang dalam alokasi DAU menyebabkan terjadinya disinsentif bagi pemerintah daerah yang mampu memacu penerimaan (Soekarwo, 2004). Memang hal ini merupakan suatu dilematis bagi pemerintah daerah. Kapasitas fiskal kecil menunjukkan daerah tidak mampu, namun kapasitas fiskal besar akan menurunkan alokasi DAU yang akan diterima. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai signifikansi PDRB perkapita sebesar 0,000 yang berarti bahwa PDRB perkapita memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kapasitas fiskal. Koefisien regresi sebesar 0,022, menunjukkan adanya pengaruh positif PDRB perkapita terhadap kapasitas fiskal. Artinya bahwa semakin tinggi PDRB perkapita, maka makin besar kapasitas fiskal daerah dan sebaliknya semakin kecil PDRB perkapita maka kapasitas fiskal juga akan semakin turun. Hal ini dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi PDRB perkapita suatu kabupaten/kota maka semakin tinggi kemampuan penduduk daerah tersebut untuk membayar pajak sehingga akan mendorong penerimaan pemerintah daerah yang pada akhirnya akan meningkatkan kapasitas fiskal daerah tersebut. Kondisi ini sejalan dengan Mardiasmo dan Mahfatih (2000). Salah satu faktor yang mempengaruhi potensi sumber penerimaan daerah adalah perkembangan PDRB perkapita. Semakin tinggi pendapatan seseorang yang dicerminkan dari PDRB perkapita maka semakin tinggi kemampuan untuk membayar berbagai pungutan-pungutan yang ditetapkan pemerintah sehingga semakin tinggi pula potensi sumber penerimaan daerah. Demikian pula analisis elastisitas PAD terhadap PDRB yang dilakukan oleh Bappenas (2003) pada pemerintah Propinsi, menunjukkan bahwa 12 propinsi memiliki nilai elastisitas 1. Hal ini menunjukkan bahwa setiap terjadi perubahan PDRB akan memberikan dampak yang positif dan signifikan terhadap PAD. Adanya kenaikan PAD berarti kapasitas fiskal juga meningkat. Berdasarkan hasil analisis terhadap pertumbuhan diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,001, yang berarti bahwa pertumbuhan memiliki pengaruh yang signifikan. Koefisien regresi sebesar -45.833,041 menunjukkan pengaruh negatif faktor pertumbuhan ekonomi terhadap kapasitas fiskal. Artinya adanya pertumbuhan akan diikuti penurunan kapasitas fiskal. 12

Jurnal Perencanaan Wilayahdan Pembangunan , Volume 1 Nomor 1, Nopember 2009

Secara teoritis kondisi tersebut tidak sesuai. Seharusnya pertumbuhan ekonomi akan mendorong kenaikan penerimaan daerah yang artinya peningkatan kapasitas fiskal. Seperti yang disebutkan oleh Peecok dan Wiseman, bahwa perkembangan ekonomi menyebabkan pemungutan pajak yang semakin meningkat, dan meningkatnya penerimaan pajak menyebabkan pengeluaran pemerintah juga meningkat (Mangkoesoebroto,1999:173). Namun dari hasil penelitian terhadap 29 kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur ini, memang terdapat pertumbuhan ekonomi yang tidak diikuti kenaikan penerimaan pemerintah. Berdasarkan kenyataan tersebut dapat diduga terdapat faktor lose dari pengumpulan pajak yang seharusnya bisa diperoleh pemerintah. Artinya adanya pertumbuhan ekonomi yang mencerminkan kenaikan kemakmuran penduduk namun tidak diikuti kesadaran untuk membayar pajak yang lebih banyak. Atau sistem pemungutan pajak yang tidak efisien sehingga potensi pajak belum dapat diterima oleh pemerintah daerah. Juga dapat diduga bahwa sistem pajak ataupun tarif pajak yang diterapkan menjadi disinsentif masyarakat dalam berproduksi. Temuan ini didukung hasil penelitian BAPPEPROP Jatim dengan Lembaga Penelitian Universitas Jember Tahun 2006 bahwa pertumbuhan PDRB tidak sejalan dengan kenaikan penerimaan pemerintah. Selain itu juga sesuai pendapat Kim (1997 : 167) yang telah melakukan penelitian di Korea selama periode 1970 sampai dengan 1991 menyimpulkan pungutan pajak lokal dan pendapatan daerah tidak kena pajak memiliki efek negatif signifikan pada tingkat pertumbuhan ekonomi. Demikian pula temuan dari Miller dan Russek (1997) yang meneliti struktur fiskal dan pertumbuhan ekonomi pada tingkat lokal dan negara bagian dengan menggunakan alat analisis OLS, efek tetap dan efek acak. Hasil analisis diketahui bahwa pajak berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi jika dipergunakan untuk mendanai transfer, namun tidak jika dipergunakan untuk mendanai jasa-jasa publik. Temuan lain yang mendukung yaitu Kneller dan Norman (1999) meneliti kebijakan fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi pada 22 negara anggota organisasi kerjasama ekonomi dan pembangunan (OECD), dengan mempergunakan alat analisis OLS. Hasil analisis diketahui bahwa penerimaan pajak distortionary ( pajak pendapatan dan keuntungan, sumbangan keamanan masyarakat, pajak gaji dan tenaga kerja, pajak kekayaan) berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, sebaliknya penerimaan pajak non-distortionary (pajak barang dan jasa dalam negeri, pajak perdagangan internasional) berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Analisis terhadap koefisien rasio kontribusi sektor pertanian terhadap sektor industri menghasilkan angka 1.333,507 tetapi tidak signifikan. Dengan demikian dominasi sektor pertanian ataupun sektor industri dalam perekonomian tidak berpengaruh terhadap kapasitas fiskal. Memang tiga daerah yang kapasitas fiskalnya terbesar yaitu Kota Surabaya, Kab. Gresik, Kab. Sidoarjo adalah daerah yang sektor industrinya dominan. Namun terdapat kab/kota lain yang kapasitas fiskalnya sedang untuk daerah Jawa Timur adalah merupakan daerah pertanian seperti Kab. Bojonegoro, Kab. Jember, Kab. Jombang, Kab. Lumajang, Kab. Malang, Kab. Nganjuk. Sesuai dengan teori Rostow mengenai prasyarat untuk tinggal landas bahwa sektor pertanian harus diperkuat karena sebagai penjamin ketersediaan bahan makanan, menghindari penggunaan cadangan devisa untuk keperluan import makanan dan yang paling penting dalam kaitannya dengan kapasitas fiskal yaitu kenaikan pendapatan di sektor pertanian dapat menjadi sumber biaya pengeluaran pemerintah yaitu melalui pengenaan pajak sektor pertanian. Artinya penerimaan pemerintah tidak hanya dari pajak atas sektor industri namun 13

Etsie Veraningsih,, Faktor yang Mempengaruhi Kapasitas Fiskal Di Propinsi Jawa Timur

juga dapat diperoleh dari kontribusi sektor pertanian. Hal ini terkait dengan peraturan perpajakan di Indonesia terutama Pajak Pertambahan Nilai yang mengenakan pajak atas seluruh barang dan jasa tidak hanya sektor industri tetapi juga sektor pertanian. Artinya penguatan kapasitas fiskal dapat dari sektor pertanian maupun sektor industri. Demikian pula yang disebutkan dalam Ekonomi Publik bahwa pengembangan perekonomian tidak hanya pada sektor industri namun harus sebanding antara sektor pertanian dan sektor industri karena keduanya saling mendukung. Karena bukti empiris ini menunjukkan bahwa penekanan pada sektor industri saja tidak akan berpengaruh pada kapasitas fiskal daerah. Oleh karena itu sektor pertanian perlu juga dikembangkan untuk peningkatan kapasitas fiskal.

IV.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian terhadap kabupaten/kota di Propinsi Jawa timu dan pembahasan yang telah diuraikan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. PDRB perkapita memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kapasitas fiskal. Artinya bahwa semakin tinggi PDRB perkapita, maka makin besar kapasitas fiskal daerah dan sebaliknya semakin kecil PDRB perkapita maka kapasitas fiskal juga akan semakin turun. Oleh karena itu untuk meningkatkan kemampuan keuangan daerah yang tercermin pada kapasitas fiskal dapat dilakukan melalui upaya peningkatan PDRB perkapita. 2. Pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap kapasitas fiskal. Artinya adanya pertumbuhan akan diikuti penurunan kapasitas fiskal. Secara teoritis kondisi ini tidak lazim. Namun dari bukti ini diduga bahwa terdapat faktor lose dari pengumpulan pajak yang seharusnya bisa diperoleh pemerintah jadi terdapat kemungkinan sistem pemungutan pajak pemerintah tidak efektif. Juga dapat diduga bahwa sistem pajak ataupun tarif pajak yang diterapkan menjadi disinsentif masyarakat dalam berproduksi. 3. Rasio sektor pertanian dengan sektor industri tidak berpengaruh terhadap kapasitas fiskal. Sehingga untuk meningkatkan kapasitas fiskal tidak hanya terkonsentrasi pada sektor pertanian saja ataupun sektor industri saja. Karenanya sektor pertanian dan sektor industri harus saling mendukung. Saran yang disampaikan dari hasil penelitian ini sebagai berikut: 1. Karena keterbatasan data Realisasi APBD Kabupaten/Kota maka sampel dalam penelitian ini hanya meliputi kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur saja sehingga hasil yang didapat belum bisa digeneralisasi. Oleh karena itu masih diperlukan penelitian lebih lanjut yang meliputi Kabupaten/Kota seluruh Indonesia dengan periode waktu yang lebih panjang; 2. Definisi kapasitas fiskal sudah tepat namun sub komponen dalam kapasitas fiskal perlu dipertimbangkan lagi yaitu pada Sub Komponen Bagi Hasil Sumberdaya Alam. Bagi Hasil Sumber Daya Alam bukanlah kapasitas fiskal daerah, karena kepemilikan sumber daya alam tersebut ada pada pemerintah pusat dengan mengacu pada Pasal 33 ayat 3 14

Jurnal Perencanaan Wilayahdan Pembangunan , Volume 1 Nomor 1, Nopember 2009

UUD 1945. Layaknya Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam adalah untuk menangani masalah-masalah yang ditimbulkan dari pengeksploitasian SDA di daerah yang bersangkutan. Misalnya: masalah lingkungan, dampak sosial, pemulihan alam yang rusak dsb. Oleh karena itu perlu mengeluarkan sub komponen Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam sebagai salah satu cara untuk menurunkan kapasitas fiskal. Alasan ini cukup logis untuk dipertimbangkan. 3. Karena kapasitas fiskal tidak dipengaruhi oleh dominasi sektor pertanian ataupun sektor industri maka untuk peningkatan kapasitas fiskal tidak harus menitikberatkan pada sektor industri saja atau sektor pertanian saja, tetapi perlu memperhatikan potensi daerah yang bersangkutan. Seyogyanya kedua sektor harus berkembang seiring.

15