WORKSHOP FORUM INSTRUKTUR INDONESIA JAKARTA 3 JULI 2010 PERAN INSTRUKTUR DAN ASESOR DALAM PENINGKATAN SUMBER DAYA

MANUSIA SEKTOR KONSTRUKSI Oleh: Ir. Syaiful Mahdi
(Ketua Umum DPP Ikatan Instruktur dan Asesor Pelatihan Konstruksi Indonesia)

ABSTRAK Tenaga kerja sektor konstruksi yang profesional, andal, beretika, dan berdaya saing tinggi merupakan faktor utama dalam mensukseskan berbagai program pembangunan nasional. Undang-undang No. 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi mensyaratkan setiap tenaga kerja konstruksi harus memiliki sertifikat keahlian/keterampilan sesuai dengan jabatan kerjanya. Untuk mendapatkan tenaga kerja yang dimaksudkan di atas, dan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi tantangan regional dan global saat ini, diperlukan pelatihan keahlian dan keterampilan yang dilakukan oleh tenaga pelatihan/instruktur yang kompeten. Saat ini kebutuhan akan pelatihan tanaga kerja konstruksi dirasakan semakin meningkat, baik untuk memenuhi pasar kerja dalam negeri maupun pasar kerja luar negeri. Dalam 5 tahun ke depan, pemerintah melalui Gerakan Nasional Pelatihan Konstruksi (GNPK) mempunyai program melatih 3 juta tanaga kerja konstrusi. Ini merupakan program yang sangat menantang. Untuk melaksanakan pelatihan dan asesmen yang sesuai dengan kompetensi keahlian atau keterampilan di sektor konstruksi diperlukan peran instruktur dan asesor yang memenuhi kompetensi sebagai instruktur pelatihan dan asesor tenaga kerja konstruksi. Tulisan ini mencoba menguak peran instruktur pelatihan jasa konstruksi dan asesor yang meliputi tidak hanya melaksanakan pelatihan, pembekalan, atau uji kompetensi tetapi juga membantu pemerintah dalam menyiapkan perangkat yang dibutuhkan untuk pelatihan tersebut. Perangkat ini mencakup: 1). Menyiapkan/menyusun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) 2). Menyusun Kurikulum Pelatihan Berbasis Kompetensi (KPBK) 3). Menyusun Materi Uji Pelatihan dan Materi Uji Kompetensi (MUP dan MUK) 4). Menyusun Modul/Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi 5). Melakukan uji kompetensi (asesmen) 6). Perkuatan lembaga pelatihan dan lembaga uji kompetensi 7). Memberikan masukan kepada pemerintah tentang prioritas program pelatihan

File: SM/93485811.doc

1

Kondisi eksternal Indonesia yang menjadi tantangan adalah: File: SM/93485811. 6).doc 2 . dan berdaya saing tinggi merupakan program yang harus diprioritaskan. Karena itu pemenuhan kebutuhan tenaga kerja yang profesional. dan Modul berbasis kompetensi. Gerakan Nasional Pelatihan Konstruksi (GNPK). 3). dan materi uji kompetensi (MUK) jabatan kerja yang ada SKKNI nya perlu pula ditinjau ulang (review). termasuk pelatihan instruktur (TOT) masih dirasakan sangat kurang. peluang mendidik tenaga kerja sektor non-konstruksi menjadi tenaga kerja sektor konstruksi masih terbuka. termasuk menyusun KPBK. 2). Dampak krisis ekonomi global masih belum hilang sama sekali. Tenaga kerja sektor konstruksi harus mampu memberikan kontribusi positif dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Daya saing. Program pelatihan profesi berbasis kompetensi. dan kualitas hasil kerja tenaga kerja konstruksi Indonesia masih perlu ditingkatkan baik untuk mengisi pasar domestik maupun pasar global. Dari 5. hanya kira-kira 220 jabatan kerja yang ada standar kompetensinya (SKKNI). modul. Sektor konstruksi Indonesia memiliki kontribusi 4 – 8 % Gross Domistic Product (GDP) dan menyerap 5.------------000----------- 1. Bulan Desember 2009 pemerintah telah meluncurkan program pelatihan 5 tahun (2010 – 2014) yang disebut Gerakan Nasional Pelatihan Konstruksi (GNPK) yang intinya berisikan: a) Pelatihan sekitar 3 juta tenaga kerja konstruksi (tenaga ahli dan tenaga terampil) b) Penyusunan 600 SKKNI. Pendahuluan Kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu unsur utama dalam percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Dari 1200 jabatan kerja yang ada (2009).74% (Ref.8 juta tenaga kerja konstruksi yang dibutuhkan (2009) hanya 3% yang tersertifikasi (Sambutan Menteri Pekerjaan Umum dalam GNPK). 4). andal. Sebagian dari 220 jabatan kerja yang ada SKKNI nya sudah perlu ditinjau ulang (review). c) Melakukan perkuatan dan pendampingan lembaga pelatihan dan uji kompetensi. Kondisi internal Indonesia yang menjadi tantangan tersebut antara lain adalah: 1). d). tidak terkecuali tenaga kerja sektor konstruksi. beretika. 5). Tantangan yang dihadapi Di samping hal tersebut di atas. Tantangan itu berasal dari kondisi internal Indonesia sendiri dan juga berasal dari kondisi eksternal Indonesia.2 % total angkatan kerja dengan pertumbuhan rata-rata tahun 2008 – 2012 sebesar 5. Bantuan sarana dan prasarana pelatihan dan uji kompetensi. 7). Kurikulum Pelatihan Berbasis Kompetensi (KPBK). ketenaga-kerjaan Indonesia khususnya sektor konstruksi menghadapi beberapa tantangan yang harus dihadapi. MUK. produktifitas.

3). Asean Free Trade Area (AFTA) yang telah berjalan mulai 2002/2003. Jawaban seperti itu akan muncul bila kita tidak siap menghadapinya! Lalu apa yang harus dilakukan agar jawaban pertanyaan di atas berbunyi: ”Indonesia dapat membendung arus globalisasi itu!”. Asia Pacific Economic Community (APEC) yang direncanakan berlaku mulai tahun 2010. General Agreement on Trade and Services (GATS) yang kesemuanya direncanakan berlaku mulai tahun 2020. 2). General Agreement on Tariff and Tax (GATT). Saat ini telah diberlakukan pula China-AFTA dan sedang dipersiapkan India-AFTA.doc 3 . Kesiapan Menghadapi Tantangan Dapatkah Indonesia membendung arus globalisasi ini? Ataukah akan menjadi penonton di dalam negeri sendiri? Akankah pasar sektor konstruksi dalam negeri diisi oleh tenaga kerja luar yang mempunyai kompetensi dan berdaya saing tinggi? Jawaban pertanyaan itu adalah: “tidak dapat!”. World Trade Organization (WTO). Ya akan diisi oleh tenaga kerja asing”. akan menjadi penonton”. “Ya.1). Skema kondisi eksternal tersebut disajikan pada Gambar 1 berikut ini: WTO/GATT/GATS APEC/CAFTA/IAFTA AFTA BANGSA INDONESIA 2002/2003 2010 2020 Gambar 1: Kondisi Eksternal yang Menjadi Tantangan Tenaga Kerja Konstruksi Indonesia. Tidak! Indonesia tidak akan menjadi penonton di negeri sendiri!”. Tidak! Tenaga kerja asing hanya akan mendapat bagian melalui kompetisi File: SM/93485811.

perlu dilakukan berbagai kegiatan berupa pelatihan/pembekalan. dan uji kompetesi (PPPUK) memerlukan standar kompetensi lengkap dengan Kurikulum Pelatihan Berbasis Kompetensi (KPBK). pembekalan. Membekali tenaga kerja konstruksi agar memiliki kompetensi sesuai dengan yang disyaratkan. pelatihan. baik tenaga ahli maupun tenaga terampil.ketat dengan tenaga kerja Indonesia sekalipun untuk pelaksanaan pekerjaan dengan dana bantuan asing atau pekerjaan dari investor asing”. tetapi juga untuk pasar luar negeri.doc 4 . Tenaga kerja yang demikian itu hanya bisa dihasilkan melalui pendidikan. tenaga kerja konstruksi Indonesia akan memiliki dan memenuhi standar kompetensi tertentu yang siap tidak hanya untuk pasar dalam negeri. dan uji kompetensi. dan berdaya saing global. Peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kerja konstruksi. beretika. File: SM/93485811. dan berdaya saing tinggi. Untuk dapat dipenuhinya kompetensi yang disyaratkan. beretika. Untuk mencapai hal tersebut instruktur dan asesor harus dapat berfungsi sebagai pioner dalam merubah tantangan menjadi peluang dengan sasaran: 1). Untuk itu. pelatihan. Peran Instruktur dan Asesor Dalam peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kerja sektor konstruksi agar menjadi tenaga kerja yang profesional. Modul pelatihan. andal. dan uji kompetensi. pelatihan. Melalui pendidikan. 2. pembekalan. Kesemua ini perlu disiapkan sebelum pelaksanaan PPPUK. Bangsa Indonesia harus mempersiapkan tenaga kerja konstruksi yang profesional. selalu harus mengacu pada kompetensi yang disyaratkan. diperlukan Standar Kompetensi Kerja Nasional. Membuka dan memperluas kesempatan kerja sektor konstruksi dengan mendaya gunakan tenaga kerja non-konstruksi yang terkena dampak krisis ekonomi/moneter global melalui pelatihan/pembekalan dan uji kompetensi. dan Materi Uji Kompetensi (MUK). dan uji kompetensi tersebut di atas. Menciptakan tenaga kerja konstruksi yang profesional. Pendidikan. andal. andal. pembekalan. yang kita kenal dengan nama Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Pemenuhan kompetensi yang disyaratkan untuk setiap tenaga kerja hanya dapat dicapai melalui pelatihan atau pembekalan. 3). dan uji kompetensi. 2). dan berdaya saing tinggi.

4). ia akan mempunyai pengetahuan tentang unit-unit kompetensi yang akan diujikan sehingga kemungkinan gagal hampir tidak ada. Memberikan masukan prioritas program pelatihan dan evaluasi pelaksanaan pelatihan. 6). 4. melatih. Misalnya seseorang File: SM/93485811. Jika tidak memenuhi. 3. Memberikan masukan prioritas pelaksanaan program pelatihan. membekali. Yang penting adalah bahwa ia harus memenuhi seluruh Unit Kompetensi yang ada pada Standar Kompetensi. Hal ini dapat dicapai melalui pelatihan dan atau pembekalan. dan melakukan uji (kompetensi). 7). non-formal. membekali. Di samping fungsinya melatih. Menyusun adopsi/adaptasi SKKNI negara lain. ia haruslah menguasai dan memahami isi dan kandungan SKKNI. Inilah fungsi instruktur dan asesor. lengkap dengan kurikulum pelatihan berbasis kompetensi (KPBK). andal dan berdaya saing tinggi. Materi Uji Pelatihan (MUP). Setelah seseorang memiliki sertifikat keahlian pada tingkat/level tertentu. Menyusun (mereview) modul/materi pelatihan (berbasis kompetensi). Membantu menyusun penetapan area kerja/jabatan kerja sektor konstruksi 3) Menyusun dan mereview SKKNI. Ia dapat langsung mengikuti asesmen untuk kompetensi tingkat tertentu atau mengikuti pelatihan/pembekalan terlebih dahulu.Sebelum seorang tenaga kerja mengikuti uji kompetensi. Di samping itu instruktur dan asesor juga mempunyai tugas memberikan masukan prioritas program pelatihan dan mengevaluasi pelatihan yang dijalankan. dan melaksanakan uji kompetensi 2). Tugas instruktur dan asesor dapat diringkas sebagai berikut: 1). Tugas Instruktur dan Asesor. dan Materi Uji Kompetensi (MUK). membekali. atau informal dapat memiliki sertifikat profesi untuk bidang tertentu sesuai dengan standar kompetensinya. dan materi uji kompetensi (MUK). dan menguji tenaga kerja agar kompeten. lengkap dengan Kurikulum Pelatihan Berbasis Kompetensi (KPBK). Jika ia mengikuti pelatihan/pembekalan terlebih dahulu. ia akan gagal mendapatkan sertifikat. ia dapat meningkatkan tingkat/level keahliannya ke tingkat yang lebih tinggi. materi uji pelatihan (MUP).doc 5 . Uji-coba penggunaan modul/materi baru. Memberikan pelatihan (mengajar). profesional. 5). Proses Sertifikasi/Asesmen Sertifikasi Tenaga Ahli Seseorang yang telah mempunyai keahlian tertentu melalui pendidikan formal. instruktur dan asesor mempunyai tugas menyiapkan SKKNI termasuk materi/modul pelatihan berbasis kompetensi. 8).

doc . seseorang yang mempunyai pengetahuan/ keterampilan tertentu dapat langsung diberi sertifikat keterampilan sepanjang memenuhi kompetensi yang disyaratkan melalui uji kompetensi.yang telah memiliki level ahli muda ditambah pengalaman. KEAHLIAN PEMBEKALAN SERTIFIKAT PROFESI PELATIHAN/ PEMBEKALAN A S E S M E N PENDIDIKAN SERTIFIKAT P SPESIALISASI E L A T I H A A S N E / S P M E E M N B E K Gambar 2: Skema Proses Sertifikasi/Asesmen Tanaga Ahli. Peningkatan inipun dapat dilakukan melalui uji kompetensi langsung. dapat meningkatkan levelnya menjada ahli madya. namun dapat pula melalui pelatihan/pembekalan terlebih dahulu. A L A Sertifikasi Tenaga Terampil N Analog dengan proses sertifikasi tenaga ahli. Demikian pula halnya dengan seseorang yang telah memiliki tingkat/level keahlian tertentu dapat mengikuti asesmen keahlian spesifik (spesialisasi) secara langsung ataupun melalui pelatihan atau pembekalan. Untuk menjamin pemenuhan kompetensi yang disyaratkan. misalnya dari tukang kayu menjadi 6 File: SM/93485811. ia dapat mengikuti pelatihan/pembekalan sebelum mengikuti uji kompetensi. Setelah mendapat sertifikat keterampilan di tingkat (level) tertentu. ia dapat mengikuti uji kompetensi untuk level yang lebih tinggi. asalkan ia dapat memenuhi kompetensi tingkat ahli madya. Sama halnya jika seseorang memiliki pendidikan tertentu dapat langsung mengikuti asesmen untuk keahlian spesifik/spesialisasi. Skema proses sertifikasi/asesmen tenaga ahli disajikan pada Gambar 2 berikut ini : PELATIHAN/ BD.

Setiap unit kompetensi berisikan 3 –5 elemen kompetensi. Kementerian (d/h Departemen) Pekerjaan Umum telah menyusun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Instruktur Pelatihan Jasa Konstruksi dengan Nomor Registrasi INA 5750 411 01 00 07. Skema proses sertifikasi/asesmen tenaga terampil disajikan pada Gambar 3 berikut ini : SERTIFIKAT KETERAMPILAN BIDANG KETERAMPILAN PELATIHAN/ PEMBEKALAN K PEE N T G E E R T A A M H P U I A L N A N A S S E S S M E N T PELATIHAN/ PEMBEKALAN Gambar 3: Skema Proses Sertifikasi/Asesmen Keterampilan 5. dengan jumlah seluruhnya 49 elemen kompetensi. Semua itu dapat ditempuh secara langsung atau melalui pelatihan/pembekalan terlebih dahulu.doc 7 . Ia juga dapat mengikuti uji kompetensi (asesmen) dari tukang batu menjadi spesialis. Standar Kompetensi Kerja Instruktur Pelatihan Jasa Konstruksi Bulan Desember 2007. Unit dan Elemen Kompetensi SKKNI Instruktur Pelatihan Jasa Konstrksi tersebut berisikan 14 unit kompetensi yang harus dipahami dan diketahui oleh setiap instruktur.kepala tukang kayu. Unit dan elemen kompetensi Instruktur Pelatihan Jasa Konstruksi tersebut disajikan pada Tabel 1 berikut ini: Tabel 1: Unit dan Elemen Kompetensi Instruktur Pelatihan Jasa Konstruksi File: SM/93485811. contohnya dari tukang batu menjadi tukang pasang keramik.

UNIT KOMPETENSI Mempersiapkan naskah penyampaian materi yang mudah dimengerti sesuai dengan kebutuhan/sasaran pelatihan Menggunakan media pelatihan ELEMEN KOMPETENSI 8.1. 9. Menggunakan kombinasi metode pembelajaran.1. Menyiapkan laporan pembelajaran 4.2. 6. Menerapkan ketentuan peraturan dan perundangan yang terkait. Mengidentifikasi perilaku dan karakteristik peserta pelatihan. 8. 3.1. Menginventarisasi Peraturan dan Perundangan yang berhubungan dengan profesi Instruktur.1. 7. 1. 3. 9. Memonitor dan evaluasi pelaksanaan kode etik profesi instruktur.3. Merumuskan Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK).1. Merumuskan tujuan pembelajaran pada berbagai jenis pelatihan. TPK.4. Menyiapkan borang-borang (formulir) laporan. 4. 7.2.1. 6. Menerapkan metode pelatihan sesuai dengan tujuan pelatihan. UNIT KOMPETENSI Menerapkan Kode Etik Profesi Instruktur ELEMEN KOMPETENSI 1. 4. Menyusun GBPP.4.1. Mengidentifikasi fungsi kegiatan pendalaman materi.2. 7.1. GBPP dan SAP. File: SM/93485811. Mengidentifikasi jenis-jenis media. 1. 8. Menyampaikan materi pembelajaran sesuai dengan GBPP dan SAP.No. 2. Menyusun SAP. Melakukan latihan. 9. Menyusun Garis-garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) dan Satuan Acara Pembelajaran (SAP).doc 8 . 5. 9. 1. 4. Mengevaluasi penerapan Peraturan dan Perundangan yang berhubungan dengan profesi instruktur . Menggunakan media yang efektif.3. 8.3. 6. Mengidentifikasi kebutuhan instruksional.1. 5.3.3. 2.2.3. Menerapkan Peraturan dan Perundangan yang berhubungan dengan profesi Instruktur. Merancang Kebutuhan Metode Pembelajaran 6.3. 5. 2. 7. Membuat laporan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Menyampaikan Materi pelatihan dengan baik sesuai sasaran pembelajaran No.2. Mempelajari pengertian.Melaksanakan kode etik profesi instruktur. Merumuskan rancangan pembelajaran pada berbagai jenis Pelatihan. Meningkatkan penguasaan materi yang akan diberikan.3.3. Mempelajari metode pembelajaran dalam proses pelatihan. Mempelajari ruang lingkup materi ajar yang harus dikuasai peserta pelatihan sesuai dengan GBPP. Menentukan kriteria untuk memilih media yang tepat. manfaat TPU.4. 2. 5.2. 7. 3. Mempelajari kaidah dasar kode etik profesi instruktur. 4.2. Mengembangkan Materi Pembelajaran.2.2. 6. Menyerahkan laporan. Menentukan metode pembelajaran sesuai dengan sasaran pembelajaran. 3. Mengidentifikasi Tujuan Pembelajaran Khusus.

Menyusun lembar tugas bimbingan praktikum. dan iv) Instruktur Keterampilan. Instruktur Madya dan Muda dapat melatih ahli madya/muda dan Teknisi senior/keterampilan. 13. Mempelajari pengertian.2. Merencanakan metode dan kebutuhan untuk melaksanakan penilaian hasil belajar.2 Merancang kebutuhan peralatan/media pembelajaran. 14.3 Membuat rencana waktu atau jadwal pengajaran secara rinci dari menit ke menit sesuai modul/ bahan ajar dimaksud. madya. Menyiapkan kebutuhan media dan peralatan praktikum sesuai dengan keperluan.1.3.10. 14.3.5. dan muda) termasuk manajer. Menyiapkan laporan. Menggunakan peralatan kerja baik teori/praktek sesuai dengan fungsinya. klasifikasi instruktur terdiri dari 4 tingkat (level) yaitu i) Instruktur Utama. 14. 13. 14. ii) Instruktur Madya. 10. 12.1. Membimbing peserta melakukan praktek sesuai dengan bidangnya Mengoperasikan peralatan kerja. kegunaan dan etika dalam melakukan penilaian hasil belajar. Menyiapkan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta 12. 11.2 Memilih lembar tugas yang akan digunakan sesuai dengan materi/bahan ajar. 12. iii) Instruktur Muda. Mengolah hasil penilaian sesuai dengan jenis tes. 10. 11. 11. 13. 13. 11. 14. Menyusun bahan/materi pelatihan dengan menggunakan media. 13.3. Klasifikasi dan Kualifikasi Instruktur Menurut SKKNI Instruktur Pelatihan Jasa Konstruksi.3 Menyiapkan formulir kendali sebagai laporan kegiatan perorangan atas hasil penyelesaian lembar tugas.4. sesuai tujuan pokok pelatihan. Melakukan penilaian hasil pelatihan 13. sedangkan Instruktur Keterampilan hanya dapat melatih level keterampilan/teknisi senior/yunior.1. File: SM/93485811. Menganalisis naskah dan butir soal sesuai dengan kaedah dan standar kompetensi yang ditentukan. 12. Memelihara peralatan kerja dengan baik dan benar. Memilih/menentukan kebutuhan peralatan yang akan digunakan selama proses pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus (TPK).1 Membuat lembar tugas bimbingan berupa kuosioner atau soal-soal pelatihan sesuai inti modul/bahan ajar yang harus dikerjakan setiap peserta dan atau soal interaktif. Mengoperasikan peralatan kerja baik teori/praktek. 10. Mengadministrasikan tes/hasil tes sesuai dengan kaedah dan etika penilaian.5.2.4.doc 9 . Instruktur Utama dapat melatih semua tingkat ahli (utama. 14.2. Menyiapkan formulir kendali sebagai bahan kajian atas pelaksanaan kerja praktikum.1 Membuat narasi/ringkasan inti materi/modul/ bahan ajar meliputi tujuan umum dan tujuan khusus.

Skema klasifikasi Instruktur Pelatihan Konstruksi disajikan pada Gambar 4 berikut ini : Manajer Perusahaan Manajer Instrk. operator. dan praktisi/ profesional non PNS. serta pakar/dosen perguruan tinggi. Ahli Sr. Madya Instrk Muda Pelaksana Lap-1. Sup-profesional Kep Mand Teknisi Senior Mandor. widyaiswara. File: SM/93485811. Pekerja Terampil Kualifikasi Istruktur Pelatihan Jasa Konstruksi: Berpendidikan minimum S1 untuk instruktur ahli dan SMK untuk instruktur terampil dengan pengalaman minimum 5 (lima) tahun pada proyek-proyek jasa konstruksi. Mekanik Teknisi Yunior Instrk. Ahli Yunior Ahli Madya. Ahli Ut Ahli Profesional. Pelatihan Berbasis Kompetensi. Latar belakang pengalaman Instruktur dapat sebagai purnabakti baik Kementerian Pekerjaan Umum (KEMPU) maupun swasta. Utama Mjr Lap.doc 10 . Keterampilan Tukang.. pegawai negeri sipil (PNS) non widyaiswara. 6. Ahli Muda Instrk.

Materi Uji Pelatihan dan Materi Uji Kompetensi (MUP dan MUK) 4). Pelatihan tersebut harus berdasar standar kompetensi tertentu. Secara keseluruhan. dan berdaya saing tinggi untuk mengahadapi era globalisasi saat ini diperlukan sejumlah besar pelatihan tenaga kerja konstruksi.doc 11 . 7. yaitu instruktur yang memenuhi Kompetensi Kerja Instruktur Pelatihan Jasa Konstruksi. Untuk memenuhi target pelatihan tersebut. sangatlah diperlukan peran dari instruktur yang kompeten. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) 2). Pelatihan tersebut dikenal dengan ‘Pelatihan Instruktur Pelatihan’ atau dikenal juga dengan nama ‘Training of Trainer’ (TOT).000 tenaga kerja. ia akan memiliki sertifikat pelatihan dan mendapat jalan menuju asesmen suatu jabatan kerja. pemerintah mempunyai program pelatihan tenaga kerja konstruksi untuk 3 juta tenaga kerja yang dirancang dalam Gerakan Nasional Pelatihan Konstruksi (GNPK).Undang-undang No. Setiap Jabatan Kerja mempunyai SKKNI yang berisikan sejumlah unit kompetensi yang harus dikuasai oleh tenaga kerja bersangkutan. Modul/Materi pelatihan sesuai dengan KPBK. Karena itulah diperlukan pelatihan berbasis kompetensi. profesional. Pelatihan ini dikenal sebagai ‘Pelatihan Berbasis Kompetensi’. baik ahli maupun terampil. Kurikulum Pelatihan Berbasis Kompetensi (KPBK) 3). beretika. Kementerian Pekerjaan Umum dalam kurun waktu 2010 – 2014 mempunyai program khusus mengadakan TOT untuk 2000 orang dan tenaga kerja konstruksi (terampil dan ahli) sebanyak 60. tahun 2010 – 2014. Pelatihan berbasis kompetensi memerlukan : 1). File: SM/93485811. Penutup Dalam menyiapkan tenaga kerja konstruksi yang andal. Pelatihan yang diuraikan di atas mencakup tidak hanya pelatihan khusus tenaga kerja sektor konstruksi. namun juga pelatihan instruktur pelatihan itu sendiri. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi mengamanahkan setiap tenaga kerja konstruksi harus memiliki sertifikat keahlian/keterampilan yang sesuai dengan jabatan kerjanya. Setiap unit kompetensi (yang berisikan sejumlah elemen kompetensi) harus dikuasai agar seseorang dapat dinyatakan “kompeten”. Melalui pelatihan/pembekalan seseorang akan lebih cepat menguasai dan memahami seluruh unit kompetensi sehingga ia dapat melewati asesmen/uji kompetensi dengan baik. Setelah seseorang mengikuti pelatihan berbasis kompetensi.

Sarana dan prasarana pelatihan dan uji kompetensi.doc 12 . serta membantu perkuatan lembaga pelatihan dan uji kompetensi. Lembaga pelatihan dan uji kompetensi. yaitu instruktur yang memenuhi kompetensi. 4). Instruktur yang kompeten. Instruktur pelatihan tenaga kerja konstruksi mempunyai tugas dan peran mengadakan pelatihan dan uji kompetensi. serta Modul pelatihan berbasis kompetensi. membantu menyusun SKKNI termasuk kelengkapannya. Sudah barang tentu tugas penyediaan instruktur yang kompeten juga merupakan tugas instruktur melalui ‘training of trainer’. ------0000000------ File: SM/93485811. 3).Pelatihan berbasis kompetensi hanya dapat dilaksanakan jika hal-hal di bawah ini tersedia: 1). 2). MUP dan MUK. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) lengkap dengan Kurikulum Pelatihan Berbasis Kompetensi (KPBK).