Anda di halaman 1dari 4

Rangkaian Arus Bolak-balik

1. Nilai Efektif dan Maksimum


Arus listrik bolak - balik adalah arus listrik yang memiliki nilai sesaatnya berubahubah dari nilai negatif hingga positif. Nilai negatif inilah yang menunjukkan arah yang terbalik. Nilai yang sesuai dengan keadaan ini yang paling banyak digunakan adalah fungsi sinus. Kuat arusdan tegangan arus bolak-balik yang memenuhi fungsi sinus ini dapat dirumuskan sebagai berikut. i = Im sin t v = Vm sin t Nilai yang termuat pada persamaan itu adalah nilai maksimum. Tetapi jika diukur dengan alat ukur ternyata memiliki nilai tersendiri. Nilai inilah yang terpakai dalam kerja komponen listrik dan dinamakan nilai efektif. Hubungan nilai maksimum dan nilai efektif ini memenuhi persamaan berikut. Ief = Vef = Im 2 Vm 2

2. Sifat-sifat Resistor, Induktor dan Kapasitor


Resistor, induktor dan kapasitor saat dilalui arus bolak-balik akan memiliki sifatsifat yang berbeda. Sifat sifat itu dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. Resistor Jika sebuah resistor dialiri arus bolak-balik ternyata arus dan tegangannya tetap sefase ( = 0 ). Nilai hambatannya tetap dan sering disebutreaktansi resistif. Sifat ini sama saja saat resistor dialiri arus searah (arus DC). 2. Induktor Sebuah induktor dialiri arus bolak-balik tenyata memiliki sifat yang berbeda dengan resistor. Arus bolakbalik yang melewati induktor akan ketinggalan fase (90O) terhadap tegangannya. Atau sering dikatakan tegangannya mendahului arus 90O ( = + 90O).

Jika induktor dihubungkan arus searah memiliki hambatan yang hampir nol, ternyata saat dialiri arus AC akan timbul hambatan yang dinamakanreaktansi induktif. Besarnya memenuhi persamaan berikut. XL = L dengan : XL = reaktasi induktif () = frekuensi sudut (rad/s) L = induktasi induktor (H) 3. Kapasitor Ternyata kapasitor yang dialiri arus bolak-balik tenyata juga memiliki sifat yang berbeda dengan resistor dan induktor. Arus bolak-balik yang melewati inductor akan mendahului fase (90O) terhadap tegangannya. Atau sering dikatakan tegangannya ketinggalan arus 90O ( = - 90O). Jika kapasitor dihubungkan arus searah memiliki hambatan tak hingga, ternyata saat dialiri arus AC akan timbul hambatan yang dinamakan reaktansi kapasitif. Besarnya memenuhi persamaan berikut. XC = dengan : XC = reaktasi kapasitif () = frekuensi sudut (rad/s) C = kapasitas kapasitor (F) Pada saat menganalisa rangkaian dengan sumber tegangan AC masih berlaku hukum Ohm. Tetapi sifat-sifat hambatannya memiliki fase. 1 C

3. Rangkaian RLC Seri


Sifat rangkaian RLC seri adalah arus yang melintasi R, L dan C akan sama. Sama disini berarti nilainya sama dan fasenya juga sama. Sedangkan untuk tegangannya berbeda yang berarti berbeda fase dan nilainya. Jika pada rangkaian di aliri arus bolak-balik maka arus dan tegangan tiap-tiap komponennya dapat dituliskan sebagai berikut. Ingat sifat tiap komponennya.

i = Im sin t VR = VRm sin t Vm = VLm sin(t + 90o) VC = VCm sin(t - 90o) Untuk menentukan hubungan tiap-tiap besaran ini dapat digunakan analisa vektor dengan fase sebagai arahnya. Analisa ini dinamakan FASOR (Fase Vektor). Dengan analisa fasor ini dapat digambarkan hubungan arus dan tegangan pada masing-masing komponen. Untuk tegangannya dapat diwakili reaktansinya. Dari diagram fasor itu dapat berlaku hubungan matematis seperti berikut. V2 = VR2 + (VL - VC)2 VL - Vc tg = VR Jika dihubungkan dengan hukum Ohm maka dari persamaan di atas dapat di bagi dengan kuat arus kuadratnya sehingga diperoleh hambatan pengganti. Hambatan pengganti pada rangkaian AC ini dinamakan impedansi. Impedansi juga dapat diperoleh dari diagram fasor. Z2 = R2 + (XL - XC)2 Keadaan Resonansi Perhatikan kembali nilai tg . Saat nilai tg = 0 itulah dinamakan terjadi keadaan resonansi. Keadaan ini bisa terjadi jika memenuhi :

VL = VC XL = XC Z=R akan memiliki frekuensi resonansi sebesar : fr = 1 2 LC

Daya Arus Bolak-balik Pada saat dialiri arus bolak-balik, komponen-komponen listrik akan menyerap energi dengan daya yang diserap memenuhi persamaan berikut. P = Vef . Ief . cos cos disebut dengan faktor daya. Nilai cos dapat ditentukan dari diagram fasor.