Anda di halaman 1dari 5

JURNAL REKAYASA ENERGI AIR

KAJIAN DAMPAK CLIMATE CHANGE TERHADAP PLTA


Veven Supraba Wardhana (08/266032/tk/33930) Aditya Muhtadi (08/268659/tk/33979)

Jurusan Teknik Fisika, Fak. Teknik, Universitas Gadjah Mada


Jl. Grafika 2 Yogyakarta, 55281 E-mail : veven.s.w@gmail.com adfahdz@yahoo.co.id

ABSTRAK Tujuan Pembuatan Paper ini adalah untuk mengkaji apakah perubahan iklim yang sedang terjadi akhir akhir ini sangat berpengaruh besar terhadap negara Republik Indonesia. Dan juga mengkaji apakah dari climate change tersebut juga berdampak kerugian pada Pembangkit Listrik Tenaga Ait (PLTA). Penelitian ini dilakukan dengan cara mengkaji dari berbagai sumber, baik artikel, maupun fakta fakta yang terjadi di lingkungan masyarakat. Dari kajian berbagai artikel tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa, climate change berdampak besar terhadap berbagai sektor di kehidupan masyarakat indonesi terutama pulau jawa, climate change juga mengakibatkan tidak menentunya cuaca, sehingga dapat mengakiatkan banjir dan kekeringan yang mengakibatkan pada ketidakmampuan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dalam memproduksi Daya listrik. Kata Kunci : PLTA, Climate change, pemanasan global. PENDAHULUAN Banjir, kekeringan, tanah longsor, gelombang tsunami dan gempa bumi sering kali melanda tanah air kita. Bencana bencana tersebut adalah dampak dari perubahan iklm yang dialami oleh seluruh kawasan yang ada di muka bumi. Sebenarnya awal mula dari bencana alam tersebut adalah pola hidup manusia yang semena mena tanpa memperhatikan daya dukung alam lingkungan bumi sebagai satu satunya planet tempat tinggal manusia. pola hidup tersrbut mengakibatkan adanya tuntutan penyediaan sumber energi, serta pemanfaatan sumberdaya alam dalam kapasitas yang besar/berlebihan akhirnya membuat terakumulasinya zat-zat beracun/polutif (seperti karbon monoksida, nitrogen oksida dan lain-lain) di lapisan atmosfir bumi. Akumulasi zat beracun ini di atmosfir membentuk selubung transparan yang menyelimuti bumi yang dikenal dengan istilah gas rumah kaca. Inilah cikal bakal dari terjadinya

JURNAL REKAYASA ENERGI AIR perubahan iklim yang melanda seluruh kawasan dimuka bumi, baik di negara maju, negara berkembang maupun sedang berkembang. METODE Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah mengkaji dari berbagai sumber, baik artikel, maupun fakta fakta untuk menarik benang merah apakah Climate Change berdampak buruk pula bagi negara Indonesia terutama pada sektor pembangkit daya yaitu PLTA. Literatur Findings 1. Laporan Analisa Lingkungan Indonesia : Beradaptasi dengan lingkungan yang berubah Metode Pengumpulan Data Data yang seharusnya dilibatkan dalam kajian ini adalah data yang berbasis keruangan (spasial data) untuk setiap data yang diperlukan. Hal itu mengingat hasil kajian berbasiskan keruangan atau dalam bentuk peta. Namun demikian, data kualitatif juga apabila tersedia tetap dilibatkan dalam kajian. Untuk itu telah dilakukan berbagai metode pengumpulan data untuk memperoleh data yang lengkap. Analisis terbaru untuk wilayah Asia Tenggara (Yusuf dan Francisco, 2009) menunjukkan bahwa di wilayah ini Indonesia sangat rentan terhadap berbagai aspek pemanasan iklim. Bagian timur dan barat Jawa yang padat penduduk, wilayah pesisir sebagian besar Sumatera, sebagian wilayah barat dan utara Sulawesi, serta pulau-pulau di tenggara Papua memiliki peringkat tinggi dalam peta berbagai bahaya ganda perubahan iklim (multiple climate hazard) (lihat Gambar 6.1). Indonesia rawan terhadap semua risiko perubahan iklim (kekeringan, banjir, longsor, kenaikan permukaan air laut), kecuali badai.

Gambar 6.1 :Peta Bahaya Ganda dari Perubahan Iklim di Asia Tenggara (Yusuf dan Francisco,2009)

JURNAL REKAYASA ENERGI AIR Berdasarkan peta indeks bahaya perubahan iklim diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa negara indonesia pada bagian pulau jawa akan terkena dampak yang paling besar. Sedangkan faktor yang mungkin akan bepengaruh pada PLTA antara lain Sebagai Berikut. 1. Indonesia Akan Mendapat Curah HujanYang Lebih Tin ggi Perubahan iklim diperkirakan akan menaikkan curah hujan per tahun di Indonesia sebesar 2 hingga 3 persen (Ratag, 2001 dalam Susandi, 2007). Sebagaimana terlihat dalam Gambar 6.2, seluruh negara ini akan mendapat curah hujan yang lebih tinggi, sementara perubahan terbesar terjadi di Maluku. Kenaikan curah hujan diperkirakan akan berlanjut dan, karena perubahan iklim, musim hujan akan lebih pendek (lebih sedikit jumlah hari hujan dalam setahun), yang menyebabkan risiko banjir naik secara signifi kan.

Gambar 6.2.:Perubahan Rata-Rata Pola Curah Hujan 1900-2000 September-November (dalam mm/100 tahun), (Ratag,2007) 2. Variabilitas Curah Hujan Akan Berpengaruh Buruk Pada Sumber Air Kenaikan dan penurunan curah hujan akan berpengaruh buruk pada pembangkit hidrolistrik dan persediaan air minum, keduanya tergantung pada suplai teratur dari waduk. Data dari delapan bendungan selama enam tahun El Nino memperlihatkan bahwa produksi PLTA di bawah normal. Kekurangan air di waduk juga akan berpengaruh pada ketersediaan air minum, terutama di kota besar. Sebaliknya, curah hujan yang tinggi yang menyebabkan kekeruhan akan merusak fasilitas pemrosesan air, mencemari persediaan air dan meningkatkan biaya pengolahan air (Pemerintah Indonesia, 2007). BUKTI Salah satu contoh dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang sudah terkena dampak dari Climate Change adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling dan Cirata. "Potensi kehilangan daya di pembangkit Saguling dan Cirata mencapai 1.000 MW karena perubahan iklim. Terjadi pendangkalan yang membuat debit air menipis dan lingkungan di sekitar PLTA rusak. Itu akibat ulah manusia dan PLN terkena," ujar Direktur Operasional Jawa-Bali PLN, I Ngurah Adyana. Adyana menjelaskan, pembangkit PLN, khususnya PLTA, memang menjadi instalasi pembangkit yang paling terkena dampak dari perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu. Hilangnya pasokan daya listrik juga disebabkan kerusakan lingkungan di sekitar PLTA.

JURNAL REKAYASA ENERGI AIR Kedua PLTA tersebut seharusnya dapat bekerja secara optimal menghasilkan daya sebesar 1500 MW. Akan tetapi karena debit yang menipis PLTA tersebut hanya mampu memroduksi listrik sebesar 500 MW saja. (vivanews.com) SOLUSI Solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang diakibatkan oleh pola hidup masyarakat perkotaan adalah : 1) Meningkatkan fisiensi Energi Upaya meningkatkan efisiensi dalam penggunaan energi terdapat langkah praktis yang dapat dilakukan, antara lain a. Mempergunakan peangkat rumah tangga hemat energi dan hemat biaya. Sebelum membeli perangkat rumah tangga ada beberapa langkah yang harus dilakukan sebagai bahan pertimbangan yaitu: Pilihlah produk yang memiliki the Energy Star label. Label ini biasanya dapat dikenali dengan mudah karena menempel pada body depan pada produk kulkas atau pendingin ruangan serta barang elektronik lain yang dirancang untuk beroperasi dengan hemat energi. Pastikan bahwa kapasitasnya sesuai dengan kebutuhan, jangan membeli produk dengan kapasitas lebih dari kebutuhan, karena hal ini akan menyebabkan konsumsi energi yang berlebihan juga. Bila memungkinkan pilihlah produk yang menggunakan sumber energi gas daripada listrik, seperti pemanas air gas. Langkah berikutnya sebelum produk tersebut digunakan, pelajarilah panduan setting penggunaan energi untuk mendapatkan optimasi manfaat yang tepat sesuai jenis penggunaannya, misalnya setelan suhu yang tepat untuk kulkas maupun pendingin ruangan (jangan terlalu dingin tetapi cukup nyaman). b. Membangun Dengan ramah lingkungan Langkah ini dapat diwujudkan antara lain dengan membuat taman atau penghijauan di lantai atap. Tindakan ini dapat mereduksi prosentase panas yang biasanya diterima langsung pada atap terbuka dan kemudian diteruskan kedalam bangunan. Dengan reduksi panas tersebut dan perletakkan sistem pendingin pada posisi dibawah atau dilantai maka penggunaan energi untuk pendinginan ruang dapat dihemat. c. Mereduksi atau Menurunkan Konsumsi Energi Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan agar konsumsi energi yang kita gunakan setiap hari dapat dikurangi yaitu : cabut semua peralatan elektronik dari sumber energi (stop kontak) apabila tidak sedang digunakan; mengatur komputer pada posisi sleep dan hibernate (pemakaian energi akan terputus secara otomatis apabila tidak digunakan); kontrol suhu pendingin ruangan pada posisi moderate atau pemakaian timer dan selalu gunakan peralatan rumahtangga hemat energi. 2) Memilih Kendaraan Yang Lebih Baik Saat ini telah banyak diproduksi mobil dengan label hybrid. Sistem hybrid yang dimplementasikan dalam produk mobil dapat memiliki beberapa varian seperti sistem tukar pakai energi penggeraknya dengan penggunaan bahan bakar bensin atau gas secara bergantian. Ada pula produk yang menawarkan pemakaian sistem baterai secara penuh yang dapat recharge secara otomatis pada saat mobil digunakan. Mobil dengan teknologi terbaru memakai bahan bakar organik/biofuels. 3) Lingkungan Dengan Pertumbuhan Yang terkendali Tindakan ini terkait dengan pola penataan kota. Para ahli yang terkait dengan perancangan kota dan bangunan harus memberi perhatian khusus agar hasil perancangan

JURNAL REKAYASA ENERGI AIR kota dapat berfungsi sebagai pengendali pertumbuhan yang tidak teratur. Bangunan dan fasilitas kota harus dirancang secara kompak dan memiliki tingkat pelayanan dalam skala pejalan kaki. Sebagai contoh pencapaian dari tiap gedung kantor menuju halte bis terdekat berada dalam radius maksimum 200 300 m. Untuk menjamin kenyamanan para pejalan kaki maka trotoar perlu dirancang secara nyaman dan aman. Rancangan kota yang berbasis skala pejalan kaki diharapkan dapat memotivasi warganya untuk lebih memilih berjalan kaki daripada memakai kendaraan bermotor dalam melaksanakan kegiatan hariannya. Prosentase penurunan emisi karbon dari pengurangan jumlah kendaraan di jalan raya jumlahnya cukup lumayan. Karena itu gunakan sepeda atau jalan kaki untuk ke pasar, mall atau tempat lain dalam radius jangkauan kurang dari 1 km. 4) Menggunakan Biofuel atau Bahan Bakar Organik. Penggunaan biofuels dapat mengurangi polusi pemanasan global. Hingga 2050, biofuels terutama cellulosic biofuels , dapat menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 1.7 milyar ton per tahun. Ini sama dengan 80 persen emisi karbon yang dihasilkan dari transportasi saat ini. Dari segi biaya biofuels cukup kompetitif dibandingkan dengan bensin dan solar. Perkiraan ahli ekonomi bahwa pada 2015, kita dapat memproduksi biofuels untuk dijual pada harga sama dengan atau lebih rendah dari rata-rata harga bensin dan solar. Selain itu dengan menggunakan biofuels berarti telah memberikan lapangan pekerjaan dan penghasilan bagi petani. Sebenarnya cara untuk mengatasi dampak climate change adalah kita semua harus mau merubah pola hidup kita, dan bekerja sama antar masing masing steakholder untuk merombak dan merubah produk maupun energi menjadi suatu produk atau energi yang ramah ligkungan. KESIMPULAN climate change berdampak besar terhadap berbagai sektor di kehidupan masyarakat indonesi terutama pulau jawa climate change dapat mengakibatkan banjir yang membuat turbin pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) tidak bisa bergerak Climate Change juga Mengakibatkan Kekeringan yang berpengaruh pada turunnya debit air sungai yang membuat Pembangkit Listrik (PLTA) tidak dapat menghasilkan Daya listrik seperti semestinya. DAFTAR PUSTAKA http;//pu.go.id/langkah praktis dalam mitigasi dampak perubahan iklim. Syahid L., Iwan K., 2011, http;/vivanews.com/PLTA Kering, Pasokan Listrik Hilang 1000MW Sektor Sumber Daya Air : Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat. Laporan Analisa Lingkungan Indonesia: (Bab.6) Beradaptasi dengan Iklim yang Berubah Herawati, Heti., Heru S., 2006, Laporan Pertemuan Dialog Pertama Gerakan Tanah dan Perubahan Iklim: Adaptasi terhadap Bahaya Gerakan Tanah di Masa Yang Akan Datang Akibat Pengaruh Perubahan Iklim.