Anda di halaman 1dari 10

A.

Pengelolaan Limbah Cair Industri Tekstil di Sungai Citarum

Keberadaan industri tekstil pada suatu daerah tentunya akan memberikan keuntungan secara ekonomi pada daerah tersebut, salah satunya adalah adanya penyerapan tenaga kerja dan pemasukan bagi daerah tersebut. Akan tetapi, seiring dengan keuntungan yang didapat tersebut, sebagian besar industri tekstil juga memberikan dampak negatif bagi lingkungan yaitu berupa limbah cair. Limbah cair tersebut berasal dari proses pencelupan, sehingga limbah yang dibuang ke lingkungan terlihat berwarna. Limbah cair tekstil yang dibuang dapat membahayakan lingkungan jika tanpa dilakukan pengolahan terlebih dahulu (1). Salah satu kenyataan yang dihadapi oleh masyarakat yang berada dikawasan industri didaerah aliran sungai citarum. Limbah yang dibuang diindikasikan mengandung bahan-bahan kimia dan logam berat beracun (B3), sehingga menurunkan kualitas air sungai. Air sungai merupakan sumber air bagi penduduk para petani terutama yang berdekatan dengan sungai Citarum. Dampaknya adalah menurunnya produksi padi tersebut terjadi karena para petani menggunakan sungai yang sudah tercemar limbah industri tekstil sebagai sumber pengairan pertanian mereka (1). Bahan-bahan pencemar yang ada dalam air limbah industri dapat menyebabkan pencemaran baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap badan air penerima. Dalam rangka pengendalian pencemaran oleh air limbah industri dikenal berbagai cara pendekatan yait (2): 1. Pendekatan daya dukung lingkungan yaitu mengandalkan pada kemampuan alam untuk melakukan daya pulih diri. 2. Pendekatan pengolahan limbah yang sudah terbentuk yaitu dengan mengolah limbah sebelum dibuang kelingkungan. Pola pandang ini hanya tertuju pada limbah yang dihasilkan oleh kegiatan industri dan memerlukan biaya yang besar dan pengolahan ditujukan untuk mentaati peraturan. Selain itu kelemahankelemahan yang lain adalah:

a. Tidak efektif memecahkan masalah lingkungan karena limbah masih terbentuk dan hanya berpindah dari satu media kemedia lainnya. b. Peraturan perundang-undangan yang menerapkan persyaratan limbah yang dibuang setelah dilakukan pengolahan pada umumnya cenderung untuk dilanggar bila pengawasan dan penegakan hukum lingkungan tidak efektif dijalankan dan lain-lain. Pendekatan produksi bersih yaitu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat pencegahan terpadu dan diterapkan secara terus menerus pada setiap kegiatan mulai dari hulu kehilir yang terkait dengan proses produksi, produk dan jasa untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam, mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan mengurangi terbentuknya limbah pada sumbernya sehingga dapat meminimalisasi resiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia serta kerusakan lingkungan (2). Pada prinsipnya pelaksanaan produksi bersih adalah mencegah, mengurangi dan menghilangkan terbentuknya limbah atau pencemar pada sumbernya dan atau memanfaatkan limbah. Dengan penerapan produksi bersih selain menutup kekurangan dari pendekatan pengolahan limbah yang sudah terbentuk berbagai keuntungan dapat diperoleh antara lain (2): 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pemakaian sumber daya alam yang semakin efisien dan efektif. Pengurangan atau pencegahan terbentuknya zat-zat pencemar. Menghemat penggunaan bahan baku. Menggantikan bahan beracun dengan yang tidak beracun. Meningkatkan produktifitas, efisiensi dan mutu. Menyiapkan perusahaan untuk mematuhi peraturan. Dalam pengendalian pencemaran oleh air limbah industri sebaiknya didekati dengan pendekatan gabungan penerapan produksi bersih dan pengolahan limbah yang sudah terbentuk. Upaya produksi bersih dilakukan sebelum pengolahan air limbah. Prinsip-prinsip pokok dalam strategi produksi bersih dituangkan dalam 5 R yaitu (2):

1.

Rethink (berpikir ulang) adalah upaya untuk berpikir ulang manajemen untuk memperbaiki semua proses produksi agar efisien, aman bagi manusia dan lingkungannya.

2.

Reduction (pengurangan) adalah upaya untuk mengurangi limbah yang dihasilkan langsung dari sumber kegiatan. Dapat dilaksanakan dengan cara tata laksana rumah tangga yang baik, segregasi aliran limbah, pelaksanaan preventive maintenance , pengelolaan bahan, pengaturan kondisi proswes dan operasi yang baik, modifikasi proses dan atau alat, modifikasi atau subtitusi bahan, pengubahan produk, penggunaan teknologi bersih.

3.

Reuse (pakai ulang atau penggunaan limbah) adalah upaya yang memungkinkan supaya suatu limbah dapat digunakan kembali tanpa perlakuan fisika, kimia, atau biologi.

4.

Recycle (daur ulang) adalah upaya mendaur ulang limbah untuk memanfatkan limbah dengan memprosesnya kembali ke proses semula melalui perlakuan fisika, kimia dan biologi.

5.

Recovery (pungut ulang) adalah upaya mengambil bahan-bahan yang masih mempunyai nilai ekonomi tinggi dari suatu limbah, kemudian dikembalikan kedalam proses produksi dengan atau tanpa perlakuan fisika, kimia, dan biologi. Secara garis besar urut-urutan prioritas upaya pengendalian pencemaran oleh

air limbah industri adalah upaya pencegahan, pengurangan pada sumber pencemar, pemanfaatan limbah, pengolahan limbah dan pembuangan limbah sisa pengolahan / limbah B3. Ditinjau dari biaya pelaksanaannya urut-urutannya terbalik. Sedang dalam pelaksanaan program produksi bersih akan tergantung pada jenis industrinya, jenis proses, kapasitas produksi, dll (2). Dampak lain yang nyata adalah pendangkalan sungai Citarum menjadi lebih cepat sehingga dapat kita ketahui bersama bila musim hujan tiba selalu terjadi banjir plus berbagai penyakit. Begitu pula jika musim panas mudah sekali kesulitan air dan kekeringan yang berkepanjangan (3).

Untuk mengatasi permasalahan limbah cair tekstil di atas diperlukan suatu metode pengelolaan limbah yang inovasi, murah dan efektif sebelum limbah cair tersebut dibuang ke lingkungan. Maksud dan tujuan pengolahan limbah cair industri tekstil adalah bagaimana menghilangkan atau menurunkan unsur-unsur dan senyawa pencemar dari limbah tekstil untuk mendapatkan effluent dari pengolahan yang mempunyai kualitas yang dapat diterima oleh badan air penerima buangan tanpa gangguan fisik, kimia dan biologis. Ada tiga cara pengelolaan air limbah berdasarkan karakteristik, yaitu (3): 1. Pengolahan limbah cair secara fisik Bertujuan untuk menyisihkan atau memisahkan bahan pencemar tersuspensi atau melayang yang berupa padatan dari dalam air limbah. Pengolahan limbah cair secara fisik pada industri tekstil misalnya penyaringan dan pengendapan. Aerasi adalah proses awal yang selalu dilakukan secara terbuka maupun dengan paksa (injeksi udara). Proses penyaringan dimaksudkan untuk memisahkan padatan tersuspensi atau padatan terapung yang relatif besar seperti zat-zat warna, zat-zat kimia yang tidak larut dan kotoran-kotoran pada limbah cair. Proses penyaringan ini dilakukan sebelum limbah tersebut mendapatkan pengolahan lebih lanjut. Sedangkan proses pengendapan ditujukan untuk memisahkan padatan yang dapat mengendap dengan gaya gravitasi. 2. Pengolahan limbah cair secara kimia Bertujuan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), menetralkan limbah cair dengan cara menambahkan bahan kimia tertentu agar terjadi reaksi kimia untuk menyisihkan bahan polutan. Penambahan zat pengendap disertai dengan pengadukan cepat menyebabkan terjadinya penggumpalan, hasil akhir proses pengolahan biasanya merupakan endapan yang kemudian dipisahkan secara fisika. Zat-zat pengendap yang ditambahkan biasanya adalah Kapur, Fero Sulfat, Feri Sulfat, Aluminium Sulfat, Feri Khlorida dan sebagainya. 3. Pengolahan limbah cair secara biologi

Pengolahan secara biologi ini memanfaatkan mikroorganisme yang berada di dalam air untuk menguraikan bahan-bahan polutan. Pengolahan limbah cair secara biologi ini dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Pengolahan ini digunakan untuk mengolah air limbah yang biodegradable. Salah satu kelemahan yang terdapat dalam industri tekstil Indonesia adalah kurangnya pengoperasian teknologi yang efisien dan ramah lingkungan. Kebanyakan mesin yang digunakan oleh industri tekstil Indonesia sudah beroperasi selama 20 tahun, sehingga menggiring pada rendahnya produktivitas dan teknologi yang out of date (kadaluarsa) (3). Sebagaimana digambarkan diatas, dalam tiga tahun terakhir ini industri tekstil Indonesia telah mengalami masa-masa kritis sebagai-mana bidang usaha lain. Saat ini kondisi tersebut masih belum banyak berubah. Berbagai hambatan itu langsung atau tidak langsung berkaitan pula dengan lingkungan baik yang disebabkan oleh ketidakefisienan mesin-mesin yang masih digunakan oleh industri tekstil Indonesia maupun mahal atau tidak terjangkaunya harga berbagai alat pengolahan limbah yang tidak sebanding dengan penghasilan industri yang bersangkutan. Secara umum, dalam memecahkan masalah ini setidaknya ada dua pendekatan alternatif yang dilakukan oleh para pengusaha tekstil, yaitu (3): 1. End-of-pipe treatment: yaitu peralatan tambahan untuk mengumpulkan dan menetralisasi limbah yang dibuang oleh industri tekstil sehingga tidak berbahaya dan air memenuhi persyaratan 2. Pollution Prevention: penggunaan peralatan dalam proses produksi dengan cara membatasi penggunaan energi, membatasi aliran limbah dan mengurangi jumlah limbah yang dikeluarkan oleh industri ini. Dari kedua cara ini, cara kedualah sebetulnya yang memiliki keuntungan lebih besar bagi produsen tekstil, karena dengan menggunakan strategi ini, sebuah perusahaan dapat mencegah dan mengurangi biaya terus menerus akibat end-of-pipe treatment; yang kadangkala bisa meng-hasilkan berbagai keuntungan tambahan yang datang dari adanya pengurangan penggunaan energi, penggunaan air berkurang,

penggunaan bahan kimia yang lebih murah, dan lain-lain termasuk didalam nya makin cepatnya proses produksi yang dilakukan (3). Implementasi dari teknologi yang ramah lingkungan bukan hanya mempunyai alasan lingkungan, tetapi juga dengan alasan kondisi ekonomi dari sebuah perusahaan. Meskipun implementasi dari teknologi ramah lingkungan sangat berkaitan dengan biaya, namun seperti yang telah disebutkan diatas bahwa cara pencegahan polusilah yangt terbaik dalam memecahkan masalah lingkungan yang dihadapi oleh industri tekstil Indonesia, termasuk di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum (3). Dengan mempergunakan analisis cost-benefit, kita bisa melihat bahwa teknologi ramah lingkungan dapat mencegah terjadinya penurunan tingkat kualitas air disekitar daerah industri tekstil, tetapi juga memiliki keuntungan bagi perusahaan. Teknologi ramah lingkungan dapat memberikan alternative yang berbeda, tergantung dari kriteria lingkungan dan ekonomi mereka. Environmental Oriented Cost Management memfokuskan pada penggunaan secara efisien berbagai sumber daya yang ada yang relevan terhadap lingkungan seperti bahan-bahan yang digunakan, energi maupun air (3). Penggunaan teknologi ramah lingkungan akan menurunkan biaya pengolahan limbah sekaligus membantu menjaga kelestarian lingkungan dengan mengurangi non-product output (NPO) yaitu berbagai materi, energi dan air yang digunakan dalam proses produksi namun tidak menjadi hasil akhir dari produk tersebut. Ini tidak saja menghilangkan biaya pengolahan limbah dan pembuangan NPO, tetapi juga menghilangkan biaya tersembunyi yang dapat ditimbulkan sebagai akibat dari efek samping berbagai materi berbahaya tersebut. Untuk dapat tetap berkompetisi, produsen juga harus berhati-hati dan melakukan berbagai usaha untuk tetap aktif dalam memenuhi permintaan pasar, termasuk didalamnya aspek lingkungan, sosial dan kualitas dari produk itu sendiri (3).

Daftar Pustaka: 1. Hari,Bambang,dkk. Pengolahan Limbah Cair Tekstil Menggunakan Proses Elektrokoagulasi Dengan Sel Al-Al. Disampaikan pada Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan: Penggembangan Teknologo Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia. Yogyakarta, 2010 2. Muntalif, Barti Setiana, dkk. Bioassessment Menggunakan Makroininvertebrata Bentik Untuk Penentuan Kualitas Air Sungai Citarum Hulu. Jurnal Purifikasi. Volume 9 No 1; 2008; 49-60 3. Sudrajat, Ade. Peran Industri dan Produk Tekstil Pada Kelestarian Sumberdaya Lingkungan Perairan DAS Citarum. Jurnal Teknologi Lingkungan. Volume 3 No 2; 2009; 92-97

B. Langkah Awal Penanggulangan Permasalahan di Sungai Citarum


Citarum merupakan sungai terbesar di Provinsi Jawa Barat. Dari hulunya yang terletak di Gunung Wayang (Kabupaten Bandung), Citarum mengalir sepanjang 369 kilometer hingga berakhir di hilir di daerah Tanjung (Kabupaten Kerawang) (1).

Di daerah Jawa Barat, Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang. Sungai ini memiliki memiliki banyak manfaat, dan salah satunya adalah untuk menunjang pemenuhan kebutuhan pasokan air di Provinsi Jawa Barat dan juga kebutuhan air untuk daerah DKI Jakarta. Bukan itu saja, banyak aktivitas manusia yang bergantung dari pemanfaatan aliran Sungai Citarum. Mulai dari irigasi untuk lahan persawahan dan peternakan, sebagai sumber tenaga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) serta untuk menunjang pemenuhan kebutuhan kegiatan aktivitas sehari-hari masyarakat (2). Sungai Citarum sebagai sungai terpanjang di Provinsi Jawa Barat, juga tak lepas dari berbagai permasalahan yang terjadi. Mulai dari pemanfaatan daerah aliran sungai yang menurut UU No. 35 1991 tentang sungai, sebenarnya dilarang untuk dijadikan sebagai daerah hunian, sampai pada pencemaran akibat limbah hasil

aktivitas manusia yang pada akhirnya menyebabkan banjir dan berbagai permasalahan saat musim hujan dan kemarau tiba (2). Dua puluh tahun terakhir ini, kondisi lingkungan dan kualitas air di sepanjang Citarum semakin memburuk. Dalam kurun waktu ini jumlah penduduk, permukiman dan kegiatan industri di sepanjang daerah aliran sungai bertambah dan berkembang dengan pesat (1). Makin bertambahnya jumlah penduduk yang bermukim di tepian sungai, menjadi salah satu faktor makin banyaknya limbah hasil aktivitas manusia di Sungai Citarum. Kerusakan lingkungan yang terjadi disamping mengakibatkan daerah tersebut rawan banjir, juga menyebabkan terganggunya kualitas dan kuantitas air sungai (2). Sejarah mencatat sejak abad ke-15 telah terjadi banjir yang disebabkan oleh luapan Sungai Citarum. Banjir biasanya disebabkan oleh curah hujan yang turun secara terus menerus dan dalam waktu yang lama. Saat ini, banjir tidak hanya menyebabkan Sungai Citarum meluap, tapi juga menyebabkan gagalnya panen diberbagai lahan pertanian, rusaknya ekosistem, munculnya berbagai penyakit, hingga timbulnya berbagai bencana yang diakibatkan oleh banjir. Hal ini tentu saja jika dibiarkan terus terjadi akan sangat merugikan, bukan hanya bagi masyarakat sekitar aliran Sungai Citarum dan pemerintah saja, tetapi juga masyarakat luas (2).
Masalah yang telah dapat teridentifikasi sangat banyak dan meliputi berbagai area, termasuk sangat rendahnya kualitas air, penggundulan hutan dan degradasi daerah tangkapan air di hulu, penyedotan air tanah, dan degradasi bangunan air. Hal ini menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang sangat negatif bagi penduduk sekitar Wilayah Sungai Citarum (1).

Selain itu kurangnya tanggung jawab dan kecintaan terhadap Sungai Citarum, membuat masyarakat sekitar seakan tidak memiliki rasa untuk melestarikan dan menjaga sungai dari berbagai limbah hasil aktivitas manusia. Perubahan aktivitas dan lapangan kerja menjadikan masyarakat tidak lagi memandang sungai sebagai sesuatu yang penting dan harus dijaga. Sungai dibiarkan kotor dan terus tercemar (2).

Tabel 1. Sekilas Permasalahan di Citarum dan Identifikasi Kebutuhan Upaya

Perbaikan
No 1. Permasalahan Polusi dari limbah industri dan domestik - 1,500 industri di Bandung dan sekitarnya membuang limbah kimia sekitar 280 ton ke Sungai Citarum setiap harinya - Kurangnya fasilitas sanitasi dan pengelolaan air limbah - Monitoring kualitas air pada akhir tahun 1990 menunjukkan bahwa ratarata konsentrasi BOD tahunan setinggi 300 mg/liter - Di saluran air masuk penampungan air di Waduk Saguling, konsentrasi BOD air mencapai 130 mg/l pada musim kemarau. (Sumber: Survey Indonesia Power dan Universitas Padjajaran 2004) Limbah Organik Di kawasan hulu Citarum, diperkirakan ada sekitar 8000 ekor sapi, masing-masing menghasilkan 24 kg kotoran sapi setiap harinya, dan limbah kotoran sapi yang dibuang ke sungai diperkirakan mencapai 190 ton. Limbah Padat Diperkirakan sekitar 500.000 m3/tahun limbah padat dibuang ke sungai dan terakumulasi di saluran-saluran pengairan dan memenuhi sungai Identifikasi Kebutuhan Tindak Lanjut

Penerapan hukum: - Pengelolaan air limbah industri dan rumah tangga - Pengadaan fasilitas sanitasi - Pengembangan teknologi pengolaan air berbiaya rendah, sederhana dan mudah diterapkan

2.

Potensi untuk mengembangkan pupuk organik (pupuk kandang) dan biogas dengan bahan baku kotoran sapi

3.

4.

Lahan Kritis dan Sedimentasi - Sekitar 8 juta meter kubik lumpur dan tanah setiap tahunnya (akibat tanah yang tergerus terbawa hujan) masuk ke dalam sungai - Lahan kritis dan tingkat erosi yang tinggi di hulu sungai ini mengakibatkan banjir di musim hujan

Perlu adanya: - Perubahan perilaku - Fasilitas Recycle, Reuse, Reduce (3R) - Fasilitas produksi pupuk organik - Meningkatkan pengelolaan sampah padat - Biogas untuk rumah tangga - Konservasi lahan dan penghijauan - Peningkatan kapasitas petani untuk menerapkan sistem pertanian yang ramah lingkungan - Program peningkatan ekonomi melalui sumber mata pencaharian alternative - Rehabilitasi lahan.

5.

dan kekeringan air pada musim kemarau Sarana dan Prasarana - Kekurangan prasarana untuk menangani sumber air dan banjir - Masih kurangnya perawatan dan operasional

6.

Banjir Catatan banjir menunjukkan banjir-banjir besar akibat meluapnya Citarum pada tahun 1931, 1945, 1977, 1982, 1984, 1986, 1998, 2005, 2010. Catatan banjir Karawang Maret 2010: 10 kecamatan dan sekitar 15.510 rumah terendam, dan 64.630 jiwa mengungsi.

- Pembangunan prasarana air baku dan perlindungan terhadap banjir - Alokasi dana untuk operasional dan perawatan - Meningkatkan kapasitas masyarakat untuk ikut terlibat dalam perawatan sarana prasarana dan sungai Dibutuhkan pendekatan struktural: (pengerukan dan pelebaran sungai, rehabilitasi anak sungai Citarum, pembangunan tanggul dan penampungan air,dll) dan non-struktural (penghijauan, program berbasis kemasyarakatan, dll) dalam menangani banjir.

Dapus: 1. Tim Pengarah Nasional Sumber Daya Air Deputi Bidang Sarana Prasarana Bappenas. Laporan Kegiatan Rapat Kordinasi: Rancangan Strategis Untuk Masa Depan Citarum Yang Lebih Baik. Bapenas, Jakarta 12 April 2010 2. Rohmar, Dede. Keberadaan, Potensi dan Gagasan Pemanfaatan Sungai Mati di Sepanjang Sungai Citarum Daerah Bandung. Jurnal GEA Volume 9 No 1; 2009