AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN (PSAK 46

)

Dalam akuntansi PPh, laba dibedakan antara laba akuntansi (accounting proft) atau laba komersial dengan laba fiscal (taxable profit) atau penghasilan kena pajakv . laba akuntansi adalah lab/rugi bersih selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak yang dihitung berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan lebih ditujukan untuk menilai kinerja ekonomi. Sedangkan laba fiscal adalah laba/rugi selama satu periode dihitung berdasarkan peraturan perpajakan lebih ditujukan untuk menjadi dasar penghitungan PPh (IAI, 2007) BEDA WAKTU/SEMENTARA Beda waktu artinya secara keseluruhan beban atau pendapatan akuntansi maupun perpajakan sebenarnya sama, tetapi hanya berbeda alokasi setiap tahunnya, beda waktu dapat berasal dari perbedaan akrual dan realisasi, penyusutan, amortisasi, dan kompensasi kerugian fiscal antara akuntansi dan perpajakan. Beda waktu akan menimbulkan asset/kewajiban pajak tangguhan, tetapi beda tetap tidsk. BEBAN PAJAK TANGGUHAN DAN PENDAPATAN PAJAK TANGGUHAN Beban PPh terdiri dari beban pajak kini dan beban pajak tangguhan/ pendapatan pajak tangguhan. Pajak kini (curren tax) adalah jumlah PPh terutang atas penghasilan kena pajak pada suatu periode. Beban pajak tangguhan akan menimbulkan kewajiban pajak tangguhan sedangkan pendapatan pajak tangguhan menimbulkan asset pajak tangguhan. ASET PAJAK TANGGUHAN Asset pajak tangguhan (deferred tax asset) timbul apabila beda waktu menyebabkan terjadinya koreksi positif sehingga beban pajak menurut akuntansi lebih kecil daripada beban pajak menurut peraturan perpajakan. Asset pajak tangguhan adalah jumlah PPh terpulihkan pada periode

Asset pajak tangguhan disajikan terpisah dengan akun tagihan restitusi PPh dan kewajiban tangguhan juga disajikan terpisah dengan utang PPh 29. dikalikan dengan tariff pajak yang berlaku. Asset dan kewajiban pajak tangguhan harus dibedakan dari asset pajak kini(prepaid tax) dan kewajiban pajak kini (tax payable) 3. Beban (penghasilan) pajak yang berhubungan dengan laba atau rugi dari aktivitas normal harus disajikan tersendiri pada laporan laba/rugi 6. 7. Asset pajak kini harus dikompensasikan (offset) dengan kewajiban pajak kini dan jumlah netonya disajikan dalam neraca. Penyajian pajak tangguhan: 1.mendatang sbagai akibat adanya perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan sisa kompensasi kerugian KEWAJIBAN PAJAK TANGGUHAN Kewajiban pajak tangguhan (deffered tax liabilities) timbul apabila beda waktu menyebabkan terjadinya koreksi negative sehingga beban pajak menurut akuntansi lebih besar daripada beban pajak menurut peraturan perpajakan. 2. Dalam aplikasinya. tariff maksimum PPh 30 % (sebelum tahun 2009) dan 28 % untuk tahun 2009 digunakan karena alas an kepraktisan. 5. PENCATATAN DAN PENYAJIAN Pengakuan asset dan kewajiban pajak tangguhan dilakukan terhadap rugi fiscal yang masih dapat dikompensasikan dan beda waktu antara laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan fiscal yang dikenakan pajak. Asset atau kewajiban pajak tangguhan tidak boleh disajikan sebagai asset atau kewajiban lancer 4. Asset dan kewajiban pajak tangguhan harus disajikan terpisah dari asset dan kewajiban lainnya dalam neraca. PPh besifat final : . Kewajiban pajak tangguhan adalah jumlah PPh terurang untuk periode mendatang sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak.

Apabila terdapat kesalahan mendasar. kesalahan Mendasar. maka perlakuan akuntansinya mengacu pada PSAK 25 tentang Laba atau Rugi Bersih Untuk Periode Berjalan. Selisih antara jumlah PPh final yang terutang dengan jumlah yang dibebankan sebagai pajak kini pada perhitungan laba rugi diakui sebagai pajak dibayar di muka dan utang pajak d.a. c. Apabila nilai tercatat asset atau kewajiban yang berhubungan dengan PPh final berbeda dari Dasar Pengenaan Pajaknya. dan Perubahan Kebijakan Akuntansi Penyajian dalam laporan keuangan : Laba sebelum PPh PPh : a. maka beban pajak diakui proporsional dengan jumlah pendapatan menurut akuntansi yang diakui pada periode berjalan. Apabila diajukan keberatan dan/atau banding. b. b. Pajak Tangguhan XXX XXX XXX Laba setelah PPh XXX XXX . Perlakuan akuntansi untuk hal khusus : a. Pajak kini b. Akun PPh final dibayar di muka harus disajikan terpisah dari PPh final yang masih harus dibayar. maka perbedaan tersebut tidak boleh diakui sebagai asset atau kewajiban pajak tangguhan. Jumlah tambahan pokok dan denda pajak yang ditetapkan dalam Surat Ketetapan Pajak harus dibebankan sebagai pendapatan atau beban lain-lain pada Laporan Laba/Rugi Periode Berjalan. Atas penghasilan yang telah dikenakan PPh final. 8. maka pembebanannya ditangguhnkan c.

000. Tentukan asset atau kewajiban pajak tangguhan d. 15. Beban jamuan tanpa daftar nominative Rp.000 daripada penyusutan komersial Angsuran PPh 25 Rp.Contoh : 1.000) Rp. Laba sebelum pajak tahun 2008= Rp. 900. 880. Laba sebelum pajak Koreksi beda tetap : -/. 20.000 b.000) (Rp.000.000. 900. Jawab : a.000 . 40. 20. Tentukan PPh kurang bayar atau lebih bayar c.000 Rp. 60.000. Rp.000 c. 60.000. Tentukan Penghasilan Kena pajak b. Buatlah jurnal penyesuaiannya.000. koreksi fiscal atas laba tersebut adalah sebagai berikut : a.000) 40.pendapatan bunga deposito +/+ beban jamuan Total bed tetap (Rp.000. Penyusutan fiscal lebih kecil Rp.000.000 per bulan Pertanyaan : a.000.000. Pendapata bungs deposito Rp.000.

000 = Rp.500. Pajak terutang : 10% X 50. 11.000 = Rp.000 7. 238. 5.000. Asset Pajak Tangguhan = 30% X Rp.000.000 Rp. 15.000 30% X 795.000.000 Rp.000.500. 4500.Koreksi beda waktu : +/+ Penyusutan Total beda waktu Penghasilan kena pajak b.000 Rp.000.000 d.000 4.000 = Rp.000 Kredit PPh 25 PPh Kurang Bayar (PPh 29) c.000. 251. 15.000 Rp. 900.000 .500.000) Rp.000.000 = Rp. 15.000 240.000 Kredit (Rp.000.000.000.000 Keterangan PPh Badan-pajak kini Asset pajak tangguhan Pendapatn pajak tangguhan PPh 25 dibayar di muka Utang PPh 29 Penyajian : Laba sebelum pajak Rp.000. 895.000. 240.000.000 11. Jurnal : Debit 251.000.000 4.000. 15% X 50.500.

e. 5. PPh 23 = Rp.000 g.000 lebih tinggi dari penuyusutan fiscal. Pendapatan sewa bangunan Rp.000) (Rp. 251. 15.000. Penyusutan komersial Rp.PPh a.000.000. Beban pemberian sembako Rp. Pajak tangguhan Rp. 246.000. 25.000 (Rp. PPh 24 = Rp. 20.000.000 c.000 Pertanyaan : a.000 f. Kredit pajak : a.000 d.000 b. PPh 22 = Rp.000. 700. koreksi fiscal atas laba tersebut adalah sebagai berikut : a. Pajak kini b. 10.000 b.500.000.000.000) Laba bersih Rp. 10.000. Tentukan Penghasilan Kena pajak b.000 d.000.000. Amortisasi fiscal Rp. Tentukan Pajak Kurang atau lebih Bayar . 10. Pendapatan jasa giro Rp.000.000.000. 10. PPh 25 = Rp. Beban bunga pajak Rp. Laba sebelum pajak tahun 2009 = Rp.000 c.500. 4. 50.500. 653.000 2. 15.000 lebih tinggi dari amortisasi komersial. 40. Beban PPh Rp.

Amortisasi -/+ pengusutan Total beda waktu Penghasilan Kena Pajak b.000) Rp.c.24. 15.000 Kredit pajak PPh 22.23. Buatlah jurnal penyesuaiannya. 60.000.000.000 Rp.000 (Rp.000. Pajak terutan : (50% X 28 % ) X Rp. 20.000.000.pendapatan sewa bangunan -/.000. 10.000) Rp.000.000 ( Rp. Laba sebelum pajak Koreksi beda tetap : -/. 685.pendapatan jasa giro +/+ beban bunga pajak +/+ beban pemberian sembako +/+ beban PPh Total beda tetap (Rp.000) (Rp. Tentukan asset atau kewajiban pajak tangguhan d. Jawab : a.000 Koreksi beda waktu : -/.000) Rp.000 R p. 15.000 (Rp.000. 40.000 Rp.000.000 Rp.000. 680.000.000) . 10. 680. 95. 50.000.000) Rp. 5. 5.000. 700.000.25 (Rp.200.

400.000 1.200.000 Rp.000 35. Rp.000 RANGKUMAN MATERI AKUNTANSI PAJAK PENGHALSILAN ( PSAK 46 ) .400. Pajak kini b.000 10.000.000 25. 700. 1.600. Pajak tangguhan Rp.200. Kewajiban Pajak Tangguhan = 28% X Rp.000 (Rp.200.000 = d.000.000 Kredit 1.000. Jurnal : keterangan PPh Badan-Pajak kini Beban pajak tangguhan Kewajiban pajak tangguhan PPh 22 dibayar di muka PPh 23 dibayar di muka PPh 24 dibayar di muka PPh 25 dibayar di muka Utang PPh 29 Penyajian : Laba sebelum pajak PPh a. 95.000 1.000.000.000 Rp. 35.PPh Kurang Bayar (PPh 29) c.400.000 15.200.000 10.000 Laba bersih Rp. 5.000 Debit 95.000.400. 603.000 Rp. 96.400.

0113 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEMARANG 2011 .211.09.MELIZA ARI SUSANTO B.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful