Anda di halaman 1dari 29

USULAN PENELITIAN PREFERENSI PAKAN ALAMI KERANG TOTOK (Polymesoda erosa) DI LAGUNA SEGARA ANAKAN CILACAP

Oleh DARUSSALAM B1J007005

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

PREFERENSI PAKAN ALAMI KERANG TOTOK (Polymesoda erosa) DI LAGUNA SEGARA ANAKAN CILACAP

Oleh DARUSSALAM B1J007005

Diajukan sebagai pedoman Pelaksanaan Penelitian Studi Akhir pada Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Disetujui dan disahkan Pada tanggal

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr.rer.nat. Erwin R Ardli, S.Si., M.Sc. Romanus E Prabowo, S.Si., M.Sc., Ph.D. NIP. 19730722 199702 1 001 NIP.19720228 199903 1 002

Mengetahui : Pembantu Dekan I Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Drs. Agus Hery Susanto, MS. NIP. 19590814 198606 1 004 ii

PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, serta memberikan kemudahan dalam menyelesaikan usulan penelitian ini yang berjudul Preferensi Pakan Alami Kerang Totok (Polymesoda
erosa) di Laguna Segara Anakan Cilacap hingga tersusun dengan baik.

Penyusunan usulan penelitian ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu dengan tersusunnya usulan penelitian ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada 1. Drs. Agus Hery Susanto, M.S. selaku Pembantu Dekan I Fakultas Biologi UNSOED yang telah memberikan izin untuk melaksanakan penelitian 2. Dr.rer.nat. Erwin Riyanto Ardli, S.Si., M.Sc. dan Romanus Edy Prabowo, S.Si., M.Sc., Ph.D. selaku pembimbing I dan II 3. 4. Prof. Drs. Agus Irianto, M.Sc., Ph.D. selaku dosen pembimbing akademik Keluarga, rekan dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan usulan penelitian ini. Penulis sangat menyadari bahwa di dalam usulan penelitian ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk kelancaran penelitian ini.

Purwokerto, April 2012 Penulis

iii

DAFTAR ISI Halaman PRAKATA ....................................................................................................... DAFTAR TABEL ............................................................................................ DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... INTISARI......................................................................................................... I. II. PENDAHULUAN .................................................................................. MATERI DAN METODE PENELITIAN .............................................. A. Materi, Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................ B. Metode Penelitian ............................................................................. C. Metode Analisis ................................................................................ III. JADWAL PENELITIAN ........................................................................ IV. DAFTAR REFERENSI .......................................................................... iii v vi vii viii 1 8 8 9 13 14 15

iv

DAFTAR TABEL Halaman 1. Jadwal penelitian ......................................................................................... 14

DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Morfologi dan anatomi Polymesoda erosa ................................................. 2. Peta kawasan hutan mangrove Segara Anakan Cilacap .............................. 3. Skema pengambilan sampel Polymesoda erosa pada tiap stasiun .............. 4. Skematis pengukuran panjang, lebar dan tebal Polymesoda erosa ............. 4 9 9 11

vi

DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Analisis jenis dan tekstur tanah ................................................................... 18

vii

INTISARI

Segara Anakan merupakan laguna yang dikelilingi oleh mangrove dengan substrat berlumpur yang berupa lempung dan lanau yang bercampur dengan material organik dan membentuk endapan alluvial. Ditinjau dari sisi ekologis, mangrove dihuni oleh beragam biota khas penghuni ekosistem mangrove. Salah satunya adalah jenis kerang-kerangan (Bivalvia). Bivalvia merupakan salah satu fauna yang mendominasi hutan mangrove selain kepiting dan gastropoda. Seperti halnya makrobentos lainnya, bivalvia memainkan peran ekologis yang penting dalam struktur dan fungsi dari ekosistem mangrove. Polymesoda erosa merupakan filum moluska dalam kelas bivalvia yang hidup di ekosistem mangrove dan banyak dijumpai di kawasan hutan Mangrove Segara Anakan. Kondisi lingkungan Segara Anakan sangat mendukung bagi perkembangan organisme perairan termasuk Polymesoda erosa serta pakan alami, karena estuaria baik secara fisik-kimia perairan maupun sebagai lingkungan kaya akan sumber pakan alami untuk perkembangan organisme perairan. Makanan mempunyai fungsi penting bagi suatu organisme, karena suatu organisme dapat bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang karena adanya energi dari makanan. Polymesoda erosa memperoleh makanan yang berupa fitoplankton dan zooplankton kecil sebagai suspension feeder maupun filter feeder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi pakan alami Polymesoda erosa dan perbedaan preferensi pakan alami pada lokasi yang berbeda. Materi penelitian menggunakan kerang Polymesoda erosa. Penelitian menggunakan metode survey dengan penentuan stasiun menggunakan metode Purpossive Random Sampling. Komposisi pakan alami menggunakan analisis deskriptif dengan Indeks of Preponderance (Ii). Parameter pendukung yang diukur antara lain meliputi suhu udara dan air, salinitas, pH, bahan organik, tekstur substrat, serta pasang surut.

Kata kunci : mangrove, Segara Anakan, Polymesoda erosa, Indeks of Preponderance

viii

I.

PENDAHULUAN

Segara Anakan merupakan laguna yang dikelilingi oleh mangrove dengan substrat berlumpur yang berupa lempung dan lanau yang bercampur dengan material organik dan membentuk endapan alluvial (Yuwono et al., 2007). Laguna tersebut terletak di Pantai Selatan Pulau Jawa dan secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Kampung Laut Kabupaten Cilacap dengan koordinat 073429.42 074732.39 LS dan 1084630.12 1090321.02 BT. Luas wilayah Segara Anakan mencapai 34.018 ha (Ardli et al., 2010). Daerah yang terlindung pada ekosistem Laguna Segara Anakan tersebut menyebabkan perairan ini menjadi relatif tenang dan memungkinkan beragam organisme hidup di daerah tersebut (Dudley et al., 2000). Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem utama di perairan estuarin yang memiliki sumberdaya hayati yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam menunjang kehidupan dan kesejahteraannya secara berkesinambungan (Tisin, 2008). Ditinjau dari sisi ekologis, kawasan ini dihuni oleh beragam biota, baik dari darat maupun laut, serta fauna khas penghuni ekosistem mangrove. Secara garis besar fauna yang menghuni kawasan hutan mangrove dapat dikategorikan ke dalam kelompok pendatang dan penghuni asli. Kelompok pendatang adalah fauna yang hanya sebagian dari siklus hidupnya berada di kawasan mangrove, sedangkan penghuni asli menghabiskan seluruh siklus hidupnya di kawasan mangrove. Salah satu fauna penghuni asli di kawasan mangrove adalah sejenis kekerangan (Sugiarto, 2009). Kawasan tersebut juga mempunyai fungsi ekologis lain yang sangat penting sebagai tempat nursery, spawning dan feeding ground bagi biota estuarin dan laut termasuk diantaranya biota yang bernilai ekonomi tinggi seperti kerang totok (Polymesoda erosa).

Herawati (2008) menyatakan bahwa, hutan mangrove di Segara Anakan Cilacap memiliki potensi perikanan kerang yang cukup besar namun data mengenai besarnya hasil tangkapan nelayan hingga sekarang ini tidak ada. Sementara kenyataan di lapangan menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat akan kerang ini semakin meningkat sebagai sumber protein hewani yang berarti bahwa

kecenderungan frekuensi penangkapan akan semakin tinggi. Salah satu kerang yang banyak terdapat di daerah tersebut adalah kerang totok atau kepah (Polymesoda erosa). Kerang digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai salah satu sumberdaya pangan alternatif yang potensial. Kerang dimanfaatkan untuk meningkatkan konsumsi gizi walaupun masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam dan belum didukung oleh sektor budidaya. Menurut Morton (1984), sedikitnya terdapat 3 jenis kerang dari genus Polymesoda yaitu: Polymesoda erosa, Polymesoda expansa, dan Polymesoda bengalensis. Polymesoda erosa adalah satu dari ketiga spesies tersebut yang paling umum dijumpai di kawasan Hutan Mangrove Segara Anakan (Sudibyaningsih, 2001; Hartati et al., 2005; Widowati et al., 2005). Habitat alami dari kerang totok tersebut diduga telah mengalami penurunan kualitas lingkungan akibat sedimentasi dan eksploitasi vegetasi mangrove. Sedimentasi di Laguna Segara Anakan menurut Saputra (2003), terutama berasal dari Sungai Citanduy, Sungai Cibeureum dan Sungai Cikonde, dan sebagian kecil lainnya berasal dari sedimentasi pantai. Dampak yang dapat ditimbulkan dari sedimentasi dan eksploitasi tumbuhan mangrove tersebut, adalah terjadinya degradasi populasi kerang totok serta dapat mengakibatkan terganggunya, berubahnya dan bahkan terputusnya rantai makanan pada ekosistem tersebut.

Polymesoda erosa merupakan Filum Moluska dalam kelas bivalvia yang hidup di ekosistem mangrove pada substrat lanau berpasir (sandy slit), dapat hidup dengan kondisi pH rendah (5,35 6,04) serta fluktuasi salinitas yang besar. Kerang ini mampu bertoleransi pada suhu 0 - 40 C. Polymesoda erosa banyak dijumpai pada substrat yang didominasi vegetasi Derris trifoliata, Acanthus ilicifolius dan Rhizphora sp. Polymesoda erosa umumnya terdapat pada daerah beriklim sedang dan tropis. Oleh karena itu Polymesoda erosa dapat dijumpai pada hutan mangrove Indo-Pasifik Barat mulai dari India, Hongkong, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, Burma, Philipina (Morton, 1984); hingga Australia Utara (Gimin et al., 2004). Di Indonesia, Polymesoda erosa dilaporkan terdapat di hutan mangrove Papua dan Sulawesi (Dwiono, 2003; Freeport, 2007); Aceh (Ali, 2007); Jawa Barat, Kalimantan (Nova, komunikasi pribadi; Anwar et al., 2009) dan Laguna Segara Anakan Cilacap, Jawa Tengah (BCEOM, 2003; Widowati et al., 2005). Menurut Morton (1986) morfologi kerang totok mempunyai ciri-ciri hampir bulat (orbicular), tebal, besar, flexure jelas mulai dari umbo sampai tepi posterior, mempunyai satu atau dua lekukan. Barnes & Rupet (1991) menjelaskan bahwa lapisan luar (periostrakum) berwarna hijau kehitaman dan bagian dalam berwarna putih porselin. Secara morfologi kedua keping cangkang itu berfungsi untuk melindungi tubuh lunaknya dari serangan predator dan faktor lingkungan, mengatur aliran air secara tetap melalui insang untuk pertukaran udara dan pengumpulan makanan.

Gambar 1. Morfologi dan anatomi Polymesoda erosa (Paul, 2001) Adapun Klasifikasi Polymesoda erosa menurut Jutting (1954) : Filum Kelas Sub Kelas Ordo Familia Genus Spesies : Mollusca : Bivalvia : Heterodonta : Veroida : Corbiculidae : Polymesoda : Polymesoda erosa

Laguna Segara Anakan Cilacap merupakan lingkungan yang kaya akan sumberdaya hayati perairan termasuk plankton. Plankton dalam jaring-jaring makanan merupakan sumber pakan bagi organisme perairan termasuk kerang totok. Tersedianya plankton di perairan akan menunjukkan tingkat kesuburan pada suatu perairan termasuk wilayah Segara Anakan. Adanya aliran air dari laut dan sungai yang membawa berbagai materi organik dan anorganik sebagai nutrien guna berkembangnya fitoplankton (Eyre & Ferguson, 2006). Selain fitoplankton sebagai 4

pakan alami, zooplankton juga merupakan pakan alami bagi organisme perairan. Keberadaan zooplankton pada perairan estuaria dipengaruhi oleh adanya fitoplankton yang ada sebagai sumber pakannya (Froneman, 2004). Kondisi lingkungan estuaria sangat mendukung bagi perkembangan organisme perairan termasuk Polymesoda erosa serta pakan alami, karena estuaria baik secara fisik-kimia perairan maupun sebagai lingkungan kaya akan sumber pakan alami untuk perkembangan organisme perairan. Makanan mempunyai fungsi penting bagi suatu organisme, karena suatu organisme dapat bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang karena adanya energi dari makanan (Walne, 1979). Ditambahkan oleh Hari (1999), bahwa makanan bivalvia terdiri dari partikel organik dan mikroorganisme dalam air. Tidak semua jenis makanan akan dimakan oleh bivalvia, tergantung pada beberapa faktor misalnya ukuran makanan, ketersediaan makanan dan selera makan. Selanjutnya jumlah makanan akan tergantung pada kebutuhan dan pengaruh lingkungan. Ketersediaan makanan dilingkungan akan sangat menentukan makanan bivalvia. Polymesoda erosa hidup di daerah pasang surut yang kegiatan mencari makannya dipengaruhi oleh gerakan pasang surut air. Selama air pasang, kerang tersebut akan secara aktif menyaring makanan yang melayang dalam air, sedangkan selama air surut kegiatan pengambilan makanan akan sangat menurun (Maulana et al., 2010). Polymesoda erosa memperoleh makanan yang berupa fitoplankton dan zooplankton kecil sebagai suspension feeder maupun filter feeder. Namun melihat cara hidupnya yang membenamkan diri di dalam sedimen, maka dapat dipastikan bahwa bahan-bahan lain (organik dan anorganik) yang terdapat di dasar perairan juga akan turut terserap (Dwiono, 2003). Lebih lanjut Hari (1999) melaporkan bahwa,

lebih dari 40% makanan utama Polymesoda erosa adalah plankton yaitu dari Bacillariophyceae dan beberapa dari Filum Protozoa serta 36,40% berupa detritus. Sesuai dengan pernyataan Wibowo et al., (2004) dan Nontji (2008) bahwa detritus hasil proses dekomposisi dari jamur dan bakteri menjadi nutrisi yang dimanfaatkan oleh ikan, udang, kepiting, dan kerang sebagai makanan dan sebagian lagi menjadi zat hara (nutrien) terlarut yang dapat dimanfaatkan langsung oleh fitoplankton, alga, ataupun tumbuhan mangrove sendiri pada proses fotosintesis. Keberadaan bahan organik dan plankton berperan sebagai makanan Polymesoda erosa. Dengan demikian ketersediaan makanan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepadatan Polymesoda erosa. Sesuai dengan pernyataan Dody et al., (2000), Nurdin et al., (2008) bahwa, ketersediaan makanan akan mempengaruhi kepadatan organisme. Polymesoda erosa memperoleh makan dengan cara menghisap air payau yang mengandung plankton melalui saluran air masuk (inhalent siphon). Air yang telah masuk kemudian dialirkan melewati sepasang insang yang memiliki bulu-bulu getar (cilia) dan sel-sel penghasil gumpalan lendir (mucus) pada permukaannya. Dengan bantuan bulu-bulu getar yang bergerak secara ritmis, gumpalan-gumpalan lendir digerakkan ke arah ujung ventral (distal) yang terdapat saluran makanan (food grove). Di dalam saluran makanan bulu-bulu getar tersebut menggerakan gumpalan lendir ke arah depan (anterior) sampai mencapai labial palps. Pada bagian tersebut terdapat juga bulu-bulu getar dan serabut otot yang mampu membuang gumpalan berukuran lebih besar dari ukuran labial palps kerang dalam bentuk kotoran palsu (pseudofaeces) (Dwiono, 2003). Lubang labial palps ini dihubungkan dengan lambung oleh kerongkongan (oesophagus). Di dalam lambung, gumpalan lendir (beserta fitoplankton yang melekat pada lendir) akan mengalami proses pencernaan 6

secara mekanis (gerakan menggerus oleh crystalline style) dan kimiawi (enzim), hingga fitoplankton berubah menjadi bubur yang halus (Levinton, 1991). Berdasarkan uraian di atas maka timbul permasalahan antara lain: 1) Bagaimana preferensi pakan Polymesoda erosa di kawasan mangrove Segara Anakan, Cilacap? 2) Apakah terdapat perbedaan preferensi pakan pada lokasi yang berbeda di kawasan mangrove Segara Anakan, Cilacap? Tujuan dari penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) Mengetahui preferensi pakan alami Polymesoda erosa di kawasan mangrove Segara Anakan, Cilacap. 2) Mengetahui apakah ada perbedaan preferensi pakan alami pada lokasi yang berbeda. Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk mengetahui informasi jenis pakan alami Polymesoda erosa dengan menganalisis pakan alami pada Polymesoda erosa dengan kondisi habitat di kawasan mangrove Segara Anakan, Cilacap. Informasi tersebut bisa dimanfaatkan sebagai acuan pengelolaan sumber daya kerang Polymesoda erosa serta memberikan informasi mengenai faktor lingkungan yang nantinya juga dapat digunakan dalam upaya pengelolaan dan pelestarian kerang Polymesoda erosa di kawasan mangrove Segara Anakan, Cilacap.

II.

MATERI DAN METODE PENELITIAN

A. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1. Materi penelitian Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerang totok P. erosa di kawasan mangrove Segara Anakan Cilacap. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah GPS (Global Positioning System), perahu, parang, sekop, rol meter, line transek, kantong plastik, botol film, label, alat tulis, kamera, soil tester, thermometer, salt refraktometer, mikroskop binokuler model Olympus CH-2, SRC (Sedgwick Rafter Counter) dengan ukuran panjang 50 mm, lebar 20 mm, dan tinggi 1 mm (volume 1000 mm3), timbangan digital (ketelitian 0,01 gr), nampan, jangka sorong (ketelitian 0,01 mm), pinset, gunting, pisau dan laptop. 2. Lokasi dan waktu penelitian Penelitian dilakukan di 2 lokasi, yaitu hutan mangrove Segara Anakan sebagai tempat pengambilan sampel dan Laboratorium Biologi Akuatik Fakultas Biologi UNSOED untuk identifikasi sampel. Waktu penelitian adalah selama 5 bulan

Gambar 2. Peta kawasan hutan mangrove Segara Anakan Cilacap (Ardli dan Wolff, 2008)

B. Metode Penelitian 1. Teknik pengambilan sampel Penelitian ini akan menggunakan metode survei. Teknik pengambilan sampel dan penentuan stasiun menggunakan metode acak dengan pertimbangan (Purposive Random Sampling) yaitu dengan melihat kondisi lingkungan mangrove yang diduga terdapat kerang totok. Direncakanan sebanyak 10 stasiun pengambilan sampel, 3 plot mulai dari tepi, 50 m ke tengah, dan 50 m ke dalam dengan 3 kali ulangan.

Gambar 3. Skema pengambilan sampel Polymesoda erosa pada tiap stasiun 2. Parameter penelitian Parameter utama yang diukur dalam penelitian ini adalah jumlah individu dan jenis pakan alami (fitoplankton dan zooplankton) yang terdapat pada lambung P.erosa di setiap plot tiap stasiun pengambilan sampel. Parameter penunjang yang diukur adalah kualitas lingkungan yang mendukung kehidupannya (suhu udara dan air, salinitas, pH, bahan organik, tekstur substrat, dan pasang surut laut). 3. Cara kerja 3.1. Pemasangan plot Plot dibuat pada tiap stasiun yang telah ditentukan sebanyak 3 buah mulai dari tepi, 50 m ke tengah, dan 50 m ke dalam dengan dengan masing9

masing plot berukuran 3 x 3 m x 10 cm. Tiap plot diletakan secara acak dengan ulangan dilakukan sebanyak 3 kali dan setiap plot diambil seluruh sampel P. erosa. Alasan pengambilan P. erosa dilakukan dengan menggunakan plot berukuran 3 x 3 m x 10 cm dengan pertimbangan P. erosa sudah jarang ditemukan sehingga diharapkan akan mendapatkan kerang sebanyak mungkin. Pengambilan kerang dengan kedalaman 10 cm dilakukan dengan pertimbangan kerang tersebut hidup pada dasar perairan sampai kedalaman 10 cm. Faktor lingkungan yang diukur meliputi suhu udara, suhu air, pH substrat, serta salinitas. 3.2. Pengukuran sampel Polymesoda erosa Setiap individu sampel kerang P. erosa akan diukur panjang, lebar dan tebal dimensi cangkang menggunakan jangka sorong dengan ketelitian 0,00 mm mengikuti metode Poutiers (1998) dan ukuran dicatat dalam cm. Pengukuran berat (jaringan, cangkang dan berat total) dilakukan menggunakan timbangan digital dan dicatat dalam gram (dengan ketelitian 0,01 gr).

10

Gambar 4. Skematis pengukuran panjang, lebar dan tebal dimensi cangkang Polymesoda erosa 4.3. Pengamatan Isi Lambung Kerang yang diperoleh dibedah dan diambil lambungnya, lalu dimasukkan dalam botol sampel berisi akuades 10 ml. Selisih volume akuades dalam gelas ukur sebelum dan sesudah berisi lambung merupakan volume lambung kerang. Lambung kemudian dikeluarkan dari gelas ukur dan dibedah, lalu isi lambung kerang diencerkan dengan akuades. Hasil pengenceran disaring menggunakan plankton net kemudian dimasukkan dalam botol sampel, ditetesi formalin 4% (Nurdin et al., 2004). Pengamatan akan dilakukan dengan menggunakan alat bantu pencacah Sedgwick-rafter Counting Cell pada mikroskop binokuler perbesaran 10 x 10 dilakukan sebanyak 3 kali ulangan dengan 10 lapang pandang. Dalam identifikasi plankton dan makanan alami P. erosa dilakukan sampai genus dengan menggunakan buku acuan (Sachlan, 1982; Yamaji, 1980).

11

4.4. Pengukuran parameter pendukung a. Suhu Pengukuran suhu udara dan air dilakukan di sekitar titik sampling. Pengukuran suhu udara dilakukan dengan menggantungkan termometer selama 10 menit di udara setelah itu dicatat. Pengukuran suhu air dilakukan dengan cara mencelupkan termometer ke dalam badan air pada saat pasang selama beberapa waktu sampai diperoleh angka yang konstan, kemudian diangkat dan segera dicatat suhunya (Effendi, 2003). b. pH tanah Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan soil tester. Pengukuran dilakukan dengan cara menancapkan soil tester ke dalam tanah yang diukur pHnya, kemudian hasilnya dicatat setelah diperoleh angka konstan (Effendi, 2003). c. Salinitas Pengukuran salinitas menggunakan salt refraktometer dengan cara meneteskan sampel air saat pasang pada kaca refraktometer kemudian dilihat kisaran salinitasnya yang dinyatakan dengan satuan ppt (part per thousand) kemudian dicatat hasilnya (Effendi, 2003). d. Jenis dan tekstur tanah Sampel tanah diambil, kemudian untuk mengetahui jenis dan tekstur tanah dianalisis di laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian (Lampiran 1). Pengukuran parameter ini akan dilakukan untuk mengetahui kondisi jenis dan tekstur tanah yang menjadi habitat P. erosa. Jenis dan tekstur tanah dilakukan dengan metode pipet (Sulaiman et al., 2005).

12

C. Metode Analisis Pada penelitian ini, komposisi pakan alami akan digunakan analisis deskriptif dengan Indeks of Preponderance (Ii) yaitu analisis data yang digunakan untuk menganalisis tingkat kepenuhan komposisi pakan alami dalam lambung P. erosa. Menurut Effendi (2002), IP dihitung dengan rumus:

= Indeks utama (Indeks of Preponderence) = persentase numerical satu macam makanan = persentase frekuensi kejadian macam makanan

= Jumlah

dari semua jenis makanan.

Nilai Indeks of Preponderence (Ii) berkisar antara 0 100%. Apabila nilai Ii lebih besar dari 25%, pakan tersebut merupakan pakan utama. Apabila nilai Ii antara 4 25%, pakan tersebut merupakan pakan pelengkap, dan apabila Ii bernilai kurang dari 4%, pakan tersebut merupakan pakan tambahan (Haryadi, 1983).

13

III.

JADWAL PENELITIAN

Penelitian tentang Preferensi Pakan Alami Kerang Totok (Polymesoda erosa) di


Laguna Segara Anakan Cilacap dilakukan selama lima bulan seperti yang disajikan

pada tabel 3.1 : Tabel 3.1. Jadwal penelitian Bulan keKegiatan 1 Penyusunan proposal Pengambilan sampel Identifikasi sampel Analisis data Penyusunan laporan 2 3 4 5

14

DAFTAR REFERENSI

Ali, M, S. 2007. Kondisi Kerang Geloina Pasca Tsunami di Perairan Ekosistem Mangrove Pesisir Barat Kabupaten Aceh Besar. Prosiding Seminar Nasional Moluska dalam Penelitian, Konservasi dan Ekonomi : 109-120. Anwar, K. 2009. Ekobiologi dan Pola Distribusi Ukuran Kerang Kepah (Polymesoda erosa) di Perairan Pantai Peniti Kabupaten Pontianak Kalimantan Barat. Tesis. Magister Manajemen Sumber Daya Pantai. Universitas Diponegoro. Semarang. 99-154. Ardli, E.R., E. Yani dan A. Widyastuti. 2010. Distribusi Spasial dan Dinamika Populasi Polymesoda erosa Di Ekosistem Mangrove Segara Anakan Cilacap, Sebagai Acuan Restocking dan Konservasi. Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Ardli, E.R. and M. Wolff. 2008. Land Use and Land Cover Change Affecting Habitat Distribution In The Segara Anakan Lagoon, Java, Indonesia. Regional Environmental Change. DOI:10.1007/s10113-008-0072-6. Barnes, R.D. and Rupert. 1991. Invertebrata Zoology. Sixt Edition, Sounder College, Publishing New York. 601-607. BCEOM. 2003. The Ecology of Mangrove and of The Common Asiatic Clam (Polymesoda erosa) in Segara Anakan. PT. Ardes Perdana dan PT. Bhawana Prasasta. Repubic of Indonesia Ministry of Home Affairs. Directorate General of Regional Development, 39-37. Dody, S., M. Eidman, D.G Begen dan S. Wouthuyzen. 2000. Distribusi Spasial Kerang Darah (Anadara maculosa) dan Interaksinya dengan Karakteristik Habitat di Rataan Terumbu Teluk Katonia, Seram Barat, Maluku. Jurnal Ilmuilmu Perairan dan Perikanan. 2: 19-31. Dudley, R.G., T. Nurhidayati, H. Pamungkas and T.N. Cahyo. 2000. Segara Anakan Conservation and Development Project. Issues of Segara Anakan Fisheries. BCEOM in Association with PT. Ardes Perdana dan PT. Bwahana Prasasta. Republic of Indonesia Ministry of Home Affairs. Directorate General of Regional Development. Jakarta. Dwiono, S.A.P. 2003. Pengenalan Kerang Mangrove, Geloina erosa dan Geloina expansa. Balitbang Sumber Daya Laut, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta. Oceana: 31-38. Effendi, H. 2003. Telaahan Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Bogor. 259. Effendi, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta. 163. Eyre, B.D. and A.J.P. Ferguson. 2006. Impact of A Flood Event on Benthic and Pelagic Coupling in A Sub-Tropical East Australian Estuary (Brunswick). Estua Coast and Shelf Scien. 111-122.

Freeport. 2007. Kajian Dampak Tailing PT. Freeport Terhadap Perairan Muara Ajkwa dan Sekitarnya. PT. Ecostar Engineering. 500. Froneman, P.W. 2004. Zooplankton Community Stucture and Biomass in A Southern African Temporarily Open/Close Estuary. Estua Coast and Sshelf Scienc. 125-132. Gimin, R., R. Mohan, L.V. Thinh and A.D. Griffiths. 2004. The Relationship of Shell Dimensions and Shell Volume to Live Weight and Soft Tissue.Aricles.NAGA, WorldFish Center Quarterly 3 & 4. Hari, H. 1999. Beberapa Aspek Bioekologi Komunitas Bivalvia di Kawasan Hutan Mangrove Teluk Kulisusu, Kab. Muna, Prop. Sulawesi Tenggara. Tesis. Program Pasca Sarjana. IPB. Bogor. 105. Hartati, R., I. Widowati dan Y. Ristiadi. 2005. Histologi Gonad Kerang Totok Polymesoda erosa (Bivalvia : Corbiculidae) dari Laguna Segara Anakan. Cilacap. Jurnal Ilmu Kelautan. 10 (3) : 119-125. Haryadi, S. 1983. Studi Makanan Alami Ikan Mujair, Nila, Lele, dan Ikan Mas di Situ Ciburuy, Kabupaten Bandung. Fakultas Perikanan IPB, Bogor. Herawati, V.E. 2008. Analisis Kesesuaian Perairan Segara Anakan Kabupaten Cilacap sebagai Lahan Budidaya Kerang Totok (Polymesoda erosa) Ditinjau dari Aspek Produktifitas Primer Menggunakan Penginderaan Jauh. Program Studi Magister Manajemen Sumberdaya, Universitas Diponegoro. Semarang, Indonesia. Jutting, V.B.W.S.S. 1954. Systematic Studies on The Non-Marine Mollusca of The Indo-Australian Archipelago. Treubia. 22 : 19-72. Levinton, J.S. 1991. Variable Feeding Behavior in Three Species of Macoma (Bivalvia : Tellinacea) as a Response to Water Flow and Sediment Transport. Mar. Biol. 110 : 375-383. Maulana, M.B., I. Widowati dan J. Suprijanto. 2010. Studi Histologi Digestif Diverticula Kerang Totok (Polymesoda erosa) Berdasarkan Perbedaan Kondisi Perendaman di Lokasi Mangrove Replant Teluk Awur, Jepara, Jawa Tengah. Majalah Ilmu Kelautan (In Press). Morton, B. 1984. A Review of Polymesoda erosa (Geloina) Gray 1842 (Bivalvia: Corbiculidae) from Indo-Pasific Mangrove. Journal Asian Marine Biology. 7786. __________. 1986.The Biology and Fungsional Morphology of Corbicula crassa (Bivalvia : Corbiculidae) with Special Reference to Shell Structure and Formation. Proc. 2nd Int. Biological Workshop : The Marine Flora and Fauna of Hongkong and Southern China, Hongkong. Hongkong University Press. 10561072. Nontji, A. 2008. Laut Nusantara. Djembatan. Jakarta. 367. 16

Nurdin, J., Hendri, A. Asmara dan R. Deswandi. 2004. Kepadatan dan Indeks Makanan Terbesar Kerang Kima (Tridacna maxima) di Perairan Pulau Pasumpahan Kota Padang Sumatera Barat. Sains Indonesia. 1-7. __________., J. Supriatna., M.P. Patria., A. Budiman. 2008. Kkepadatan dan Keanekaragaman Kerang Intertidal (Mollusca: Bivalve) di Perairan Pantai Sumatera Barat. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi. Universitas Lampung. 505-520. Paul, B. 2001. The Bivalvia. California Academy of Sciens, 45. Poutiers, J.M. 1998. Bivalve. In: Carpenter, K.E. and Niem, V.H. 1988. The Living Marine Resources of The Western Central Pasific. Vol I. Seaweed, Corals, Bivalves and Gastropods, FAO The UN Roma. 123-385. Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan. Undip, Semarang. Saputra, S.W. 2003. Kondisi Perairan Segara Anakan Ditinjau dari Indikator Biotik. Makalah Pengantar Falsafah Sains. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sudibyaningsih. 2001. Pendugaan Penyebaran Polutan Bahan Berbahaya dan Beracun Melalui Beberapa Sub-Elemen Ekosistem Mangrove di Segara Anakan. Laporan Penelitian. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto. 18. Sugiarto, T. 2009. Komposisi Jenis dan Distribusi Gastropoda di Kawasan Hutan Mangrove Segara Anakan Cilacap. Jurnal Ilmu Kelautan. 6-12. Sulaiman, N. Dedi dan Suprihatin. 2005. Sifat-sifat Kimia dan Mineralogi Tanah. Balai Penelitian Tanah. Bogor, 40-46. Tisin, M. 2008. Tipologi Mangrove dan Keterkaitannya Dengan Populasi Gastropoda Littorina neritoides (LINNE,1758) di Kepulauan Tankeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Tesis.Magister Sains Program Studi Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Walne, D.R. 1979. Culture of Bivalve Mollusc. 2nd edition. Fishing News Book Ltd. Farnham Survey. 46-66. Wibowo, E., E. Yudiati, Suryono dan T. Retnowati. 2004. Kandungan Klorofil a pada diatome Epipelik di Sedimen Ekosistem Mangrove. Jurnal Ilmu Kelautan. 9: 225-229. Widowati, I., J. Suprijanto, R. Hartati, dan S.A.P. Dwiono. 2005. Hubungan Dimensi Cangkang dengan Berat Kerang Totok Polymesoda erosa (Bivalvia : Corbiculidae) dari Segara Anakan Cilacap, Prosiding Seminar Nasional Biologi dan Akuakultur Berkelanjutan, Fakultas Biologi Program Sarjana Perikanan dan Kelautan Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto. 48-50. Yamaji, I. 1980. Illustration of The Marine Plankton of Japan. Hoikusha Publishing Co., Ltd. : Osaka. Jepang. 17

Yuwono, E., T.C. Jennerjahn, I. Nordhaus., E.R. Ardli., M.H. Sastranegara and R. Pribadi. 2007. Ecological Status of Segara Anakan, Indonesia: A Mangrovefringed Lagoon Affected by Human Activities. Asian Journal of Water, Environment and Pollution. 4: 61-70.

18

Lampiran 1. Analisis jenis dan tekstur tanah menurut Sulaiman et al., (2005) dengan metode pipet di laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian. a) Alat dan bahan: Alat yang dipakai yaitu gelas piala 800 ml, penyaring berkefeld, ayakan 50 mikron, gelas ukur 500 ml, pipet 20 ml, pinggan aluminium, dispenser 50 ml, gelas ukur 200 ml, stop watch, oven berkipas, pemanas listrik, dan neraca analitik ketelitian empat desimal. Bahan yang dipakai yaitu H2O2 30%, H2O2 10% (H2O2 30% diencerkan tiga kali dengan air bebas ion), HCl 2N (mengencerkan 170 ml HCl 37% teknis dengan air bebas ion dan diimpitkan hingga 1 : l), larutan Na4P2O7 4% (melarutkan 40 g Na4P2O7.10 H2O dengan air bebas ion dan diimpitkan hingga 1 : l). b) Cara kerja Contoh tanah <2mm ditimbang 10,00 g, dimasukkan ke dalam gelas piala 800 ml, ditambah 50 ml H2O2 10% kemudian dibiarkan semalam. Keesokan harinya ditambahkan 25 ml H2O2 30% dipanaskan sampai tidak berbusa, selanjutnya ditambahkan 180 ml air bebas ion dan 20 ml HCl 2N. Dididihkan diatas pemanas listrik selama lebih kurang 10 menit. Diangkat dan setelah agak dingin diencerkan dengan air bebas ion menjadi 700 ml. Dicuci dengan air bebas ion menggunakan penyaring Berkefeld atau diendap-tuangkan sampai bebas asam, kemudian ditambah 10 ml larutan peptisator Na4P2O7 4%. Pemisahan pasir Suspensi tanah yang telah diberi peptisator diayak dengan ayakan 50 mikron sambil dicuci dengan air bebas ion. Filtrat ditampung dalam silinder 500 ml untuk pemisahan debu dan liat. Butiran yang tertahan ayakan dipindahkan ke dalam 19

pinggan alumunium yang telah diketahui bobotnya dengan air bebas ion menggunakan botol semprot. Dikeringkan (hingga bebas air) dalam oven pada suhu 105 oC, didinginkan dalam eksikator dan ditimbang (berat pasir = A g). Pemisahan debu dan liat Filtrat dalam silider diencerkan menjadi 500 ml, diaduk selama 1 menit dan segera dipipet sebanyak 20ml ke dalam pinggan aluminium. Filtrat dikeringkan pada suhu 105 oC (biasanya 1 malam), didinginkan dalam eksikator dan ditimbang (berat debu + liat + peptisator = B g). Untuk pemisahan liat diaduk lagi selama 1 menit lalu dibiarkan selama 3 jam 30 menit pada suhu kamar. Suspensi liat dipipet sebanyak 20 ml pada kedalaman 5,2 cm dari permukaan cairan dan dimasukkan ke dalam pinggan aluminium. Suspensi liat dikeringkan dalam oven pada suhu 105 oC, didinginkan dalam eksikator dan ditimbang (berat liat + peptisator = C g). Bobot peptisator pada pemipetan 20 ml berdasarkan penghitungan adalah 0,0095 g. Bobot ini dapat pula ditentukan dengan menggunakan blanko. Perhitungan Fraksi pasir Fraksi debu Fraksi liat =Ag = 25 (B C) g = 25 (C 0,0095) g

Jumlah fraksi = A + 25 (B 0,0095) g

Pasir (%) =

x 100 20

Debu

x 100

Liat

x 100

Keterangan A B C 25 100 = berat pasir = berat debu + liat + peptisator = berat liat + peptisator = faktor konversi dari 20 ml ke 500 ml = faktor konversi ke %

21