Anda di halaman 1dari 19

KARYA TULIS

PROSES PENGAWETAN HEWAN DI MUSEUM BIOLOGI UGM YOGYAKARTA

Diajukan untuk memenuhi hasil study lapangan Yogyakarta dan sebagai salah satu syarat mengikuti Ujian Akhir Nasional 2013 Di SMA Muhammadiyah Pangandaran.

Disusun Oleh: 1. Nia Isnaeni 2. Sunarti 3. Yuti H S. 4. Eris Y.

XI.IPA.1

MAJELIS PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH MUHAMMADIYAH

SMA MUHAMMADIYAH PANGANDARAN


JLN.MERDEKA NO.27 TLP(0265)639105 PANGANDARAN 46396 2012

PENGESAHAN PROSES PENGAWETAN HEWAN/TUMBUHAN DI MUSEUM BIOLOGI UGM YOGYAKARTA

Disusun Oleh: 1. Nia Isnaeni 2. Sunarti 3. Yuti H S. 4. Eris Y.

Mengetahui:

Wali kelas

pembimbing I

Listanti bidayasari S.Pd

Dra. Eti Srimulyati

Kepala Sekolah

Kosasih S.Pd.M.Pd

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt. Karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul Proses Pengawetan Hewan di Museum Biologi UGM Yogyakarta tepat pada waktunya. Terima kasih kepada: 1. 2. 3. 4. Yth Bapak Kosasih S.Pd.M.Pd, selaku kepala sekolah SMA Muhammadiyah Pangandaran, Ibu Dra. Eti Srimulyati, selaku guru Bahasa Indonesia, Bapak Wartono S.Pd , selaku guru Biologi, Rekan satu kelompok yang telah berpartisipasi, Semoga karya tulis yang berjudul Proses Pengawetan Hewan di Museum Biologi UGM Yogyakartadapat bermanfaat khususnya bagi yang menulis umumnya bagi yang membaca. Mohon maaf apabila banyak kesalahan dan kekurangan, karena karya tulis yang dibuat oleh penulis masih sangat jauh dari kesempurnaan. Maka penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca guna menyyempurnakan karya tulis yang berjudul Proses Pengawetan Hewan di Museum Biologi UGM Yogyakarta .

Pangandaran April 2012

Tim Penulis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Museum Biologi di Jl. Sultan Agung, Yogyakarta. Museum ini berdirisejak tahun 1964, sebagai museum khusus milik Fakultas BiologiUniversitas Gajah Mada Yogyakarta yang berisi koleksi berbagai macamherbarium basah dan kering, berbagai jenis binatang dan kerangkanya,aquarium, dan buku-buku bidang Biologi. Sebagian diantaranyadiperagakan dalam bentuk diorama yang memperlihatkan kehidupanbinatang dan tumbuh-tumbuhan. Keberadaan museum ini tidak lepas daripenyediaan sarana pendidikan tentang flora dan fauna diIndonesia, yangdiberikan oleh salah satu perguruan tinggi tertua di Indonesia.Dirintis sejak terbentuknya Museum Zooligicum pada tahun 1964,yang menempati salah satu ruang di Sekip, Sleman, DIY, di dalamKampus UGM, yang dipimpin oleh Prof. drg. R.G. Indrojono dan koleksiherbarium yang menempati sebagian gedung di Jalan Sultan Agung 22Yogyakarta, yang dipimpin oleh Prof. Ir. Moeso Suryowinoto.Pengelolaan keduanya ditangani oleh Fakultas Biologi, yang padawaktu itu bertempat di nDalem Mangkubumen, Ngasem, Yogyakarta,yang lebih dikenal dengan nama fakultas-fakultas "Kompleks Ngasem".Koleksi hewan dan tumbuhan pada waktu itu berasal dari Seksi Zoologidan Anatomi Fakultas Kedokteran UGM, dan Seksi Botani FakultasPertanian UGM.Atas prakarsa Dekan Fakultas Biologi, yang pada waktu itu dijabatoleh Ir. Soerjo Sodo Adisewoyo, pada tanggal 20 September 1969, yaitupada penringatan Dies Natalis Fakultas Biologi, Museum Biologi. Museum Biologi UGM Yogyakarta merupakan museum khusus atau museum pendidikan yang memamerkan benda-benda hayati dan benda-benda lain yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Benda-benda koleksi daribinatang dan tumbuhan yang ada berjumlah lebih kurang 3.752 buah,dalam bentuk awetan kering, awetan basah, kerangka (tulang), fosil danlain-lain yang sebagian besar berasal dari Indonesia, dan beberapa dariluar negeri.Di Museum ini pengunjung dapat melihat beraneka ragam hewan,tentunya yang sudah mati dan sudah diawetkan, baik denganpengawetan basah (dimasukkan dalam cairan formalin) maupunpengawetan kering. Ada juga tumbuhan atau buah-buahan yang sudahdiawetkan (herbarium). Ada beraneka ragam karang laut, tengkorak atau kerangka hewan dan juga manusia. Selain itu ada juga koleksi tulangyang sudah menjadi fosil. Koleksi Insecta (kupu-kupu dan kumbang).Pada koleksi yang dipamerkan dilengkapi dengan keterangan sepertiketerangan nama, bahkan di beberapa item keterangan yang menyertailebih lengkap, seperti misalnya jenis hewan X makanannya apa, hidupnya dimana, siklus hidupnya, dan sebagainya Prses pengawetan hewan menjadi hewan awetan memiliki beberapa cara tergantung hewan yang akan diawetkan dan memerlukan tenaga ahli untuk melakukan pengawetan mulai dari pemilihan hewan sampai proses pengawetannya. Maka penulis tertarik untuk membahas proses pengawetan hewan menjadi hewan awetan , dengan tujuan untuk menambah wawasan para pembaca mengenai hewan awetan dan proses pengawetannya.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian maka yang menjadi pokok pembahasan adalah sebagai berikut : 1. Apa saja jenis-jjenis koleksi di Museum Biologi UGM Yogyakarta? 2. Apa saja manfaat Museum bologiUGM Yogyakarta? 3. Bagaimana proses penawetan hewan hingga menjadi hewan awetan yang siap dimuseumkan?

C. Alasan Pemilihan Judul Alasan plenulis memilih judul Proses Pengawetan Hewan di Museum Biologi UGM Yogyakarta adalah untuk memotivasi minat baca para pembaca untuk mengetahui lebih dalam mengenai proses pengawetan hewan di Museum Biologi UGM Yogyakarta sehingga dapat menambah wawasan yang baru dan luas. D. Metode Penelitian Metode yang penulis gunakan adalah metode literatur (tidak meneliti secara lansung) yaitu merupakan metode pengumpulan data dengan cara membaca buku-buku dan situs-situs internet yang mendukung dan menunjang dalam pembuatan karya tulis dan penyusunan laporan, sekaligus dijadikan sebagai landasan dalam penulisan laporan . contohnya melalui : - Tinjauan secara langsung ke Museum Biologi UGM Yogyakarta - Mengumpulkan sumbe-sumber melalui internet.

BAB II KAJIAN TEORITIS

A. Pengawetan Hewan Secara Ummum Biologi adalah suatu ilmu tentang kehidupan. Bagi siswa mempelajari tumbuhandan hewan dalam hubungannya dengan lingkungan sekitarnya adalah bagian penting dalamm e m p e l a j a r i b i o l o g i . U n t u k m e n g e n a l h a k e k a t h i d u p , s e r t a

d a l a m k e h i d u p a n t e r s e b u t diperlukan suatu cara atau metode.P e n g a w e t a n tumbuhan dan hewan sangat diperlukan terutama untuk m e m e n u h i kebutuhan pada masa yang akan datang, "dalam membantu" perkembangan ilmu. Awetanrangka dan anatomi tumbuhan maupun hewan sering diperlukan sebagai alat peraga dalamk e g i a t a n b e l a j a r m e n g a j a r b i o l o g i d i k e l a s . Adanya awetan yang dibuat sendiri sangatmembantu p engadaan alat p e r a g a d a n k o l e k s i . T a n p a a d a n y a p e n g a w e t a n y a n g b a i k , tumbuhan dan hewan yang ditemukan dan dikoleksikan maka akan mengalami kerusakan,misalnya pengerutan atau pembusukan 1. H e r b a r i u m Herbarium adalah tumbuhan yang dikeringkan dan direkatkan pada kertasmanila, diberi nama dan keterangan secara lengkap, atau dapat pula diartikan sebagailembaga atau tempat menyimpan herbarium spesimen. Pada awalnya herbariummerupakan tempat menyimpan tanaman atau tumbuhan yang memiliki khasiat obat.Herbarium berfungsi sebagai:1 . T e m p a t k o l e k s i t u m b u h a n 2 . T e m p a t p e m e l i h a r a a n f o s i l tumbuhan3.Tempat aktivitas ilmuan sistematika4.Tempat penelitian sistematika tumbuhan.5 . P e m e l i h a r a a n d a t a v e g e t a s i , 6.Tempat sarana membelajaran botani phansrogamae.7.Bahan identifikasi dan d e t e r m i n a s i . 8 . B u k t i k e k a y a a n t u m b u h a n d a r i s u a t u d a e r a h . 9.Bahan tukar menukar kekayaan alam tumbuhan dari berbagai daerah. Untuk membuat suatu herbarium sederhana diperlukan beberapa peralatan yang terdiridari:1. Cangkul atau sekop.2. Gunting tanaman kecil.3. Pisau saku atau pisau silet.4. Sabit panjang.5. Vasculum/tromol/kantong plastik ukuran 55 cm x 80 cm.6. Sasag untuk mengepres ukuran 55 cm x 40 cm.7. Binokuler lapangan.8. Kertas koran.9. Pita meteran.1 0 . A l t i m e t e r . 11. Label, note book, pinsil, kertas koleksi, dan lem.12. Kamera (tustel).13. Bahan pengawet (sublimat, alkohol, formalin). 2. I n s e k t a r i u m Salah satu cara yang baik untuk mempelajari serangga diantaranya ialah pergik e l a p a n g a n d a n k e m u d i a n k i t a m e n g a d a k a n k o l e k s i t e r h a d a p s e r a n g g a - s e r a n g g a tersebut. Akan tetapi mempelajari serangga tidak mungkin dilakukan di lapangan setiap j a m p e l a j a r a n . H a l i n i d i s e b a b k a n k a r e n a t e r b a t a s n y a waktu jam pelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan d e n g a n c a r a m e n g a d a k a n k o l e k s i t e r h a d a p serangga tersebut dan selanjutnya mengawetkannya. Mempelajari serangga dengan menggunakan koleksi serangga y a n g t e l a h diawetakan akan lebih menarik dibandingkan dengan hanya mempelajari serangga dari buku saja maupun mengamati gambar serangga yang ada pada buku.Tanpa diawetkan serangga-serangga tersebut mungkin hanya dapat dipakai satu k a l i p r a k t i k u m tetapi jika diawetkan dapat dipergunakan selama mungkin. D e n g a n mengawetkan serangga yang telah dikoleksi kita tidak perlu sering mengadakan koleksiyang mungkin akan mengganggu keseimbangan alam.

B. Museum Biologi UGM Yogyakarta 1. Sekilas Tentang Museum Biologi

Museum Biologi UGM mulai dibuka untuk umum sejak 1 Januari 1970. Tahun 1969 - 2001, pengelolaan Museum Biologi ini berada di bawah tanggung jawab Drs. Anthon Sukahar sebagai ketua tim pelaksana sekaligus Direktur Museum yang pertama. Koleksi Museum Biologi UGM ini adalah berbagai macam flora dan fauna yang diawetkan. Koleksi tersebut adalah sebagai berikut :

3.752 buah koleksi herbarium (awetan) dalam bentuk herbarium kering, herbarium basah, kerangka, serta fosil. 70% merupakan preparat tanaman 30% lainnya berupa preparat hewan.

Koleksi yang didapat museum ini sebagian besar berasal dari Indonesia, sedangkan sisanya berasal dari luar negeri yang merupakan sumbangan dari para peneliti, dosen, maupun masyarakat. Beberapa koleksi merupakan koleksi binatang langka yang wajib dilindungi, misalnya komodo, harimau, beruang madu, trenggiling, burung cendrawasih, dan buaya putih. Untuk koleksi tumbuhannya meliputi koleksi tumbuhan rendah (Cryptogamae) sampai dengan koleksi tumbuhan tinggi (Spermatophyta) yang diawetkan dalam bentuk herbarium kering (1672 species dari 180 familia) dan herbarium basah (350 buah).

Perawatan yang dilakukan terhadap koleksi museum ini, khususnya untuk koleksi fauna, adalah dengan memasukkan awetan fauna-fauna tersebut ke dalam freezer selama dua kali dalam satu kali perawatan. Tujuannya adalah untuk membunuh telur serangga yang kemungkinan menempel pada awetan tersebut. Bisa juga perawatan tersebut dilakukan dengan melakukan radiasi terhadap awetan tersebut untuk membunuh telur serangga yang menempel pada awetan. Perawatan ini biasanya dilakukan satu kali dalam setahun. Di museum Biologi tersebut dapat dijumpai pula beberapa kotak Diorama. Di dalam setiap kotak Diorama terdapat satu jenis atau sekelompok hewan yang berlatar belakang habitat mereka yang diilustrasikan pada gambar tiga dimensi. Dengan melihat diorama ini maka dapat dibayangkan kehidupan nyata dan habitat hewan-hewan tersebut. Selain koleksi awetan hewan dan tumbuhan, terdapat pula ruang display untuk pengamatan

mikroskopis. Sebagai sebuah museum yang mengkhususkan dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan, serta merupakan salah satu tujuan wisata, maka Museum Biologi UGM bertujuan untuk :

menyimpan koleksi hayati untuk keperluan pendidikan menyelenggarakan peragaan ilmiah mengadakan pameran untuk umum sebagai sarana pengabdian masyarakat sebagai sumber informasi keanekaragaman hayati sebagai media pembelajaran keanekaragaman hayati dan konservasi Jam Buka : Senin - Kamis : 07.30 - 13.30 Jumat : 07.30 - 11.00 Sabtu : 07.30 - 12.00 Minggu : 08.00 - 12.00 Hari libur nasional tutup.

BAB III PEMBAHASAN A. Proses Pengawetan Hewan di Museum Biologi UGM Yogyakarta 1. Kura-kura

Kura-kura dan penyu adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk golongan reptil. Bangsa hewan yang disebut (ordo) Testudinata (atau Chelonians) ini khas dan mudah dikenali dengan adanya rumah atau batok (bony shell) yang keras dan kaku. Batok kura-kura ini terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung disebut karapas (carapace) dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Kemudian setiap bagiannya ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan keras, dan tersusun seperti genting; sementara lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat seperti tempurung. Perkecualian terdapat pada kelompok labi-labi (Trionychoidea) dan jenis penyu belimbing, yang lapis luarnya tiada bersisik dan digantikan lapisan kulit di bagian luar tempurung tulangnya. Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal tiga kelompok hewan yang termasuk bangsa ini, yalah penyu (bahasa Inggris: sea turtles), labi-labi atau bulus (freshwater turtles), dan kurakura (tortoises). Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins). a). Cara Mengawetkan Kura-Kura Setelah kura kura mati, bersihkan semua bagian luar kura-kura dengan menggunakan sikat gigi, kalau perlu gunakan sabun yang lembut, keringkan,lalu bungkus kura-kura dengan plastik hingga rapat dan simpan dalam freezer. Sementara itu kita siapkan bahan bahan yang diperlukan untuk pengawetannya. b). Alat dan Bahan Bahan-bahan dan alat-alat yang diperlukan untuk pengawetan kura-kura adalah: malin (banyaknya tergantung dari ukuran kura kura yang mati, makin besar kura kura, makin banyak formalin yang dibutuhkan. Setengah liter formalin dalam resep ini dipakai untuk mengawetkan kura kura mati berukuran 15 cm) b) Kotak plastik dengan ukuran yang sesuai kura kura dan memiliki tutup yang rapat. c) Serat dacron atau serat untuk isi bantal secukupnya. d) 10 pc silica gel atau penyerap kelembanan. e) Jarum suntik. f) Monte untuk kalung plastik berwarna hitam yang bisa dibeli di toko accesoris pakaian, yang ukurannya sesuai dengan ukuran mata kura kura. g) 1cc resin & hardener, untuk pemakainannya, bisa tanyakan ke penjualnya. h) Jarum pentul secukupnya. i) Stereoform dengan tebal 2 cm. j) Wax atau semir sepatu warna netral. k) Pinset panjang. l) Kipas angin stand. m) Masker hidung, kacamata dan 4 pasang sarung tangan. c). Langkah-langkah Setelah semua bahan yang dibutuhkan sudah siap, keluarkan kura kura dari freezer, rendam dalam air hingga tidak membeku lagi atau lunak, lalu tahap sadis dimulai.

Dengan bantuan pinset, buat lubang kecil dikerongkongan bawah kura kura dan keluarkan jantung dan paru-parunya. Lubangi juga salah satu selangkangan untuk

mengeluarkan usus dan ginjal kura kura. Khusus untuk kura kura yang berukuran medium, buka atau belah dada kura kura.

Lubang di bagian leher/bawah kerongkongan

Lubang bagian kaki

Lubang di bagian dada


Cuci bersih kura kura yang sudah dikeluarkan organ dalamnya dan pastikan tidak ada organ dalam yang tertinggal, daging pada kaki tidak perlu dibuang. Carilah tempat yang terbuka atau ruangan yang memiliki sirkulasi udara bagus, nyalakan kipas angin di belakang anda dan pakai sarung tangan, kacamata dan masker. Ini perlu dilakukan untuk menghindari kita menghirup uap formalin karena jika terhirup, bau uap formalin bisa menusuk hidung & menyesakkan dada.

Suntik formalin secukupnya pada daerah yang terdapat daging lalu rendam kura kura dalam larutan formalin. Aktu yang diperlukan kurang lebih 1 jam untuk kura kura berukuran kecil. Makin gede, makin lama ngerendemnya.

Cara menyuntikkan formalin


Setelah itu, angkat kura kura dari rendaman formalin, buka dan angin anginkan hingga mengering. Isi mulut dan leher kura kura dengan serat Dacron sedikit demi sedikit, isi bagian dalam tempurung dengan Dacron & selingi dengan beberapa silica gel, tusuk bola matanya dengan jarum lalu isi dengan monte plastik hitam.

Tusuk bagian mata dengan jarum pentul


Bentuk kura kura sesuai dengan gaya yang diinginkan dengan menancapkan jarum pentul pada kaki kura kura ke ke stereoform. Tahan bagian kepalanya dengan kayu kecil. Keringkan di bawah sinar matahari langsung kurang lebih 1 minggu untuk kura kura berukuran kecil dan kuang lebih 3 minggu untuk kura kura berukuran sedang. Jangan lupa memasukkannya ke rumah kalau hari sudah sore. Setelah kering sempurna, beri sedikit tetesan resin ke mata kura kura untuk memberi ekspresi hidup dan olesi seluruh badan dengan wax atau semir sepatu netral.

2. Serangga

Biologi adalah suatu ilmu tentang kehidupan. Bagi siswa mempelajari tumbuhandan hewan dalam hubungannya dengan lingkungan sekitarnya adalah bagian penting dalammempelajari biologi. Untuk mengenal hakekat hidup, serta dalam kehidupan tersebutdiperlukan suatu cara atau metode.Pengawetan tumbuhan dan hewan sangat diperlukan terutama untuk memenuhikebutuhan pada masa yang akan datang, "dalam membantu" perkembangan ilmu. Awetanrangka dan anatomi tumbuhan maupun hewan sering diperlukan sebagai alat peraga dalamkegiatan belajar mengajar biologi di kelas. Adanya awetan yang dibuat sendiri sangatmembantu pengadaan alat peraga dan koleksi. Tanpa adanya pengawetan yang baik,tumbuhan dan hewan yang ditemukan dan dikoleksikan maka akan mengalami kerusakan,misalnya pengerutan atau pembusukan . a. Herbarium Herbarium adalah tumbuhan yang dikeringkan dan direkatkan pada kertasmanila, diberi nama dan keterangan secara lengkap, atau dapat pula diartikan sebagailembaga atau tempat menyimpan herbarium spesimen. Pada awalnya herbariummerupakan tempat menyimpan tanaman atau tumbuhan yang memiliki khasiat obat.Herbarium berfungsi sebagai: 1.Tempat koleksi tumbuhan 2.Tempat pemeliharaan fosil tumbuhan 3.Tempat aktivitas ilmuan sistematika 4.Tempat penelitian sistematika tumbuhan. 5.Pemeliharaan data vegetasi , 6.Tempat sarana membelajaran botani phansrogamae. 7.Bahan identifikasi dan determinasi. 8.Bukti kekayaan tumbuhan dari suatu daerah. 9.Bahan tukar menukar kekayaan alam tumbuhan dari berbagai daerah. Untuk membuat suatu herbarium sederhana diperlukan beberapa peralatan yang terdiridari: 1. Cangkul atau sekop. 2. Gunting tanaman kecil. 3. Pisau saku atau pisau silet. 4. Sabit panjang. 5. Vasculum/tromol/kantong plastik ukuran 55 cm x 80 cm. 6. Sasag untuk mengepres ukuran 55 cm x 40 cm.7. Binokuler lapangan. 8. Kertas koran. 9. Pita meteran. 10.Altimeter. 11. Label, note book, pinsil, kertas koleksi, dan lem. 12. Kamera (tustel). 13. Bahan pengawet (sublimat, alkohol, formalin). b. Insektarium Salah satu cara yang baik untuk mempelajari serangga diantaranya ialah pergike

lapangan dan kemudian kita mengadakan koleksi terhadap serangga-seranggatersebut. Akan tetapi mempelajari serangga tidak mungkin dilakukan di lapangan setiap jam pelajaran. Hal ini disebabkan karena terbatasnya waktu jam pelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengadakan koleksi terhadapserangga tersebut dan selanjutnya mengawetkannya. Mempelajari serangga dengan menggunakan koleksi serangga yang telahdiawetakan akan lebih menarik dibandingkan dengan hanya mempelajari serangga dari buku saja maupun mengamati gambar serangga yang ada pada buku.Tanpa diawetkan serangga-serangga tersebut mungkin hanya dapat dipakai satukali praktikum tetapi jika diawetkan dapat dipergunakan selama mungkin. Denganmengawetkan serangga yang telah dikoleksi kita tidak perlu sering mengadakan koleksiyang mungkin akan mengganggu keseimbangan alam. b.1.Alat dan Bahan yang diperlukan: 1.Jala serangga (insect net) 2.Botol pembunuh serangga (Insect killing jar). 3.Tromol. 4.Kantong plastik. 5.Amplop atau kertas yang dapat dibuat amplop. 6.Perentang serangga (Spreading board). 7.Pinset. 8.Kotak serangga. 9.Jarum serangga. 10.Kartu label. 11.Kapurbarus/silikagel. Untuk lebih jelasnya dikenalkan satu-persatu mengenai alat serta bahan yang dipergunakan untuk koleksi dan pengawetan serangga tersebut sebagai berikut. Jala serangga Bahan yang digunakan untuk membuat j ala serangga.a.kain kelambu b.kain katunc.bangkai dari kawatd.tangkai kayue.tali pengikat atau pipa besi Botol pembunuh serangga Botol ini berupa botol yang bermulut datar dan mempunyai tutupyang rapat. Ukuran botol tersebuit bermacam-macam ada yang kecil ada juga yang besar. Pada bagian dasar botol berisi zat pembunuh seranggamisalnya Calcium Cyanida (CaCn). Di atas Calcium Cyanida terdapatlapisan katun dan kapas yang dilapisi dengan cardboard. Tromol Tromol berupa kotak yang terbuat dari logam yang mempunyaitutup dan mempunyai tali yang dapat disandang. Kantong plastik Kantong plastik berupa plastik yang transparan dengan bermacam-macam ukuran diantaranya 5x10 cm2, 10 x 10 cm2, dan sebagainya. Amplop

Amplop terbuat dari kertas HVS ataii kertas stensil ukuran folio.Kertas tersebut dilipat sedemikian rupa sehingga menjadi amplop tempatmenyimpan serangga sementara. Pinset Pinset diperlukan untuk mengambil serangga kecil atau larvaserangga. Perentang serangga Perentang serangga bahannya terbuat dari kayu dan mempunyaiukuran panjang 30 cm dan lebar 10 cm. Bentuknya seperti tampak padagambar. Kotak serangga Kotak serangga merupakan kotak untuk menyimpan seranggayang telah diawetkan. Kotak serangga dapat terbuat dari bahan kayu ataukarton tebal yang mempunyai tutup yang terbuat dari kaca. Tutup tersebutdapat dibuka.Cara membuat tutup dapat dibuat langsung dari kaca yang bisadigeser seperti tampak pada gambar atau tutup kotak tersebut berupa bingkai yang memakai kaca dan dapat dibuka dengan engsel.Ukuran kotak dapat dibuat bermacammacam tergantung darikebutuhan, misalnya panjang 60 cm dan lebar 40 cm, tinggi atau tebalkotak antara 6-7 cm. Pada bagian dasar dari kotak dilapisi dengan bagianyang lunak supaya mudah ditusuk oleh jarum serangga, misalnya terbuatdari lempengan gabus atau lembaran busa. Jarum serangga Jarum serangga bentuknya seperti jarum pentul tapi lebih panjangdari jarum pentul. Kertas label Kertas label terbuat dari karton manila yang berwarna putihdengan bentuk empat persegi, panjang ukurannya tidak lebih dari 6x8mm2. Kapur barus Kapur barus yang dipergunakan ialah kapur barus yang biasadigunakan sehari-hari. Kapur barus disimpan dalam kotak serangga yang berisi serangga yang telah diawetkan dan dibungkus dengan kain kasa danditempelkan pada dasar kotak dengan bantuan jarum pentul atau paku payung. b.2. Cara Menangkap Serangga Untuk menangkap serangga digunakan jala serangga. Jala serangga padaumumnya digunakan untuk menangkap serangga yang dapat terbang. Untuk menangkap seranggaserangga kecil yang hidup pada rumput-rumputan atau padasemak, yaitu dengan cara mengibas-ngibaskan jala serangga beberapa kali padarumput atau semak tersebut.Jala serangga dapat juga diguankan untuk menangkap serangga sedangterbang. Apabila serangga tersebut telah masuk ke dalam jala maka jala tersebutsegera dilnatkan agar serangga tidak lepas kembali (lihat gambar). Untuk mengambil serangga yang telah masuk ke dalam jaring dapat dilakukan dengancara memasukkan botol pembunuh serangga ke dalam jaring. Selanjutnya tutup botol dibuka dan setelah serangga masuk ke dalam botol segera ditutup d anganrapat. Mengambil serangga di dalam jala serangga dengan menggunakan botol pembunuh serangga dapat menghindari kerusakan serangga. Karena apabiladengan tangan atau pinset serangga tersebut akan menggelepar, kemudian bagiantubuh serangga, misalnya sayap akan robek. Juga pengambilan serangga dengancara tersebut dapat menghindari sengatan apabila

serangga tersebut mempunyaisengat. Setelah serangga dalam botol tersebut mati, maka untuk serangga kecilatau serangga yang bersayap dimasukkau ke dalam kantong plastik. Sedangkanuntuk serangga besar terutama kupn-kupu dimasukkan ke dalam amplop yangtelah disediakan terlebih dahulu. Kantong plastik dan amplop yang berisiserangga selanjutnya dimasukkan ke dalam tromol. b.3. Cara Merentang Serangga Sebelum serangga itu dikoleksi dalam kotak serangga terlebih dahuluserangga tersebut hams direntang pada papan perentang serangga. Pada waktumerentang harus diusahakan semua bagian serangga harus mudah dilihat danmudah untuk dipelajari. Serangga yang direntang harus masih utuh, artinyasemua bagian serangga tidak ada yang hilang atau rusak.Serangga yang akan direntang bagianthoraknya(dada) ditusuk dengan jarum serangga. Cara menusuk serangga tergantungpada jenis serangganya.Selanjutnya bagioan tubuh serangga diletakkan pada bagian tengali atau bagianyang melekuik dari perentang serangga. Punggung (bagian dorsal) seranggamenghadap ke atas dan serangga diletakkan ke arah memanjang dari perentangserangga. Kemudian letak sayap diatur. Supaya letak sayap tetap maka harusditutup dengan kertas dan dikuatkan dengan jarum serangga. Setelah direntangserangga tersebut dibiarkan untuk beberapa hari sampai serangga tersebut kering.Selama pengeringan dalam perentang serangga tidak perlu diberi bahan pengawet karena tubuh serangga mempunyai rangTa luar yaqng terbuat dari bahan kitin. Selama pengeringan harus diusahakan disimpan di tempat yang bebas semut. Lama pengeringan dalam perentang tergantung dari besar kecihiyaserangga dan juga tergantung dari kelembaban dan temperature udara:Untuk mengetahui apakah serangga tersebut sudah kering dapat dilakukandengan cara menyentuh abdomen serangga tersebut dengan menggunakan jarumjarum secara berhati-hati.Apabila abdomen tersebut dapat bergerak terhadap sayap maka seranggatersebut belum kering betul. b.4.Cara Penusukan Serangga Serangga yang telah dikeringkan diletakkan dalam kotak serangga dengan bantuan jarum serangga yaitu dengan cara menusuk serangga tersebut dengan jarum serangga. Serangga ditusuk pada bagian tubuhnya secara vertikal. Bagiantubuh serangga yang ditusuk tergantung dari jenis serangganya. Serangga yang berbentuk kupu-kupu, labah, kumbang kayu, dan lalat, penusukan dilakukan padathorax di antara dasar sayap depan. Untuk kumbang kayu dan lalat, tusukan agak mengarah ke sebelah kanan. Penusukan pada kepik kayu yaitu pada bagian kananscutellum. Pada Belalang penusukan di bagian belakang pronotum arah sebelahkanan. Pada serangga yang bersayap perisai penusukan dilakukan pada elytron sebelah kanan.A. Kupu-kupuB. LalatC. Kepik D. BelalangE. Serangga bersayap perisai b.5. Cara Memberi Label Nilai ilmiah dari spesimen serangga tergantung dari data lokasi, tanggaldan kolektor

yang tertulis pada label. Label ditusukan dengan jarum serangga dandiletakkan paralel dengan serangga. Tinggi label pada jarum harus sama yaitusekitar 1,5 cm. Tulisan pada label harus dapat dibaca dari sebelah kananserangga. b.6.Cara Menyusun Koleksi Serangga Specimen serangga yang telah ditusuk dengan jarum serangga dan diberilabel disusun dalam kotak serangga. Serangga dapat disusun menurut Ordo danFamilinya. Untuk keperluan tersebut diperlukan label Ordo dan label Famili.Label Ordo berisi nama Ordo dan nama daerahnya demikian juga label famili berisi nama famili dan nama daerahnya. Label Ordo diletakkan pada jarumterpisah demikian juga label Famili.Untuk koleksi yang disusun dalam musium selain diberi label Ordo danfamili juga diberi label Genus, Species, Author dan tanggal. Label ini berukuran1,25 cm x 3 cm dan diletakkan pada bagian bawah yang berisi lokasi, tanggal dankolektor. b.7. Pengawetan Serangga dalam Cairan Penganiet Pengawetan serangga selain cara kering dapat juga dengan caramenggunakan cairan pengawet. Pengawetan dengan cara ini dapat dilakukansecara sementara sebelum serangga tersebut ditusuk atau atau juga dilakukansecara permanen. Para kolektor banyak yang mengawetkan serangga dalamcairan pengawet karena hal ini mempunyai kemudahan dalam determinasidibandingkan dengan serangga yang ditusuk. Serangga yang biasa diawetkandalam larutan pengawet terutama serangga dalam stadium larva atau nirnfa,serangga yang mempunyai tubuh lunak dan serangga kecil yang apabila ditusuk akan rusak. b.7.a.Bahan Cairan yang digunakan untuk mengawetkan serangga dan larva ialahetil alkohol 70% s.d 75%. Cairan yang digunakan untuk membunuhserangga dan larva ialah etil alkohol 95%. b.7.b.Cara mengawetkan Serangga atau larva dimasukkan dalam etjl alkohol 95% selama 24 jam. Selanjutnya serangga tersebut diawetkan dalam botol yang berisi etilalkohol 70% s.d 75% dan tutup dengan rapat.Etil alkohol cocok digunakan sebagai pengawet larva tetapi biasanyatidak cocok digunakan untuk membunuh larva. Cara membunuh yangtidak cocok dapat mengakibatkan larva tersebut kehilangan warna,menggelembung atau bentuknya berubah. b.7c. Cara membunuh larva

.Dengan cara kimiawi Dengan cara ini dilakukan derngan menggunakan larutan seperticampuran XA:

Xilene ......................1 bagian Etil alkohol 95% ..............1 bagian

Dengan cara pemanasan Cara ini dilakukan dengan memasukkan larva ke dalam air panas yangdibiarkan airnya sampai dingin dan diawetkan dalam etil alkohol 75%.

DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.satwaunik.com/informasi-umum/cara-ngawetin-kurakura/ 2. http://indoturtle.multiply.com/journal/item/41/Pengawetan_Kura?&show_interstitia 3. 4. 5. 6.
l=1&u=%2Fjournal%2Fitem http://www.jogjatrip.com/id/199/museum-biologi-ugm. http://gudeg.net/id/directory/12/1445/Museum-Biologi.html http://www.scribd.com/sam4ni1/d/47806565-PENGAWETAN-HEWAN-DANTUMBUHAN http://vhanhea.blogspot.com/2012/03/v-behaviorurldefaultvmlo_20.html

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Masalah penelitian C. Alasan Pemilihan Judul D. Metode Penelitian BAB II KAJIAN TEORITIS A. Pengawetan Hewan Secara Umum B. Museum Biologi UGM Yogyakarta BAB III PEMBAHASAN A. Manfaat Hewan Awetan di Museum Biologi UGM Yogyakarta. B. Proses Pengawetan Hewan di Museum Biologi UGM Yogyakarta. BAB IV SIMPULAN dan SARAN A. Simpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA