Anda di halaman 1dari 12

PELACURAN ANAK REMAJA DAN AKIBATNYA BAGI MEREKA

Pelacuran: Pengertian Umum Pelacuran realitanya adalah praktik hubungan seksual sesaat, yang dilakukan dengan siapa saja kepada siapa saja [dewasa (perempuan atau pun laki-laki) dengan anak remaja (perempuan atau pun laki-laki), dewasa (perempuan atau pun laki-laki) dengan dewasa (perempuan atau pun laki-laki), anak remaja (perempuan atau pun laki-laki) dengan anak remaja (perempuan atau pun laki-laki)], untuk imbalan materi. Tiga unsur utama dalam praktek pelacuran (dari dimensi ekonomi) adalah: pembayaran, promiskuitas dan ketidakacuhan emosional (Truong, 1992: 15). Secara lebih rinci Purnomo dan Siregar (1984: 11) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan prostitusi, pelacuran atau persundalan adalah peristiwa penyerahan tubuh oleh perempuan yang dilakukan diluar pernikahan kepada banyak lelaki (baik itu secara bersamaan di satu waktu atau pun berganti-gantian dilain waktu), guna disetubuhi untuk memuaskan nafsu seks mereka dengan imbalan pembayaran uang atau pun bentuk-bentuk materi lainnya. Adapun yang dimaksud dengan pelacur (secara umum) atau wanita tunasusila, wanita penjaja seks, kupu-kupu malam, balon, sundal, lonte, cabo adalah perempuan yang menjual diri kepada siapa saja (umumnya laki-laki, akan tetapi banyak juga terjadi wanita yang menjual diri kepada wanita) yang membutuhkan pemuasan nafsu seksual. Gognon (1968), misalnya memandang pelacuran sebagai pemberian akses seksual pada basis yang tidak diskriminatif untuk memperoleh imbalan, baik berupa barang atau uang dan tergantung pada kompleksitas ekonomi lokal. Sementara itu, WA Bonger menyatakan prostitusi adalah gejala kemasyarakatan, dimana perempuan melakukan perbuatan seksual sebagai mata pencaharian (Hull, 1997). Noeleen Heyzer (1986: 58-59), membedakan tiga macam tipe pelacur menurut hubungannya dengan pihak pengelola bisnis seks atau pelacuran. Pertama, pelacur yang bekerja sendiri tanpa calo dan mucikari/germo atau majikan. Umumnya tipe pelacur ini beroperasi (mangkal) di pinggir jalan atau masuk dari satu bar (diskotik) ke bar (diskotik) yang lain. Kedua, pelacur yang memiliki satu atau beberapa calo dan mucikari/germo/majikan yang terikat secara hierarkis. Hubungan hierarkis antara pelacur dengan calo dan mucikari/germo/majikan, mengakibatkan pelacur wajib menyerahkan sebagian uang (nominalnya tergantung pada keputusan calo dan mucikari/germo/majikan atau harga yang berlaku di pasar) yang dibayarkan oleh klien/pelanggan nya kepada si calo dan mucikari/germo/majikan. Ketiga, pelacur dibawah naungan sebuah lembaga bisnis, organisasi bisnis atau badan hukum mapan yang berorientasi bisnis, contohnya: panti pijat, tempat spa dan

therapy, tempat karaoke dan hotel atau losmen (Saptari dan Holzner, 1997: 391392) Pelacur yang melayani pemuasan hasrat seksual di kompleks lokalisasi, biasanya di bawah koordinasi dan naungan seorang germo/mucikari/majikan. Adapun yang dimaksud dengan germo atau mucikari/majikan, yaitu: orang (lakilaki atau perempuan) yang mata pencahariannya (sambilan ataupun sepenuhnya) membuka, menyediakan, mengadakan, membiayai, turut serta mengadakan, menyewakan, memimpin, mengelola, atau sekedar mengatur tempat pratik pelacuran (bisnis seks). Dari perkerjaan tersebut, germo atau mucikari mendapat bagian dari uang yang diperoleh oleh anak-anak asuhnya (usia dewasa atau pun anak remaja) tadi (Purnomo&Siregar, 1984:11). Tempat praktik pelacuran/bisnis seks (baik yang terang-terangan atau pun terselubung) yakni tempat atau usaha yang mempertemukan atau memungkinkan bertemunya perempuan (dewasa atau pun anak remaja) dengan pengguna atau pelanggan untuk terjadinya suatu transaksi pemuasan hasrat seksual antara perempuan (dewasa atau pun anak remaja) dengan pengguna atau pelanggan. Pemuasan hasrat seksual tersebut dapat dilakukan langsung ditempat ataupun ditempat lain dengan sepengetahuan dan persetujuan dari mucikari atau germo. Umumnya para pelacur berasal dari daerah pedesaan. Dengan alasan-alasan yang bervariasi, terbujuk dalam lembah hitam bagi mata orang baik-baik. Berada dibawah kekuasan germo atau mucikari, pelacur tak lebih sebagai komoditas atau ibarat perempuan dalam pasungan. Pasungan disini, dimana perempuanperempuan tersebut diikat tumpukan utang yang sengaja disodorkan germo atau mucikari guna membelenggu mereka agar tidak menghilang atau kabur. Sebab, kalau hal tersebut sampai terjadi merupakan kerugian ekonomis bagi germo atau mucikari, lebih-lebih apabila pelacur tersebut merupakan primadona atau kembang yang laris (Purnomo dan Siregar, 1984: 12-13) Studi yang dilakukan Purnomo dan Siregar (1984) menemukan bahwa alasan perempuan menjadi pelacur, sebagian besar adalah karena faktor ekonomi. Selain diyakini menjadi pelacur cepat menghasilkan uang (39,6%), juga menjadi pilihan menarik bagi perempuan-perempuan yang tidak memiliki keterampilan atau keahlian dan dengan tingkat pendidikan rendah. Menjadi pelacur di bisnis seks, kerapkali lebih menarik bagi kaum perempuan migrant (masyarakat urban di perkotaan), karena uang yang diperoleh dapat mencapai lima sampai sepuluh kali lipat dibanding gaji sebagai pembantu rumah tangga (Hull dkk., 1997: 19) Memang, apabila pelacuran dipandang semata-mata sebagai pekerjaan/mata pencaharian atau sekedar hanya dikaji dengan dimensi ekonomi saja, maka hasil penelitian-penelitian yang telah dilakukan selama ini sudah cukup memadai dan bahkan telah banyak menghasilkan suatu kesimpulan yang melahirkan suatu solusi atau penyelesaian. Akan tetapi untuk memahami dengan baik, di balik maraknya bisnis seks atau pelacuran (khususnya pelacuran anak remaja), tak pelak dibutuhkan definisi, pengertian dan kajian lebih mendalam lewat dimensi-dimensi keilmuan lainnya, salah satunya adalah sudut pandang sosiologi. Secara sosiologi, pengertian pelacuran sesungguhnya tidaklah sesederhana definisi-definisi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yang semata-mata hanya menekankan tiga unsur: pembayaran, promiskuitas dan ketidakacuhan emosional. Rowbothan (1973),

menyatakan di luar muatan ekonomi yang ada, pelacuran sesungguhnya adalah ekspresi dari hegemoni cultural kaum pria atas kaum perempuan (Truong, 1992: 7). Pelacuran dalam banyak hal juga dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial-budaya yang terjalin erat satu dengan yang lain, seperti: kemiskinan, kebiasaan kawin usia muda, kebiasaan cerai usia muda dan status sosial perempuan yang relatif rendah, merupakan faktor pendorong kenapa perempuan melacurkan diri (Sedyaningsih-Mamahit, 1999: 69) Studi yang dilakukan Truong (1992) memperlihatkan dengan jelas bahwa terjerumusnya perempuan-perempuan ke dalam praktik-praktik pelacuran tidaklah semata-mata hanya karena dorongan faktor kemiskinan dan kerentanan ekonomi. Banyak kasus menunjukkan, bahwa kaum perempuan kerapkali terpaksa dan dipaksa masuk ke dalam lingkaran prostitusi (bisnis seks) oleh kaum pria maupun oleh kaum perempuan sendiri, dengan menggunakan bermacam modus, dari mulai sekedar janji-janji muluk pekerjaan, perkawinan atau perbudakan berselubung cinta palsu, rayuan atau gombalan cinta palsu, loyalitas terhadap germo atau mucikari, sampai ke penculikan fisik dan penyekapan (Truong, 1992: 18). Disamping faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya, faktor perceraian di usia muda juga pendorong para perempuanperempuan muda terjerumus ke dalam lingkaran bisnis prostitusi atau seks (Hull dkk., 1997: 19) Saptari (1997: 392) menyebutkan paling tidak ada tiga faktor yang mendorong seseorang menjadi pelacur atau masuk lingkaran bisnis seks. Pertama, karena keadaan ekonomi atau kondisi kemiskinan rumah tangga. Kedua, karena pandangan tentang seksualitas yang menekankan arti penting keperawanan sehingga tidak memberi kesempatan bagi perempuan yang sudah tidak perawan, kecuali hanya masuk ke dalam peran yang diciptakan untuk mereka, sebagai pelacur, wanita simpanan atau wanita malam. Ketiga, karena paksaan dan kekerasan. Di Thailand misalnya, disana orang tua-orang tua yang miskin kerap kali mengirimkan paksa anak-anak remajanya ke calo-calo tenaga kerja yang kemudian memasukkan anak-anak remaja tersebut ke tempat-tempat hiburan malam sebagai pemuas nafsu seks. Oleh para calo tenaga kerja tadi, uang-uang yang didapatkan oleh anak-anak remaja tersebut, dibayarkan langsung kepada orang tua mereka yang tidak mengetahui pekerjaan apa yang sebenarnya dilakukan oleh anak-anak mereka. Anak Yang Dilacurkan: Faktor Penyebab Sudut pandang dimensi sosiologis menggunakan istilah anak-anak remaja yang dilacurkan, bukan pelacur anak remaja. Penggunaan istilah tersebut dikarenakan anak-anak remaja menjadi pekerja seks komersial (PSK) bukan atas dasar kesukarelaan dan kesadaran penuh, melainkan karena penipuan, tipu daya, bujuk rayu, hasutan, iming-iming, pemaksaan, penculikan, penyekapan dan bahkan penganiayaan (dimana mereka tidak mengerti dampak, akibat dan resiko yang nantinya akan mereka alami). Hal ini berbeda dengan faktor penyebab perempuan dewasa menjadi pelacur, dimana sebagian besar dikarenakan keinginan meraih penghasilan dalam jumlah besar dengan jalan pintas.

Sebagian peneliti memang mensinyalir bahwa kemiskinan adalah sumber utama yang juga mendorong anak-anak remaja (khususnya perempuan atau gadis belia) melacurkan diri. Akan tetapi, kalau mau objektif penyebab anak-anak remaja lari dari rumah hingga terjerumus di dunia pelacuran (bisnis seks), sesungguhnya bukan sekedar karena belenggu kemiskinan semata, tetapi disebabkan faktor lain seperti kurangnya komunikasi dan perhatian orang tua, budaya konsumtif, gaya hidup hedonis, beberapa kepercayaan tradisional, serta berbagai bentuk lain eksploitasi anak (Jones et al., 1994; O Grady, 1994 dan Muntarbhorn, 1996). Yuliati Umroh (2001), menyatakan bahwa anak-anak remaja perempuan (gadis belia) terpaksa bekerja sebagai pelacur atau masuk dalam bisnis seks, disebabkan beberapa hal. Pertama: anak-anak remaja perempuan (gadis belia) tersebut merupakan korban tindak kekerasan dalam keluarga atau korban ketidakharmonisan di dalam keluarga, yang menyebabkan mereka lari dari rumah. Kedua: anak-anak remaja perempuan (gadis belia) tersebut adalah korban dari kemiskinan. Ketiga: anak-anak remaja perempuan (gadis belia) tersebut terdorong (atas dasar kesadaran semu) untuk mengikuti perkembangan mode atau gaya hidup (life style) yang sedang trend. Ketiga: dikarenakan dorongan untuk memenuhi kecanduan terhadap narkotika dan obat-obatan terlarang. Selain itu meningkatnya perdagangan anak-anak remaja perempuan (gadis belia) untuk dilacurkan atau dipekerjakan dalam bisnis seks (terangterangan atau pun berkedok tempat hiburan malam), dikarenakan semakin tingginya permintaan (demand) dari lelaki iseng atau hidung belang akan keperawanan anak-anak remaja perempuan (gadis belia). Apa alasan yang menyebabkan banyak lelaki iseng (hidung belang) yang menginginkan keperawanan para anak-anak remaja perempuan (gadis belia), sehingga tidak berkeberatan membayar berapa pun untuk itu? Kenapa pula banyak lelaki sengaja mencari anak-anak remaja perempuan (gadis belia) untuk melampiaskan nafsu seksnya (diluar pernikahan), sementara di rumah menanti istri yang cantik dan anak-anak yang sayang kepada dirinya atau pacar yang cantik? Jawaban atas pertanyaan diatas umumnya dilatarbelakangi adanya kepercayaan bahwa keperawanan bisa membuat orang awet muda, makin jantan dan membawa peruntungan bagi bisnis maupun karir (Maria Hartingsih, Kompas, 10 Juli 1997). Sebagian lagi dilatarbelakangi adanya persepsi, bahwa melakukan hubungan seksual dengan anak-anak remaja perempuan (gadis belia) lebih aman dari penularan berbagai jenis infeksi menular seksual (salah satunya HIV). Persepsi tersebut muncul karena anak-anak remaja perempuan (gadis belia) dianggap masih bersih. Hanya saja persepsi tersebut sangatlah naf tanpa argumentasi yang logis. Dibuktikan dengan ditemukannya tiga anak remaja perempuan (dari total populasi survey) dengan usia antara 13 s.d 15 tahun dan terinfeksi HIV. Temuan tersebut, merupakan hasil survey yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010. Di Negara lain, seperti Thailand, Singapura, Malaysia dan Philipina, meningkatnya jumlah kasus pelacuran anak remaja perempuan (gadis belia), erat kaitannya dengan permintaan akan seks komersial yang lebih aman dikarenakan makin meluasnya penyebaran HIV (OGrady, 1994). Di Indonesia, data resmi penderita HIV/AIDS sampai dengan Juni 2011, tercatat ada sekitar 81.960 penderita (HU. KOMPAS, 5 Desember 2011). Akan tetapi ahli epidemic menyimpulkan, bahwa 3-7% setiap tahunnya penduduk Indonesia yang berusia

13 s.d 30 tahun, dipastikan pernah terinfeksi satu atau pun lebih Infeksi Menular Seksual. Angka tersebut menjadi lebih tinggi (mencapai 39%), pada komunitas-komunitas masyarakat dengan status sosial dan ekonomi rendah khususnya masyarakat urban di perkotaan dan masyarakat yang tinggal berdekatan dengan tempat bisnis hiburan malam (khususnya bisnis seks yang berkedok bisnis hiburan malam). Secara lebih terinci, Koentjoro (1998), menyebutkan paling tidak ada enam faktor eksternal yang menyebabkan kenapa anak-anak remaja perempuan (gadis belia) terjerumus dalam bisnis seks/pelacuran. Pertama, karena bergesernya konsep reproduksi menjadi konsep rekreasi dalam sexual intercouse (hubungan seksual), yang menyebabkan anak-anak remaja perempuan (gadis belia) menjadi pemuas nafsu seksual orang dewasa. Kedua, adanya kepercayaan bahwa berhubungan seks dengan anak-anak remaja perempuan (gadis belia) dapat membuat awet muda, makin jantan dan mendatangkan hokkie (rejeki). Ketiga, dibeberapa daerah di Indonesia, anak-anak remaja perempuan (gadis belia) dianggap laksana sawah, dhuwit gedhe alias aseyt oleh orang tua mereka yang dapat diperdagangkan atau dikawinkontrakan. Keempat, budaya paternalistik dan egoisme laki-laki yang menuntut pemuasan seks menyimpang, karena melampiaskan nafsu seks kepada anak-anak remaja (pedofilia) masuk dalam kategori penyimpangan seksual. Kelima, dikarenakan kemiskinan struktural. Contohnya dapat dijumpai pada kasus tunawisma (gelandangan) yang melahirkan anak perempuan, dimana anak tersebut diusia anak remaja menjadi pelacur. Keenam, pelacuran anak remaja perempuan muncul sebagai proses pembelajaran. Kasus ini dapat dijumpai pada anak remaja perempuan yang menjadi pelacur karena orang tuanya pelacur pula. Apakah para lelaki iseng (hidung belang), selalu gemar memilih pelacur anak remaja (baik anak remaja perempuan maupun anak remaja lakilaki)? Ternyata tidak selalu! Ternyata para lelaki iseng (hidung belang) yang mencari dan berhubungan seks dengan pelacur usia anak remaja, biasanya pemula. Bagi lelaki iseng alias hidung belang (gadun atau sega) dengan jam terbang tinggi alias berpengalaman menggunakan jasa seksual komersial, pelacur usia anak remaja kurang diminati. Lelaki iseng alias hidung belang (gadun atau sega), mencari pelacur usia anak remaja, jika mereka adalah wajah baru dan masih perawan (untuk pelacur remaja perempuan) Para lelaki iseng alias hidung belang (gadun atau sega), lebih mencari pelacur dewasa karena pelacur-pelacur dewasa lebih sabar dan telaten dalam memberikan layanan seksual. Alasan lain yang menyebabkan lelaki iseng (hidung belang) yang berpengalaman kurang menyukai pelacur usia anak remaja, dikarenakan pelacur-pelacur anak remaja terlalu sering di booking, terlalu sering menjadi sisa orang lain dan karena itu cepat terinfeksi lebih dari satu jenis Infeksi Menular Seksual. Sementara bagi germo atau mucikari, pelacur usia anak remaja (gadis belia) merupakan aset berharga yang mendatangkan uang. Hal ini berlaku juga bagi pemilik tempat usaha (bisnis) hiburan malam. Semakin banyak pemandu lagu

(PL) plus-plus, therapist plus-plus, ladies escort plus-plus dan ladies companion plus-plus yang berusia dibawah 18 tahun sekaligus cantik, maka akan semakin banyak tamu-tamu dan pelanggan yang datang. Ada beberapa point lebih yang dimiliki pelacur/pemberi layanan seks usia anak remaja, diantaranya: Pertama, pelacur/pemberi layanan seks usia anak remaja lebih disukai dan di booking para tamu, terlebih jika memuaskan dalam memberikan layanan seks. Kedua, pelacur/pemberi layanan seks usia anak remaja punya jangka waktu lebih lama dipekerjakan sampai maksimal usia 30 tahun. Semakin muda usia mereka (15 s.d 17 tahun), maka semakin lebih lama jangka waktu mereka dipekerjakan, serta semakin lama waktu bagi germo atau mucikari tersebut memiliki mereka. Ketiga, keberadaan pelacur/pemberi layanan seks usia anak remaja, mengundang lebih banyak tamu (lewat promosi dari mulut ke mulut yang dilakukan oleh tamu-tamu itu sendiri), sehingga tempat bisnis prostitusi (baik yang terang-terangan atau pun sembunyi-sembunyi) mereka terangkat citranya. Di beberapa lingkungan sosial masyarakat yang ada di Indonesia, pelacur dianggap seperti layaknya profesi biasa lain yang jauh dari konotasi memalukan apalagi immoral. Di beberapa desa di Kabupaten Pati atau Kabupaten Indramayu, pelacur bahkan dilihat sebagai pekerjaan biasa. Banyak ibu-ibu atau anak-anak remaja perempuan (gadis belia) di Kabupaten Indramayu, tanpa canggung mengaku terus terang menjadi pelacur atau mendapatkan penghasilan dari hasil melacur. Sementara kaum perempuan di beberapa desa di Kabupaten Pati yang menjadi pelacur, tidak mengalami stigmatisasi dan pengucilan sosial dari lingkungan sekitarnya, bahkan mereka diperlakukan sebagai pahlawan bagi keluarganya. Perlakuan tesebut didasari karena mereka mampu mengirimkan uang dalam jumlah yang sangat besar - terlebih untuk ukuran desa (Irwanto dkk., 1998) Akibatnya Bagi Pelacur Anak-anak Remaja (Anak Remaja Yang Dilacurkan) Pelacuran anak-anak remaja, khususnya ana-anak perempuan (gadis belia), tidak bisa diterima atau ditolerir dengan alasan apapun. Hal tersebut sesuai dengan amanat dalam Konvensi ILO No. 182 yang telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 8 Maret 2000, bahwa pelacuran anak-anak remaja adalah salah satu pekerjaan yang sama sekali tidak dapat ditoleransi dan karenanya harus dihapuskan dari bumi Indonesia. Selain itu dalam Protokol Tambahan atas Konvensi PBB mengenai Menentang Tindak Kejahatan Terorganisasi Transnasional (The Supplemental Protocol to the Convention Against Transnational Organized Crime), menyatakan: bahwa siapa saja yang berusia dibawah 18 tahun dan bekerja sebagai pelacur atau bisnis seks (langsung maupun tidak langsung), maka mereka dianggap sebagai korban perdagangan manusia (human trafficking) Pelacuran anak-anak remaja adalah masalah kemanusiaan yang membutuhkan perhatian dan penanganan serius, karena dampaknya sangat merugikan dan membahayakan kelangsungan masa depan anak-anak remaja yang menjadi korban. Anak-anak remaja yang terjerumus dalam pelacuran atau pun bisnis seks, tidak dapat terpenuhi hak dasar mereka untuk berkembang secara sehat, baik rohani, jasmani dan pemikiran mereka. Paling tidak ada dua akibat yang menimpa anak-anak remaja yang dilacurkan atau yang larut dalam pekerjaan

di bisnis seks yang berkedok bisnis hiburan malam. Pertama, anak-anak remaja secara psikologis belum memiliki kematangan seksual layaknya orang dewasa. Mereka tidak mengetahui resiko dari hubungan seksual bebas (berganti-ganti pasangan) yang mengakibatkan tertular satu atau pun lebih infeksi menular seksual dan mengalami kehamilan dini - tak diinginkan. Sering terjadi, anak-anak remaja perempuan yang mengalami kehamilan yang tak diinginkan, melakukan abortus secara illegal dan jauh dari syarat-syarat kelayakan medis (unsave abortus) yang mengakibatkan kematian atau pun rusaknya dinding rahim mereka. Belum matangnya seksualitas anak-anak remaja secara psikologis, dikarenakan oleh: Pertama, terbatasnya akses mereka terhadap informasi-informasi tentang reproduksi sehat, Kedua, pandangan masyarakat yang masih menganggap pendidikan seks dan gender di usia dini adalah hal yang tidak sesuai dengan moral, agama dan adat. Sehingga anak-anak remaja begitu gampang melakukan hubungan seksual bebas (diluar pernikahan) Sewajibnya setiap anak-anak remaja perempuan, ditanamkan: Pertama, pemahaman bahwa diri mereka berharga dan karenanya mereka wajib menghargainya (termasuk seluruh organ tubuh yang ada beserta fungsinya), sehingga mereka tidak diperlakukan dengan tidak layak, tidak menjadi korban kekerasan dalam berpacaran dan korban segala bentuk tipu muslihat yang menjerat mereka ke dalam bisnis seks. Kedua, pemahaman bahwasannya setiap kehamilan yang terjadi adalah kehamilan yang diinginkan. Ketiga, pemahaman akan arti penting membentuk citra diri yang positif, sehingga orang lain (khususnya lawan jenis) menghargai diri mereka. Sedangkan bagi anak-anak remaja laki-laki, nilai-nilai yang wajib ditanamkan adalah: untuk menjadi seorang pria, bukan hanya karena kekuatan dan keperkasaan seksual, akan tetapi seorang laki-laki menjadi pria, saat dimana dia mampu melindungi lawan jenis atau pun orang yang lemah. Kurikulum dan muatan dari mata pelajaran - mata pelajaran yang ada dijenjang pendidikan dasar dan menengah saat ini, belum mampu membangun karakteristik anak-anak remaja yang memiliki rasa tanggung jawab dan mau bertanggung jawab atas segala tindak-tanduk dan perbuatan mereka, khususnya dalam pergaulan seksual. Kedua, anak-anak remaja perempuan (gadis belia) yang dilacurkan atau menjadi pelacur di bisnis seks sering kali menanggung beban psikologis berupa stigma dan diskriminasi. Mereka mengalami penolakan dan dikucilkan oleh masyarakat (walaupun mereka kembali ke tengah-tengah masyarakat setelah mereka sadar atas resiko dari apa yang telah mereka lakukan atau pun karena mereka berhasil diselamatkan keluar dari sindikat perdagangan anak-anak remaja perempuan (gadis belia) untuk pelacuran). Penolakan, isolasi dan pengucilan yang mereka alami dari masyarakat, seringkali mendorong mereka untuk kembali ke bisnis seks. Maka dari itu, selayaknya masyarakat sendiri jangan melecehkan, mengisolasi, bahkan menolak anak-anak remaja perempuan korban pelacuran yang kembali, agar mereka tidak kembali ke dalam bisnis seks. Karena sesungguhnya mereka adalah korban. Seharusnya yang dikucilkan dan diberi sanksi pidana berat adalah para calo, para mucikari atau germo, para lelaki iseng atau hidung belang yang menggunakan dan menikmati layanan seks dari anak-anak remaja perempuan tersebut, dan begitu juga dengan pemilik dari tempat usaha atau pengelola bisnis seks (baik yang terang-terangan, maupun yang berkedok tempat-tempat hiburan malam).

Perlu Empati Menyelesaikan dan mencarikan jalan keluar bagi persoalan pelacuran anakanak remaja, khususnya anak remaja perempuan (gadis belia) di Indonesia, butuh keseriusan, totalitas, kerjasama antar lembaga, pelibatan semua elemen masyarakat (termasuk juga para pengusaha atau pemilik tempat-tempat hiburan malam) dan keberanian dari aparat penegak hukum dan birokrasi. Agar agenda aksi dan program yang digagas dapat berfungsi efektif. Permasalahan pelacuran anak-anak remaja, khususnya anak remaja perempuan (gadis belia), ibarat mengurai benang kusut, ada banyak tali temali persoalan-persoalan yang mesti ditangani satu per satu secara sabar dan empati. Berbagai penelitian dengan sudut pandang keilmuan yang berbeda-beda, menemukan bahwa anak-anak remaja perempuan (gadis belia) yang masuk dalam bisnis seks, didorong oleh gabungan berbagai faktor dan kondisi lingkungan, seperti: kondisi perekonomian orang tua yang miskin, rendahnya tingkat pendidikan formal dan informal, kurangnya kesempatan kerja di pasar kerja, ketiadaan modal untuk berwirausaha, bias nilai patriarkhis, korban dari love affair yang gagal, godaan pola hidup konsumtif dan gaya hidup hedonis, korban kurangnya interaksi, komunikasi dan ketidakharmonisan keluarga, korban penculikan, korban pelecehan seksual, korban pemerkosaan dan korban bermacam modus; tipu daya, bujuk rayu. Ini berarti, menangani persoalan anak-anak remaja yang dilacurkan tidak bisa sematamata dianalisa dan dipecahkan hanya melalui pendekatan ekonomi saja, pendekatan moral saja, pendekatan agama saja maupun pendekatan budaya saja. Penutupan dan pembubaran lokalisasi prostitusi yang telah dilakukan oleh beberapa pemerintahan kota maupun kabupaten, ternyata tidak bisamengurangi peningkatan angka anak-anak remaja perempuan yang dilacurkan. Ditutupnya lokalisasi-lokalisasi prostitusi malah mendorong semakin banyaknya berdiri tempattempat prostitusi terselubung dengan kedok tempat-tempat hiburan malam, seperti: karaoke, panti pijat, spa and gym, tempat relaksasi, diskotik dank lab malam Tempat-tempat hiburan malam tersebut memang mengantongi ijin usaha beroperasi secara legal yang dikeluarkan oleh BPPT atau BKPM Kota atau Kabupaten. Setiap tahunnya tempat-tempat hiburan malam tersebut menyetor puluhan milyar kepada Dispenda Kota atau Kabupaten dalam bentuk pajak daerah. Contohnya saja Dispenda Kota Bandung, setiap tahunnya tempat karaoke, panti pijat, spa and gym, atau tempat relaksasi, menyetorkan 1,5% lebih besar dari pendapatan daerah disektor kawasan hiburan malam yang ditargetkan oleh Pemerintah Kota Bandung (HU. KOMPAS, Jumat, 8 April 2011) Sangat disayangkan, karena hanya demi mengajar peningkatan Pendapatan Asli Daerah, birokrasi-birokrasi di pemerintahan kota atau kabupaten, kurang tanggap dan peka dalam melakukan pengawasan terhadap tempat-tempat hiburan malam yang beroperasi di wilayah hukum masing-masing. Acapkali masyarakat mengetahui lebih dulu dibandingkan dengan aparat birokrasi ataupun hukum di suatu Kota atau Kabupaten, akan adanya pratek prostitusi atau pun perdagangan anak remaja untuk dilacurkan yang terjadi disalah satu tempat hiburan malam. Fenomena meningkatnya perdagangan anak remaja untuk bisnis seks, sesungguhnya adalah produk dari mata rantai faktor sosial, ekonomi, budaya dan politik. Sepanjang perhatian pemerintah (baik pusat atau pun daerah) dan

masyarakat masih berkutat pada persoalan-persoalan politik (khususnya politik praktis alias perebutan kekuasaan) dan kondisi atau problem ekonomi makro, dipastikan tidak akan lahir program dan kegiatan nyata yang signifikan dilakukan serta berdampak langsung bagi anak-anak di sektor berbahaya, seperti: bisnis seks, bisnis hiburan malam, pornografi dan lain-lain. Paling tidak ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memgurangi keterlibatan anak-anak remaja perempuan di bisnis seks dan bisnis hiburan malam. Pertama, melakukan counter culture terhadap berbagai pratek budaya yang merugikan anak-anak remaja, seperti: anggapan bahwa anak remaja perempuan tidak harus menempuh pendidikan setinggi-tingginya, mendorong anak remaja perempuan menikah di usia dini, konsumerisme, hedonism dan lain-lain. Counter culture dapat dilakukan melalui pendidikan yang berbasiskan budaya dan adat positif serta moral. Terkait dengan menikahkan anak remaja perempuan di usia dini, ada indikasi bahwa pernikahan dini berpotensi berakhir dengan perceraian yang melahirkan janda-janda anak. Janda-janda anak ini rentan oleh tipu daya dan bujuk rayu dari oknum-oknum jaringan bisnis seks. Selain itu penelitian Irwanto (1999), mensinyalir dibebrapa wilayah di Indonesia, menikahkan atau menikahi anak remaja perempuan di usia dini sebagai salah satu modus perdagangan anak remaja perempuan (gadis belia) untuk bisnis seks. Oleh karena itu selayaknya pemerintah melakukan revisi terhadap Undang-undang Pernikahan (UU No. 1 Tahun 1974), khususnya Pasal 7 ayat 1: Perkawinan hanya diizinkan bila piha pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun, guna menjamin perlindungan terhadap anak-anak remaja perempuan (gadis belia) dari modus perdagangan anak remaja perempuan (gadis belia) dengan menikahkan atau menikahi Kedua, jangan pernah tabu untuk mengenalkan anak remaja mengenai pendidikan seks dan reproduksi sehat (khususnya bagaimana mereka menghargai tubuh dan fungsi dari masing-masing organ reproduksi secara bertanggung jawab). Kurangnya pengetahuan mengenai reproduksi sehat dan pendidikan seks yang utuh, mengakibatkan semakin banyaknya anak-anak remaja perempuan yang melakukan hubungan seks pra nikah kemudian ditinggal pacarnya, lantas sakit hati dan merasa hina. Kondisi tersebut menyebabkan mereka gamapang termakan bujuk rayu dan tipu daya teman mereka atau pun oknum dari jaringan perdagangan anak remaja perempuan untuk bisnis seks Ketiga, mengeliminasi terjadinya pemalsuan usia anak remaja dengan melakukan pengawasan terhadap proses penerbitan Kartu Tanda Penduduk dan Akta Kelahiran. Sewajibnya sebelum diterbitkannya Kartu Tanda Penduduk, individuindividu yang berkepentingan dengan KTP, membawa serta foto kopi Kartu Keluarga dan foto kopi Akta Kelahiran yang bersangkutan Keempat, melakukan pengawasan dan penertiban terhadap tempat-tempat hiburan malam oleh aparat birokrasi dan aparat hukum didaerah, secara berkala, tegas dan disertai kepekaan. Selain itu aparat birokrasi dan hukum di daerah, wajib memperketat prosedur dikeluarkannya ijin usaha bagi tempat-tempat hiburan malam Kelima, penegakan hukum yang tegas juga harus diberikan kepada lelaki iseng (gadun atau sega) yang melampiaskan nafsu seksualnya kepada anak-anak

remaja. Bukan hanya kepada calo, germo atau mucikari (seperti yang selama ini telah dilakukan). Sanksi tegas pun, sewajibnya diberikan kepada tempat-tempat hiburan malam yang ketahuan melakukan prostitusi (baik dewasa atau pun anak remaja), begitu juga dengan pemilik dari tempat hiburan malam tersebut. Keenam, sinkronisasi antara kebijakan dan peraturan-peraturan yang ada, khususnya terkait dengan perlindungan terhadap hak anak. Ketidaksinkronan kebijakan dan peraturan-peraturan yang ada bisa dilihat pada batasan usia, seperti: ketidaksinkronan UU Perlindungan Anak dengan UU Pernikahan, ketidaksinkronan UU Perlindungan Anak dengan KUHP pasal 297, 323, 287, 289, 290, 291 dan 293. Selain itu UU Ketenagakerjaan (UU No. 25 Tahun 1997), pasal 96, tidak menuliskan secara tegas larangan bagi pengusaha untuk mempekerjakan anak remaja di tempat hiburan malam (yang rentan dengan pelecehan seksual dan tipu daya yang menjebak kearah pelacuran)
[Disarikan dari Buku: MASALAH SOSIAL ANAK yang ditulis oleh Bagong Suyanto, terbitan KENCANA PRENADA MEDIA GROUP, Jakarta 2010. Tulisan asli telah mendapatkan tambahan dari pengalaman pensari]

Bagong Suyanto, lahir di Kertosono, 6 September 1966. Saat ini beliau tercatat sebagai dosen di Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlanggan dan Anggota Komisi Penelitian dan Pengembangan Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Timur

DAFTAR RIWAYAT HIDUP (CURRICULUM VITAE)

I.

Informasi Pribadi Muhammad Taufik Rahmat Jakarta Selatan, 1 Agustus 1978 Jorong Induring, Nagari Kapau, Kec. Tilatang Kamang, Kab. Agam, Sumatra Barat Jl. Sulaksana Baru II No. 9, Kelurahan Cicaheum, Kotamadya Bandung Indonesia Islam Penggiat Sosial (social worker) 081559999786 atau 022-92233365 atau 0752-33819 taufik_blank@yahoo.com atau taufik.blank@gmail.com

Nama Tempat/Tanggal Lahir Alamat Rumah Alamat di Bandung Kewarganegaraan Agama Pekerjaan Telepon/Handphone Email II.

Latar Belakang Pendidikan Formal Kota Jakarta Selatan Bukittinggi Bukittinggi Bandung Tahun Masuk 1985 1991 1994 1999 Tahun Ijazah 1991 1994 1997 2003 Spesialisasi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Bisnis Internasional

Sekolah SDN Rawa Barat 07 Pagi, Kebayoran Baru SMPN Kapau, Tilatang Kamang-Agam SMAN I Bukittinggi Diploma III, Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP), Universitas Padjadjaran

A. Pengalaman Kerja Field Officer Wilayah Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Tengah untuk Buku Pendidikan dan Pengenalan Objek-Objek Wisata Anak dari PT. Radani Tunas Bangsa (mitra Nestle). Tahun 2005 2006 Volunter (sukarelawan) Yayasan Bahtera untuk Harm Reduction di Kota Bandung (2006) Analisis Data dan Entry Data untuk program GReAT, (realokasi anggaran di SKPD-SKPD Kota Bandung untuk peningkatan kualitas sector pendidikan ) dari Perhimpunan Sanggar (2006 2007) Surveyor sector kesehatan dalam rangka Inisiasi Jaminan Kesehatan Daerah di Kabupaten Sumedang oleh Perhimpunan Sanggar (2007) Asisten Koordinator Survey CRC Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) pada Dinas Perijinan dan Penanaman Modal Kabupaten Indramayu, dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas layanan public dan pencegahan korupsi di badan public yang dilaksanakan oleh Lembaga Advokasi Kerakyatan (LAK), bekerjasama dengan BAPPENAS dan KEMITRAAN (partnership) Tahun 2008 Panitia Kongres Kaum Muda Jawa Barat pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2008 yang dilaksanakan oleh Yayasan Forum Aktivis Bandung di Dago Tea House, Bandung (2008) Panitia Konvensi Kaum Muda Jawa Barat yang dilaksanakan oleh Yayasan Forum Aktivis Bandung bekerjasama dengan Yayasan TIFA (2009)

Asisten Evaluator untuk program-program Human Right dan Citizenship and Equality tahun 2007 2008 Yayasan TIFA (2009) Administrator and Database untuk Program EXCEED-ESKA (eksploitasi seksual komersil anak) yang dilaksanakan oleh Konfederasi Anti Pemiskinan Indonesia (KAP Indonesia), selama 3 Bulan di Tahun 2010 Asisten Koordinator Survey CRC sector Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah di Kota Bandung dari Lembaga Advokasi Kerakyatan (LAK) dalam rangka peningkatan kualitas layanan public dan pencegahan korupsi di Badan Publik Kota Bandung. Program ini bekerjasama dengan KEMITRAAN dan BAPPENAS Anggota Tim Penyusunan dan Perencanaan Kelembagaan Pengelolaan dan Pengembangan Kawasan Geopark Merangin, Provinsi Jambi dari Badan Geologi Bandung. Periode kerja awal Bulan Juni sampai dengan akhir Bulan Juni 2011