Anda di halaman 1dari 15

Latar Belakang Selama ini kita hanya mengenal Montesquieu sebagai penggagas Trias Politica yakni pemisahan kekuasaan

melalui tiga buah yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif melalui bukunya yang dianggap sebagai Masterpiece Montesquieu yakni Spirit of the Laws. Akan tetapi sebelum Spirit of the Laws diterbitkan, Montesquieu mengeluarkan buku Surat-surat dari Persia (Lettres Persanes). Menarik untuk disimak karya Montesquieu ini karena ketidakpuasan dirinya dan keprihatinannya dalam melihat kondisi masyarakat Perancis sudah sedemikian parah dituangkan ke dalam sebuah karya dengan struktur penceritaan yang sangat menarik. Makalah ini akan mencoba untuk memberikan gambaran singkat mengenai salah satu karya Montesquieu, yakni Surat-surat dari Persia. Riwayat Hidup Montesquieu Montesquieu lahir di tahun 1689 sebagai Charles-Louis de Secondat. Ia lahir di puri de la Brede di sekitaran selatan kota Bordeaux, sebelah barat daya Perancis.1 Dari pihak ayahnya, Montesquieu tergolong kedalam kelompok orang bangsawan, dia termasuk ke dalam golongan noblesse de robe (golongan para hakim, hakim agung). Di zaman tersebut, para hakim dan hakim agung masuk ke dalam golongan bangsawan dan di hormati di masyarakat Perancis. Paman Charles de Secondat, Baron Jean Baptiste de Montesquieu adalah ketua dari Mahkamah Agung tersohor dari kota Bordeaux. Ketika dirinya meninggal, Charles de Secondat mewarisi gelar

Ahmad Suhelmi. Pemikiran Politik Barat.( Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007),Halaman 214.

Page | 1

kebangsawanan Baron de Montesquieu dari pamannya ini karena semenjak ia masih kecil, Montesquieu sudah tinggal bersama pamannya setelah ayahnya Montesquieu meninggal dunia. Sejak itulah, Charles de Secondat mewarisi nama Montesquieu. Ketika Montesquieu lahir, Perancis sedang dalam masa kepemimpinan dari Raja Louis XIV yang kemudian memerintah Perancis selama kurang lebih setengah abad atau lebih tepatnya 54 tahun yakni mulai dari tahun 1661-1715. Raja Louis XIV terkenal dengan sebutan le roi soleil atau dalam Bahasa Indonesia berarti Raja Matahari. Raja Louis XIV juga dalam memerintah Perancis dikenal sebagai raja yang memiliki kekuasaan absolut. Raja Louis XIV menaiki tahta ketika dirinya masih berusia lima tahun. Sebelum dirinya dewasa, pemerintahan Perancis dipegang oleh dewan perwalian (La Regence) yang dipimpin oleh ibunya, Anna dari Austria dan dibantu dengan Perdana Menteri Mazarin. Setelah Dewasa, Raja Louis XIV memerintah negaranya sebagai raja du droit divin atau raja yang memimpin negara karena menganggap dirinya mendapat kekuasaan dari Tuhan untuk memerintah dengan kekuasaan yang absolut. Untuk menjaga citranya dan membuat dirinya menjadi raja yang paling disegani dan Berkuasa di benua Eropa, Raja Louis XIV sering sekali melakukan peperangan, diantaranya adalah perang Devolution (1667-1668), Peperangan Liga Augsbourg (1689-1697), peperangan Belanda (1672-1678), peperangan suksesi tahta Spanyol (1702-1704). Peperangan-peperangan tersebut memakan biaya yang sangat mahal, dan biayanya diambil melalui pajak yang harus di Bayar oleh rakyat Perancis. Rakyat Perancis dipaksa untuk membayar berbagai macam pajak, mulai dari pajak La

Page | 2

Gabelle (pajak garam), La Taille (pajak yang harus dibayarkan kepada agen raja), La Capitation (pajak per kepala). Akan tetapi, rakyat dari golongan bangsawan dan gereja dibebaskan dari keharusan untuk membayar pajak-pajak tersebut. Rakyat Perancis yang diharuskan untuk membayar segala jenis pajak tersebut merasa sangat menderita dan tertekan. Perasaan tak puas pun merajalela di Perancis. Perasaan tidak puas semakin parah ketika Raja Louis XIV meninggal dan digantikan dengan kemenakan nya Philippe dOrleans. Philippe dOrleans untuk sementara menjadi wakil Louis XV yang masih berusia 5 tahun. Sebenarnya Philippe dOrleans memiliki bakat untuk menjadi negarawan yang baik karena memiliki bakat untuk memerintah dan mempunyai inteligensia yang cukup tinggi. Akan tetapi, les grandes seigneurs atau tokoh-tokoh bangsawan yang penting dan yang

mengelilingnya tak bisa memberinya kesempatan untuk memerintah dengan baik. Gaya pemerintahannya hanya menguntungkan golongan bangsawan saja. Pada saat itu, golongan bangsawan atau masyarakat kelas atas cenderung untuk hidup santai dan hanya mengejar kesenangan dan hiburan. Kehidupan mereka yang santai menyebabkan orang menjadi malas untuk bekerja, terlebih lagi penanggung jawab pemerintahan yang terdiri dari golongan bangsawan dan juga golongan gereja. Mereka akhirnya melupakan tugas mereka dan mulai melupakan rakyatnya. Selama masa perwalian dari tahun 1715 hingga tahun 1723, keadaan sosial budaya di Perancis tetap tidak berubah. Ternyata, gaya pemerintahan Raja Louis XIV telah berpengaruh banyak pada gaya pemerintahan Philippe dOrleans yang menggantikannya. Meskipun parlemen sudah diaktifkan kembali, akan tetapi

Page | 3

kekuasaan masih saja berpusat di kalangan bangsawan saja. Sedangkan kondisi rakyat Perancis itu sendiri tidak terdapat banyak perubahan. Segala hal yang disebutkan tadi membuat Montesquieu merasa prihatin. Meskipun dirinya berasal dari golongan bangsawan, hati nuraninya dan jiwanya sebagai filsuf mempengaruhi pandangan hidupnya. Ia menulis surat-surat dari Persia (Lettres Persanes) untuk mengkritik segala kondisi sosial budaya semenjak Raja Louis XIV berkuasa hingga akhirnya digantikan Raja Philippe dOrleans (La Regence) dalam masa perwalian. Surat-surat dari Persia menggunakan cara yang menarik dalam penyajiannya, yaitu dalam bentuk surat-menyurat. Bentuk suratmenyurat seperti ini dalam Perancis sendiri disebut sebagai roman epistoler (roman epistolaire)2. Pada masa abad ke delapan belas, beberapa pengarang terkenal menggunakan gaya roman epistoler ini dalam menulis karyanya. Misalnya saja JeanJacques Rousseau (1712-1778) menulis karya roman epistolernya yang berjudul La Nouvelle Heloise di tahun 1761. Chodelos de Laclos (1741-1803) menulis Les Liaisons Dangereuses. Surat-surat dari Persia Surat-surat dari Persia sendiri merupakan sebuah karya fiksi yang terdiri dari kumpulan-kumpulan surat yang berjumlah 161 surat dan sebagian besar adalah suratsurat pendek. Karena begitu banyak masalah yang akan diungkapkan oleh Montesquieu, maka dirinya lebih memilih untuk menggunakan tokoh fiksi dalam
2

Kooshendrati Soeparto Hutapea. Lettres Persanes Karya Montesquieu dan Kondisi Penciptaannya. (Tesis Magister, Universitas Indonesia, 1992), Halaman 5.

Page | 4

penceritaannya karena lebih bebas dan leluasa dalam mengkritik pemerintahan Perancis di masa tersebut. Di dalam novel tersebut, Montesquieu seolah-olah hanya berperan sebagai pengumpul surat-surat itu dan demi melindungi identitas dirinya, Montesquieu menerbitkan karyanya di negeri Belanda dan diterbitkan tanpa di sebutkan nama pengarangnya. Secara singkat, karya yang bertanggal surat bulan Februari 1711 hingga bulan Mei 1720 ini bercerita tentang perjalanan dua orang Persia yang sedang berkunjung ke Perancis yaitu Usbek dan Ricca. Usbek sendiri adalah seorang pangeran Persia yang berani untuk mengungkapkan korupsi yang sedang merajalela di istana, dan yang dilakukan oleh orang-orang kepercayaan raja Persia. Usbek akhirnya difitnah oleh para pejabat istana yang korup, yang menyebabkan raja Persia tidak lagi menyukainya. Usbek memutuskan untuk pergi meninggalkan Persia bersama sahabatnya Ricca untuk memperdalam lagi ilmu di Perancis dan juga untuk mencari kebenaran mengenai kebijakan. Setibanya mereka di Perancis, segala kesan-kesan yang mereka dapatkan selama di Perancis mereka tuangkan ke dalam surat dan berkorespondensi dengan teman-teman baik mereka yang tinggal di Persia atau juga yang tinggal di luar negeri seperti Smyrna (Turki), dan di Venetia, Italia. Surat-surat dari Persia dapat dikatakan sebagai karya satire humoristik yang ditulis untuk mengkritik pemerintahan Raja Louis XIV dan juga masa perwalian Philippe dOrleans dengan menggunakan pengungkapan kata-kata yang ironis dan sarkastis. Meskipun Surat-surat dari Persia merupakan serangkaian tulisan dalam bentuk lepas, akan tetapi ini bukan berarti bahwa Montesquieu menulis Surat-surat

Page | 5

Persia dalam bermacam-macam observasi. Secara keseluruhan, karya ini merupakan posisi Montesquieu dalam melihat Perancis di masa itu. Montesquieu melihat dari sudut pandang kosmopolitan atau non-eurosentrik, dan juga perbandingan antar budaya yang berbeda serta kejeliannya melihat perilaku masyarakat Perancis3. Tulisannya yang melihat Perancis dari sudut pandang orang luar didukung oleh hobinya selama ini yaitu berpetualang ke luar negeri.4 Penggunaan Tokoh dari Persia Di masa pemerintahan Raja Louis XIV, Persia merupakan bangsa dari Timur pertama yang memiliki hubungan diplomat resmi dengan negara Perancis di tahun 1715. Semenjak saat itu, orang-orang dari Persia menjadi bahan pembicaraan dan sorotan5. Segala sesuatu yang menyangkut tentang Persia menjadi mode Perancis. Di dalam Surat-surat dari Persia ada surat yang mengacu terhadap fakta tersebut, yakni surat ke 28 paragraf pertama: The inhabitants of Paris display an excess of curiosity which verges on the absurd. When I first arrived I was stared at as if I had been sent from heaven: old men, young men, women, children, they all wanted to see me; if I went out, everyone crowded at the windows; if I went walking in the Tuileries, I would instantly find a circle forming round me; even the ladies encircled me with a rainbow of a thousand delicate shades; if I went to a theatre I would immediately be conscious of a

Rebecca E. Kingston, Editor. Montesquieu and His Legacy. (Albany: State University of New York, 2009), Halaman 244. 4 Ibid 5 E.J. Hundert dan Paul Nelles. Liberty and Theatrical Space in Montesquieus Political Theory: The Poetics of Public Life in The Persian Letters. Political Theory, Vol. 17, No. 2 (May 1989). Halaman 227.

Page | 6

hundred lorgnettes focused on my face; in a word, no man has ever been seen as much as me. It sometimes made me smile, to hear people who had scarcely ever ventured from their chambers saying to one another: One must admit he looks very Persian! Amazingly, I found portraits of me everywhere; I saw myself multiplied in all the shops, upon all the mantelpieces, so fearful were they of not having seen me enough!....6

Di dalam surat ini, Ricca bercerita kepada Ibben di Smyrna mengenai bagaimana perilaku dan sikap masyarakat Perancis yang melihat dirinya dan orang Persia yang lain sebagai orang aneh yang berasal dari dunia yang berbeda. Kemanapun dirinya pergi, pasti selalu menjadi bahan tontonan dan pembicaraan masyarakat Perancis. Orang Perancis menganggap bahwa orang-orang Persia yang datang dari timur sebagai orang yang polos, murni dan tanpa prasangka. Demikian pula anggapan Montesquieu terhadap orang Persia. Dengan menggunakan tokoh yang digambarkan adalah orang yang polos, maka Montesquieu dapat memberikan gambaran mengenai adat, kebiasaan dan perilaku masyarakat Perancis pada masa akhir pemerintahan Raja Louis XIV dan masa kepemimpinan Philippe dOrleans.

Kritik dan Gagasan Montesquieu di dalam Surat-surat dari Persia Kritik yang diutarakan oleh Montesquieu di dalam Surat-surat Persia terhadap pemerintahan Perancis cukup banyak dan menggunakan cara penyampaian yang ironis dan sarkastis. Dalam kesombongan kerajaan Perancis misalnya Montesquieu
6

Charles-Louis de Secondat Montesquieu. Terjemahan oleh Margaret Mauldon. Oxford Worlds Classics: Persian Letters (New York: Oxford University Press Inc., 2008), Halaman 40.

Page | 7

menulis dalam surat nomor 22 paragraf ke enam. Ricca menulis kepada Ibben di Smyrna seperti ini: The king of France is the most powerful prince in Europe. Unlike his neighbour the king of Spain, he owns no gold-mines, but he possesses greater riches than that king does; he draws these riches from the vanity of his subjects, which is more inexhaustible than mines; he has been able to undertake or support great wars with no other resources than titles and honours to sell, and by a miracle of human vanity, his troops have been paid, his strongholds provisioned, and his fleets equipped7.

Melalui penuturan Ricca, Montesquieu mengatakan secara menyindir bahwa terdapat adanya perbedaan fakta. Raja Perancis dikatakan lebih kaya daripada Raja Spanyol, padahal kenyataan di masa itu adalah sebaliknya. Raja Spanyol sangatlah kaya raya ketimbang Raja Perancis diakibatkan karena daerah jajahannya di Amerika Latin, Peru, menyumbang pendapatan dari emas yang sangat banyak dan berlimpah. Sedangkan kondisi keuangan Perancis di masa itu sedang mengalami defisit yang amat parah akibat mahalnya perang yang dilancarkan Perancis. Untuk menutupi defisitnya, maka kerajaan pun menjual gelar kebangsawanan kepada orang-orang kaya di Perancis. Lebih lanjut mengenai sindiran untuk raja Perancis masih di surat yang sama, kali ini di paragraf yang berbeda: Furthermore, this king is a great magician: he exerts his dominion over the very minds of his subjects, for he makes them think whatever he wishes: if he has one million gold pieces in his treasury, and he needs two, he has

Ibid., halaman 30.

Page | 8

only to persuade them that one gold piece is worth two, and they believe him If he has a war that is difficult to support, and he has no money, he has only to suggest to them that a piece of paper is money, and they are convinced upon the spot; he even goes so far as to make them believe that he can cure them of all kinds of ills simply by touching them, so great is the strength, and the power, that he exerts over their minds...

Dalam masyarakat Katolik abad ke-18, kedudukan magician (tukang sulap, penyihir) menempati tempat yang tercela di dalam agama Kristen yang mengharamkan ilmu hitam. Raja di sini disindir sebagai seseorang yang menipu rakyatnya dengan mengatakan satu buah emas bernilai sama dengan dua emas. Dan juga akibat perang-perang yang dilancarkan Perancis, uang kertas dicetak tanpa adanya jaminan di belakangnya yang menyebabkan uang kertas tidak memiliki nilai Sama sekali.8

Bukan hanya kritik terhadap masyarakat Perancis, golongan agama pun mendapat kritikan dari Montesquieu. Hal ini tergambar di dalam surat 22 Ricca kepada Ibben:

What I tell you about this king should not astonish you, for there is another magician even greater than he, who exerts no less a mastery over his mind than he himself enjoys over the minds of others. This magician is called the pope; sometimes he makes the king believe that three are only one, that the bread he eats is not bread, or that the wine he drinks is not wine, and countless other things of that nature..

Ahmad Suhelmi. Op.cit., Halaman 223.

Page | 9

Dikatakan bahwa Paus sebagai pemimpin gereja Katolik memiliki kekuatan untuk mempengaruhi kekuasaan di suatu negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah orang Katolik. Pernyataan bahwa Raja percaya tiga adalah satu dan roti yang dia makan bukan roti, serta anggur yang ia minum bukanlah anggur merupakan sebuah sindiran untuk Raja Perancis yang selalu percaya begitu saja pada setiap perkataan Paus. Berlanjut ke surat 27, kritikan terhadap paus yang semena-mena dalam memimpin: The pope is the head of the Christians; he is an old idol to whom they pay homage out of habit. In the past he was feared even by kings, for he would depose them as readily as our magnificent sultans depose the kings of Irimette and Georgia; but now he is feared no longer. He claims to be successor to one of the first Christians, called St Peter, and it is unquestionably a rich inheritance, for he owns immense treasures, and has a great country under his governance.9.

Di kutipan ini, Paus dikatakan dapat melengserkan raja dari tahtanya apabila Paus merasa dirinya tidak dihormati dan dituruti keinginannya. Paus juga dikatakan memiliki kekuasan yang luar biasa besar dan juga kekayaan yang sangat banyak. Di Eropa masa itu, negara seperti Spanyol, Perancis, Portugal, Italia, Austria, Hungaria dan Polandia merupakan negara-negara yang memiliki penduduk mayoritas beragama Katolik yang menyebabkan Paus berkuasa lebih daripada Raja di negara tersebut dan rakyat harus membayar pajak dan upeti untuk Paus.

Charles-Louis de Secondat Montesquieu. Op.cit., Halaman 38.

Page | 10

Dalam suratnya yang bernomor 99, pemikiran Montesquieu mengenai keburukan dari sistem monarki diungkapkan10. Surat ini dikirim oleh Usbek kepada Ibben di Smyrna. Most European governments are monarchical, or rather bear that label; for I do not know whether such governments have ever actually existed: at any rate, it is impossible that they should last long: such states are unstable, and invariably degenerate into despotism or republicanism. Power can never be shared equally between the people and the prince; the balance is too difficult to maintain, power necessarily always diminishing on the one side while increasing on the other; as a rule, however, the advantage is to the prince, who heads the armies11 Berdasarkan dari potongan surat diatas, maksud yang ingin diungkapkan oleh Montesquieu sangatlah jelas: Bahaya dari Despotisme di zaman itu dalam negara yang bersistem Monarki. Hal ini menjadi rujukan bahwa nantinya didalam buku The Spirit of Law, Montesquieu menjelaskan secara jelas mengenai perlunya pembagian kekuasaan. Mengenai hubungan antara bentuk pemerintahan dengan jenis hukum atau keadilan yang cocok dengan kondisi masyarakat, dalam surat nomor 78 Usbek kepada Rhedi dikatakan seperti ini: If, under a tolerant government, the people are as obedient as they are under a harsh government, then the former is preferable, since it conforms better to reason, whereas harshness is alien to it. You can be certain, Rhedi, that in any state the degree of severity of a punishment does not make people observe the law any better. In countries where punishments are
10

Orest Ranum. Personality and Politics in the Persian Letters. Political Science Quarterly, Vol. 84, No. 4. (Desember 1969): halaman 614. 11 Charles-Louis de Secondat Montesquieu. Op.cit., Halaman 136.

Page | 11

moderate, these are feared exactly as they are in countries where penalties are tyrannical and horrifying. Whether the government be tolerant or harsh, punishment is always meted out by degrees; a lesser or greater punishment is inflicted for a lesser or greater crime. The imagination adapts itself automatically to the customs of the country one inhabits; a week in prison or a small fine weigh as heavily on the mind of a European raised in a moderate society, as the loss of an arm intimidates an Oriental. People associate a certain level of fear with a certain level of punishment, and everyone feels it in his own way; despair at the idea of disgrace will oppress a Frenchman sentenced to a penalty that would not deprive a Turk of a quarter of an hours sleep12

Bagi Montesquieu nantinya, hukuman secara adat-lah yang terbaik dalam memberikan pelajaran kepada masyarakat. Hukuman adat menurut Montesquieu adalah gambaran jiwa yang ditimbulkan oleh pemerintahan dan juga hukum itu sendiri dibandingkan dengan Hukum dan ganjaran yang diterima oleh seseorang13. Montesquieu juga sangat memuja hukum adat yang tentu saja masih murni dengan kandungan nilai-nilai asli dari masyarakat. Montesquieu membuat perbedaan antara Hakim, pendeta, atau juga bangsawan bagaimana mereka bersikap, yang di dalam Surat-surat Persia ini seringkali Montesquieu caci-maki. Meskipun begitu, Montesquieu juga menyadari arti penting dari setiap golongan-golongan tersebut dalam masyarakat. Misalnya saja arti penting seorang pemimpin agama dalam masyarakat, Montesquieu tidak dapat membayangkan jika di dalam masyarakat tidak terikat dalam suatu ikatan agama.
12 13

Ibid., Halaman 110. Orest Ranum. Op.cit., Halaman 616.

Page | 12

Montesquieu mengemukakan mimpinya mengenai masyarakat yang hidup dalam harmoni, kebaikan serta keselarasan. Seperti dalam surat 12 Usbek kepada Mirza di Ispahan: You have seen, my dear Mirza, how the Troglodytes perished through their own wickedness, and became victims of their own injustice. Out of all those families, there remained only two that escaped the misfortunes of the nation. Two most unusual men lived in that country: they were humane, they understood what justice was, and they loved virtue; bound together as much by the purity of their hearts as by the corruption of their fellow-men, they saw the general desolation and felt only pity; bound even more closely together by this, they worked with equal zeal for the common good, knowing no disagreements other than those arising out of their sweet and tender friendship; and in the remotest part of the country, isolated from compatriots undeserving of their presence, they led a happy, peaceful life, while the earth, worked by those virtuous hands, seemed to produce of its own bounty.14.

Montesquieu merasa bahwa hidup dalam kondisi masyarakat Perancis yang sakit tidak bisa dibiarkan. Di kutipan diatas mengatakan kondisi masyarakat yang ideal yang di impikan oleh Montesquieu dimana warga yang jahat dan tidak adil akan musnah, dan untuk membentuk masyarakat yang ideal tersebut maka tiap-tiap warga harus memiliki pribadi yang baik, jujur dan memahami keinginan warga. Penutup Karya Montesquieu ini merupakan suatu gambaran dari kondisi sosial, budaya dan politik di Eropa pada masa abad ke delapan belas. Kekuasaan Raja yang sangat
14

Charles-Louis de Secondat Montesquieu. Op.cit., Halaman 18.

Page | 13

absolut di berbagai aspek, baik militer, politik hingga keuangan menyebabkan Perancis di ambang kebangkrutan dan kehancuran. Melalui karyanya yang berjudul Surat-surat dari Persia, Montesquieu secara cerdik mengkritik golongan Agama, Raja dan juga golongan bangsawan, dimana dia sebenarnya dibesarkan. Penuturan kritik terhadap ketiga golongan tersebut juga disampaikan melalui cara yang menarik dengan bentuk roman epistoler dan penggunaan karakter utama yaitu Usbek dan Ricca sebagai pelancong dari Persia yang berkunjung ke Perancis. Melalui cara inilah Montesquieu bisa aman dan bebas untuk mengeluarkan kritik-kirik dan sindiran terhadap golongan yang berpengaruh di Perancis tersebut. Selain itu, kegusaran dan keprihatinannya atas pengaruh kekuasaan raja yang begitu absolut, dituangkan dengan sindiran-sindiran ironis dan sarkastis. Melalui surat-surat dari Persia ini juga terungkap bahwa Montesquieu sebenarnya juga telah memikirkan perlunya membagi dan menyeimbangkan kekuasaan agar tidak terpusat di satu tangan saja. Dalam bukunya yang terbit 27 tahun kemudian yaitu LEspirit des Lois (Spirit of the Laws), digambarkan model Trias Politica yang sampai sekarang sangat berpengaruh di dunia politik.

Page | 14

Daftar Pustaka
Hundert, E.J. dan Paul Nelles. Liberty and Theatrical Space in Montesquieus Political Theory: The Poetics of Public Life in The Persian Letters. Political Theory, Vol. 17, No. 2 (May 1989) Halaman 223-246. Kingston, Rebecca.E, Editor. Montesquieu and His Legacy. Albany: State University of New York, 2009. Montesquieu, Charles-Louis de Secondat. Terjemahan oleh Margaret Mauldon. Oxford Worlds Classics: Persian Letters. New York: Oxford University Press Inc., 2008. Ranum, Orest. Personality and Politics in the Persian Letters. Political Science Quarterly, Vol. 84, No. 4. (Desember 1969) Halaman 606-627. Soeparto Hutapea, Kooshendrati. Lettres Persanes Karya Montesquieu dan Kondisi Penciptaannya. Tesis Magister, Universitas Indonesia, 1992. Suhelmi, Ahmad. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Page | 15