Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS DAMPAK PEMBANGUNAN JEMBATAN AMARTA TERHADAP KELANCARAN LALU LINTAS (STUDI KASUS DI RUAS JALAN KLERINGAN DAN

JALAN ABU BAKAR ALI)

I.

Pendahuluan Aktivitas manusia tidak dapat dipisahkan dari pergerakan. Seiring berjalannya waktu kebutuhan untuk melakukan pergerakan semakin meningkat. Oleh karena itu, diperlukan suatu prasarana pendukung kelangsungan pergerakan ini yang dikenal sebagai transportasi. Transportasi merupakan pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah kendaraan yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi dibagi menjadi tiga yaitu, transportasi darat, laut, dan udara. Namun, pada kenyataannya manusia lebih banyak beraktivitas dengan memanfaatkan transportasi darat. Di Yogyakarta, transportasi darat menjadi pilihan utama masyarakat untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Hal ini didukung dengan fasilitas kredit kendaraan yang sangat mudah. Sehingga, penggunaan sarana transportasi darat melonjak, yang berpengaruh terhadap peningkatan volume kendaraan di jalan raya. Peningkatan volume kendaraan yang tinggi terlihat jelas di sekitar kawasan Malioboro. Pada pokok pembahasan ini dilakukan pengamatan di sekitar Jembatan Kewek yang mengalami penumpukan volume kendaraan menuju Kotabaru. Kewek berasal dari istilah bahasa Belanda, yakni kerkweg. Kerk diartikan sebagai gereja (church) dan weg diartikan sebagai jalan (way). Jembatan Kewek dulunya merupakan jembatan atau jalan penghubung untuk menuju gereja, yakni Gereja Santo Antonius Kotabaru. Kondisi lalu lintas Jembatan Kewek ini cukup padat. Hal ini disebabkan karena arus lalu lintas dari jalan Mangkubumi, Mataram, dan Pasar Kembang menuju Kotabaru terpusat di Jembatan Kewek. Inilah yang menjadi simpul kemacetan di daerah tersebut. Untuk mengurangi kemacetan tersebut, Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta membangun jembatan penghubung jalan Mangkubumi menuju Kotabaru. Jembatan ini diberi nama Jembatan Amarta. Jembatan Amarta mulai beroperasi pada Desember 2011. Jembatan ini berfungsi untuk mengurangi kemacetan yang terjadi di Jembatan Kewek. Hal ini cukup berhasil, namun timbul suatu permasalahan baru. Pada persimpangan antara Jembatan Amarta dan Jembatan Kewek terjadi titik simpul kemacetan baru yang disebabkan oleh pertemuan arus lalu lintas dari dua sumber jalan yang berbeda. Banyak pula pelanggaran yang terjadi di kawasan tersebut. Hal ini didukung oleh ketersediaan fasilitas jalan yang minim. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui manajemen lalu lintas yang tepat di kawasan Jembatan Kewek dan Jembatan Amarta, terutama pada persimpangan arus lalu lintas keduanya untuk meminimalisir hal - hal tersebut, dengan menilik lebar jalan, volume kendaraan, serta perlengkapan jalan.

II.

Landasan Teori 2.1. Sistem jaringan jalan Sistem jaringan jalan primer merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan. Sistem jaringan jalan sekunder merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan. 2.2. Klasifikasi Jalan berdasarkan UU nomor 38 mengenai jalan, maka jalan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu : 2.2.1. Klasifikasi Jalan menurut Fungsi 1. Jalan Arteri merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna. Jalan Arteri Primer adalah ruas jalan yang menghubungkan antar kota jenjang kesatu yang berdampingan atau menghubungkan kota jenjang kesatu dengan kota jenjang kedua. Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus dipenuhi adalah : a. kecepatan rencana > 60 km/jam b. lebar badan jalan > 8,0 m c. kapasitas jalan lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata d. jalan masuk dibatasi secara efisien sehingga kecepatan rencana dan kapasitas jalan dapat tercapai e. tidak boleh terganggu oleh kegiatan lokal, lalu lintas lokal f. jalan primer tidak terputus walaupun memasuki kota Jalan Arteri Sekunder adalah ruas jalan yang menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder lainnya atau kawasan sekunder kesatu dnegan kawasan sekunder kedua. Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus dipenuhi adalah : a. kecepatan rencana > 30 km/jam b. lebar jalan > 8,0 m c. kapasitas jalan lebih besar atau sama dari volume lalu lintas rata-rata d. tidak boleh diganggu oleh lalu lintas lambat 2. Jalan Kolektor merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi. Jalan Kolektor Primer adalah ruas jalan yang menghubungkan antar kota kedua dengan kota jenjang kedua atau kota jenjang kesatu dengan kota jenjang ketiga. Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus dipenuhi adalah : a. kecepatan rencana > 40 km/jam b. lebar jalan > 7,0 m

c. kapasitas jalan lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata d. jalan masuk dibatasi secara efisien sehingga kecepatan rencana dan kapasitas jalan tidak terganggu e. tidak boleh terganggu oleh kegiatan lokal, lalu lintas lokal f. jalan kolektor primer tidak terputus walaupun memasuki daerah kota. Jalan Kolektor Sekunder adalah ruas jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder lainnya atau menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga. Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus dipenuhi adalah : a. kecepatan rencana > 20 km/jam b. lebar jalan > 7,0 m 3. Jalan Lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat,kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi. Jalan Lokal Primer adalah ruas jalan yang menghubungkan kota jenjang kesatu dengan persil, kota jenjang kedua dengan persil, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang ketiga lainnya, kota jenjang ketiga dengan jenjang dibawahnya. Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus dipenuhi adalah : a. kecepatan rencana > 20 km/jam b. lebar jalan > 6,0 m c. jalan lokal primer tidak terputus walaupun memasuki desa Jalan Lokal Sekunder adalah ruas jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan perumahan, atau kawasan sekunder kedua dengan perumahan, atau kawasan sekunder ketiga dan seterusnya dengan perumahan. Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus dipenuhi adalah : a. kecepatan rencana > 10 km/jam b. lebar jalan > 5,0 m 4. Jalan Lingkungan Jalan Lingkungan adalah jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri-ciri yaitu perjalanan jarak dekat dan kecepatan rata rata rendah. 2.3. Persimpangan adalah simpul dalam jaringan transportasi dimana dua atau lebih ruas jalan bertemu , di sini arus lalu lintas mengalami konflik. Konflik di persimpangan antara lain : 1. Berpotongan atau disebut juga crossing, dimana dua arus berpotongan langsung. 2. Bergabung atau disebut juga merging, dimana dua arus bergabung. 3. Berpisah atau disebut juga sebagai diverging, dimana dua arus berpisah 4. Bersilangan atau disebut juga weaving, dimana dua arus saling bersilangan, terjadi pada bundaran lalu lintas. Perlengkapan Jalan 1. Marka Jalan adalah suatu tanda yang berupa garis, simbol, angka, hurup atau tanda-tanda lainnya yang digambarkan. Marka jalan berfungsi sebagai penuntun/pengarah pengemudi selama perjalanan. Warna marka jalan umumnya putih, terdiri dari :marka garis, marka huruf, marka simbol, dan sebagainya.

III.

2. Pita penggaduh adalah kelengkapan tambahan pada jalan yang berfungsi untuk membuat pengemudi lebih meningkatkan kewaspadaan menjelang suatu bahaya. Pita penggaduh berupa bagian jalan yang sengaja dibuat tidak rata dengan menempatkan pita-pita setebal 10 sampai 40 mm melintang jalan pada jarak yang berdekatan, sehingga bila mobil yang melaluinya akan diingatkan oleh getaran dan suara yang ditimbulkan bila dilalui oleh ban kendaraan. Persyaratan pita penggaduh antara lain: a. pita penggaduh dapat berupa suatu marka jalan atau bahan lain yang dipasang melintang jalur lalu lintas dengan ketebalan maksimum 4 cm. b.lebar pita penggaduh minimal 25 cm c. jarak antara pita penggaduh minimal 50 cm d.pita penggaduh yang dipasang sebelum perlintasan sebidang minimal 3 pita penggadu e. pita penggaduh sebaiknya dibuat dengan bahan thermoplastik atau bahan yang mempunyai pengaruh yang setara yang dapat memengaruhi pengemudi. 3. Rambu Lalu Lintas adalah salah satu alat perlengkapan jalan dalam bentuk tertentu yang memuat lambang, huruf, angka, kalimat dan/atau perpaduan di antaranya, yang digunakan untuk memberikan peringatan, larangan, perintah dan petunjuk bagi pemakai jalan. Berdasarkan jenis pesan yang disampaikan, rambu dibedakan menjadi : a. Rambu Peringatan Rambu yang memperingatkan adanya bahaya agar para pengemudi berhati-hati dalam menjalankan kendaraannya. Misalnya: Rambu yang menunjukkan adanya lintasan kereta api, atau adanya persimpangan berbahaya bagi para pengemudi. b. Rambu Petunjuk Rambu yang memberikan petunjuk atau keterangan kepada pengemudi atau pemakai jalan lainnya, tentang arah yang harus ditempuh atau letak kota yang akan dituju lengkap dengan nama dan arah letak itu berada. c. Rambu Larangan dan Perintah Rambu ini untuk melarang/memerintah semua jenis lalu lintas tertentu untuk memakai jalan, jurusan atau tempat-tempat tertentu. Metodologi Penelitian Menentukan lokasi peninjauan Persimpangan Jembatan Amarta dan Jembatan Kewek

Menuju lokasi peninjauan dan melakukan peninjauan

Menghitung jumlah kendaraan yang melintasi lokasi peninjauan pada saat jam-jam sibuk

Mengukur lebar lokasi peninjauan

Mengamati perlengkapan jalan yang ada

IV.

Data pengamatan Kalo pake gambar, kasi nomor gambar sama judul gambar ditulis di bawah gambarnya Kalo jurnal tu gak berwarna yang dilaporkan tu jangan berupa penggambaran yang biasa Pengamatan dilakukan selama 3 hari dengan durasi masing masing selama satu jam. Data data yang diperoleh sebagai berikut : Sesi Lokasi Amarta Kewek Sesi I Sesi II Sesi III Sesi IV (13.00-13.15) (13.15-13.30) (13.30-13.45) (13.45-14.00) Roda 4 Roda 2 Roda 4 Roda 2 Roda 4 Roda 2 Roda 4 Roda 2 97 355 156 365 108 337 114 362 116 398 166 410 149 419 164 436 Tabel 4. 1. Tabel Pengamatan Hari Pertama (5 Maret 2012) Sesi I Sesi II Sesi III (16.30-16.45) (16.45-17.00) (17.00-17.15) Roda 4 Roda 2 Roda 4 Roda 2 Roda 4 Roda 2 129 346 132 361 87 302 136 487 135 479 137 421 Tabel 4. 2. Tabel Pengamatan Hari Kedua (8 Maret 2012) Sesi IV (17.15-17.30) Roda 4 Roda 2 103 313 147 445

Sesi Lokasi Amarta Kewek

Sesi Lokasi Amarta Kewek

Sesi I Sesi II Sesi III Sesi IV (06.30-06.45) (06.45-07.00) (07.00-07.15) (07.15-07.30) Roda 4 Roda 2 Roda 4 Roda 2 Roda 4 Roda 2 Roda 4 Roda 2 143 723 164 696 96 612 105 521 121 799 145 631 104 629 129 428 Tabel 4. 3. Tabel Pengamatan Hari Ketiga (14 Maret 2012)

V.

Pembahasan
450

416 355

Jumlah Kendaraan per 15 menit

400 350 300 250 200 150 100 50 0 Roda 4

149 119

Amarta

Kewek

Roda 2

Jenis Kendaraan
Grafik 5. 1. Grafik Pengamatan Hari Pertama (5 Maret 2012)

700

638

622

Jumlah Kendaraan per 15 menit

600 500 400 300 200 100 0 Roda 4 Roda 2

Amarta Kewek 127 125

Jenis Kendaraan
Grafik 5. 2. Grafik Pengamatan Hari Kedua (8 Maret 2012)
700

638

622

Jumlah Kendaraan per 15 menit

600 500 400 300 200 100 0 Roda 4 Roda 2

Amarta Kewek 127 125

Jenis Kendaraan
Grafik 5. 3. Grafik Pengamatan Hari Ketiga (14 Maret 2012)

Jumlah kendaraan per menit (buah)

50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Roda 4 Roda 2

43

24

23

Pagi (06.45-07.50) Siang (13.00-14.05) Sore (16.45-17.50)

Jenis Kendaraan
Grafik 5. 4. Grafik Kendaraan yang Melintasi Jembatan Amarta
45

42

Jumlah kendaraan per menit (buah)

40 35 30 25 20 15 10 5 0 Roda 4 Roda 2

31 28

Pagi (06.45-07.50)
Siang (13.00-14.05) 9 10 10 Sore (16.45-17.50)

Jenis Kendaraan
Grafik 5. 5. Grafik Kendaraan yang Melintasi Jembatan Kewek Jembatan Amarta memiliki lebar jalan 14 meter, yang terdiri dari satu jalur dengan pembagian empat lajur di dalamnya, namun dua lajur lainnya masih belum difungsikan. Sehingga lebar dua lajur yang berfungsi adalah 7 meter. Dengan lebar jalur 7 meter maka Jembatan Amarta ini termasuk klasifikasi jalan kolektor primer. Jembatan Kewek memiliki lebar jalan 7 meter, yang terdiri atas dua jalur dengan pembagian 2 lajur di dalamnya, oleh karena itu Jembatan Kewek termasuk klasifikasi jalan kolektor primer.

VI.

Dari grafik 5.1. , 5.2. , dan 5.3. di atas dapat dilihat bahwa volume kendaraan paling padat terjadi pada pagi hari. Hal ini disebabkan karena aktivitas manusia pada pagi hari cukup padat. Mereka banyak melakukan pergerakan ketika akan menuju ke suatu lokasi dimana mereka akan beraktivitas. Waktu pergerakan pun dimulai pada waktu yang bersamaan, yaitu pada pukul 06.30 hingga pukul 07.30 sehingga menimbulkan penumpukan volume kendaraan di berbagai titik di jalan raya, yang dalam hal ini dilakukan pengamatan pada ruas persimpangan Jembatan Amarta dan Jembatan Kewek. Untuk hasil pengamatan di siang hari dan sore hari, tidak nampak adanya kepadatan yang melebihi kepadatan di pagi hari, karena aktivitas di siang dan sore hari terbagi. Pada siang hari, banyak pengguna jalan merupakan anak sekolahan atau orang tua yang akan menjemput anaknya, sedangkan pada sore hari, banyak pengguna jalan merupakan pekerja kantoran yang pulang maupun mereka yang akan pergi bersama keluarga, sehingga walaupun terjadi penumpukan jumlah kendaraan yang cukup banyak namun jika dibandingkan dengan pagi hari maka dapat disimpulkan bahwa puncak kepadatan terjadi pada pagi hari. Dari grafik jenis kendaraan yang melintasi Jembatan Kewek maupun Jembatan Amarta didominasi oleh roda dua. Meskipun tidak sedikit roda empat yang melintas. Hal ini disebabkan karena kemudahan berkendara dengan menggunakan kendaraan roda dua karena dapat menghindari kemacetan, serta akibatdari kredit kendaraan roda dua yang relatif mudah untuk didapatkan, sehingga menyebabkan penumpukan penggunaan kendaraan roda dua, terutama sepeda motor. Dari uraian di atas maka dapat dilihat bahwa persimpangan Jembatan Amarta dan Jembatan Kewek dilewati oleh banyak kendaraan roda dua maupun roda empat. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa pada daerah persimpangan tersebut merupakan daerah yang rawan kecelakaan. Hal ini disebabkan karena minimnya perlengkapan jalan yang disediakan di daerah tersebut, selain banyak terjadi pelanggaran yang makin memperbesar peluang terjadinya kecelakaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penambahan perlengkapan jalan yang mampu menunjang keselamatan dari pengguna jalan. Berdasarkan klasifikasi jalan di kedua jembatan, yaitu kolektor primer maka dapat diketahui kecepatan rencana yang sesuai untuk kendaraan yang melintas, yaitu 40 km/jam. Oleh karena itu dapat dipasang rambu untuk membatasi kecepatan dari para pengendara kendaraaan bermotor. Untuk kawasan Jembatan Amarta, jalan yang disediakan sudah cukup luas untuk menampung jumlah kendaraan yang melintas, namun untuk Jembatan Kewek, kendaraan yang melintas jauh lebih banyak dari kapasitas jalan yang seharusnya, sehingga terjadi kepadatan arus lalu lintas di daerah persimpangan tersebut. Persimpangan antara Jembatan Amarta dan Kewek merupakan jenis persimpangan yang disebut merging , yaitu adanya dua arus lalu lintas yang bergabung menjadi satu. Hal ini lah yang menimbulkan titik kecelakaan. TAMBAH2IN DIKIT LG LIS.. UDA GAK AD IDE AQ HEHE YANG MANAJEMENNYA BELUM TAK BAHAS Daftar Pustaka http://www.ilmusipil.com/klasifikasi-jalan-menurut-fungsi ,15.04, 16 Maret 2012 http://id.wikipedia.org/wiki/Persimpangan , 15.17 ,16 Maret 2012 http://id.wikipedia.org/wiki/Hak_utama_pada_persimpangan , 15.20 , 16 Maret 2012 http://id.wikipedia.org/wiki/Marka_jalan , 15.23 , 16 Maret 2012 http://id.wikipedia.org/wiki/Rambu_lalu_lintas , 15.24 , 16 Maret 2012

http://id.wikipedia.org/wiki/Pita_penggaduh , 15.31 , 16 Maret 2012