Anda di halaman 1dari 4

Judul Buku Oleh Penerbit

: Media , Budaya, dan Moralitas : Keith Tester : Kreasi Wacana

Tanpa disadari kita menyukai hal yang berbeda beda, semua orang secara lahiriah tidak menyukai apa yang telah saling disukai orang lain. Namun pribadi. begitu,ketidakpahaman Persoalan ini ini tidak sepenuhnya serangkaian persoalan mempresentasikan

persoalan dan proses yang lebih umu yang berhubungan dengan kemungkinan dan karakteristik usaha intelektual yang bisa dilakukan untuk merefleksikan persoalan budaya. Sosiologi perlu dilibatkan untuk menjelaskan media. Hal tersebut disebabkan karena sosiologi meyakini kemungkinan adanya studi budaya yang bisa memberikan informasi dengan keseriusan tujuan moral dan budaya. Sosiologi seharusnya berusaha mengetahui kenapa sesuatu terjadi. Dalam melakukan tugas itu sosiologi menawarkan kesempatan yang kemungkinan untuk mengembangkan argumen kenapa sesuatu harus terjadi secara berbeda dimasa lalu, atau bisa direkayasa dengan beda dimasa depan. Akibatnya, pendekatan sosiologis bisa berarti bahwa kita tidak mau menerima dengan begitu saja segala sesuatu. Khususnya kita tidak akan bisa menerima dengan begitu saja bahwa sesuatu itu baik atau sesuatu itu membosankan hanya karena seperti itu ia kelihatannya. Secara prinsipil sosiologi mampu menyelamatkan media,karenanya ia juga bisa menyelamatkan nilai nilai budaya dan moral dari hal hal yang sangat sepele sampai pada hal hal yang sebaliknya sangat berbahaya.

Budaya populer adalah budaya rakyat, atau bisa juga disebut budaya yang berkembang didalam masyarakat. Budaya populer saat ini berusaha di eksplorasi, sehingga budaya ini bisa mengapresisasi kemungkinan terbaik bagaimana konstituen baru (rakyat) bisa dikonstruksi dimasa depan. Tony bennet mengutip suatu bagian dari sebuah editorial pada edisi pertama jurnal New left review yang menyatakan: tugas sosialisme saat ini adalah untuk menyambangi masyarakat dimanapun mereka berada, dimana mereka disentuh, digigit, digugah, dibuat frustasi, atau dibuat muak (dikutip dalam Bennett 1986a:10), dalam buku keith tester (2003: 43). Disiplin ini selalu menjadikan eksplorasi tentang kesenang senangan dan persoalan media sebagai fokus utama, karena media memiliki posisi yang sangat sentral dalam budaya populer. Media adalah tempat dimana masyrakat berada, media adalah tempat dimana intelektual organik harus masuk kedalam permainan hegemoni (politik) untuk membentuk rakyat baru, untuk membentuk budaya populer baru. Usaha apapun untuk memikirkan sekitar persoalan dampak media terhadap nilai moral dan budaya mungkin lebih baik dilaksankan dari perspektif sosiologi. Budaya industri mengambil sesuatu seperti buku, lukisan, dan musik. Kemudian merubahnya menjadi film, poster, atau rekaman, hanya untuk kepentingan mencari uang atau menghibur audien dengan membantu mereka melupakan persoalan sehari hari. Akibatnya, buku, lukisan dan musik pada kenyataannya menjadi bagian integral (pelengkap) kehidupan sehari hari. Sama halnya dengan kemampuan untuk menentang dan menilai yang inheren (melekat) dalam semua produk budaya, semuanya telah dilenyapkan. Melalui tesis budaya industri, maka argumen intinya kira kira adalah bahwa media dan nilai budaya seringkali dalam posisi tidak seimbang. Menurut Adorno dan Horkheimer (1972: 121), dalam buku Keith Tester (2003: 69). Budaya

industri tidak melakukan apa apa selain menghancurkan nilai seni dengan menariknya kedalam kehidupan sehari hari, dan lebih lugas lagi budaya industri telah menghancurkan kemampuan seni untuk membebaskan dan memuliakan humanitas. Bagi Adorno dan Horkheimer, film dan radio tidak perlu berpura pura sebagai seni. Sebenarnya mereka hanyalah bisnis yang dijadikan ideologi untuk menjustifikasi sampah yang mereka produksi dengan bebas. Film menahan dan membatasi kemampuan imajinasi yang menurut Adorno dan Horkheimer bisa distimulasi oleh Seni. Dan begitula, apapun yang disentuh oleh film maka ia akan berhenti menjadi seni dalam makna yang sepenuhnya dan sebenarnya dari kata tersebut. Malahan semua, technical effect luar biasa yang digunakan oleh film menciptakan keributan dan gerakan yang membuat kemampuan berpikir kita menjadi lelah. Namun, film sebenarnya sangat populer sampai ke tingkat bahwa ia memproduksi begitu suara dan kemarahan yang mustahil untuk dipikirkan. Media menantang semua yang menonjolkan diri sebagai sesuatu yang berbeda darinya. Dari sudut pandang media, semua perbedaan sosial dan budaya, semua hubungan dan aktifitas yang spesifik, dan semua aktifitas yang menjadikan kita seperti sekarang, menjadi sesuatu yang akan dimarginalkan (nilai) demi kepentingan membentuk dan mempertahankan kepasifan dan ketradisionalan audien. Media, contoihnya, memberitahukan kepada kita bahwa bintang film itu ccantik atau sangat ahli dalam hubungan mereka dengan lawan jenis. Mereka merupakan contoh yang haru diikuti, dan kalau kita tidak mengikuti dengan contoh baik contoh yang diberikan oleh bintang film maka kita menjadi orang yang tidak menarik atau orang yang mempunyai penampilan seksual jelek. Kita semua direduksi sampai ketingkat dimana kita menjadi sama seperti aktor yang satu atau aktor yang

lainnya. Dengan kata lain, media memperlakukan kita sebagai bagian dari massa, dan ia memaksa kita untuk bertindak dan berpenampilan seperti orang lain. Kita begitu lemah dihadapan buday industri dan akibatnya kita mengidolakan bintang film, khususnya ketika mereka muncul sebagai tokoh yang perkasa. Dalam artian media mengasingkan individu dari individu lainnya dalam pengertian moral dan sosial. Kemustahilan untuk berbicara apapun tentang audien mungkin akan lebih membantu untuk menarik dan mengarahkan kesepakatan universal. Poin krusial bahwa hubungan antara teks media dan audience media (apapun bentuk hubungan itu dan apapun yang mungkin dilibatkannya) fundamental harus (pokok) dipahami bersifat secara dialogis esensial (terbuka). (mendasar) Pertanyaan dan dan

persoalan tentang respons audiens terhadap teks media adalah persoalan yang penting. Melalui media, individu menjadi sadar terhadap berbagai kewajiban moral mereka terhadap orang lain. Lebih bisa ditegaskan bahwa berkat dan melalui media keprihatinan moral dan persoalan persoalan moral diciptakan dan diekspresikan dalam situasi sosial budaya modern disini Keith Tester menggunakan kata moral dalam pengertian filosofis. Dengan kata tersebut Keith merujuk kepada cara yang kita gunakan untuk membedakan perbuatan betul dan salah. Sejau ini Keith tester hanya memunculkan persoalan bagaimana audiens merespon terhadap apa yang mereka lihat dan baca.