Anda di halaman 1dari 12

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi Kandidosis kutis adalah suatu penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur dari genus Candida. Kandidosis terbagi menjadi 2 macam yakni kandidosis profunda dan kandidosis superfisial. Nama lain kandidosis kutis adalah superficial kandidosis atau infeksi kulit-jamur; infeksi kulit-ragi; kandidosis intertriginosa. Berdasarkan letak gambaran klinisnya terbagi menjadi kandidosis terlokalisasi dan generalisata. Predileksi Candida albicans pada daerah lembab, misalnya pada daerah lipatan kulit. Organisme ini menyukai daerah yang hangat dan lembab.

1.2 Etiologi Mikroorganisme yang paling sering sebagai penyebab kandidiasis kutis adalah Candida albicans. Spesies patogenik yang lainnya adalah C. tropicalis C. parapsilosis, C. guilliermondii C. krusei, C.pseudotropicalis, C. lusitaneae.

1.3 Epidemiologi Candida albicans adalah saprofit yang berkoloni pada mukosa seperti mulut, traktus gastrointestinal, dan vagina. Merupakan jamur yang berbentuk oval dan dapat hidup dalam 2 bentuk yakni bentuk hifa dan bentuk yeast. Jumlah koloni sangat menentukan derajat penyakit, akan tetapi dilaporkan bahwa frekuensi terjadinya di mulut 18 %, vagina 15 %, dan mungkin dalam feses 19 %. Di Jepang, dilaporkan bahwa kutaneus kandidiasis terdapat pada 755 (1 %) dari 72.660 pasien yang keluar dari rumah sakit. Intertrigo (347 kasus) merupakan manifestasi klinis kandidiasis paling sering, erosi interdigitalis terjadi pada 103 kasus, diaper kandidiasis tercatat 102 kasus. Di Bombay, India, diperiksa 150 pasien dengan kandidiasis kutaneus. Kerokan kulit diuji dengan KOH 10 % dan dikultur di sabaoruds agar. Insiden tersering adalah intertrigo (75), vulvovaginitis (19), dan paronikia (17). Sedangkan jamur yang diisolasi didapatkan Candida albicans (136 kasus). Dan diabetes mellitus menjadi faktor predisposisi pada 22 orang pasien.

1.4 Patogenesis Candida albicans bentuk yeast-like fungi dan beberapa spesies kandida yang lain memiliki kemampuan menginfeksi kulit, membran mukosa, dan organ dalam tubuh. Organisme tersebut hidup sebagai flora normal di mulut, traktus vagina, dan usus. Dan berkembang biak melalui ragi yang berbentuk oval. Kehamilan, kontrasepsi oral, antibiotik, diabetes, kulit yang lembab, pengobatan steroid topikal, endokrinopati yang menetap, dan faktor yang berkaitan dengan penurunan imunitas seluler menyediakan kesempatan ragi menjadi patogenik dan memproduksi spora yang banyak pseudohifa atau hifa yang utuh dengan dinding septa. Ragi hanya menginfeksi lapisan terluar dari epitel membran mukosa dan kulit (stratum korneum). Lesi pertama berupa pustul yang isinya memotong secara horizontal di bawah stratum korneum dan yang lebih dalam lagi. Secara klinis ditemukan lesi merah, halus, permukaan mengkilap, cigarette paper-like, bersisik, dan bercak yang berbatas tegas. Kebanyakan spesies kandida memiliki faktor virulensi termasuk faktor protease. Kelemahan faktor virulensi tersebut adalah kurang patogenik. Kemampuan bentuk yeast untuk melekat pada dasar epitel merupakan tahapan paling penting untuk memproduksi hifa dan jaringan penetrasi. Penghilangan bakteri dari kulit, mulut, dan traktus gastrointestinal dengan flora endogen akan menyebabkan penghambatan mikroflora endogen, kebutuhan lingkungan yang berkurang dan kompetisi zat makanan menjadi tanda dari pertumbuhan kandida. Infeksi kandida juga diperburuk oleh pemakaian antibiotik, perawatan diri yang jelek, dan penurunan aliran saliva, dan segala hal yang berkaitan dengan umur. Dan pengobatan dengan agen sitotoksik (methotrexate, cyclophosphamide) untuk kondisi rematik dan dermatologik atau kemoterapi agresif untuk keganasan pada pasien usia lanjut juga memberikan resiko yang tinggi terhadap kandidiasis.

1.5 Faktor Predisposisi Bayi, wanita hamil, dan usia lanjut Hambatan pada permukaan epitel; karena gigi palsu, pakaian Gangguan fungsi imun (Primer : penyakit kronik granulomatosa, sekunder : leukemia, terapi kortikosteroid) Kemoterapi Penyakit endokrin; diabetes mellitus

Keganasan

1.6 Gejala Klinis Manifestasi klinis yang muncul dapat berupa gatal yang mungkin sangat hebat. Terdapat lesi kulit yang kemerahan atau terjadi peradangan, semakin meluas, makula atau papul, mungkin terdapat lesi satelit (lesi yang lebih kecil yang kemudian menjadi lebih besar). Lesi terlokalisasi di daerah lipatan kulit, genital, bokong, di bawah payudara, atau di daerah kulit yang lain

1.6.1 Kandidiasis Kutis Lokalisata 1.6.1.1 Kandidiasis Intertriginosa Lesi timbul di daerah predileksi pada daerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan atau kaki, glands penis, dan umbilikus. Berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah, dan eritematosa. Lesi tersebut dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif, dengan pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi primer. Kelainan pada sela-sela jari sering ditemukan pada orang yang banyak berhubungan dengan air, seperti tukang cuci, petani di sawah, orang yang memakai kaus dan sepatu terus-menerus. Kandidiasis pada kaki dan sela-sela jari ini sering disebut kutu air . kulit di sela-sela jari menjadi lunak, terjadi maserasi dan mengelupas seperti kepala susu. Faktor predisposisi kandidiasis intertriginosa ini adalah diabetes mellitus, kegemukan, banyak keringat, pemakaian obat antibiotic, kortikosteroid, sitostatik dan penyakit-penyakit yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun.

1.6.1.2 Kandidiasis Perianal Kandidosis perianal adalah infeksi Candida pada kulit di sekitar anus yang banyak ditemukan pada bayi, sering disebut juga sebagai kandidosis popok atau diaper rash. Hal ini terjadi karena popok yang basah oleh air kencing tidak segera diganti, sehingga menyebabkan iritasi kulit genital dan sekitar anus. Penyakit ini juga sering diderita oleh neonatus sebagai gejala sisa dermatitis oral dan perianal.1 Popok yang basah akan tampak seperti area intertriginosa buatan, merupakan tempat predisposisi untuk infeksi ragi. Lesi yang tampak berupa dasar merah dan

pustule satelit. Kadang sering dijumpai pula gejala pruritus ani.1 Bentuk nodular granulomatosis kandidosis di daerah popok, muncul sebagai kusam, eritem, dan nodul dengan bentuk yang tidak teratur, kadang-kadang dasar yang eritem merupakan reaksi biasa untuk organisme Candida atau infeksi Candida yang disebabkan oleh steroid. Meskipun infeksi dermatofit jarang terjadi di daerah popok, tetapi kasus ini sering ditemukan.Setiap upaya harus dilakukan untuk mengidentifikasi organism dan mengobati infeksi dengan tepat.

1.6.2 Kandidiasis Kutis Generalisata Lesi terdapat pada glabrous skin, biasanya juga di lipat payudara, intergluteal, dan umbilikus. Sering disertai glositis, stomatitis, dan paronikia. Lesi berupa ekzematoid,dengan vesikel-vesikel dan pustul-pustul. Penyakit ini sering terdapat pada bayi, mungkin karena ibunya menderita kandidiasis vagina atau mungkin karena gangguan imunologik sehingga daya tahan tubuh bayi tersebut rendah. Pada bayi baru lahir yang menderita kandidosis kutis generalisata, dengan vesikulopustul di atas eritem muncul pada saat bayi baru lahir atau beberapa jam setelah lahir. Lesi pertama kali muncul di muka, leher dan menyebar ke seluruh tubuh dalam waktu 24 jam.

1.6.3 Kandidiasis Granulomatosa Bentuk ini sering menyerang pada anak-anak. Lesi berupa papul merah ditutupi oleh krusta yang tebal kuning kecoklatan dan melekat ke dasarnya, membentuk granuloma menyerupai tanduk. Daerah predileksinya adalah muka, kepala, tungkai dan di dalam rongga faring. Otomikosis adalah salah satu infeksi pada telinga yang disebabkan oleh Candida albicans.

1.7 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain : Pemeriksaan langsung Pemeriksaan dengan kerokan kulit dengan penambahan KOH 10% akan memperlihatkan elemen candida berupa sel ragi, balastospora, pseudohifa atau hifa bersepta. Pemeriksaan langsung tidak dapat menetukan identifikasi etiologi

secara spesifik dan kurang sensitive dibandingkan dengan biakan.Pemeriksaan langsung mempunyai nilai sensitifitas dan spesifisitas sebesar 89,4% dan 83,90%. Pemeriksaan Biakan Biakan merupakan pemeriksaan paling sensitive untuk mendiagnosis infeksi Candida. Sabouraud Dextrose Agar (SDA) merupakan media standar yang banyak digunakan untuk pemeriksaan jamur.1 Media ini mengandung 10 gr pepton, 40 gr glukosa, dan 10 gr agar, serta ditambahkan 1000 ml air. Penambahan antibiotika pada SDA digunakan untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Biakan diinkubasi pada suhu kamar yaitu 25-270 C dan diamati secara berkala untuk melihat pertumbuhan koloni.1Koloni berwarna putih sampai kecoklatan, basah, atau mukoid dengan permukaan halus dan dapat berkerut. Hasil biakan dianggap negative bila tidak ditemukan pertumbuhan koloni dalam waktu empat pecan Serologi Untuk mendeteksi adanya antibodi Candida yang berkisar pada tes immunodifusi yang lebih sensitive seperti counter immunoelectrophoresis (CIE), enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), and radioimmunoassay (RIA). Produksi empat atau lebih garis precipitin dengan tes CIE telah menunjukkan diagnosis kandidiasis pada pasien yang terpredisposisi. Pemeriksaan histology Didapatkan bahwa spesimen biopsi kulit dengan pewarna periodic acid schiff (PAS) menampakkan hifa tak bersepta. Hifa tak bersepta yang menunjukkan kandidiasis kutaneus berbeda dengan tinea.

1.8 Diagnosis Banding Dermatitis intertriginosa Tinea pedis

1.9 Penatalaksanaan 1.9.1 Tatalaksana umum Edukasi tentang penyakit kandidiasis Hindari factor pencetus Jangan menggaruk lesi Hindari pemakaian handuk atau yang lainnya secara bersama

Semua pakaian dan alas tidur dicuci dengan air panas, jangan memakai pakaian dalam dari bahan sintetik serta sandal dari bahan karet, plastic atau imitasi

Konsumsi obat teratur

1.9.2 Tatalaksana khusus Terapi sistemik: CTM 2 3 kali tablet sehari bagi orang dewasa (bila gatal) Nistatin tablet Amfoterisin B (IV untuk kandidiasis sistemik) Kotrimazol (pada kandidiasis vaginalis dapat diberikan kotrimazol 500mg per vaginam dosis tunggal, sistemik dapat diberikan ketokonazol 2x200 mg dosis tunggal atau dengan flukonazol 150 mg dosis tunggal) Itrakonazol (pada kandidiasis vulvovaginalis. Dosis untuk orang dewasa 2x100 mg sehari, selama 3 hari) Terapi topical Larutan ungu gentian: - 0,5 % untuk selaput lendir 1-2% untuk kulit dioleskan sehari 2 kali selama 3 hari Nistatin dapat diberikan berupa krim, salep, emulsi. Golongan azol krim atau bedak mikonazol 2% bedak, larutan dan krim klotrimazol 1% krim tiokonazol 1% krim bufonazol 1% krim isokonazol 1% krim siklopiroksolamin 1% Antimikotik topikal lain yang berspektrum luas.

1.10

Prognosis Prognosis kutaneus kandidiasis umumnya baik, bergantung pada berat ringanya faktor predisposisi. Biasanya dapat diobati tetapi sekali-kali sulit dihilangkan. Infeksi berulang merupakan hal yang umum terjadi

BAB II ILUSTRASI KASUS

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Usia Jenis Kelamin Alamat Status Perkawinan Negeri Asal Agama Tanggal Pemeriksaan : Tn. L : 58 tahun : Laki-laki : Komplek Pemda Sungai Lareh : Sudah Menikah : Padang : Islam : 19 April 2012

KELUHAN UTAMA Gatal di sela jari 4 dan 5 kaki kiri dan kanan sejak 4 tahun yang lalu

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Gatal di sela jari kaki 4 dan 5 kaki kiri dan kanan sejak 4 tahun yang lalu Awalnya timbul bercak merah disertai gatal, dan digaruk oleh pasien sampai berdarah Pasien sehari-hari menggunakan kaos kaki berbahan tidak menyerap keringat selama 10 jam dalam sehari Kaos kaki hanya diganti 1 kali seminggu Pasien sering tidak mengeringkan telapak kaki sebelum menggunakan kaus kaki Pasien mandi 2x sehari dengan air ledeng Pasien sudah berobat ke Poliklinik Kulit RS.M.Djamil tanggal dan diberikan salep Baycuten Namun 2 bulan terakhir gatal kembali muncul disertai adanya bercak-bercak putih seperti susu Gatal apalagi dirasakan setelah masuk ke kamar mandi tanpa menggunakan alas kaki Pasien juga menderita penyakit DM sejak 8 tahun yang lalu, pengobatan tidak

teratur Riwayat tekanan darah tinggi ada pada pasien

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA/ATOPI/ALERGI Tidak ada anggota keluarga lain yang memiliki penyakit yang sama dengan pasien

II.

PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalisata Keadaan Umum Kesadaran Nadi Nafas TD Suhu : Sakit sedang : CMC : 80x/ menit : 18x/menit : 140/80 mmHg : 36,7 0C

Mata Kulit

: Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik : Turgor kulit baik

Paru Jantung Abdomen

: tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan

Status Dermatologikus

Lokasi Distribusi Bentuk Susunan Batas Ukuran Efloresensi

: Sela jari 4 dan 5 pada kaki kiri dan kanan : Terlokalisir, bilateral : Tidak khas : Tidak khas : Tegas : Numular : plak hipopigmentasi dengan nekrosis keputihan di atasnya

Status Venereologikus Tidak dilakukan

Kelainan selaput Kelainan kuku Kelainan rambut Kelainan kel.limfe

: tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan

III.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Darah Urine Feses Mikologi

: tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : kerokan kulit dengan KOH 10%

IV.

RESUME

Seorang laki-laki berusia 58 tahun dating ke Poliklinik Kulit di RS M Djamil Padang, dengan keluhan gatal di sela jari kaki 4 dan 5 kaki kiri dan kanan sejak 4 tahun yang lalu

ANAMNESIS : Gatal di sela jari kaki 4 dan 5 kaki kiri dan kanan sejak 4 tahun yang lalu Bercak merah disertai gatal, dan digaruk oleh pasien sampai berdarah Menggunakan kaos kaki berbahan tidak menyerap keringat selama 10 jam dalam sehari dan hanya diganti 1 kali seminggu Pasien sudah berobat dan diberikan salep Baycuten 2 bulan terakhir gatal kembali muncul disertai adanya bercak-bercak putih, apalagi dirasakan setelah masuk ke kamar mandi tanpa menggunakan alas kaki Riwayat DM sejak 8 tahun yang lalu, pengobatan tidak teratur

STATUS DERMATOLOGIKUS : Lokasi Distribusi Bentuk/susunan Batas Ukuran Efloresensi : di sela jari kaki 4 dan 5 pada kak kiri dan kanan : lokalisata bilateral : tidak khas : tegas : numular : plak hipopigmentasi dengan nekrosis keputihan di atasnya

V.

DIAGNOSIS KERJA Kandidiasis Kutis Interdigitalis Pedis IV-V

DIAGNOSIS BANDING Dermatitis intertriginosa Tinea pedis

VI.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN ANJURAN

Bakteriologis Mikologis

: tidak diperlukan : Kerokan kulit dengan KOH 10%, didapatkan gambaran hifa semu dan blastospora

ANJURAN Serologis Kultur Histopatologi : tidak diperlukan : dalam agar dekstrosa glukosa Sabouraud : tidak diperlukan

VII.

DIAGNOSIS Kandidiasis Kutan Interdigitalis Pedis IV-V

VIII. PENATALAKSANAAN

Terapi umum Edukasi tentang penyakit kandidiasis Hindari factor pencetus Jangan menggaruk lesi Hindari pemakaian handuk atau yang lainnya secara bersama Semua pakaian dan alas tidur dicuci dengan air panas, jangan memakai pakaian dalam dari bahan sintetik serta sandal dari bahan karet, plastic atau imitasi Konsumsi obat teratur

Terapi khusus Sistemik Loratadin 3x5mg (jika gatal)

Lokal Klotrimazol 2% cream 2x1 Bedak nistatin

IX.

Prognosis : Bonam : Bonam : Dubia ad Bonam : Bonam

Quo Ad Sanam Quo Ad Vitam Quo Ad Kosmetikum Quo Ad Functionam