Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM TANAH MATA KULIAH GEOGRAFI TANAH JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI ANGKATAN 2008

ANALISIS BONGKAH BASAH DAN BONGKAH KERING TANAH

Oleh: 1. ALFIAN HADI R 2. PURWANINGSIH 3. AYU RINDIA L 4. PRANITA 5. SYAIFUL BACHRI (084274006) (084274011) (084274013) (084274019) (084274043)

6. EHTIARI PURWENI (084274050)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI 2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayahNya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan laporan praktikum Geografi tanah ini. Pada praktikum ini kami meneliti tentang kerapatan bongkah basah dan bongkah kering tanah pada Desa Klagen, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan. Praktikum ini kami lakukan untuk memenuhi tugas Geografi Tanah dengan tidak mengesampingkan petunjuk percobaan serta literatur yang tersedia sehingga tugas ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Bapak Drs. Moch. Enoch, SE, M.Pd selaku Dosen Pembimbing mata kuliah Geografi Tanah serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan praktikum ini. Kami menyadari bahwa penulisan praktikum ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangundari berbagai pihak demi kesempurnaan laporan praktikum mata kuliah Geografi Tanah ini.

Surabaya, 27 Oktober 2009

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Setiap daerah di Indonesia memiliki jenis tanah yang berbeda-beda dan hal ini berarti pula tingkat kesuburan tanah setiap daerah juga berbeda. Tingkat kesuburan suatu jenis tanah salah satunya dipengaruhi oleh kerapatan bongkah basah dan bongkah kering. Kerapatan (densitas) tanah adalah perbandingan antara massa tanah dengan volumenya. Besar dinyatakan dengan g / cm3. Untuk mengetahui kerapatan tanah biasa digunakan cara sebagai berikut : 1) Kerapatan Bongkah Basah Perbandingan antara massa total tanah (Mt) dengan volume total tanah (Vt). Maka kerapatan bongkah basah dapat dinyatakan dengan rumus :

t=

2) Kerapatan bongkah kering Perbandingan antara massa tanah kering (Mp) dengan volume tanah (Vt). Maka kerapatan bongkah basah kering dapat dinyatakan dengan rumus : b=

Dalam praktikum ini kami mengambil sampel tanah dari Desa Klagen, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan. Setalah diadakan analisis kami akan mengetahui seberapa besar perbandingan antara bongkah basah dan bongkah kering tanah tersebut dan pengaruhnya terhadap tingkat kesuburan tanah di Desa Klagen,
Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan.

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah diatas maka kami susun rumusan masalah sebagai berikut : 1) Berapakah perbandingan antara kerapatan bongkah basah dan bongkah kering tanah dari Desa Klagen, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan.

C. Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari kegiatan praktikum ini adalah sebagai berikut : 1) Mengetahui perbandingan antara kerapatan bongkah basah dan bongkah kering tanah dari Desa Klagen, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan.

D. Manfaat Praktikum 1) Dapat mengetahui perbandingan antara kerapatan bongkah basah dan bongkah kering tanah dari Desa Klagen, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan.

E. Waktu dan Tempat Praktikum 1) Waktu

Pelaksanaan praktikum ini pada hari Rabu tanggal 21 Oktober 2009 pukul 07.00-selesai. 2) Tempat

Tempat pelaksanaan praktikum di taman jurusan Geografi, Universitas Negeri Surabaya.

ANALISIS

A. Menganalisis Struktur Tanah Metode Bongkah Basah dan Bongkah Kering Tanah.

1) Alat yang Diperlukan Ring sampler ukuran 1x1x1 cm kubik

Timbangan surat

Oven tanah

Plastik

Buku catatan

2) Bahan

Segumpal tanah sample dari Desa Klagen, Kecamatan Barat, Kabupaten


Magetan.

3) Langkah- langkah praktikum


1. Siapkan segumpal tanah

2. Cetak tanah menggunakan ring sampler ukuran 1x1x1 cm

3. Keluarkan tanah yang sudah dicetak dari ring sampler

4. Timbanglah tanah yang sudah dicetak dan masukkan dalam rumus T = Mt Vt

5. Kerapatan bongkah basah diketahui dari hasil tanah yang ditimbang tadi.

6. Masukkan tanah yang sudah ditimbang tadi kedalam oven tanah dan aturlah menurut urutan kelompok agar tanah tidak tertukar.

7. Oven tanah dengan suhu 600oC

8. Waktu mengoven kurang lebih 25 menit.

9. Setelah selesai dioven, buka oven dan diamkan sampai suhu oven kembali

0o C.

10. Setelah dingin ambil sampel tanah yang dioven kemudian di timbang kembali. Hasil timbangan sesudah di oven dimasukkan dalam rumus b = Mp Vt 11. Hasil timbangan tadi adalah kerapatan bongkah kering

12. Kerapatan bongkah basah dan kering kemudian kita masukkan dalam rumus : B= Mp Mt

4) Hasil Praktikum Dari hasil praktikum diperoleh data bongkah basah dan bongkah kering tanah (setelah di kurangi plastik 1 gr).
1. Berat tanah sebelum di oven 17 gr/1 cm3 =16 gr/ cm3 2. Berat tanah sesudah di oven 11 gr/1 cm3 = 10 gr/ cm3

jadi selisih sebelum dan sesudah di oven : Berat tanah sebelum dioven berat tanah sesudah di oven 16 gr/ cm3 -10 gr/ cm3 = 6 gr/ cm3 Selisih antara berat tanah sebelum di oven dengan berat tanah sesudah dioven sama dengan berat atau kandungan uap air dalam sample tanah tersebut.

Persentase kandungan uap air di hitung dari : =

x 100 %

= 62,5 %

KESIMPULAN

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan tanah yang berasal dari Desa Klagen, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan dapat disimpulkan bahwa selisih tanah sebelum dan sesudah dioven adalah 6 gr / cm3 dengan besar kandungan uap air 62,5 % dari berat keseluruhan tanah. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kandungan air dan kandungan bahan organik dalam tanah yang ada di Desa Klagen, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan cukup tinggi dan hal tersebut memastikan bahwa tanah tersebut cocok untuk pertanian seperti pertanian padi dan tembakau.