Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH I

Peran Pemerintah Dalam Kegiatan Perasuransian


Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Peranan Hukum Dalam Kegiatan Ekonomi

Dosen Pengampu: PROF. DR. SRI REDJEKI HARTONO, S.H.

Disusun Oleh : Nama NIM Kelas : Raharjani Prasetyaning Putri, S.H. : 11010111400097 : BSU HET-HKI

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011

Peran Pemerintah Dalam Kegiatan Perasuransian


Oleh : Raharjani Prasetyaning Putri, SH

Pendahuluan
Pada dasarnya kehidupan dan usaha manusia memiliki sifat yang hakiki yaitu sifat yang tidak kekal, keadaan ini selalu menyertai kehidupan manusia baik ia secara pribadi, maupun dalam kelompok masyarakat dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya, sifat alamiah ini mengakibatkan kita tidak dapat meramalkan suatu keadaan pada masa yang akan datang secara tepat, sehingga dengan demikian keadaan tersebut tidak akan memberikan rasa pasti, keadaan tidak pasti dapat berwujud dalam berbagai bentuk dan peristiwa yang biasanya selalu dihindari bila menimbulkan rasa tidak nyaman, keadaan ini biasanya atau lazimnya disebut resiko. Upaya untuk mengatasi sifat alamiah yang berwujud keadaan yang tidak pasti tersebut, oleh manusia dilakukan dengan cara menghindari atau melimpahkan kepada pihak-pihak lain di luar dirinya, upaya untuk mengurangi, menghindari resiko telah dilakukan oleh manusia sejak permulaan kegiatan ekonomi perdagangan yang masih sederhana, kegiatan inilah merupakan cikal bakal lahirnya lembaga asuransi. Dengan demikian, lembaga asuransi atau perusahaan asuransi sebagai salah satu lembaga yang ada dan tumbuh di dalam masyarakat berfungsi sebagai lembaga pelimpahan resiko dan sebagai penyerap dana dari masyarakat dengan mengumpulkan dana dari pelanggan yang membutuhkan jasa asuransi dengan membayar premi dan menggunakan kumpulan dana yang berasal dari kumpulan premi. Disamping itu perusahaan asuransi sebagai lembaga pengalihan dan pembagian risiko mempunyai kegunaan yang positif baik bagi masyarakat, perusahaan maupun bagi pembangunan negara. Mereka yang menutup

perjanjian asuransi akan merasa lebih tenang sebab mendapat perlindungan dari kemungkinan tertimpa suatu kerugian yang tidak diharapkan dikemudian hari. Suatu perusahaan yang mengalihkan risikonya pada lembaga asuransi akan dapat meningkatkan usahanya dan fokus kepada tujuan yang lebih besar. Demikian pula premi-premi yang terkumpul dalam suatu perusahaan asuransi dapat diusahakan dan digunakan sebagai dana untuk usaha pembangunan. Hasilnya akan dapat dinikmati masyarakat. Dalam rangka melaksanakan pembangunan nasional untuk

mewujudkan masyarakat adil dan makmur, aspek hukum memegang peranan yang sangat penting dalam pembangunan nasional, karena secara umum hukum mempunyai tujuan untuk menciptakan adanya keseimbangan kepentingan berupa kepastian hukum sehingga lahirlah keadilan yang proporsional dalam masyarakat yang sejahtera. Fungsi hukum tersebut juga meliputi dalam tatanan kehidupan ekonomi masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, peranan pemerintah sangat penting dalam menentukan suatu kebijakan-kebijakan yang dapat menunjang dan mendukung keberhasilan dari pelaksanaan pembangunan nasional terutama di bidang perasuransian.

Permasalahan
Tujuan dari pembangunan nasional itu sendiri adalah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur, merata materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merdeka, bersatu dan berdaulat dengan suasana kehidupan yang aman, tertib, tenteram dan dinamis dalam lingkungan pergaulan yang damai. Bertolak dari cita-cita tersebut, pemerintah dibentuk dalam rangka mencapai masyarakat adil dan makmur materiil dan spiritual, maka sesungguhnya pemerintah dapat dan mempunyai otoritas untuk masuk dan campur tangan dalam kehidupan masyarakat melalui kebijakan-kebijakannya. Bentuk kebijakan-kebijakan yang

diambil oleh pemerintah adalah berkaitan dengan pembentukan peraturan perundang-undangan yang menunjang keberhasilan dari pelaksanaan

pembangunan nasional. Dari sini muncul permasalahan yang menarik untuk dibahas secara lebih mendalam mengenai kebijakan pemerintah tersebut. Adapun permasalahan yang dimaksud adalah sebagai berikut: Bagaimanakah kebijakan pemerintah dalam kaitannya dengan usaha perasuransian?

Pembahasan
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selalu terjadi berbagai hal dan bisa berakibat positif maupun negative. Dalam masyarakat, pasti terjadi silang pendapat, perbenturan kepentingan, atau sengketa yang berkepanjangan dan meluas. Silang pendapat dan perbenturan kepentingan tersebut dapat terjadi hanya pada lingkungan terbatas tetapi mungkin berkepanjangan. Hal itu dapat terjadi karena ada tarik menarik kepentingan di antara kelompok dalam masyarakat. Hal itu juga dapat terjadi dalam kegiatan ekonomi di bidang asuransi. Negara dalam hal ini pemerintah mempunyai kewajiban untuk mengatur dan campur tangan dalam memprediksi kemungkinan pelanggaran yang terjadi dengan menyediakan rangkaian perangkat peraturan yang mengatur sekaligus memberikan ancaman berupa sanksi apabila terjadi pelanggaran oleh siapa pun pelaku ekonomi dalam hal ini perusahaan asuransi. Perangkat peraturan tersebut dapat meliputi peraturan yang mempunyai tujuan sebagai berikut : menjaga keseimbangan semua pihak yang berkepentingan terhadapnya, memberikan sanksi apabila memang sudah terjadi sengketa dengan cara menegakkan hukum yang berlaku, menyiapkan lembaga penyelesaian sengketa dan hukum acaranya. Berikut ini adalah kebijakan pemerintah di bidang perasuransian melalui peraturan perundang-undangan :

1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian Keberadaan undang-undang ini memberikan dasar hukum dalam pelaksanaan usaha perasuransian di Indonesia. Berdasarkan Pasal 1 butir (1) UU No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian, dinyatakan bahwa Asuransi atau Pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. Usaha asuransi merupakan satu jenis usaha di bidang jasa yang memberikan jasa proteksi. Hal itulah yang menyebabkan karakteristik dari usaha tersebut berbeda dengan jenis usaha lainnya. Keistimewaan dari usaha asuransi ini memerlukan pembinaan dan pengawasan dari pemerintah demi kepentingan masyarakat. Undang-undang ini pada dasarnya menganut azas spesialisasi usaha dalam jenis-jenis usaha di bidang perasuransian. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa usaha perasuransian merupakan usaha yang memerlukan keahlian serta ketrampilan teknis yang khusus dalam penyelenggaraannya. Mengenai pembinaan dan pengawasan ini telah diatur pada Pasal tersendiri dalam UU No. 2 Tahun 1992 tersebut. Hal ini tertuang dalam Pasal 10 hingga Pasal 19. Pembinaan dan pengawasan terhadap usaha perasuransian dilakukan oleh Menteri. Pembinaan dan pengawasan ini meliputi: a. Kesehatan keuangan bagi Perusahaan Asuransi Kerugian, Perusahaan Asuransi Jiwa dan Perusahaan Reasuransi, yang terdiri dari: 1. Batas tingkat solvabilitas;

Merupakan tolok ukur kesehatan keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Batas tingkat solvabilitas ini merupakan selisih antara kekayaan terhadap kewajiban, yang perhitungannya didasarkan pada cara perhitungan tertentu sesuai dengan sifat usaha asuransi. 2. Retensi sendiri; Retensi sendiri dalam hal ini merupakan bagian pertanggungan yang menjadi beban atau tanggung jawab sendiri sesuai dengan tingkat kemampuan Reasuransi keuangan yang perusahaan asuransi atau Perusahaan bagian

bersangkutan.

Reasuransi

merupakan

pertanggungan yang dipertanggungkan ulang pada perusahaan asuransi lain dan atau Perusahaan Reasuransi. 3. Reasuransi; Sesuai dengan sifat usaha asuransi di mana timbulnya beban kewajiban tidak menentu, maka Perusahaan Asuransi Kerugian, Perusahaan Asuransi Jiwa, dan Perusahaan Reasuransi perlu membentuk dan memelihara cadangan yang diperhitungkan berdasarkan pertimbangan teknis asuransi dan dimaksudkan untuk menjaga agar perusahaan yang bersangkutan dapat memenuhi kewajibannya kepada pemegang polis. 4. 5. 6. Investasi; Cadangan teknis; dan Ketentuan-ketentuan lain yang berhubungan dengan kesehatan keuangan; b. Penyelenggaraan usaha, yang terdiri dari: 1. Syarat-syarat polis asuransi; Asuransi ini merupakan perjanjian atau kontrak yang dituangkan dalam bentuk polis. Sebagai suatu perjanjian atau kontrak maka ketentuanketentuan yang diatur didalamnya tidak boleh merugikan kepentingan pemegang polis. 2. Tingkat premi;

Untuk melindungi kepentingan masyarakat luas, penetapan tingkat premi harus tidak memberatkan tertanggung, tidak mengancam kelangsungan usaha penanggung, dan tidak bersifat diskriminatif. Kaitannya dengan penetapan tingkat premi, tertanggung bebas dalam menentukan perusahaan asuransi yang dipilih untuk memberikan perlindungan terhadapnya. 3. Penyelesaian klaim; Dalam rangka pembinaan dan pengawasan, peraturan pelaksanaan yang mencakup masalah penyelesaian klaim akan menetapkan batas waktu maksimum antara saat adanya kepastian mengenai jumlah klaim yang harus dibayar dengan saat pembayaran klaim tersebut oleh penangung. Salah satu ketentuan yang berhubungan dengan penyelenggaraan usaha adalah mengenai pembayaran premi asuransi kepada penanggung atas risiko yang ditutupnya, sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat. 4. 5. Persyaratan keahlian di bidang perasuransian; dan Ketentuan-ketentuan lain yang berhubungan dengan penyelenggaraan usaha. Dalam rangka perlindungan atas hak tertanggung, Undang-undang ini juga menetapkan ketentuan yang menjadi pedoman tentang penyelenggaraan usaha, dengan mengupayakan agar praktek usaha yang dapat menimbulkan konflik kepentingan sejauh mungkin dapat dihindarkan, serta mengupayakan agar jasa yang ditawarkan dapat terselenggara atas dasar pertimbangan obyektif yang tidak merugikan pemakai jasa. 2. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 426/KMK.06/2003