Anda di halaman 1dari 4

VIRUS WHITESPOT DI BELAHAN DUNIA BARAT Alih bahasa oleh: (Joko TB dan Slamet H) S indrom virus yang dikenal

dengan WSSV disebabkan oleh Baculo, yaitu virus yang terdapat pada jenis crustaceae seperti: udang liar, kepiting, dan crayfish. WSSV pertama kali muncul di Asia Timur Laut tahun 1992-1993 dan dan menyebar di beberapa Negara Asia dan Indo Pasifik. Infeksi WSSV sebelumnya telah terjadi pada beberapa species penaeid seperti: P.monodon, P.chinensis, P.japonis, P.indicus, P.merguensis, dan P.setiferus. Sejak munculnya WSSV di Asia telah menyebabkan kerugian yang besar pada industri budidaya udang seperti di China, India, Jepang , Thailand, Indonesia, Srilangka, Malaysia, Bangladesh, dan lain-lain. Di China misalnya, tahun 1993 rugi US$ 1 milyar dan di Thailand tahun 1996 rugi US$ 500 juta. WSSV DI BELAHAN DUNIA BARAT Akhir Januari 1999, WSSV telah di deteksi pada tambak-tambak udang di 3 negara Amerika Tengah; Nicaragua, Guatemala, dan Honduras, dimana udang menunjukkan tanda-tanda stress yang tidak seperti biasanya. Gejala yang serupa dengan Taura Sindrom tetapi tidak seperti biasanya- tidak hanya terjadi pada Litopenaeus stylirostris, tapi juga terjadi pada L. vanamei. Di belahan dunia barat, WSSV telah ada dalam komoditi udang yang diimpor dari Asia dan dijual ke pasar Amerika. Pada November 1995 WSSV telah menginfeksi L. setiferus pada tambak udang di Texas. Sejak WSSV menjangkiti tambak-tambak udang di Amerika Tengah, beberapa industri tambak udang di Amerika Latin membuat syarat yang tegas untuk impor udang. Sebagai contoh, tanggal 15 Maret 1999 pemerintah Mexico mempublikasikan Official Mexican Emergency Norm, yang berisikan syarat untuk mencegah dan mengontrol serta menghilangkan penyakit WSSV dan YHV. GEJALA-GEJALA INFEKSI WSSV Gejala-gejala WSSV antara lain: Udang lemah Pakan turun Udang hamper mati dan berenang ke pinggir tambak Warna kulit luar berubah dari merah muda menjadi coklat kemerahan Tampak tanda putih (bintik putih) dikulit luar BAGAI MANA MENDETEKSI WSSV WSSV dapat dideteksi dengan metode: Molecular Biological; PCR (Polymerase Chain Reaction) Histologi REKOMENDASI HATCHERI Pilih tempat yang jauh dari sumber kontaminasi Sanitasi dan disinfeksi yang tepat dan sesuai standar Perlakuan air yang tepat sebelum digunakan Post Larva bebas virus Cuci telur-telur dengan bahan kimia yang distandarkan Jangan gunakan trash fish dan produk-produknya sebagai pakan induk Pertimbangkan penggunaan immunostimulan

REKOMENDASI MANAJEMEN TAMBAK Pengeringan tambak Sterilisasi tambak dan treatment pond Tebar dengan densitas lebih rendah untuk menurunkan tingkat stress udang Memonitor kondisi udang, terutama saat udang mogok makan dan pertumbuhan lambat, kelihatan lemah, tampak bintik puith Kolam yang terinfeksi didisinfeksi dengan Calcium Hipoclorid 40 ppm atau bahan sejenis Membuang udang yang mati Penggunaan bibit bebas penyakit tidak cukup, juga sama pentingnya dengan menghilangkan crustacea lain yang membawa virus (WSSV dan YHV). Di Thailand, prosedur pengaturan yang direkomendasikan meliputi pengisian tambak, kemudian menggunakan insektisida yang cepat larut. Secara rasional akan cepat menghilangkan semua crustacea yang ada ditambak. WSSV tidak dapat hidup bebas diluar inang lebih dari 3-4 hari, dapat dipastikan bahwa 5 hari setelah aplikasi insektisida, tambak akan bebas virus dan dapat diisi dengan bibit yang bebas penyakit. Tidak ada pergantian air dilakukan selama bulan 1 dan 2 setelah penebaran. Jika pergantian air diperlukan, air yang masuk disaring seefektif mungkin, untuk mencegah masuknya crustacea termasuk bibit udang liar, masuk ke dalam tambak. PENCEGAHAN PERKEMBANGBIAKAN PENYAKIT Sangat penting untuk mengamati kesehatan udang disemua tambak secara kontinyu, dan jika ditemukan adanya virus, tambak harus dipanen, atau dimatikan dengan insektisida. Tindakan ini dilakukan untuk menjaga tambak lain dan pertambakan diarea ini aman. Juga sangat penting untuk meminimalkan stress pada udang yang ditebar. Di Thailand dilaporkan penyebaran virus WSSV terjadi pada saat perubahan pH dan salinitas terjadi dengan cepat. Juga direkomendasikan untuk mengurangi bahkan menghilangkan tambak yang ditebar pada musim dingin, sejak terlihat bahwa WSSV muncul pada kondisi suhu rendah. Kehadiran virus di Amerika Tengah,dibahas dalam Seminar Teknik Pencegahan White Spot dan Yellow Head Virus dilaksanakan di Panama City, Panama, tanggal 8 10 April 1999, dengan Drs.Tim Flegel dan Dan Fegan (Thailand), Victoria Alday (Equador), Fernando Jimenez (Mexico), dan Ernesto Quintero (Panama) sebagai pembicara Pada hari terakhir seminar White Spot di Panama, tiga rangkaian kerja telah dicanangkan sebagai formula rekomendasi awal masalah virus White Spot di Amerika: yang pertama manajemen pembibitan, satu lagi pada manajemen tambak, dan yang terakhir adalah kebijakan institusi dan Negara. Penjelasan tentang masing-masing rekomendasi: REKOMENDASI MANAJEMEN HATCHERY (PEMBIBITAN) Hasil tes White Spot atau PCR dari sample yang ada harus dilaksanakan. Stress benur dalam karantina dapat menyebabkan kemungkinan meningkatnya hasil positif khusus benur yang membawa virus. Memerlukan waktu tiga minggu untuk menunggu sebelum mendapatkan hasil yang diinginkan. Semua makanan yang diimpor untuk pembenih dan larva harus masuk dengan sertifikasi kebersihan Bebas Virus White Spot yang dikeluarkan oleh ahli sanitasi negara asalnya. Semua makanan lokal untuk pembenih dan larva dapat diberikan ketika sertifikat sanitasi bebas dari Virus White Spot yang berasal dari ahli sanitasi lokal telah dikeluarkan.

Semua naupli, baik produksi lokal maupun impor, harus didisinfeksi secara benar. Kemungkinan adanya penyakit white spot pada sample dapat didiagnosa dengan metode PCR. REKOMENDASI MANAJEMEN TAMBAK Tambak Dan Pertanian Kosong Disinfeksi tandon air, kanal dan dasar tambak untuk menghindari crustacea hidup yang masih tertinggal (sebagai carier potensial). Meningkatkan penyaringan air, di pusat pemompaan, tandon air, kanal dan tempat masuknya air ke tambak untuk mengurangi masuknya crustecea. Tambak Produksi Pilih PL bebas WSSV. Metode seleksi akhir dengan menggunakan formalin pada beberapa PL sebelum tebar, musnahkan semua yang mati dan PL lemah setelah perlakuan formalin. Meningkatkan penyaringan air di pusat pemompaan, tandon air, kanal dan inlet tambak untuk mengurangi masuknya crustacea. Ketika memungkinkan, perlakuan air setelah tambak penuh dan sebelum penebaran untuk membunuh crustacea sebagai pembawa virus. Klorin atau insektisida yang mudah larut dapat digunakan untuk tujuan tersebut. Tunggu sampai produk disinfektan terurai sebelum penebaran PL. Pergantian air dengan ketat dikurangi, hanya ketika perlu ganti air dilakukan untuk menjaga kondisi air tetap baik. Konsumsi pakan diamati dengan tepat, konsumsi pakan yang drastis mungkin merupakan tanda pertama serangan virus. Jika memungkinkan, gunakan aerator untuk menjaga kadar oksigen tetap baik dengan pergantian air yang minim atau tidak sama sekali. Pengaturan masing-masing petak dengan tujuan utama untuk mengurangi perubahan parameter air (salinitas, suhu, pH, oksigen, dll), yang bisa memicu penyebaran virus. Sesegera mungkin penyebaran virus diamati, panen tambak jika ukuran udang sudah memiliki nilai jual. Untuk panen darurat (udang positif terserang virus), informasikan waktu panen kepada tetangga/patnernya sebagai kode etik petambak udang. Jika memungkinkan, jagalah semua air yang keluar dari panen, masuk ke dalam tambak perlakuan (treatmen pond), kemudian didisinfeksi dan jagalah selama 4 hari sebelum mengalirkannya ke luar sistem, untuk menghindari penyebaran virus ke lingkungan, karena virus hanya dapat hidup bebas selama sekitar 3 hari di dalam air. Jika diperkirakan biomassa yang tertinggal di dalam tambak kurang lebih 10%, yang masih hidup, lakukan disinfeksi tambak, dengan udang tetap ada di dalamnya. Tunggu sedikitnya 4 hari sebelum mengalirkan air dari tambak. Kumpulkan udang yang mati dan musnahkan, dengan cara membakar atau mengubur dalam lokasi yang aman. ATURAN (HUKUM) Tingkatkan aturan, norma, kode dan hukum: 1. Biosekuriti 2. Penggantian keuangan untuk hilangnya udang dan biaya perlakuan tambak setelah penjangkitan virus

3. Menekankan kepada Processing Plants bahwa norma kebersihan tidak hanya untuk keamanan manusia, tetapi juga untuk keamanan udang 4. Menekankan norma kebersihan pada pabrik pakan MANAJEMEN ALTERNATIF UNTUK WSSV DAN VIRUS UDANG LAINNYA DI MASA DATANG Salah satu alternatif manajemen yang memungkinkan adalah pengembangan vaksin untuk udang. Ini merupakan teori yang dikemukakan oleh Dr. Tim Flegel yang berbicara secara detil tentang masalah ini pada seminar di Panama. Toleransi hewan terhadap virus bergantung pada kondisi lingkungan. Jika kita menyebabkan mereka stress, infeksi akan terbentuk dan mereka akan mati. Sangat menarik untuk dicatat bahwa WSSV memiliki lebih dari 40 carier, tetapi tidak menyebabkan kematian, meskipun membuat infeksi yang berat. PENUTUP WSSV bagaimanapun, dapat diatur, seperti yang diperlihatkan oleh Thailand dan Negara Asia lainnya. Yang utama, Negara-negara ini telah melakukan pengeluaran untuk WSSV, dengan menggunakan bibit bebas virus dan dengan tidak membiarkan spesies carier masuk ke dalam tambak. Produksi stok bibit Penaeid (dan industri pertambakan udang diseluruh dunia) adalah tetap, dengan pertimbangan ringan, bergantung pada stok benur liar. Ketergantungan ini sangat berbahaya sekali, semakin banyak stok udang yang liar diseluruh dunia hasil tesnya positif terhadap beberapa jenis virus yang berbahaya. Survey yang dilakukan baru-baru ini pada pembibitan udang di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, dilaporkan bahwa 80% hatchery tetap bergantung pada stok benur liar atau telur, dan 20% bergantung pada stok benih yang dibudidayakan. Pertambakan tidak dapat bergantung terus pada alam untuk dapat mensuplai material yang dibutuhkan untuk budidaya selama-lamanya. Tetapi strategi yang lebih menjanjikan untuk menanggulangi penyakit ini, yang kemungkinan muncul dikemudian hari, adalah mengembangkan benur yang tahan terhadap patogen. Program seleksi benur secara terus menerus, dan pengembangan vaksin yang potensial.