Anda di halaman 1dari 25

INDEKS WILLIAMSON KAWASAN BARAT INDONESIA TAHUN 2000

RUMUS : Keterangan : Vwi : Ketimpangan Regional

Y.prop : Pendapatan Per Kapita di Propinsi Ke-1 Y.nas : Pendapatan Perkapita Rata-rata Seluruh Propinsi fi N : Jumlah Penduduk di Propinsi Ke-1 : Jumlah Penduduk di Wilayah Indonesia ( Bagian Barat dan Bagian Timur ) Diketahui = PDRB nasional ( ) = 6.147.045 Jumlah penduduk di kawasan (N) = 167.712.000 1. Nangroe Aceh Darussalam

0,03
2. Sumatera Utara

0,0144

3. Sumatera Barat

0,0223 4. Riau

0,14
5. Jambi

0,0448

6. Sumatera Selatan

0,0045

7. Bengkulu
( ) ( )

0,05096
8. Lampung
( ) ( )

0,088

9. Kep. Bangka Belitung

0,0026

10. DKI Jakarta

0,598

11. Jawa Barat

0,0945

12. Jawa Tengah

0,1667

13. D.I Yogyakarta

0,0433 14. Jawa Timur

0,0938

15. Banten

0,0291

16. Bali

0,0026

Vw i KBI = = = 0,09

INDEKS WILLIAMSON KAWASAN TIMUR INDONESIA TAHUN 2000

Diketahui = PDRB nasional ( y ) = 6.147.045 Jumlah penduduk di kawasan timur ( N ) = 38.129.000

1.

Nusa Tenggara Barat

0,0797

2. Nusa Tenggara Timur

0,1103

3. Kalimantan Barat

0,0421

4. Kalimantan Tengah

0,005
5. Kalimantan Selatan

0,016

6. Kalimantan Timur

0,47
7. Sulawesi Utara

0,0283

8. Sulawesi Tengah

0,0437
9. Sulawesi Selatan

0,0961
10. Sulawesi Tenggara

=
(

0,0508
11. Gorontalo

0,0482

12. Maluku

0,0515
13. Maluku Utara

0,0377
14. Papua

0,0616 Vw i KTI = = = 0,0815

ANALISIS INDEKS WILLIAMSON DI KAWASAN BARAT INDONESIA

1. NANGGROE ACEH DARUSSALAM Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi NAD dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,03 ( NAD ) disbanding 0,09 ( KBI ). 2. SUMATERA UTARA Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Sumatera Utara dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0144 ( Sumatera Utara ) dibanding 0,09( KBI ). 3. SUMATERA BARAT Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Sumatera Barat dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0223 ( Sumatera Barat ) dibanding 0,09( KBI ). 4. RIAU Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Riau dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,14 ( Riau ) dibanding 0,09 ( KBI ).

5. JAMBI Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Jambi dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0448 ( Jambi ) dibanding 0,09 ( KBI ). 6. SUMATERA SELATAN Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Sumatera Selatan dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0045(Sumatera Selatan ) dibanding 0,09(KBI ). 7. BENGKULU Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Bengkulu dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,05096 ( Bengkulu ) dibanding 0,09 ( KBI ). 8. LAMPUNG Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Lampung dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,088 ( Lampung ) dibanding 0,09( KBI ). 9. KEP.BANGKA BELITUNG Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Kep. Bangka Belitung dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0026 ( Kep. Bangka Belitung ) dibanding 0,09 ( KBI ).

10. DKI JAKARTA Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi DKI Jakarta dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan sedang, karena terletak antara 0,5-0,74. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih tinggi, yakni 0,598 ( DKI Jakarta ) dibanding 0,09 ( KBI ). 11. JAWA BARAT Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Jawa Barat dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih tinggi, yakni 0,0945 ( Jawa Barat ) dibanding 0,09 ( KBI ). 12. JAWA TENGAH Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Jawa Tengah dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,1667 ( Jawa tengah ) dibanding 0,09 ( KBI ). 13. DI YOGYAKARATA Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi DI Yogyakarta dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0433 ( DI Yogyakarta ) dibanding 0,09 ( KBI ). 14. JAWA TIMUR Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Jawa Timur dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,00938 ( Jawa Timur ) dibanding 0,09 ( KBI ).

15. BANTEN Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Banten dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0291 ( Banten ) dibanding 0,09 ( KBI ). 16. BALI Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Bali dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Barat Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0202 ( Bali ) dibanding 0,09 ( KBI ).

ANALISIS INDEKS WILLIAMSON DI KAWASAN TIMUR INDONESIA

1. NUSA TENGGARA BARAT Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Nusa Tenggara Barat dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0797(Nusa

Tenggara Barat) dibanding 0,0815 ( KTI ). 2. NUSA TENGGARA TIMUR Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Nusa Tenggara Timur dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih tinngi, yakni 0,1103(Nusa Tenggara Timur) dibanding 0,0815 ( KTI ). 3. KALIMANTAN BARAT Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Kalimantan Barat dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0421( Kalimantan Barat) dibanding 0,0815 ( KTI ). 4. KALIMANTAN TENGAH Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Kalimantan Tengah dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,005 ( Kalimantan Tengah) dibanding 0,0815 ( KTI ).

5. KALIMANTAN SELATAN Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Nusa Tenggara Barat dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,016 ( Kalimantan Selatan) dibanding 0,0815 ( KTI ). 6. KALIMANTAN TIMUR Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Kalimantan Timur dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih tinggi, yakni 0,47 ( Kalimantan Timur) dibanding 0,0815 ( KTI ). 7. SULAWESI UTARA Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Sulawesi Utara dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan ratarata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0283 ( Sulawesi Utara) dibanding 0,0815 ( KTI ). 8. SULAWESI TENGAH Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Sulawesi Tengah dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0437 ( Sulawesi tengah) dibanding 0,0815 ( KTI ).

9. SULAWESI SELATAN Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Nusa Tenggara Barat dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih tinggi, yakni 0,0961 ( Sulawesi Selatan) dibanding 0,0815 ( KTI ). 10. SULAWESI TENGGARA Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Sulawesi Tenggara dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0508 ( Sulawesi Tenggara) dibanding 0,0815 ( KTI ). 11. GORONTALO Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Gorontalo dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan ratarata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0482 ( Gorontalo) dibanding 0,0815 ( KTI ). 12. MALUKU Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Maluku dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0515 ( Maluku) dibanding 0,0815 ( KTI ).

13. MALUKU UTARA Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Maluku Utara dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan ratarata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0377 ( Maluku Utara) dibanding 0,0815 ( KTI ). 14. PAPUA Berdasarkan analisis Indeks Williamson, provinsi Papua dapat diklasifikasikan memiliki indeks ketimpangan rendah, karena terletak antara 0-0,49. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Vwi Kawasan Timur Indonesia, provinsi ini juga memiliki ketimpangan lebih rendah, yakni 0,0616 (Papua) dibanding 0,0815 ( KTI ).

DISKRIPSI KUADRAN KLASSEN TAHUN 2000

Batas kuadran merupakan rata-rata PDRB perkapita Atas Dasar Harga Berlaku

menurut propinsi (Ynasional ) dan Laju Pertumbuhan PDRB perkapita atas dasar harga berlaku (rnasional) pada tahun 2000. Rata-rata PDRB perkapita Atas Dasar Harga Berlaku menurut propinsi (Y) tahun 2000 adalah 6.147.045,033 dan Laju Pertumbuhan PDRB perkapita atas dasar harga berlaku (r) pada tahun 2000 adalah 1,23.

Kuadran I : pada kuadran ini r

prop

> rnas dan Yprop > Ynas. Hal ini menunjukkan

propinsi tersebut mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang di dominasi pada sektor industry, jasa, kaya akan sumber daya alam, dan perdagangan. Pendapatan perkapita daerah juga tinggi. yang termasuk dalam kuadran I pada tahun 2000 adalah DKI Jakarta. Jakarta merupakan daerah yang maju dan berkembang pesat, ekonomi dan pertumbuhan daerah sama- sama berkembang.

Kuadran II : pada kuadran ini r

prop

< rnas dan Yprop > Ynas. Yang berkembang

pada daerah yang terletak pada kuadran II adalah sektor agraris terutama perkebunan dan kehutanan. Selain itu sektor industry juga mulai berkembang pada daerah ini. Pada tahun 2000 yang termasuk kuadran ini adalah : Nanggroe Aceh Darusalam, Riau, Banten, Kalimantan Timur, Papua.

Kuadran III : pada kuadran ini ini r

prop

> rnas dan Yprop < Ynas. Propinsi-

propinsi yang termasuk dalam kuadran ini masih mengandalkan sektor agraris untuk eksport dan pendapatan daerahnya. Walaupun pendapatan ekonomi daerah ini tinggi tetapi pertumbuhan ekonomi rendah. Yang termasuk dalam kuadran ini pada tahun 2000 adalah propinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, NTB, dan NTT

Kuadran IV : pada kuadran ini r

prop

< rnas dan Yprop < Ynas. Propinsi yang

masuk dalam kuadran ini termasuk miskin akan sumber daya alam atau propinsi yang baru mengalami pemekaran. Pertumbuhan ekonomi dan pendapatan daerah pada propinsi di kuadran IV dikatakan rendah. Yang termasuk dalam kuadran iini pada tahun 2000 adalah : Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kep. Bangka Belitung, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara.

ANALISIS KUADRAN BERDASARKAN TEORI ROSTOW

KUADRAN I Pada kuadran I menunjukkan bahwa suatu daerah atau propinsi yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, karena pertumbuan ekonomi propinsi yang berada pada kuadran 1 berada diatas pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi propinsi yang tinggi dicirikan oleh pendapatan perkapita yang tinggi.Propinsi satu-satunya yang menempati kuadran I adalah:

1. DKI Jakarta DKI Jakarta merupakan ibukota Negara Republik Indonesia, dan menjadi pusat dari sektor perdagangan, industri, maupun perekonomian. Jakarta merupakan tempat yang banyak digunakan untuk mengdukan nasib oleh penduduknya. Secara potensi wilayah DKI Jakarta tidak ditemukan sumber Daya Alam, seperti bahan tambang dan sebagainya, tetapi di daerah ini yang menjadi andalan adalah di lihat dari sektor industri dan perdagangan. Dilihat dari teori Rostow Wilayah DKI Jakarta merupakan tahap Take off ( Tinggal Landas ), yaitu suatu masa di mana berlakunya perubahan yang sangat drastic dalam masyarakat seperti revolusi politik, terciptanya kemajuan yang pesat dalam inovasi atau berupa terbentuknya pasar baru. Dalam teori ini berbagai macam tantangan sudah dilarang karena masyarakat sudah terbuka atas ide-ide atau nilai baru yang

produktif, IPTEK dan berkembangnya berbagai macam industri. Di samping investasi untuk sektor industri dan produksi juga pada sector pendidikan.

KUADRAN II Pada kuadran II menunjukkan bahwa daerah / provinsi yang berada pada wilayah ini yang berkembang pada sektor agraris, terutama perkebunan dan kehutanan, tetapi walaupun demikian sektor industri juga mulai berkembang. Propinsi yang berada pada kuadran II adalah NAD, Riau, Banten, Kalimantan Timur, dan Papua. Dari grafik yang ada, analisis yang diambil adalah wilayah yang berada pada titik ekstrim tertinggi dan terendah pada tahun 2000, yaitu wilayah mempunyai titik ekstrim tinggi adalah Nanggro Aceh Darussalam, sedangkan titik ekstrim terendah adalah wilayah Kalimantan Timur. 1. Nanggro Aceh Darussalam 2. Kalimantan Timur

KUADARAN III Pada kuadran III menunjukkan bahwa propinsi yang sedang berkembang yang secara ekonomi memiliki pertumbuhan yang rendah tetapi memiliki pendapatan daerah yang tinggi. Propinsi yang berada pada wilayah ini adalah : Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah,

DI.Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, NTB, NTT. Dari grafik yang ada, analisis yang diambil adalah wilayah yang berada pada titik ekstrim tertinggi dan terendah pada tahun 2000, yaitu wilayah mempunyai titik ekstrim tinggi adalah Sulawesi Utara, sedangkan titik ekstrim terendah adalah wilayah Sumatera Utara. 1. Sulawesi Utara 2. Sumatera Utara

KUADRAN IV

Pada kuadran IV ini merupakan propinsi yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang teringgal.Pada tahun 2000 propinsi yang berada didaerah ini adalah Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kep. Bangka Belitung,Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Maluku Utara. Dari grafik yang ada, analisis yang diambil adalah wilayah yang berada pada titik ekstrim tertinggi dan terendah pada tahun 2000, yaitu wilayah mempunyai titik ekstrim tinggi adalah Sulawesi Tenggara, sedangkan titik ekstrim terendah adalah wilayah Bengkulu. 1. Sulawesi Tenggara 2. Bengkulu

TIPOLOGI KLASSEN

Y Yprop > Ynas r rprop > rnas 1. DKI Jakarta

Yprop < Ynas 1. Sumatera Utara 2. Sumatera Barat 3. Jambi 4. Jawa Barat 5. Jawa Tengah 6. D.I Yogyakarta 7. Jawa Timur 8. Kalimantan Selatan 9. Sulawesi Utara 10. NTB 11. NTT 1. Sumatera Selatan 2. Bengkulu 3. Lampung 4. Bali 5. Kalimantan Barat 6. Kalimantan Tengah 7. Sulawesi Tengah 8. Sulawesi Selatan 9. Sulewesi Tenggara 10. Maluku

rprop < rnas

1. 2. 3. 4.

Nanggroe Aceh Darusalam Riau Kalimantan Timur Papua

ANALISIS TIPOLOGI KLASSEN TAHUN 2000 MENURUT PROPINSI DI INDONESIA

Kolom 1 Pada kolom 1 diisi oleh propinsi yang sudah maju dan berkembang pesat. Propinsi ini memiliki PDRB propinsi > PDRB Nasional serta laju pertumbuhan propinsi > laju pertumbuhan nasional. Pada tahun 2000 kolom 1 di isi oleh propinsi DKI Jakarta . Pada umumnya propinsi- propinsi yang masuk dalam tipologi 1 ini memiliki perkembangan ekonomi yang baik dan maju secara pesat, dan perkembangan ekonomi yang baik ini di imbangi dengan pembangunan daerah yang baik pula.

Kolom II Pada kolom II diisi oleh propinsi yang sudah berkembang. Propinsi ini memiliki PDRB propinsi < PDRB nasional dan laju pertumbuhan propinsi > laju pertumbuhan nasional. Pada tahun 2000 kolom II didisi oleh propinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, NTB, NTT. Pada umumya propinsi- propinsi yang masuk dalam kolom II ini memiliki pendapatan dari sector pertambangan.

Kolom III Pada kolom III diisi oleh propinsi yang maju tetapi tertekan. Propinsi ini memiliki PDRB propinsi > PDRB nasional tetapi laju pertumbuhan propinsi < laju pertumbuhan nasional. Pada tahun 2000 kolom III diisi oleh propinsi Nanggroe Aceh Darusalam, Riau, Kalimantan Timur, Papua. Pada umumnya propinsi- propinsi yang ada di kolom III ini maju tetapi tertekan yang mungkin salah satunya di akibatkan adanya konflik dalam masyarkatnya. Kolom IV Pada kolom IV diisi oleh propinsi yang tertinggal. Propinsi ini memiliki PDRB propinsi < PDRB nasional serta laju pertumbuhan propinsi < laju pertumbuhan nasional. Pada tahun 2000 kolom IV diisi oleh propinsi Sumatera Selatan,

Bengkulu, Lampung, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku. Pada umumnya propinsi propinsi yang masuk dalam kolom IV masih mengandalkan sektor pertanian, sumbangan terbesar pendapat daerah dari pertanian, tetapi karena pengolahan pertaniannya masih menggunakan cara tradisional menyebabkan daerah ini menjadi daerah yang tertinggal.