Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah kita rasakan sekarang ini. Tidak hanya dalam hal kebutuhan hidup sehari-hari, teknologi telah banyak membantu manusia dalam melakukan aktivitasnya setiap hari. Semua jadi serba mudah jika kita mampu memanfaatkan teknologi tersebut. Selain itu, teknologi juga telah merambat sampai pada hal-hal yang bersifat dasar, yakni pada sistem reproduksi atau pada proses memperbanyak dan mengubah organisme. Contohnya adalah rekayasa genetika, mutasi, perubahan bentuk dan model wajah, perubahan atau transformasi alat kelamin dan yang tak kalah hebohnya adalah teknologi bayi tabung dan fenomena reproduksi dengan proses kloning. Walaupun telah disadari bahwa untuk dapat mempertahankan jenisnya, maka setiap organisme harus berkembangbiak atau bereproduksi. Dimana reproduksi ini melibatkan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina. Tapi karena perkembangan bioteknologi, proses reproduksi tidak harus melibatkan kedua sel kelamin tersebut, contohnya pada reproduksi dengan proses kloning, di mana sel sperma atau sel kelamin jantan tidak diperlukan lagi. Cukup dengan sel telur dan seorang wanita saja seorang ahli kloning bisa memperbanyak organisme dan menghasilkan keturunan baru yang persis sama dengan induknya. Katak yang merupakan salah satu organisme tingkat tinggi yang sangat mudah diamati perkembangannya. Binatang yang termasuk dalam amphibian ini memulai perkembangannya dari tahap telur yang diiringi dengan pembentukan organ-organ yang menyusun organism tersebut atau biasa disebut dengan proses pembentukan organ (organogenesis). Hal inilah yang menjadi pertimbangan mengapa telur katak menjadi pilihan para ilmuan. Olehnya itu melalui praktikum ini, diharapkan agar kita dapat membandingkan hasil pengamatan kita dengan teori yang ada. Hal inilah yang melatar belakangi sehingga kami melakukan praktikum tentang perkembangan embrio katak.

B. Tujuan Praktikum
Praktikum ini dilakukan dengan tujuan untuk: 1. Mempelajari perkembangan embrio katak mulai zigot sampai bentuk larva. 2. Mempelajari tipe dan pola pembelahan embrio katak. 3. Mempelajari pembentukan bakal organ katak yang berasal dari setiap lapisan embrional.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Perkembangan embrio adalah rangkaian kejadian yang sangat kompleks yang harus terkoordinasi sebagaimana mestinya. Komunikasi tingkat tinggi harus terjadi di antara sel untuk memungkinkan perkembangan jaringan, organ dan sistem. Beberapa konsep umum perkembangan adalah diferensiasi, determinasi dan induksi, di mana induksi adalah proses ketika sebuah mediator kimia yang dilepaskan dari salah satu bagian embrio memberikan pengaruh morfogenik spesifik di bagian lain dengan menginduksi alur perkembangan khusus. Akibat dari induksi, bersamaan dengan sel di dekatnya, jaringan dan akhirnya organ dapat terbentuk (Bresnick, 2003). Pembelahan petama pada katak dimulai pada kutub anima dan secara perlahan bergerak menuju daerah vegetatif dan membagi dua sabit kelabu. Pembelahan kedua

juga dimulai pada kutub anima, tegak lurus pembelahan pertama. Bidang pembelahan ketiga adalah horizontal, melintas dekat kutub anima, dan membelah blastomer kecil kearah hemisphere anima, dan 4 blastomer besar pada kutub vegetatif. Pembelahan keempat adalah meridional simultan, dan pembelahan kelima adalah equatorial atau horizontal (Adnan, 2008). Gastrula dibentuk dari serangkaian proses gerakan sel, dengan hasil akhir berupa 3 lapisan embrional, yaitu ectoderm, mesoderm dan endoderm. Dengan adanya gerakan sel ini, sel-sel yang awalnya berada di permukaan akan berpindah ke bagian dalam dari blastula. Pelekukan terjadi di daerah batasan antara mikromer dan makromer, yang selanjutnya menjadi bibir dorsal blastoporus (merupakan tahapan yang menuju tahap gastrula awal) dan berakibat terjadi invaginasi sehingga sel-sel yang berada di luar bermigrasi ke dalam (Adnan, 2008). Adapun perkembangan katak dari telur menjadi dewasa adalah mengikuti urutan berikut. Pada awalnya, katak betina dewasa akan bertelur, kemudian telur tersebut akan menetas setelah 10 hari. Setelah menetas, telur katak akan menjadi berudu dan pada umur 2 hari, berudu memiliki insang luar yang berbulu untuk bernafas. Setelah berumur 3 minggu, insang berudu akan terbentuk kemudian membesar ketika kaki belakang mulai muncul. Umur 12 minggu, kaki depannya mulai terbentuk, ekornya jadi pendek serta bernafas dengan paru-paru. Setelah pertumbuhan anggota badannya sempurna, maka katak tersebut menjadi katak dewasa (Anonim, 2011). Pembelahan pada embrio katak dan salamander merupakan pembelahan radial holoblastik. Telur katak mengandung jumlah yolk yang relative banyak dan terkonsentrasi pada kutub vegetatif. Pembelahan pertama dimulai pada kutub anima dan secara perlahan bergerak menuju daerah vegetatif dan membagi dua sabit kelabu (gray crencent). Pembelahan kedua juga dimulai pada kutub anima, tegak lurus pembelahan pertama. Bidang pembelahan ketiga adalah horizontal, melintas dekat kutub anima dan membelah blastomer menjadi empat blastomer kecil kea rah hemisphere anima, dan 4 blastomer besar pada kutub vegetatif. Pembelahan keempat adalah meridional simultan dan pembelahan kelima adalah ekuatorial atau horizontal (Adnan, 2008). Pada katak ternyata spermatozoa masuk sedikit di bawah puncak kutub animal. Jalan masuk spermatozoa ke dalam sitoplasma dapat dijajaki karena tersisihnya pigment dan ditempat itu jadi terang dan kelabu. Daerah itu disebut sabit kelabu atau gray crescent, karena berbentuk sabit. Bidang yang membelah sabit kelabu jadi dua belahan kiri dan kanan adalah yang akan menjadi bidang median embrio. Pada amphioxus tempat masuk spermatozoa ialah di daerah kutub vegetal. Tapi bagi kebanyakan Vertebrata, tempat masuk spermatozoa itu ialah di daerah samping kutub animal (Yatim, 1994).

III.

METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Praktikum
Hari/ Tanggal : Selasa/ 13 Desember 2011 Waktu : Pukul 13:20 s/d 14:00 WITA Tempat : Laboratorium Biologi lantai II, sebelah Timur, Jurusan Biologi FMIPA UNM

B. Alat dan Bahan praktikum


1. Alat Toples kecil

2. Bahan 1) Berudu 2) Berudu berkaki belakang 3) Berudu berkaki depan belakang 4) Katak muda berekor 5) Katak muda 6) Katak dewasa

C. Prosedur Kerja
1. Mengamati setiap objek pengamatan, dari berudu sampai katak dewasa. 2. Menggambar setiap objek pengamatan dari berudu sampai pada katak dewasa, serta menuliskan bagian- bagiannya.

IV.

HASIL PENGAMATAN
A. Hasil Pengamatan 1. Zigot Keterangan: 1. Zigot 2. Yolk

2. Blastula Keterangan: 1. Blastula

3. Gastrula Keterangan: 1. Rongga blastocoels 2. Yolk 3. Gastrula 4. Ektoderm

4. Berudu Keterangan: 1. Mata 2. Tubuh 3. Usus 4. Ekor

5. Berudu berkaki belakang

Keterangan: 1. Mata 2. Tubuh 3. Kaki 4. Ekor

6. Berudu berkaki depan belakang

Keterangan: 1. Mata 2. Kaki 3. Ekor 4. Tubuh

7. Katak Muda Keterangan: 1. Kaki depan 2. Hidung 3. Kepala 4. Mata 5. Tubuh 6. Kaki belakang

8. Katak Dewasa Keterangan: 1. Kaki depan 2. Hidung 3. Kepala 4. Mata 5. Tubuh 6. Kaki belakang

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada embrio katak terjadi pembelahan secara radial holoblastik. Telur katak juga mengandung banyak yolk yang terkonsentrasi pada kutub vegetative. Hal ini sesuai dengan teori, bahwa pembelahan pada embrio katak dan salamander merupakan pembelahan radial holoblastik. Telur katak mengandung jumlah yolk yang relative banyak dan terkonsentrasi pada kutub anima dan secara perlahan berkonsentrasi pada kutub vegetative. Pembelahan pertama pada katak dimulai pada kutub anima dan secara perlahan bergerak menuju daerah vegetative dan membagi dua sabit kelabu. Pembelahan ke dua juga dimulai pada kutub anima, tegak lurus pem belahan pertama. Bidang pembelahan ke tiga adalah horizontal, melintas dekat kutub anima, dan 4 balstomer besar pada kutub vegetatif. Pembelahan ke empat meridional simultan, dan pembelahan ke lima adalah aquatorial atau horizontal (Adnan,2008). Hal ini juga dikuatkan oleh Gadjahnata dalam bukunya bahwa: pembelahan telur katak (typical): Rana sp dan Bufo sp; type telur telolecithal, bidang pembelahan I meridional yang alur bidang pembelahan itu mulai terjadi di polus animalis meluas ke polus vegetativus. Bidang pembelahan I ini membelah menjadi dua blastomere yang simetris bilateral. Bidang pembelahan II yang meridional memotong bidang pembelahan I tegak lurus. Kedua blastomere tidak mengandung belahan gray crescent. Bidang pembelahan III longitudinal, bidang pembelahan IV permulaan hanya di polus animalis, lambat sekali meluas ke polus vegetativus. Pembelahan V mikromere membelah lebih cepa dari pada makromere. Gastrulasi pada katak melalui tiga gerakan morfogenik utama, seperti yang dipaparkan oleh Adnan (2008) bahwa gastrulasi pada embrio katak dapat di interprektasi dengan berbagai cara. Pembentukan lapisan lembaga pada katak terjadi melalui tiga gerakan morfogenik utama, yaitu: epiboli, invaginasi dan involusi. Setelah menetas telur katak akan menjadi berudu yang hidup berenang di air tawar dan bernafas dengan insang. Berudu ini mengalami metamorphosis. Pada hari ke-29, sepasang kaki tumbuh pada bagian belakang dekat ekor, kemudian hari ke-31 menjadi 2 pasang kaki, yakni bagian depan kiri dan kanan dan bagian belakang kiri dan kanan. Dan pada hari ke-33 berubah menjadi katak muda yang hidup sebagai amphibi dan bernafas dengan paru-paru sebelum berkembang menjadi katak dewasa.

V.

PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasaran hasil pengamatan yang kami lakukan dalam praktikum, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Embrio katak mengalami pembelahan yang merupakan pembelahan radial holoblastik. Telurnya mengandung jumlah yolk yang relative banyak dan terkonsentrasi pada kutub vegetatif. Setelah beberapa hari telur tersebut akan menetas dan menghasilkan larva atau berudu. 2. Tipe dan pola pembelahan pada embrio katak merupakan pembelahan radial holoblastik.

3. Pembelahan embrio katak terdiri dari lima tahap pembelahan, kemudian diikuti oleh gastrulasi dan tahap pembentukan neural.

B. Saran
1. Sebaiknya praktikan memanfaatkan waktu seefisien mungkin agar praktikum dapat berjalan dengan lancar. 2. Sebaiknya asisten jeli dalam mendampingi praktikan dan tidak meninggalkan praktikan pada saat praktikum sedang berlangsung. 3. Sebaiknya pengadaan sarana dalam praktikan agar lebih ditingkatkan sehingga proses praktikum berjalan lancar.

DAFTAR PUSTAKA
Adnan. 2008. Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM. Anonim. 2011. Metamorfosis Katak. http://id.answer-yahoo.com/. Diakses pada tanggal 23 Desember 2011. Bresnick, Stepehen. 2003. Intisari Biologi. Jakarta: Hipokrates. Tim Pengajar. 2011. Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM. Yatim, Wildan. 1994. Reproduksi & Embryologi. Bandung: Tarsito.