Anda di halaman 1dari 4

Banyak larangan tentang makanan bagi anak-anak dimaksudkan untuk kepentingan kesehatannya, tetapi pada kenyataannya bahkan berpengaruh

sebaliknya. Pantangan demikian harus dicoba dihindarkan sejauh mungkin sebaliknya tidak semua pantangan merugukan anakanak tersebut. Kita harus berhati-hati dan kritis dalam menilai pantangan yang merugikan dan mana yang masih menguntungkan anak-anak tersebut Cara memasakpun dapatpula menjadi penyebab tidak meratanya distribusi makanan didalam keluarga, terutama bagi anak-anak. Bahan makanan yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan anak-anak sering dimasak dengan bumbu terlalu pedas sehingga tidak dapat konsumsi oleh anak BALITA yang masih belum tahan terhadap rasa pedas tersebut. Dalam hal ini sebaiknya dipisahkan terlebih dahulu jatah bagi anak, sebelum cabe atau bumbu pedas lainnya ditambahkan. Justru bahan makanan hewani yang mengandung banyak protein yang diperlukan bagi pertumbuhan anak-anak, sering dimasak dengan mempergunakan bumbu pedas tersebut, sehingga tidak dapat dikonsumsi oleh anak-anak BALITA. a. Pengolahan pangan di dalam dapur keluarga Sebelum dikonsumsi, sebagian besar bahan makanan diolah dahulu di dapur, sehingga menjadi hidangan yang bercita rasa lezat. Hal ini akan menimbulkan nafsu makan dan menghadapi hidangan merupakan sesuatu yang menyenangkan. Dengan memasaknya bahan makanan menjadi lebih mudah dicerna dan zat-zat makanan menjadi tersdia untuk diserap dan dipergunakan oleh tubuh. Tetapi mengolah dan memasak bahan makanan dapat pula menyebabkan kehilangan sebagian dari zat-zat gizi, terutama vitamin-vitamin. Beberapa jenis vitamin mudah larut didalam air pencuci, sehingga hilang terbuanng dan beberapa lain dapat rusak oleh pemanasan dan penyinaran matahari. Penanganan ketika memasak bahan makanan, terdiri atas membuang bagian yang tidak dapat dimakan, memotong-motong dan mencucinya, sebelum dilakukan pemasakan yang sebenarnya untuk membuat hidangan. Bagian yang tidak dapat dimakan misalnya bagian kulit dan biji-biji tertentu ; bonggol jagung juga termasuk bagian yang tidak dapat dimakan. Pada umumnya bagian yang tidak dapat dimakan, hanya sedikit saja mengandung zat-zat gizi yang berguna, sehingga tidak terlalu merugikan. Cara penanganan bahan makanan yang tidak betul, akan lebih banyak menyebabkan zat-zat makanan terbuang percuma. Pada cara menangani dan memasak makanan yang umum dikerjakan oleh para ibu rumah tangga, ternyata cukup baik, dan tidak terlalu banyak zat gizi yang ikut terbuang atau rusak percuma. b. Penghidangan Dan Distribusi dalam Keluarga Setelah dimasak, makanan dihidangkan dan didistribusikan dianatara para anggota kelurga untuk dikonsumsi. Menghidangkan makanan harus menarik, sehingga mereka yang mmenyantapnya akan merasa senang, bahkan puas, sehingga meningkatkan selera dan gairah untuk makan. Hidangan harus dapat merangsang secara menarik sebanyak mungkin pancaindera, agar timbul selera dan nafsu makan.

Distribusu makanan diantara anggota keluarga, ada yang dijatahkan, tetapi adapula yang secara bebas dapat memilih dan mengambil makanan yang disukainya sendiri. Pada umunya, anak-anak yang masih kecil (BALITA) mendapat makanannya secara dijatah oleh ibunya atau kakaknya, dan tidak memilih serta mengambil sendiri mana yang disukainya. Semakin bannyak pengetahuan gizinya, semakin diperhitungkan jenis dan kuntum makanan yang dipilih untuk dikonsumsinya. Sebaliknya mereka yang semakin banyak pengetahuan gizinya, lebih banyak mempergunakan pertimbangan rasional dan pengetahuan tentang nilai gizi makanan tersebut. c. Susunan Hidangan (Menu) Susunan hidangan yang disajikan diatas meja suatu keluarga dipenganruhi oleh banyak factor. Untuk masyarakat awam, susunan lebih dibutuhkan dan ditentukan oleh kebiasaan turun-menurun dan menurut kebutuhan kepuasan psikis. Hidangan yang menuruti citarasa dan mempunyai nilai social tinggi akan lebih banyak dipilih dibandingkan dengan makanan yang tidak menarik dan dianggap tidak mempunyai nilai social yang memuaskan. Untuk masyarakan yang berpendidikan dan cukup pengetahuan tentang nilai gizi, pertimbangan kebutuhan fisiologik lebih menonjol dibandingkan dengan kebutuhan psikis. Tetapi umumnya akan terjadi kompromi antara kebutuhan psikis dan fisiologik tubuh, sehingga terdapat komposisi hidangan yang memenuhi kepuasan psikis maupun fisiologik tubuh. Maka hidangan kepuasan akan mempunyai sifat lezat disamping mempunyai nilai gizi yang tinggi. Di Indonesia susunan hidangan yang demikian disebut susunan hidangan seimbang atau susunan hidangan adekwat, dan dinyatakan dalam selogan 4 sehat 5 sempurna. Hidangan 4 sehat terdiri atas makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buahbuah. Hidangan yang perlihatkan adanya ke4 komponen ini dalam kuantum yang mencukupi kebutuhan fisioligis tubuh, dianggap akan memberikan kesehatan gizi yang memuaskan bagi seorang dewasa. Untuk golongan rentan gizi, ditambah dengan sejumlah susu yang mencukupi, menjadi 5 sempurna. Susu merupakan bahan makanan sumber protein berkualitas tinggi dan mudah dicerna, dan akan meningkatkan nilai gizi protein yang terdapat didalam hidangan. 3. Pendidikan Gizi Ilmu gizi merupakan ilmu yang relatif sangat mudah, jadi masih terus melakukan penilitian dan pengembangan, yang menghasilkan berbagai teori dan pendapat. Hasil penemuanpenemuan ini harus disampaikan kepada masyarakat untuk diterapkan dan diambil manfaatnya. Kegiatan memperbaiki keadaan gizi masyarakat maupun perorangan memerlukan tenaga ahli gizi yang masih terus harus dilatih dan ditingkatkan pengetahuan maupun ketrampilan. Karena itu upaya merupakan suatu keharusan dalam kegiatan-kegiatan untuk

meningkatkan kesehatan gizi masyarakat itu. Pendidikan gizi harus meliputi seluruh lapisan masyarakat, karena semua warga masyarakat harus mengetahui dan menerapkan prinsipprinsip gizi baik. Kita bedakan upaya pendidikan gizi bagi tenaga-tenaga dalam bidang profesi gizi dan pendidikan gizi bagi masyarakat umum. Juag harus dibedakan pendidikan gizi intramural disekolah-sekolah umum dan pendidikan gizi diluar sekolah bagi masyarakat melalui berbagai jenis mass media yang ada. Sistem Pendidikan Gizi a. Pendidikan gizi bagi tenaga profesi: 1. Pendidikan gizi bagi profesi gizi Tingkat non-degree: D1-D2-D3-D4 Tingkat degree: SO-S1-S2-S3 2. Pendidikan gizi bagi profesi lain Gizi medic: dokter, dokter gigi, ahli kesehatan masyarakat, dan lainnya Gizi pertanian: Insinyur pertanian; peternakan, perikanan, dan sebagainya. b. Pendidikan gizi bagi umum: 1. Pendidikan gizi intramural (di dalam kelas); Masuk sistem kurikulum TK-SD-SLTP dan SLTA-Akademi 2. Pendidikan gizi ekstramural (luar sekolah); Melalui kelompok-kelompok masyarakat dan mass media; mass media tertulis, mass media elektronika, ceramah-ceramah terhadap kelompok social. Di Indonesia telah dilaksanakan pendidikan gizi untuk berbagai kelompok anak didik seperti diatas, hanya mungkin beberapa kelompok masih harus menggiatkan dan mengefisienkan pendidikan gizi tersebut. Pada umumnya, masyarakat di indonedia sudah sangat sadar gizi, sehingga berbagai kegiatan penyuluhan gizi, dan perbaikan gizi masyarakat dapat dilaksanakan dengan tidak menjumpai hambatan yang berarti dari pihak masyarakat dan kelompok anak didik lainnya. 4. Kesehatan Gizi Harus dibedakan antara kesehatan gizi perorangan dan kesehatan gizi masyarakat, karena sifatsifat yang berbeda-beda, sehingga penanggulangannya juga harus berlain-lainan. Kesehatan gizi perorangan mengarah kecabang ilmu gizi klinik, sedangkan yang lainnya kecabang ilmu gizi masyarakat (kesehatan masyarakat). Pada kesehatan gizi perorangan, problema gizi lebih banyak dibidang terapi dan sedikit prevensi maupun promosi. Sebaliknya, sebagian besar problema gizi terletak didalam bidang prevensi dan sedikit dibidang terapi.

Problema kesehatan gizi perorangan maupun kesehatan gizi masyarakat mempunyai sifat-sifat khusus sendiri-sendiri. Factor-factor yang bersangkutan dengan problema gizi perorangan pada umumnya terletak dalam jangkauan profesi kedokteran sedangkan factor-faktor yang berhubunga atau bersangkutan dengan problema kesehatan gizi masyarakat tidak seluruhnya terdapat di dalam jangkauan profesi dokter, sehingga penanggulanagnnya harus di limbah sektoral, bekerja sama secara terkoordinasi dengan bidang-bidang profesi lainnya di luar profesi kedokteran. Beberapa penyakit defisiensi gizi pada seseorang sudah dapat ditangani secara tuntas, sehingga penderita penyakit tersebut dapat disembuhkan secara memuaskan, tetapi penyakit yang sama yang terdapat disuatu kelompok masyarakat sulit untuk ditanggulangi secara tuntas dan memuaskan. Program penanggulangannya tidak saja cukup dengan upaya-upaya terapi dan pengobatan para penderita, karena setelah disembuhkan dan kembali kemasyarakatnya, mereka akan kembali dating berobat untuk penyakitnya yang kambuh. Hal ini akan terus berulang-ulang sebelum kondisi masyarakat yang menjadi dasar timbulnya defisiensi tersebut diperbaiki. Perbaikan ini merupakan perbaikan kondisi masyarakat yang menyeluruh, bukan hanya mencakup factor kesehatan tetapi sering meliputi pula faokto-faktor diluar profesi kedokteran tersebut, misalnya problema ekonomi dan kesejahteraan, problema kebudayaan dan kepercayaan, dan lain sebagainya. Penyakit gizi KKP, defisiensi Vit A, defisiensi Yodium, dan defisiensi zat besi dapat disembuhkan secara tuntas pada seseorang, tetapi sebagai penyakit gizi masyarakat Indonesia, masih belum dianggap telah ditanggulangi dan diberantas secara tuntas. Upaya penanggulangan penyakit-penyakit gizi masyarakat ini harus dilakukan lintas sektoral secara multidisipliner. Ini memerlukan kerjasama antara berbagai keahlian yang harus dikoordinasikan dan dilaksankan secara sinkron, dan semua ini harus dilakukan deari tingkat nasional sampai tingkat local di daerah-daerah tersebut. Di Indonesia, Kementrian Kesehatan merupakan poros dalam upaya penanggulangan berbagai penyakit gizi masyarakat, yang pelaksanaannya dibantu oleh berbagai kementrian yang bersangkutan. Penanggulangan defisiensi Yodium dengan jalan mensuplement garam dapur dengan KJO3 misalnya, dilakukan teknis pelaksanaannya oleh Kementrian perindustrian, dengan petunjuk Kementrian Kesehatan.