Anda di halaman 1dari 24

KESEPADANAN DALAM PENERJEMAHAN

Umi Jaroh Wiwik Wijayanti

the replacement of textual material in one language (SL) by equivalent textual material in another language (TL) (mengganti bahan teks dalam bahasa sumber dengan bahan teks yang sepadan dalam bahasa sasaran). Tampak bahwa definisi di atas menekankan terjemahan sebagai penggantian aspek padanan dari bahasa sumber (BSu) ke dalam bahasa sasaran (BSa).

Jika bahasa hanyalah sebuah tata nama untuk satu set konsep yang bersifat universal, akan mudah untuk menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain
Culler, 1976: 21-2

Prinsip Kesepadanan
Penerjemahan sebagai sebuah komunikasi, menuntut kesamaan tanggapan antara bahasa sumber (Bsu) dan bahasa sasaran (BSa) Dalam penerjemahan harus ada kesepadanan makna, tetapi tidak ada kesepadanan sempurna (Schleiermacher 2000:46).

Menurut Baker (1991), ada beberapa kesepadanan:


Kesepadanan Kata Kesepadanan Above Word (di atasnya kata) Kesepadanan Gramatikal Kesepadanan Tekstual: Tematik Kesepadanan Tekstual: Kohesi Kesepadanan Pragmatik

KESEPADANAN WORD LEVEL & ABOVE WORD LEVEL?

Kesepadaan dapat muncul pada tingkat kata dan tingkat di atasnya (above word level) ketika menerjemahkan dari satu bahasa ke lain. Contoh dari above word level adalah kolokasi,idiom, dan ungkapan. Baker mengakui bahwa kesepadanan di tingkat kata adalah elemen pertama yang dipertimbangkan oleh penerjemah. Bahkan, ketika penerjemah mulai menganalisis BSu penerjemah melihat kata-kata sebagai unit tunggal untuk menemukan langsung istilah yang 'setara/sepadan' di BSa

KATA = KATA?
takon tanya rebuild membangun kembali kunduran ? kuntilanak ? Daun muda ? Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui ? Two birds are killed in one shot (dua burung mati dalam satu tembakan)

Persoalan dalam Kesepadanan Kata dan above word level Konsep budaya Konsep leksikal BSu tidak dipunyai oleh BSa Kata yang akan diterjemahkan memiliki kerumitan semantik Adanya kesenjangan makna antara Bsu dan Bsa Dll.

Satu kata kadang-kadang dapat diberikan arti yang berbeda dalam bahasa yang berbeda dan mungkin dianggap sebagai unit morfem atau bahkan unit yang lebih kompleks.

Oleh karenanya penerjemah harus memperhatikan sejumlah faktor ketika mempertimbangkan satu kata, seperti jumlah, jenis kelamin dan kala (waktu).

Strategi
a. Gunakan kata yang lebih umum dipakai. b. Gunakan kata yang lebih netral dan sederhana sehingga mudah dimengerti. c. Gunakan konsep (budaya) yang ada pada bahasa sasaran. Contoh: urap salad d. Gunakan parafrase yang berkaitan. e. Hilangkan kata yang susah diterjemahkan ke bahasa sasaran jika teks tersebut tidak terlalu vital. f. Gunakan ilustrasi.

Penerjemahan dengan ilustrasi Mendoan

AMAZING GRACE
Amazing grace how sweet the sound That saved a wretch like me I once was lost, but now am found Was blind but now I see

Sangat besar anugrahNya Yang tlah kualami Sesat aku dulu kala Selamatlah ku kini

Ketupat

Kesepadanan Gramatikal/Tata Bahasa


Kesepadanan gramatikal mengacu pada keragaman kategori tata bahasa di seluruh bahasa. Baker menjelaskan bahwa aturan tata bahasa dapat bervariasi di seluruh bahasa dan ini dapat menimbulkan beberapa masalah dalam penerjemahan. Baker menambahkan bahwa struktur gramatikal yang berbeda dalam BSu dan BSa dapat menyebabkan perubahan pesan atau informasi yang sangat jauh.

Perubahan ini dapat menyebabkan penerjemah menambah atau menghilangkan informasi dalam di dalam BSa karena kurangnya perangkat tata bahasa tertentu di Bsa itu sendiri. Yang mungkin menimbulkan masalah dalam kesepadanan gramatikal ini adalah perihal jumlah, kala dan aspek, bentuk aktif pasif, kata ganti orang dan gender/ jenis kelamin.

Kesepadanan Tekstual: Tematik


Kesepadanan yang tidak merubah tema.

Karena tema merupakan pokok dalam sebuah teks.

Kesepadanan Tekstual: Kohesi


Kesepadanan tekstual mengacu pada kesepadanan antara teks BSu dan teks BSa dalam hal informasi, kohesi. Teks adalah fitur yang sangat penting dalam penerjemahan karena memberikan pedoman yang berguna untuk pemahaman dan analisis Bsa yang dapat membantu penerjemah dalam usahanya untuk menghasilkan teks yang kohesif dan koheren untuk para pembaca teks BSa dalam konteks tertentu. Keputusan tergantung pada penerjemah dalam memutuskan apakah tetap menjaga hubungan kohesif serta koherensi dari teks BSu. Keputusan penerjemah akan dipandu oleh tiga faktor utama, yaitu, target audience, tujuan terjemahan dan jenis teks.

Contoh:
Alice was talking to John when her mother called her. => Alice sedang berbicara kepada John ketika ibunya memanggilnya.

6. Kesepadanan Pragmatik
mengacu pada implikatur dan strategi penghindaran selama proses terjemahan Kesepadanan yang sesuai dengan makna semestinya dimaksudkan oleh penulisnya.

Kesepadanan yang secara pragmatik mungkin semantiknya tidak pas.

Contoh:
Dalam menerjemahkan cerita fiksi terkadang nama tokoh dirubah dari nama aslinya untuk memberikan pencitraan karakter tokoh tersebut agar lebih lebih mudah dimengerti oleh pembaca. Seperti nama tokoh siapa??? (penjelasan bu Issy beberapa minggu yang lalu) Kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia menjadi malin kundang.

Kesimpulan
Pemilihan kesepadanan tidak hanya bergantung pada sistem bahasa atau sistem yang sedang ditangani oleh penerjemah, tetapi juga pada cara penulis teks sumber dan produsen teks sasaran.

TERIMA KASIH THANK YOU MATUR NUWUN SYUKRON MERCI ARIGATO GOZAIMASU DANKE GRACIAS XIE-XIE