Anda di halaman 1dari 12

REGENERASI PLANARIA

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Hewan Yang Dibimbing Oleh: Dr. H. Abdul Ghofur, M.Si., dan Titi Judani, M.Kes

Oleh :

Kelompok 5 / Offering: A

PT Yulyana Grisnawati A.

100341400674

Putri Ayu Anjulla

100341400705

Rendra Dwi Cahya

100341404602

Rimbi Paulina Dewi

100341400707

Rizki Armando Putra

100341400695

REGENERASI PLANARIA LAPORAN PRAKTIKUM Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Hewan Yang Dibimbing Oleh: Dr.

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI

April 2012

  • A. Topik

“Regenerasi Planaria”

  • B. Tujuan

Mahasiswa dapat memahami dengan baik mengenai konsep perkembangan pada

hewan dewasa, regenerasi dan proses regenerasi

  • C. Dasar Teori

Regenerasi merupakan proses perbaikan yang mungkin dilakukan pada lukankecil atau pada penghancuran sebagian jaringan dari tubuh hewan tersebut atau luka yang mungkin melibatkan kehilangan organ atau bagian yang lebih besar dari tubuh, hal ini kadang-kadang dapat diperbaharui (Surjono, 2001). Planaria merupakan hewan yang hidup bebas dengan habitat yang berbeda- beda, beragam dari perairan yang yang berarus lambat sampai pada perairan danau dan tertutupi oleh bebatuan atau dedaunan. Planaria merupakan organisme yang ideal untuk dipelajari karena kemampuannya untuk belajar yang cukup tinggi. Meskipun ia hanya memiliki system saraf yang sederhana, yakni hanya berupa ganglion-ganglion dan otak ‘primitive’ yang terkonsentrasi pada daerah ujung anterior (kepala) (Fernando, 2010). Planaria adalah hewan yang memiliki kemampuan regenerasi yang sangat mengagumkan. Planaria dapat dipotong melintang atau memanjang, dan masing- masing bagian potongan tubuh akan melakukan regenerasi bagian-bagian yang hilang. Bagian tubuh yang mungkin dibentuk kembali adalah kepala, eko, atau bagian tengah dari farink. Apabila dilakukan pemotongan sebuah blastema regenerasi akan terbentuk pada permukaan potongan dan bagian yang hilang akan tumbuh dari blastema tersebut. Bagian-bagian yang akan direorganisasi dengan cara pengurangan skala, hingga individu yang dihasilkan dari regenerasi ini akan berukuran lebih kecil dari ukuran semula. Dengan demikian regenerasi pada hewan ini merupakan gabungan dari cara epimorfis dan morfalaksis. Platythelminthes yang lain tidak mengalami regenerasi sebaik Planaria (Surjono, 2001).

  • D. Alat dan Bahan

1.

Alat

 

Kuas

Papan bedah

Silet

Beaker glass

2.

Bahan

Kertas karbon

Karet gelang

Gelas aqua

9 ekor Planaria

  • E. Prosedur

F. Data Tanggal 29-3-2012 30-3-2012 2-4-2012 3-4-2012 4-4-2012 1a 1b 2c 2d

F.

Data

 

Tanggal

29-3-2012

30-3-2012

2-4-2012

3-4-2012

4-4-2012

 

1a

           

1b

           

2c

           

2d

           
2e 3f 3g
2e
3f
3g

G. Analisis Data

Pada pengamatan regenerasi Planaria yang kami lakukan, terdapat 3 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Perlakuan pertama adalah dengan memotong tubuh planaria menjadi 2 bagian yaitu bagian kepala (diberi label 1A) dan bagian ekor (diberi label 1B). Perlakuan kedua dengan memotong tubuh planaria menjadi 3 bagian, yaitu bagian kepala (diberi label 2C), bagian tubuh (diberi label 2D) dan bagian ekor (diberi labe 2E). Dan perlakuan ketiga adalah dengan cara memotong tubuh planaria menjadi 2 bagian secara membujur dan didapatkan potongan tubuh bagian kiri (diberi label 3F) dan potongan tubuh sebelah kanan (diberi label 3G). Setelah itu masing-masing bagian tubuh tersebut dimasukkan ke dalam botol dengan 3 ulangannya. Dan masing-masing botol tersebut diberi label sesuai dengan perlakuan masing-masing. Pada hari pertama pengamatan yaitu pada tanggal 29 Maret, tercatat pada botol 1A belum terjadi penambahan panjang, bagian tubuh yang terpotong membentuk sebuah lekukan. Pada botol 1B juga memiliki kondisi yang sama, belum mengalami penambahan panjang. Dan terlihat ada lekukan pada bagian tubuh yang dipotong. Pada botol 2C, 2D, dan 2E juga masih belum terjadi penambahan panjang, pada bagian tubuh yang terpotong juga mengalami pelekukan sedikit agak kedalam. Pada botol 3F dan 3G juga belum menunjukkan perubahan yang signifikan, keadaan tubuh planarian tersebut masih relative sama dengan keadaan sebelumnya setelah di potong. Pada hari kedua pengamatan yaitu pada tanggal 30 Maret, belum terjadi perubahan yang signifikan pada masing-masing botol. Tercatat pada botol 1A

sedikit mengalami penambahan panjang, bagian tubuh yang terpotong membentuk sebuah lekukan. Pada botol 1B juga memiliki kondisi yang sama, sedikit mengalami penambahan panjang. Dan terlihat ada lekukan pada bagian tubuh yang dipotong. Pada botol 1B ini ditemukan 1 ekor planaria yang mati. Pada botol 2C, 2D, dan 2E juga sedikit terjadi penambahan panjang, pada bagian tubuh yang terpotong juga mengalami pelekukan sedikit agak kedalam. Pada botol 3F dan 3G belum menunjukkan perubahan yang signifikan, keadaan tubuh planarian tersebut masih relative sama dengan keadaan sebelumnya setelah di potong. Pada pengamatan ketiga, yaitu pada tanggal 2 April, mulai terlihat perubahan pada masing-masing tubuh planaria yang dipotong. Terlihat pada botol 1A terjadi penambahan panjang, bagian tubuh yang awalnya berbentuk lekukan kini berubah membentuk sedikit bagian yang berwarna bening (transparan). Pada botol 1B juga memiliki kondisi yang sama, sedikit mengalami penambahan panjang. Dan terlihat bagian tubuh yang awalnya berbentuk lekukan sekarang berubah membentuk sedikit bagian yang berwarna bening (transparan). Pada botol 2C, 2D,dan 2E juga sedikit terjadi penambahan panjang, pada bagian tubuh yang terpotong juga mengalami perubahan membentuk sedikit bagian yang berwarna bening (transparan). Pada botol 3F dan 3G juga sedikit menunjukkan perubahan yang signifikan, keadaan tubuh planarian tersebut masih relative sama dengan keadaan sebelumnya setelah di potong, namun sudah ditemukan sedikit bagian tubuh yang berwarna transparan (pada bagian tubuh yang dipotong). Pada pengamatan selanjutnya yaitu pada tanggal 3 April, terlihat perubahan yang lebih signifikan. Terlihat pada botol 1A terjadi penambahan panjang, dan bagian yang berwarna bening (transparan) semakin memanjang membentuk bagian yang hampir menyerupai bentuk ekor. Pada botol 1B juga memiliki kondisi yang sama, mengalami penambahan panjang. Dan bagian yang berwarna bening (transparan) terlihat semakin memanjang. Pada botol 2C, 2D,dan 2E juga sedikit terjadi penambahan panjang, pada bagian tubuh yang terpotong juga mengalami perubahan membentuk sedikit bagian yang berwarna bening (transparan). Pada botol 3F dan 3G juga mulai menunjukkan perubahan yang signifikan, keadaan tubuh planaria tersebut ditemukan bagian tubuh yang berwarna transparan (pada bagian tubuh yang dipotong) namun bentuk tubuh belum sempurna.

Pada pengamatan terakhir yaitu pada tanggal 4 April, , terlihat perubahan yang lebih signifikan. Terlihat pada botol 1A terjadi penambahan panjang, dan bagian yang berwarna bening (transparan) semakin memanjang membentuk bagian yang menyerupai bentuk ekor. Pada botol 1B juga memiliki kondisi yang sama, mengalami penambahan panjang. Dan bagian yang berwarna bening (transparan) terlihat semakin memanjang, namun belum terbentuk bagian kepala. Pada botol 2C terlihat sudah hampir sempurna, bagian ekor sudah mulai terbentuk namun masih berwarna transparan. Pada botol 2D, sudah membentuk bagian tubuh yang hampir

sempurna pula, bagian kepala mulai terbentuk namun belum ditemukan adanya bintik mata. Dan pada botol 2E juga sudah membentuk bagian tubuh yang hampir sempurna pula, bagian kepala mulai terbentuk namun belum ditemukan adanya bintik mata. Pada botol 3F sudah hampir sempurna regenerasinya bentukan kepala belum sempurna namun sudah ditemukan adanya bintik mata. Dan pada botol 3G juga mulai menunjukkan perubahan yang signifikan, keadaan tubuh hampir sempurna, namun bentukan kepala belum simetris dan belum ditemukan adanya bintik mata.

H. Pembahasan

Regenerasi adalah proses perbaikan yang dilakukan pada luka kecil atau pada penghancuran sebagian jaringan dari tubuh hewan atau pada luka yang melibatkan kehilangan organ atau bagian yang lebih besar dari tubuh (Surjono, 2001). Regenerasi ini dapat terjadi pada hewan-hewan tertentu. Salah satunya adalah Planaria atau Dugesia yang tergolong dalam filum Platyhelminthes (Kastawi, 2005). Kemampuan regenerasi ini adalah berkat adanya neoblas, suatu sel dewasa yang mampu berdiferensiasi menjadi sel apapun pada individu dewasa. Sel ini menyusun sekitar 30% dari keseluruhan sel yang dimiliki planaria (McIntosh, tanpa tahun) Seperti pada makhluk multiseluler lainnya, tubuh planaria juga tersusun oleh beberapa sistem organ, beberapa diantaranya adalah sistem saraf, sistem gastrovaskuler, sistem reproduksi dan sistem ekskretori.

Sistem saraf planaria (sumber: planaria teacher.pdf) Sistem gastrovaskuler planaria (sumber: planaria teacher.pdf) Sistem reproduksi planaria (sumber:

Sistem saraf planaria (sumber: planaria teacher.pdf)

Sistem gastrovaskuler planaria (sumber: planaria teacher.pdf)

Sistem saraf planaria (sumber: planaria teacher.pdf) Sistem gastrovaskuler planaria (sumber: planaria teacher.pdf) Sistem reproduksi planaria (sumber:

Sistem reproduksi planaria (sumber: planaria teacher.pdf)

Sistem ekskretori planaria (sumber: planaria teacher.pdf)

Dalam praktikum ini, Planaria yang diamati melakukan regenerasi hanya dengan membentuk bagian yang hilang. Bagian yang masih tersisa, tetap menjadi bagian itu sendiri, tidak menjadi bagian yang lain. Hal tersebut sesuai dengan literature yang menyatakan bahwa bila Planaria melakukan regenerasi, Planaria tetap mempertahankan polaritas tubuhnya (Tenzer, 2001). Artinya, bagian posterior hasil pemotongan, akan tetap menjadi bagian posterior. Begitu pula bagian anteriornya.

morfologi planaria (sumber: planaria teacher.pdf) Dalam melakukan regenerasinya, planaria membentuk bagian tubuhnya yang hilang secara bertahap.

morfologi planaria (sumber: planaria teacher.pdf)

Dalam melakukan regenerasinya, planaria membentuk bagian tubuhnya yang hilang secara bertahap. Pertama, ujung bagian yang terluka/terpotong, ototnya akan mengalami kontraksi. Hal ini dimaksudkan untuk memperkecil luas daerah yang terluka tersebut. Aktivitas ini berlangsung selama sekitar 10 menit. Kemudian, ada sel yang mensekresikan suatu zat imun untuk membunuh bakteri di daerah yang terluka. 30 menit kemudian, luka ditutupi oleh sel epitel. Aktivitas ini berlangsung sekitar 20 menit. Saat luka mulai disembuhkan, akan dibentuk blastema. Blastema ini merupakan akumulasi sel yang tidak dapat berdiferensiasi, yang pada akhirnya akan berdiferensiasi menjadi bagian yang hilang. Sel dari blastema disebut neoblas (Tyler, tanpa tahun). Blastema ini tidak memiliki warna (transparan) (McIntosh, tanpa tahun). Sel neoblas adalah sel yang bersifat embrionik, yang hanya digunakan dalam proses regenerasi. Saat pemotongan terjadi, neoblas di sekitar daerah tersebut akan bersatu membentuk blastema. Namun, bila neoblas di sekitar daerah itu telah ikut terpotong, sel neoblas dari bagian lain akan bermigrasi kesana. Sel pada dasar blastema, sangat aktif melakukan mitosis. Blastema biasanya terbentuk dalam waktu 1-2 hari dan dapat terlihat jelas sekitar 3-4 hari setelah pemotongan. Pada hari ke 4-6, struktur yang telah berdiferensiasi dapat terlihat pada area regenerasi. Dan dalam waktu 2-3 minggu, regenerasi telah selesai dilaksanakan (Tyler, tanpa tahun).

Skema sel blastema. e: epithelium; m: neoblas yang berdiferensiasi menjadi sel mesenkim; n: neoblas dan ex:

Skema sel blastema. e: epithelium; m: neoblas yang berdiferensiasi menjadi sel mesenkim; n: neoblas dan ex: matrik ekstraseluler (Newmark, 2001)

Planaria yang terbentuk setelah pemotongan, pada praktikum ini, memiliki ukuran yang kecil atau kurus. Hal ini disebabkan oleh planaria tersebut ditumbuhkan pada media yang tidak terdapat nutrisi. Sehingga untuk melakukan regenerasi, planaria memanfaatkan nutrisi yang tersisa pada tubuhnya, ataupun melakukan pemangsaan terhadap tubuhnya sendiri. Hal tersebut didukung oleh teori yang menyatakan bahwa planaria dapat hidup tanpa makanan dalam waktu yang panjang dengan cara melarutkan organ reproduksi, parenkim, dan ototnya sendiri, sehingga tubuhnya menyusut dan (bagian yang melarut tersebut) akan mengalami regenerasi jika cacing (Planaria) makan kembali (Kastawi, 2005). Selain itu, ada juga factor lain yang ikut menghambat proses regenerasi planaria, diantaranya adalah suhu dan pH. Suhu yang terlalu tinggi ataupun rendah, dapat menghambat regenerasi planaria. Suhu 22-24 o C merupakan suhu yang paling optimum untuk regenerasi planaria. Begitu juga pH yang terlalu asam ataupun basa, juga akan mempengaruhi regenerasi dari struktur tertentu pada tubuh planaria (McIntosh, tanpa tahun). Bagian yang mengalami pertumbuhan paling cepat adalah bagian dekat kepala, karena pada bagian inilah terdapat konsentrasi faktor tumbuh (growing factor) yang paling tinggi.

I.

Kesimpulan

1. Regenerasi adalah proses perbaikan yang dilakukan pada luka kecil atau pada penghancuran sebagian jaringan dari tubuh hewan atau pada luka yang melibatkan kehilangan organ atau bagian yang lebih besar dari tubuh 2. Tahap-tahap regenerasi adalah pertama, ujung bagian yang terluka/terpotong, ototnya akan mengalami kontraksi. Hal ini dimaksudkan untuk memperkecil luas daerah yang terluka tersebut. Kemudian, ada sel yang mensekresikan suatu zat imun untuk membunuh bakteri di daerah yang terluka. 30 menit kemudian, luka ditutupi oleh sel epitel. Saat luka mulai disembuhkan, akan dibentuk blastema. Blastema ini merupakan akumulasi sel yang tidak dapat berdiferensiasi, yang pada akhirnya akan berdiferensiasi menjadi bagian yang hilang. Sel dari blastema disebut neoblas. Blastema ini tidak memiliki warna (transparan). Sel neoblas adalah sel yang bersifat embrionik, yang hanya digunakan dalam proses regenerasi. Saat pemotongan terjadi, neoblas di sekitar daerah tersebut akan bersatu membentuk blastema. Namun, bila neoblas di sekitar daerah itu telah ikut terpotong, sel neoblas dari bagian lain akan bermigrasi kesana. Sel pada dasar blastema, sangat aktif melakukan mitosis. Blastema biasanya terbentuk dalam waktu 1-2 hari dan dapat terlihat jelas sekitar 3-4 hari setelah pemotongan. Pada hari ke 4-6, struktur yang telah berdiferensiasi dapat terlihat pada area regenerasi. Dan dalam waktu 2-3 minggu, regenerasi telah selesai dilaksanakan

  • J. Daftar Pustaka

Fernando. 2010. Karakteristik dan perilaku Planaria. (online) (www. wordpress.com). diakses pada tanggal 5 April 2012 Kastawi, Yusuf., dkk. 2005. Zoologi Avertebrata. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang. McIntosh, Linda., et.all. tanpa tahun. Regeneration: Animal Growth and Development. Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology. Newmark, Philip A., et.all. 2001. Regeneration in Planaria. USA: Nature Publishing Group Planaria_teacher.pdf (online)(www.google.com) akses pada 9 april 2012. Surjono, Tien W., dkk. 2001. Perkembangan Hewan. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Tenzer, Amy., dkk. 2001. Petunjuk Praktikum Perkembangan Hewan. Malang. Universitas Negeri Malang Tyler, Mary S. tanpa tahun. Planarian Regeneration.