Anda di halaman 1dari 127

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN

SEKSUALITAS

AGROBISNIS PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pada prinsipnya seksualitas hewan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina. Begitu pula seksualitas pada ikan, yang dikatakan ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma, sedanglan ikan betina adalah ikan yang menghasilkan sel telur. Suatu populasi terdiri dari ikan-ikan yang berbeda seksualitasnya, maka populasi tersebut disebut dengan populasi hetero seksual. Bila populasi tersebut terdiri dari ikan-ikan betina saja maka disebut monoseksual (Wahyuningsih, 2006). Reproduksi merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu organisme. Ikan melakukan reproduksi secara eksternal. Dalam hal ini ikan jantan dan betina akan saling mendekat satu sama lain. Kemudian si jantan akan mengeluarkan spermanya, lalu spermadan telur ini bercampur di dalam air. Cara reproduksi ini dikenal dengan oviparous, yaitu telur dibuahi dan berkembang diluar tubuh (Prasetyo, 2009). 1.2 Maksud dan Tujuan Maksud dilakukanny praktikum biologi perikanan materi seksualitas adalah supaya praktikan mengetahui secara mikroskopis organ-organ baik secara eksternal maupun internal, dan mampu mengetahui secara morfologi dan anatomi ikan. Tujuan dilaksanakan praktikum biologi perikanan adalah agar praktikan mampu mengetahui dan mempraktikkan secara mikroskopis organ-organ baik secara eksternal maupun internal dan mampu mengidentifikasi gambaran secara morfologis dan anatomis organ reproduksi. 1.3 Waktu dan Tempat Praktikum Biologi Perikanan materi seksualitas dilaksanakan pada tanggal 29 November 2011 pukul 08.00 10.00 WIB dilaboratorium Reproduksi Pembenihan dan Pemuliaan Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu

Kelautanniversitas Brawijaya, Malang.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KLASIFIKASI DAN MORFOLOGI IKAN BAWAL 2.1.2 klasifikasi dan morfologi ikan bawal Klasifikasi ikan Bawal menurut Bryner (1999) dalam Gusfir (2011) adalah sebagai berikut : Philum : Chordata Sub Philum Class Sub Class Ordo Sub Ordo Family : Craniata : Pisces : Neoptergii : Cypriniformes : Cyprinoidae :Characidae (Google image, 2011) Genus Spesies : Colossoma : Colossoma macropomum

Menurut cbobyah (2001) dalam Nurahman (2011) ikan ini merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis cukup tinggi dan berasal dari brazil. Pada mulanya ikan bawal diperdagangkan sebagai ikan hias, namun karena pertumbuhannya cepat, nafsu makan tinggi serta termasuk pemakan segala (omnivore), ketahanan yang tinggi terhadap kondisi limnologist yang kurang baik, disamping itu rasa dagingnya cukup enak hamper menyerupai daging ikan gurami dan dapat mencapai ukuran besar, maka masyarakat menjadikan ikan ini ikan konsumsi sehingga produknya tiap tahun semakin meningkat.

Klasifikasi ikan Bawal menurut Bryner (1999) dalam Gusfir (2011) adalah sebagai berikut : Philum : Chordata Sub Philum Class Sub Class Ordo Sub Ordo Family Genus Spesies : Craniata : Pisces : Neoptergii : Cypriniformes : Cyprinoidae :Characidae : Colossoma : Colossoma macropomum (Google image,2011)

Menurut cbobyah (2001) dalam Nurahman (2011) ikan ini merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis cukup tinggi dan berasal dari brazil. Pada mulanya ikan bawal diperdagangkan sebagai ikan hias, namun karena pertumbuhannya cepat, nafsu makan tinggi serta termasuk pemakan segala (omnivore), ketahanan yang tinggi terhadap kondisi limnologist yang kurang baik, disamping itu rasa dagingnya cukup enak hamper menyerupai daging ikan gurami dan dapat mencapai ukuran besar, maka masyarakat menjadikan ikan ini ikan konsumsi sehingga produknya tiap tahun semakin meningkat. 2.2 Pengertian Seksualitas Menurut Arizom ( 2006 ) dalam Rosalina (2011), pada prinsipnya seksualitas hewan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu kelamin jantan dan kelamin betina, begitu pula seksualitasnya pada ikan yang dikatakan ikan jantan yang dapat menghasilkan sperma, dan ikan betina yang menghasilkan sel telur. Sebagian besar spesies ikan adalahGenokoristik, dimana sepanjang hidupnya memiliki jenis kelamin yang sama selain gonokoristik juga dikenal dengan istilah hemaprodit yaitu dadalam satu indifidu terdapat dua jenis gonad( kelamin ), Fira (2011).

2.3 Sifat Seksualitas Menurut Wahyuningsih dan Termala ( 2006 ) dalam Rosalina ( 2011 ) ,sifat seksualitas terbagi menjadi dua yaitu : 1.Sifat seksualitas primer Pada ikan ditandai dengan adanya organ yang berhubungan secara langsung dengan proses reproduksi yaitu ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina dan testis pada pembuluh ikan jantan. 2. Sifat seksualitas sekunder Adalah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina dengan jelas, maka spesies itu bersifat seksual dimofisme. Namun apabila ada satu spesies ikan dibedakan njantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna, maka ikan itu bersifat seksual dikromatisme. Pada umumnya ikan jantan mempunyai warana lebih cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina. Pada dasranya sifat seksual sekunder dapat di buka menjadi dua yaitu: a. Sifat seksual sekunder yang bersifat sementara hanya muncul pada waktu musim pemijahan saja misalnya bripositor yaitu alat yang dipakai untuk menyalurkan telur ke balvavia, adanya semacam jerawat diatas kepalanya pada waktu musim pemijahan. b. Sifat seksual sekunder bersifat permanen atau tetap, yaitu tanda ini ada sebelum dan sesudah pemijahan. Menurut Asep ( 2011), sifat seksualitas primer dan sekunder adalah sifat seksual primer pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi, yakni ovarium dan pembuluhnya pada ikan jantan. Tanpa melihat tanda-tanda lain pada ikan akan sukar mengetahui organ seksual primernya. Sifat seksual sekunder pada ikan adalah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina. 2.4 Macam-Macam Seksulitas Hermaprodit terjadi secara luas seluruh kerjaan binatang mungkin murni finotipik. Pada beberapa spesies individualis berisi fungsi induk telur dan testis secara bersamaan, sedangkan pada spesies lain status fictional dari gonad dapat berubah sering gonad dimulai dari testis untuk memproduksi spermatozoa dan kemudian dalam kehidupan dan swittches individu untuk memproduksi telur, pula yang dikenal sebagai hermaproditisme potandrik.

Menurut Frans ( 2011), macam seksualitas adalah sebagai berikut: 1. Hermaprodit Sinkroni a. Gonad masak secara bersamaan b. Gonad terpisah menjadi dua bagian c. Di dalam aquarium atau di luar aquarium dapat memijah. 2. Hermaprodit protandri a. Proses terdiferensiasi b. Ikan tua, testis teriduksi c. Transisi untuk ikan betina 3. Hermaprodit Protogini a. Proses terdiferensiasi dan fase betina manjadi jantan b. Sesudah memijah, ovarium ikan akan mengkerut 4. Hermaprodit Beriring Campuran dari hermaprodit protogini dan hermaprodit protoandri. 2.5 Perbedaan Jenis Kelamin Berdasarkan Ciri Seksualitas Primer dan Sekunder 2.5.1. Perbedaan Jenis Kelamin Berdasarkan Ciri Seksual Primer Berdasarkan pendapat dari Paberson ( 2011) dalam Rosalina ( 2011 ), sifat seksual primer pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses produksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya ikan betina dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan. Ciri seksual primer: 1. Alat atau organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi 2. Testis dan salurannya pada ikan jantan 3. Ovarium pada salurannya pada ikan betina Perbedaan kelamin jantan dan betina yang primer terdapat pada tubuh ikan yang berupatestis dan saluran-salurannya pada ikan betina. Untuk menyatakan hal ini harus disection ( bedah ). Sutini ( 1983) dalam Rosalina (2011).

2.5.2 Perbedaan Jenis Kelamin Berdasarkan Ciri Seksual Sekunder Sifat seksual sekunder adalah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan betina. Satu spesies ikan yang mempunyai sifat morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina dengan jelas, maka spesies bersifat seksual dimorfisme. Namun apabila spesies ikan

dibedakan jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna, maka ikan itu bersifat seksual dikromatisme. Pada umumnya ikan jantan memiliki warna lebih cerah dan lebih menarik dari pad ikan betina.ciri seksual sekunder adalah: 1. Tidak berhububngan dengan proses produksi 2. Alat bantu pemijahan Tanda-tanda kelamin sekunder ada dua macam yaitu, yang pertama tidak ada hubungan dengan alat kelamin primer, sedamgkan yang kedua alat kkelamin tersebut merupakan sambungan sebagai alat perkembangan.Soemarto(1980) dalam Rosalina ( 2011). Menurut Wahyuningsih dan Termala ( 2006 ) dalam Rosalina ( 2011), sifat seksualitas sekunder adalah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakanikan jantan dan ika nbetina dengan jelas, maka spesies itu bersifat seksual dimorfosisme. Namun apabila ada satu spesies iakan dibedakan jantan dan betina berdasarkan warna , maka ikan tersebut seksual dikromatisme, pada umumnya ikan jantan mempunyai warna yang lebih cerah dari pada ikan betina.

BAB 3 METODOLOGI

3.1 Alat dan Fungsi 1. Disecting set 2. Papan penggaris : untuk membedah ikan :untuk mengukur panjang total ikan yang di amati 3. Nampan 4. Serbet 5. Kamera 6. Aquarium 7. Seser 3.2 Bahan dan Fungsi 1.Ikan bawal (Colossoma macroponum) :sebagai sampel yang : sebagai alas saat untuk membedah ikan : untuk menenangkan ikan saat dibedah : untuk mengambil gambar saat pengamatan : Sebagai media tempat hidup : Untuk mengambil ikan dalam aquarium

diamati. 2. Ikan Guupy (Poecelia reticulate) :sebagai sampel yang diamati 3.Tissue 4.Kertas saring 5.Air : untuk membersihkan alat : sebagai alas gonad ketika ditimbang : sebagai media hidup ikan di aquarium

6 ikan molly (Poecelia lattipina) : sebagai sampel yang diamati 7.ikan cupang (Betta splendens) : sebagai sampel yang diamati 8 ikan platy (Xiphoperus makulatus) : sebagai sampel yang diamati

3.3 Skema Kerja

Ikan Bawal (Colossoma macropomum)


Ditusuk medulla oblongata Diamati organ seks sekunder Dibedah dibagian perut Diamati letak, bentuk gonad dan digambar gonad Dimasukkan semua data yang diamati dalam form

Hasil

Ikan Cupang (Betta spienciens)


Diamati organ dan ciri-ciri seks sekunder Digambar dan difoto Dimasukkan semua data yang diamati dalam form

Hasil

Ikan Molly (Poecilia sphenaps)


Diamati organ dan ciri-ciri seks sekunder Digambar dan difoto Dimasukkan semua data yang diamati dalam form

Hasil

Ikan Guppy (Poecilia reculata)


Diamati organ dan ciri-ciri seks sekunder Digambar dan difoto Dimasukkan semua data yang diamati dalam form

Hasil

Ikan Platy Pedang (Xiphophorus maculates) mmaccmacumaculatos)


Digambar dan difoto

Diamati organ dan ciri-ciri seks sekunder

Dimasukkan semua data yang diamati dalam form

Hasil

10

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1 Analisa Prosedur Sebelum melakukan praktikum seksualitas disiapkan alat dan bahan. Untuk bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum antara lain, ikan bawal, ikan cupang, ikan guppy, dan ikan pellaty pedang, ikan molly sebagai obyek yang diamati, tissue untuk membersihkan alat yang digunakan, kertas saring untuk alas gonad saat penimbangan supaya tidak mempengaruhi saat ditimbang dan menyerap lemak, air untuk membersihkan alat dan sebagai media hidup ikan. Sedangkan alat yang digunakan, dissecting set untuk membedah ikan, papan penggaris untuk mengukur panjang total ikan, nampan untuk wadah ikan serta alat dan bahan, serbet untuk mengkondisikan ikan tetap hidup saat dari akuarium, akuarium untuk wadah saat pengamatan ikan hias, kamera untuk memotret obyek pengamatan, seser untuk mempermudah pengambilan ikan dari akuarium. Setelah semua alat dan bahan disiapkan ikaan bawal (Collosoma macropomum) ditusuk modula oblongata dengan dissecting set. Hal tersebut dilakukan karena pada bagian tersebut merupakan pusat saraf. Jika ditusuk dengan diputar, maka ikan cepat mati. Letak medulla oblongata pada ikan bawal diantara kedua mata (cekung dan lunak). Setelah ikan mati, ditimbang berat tubuh (Wt) dalam gram dengan timbangan analitik (ketelitian 10-2 gram). Penggunaan timbangan analitik, pertama timabnagn dihubungkan dengan listrik, dinyalakan ON lalu nampan diletakkan diatas timbangan yang berfungsi sebagai alat saat ditimbang. Lalu timabnagan di zero kan agar pembacaan nilai dapat dilakukan dari angka 0 sehingga didapat hasil yang akurat, lalu diletakkan gonad yang beralaskan kertas saring kedalam timbangan lalu diliat angka yang ditunjukkan timbangan, ditulis data hasil pengamatan dalam form. Setelah memperoleh nilai Wt, kemudian mengukur panjang total ikan dengan penggaris dalam cm. pengukuran panjang total tubuh iakn dilakukan mulai dari ujung anterior hingga pangkal posterior ikan. Pada pengukuran panjang tubuh total ikan, diharapkan kepala ikan disebelah kiri. Ikan bawal (Collosoma macropomum) diamati ciri seksualitas sekunder yaitu seksualitas yang terlihat dari luar secara dimorfisme berdasarkan bentuk

11

luar tubuh dan dikromatisme berdasarkan warna tubuh. Setelah didapatkan hasil pengamatan ciri seksualitas, lalu dicatat hasil dan difoto tubuh ikan bawal. Langkah selanjutnya ikan bawal dibedah dibagian perut, dengan gunting dissecting set. Pembedahan dilakukan mulai dari anus dengan ujung gunting yang tajam lalu sedikit terbuka, pembedahan dilanjutkan dengan bagian ujung gunting yang tumpul, kearah dorsal supaya tidak merusak organ dalam ikan. Lalu dilanjutkan secara vertical agar perut dapat terbuka sehingga organ dalam terlihat. Pembedahan dilakukan agar memudahkan dalam pengamatan gonad dan organ dalam lainnya. Kemudia diambil gambarnya dengan kamera. Data hasil pengamatan dimasukkan ke form. Pengamatan selanjutnya adalah pengamatan cirri seksualitas sekunder ikan hias yang terdiri dari ikan cupang (Betta splendens), ikan molly (Poecillia latipinna), ikan pellaty pedang (Xiphoporus macullatus), ikan guppy (Poecilia reticullata). Pengamatan cirri seksual sekunder secara dikromatisme

(berdasarkan warna tubuh) dan dimorfisme (berdasarkan morfologi ikan). Ikan hias tidak diamati secara sekunder karena morfologi kecil. Pada umumnya ikan hias jantan memiliki warna tubuh lebih menarik, tubuhnya ramping, dan punya goniopodium, dan khusus pada ikan cupang tidak punya gonopodium. Sedangkan secara umum ikan hias betina, warna tubuh lebih kusam, lebih berat dan buncit dibagian perut, tidak memiliki gonopodium. Ikan hias yang diamati diambil gambar dengan kamera, lalu dimasukkan data kedalam form. 4.2 Analisa Data 4.2.1 Analisa organ seks primer Organ seks primer merupakan organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi. Pada praktikum organ seks primer hanya diamati pada 3 ikan bawal (Collosoma macropomum). Pada individu jantan termasuk ikan organ seks primer ditandai dengan adanya testis, sedangkan pada individu betina termasuk ikan ditandai dengan adanya ovarium sebagai organ seks primer. Pada praktikum yang telah dilakukan individu (ikan bawal) yang menunjukkan adanya ovarium sebagai organ seks primer ada 2 individu. Ikan bawal yang berjenis kelamin jantan memiliki testis ada 1 individu. Sehingga ada 2 indivisu yang ebrjenis kelamin betina, dan 1 individu ikan bawal yang berkelamin jantan. Pada praktikum ini diketahui ikan bawal pertama jantan, ikan bawal kedua dan ketiga betina.

12

Pada ikan ditandai dengan adanya organ yang berhubungan secara langsung dengan proses reproduksi yaitu ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan (Wahyuningsih dan Permata (2000) dalam Rosalina (2001). 4.2.2 Analisa organ seks sekunder Berdasarkan pada praktikum yang telah dilakukan, data yang diperoleh mengenai organ seks sekunder atau perbedaan jenis kelamin ikan berdasarkan tanda luar yaitu a. Ikan bawal (Collosoma macropomum) Secara dimorfisme, pada ikan bawal jantan memiliki 2 lubang didaerah anal, lubang pertama merupakan saluran pencernaan (anus) sedangkan lubang ketiga merupakan lubang saluran urine yang bergabung dengan morgan saluran reproduksi sehingga disebut saluran urigenital. Pada ikan bawal betina didaerah anal ada 3 lubang, yaitu lubang saluran pencernaan (anus), saluran reproduksi, saluran urine. Semua saluran terpisah sehingga disebut saluran genital. Tidak ada gonopodium pada ikan betina. Secara dikromatisme pada ikan betina berwarna lebih kusam sedangkan ikan bawal jantan warna lebih cerah. Pada praktikum yang telah dilakukan, diketahui 2 ikan bawal berkelamin betina dan 1 ikan bawal berkelamin jantan. Organ seks sekunder pada ikan bawal (Collosoma macropomum) didapatkan cirri-ciri pada ikan jantan mempunyai warna yang mencolok, mempunyai ukuran kecil, dan mempunyai gonopodium. Untuk ikan betina mempunyai cirri-ciri warna lebih kusam dan ukuran tubuhnya besar. b. Ikan hias cupang (Betta splendens) Secara dimorfisme ikan cupang, pada cupang betina memiliki sirip dorsal yang lebih panjang dari ikan cupang jantan. Pada ikan cupang betina bagian perut terlihat gendut, daripada jantan, sedangkan dikromatisme, warna ikan betina kusam daripada jantan yang lebih mencolok. Ikan cupang tidak memiliki gonopodium (perpanjangan sirip anal). Menurut Naif (2009) ikan cupang (Betta splendens) jantan dan betina memiliki perbedaan sebagai bersifat untuk ikan cupang jantan, warna terang, tubuh besar, ekor dan sirip panjang, agresif geraknya baik cupang jantan maupun betina. Cupang betina cirinya perut buncit, ekor dan sirip pendek. Ikan betina yang dewasa geraknya lamban disbanding jantan.

13

c. Ikan hias molly (Poecillia latipina) Secara dimorfisme pada ikan molly, pada molly betina memiliki sirip dorsal yang pendek seperti ikan molly jantan. Ikan molly betina perut terlihat lebih gendut daripada ikan jantan. Selain itu ikan betina tidak memiliki gonopodium, sedangkan jantan memiliki gonopodium yaitu perpanjangan sirip anal yang digunakan untuk menyalurkan sperma pada saat reproduksi. Secara dikromatisme ikan betina memiliki warna kusam dari ikan molly jantan yang warnanya menarik. Menurut Sutini et al (1983) dalam Rosalina (2011) tanda-tanda kelamin sekunder ada 2 macam yang pertama tersebut merupakan sambungan sebagai alat perkembangan. Nampak adanya pada ikan hias molly, guppy dan pellaty pedang mengalami modifikasi untuk adaptasi dengan cara perkawinannya ialah terjadi pembesaran dari sirip dubur (anal) berkembang menjadi gonopodium. d. Ikan hias guppy (Poecillia reticulata) Secara dimorfisme ikan guppy betina perut gendut daripada jantan yang lebih ramping. Lalu ikan betina tidak punya gonopodium, sedangkan guppy jantan memiliki gonopodium atau perpanjangan sirip anal untuk menyalurkan sperma saat proses reproduksi. Sedangkan secara dikromatisme ikan betina memiliki warna lebih kusam daripada ikan guppy jantan yang lebih menarik warnanya. Menurut Wibawa (2009), ikan guppy (Poecilia reticulata) jantan mempunyai gonopodium berupa tonjolan dibelakang sirip perut yang merupakan modifikasi sirip anal yang berubah menjadi sirip memanjang, tubuh ramping warnanya cerah, corak lebih indah, sirip panjang, kepala besar. e. Ikan Hias Plati Pedang (Xiphoporus maculatus) Secara dimorfisme ikan plati pedang betina perutnya lebih besar atau gendut dari ikan plati pedang jantan yang lebih ramping. Selain itu, ikan betina tidak memiliki gonopodium sedangkan ikan jantan memiliki gonopodium yaitu perpanjangan sirip anal yang digunakan untuk menyalurkan sperma untuk proses reproduksi. Sedangkan secara dikromatisme ikan betina memiliki warna yang lebih kusam dari pada ikan jantan yang lebih menarik.

14

4.3 Manfaat dalam Bidang Perikanan Manfaat yang dapat diambil dari praktikum biologi perikanan tentang seksualitas yaitu : Mengetahui perbedaan induk jantan dan betina yang dilihat dari cirri seksualitas primer dan sekunder pada ikan bawal (Collosoma

macropomum) dan ikan hias cupang (Betta splendens), Molly (Poecillia latipina), Guppy (Poecillia reticulata) dan ikan Plati pedang (Xiphoporus maculatus). Mengetahui letak dan bentuk organ seks primer pada ikan jantan dan betina Mengetahui macam seksualitas dan sifat seksualitas pada ikan sehingga jika bisa mengetahui semua, maka pembudidayaan akan lebih produktif dan dapat menghindarkan kerugian pembudidayaan dengan kata lain meningkatkan kesejahteraan.

15

BAB 5 PENUTUP

5.1

Kesimpulan Kesimpulan yang didapatkan dari praktikum Biologi Perikanan tentang Seksualitas adalah : Seksualitas hewan terdiri dari 2 jenis yaitu jantan dan betina. Begitu pula ikan, ikan jantan adalah yang memiiki organ penghasil sperma, kalau ikan betin memilii orgn penghasil telur. Sifat seksualitas ada 2 yaitu : Sifat Seksualitas Primer Sifat Seksuaitas Sekunder Ciri-ciri seksuitas skunder adalah : Testis dan salurnnya pada ikan jantan Ovarium dan salurannya pada ikan betina Ciri-ciri seksuaitas seunder yaitu : Bentuk tubuh Warna Sirip Dari kelomk 9 didapatkan hasil praktikum tetang seksualitas yaitu ciriciri seksualitas ada ikan Bawa (Clorossoma macropomum), ikan plati pedang (Xhipoporus naculatus), jantan warna menarik ukuran keil, punya gonopodium, ukuran besar. Ikan guppy (poecillia reticulata) jantan ukuran kecil, warna menarik. Betina ukuran besar, warna pucat. Ikan molly (poecilia platpina) jantan warna mnarik, ukurn kecil. Betina warna pucat. Ikan cupang (Beta splendet) jantan sirip besar,warna menarik, betina warna pudar tidak punya gonopodium.

5.2 Saran Sebaiknya praktikan lebih teliti lagi dalm pengamatan yang dieroleh dapat mendekati valid. sehingga data

16

DAFTAR PUSTAKA

Anggit, 2011. Kematangan Gonad. http:// Anggit bt. blogspot.com / P / laporan.praktikum.biola. biologi. Laut.html. Diakses pada tanggal 10 November 2011 pukul 15.00 WIB. Arniko, 2011. Klasifikasi Ikan Hias. Http:// bimozimiko.blogspot.com/ 2011/ 09/ spesifikasi_ikan_cupang_guppy_molly dan html. Diakses pada tanggal 16 November 2011 pukul 16.00 WIB. Asep, 2009. Sifat Seksualitas Primer dan Sekunder. http:// Asep Maret.09. blogspot.com/. Diakses pada 18 November 2011 pukul 19.00 WIB. Darti, 2011. Ikan Molly (Polecitia laphira). http :// iwandarti.blogspot.com / 2011.asal_usul ikan Molly_polecitia_laphira.html. Diakses pada 16 November 2011 pukul 14.30 WIB. Forza, 2011. Ikan Cupang. http : //forza.wordpress.com/ 2011/

Ikan_cupang_betta_splendens. Diakses pada 16 November 2011 pukul 14.30 WIB. Frans. 2011. Macam Seksualitas Ikan. http : //Frans. Wordpress.com/. Diakses pada 20 November 2011 pukul 14.00 WIB. Gedch, 2011. Perbedaan jenis_kelamin.html. Diakses pada 20 November 2011 pada pukul 14.00 WIB. Google.Image, 2011. Gambar_gambar Ikan. http:// google.images. com/2011/. Diakses pada 20 Noveber 2011 pada pukul 14.00 WIB. Guzfir, 2009. Klasifikasi Ikan Bawal. http: // Guzfir. Blospots.com / 2009/11 (klasifikasi_ikan_bawal.html. Diakses pada 16 November 2011 pukul 14.00 WIB. Musimin, 2008. Histologi Berbagai Jenis Tingkat Kematangan Gonad Ikan Keram (Plendropomus kopanalu). Jurnal Teknologi Akuakulture. Volume 6 No 1. Nurahman, 2011. Klasifikasi Ikan Bawal. http: //Murahman08. Student. Ipb.ac. id /2011/09/ 29. Klasifikasi dan deskripsi_ikan_ bawal_air_

tawar.colfossoma_ macropomum. Diakses pada 16 November 2011 pukul 14.00 WIB. Pramono, 2011. Tentang Ikan platy pedang. http: //pramono. Blogspot.com /2011/ ikan platy pedang.html/. Diakses pada 16 November 2011 pukul 14.30 WIB.

17

Rosalina,

2011.

Seksualitas.

http://

Fina

rosalina.blogspot.com/ Diakses

2011/ 20

pengertian_dan_macam

seksualitas.html.

pada

November 2011 pukul 09.00 WIB. Wahyuningsih dan Barus. 2006. Buku ajar iktiologi. Universitas Sumatra Utara ; Medan. Wibowo. 2011. Klasifikasi dan Morfologi / Ikan guppy.http //

Wibowo.wordpress.com

Klasifikasi_

dan_morfologi_Ikan_Guppy.html. Diakses pada 16 November 2011 pukul 14.30 WIB.

18

LAMPIRAN 1. SEKSUALITAS Morfologi dan Anatomi Ikan Nila da Ikan Hias 1. Ikan Bawal (Collosoma macropomum) GAMBAR KETERANGAN 1. Sirip Dorsal 2. Sirip Caudal 3. Sirip Anal 4. Sirip Pektoral 5. Sirip Ventral GAMBAR LITERATUR

(Google.images, 2011) 2. Ikan Guppy (Poecilia raticulata) GAMBAR KETERANGAN 1. Sirip Dorsal 2. Sirip Caudal 3. Sirip Anal 4. Sirip Pektoral 5. Sirip Ventral

GAMBAR LITERATUR

(Google.images, 2011) 3. Ikan Cupang (Betta splendenis)

19

GAMBAR

KETERANGAN 1. Sirip Dorsal 2. Sirip Caudal 3. Sirip Anal 4. Sirip Pektoral 5. Sirip Ventral

GAMBAR LITERATUR

(Google.images, 2011)

4. Ikan Molly (Poecilid phenops) GAMBAR KETERANGAN 1. Sirip Dorsal 2. Sirip Caudal 3. Sirip Anal 4. Sirip Pektoral 5. Sirip Ventral

GAMBAR LITERATUR

(Google.images, 2011) 5. Ikan Plati Pedang (Xyphophorus hellari) GAMBAR KETERANGAN 1. Sirip Dorsal 2. Sirip Caudal

20

3. Sirip Anal 4. Sirip Pektoral 5. Sirip Ventral

GAMBAR LITERATUR

(Google.images, 2011)

21

Form Data Katakteristik Seks (Sekunder) Tanggal : 19 November 2011 (08.00 -11.00 WIB) No Spesies Jenis Kelamin Ikan Guppy (Poecilia raticulata) Jantan () Betina () Jantan () Betina () Jantan () 3 Ikan Molly (Poecilid phenops) Betina () Ikan 4 Plati Pedang Jantan () Ada gonopodium (perpanjangan sirip anal), warna lebih terang Warna lebih gelap Bentuk sirip lebih mengembang, lebih besar, warna terang Bentuk sirip lebih kecil, warna gelap Ada gonopodium (perpanjangan sirip anal), perut lebih kecil, sirip dorsal panjang Warna gelap, perut lebih besar Perpanjangan sirip caudal, ada Ciri Khusus

Ikan Cupang (Betta splendenis)

(Xyphophorus hellari) Betina ()

gonopodium (perpanjangan sirip anal), warna terang, dorsal panjang. Lebih gendut, warna lebih gelap

22

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN

TINGKAT KEMATANGAN GONAD

AGROBISNIS PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

23

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Selama Proses reproduksi, sebagian besar hasil metabolism tertuju pada

perkembangan gonad. Umumnya berat gonad pada ikan betina adalah 10-25% dari berat tubuh (Tang dan Affandi,1999 dalam Ghufran,dkk,2010).

Perkembangan ovarium sering menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat atau menjadi kurus pada fase reproduksi, bahakan karena ingin mempertahankan populasinya, kematangan gonadnya yang pertama terpaksa dipercepat, sehingga ukuran ikan menjadi kecil (Ghufran, 2010). Pematangan gonad bertujuan untuk mempercepat perolehan telur yang berkualitas agar berdaya tetas tinggi. Artinya, ketika terjadi pemijahan, telur yang dikeluarkan oleh induk ikan nila adalah telur yang matang dan siap dibuahi (Amri, 2003). Dengan diketahui tingkat kematangan gonad tersebut dapat dikaitkan dengan ukuran ikan/udang dan dapat mengarah kepada identifikasi panjang saat pertama matang gonad (Length of first maturity). informasi ini dapat dijadikan dasar pengaturan besarnya mata jarring. besarnya mata jaring. Besarnya mata jaring ditetapkan sedemikian rupa sehingga palaing tidak iakn/udang yang ditangkap sudah memijah, minimal satu kali memijah (Badrudin, 2004). 1.2. Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum Biologi Perikanan materi Tingkat Kematangan Gonad ialah untuk mengetahui cara makroskopik organ reproduksi secara internal, mengetahui cara identifikasi organ seks primer dari ikan, baik bentuk dan perkembangan gonad, untuk mengetahui gambar dan anatomi organ seksualitas pada ikan. Tujuan dari praktikum Biologi Perikanan materi Tingkat Kematangan Gonad ialah agar praktikan mampu mendemonstrasikan secara makroskopik organ reproduksi ikan, mampu mengidentifikasi organ seks primer dan mampu menentukan tingkat kematangan gonad.

24

1.3.

Waktu dan Tempat Praktikum Biologi Perikanan materi Tingkat Kematangan Gonad

dilaksanakan pada tanggal 19 November 2011 pukul 08.00-11.00 WIB di Laboratorium Reproduksi Ikan, Pembenihan dan Pemuliaan ikan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.

25

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Ikan Bawal Menurut Djarijah (2001), ikan bawal memiliki klasifikasi sebagai berikut : Kelas Ordo Famili Genus : Ostrichytyes : Characiformes : Characidae : Colossoma (google image,2011).

Species : Colossoma sp

Sedangkan morfologinya terdiri dari warna abu-abu tua bentuk tubuh tegak bulat. Sisik berbentuk cycloid berwarna perak dan kedua sisi tubuhnya terdapat bercak hitam, letak sirip dada tepat di bawah tutup insang (operculum). sisik pada linealateralis berjumlah 78-84 buah. Tubuh bagian ventral dan sekitar sirip dada ikan bawal muda berwarna merah. Warna ini akan mudar sejalan dengan perkembangan fisik. Menurut Guzfir (2009) dalam Tomy (2011), menyatakan klasifikasi ikan bawal terdiri dari : filum subfilum Kelas Subkelas Ordo Sub Ordo Famili Genus Species : Chordata : Craniate : Ostrichytyes : Neopterigii : Characiformes : Cyprinoidae : Characidae : Colossoma : Colossoma macropomum

Warna tubuh ikan bawal abu-abu tua dengan bentuk tubuh tegak dan membulat, sisik berbentuk cycloid berwarna perak dan pada kedua sisi tubuhnya terdapat bercak hitam. Tubuh bagian ventral dan sekitarnya sirip dada ikan bawal muda berwarna merah, ikan bawal memiliki bibr bawah yang menonjol dan memiliki gigi-gigi besar dan tajam.

2.2 Tahap dan Gambar Perkembangan Gonad

26

a. Tahap dan Gambar Perkembangan Gonad Jantan Menurut Murtidja (2001), Perkembangan kematangan testes setingkat dengan perkembangan ovarium, yang mengalami 9 tingkat sebagai berikut : 1.Fase Pertumbuhan I : testes sangat kecil, transparan sampai kelabu.

2.Fase Pertumbuhan II : testes jernih dan berwarna abu-abu sampai kemerahmerahan. 3.Fase Perkembangan I : testes bebentuk bulat telur, berwarna kemerahan karena pembuluh darah kapiler mengisi hamper setengah bagian rongga badan ventral. 4.Fase Perkembangan II : testes berwarna kemerah-merahan sampai putih, tidak keluar tetesan sperma jika perutnya diuru, dan mengisi 60% rongga tubuh bagian bawah. 5.Fase Dewasa : Testes berwarna putih dan akan keluar tetesan sperma jika diurut. 6.Fase Mijah : Sperma keluar menetes sedikit jika perutnya tertekan pelan-pelan. 7.Fase Mijah-Salin 8.Fase Salin 9. Fase Pulih Salin : testes sudah kosong sama skali. : testes kosong berwarna kemerahan : testes jernih, berwarna abu-abu sampai merah.

b. Tahap dan Gambar Perkembangan Gonad Betina Secara garis besar, perkembangan gonad ikan dapat dibagi menjadi dua tahap yaitu, tahap pertumbuhan gonad ikan sampai ikan menjadi dewasa kelamin dan selanjutnya adalah pematangan gamet. Tahap pertama berlangsung mulai dari ikan menetas hingga mencapai dewasa dan terus berkembang, selama fungsi reproduksi masih tetap berjalan normal (Igusti,2007).

(googleimage, 2011).

27

2.3 Tingkat Kematangan Gonad 2.3.1. Tingkat Kematangan Gonad menurut Kesteven Menurut Kesteven yang dikutip oleh Effendi (1978) dalam Rustidja (2000), menyatakan tingkat kematangan gonad sebagai berikut : Tingkat 1 Tingkat 2 : Remaja, Testes sangat kecil, transparan sampai kelabu. : Remaja berkembang, testes jernih berwarna abu-abu sampai kemerahan. Tingkat 3 : Perkembangan I, testes berbentuk bulattelur, berwarna kemerahan karena lebih banyak pembuluh darah kapiler, testis mengisi hamper setengah bagian rongga badan ventral. Tingkat 4 : perkembangan II, testes berwarna kemerahan sampai putih, tidak keluar sperma jika erut ditekan, testes mengisi kurang lebih dua per tiga rongga badab bagian bawah. Tingkat 5 : Dewasa,testes berwarna putih dan keluar cairan sperma jika ditekan bagian perutnya. Tingkat 6 Tingkat 7 Tingkat 8 : Mijah, sperma keluar jika bagian perut ditekan. : Mijah/salin, testes belum kosong sama sekali : Pulih salin, testes jernih, berwarna abu-abu sampai

kemerahan. Menurut Asep (2009), Cara lain dalam menilai tigkat kematamgan ovarium dikemukakan oleh Kesteven (dalam Bagenal & Braum, 1968), cara ini sederhana karena dilakukan secara makroskopis, sehingga banyak digunakn untuk keperluan di lapang. Kesteven membagi perkembangan ovarium dalam Sembilan tingkat yaitu: 1. Dara : Ovarium sangat kecil dan terletak berdekatan di bawah tulang punggung, tidak berwana sampai abu-abu dan transparan. butir-butir telur tidak terlihat dengan mata biasa. 2. Dara berkembang : Ovarium jernih sampai abu-abu kemerahan, panjangnya setengah atau lebih sedikit daripada rongga bawah, butir-butir telur dapat terlihat dengan kaca pembesar. 3. Perkembangan I : Ovarium berbentuk bulat telur, warna kemerah-meahan karena pembuluh darah kapiler mengisi sekitar setengah ruang rongga bawah, butir-butir telur seperti serbuk putih dan terlihat oleh mata biasa.

28

4. Perkembangan II ; Ovarium berwarna orange kemerahan, telur dapat dibedakan dengan jelas dan berbentuk bulat telur, mengisi kira-kira dua per tiga ruang rongga bawah. 5. Bunting ; Ovarium mengisi penuh ruangan rongga bawah, telur berbentuk bulat dan jernih. 6. Mijah : Telur mudah keluar dengan sedikit tekanan pada perut, kebanyakan telur jernih dan hanya beberapa butir telur saja yang berbentuk bulat telur terdapat dalam ovarium. 7. Mijah/salin : Ovarium belum kosong sama sekali, tidak ada telur yang berbentuk bulat telur. 8. Salin : Ovarium kosong dan berwarna kemerahan, beberapa butir telur sedang dihisap kembali. 9. Pulih Salin : Ovarium jernih sampai abu-abu kemerahan. 2.3.2. Tingkat Kematangan Gonad menurut Takata Menurut Ghufran (2010), tingkat kematangan gonad yang dikemukakan oleh Tester Takata (1953 dalam Effendie,1979) adalah sebagai berikut : 1. Tidak masak. Gonad sangat kecil seperti benang dan transparan, penampang gonad ikan betina tampak bulat dengan warna kemerahmerahan. 2. Permulaan masak. Gonad mengisi seperempat rongga tubuh, warna gonad pada ikan jantan kelabu atau putih dan berbentuk pipih, sedangkan pada ikan betina berwarna kemerahan atau kuning dan berbentuk bulat. Telur tidak tampak. 3. Hampir masak. Gonad meangisi setengah rongga tubuh. Gonad pada ikan jantan berwarna putih, pada ikan betina kuning. Bentuk telur tampak melalui dindin ovary. 4. Masak. Gonad mengisi tiga perempat rongga tubuh. Gonad jantan berwarna putih berisi cairan berwarna putih. Gonad betian berwarna kuning, hamper bening atau benin. Telur mulai terlihat, kadang-kadang dengan tekanan halus pada perutnya maka aka nada yang menonjol pada lubang pelepasannya. 5. Salin. Hampir sama dengan tahap kedua dan sukar dibedakan. Gonad jantan berwarna putih, kadang-kadang dengan bintik coklat. Gonad betina berwarna merah, lembek dan telur tidak tampak.

29

Menurut Takata tingkat kematangan gonad dalam Rosalina (2011), yaitu : 1. Tingkat masak gonad sangat kecil seperti benang dan transparan. Penampang Gonad pada ikan jantan pipih dengan warna kelabu, pada ikan betina berwarna kemerah-merahan. 2. Pemulaan masak gonad mengisi 1/4 rongga tubuh. warna pada ikan jantan kelabu atau putih, bentuknya pipih. sedangkan pada ikan betina warnanya kemerah-merahan atau bening dan bentuknya bulat, telur tidak tampak. 3. Hampir masak, Gonad mengisi 1/2 rongga tubuh. Gonad ikan jantan berwarna pipih, gonad betina berwarna kuning. Bentuk telur tampak melalui dinding ovarium. 4. Masak. 2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kematangan Gonad Ada beberapa factor yang mempengaruhi tingkat kematangan gonad pada ikan yaitu: spesies, umur dan ukuran. Secara umum dapat dikatakan bahwa ikan-ikan yang mempunyai ukuran maksimum kecil dan jangka hidup pendek, akan mencapai kedewasaan pada umur yang lebih mudah daripada ikan yang mempunyai ukuran maksimum lebih besar. ikan seribu (lebister) mencapai kematangan seksual pada umur kurang dari satu tahun. Pada panjang kurang 3 cm. banyak ikan-ikan yang mencapai kedewsaan pada umur satu tahun. Tetapi banyak kematangan seksual pertama kali pada umur dua sampai lima tahun dengan panjang 8-30 cm bahkan lebih (Alfarico, 2011). Factor lingkungan yang dominan mempengaruhi perkembangan gonad adalah suhu dan makanan, selain itu adalah periode cahaya (fotoperiode) dan musim terutama pada musim subtropics (Scott, 1999 dalam Ghufran at al., 2010). Periode penyinaran yang rendah dan suhu tinggi dapat mempercepat kematangan gonad. perkembangan gonad ikan secara garis besar dibagi atas dua tahap perkembangan utama, yaitu tahap perkembangan pertumbuhan gonad hingga ikan mencapai tingkat kedewasaan kelamin (sexually mature) dan tahap pematangan produk seksual (gamet). Tahap pertama berlangsung dan berkembang selama fungsi produksi berjalan normal (Ghufran et al., 2010).

30

2.5 Gonad Somatik Indeks (GSI) Pengetahuan gonad somato indeks (GSI) merupakan salah satu aspek yang memiliki peran penting dalam biologi perikanan, dimana nlai GSI digunakan untuk memprediksi kapan ikan tersebut siap dilakukna pemijahan. Nilai GSI tersebut akan mencapai batas kisaran maksimum pada saat akan terjadinya pemijahan. Pemijahan sebagai salah satu bagian dari produksi merupakan mata rantai daur hidup yang menentukan kelangsungan hidup spesies. Penambahan populasi ikan bergantung pada keberhasilan pemijahan (Naibaho, 2011). Menurut Junaidi at al., 2009, Indeks Gonad Somatik (IGS) ikan bilih betina diperoleh dengan cara menimbang berat tubuh masing-masing sample ikan, kemudian dibedah dan diambil gonadnya. Selanjutnya gonad tersebut ditimbang. Indeks Gonad Somatik ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Indeks Gonad somatic = x 100%

2.6 Gonad Indeks (GI) Sebelum terjadi pemijahan, sebagian hasil metabolism (energi) digunakan untuk perkembangan gonad. Ukuran gonad bertambah sejalan digunakan meningkatnya tingkat kematangan gonad. berbeda dengan TKG dimana ukuran kematangn gonad dinyatakan secara kualitatif, IKG merupakan ukuran perkembangan gonad secara kualitataif. Nilai IKG bergantung dari ukuran ikan dan tingkat kematangan gonad. Secara umum nilai IKG meningkat sejalan dengan perkembangan gonad ikan, nilai tertinggi dicapai pada saat mencapai TKG IV. Bobot gonad dan IKG ikan mencapai maksimal pada TKG IV (Nasution et al., 2006). Gonad Indeks (GI) oleh (Batts (1972) dalam wahyuningsih et al., 2006), yaitu perbandingan antara berat gonad segar (gram) dengan panjang ikan (mm) dengan menggunakan rumus :Gonad Indeks (GI) = x108. Harga 108

merupakan suatu factor agar didapatkan nilai GI mendekati harga satuan sehingga mudah melihat dan mendeteksi perubahan yang terjadi.

31

BAB 3 METODOLOGI

3.1 Alat dan Fungsi Alat yang digunakan dalam praktikum tingkat kematangan gonad (TKG) yaitu : Discectiny Set Timbangan Sartorius Timbangan Analitik 10-2 Papan penggaris : unntuk mengukir panjang total ikan Nampan Serbet Kamera Aquarium Seser 3.2 Bahan dan Fungsi Bahan yang digunakan dalam praktikum tingkat kematangan gonad (TKG) yaitu : Ikan Bawal (Colossoma makropomus): sebagai bahan yang diujikan Tissue Kertas Saring Air : untuk membersihkan alat setilah di gunakan : sebagai tempat gonad : sebagai media objek yang digunakan : untuk meletakkan alat dan bahan praktikum : untuk memegang ikan saat pembedahan : untuk mengambil gambar : untuk tempat ikan : untuk mengambil ikan : seperangkat alat untuk membedah ikan : untuk menimbang kertas saring,ketelitiannya 10-4 : untuk menimbang berat tubuh ikan nila, ketelitian

32

3.3 Skema Kerja

Ikan Bawal (colossoma makropomim) - Di tusuk medula oblongata


Ditimbang berat tubuh (Wt) dalam gram dengan timbangan analitik Diukur panjang total (TL) dalam mm dari ikan Diamati, digambar, dan difoto anatomi organ dalam dan letak gonad Diamati

Gonad Ditentukan TKG-nya menurut kesteven (Bagenal dan Braum, 1968) Difoto dan di gambar gonad Di timbang berat gonad (WG) dalam gonad GSI
-

x 100%

GI=

x 107

Dimasukkan semua data yang diamati dalam form

Hasil

33

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1

Analisa Prosedur Dalam praktikum biologi perikanan tentang tingkat kematangan gonad

alat-alat yang digunakan adalah diseting set digunakan untuk membedah ikan bawal, timbangn sartorius digunakan untuk menimbang kertas saring dengan ketelitian 10-4 , timbangan analitik digunakan untuk menimbang tubuh ikan dengan ketelitian 10-2 , papan penggaris digunakan untuk mengukur panjang total ikan. Nampan sebagai tempat ikan saat di bedah dan sebagai tempat alat ban bahan, serbet digunakan untuk menutupi mata ikan, kamera di gunakan untuk mengambil gambar pada objek yang diamati, aquarium digunakan sebagai wadah tempat air untuk media hidup ikan, dan seser digunakan untuk mengambil ikan. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum biologi perikanan tentang tingkat kematangan gonad adalah ikan bawal (colossoma makropomum) sebagai objek yang diamati, tissue untuk membersihkan alat, kertas saring sibagai gedia meletakkan gonad dan air sebagai media objek yang diamati. Langkah selanjutnya, diambil ikan dari kolam dengan menggunakan seser sambil diletakkan di atas nampan. Ikan bawal ditusuk pada bagian medula oblongata agar ikan cepat mati. Selanjutnya ikan bawal ditimbang berat tubuhnya (Wt) dalam gram dengan timbangan analitik dengan ketelitian 10-2 serta diukur panjang total (TL) dari mulut sampai panjang ekor, lalu ikan bawal di bedah dibagian perutnya dengan di tusuk bagian anus dan dibedah sepanjang garis lineral lateralis, digambar, diamati letak gonad ditentukan TKG-nya. Menutut Kesteven gonad difoto dan digambar, ditimbang juga berat gonad sebagai Wg dalam gram, berat gonad (Wg) digunakan untuk menghilang nilai GI dan GSI, dan terakhir didapatkan nilai, kemudian dimasukkan semua data yang diamati pada form dan diperoleh hasil.

4.2

Analisa Hasil

4.2.1 Analisa TKG Pada Praktikum biologi perikanan dengan materi Tingkat Kematangan Gonad didapatkan pada hasil ikan bawal (Colossoma macropomum) I berat tubuhnya 8,26 gram, dan tingkat kematangan gonadnya perkembangan I, jenis

34

kelamin jantan.Menurut Asep (2009) Cara lain dalam menilai tigkat kematamgan ovarium dikemukakan oleh Kesteven (dalam Bagenal & Braum, 1968), cara ini sederhana karena dilakukan secara makroskopis, sehingga banyak digunakn untuk keperluan di lapang, Perkembangan I yaitu : Ovarium berbentuk bulat telur, warna kemerah-meahan karena pembuluh darah kapiler mengisi sekitar setengah ruang rongga bawah, butir-butir telur seperti serbuk putih dan terlihat oleh mata biasa. Pada hasil ikan bawal (Colossoma macropomum) II tingkat kematangan gonadnya adalah dara berkembang dengan berat tubuh 72,2 gram dan berjenis kelamin jantan, sedangkan pada hasil ikan bawal (Colossoma macropomum) III tingkat kematangan gonadnya adalah dara berkembang, berat badan 45,3 dengan jenis kelamin betina. Menurut Asep (2009) Cara lain dalam menilai tigkat kematamgan ovarium dikemukakan oleh Kesteven (dalam Bagenal & Braum, 1968), cara ini sederhana karena dilakukan secara makroskopis, sehingga banyak digunakn untuk keperluan di lapang, Dara berkembang yaitu : Ovarium jernih sampai abu-abu kemerahan, panjangnya setengah atau lebih sedikit daripada rongga bawah, butir-butir telur dapat terlihat dengan kaca pembesar. 4.2.2. Analisa GSI Dari perhitungan Gonad Indeks somatic (GSI) dari sampel ikan bawal (Colossoma macropomum) I,II,dan III diperoleh hasil GSI yakni 1,976, 1,22, dan 0,902. Menurut Junaidi at al., 2009, Indeks Gonad Somatik (IGS) ikan bilih betina diperoleh dengan cara menimbang berat tubuh masing-masing sample ikan, kemudian dibedah dan diambil gonadnya. Selanjutnya gonad tersebut ditimbang. Indeks Gonad Somatik ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Indeks Gonad somatic = x 100%

4.2.3. Analisa GI Dari perhitungan Gonad Indeks (GI) dari sampel ikan bawal (Colossoma macropomum) I,II,dan III diperoleh hasil GI yakni 3,322, 2,15, dan 5,12. Gonad Indeks (GI) oleh (Batts (1972) dalam wahyuningsih et al., 2006), yaitu perbandingan antara berat gonad segar (gram) dengan panjang ikan (mm) dengan menggunakan rumus :Gonad Indeks (GI) = x108

35

Harga 108 merupakan suatu factor agar didapatkan nilai GI mendekati harga satuan sehingga mudah melihat dan mendeteksi perubahan yang terjadi. 4.4 Manfaat Dibidang Perikanan Pada praktikum biologi perikanan manfaat tentang tingkat kematangan gonad adalah Dapat mengetahui iakan yang siap pijah dengan yang belum. Dapat membedakan gonad jantan dan gonad betina. Dapat menentukan tingkat kematangan gonad. Dapat membedakan ikan jantan dan betina yang matang gonad dengan yang belum.

36

BAB 5 PENUTUP 5.1 Kesimpulan Pada Praktikum Biologi Perikanan tentang materi Tingkat Kematangan Gonad didapatkan kesimpulan sebagai berikut : Tingkat kematangan gonad ikan betina yaitu ikan muda, masa berkembang, dewasa, matang, dan mijah. Pematang gonad didorong oleh factor-faktor lingkingan seperti suhu, lama penyinaran matahari. Pertumbuhan relative gonad dinyatakan sebagai gonad somatic indeks (GSI) Indeks Gonad somatic = x 100% x108

Gonad Indeks (GI) dapat ditulis dengan rumus ; GI =

Pada ikan bawal (Colossoma macropomum) I nilai GSI = 1,976 tingkat kematangan gonad perkembangan I, nilai GI = 2,15 jenis kelamin jantan, TL = 17cm, W= 82,6 gram, Wg= 1,7625 gram. Pada ikan bawal (Colossoma macropomum) II nilai GSI = 1,22 tingkat kematangan gonad dara berkembang, nilai GI = 2,12 jenis kelamin jantan, TL = 16 cm, W= 72,2 gram, Wg= 1,0016 gram. Pada ikan bawal (Colossoma macropomum) III nilai GSI = 0,902 tingkat kematangan gonad dara berkembang, nilai GI = 5,12 jenis kelamin betina, TL = 13 cm, W= 78,75 gram, Wg= 1,2546 gram. 5.2 Saran Pada praktikum ini diharapkan pada praktikan agar berhati-hati dalam menggunakan alat dan menjaga kebersihan, dan diharapkan pada asisten agar lebih detail dalam menjelaskan materi.

37

DAFTAR PUSTAKA

Alfarico.2011.Tingkat

Kematangan

Gonad.http://blog.unpad.ac.id/alfarico/

xm1rpc.php.Diakses pada tanggal 17 November 2011, pikul 15.30 WIB. Amri,Khairul dan Khairuman.2003.Budidaya Ikan Nila.Agromedia

Pustaka:Jakarta. Asep.2009.Tahap-Tahap Kematangan Gonad.http://asep-budidaya-perairan. tahap-tahap-kematangan-gonad.html.

blogspot.com/2009/03/

Diakses pada tanggal 17 November 2011, pikul 15.40 WIB. Djariyah,Abbas Siregar.2001.Budidaya Ikan Bawal.kanisius:Yogyakarta Googleimage.2011.Gambar.http://googleimage.com/gambar/. tanggal 17 November 2011, pikul 15.40 WIB. Ghufran,M Kordi K dan Tamsil Andi.2010.Pembenihan Ikan Laut Ekonomis Secara Buatan.Lely Publish:Yogyakarta. Igusti.2007.Tingkat Kematangan Gonad.Jurnal Seminar Nasional desember 0911 Junaidi et al.2009.Indeks Gonad Somatic Ikan Bilih (Mystacukeus Padangersis Blikr).Jurnal Penelitian Sains Edisi Khusus Desember 2009 (D) 09:12-12. Murtidjo,Agus Bambang.2001.Beberapa Tawar.kanisius:Yogyakarta. Naibaho.2011.Gonad.http://naibaho,blogspot..com. /. Diakses pada tanggal 17 November 2011, pikul 08.00 WIB. Nasution et al.2006.Perbaikan Frekuensi Pemijahan dan Mutu Telur Ikan Kerapu Bebek dengan Perbaikan Jenis dan Komposisi pakan Bali.Seminar IPTEK Kelautan Nasional. Prihatini,Ambar.2006.Analisis Tampilan Biologis Ikan Layang(Decapterus spp) Hasil Tangkap Pursesein yang didasarkan di PPN Pekalongan. Rosalina,Fira.2011.Tingkat Kematangan Gonad.http://firarosalina.blogspot.com /2011/06/ tingkat _kematangan_gonad-tkg. Diakses pada tanggal 18 November 2011, pikul 08.00 WIB. Rustidja.2000.Prospek Pembekuan Sperma Ikan.Universitas Brawijaya:Malang. Metode Pembenihan Ikan Air Diakses pada

38

Tomy.2011.Laporan Pembenihan Ikan 2011.http://tomy-perikanan.wordpres.com/ laporan-pembenihan-Ikan-2011.html. Diakses pada tanggal 18 November 2011, pikul 17.00 WIB. Wahyuningsih,Hesti dan Barus Alexander.2006.Hubah Kompetisi Konten

Masalah Kuliah E-Learning-Usu-Internet.Buku Ajar Ichtiologi.

39

PERHITUNGAN TINGKAT KEMATANGAN GONAD Ikan Bawal (Colossoma macropomum) I, x 100% x 100%

GSI = = = 1,976 GI = = x108 x108

= 3,332 Ikan Bawal (Colossoma macropomum) II, x 100% x 100%

GSI = = = 1,22 GI = = = 2,15 x108 x108

Ikan Bawal (Colossoma macropomum) III, x 100% x 100%

GSI = = = 0,902 GI = = = 5,12 x108 x108

40

2. TINGKAT KEMATANGAN GONAD Form Data Tingkat Kematangan Gonad Ikan Tanggal : 19 November 2011 (08.00 -11.00 WIB) KEL. TL (cm) W (gr) 1 & 2 3 & 4 5 & 6 7 & 8 9 & 10 11 & 12 14,5 16 17,5 15 15 18 17 16 13 16,5 14 13 8,08 8,6 9,86 11,5 16 17 47,98 61,58 76,09 12 14,5 15 82,6 72,2 78,75 87,04 53,46 45,03 100,01 56,1 45,4 28,85 67,00 79,22 Jenis Kelamin 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 2 2 1 1 2 1 1 1 Wg (gr) 0,3454 0,262 0,4813 54,70 74,24 63,41 1,7625 1,0016 1,2546 0,0622 0,1080 0,239 0,492 0,200 0,166 0,1916 0,2601 0,5608 TKG Dara Berkembang Dara Berkembang Perkembangan II Dara Dara Berkembang Perkembangan I Perkembangan 1 Dara Berkembang Dara Berkembang Dara Dara Dara Dara Dara Berkembang Dara berkembang Perkembangan II Perkembangan I Perkembangan I GSI 0,72 0,42 0,63 GI 7,2x103 4,25 x103 6,32 x103 2,21 x107

1,147 1,86 x107 1,01 0,680 1,24 x107 1,976 3,322 1,22 2,15

0,902 5,12 0,068 3636,4 0,18 0,51 3,87 3,92 8,15 7142,9 17692,3 2,5 x103 1,3 x103 1,1 x103

0,66% 1,25 0,38% 0,64 0,71% 1,14

Keterangan: Jenis Kelamin : (0) tidak terdeteksi, (1) jantan, (2) betina TKG Kesteven : disesuaikan dengan Tingkat Kematangan Gonad menurut

41

Morfologi dan Anatomi Gonad Jantan GAMBAR KETERANGAN 1. Sel Telur 2. Lapisan Pembungkus

GAMBAR LITERATUR

(Google.images, 2011) Morfologi dan Anatomi Gonad Jantan GAMBAR KETERANGAN 1. Cairan Spermatozoa 2. Lapisan Pembungkus

GAMBAR LITERATUR

(Google.images, 2011)

42

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN

FOOD AND FEEDING HABIT

AGROBISNIS PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

43

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Pada pembenihan, ketersediaan pakan alami yang sesuai dengan

bukaan mulut larva benih yang

tepat waktu, berkualitas dan cukup, sangat

menentukan keberhasilan pembenihan. Salah satu hambatan dalam penbenihan ikan laut dan biota akuatik lainnya adalah belum ditemukan pakan larva yang cocok, baik ukuran pakan - sesuai dengan bukaan mulut larva maupun

nutrisinya (Tamsil, et.al, 2008). Studi tabiat kebiasaan makanan ikan ialah menentukan gizi alamiahikan itu, sehingga dapat dilihat hubungan diantara organisme diperairan tersebut. Misalnya bentuk-bentuk pemanfaatan, saingan dan rantai makanan. Sehingga makanan dapat merupakan faktor yang menentukan bagi populasi, pertumbuhan dan kondisi ikan. Sedangkan musim makanan satu jenis ikan biasanya bergantung pada umur, tempat dan waktu. Kebiasaan makanan dapat berbeda dengan waktu lainnya walaupun pengambilan dilakukan pada tempat yang sama. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan suasana lingkungan

(Taufigurahman.et,al.,2007).

1.2.

Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum Biologi Perikanan tentang Food and Feeding Habit

yaitu mengetahui kebiasaan makan dan variasi makanan ikan, dapat dilihat dari hubungan ekologi diantara organisme perairan untuk mengetahui isi

(phytoplankton dan zooplankton) dari alat pencernaan makanan dan untuk mengetahui jenis ikan berdasarkan kebiasaan makan dan variasi makanannya. Tujuan dari praktikum Biologi Perikanan tentang Food and Feeding Habit adalah mampu mempraktikan cara pengambilan dan perhitungan plankton yang ada didalam lambung ikan dan mampu membedakan jenis ikan berdasarkan makanan yang dimakan.

44

1.3.

Waktu dan Tempat Praktikum Biologi Perikanan tentang Food and Feeding Habit

dilaksanakan pada tanggal 19 Nopember 2011, pukul 08.00-11.00 WIB dilaboraturium Reproduksi, Pembenihan dan Pemuliaan Ikan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang.

45

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Food dan Feeding Kebiasaan makan adalah tingkah laku ikan saat mengambil dan mencari makanan. Prinsip yang kemudian dikembangkan adalah dengan mengidentifikasi pencernaan. Makanan alami adalah berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang hidup di perairan (Sulumin dalam Anhar et.al, 2008). Keberadaan suatu jenis ikan memiliki hubunfan yang sangat erat dengan mengetahui kebiasaan makanan ikan. Kita dapat melihat hubungan ekologi diantara organisme pada perairan tersebut, misalnya bentuk pemangsaan, persaingan dam rantai makanan, disamping itu juga memiliki pengetahuan yang penting dalam hal domestikasi ikan-ikan yang memiliki nilai ekonomis penting yang akan dibudidayakan (Anhar et.al,2008). Pengaturan konsumsi pakan oleh ikan merupakan pengaturan energi yang masuk. Sehingga jumlah pakan uang dikonsumsi disesuaikan dengan laju metabolisme. Pada dasarnya ikan yang mengkonsumsi pakan pada saat lapar dan jumlah pakan yang dikonsumsi akan semakin menurun bila ikan mendekati kenyang (Hepher dalam Haetami et al,2007). 2.2 Food dan Feeding Ikan Sampel (Bawal Air Tawar) Bawal air tawar termasuk kedalam kelompok ikan pemakan segala (omnivore), tetapi ada pula yang menyebutkan bahwa ikan ini cenderung menjadi karnivore (pemakan daging). Hal tersebut terlihat dari bentuk gigi yang tajam. Ketika masih kecil ,ikan ini menyukai makanan sejenis plankton (fitoplankton dan zooplankton) serta tumbuhan air atau dedaunan air (herbivore). Ikan ini juga memangsa hewan seperti ikan kecil, udang kecil, atau serangga air. Apabila dibudidayakan di kolam, bawal air tawar, bawal air tawar dapat di beri pakan alami dan pakan buatan sebagai pakan tambahan (Khirunan dan Khairul, 2001). Setiap ikan memiliki kebiasaan makan yang berbeda. Ada tiga golongan berdasarkan kebiasaan makan yaitu kebiasaan makan didasar perairan

ditengah dan di permukaan. Dilihat dari jenis makanannya ikan digolongkan dalam 3 golongan, yaitu herbivore, carnivore, omnivore. Hasil pembagian menunjukkan bahwa ikan bawal air tawar tergolong omnivore (scribd,2011). 2.3 Penggolongan Ikan Berdasarkan Food and Feeding Habit

46

Menurut Umar (2007), menyatakan bahwa hasil analisis kebiasaan pakan dari 14 jenis ikan menunjukkan bahwa kebiasaan makan ikan dapat dikelompokkan menjadi kelompok ikan herbivora ada 6 jenis, yaitu ikan tambakan (Helostoma temminechi) dan sepat (Trichogoster petoalis), ikan nila (Oreochromis niloticus), jambal (Pangosius sp), nilem (Orteochilus hasselti) dan raimbau merah (Glassolepisi iniaur). Ikan jenis karnivora ada 6 jenis. Ikan sembilang (Hemipimelalus velutinus), gabus merah (Ophiunora aporos), mata merah (Puntinus orphoides), ikan raimbaw merah (Glorsolepis inius), rainbow (Chilaterina sencanilasis) dan gabus hitam (Oregeoelatrus lineolatus). Ikan predator 2 jenis, ikan gastor (Pogeneleotrus mioqus) dan gete-gete besar

(Apogam wichman). Penggolongan berdasarkan jenis makanannya, menurut Mujiman (2003), yang ditulis oleh Wahyuningsih (2006). a. Herbivora, ikan golongan ini makanan utamanya berasal dari bahan-bahan nabati misalnya ikan tawes (Luntus javanicus), ikan nila (Oreochromis niloticus) dan bandeng (Chanos chanos). b. Karnibora, ikan jenis ini makanan utamanya berasal dari bahan-bahan hewani misalnya ikan belut (Monopteus albus), ikan lele (Charias betracus) dan kakap (Hall eukariber). c. Omnivira, ikan golongan ini sumber maknannya berasal dari bahan-bahan nabati dan hewani namun telah menyesuaikan diri dengan jenis makanan yang tersedia misalnya ikan mujair (Tilapia mossambisa), ikan mas (Ciprirus carpeio), ikan gurami (Ospronemus gorang). d. Pemakan plankton, ikan golongan ini sepanjang hidupnya selalu memakan plankton baik phytoplankton dan zooplankton misalnya ikan terbang (Exaculfus helitom), ikan oncut (Rhinoden typious). e. Pemakan detritus, ikan golongan ini sumber makanannya berasal dari sisisisa hancuran bahan organik yang telah membusuk dalam air baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan, misalnya ikan belanak (Mugii sp).

2.4 Penggolongan Ikan Berdasarkan Tipe Usus + Gambar Golongan ikan yang memakan bahan makanan yang berasal dari binatang dan tumbuan. Ikan golongan ini mempunyai sistem pencernaan antara bentuk herbivora dan karnivora. Menentukan jenis makanan ikan tertentu secara

47

langsung tidaklah mudah karena usus ikan kadang-kadang kosong, namun pengamatan terhadap panjang usus dan hubungannya dengan panjang badan dapat membantu untuk mengetahui jenis bahan makanan yang dimakannya. Ikan herbivora, umumnya memilki usus yang panjangnya 4-10 kali panjang badannya. Ikan predator mamiliki panjang usus lebih pendek atau sama panjang dengan badannya (Jeffri,2010). Berdasarkan data yang didapatkan, hasil pengukuran secara umum menunjukkan bahwa panjang usus ikan lebih besar dari pada panjang total tubuh ikan dan panjang usus tersebut. Ikan nila termasuk kedalam ikan herbivora yang memiliki usus panjang dan berbelit-belit serta dinding ususnya tipis (Anhar,2008).

2.5 Food and Feeding Habits Berdasarkan Bentuk Morfologi Ikan Menurut Moyle dan Cech (1988) dalam Achmad (2011) menggolongkan ikan dalam enam kelompok : a. Predator aktif, ikan ini mempunyai bentuk tubuh yang langsing dengan mulut di ujung dan batang ekor menyempit dengan bentuk ekor agak bulan sabit. b. Predator tak aktif, merupakan ikan yang mempunyai bentuk tubuh yang cocok untuk menangkap mangsa dengan cara menghadang ikan-ikan perenang cepat. c. Ikan pelagic, umumnya berukuran kecil, bentuk superior, kepal berbentukpipih datar dan mata lebar dan sirip punggung berada di bagian belakang. d. Ikan demersal, mempunyai ukuran bentuk tubuh yang beragam. Gelembung renang ikan-ikan kelompok ini mereduksi atau tidak ada. e. Ikan berbadan membulat, mempunyai ukuran tubuh panjang jarak antara hidung hingga pangkal ekor. f. Ikan dengan badan seperti belut, mempunyai badan yang panjang dengan bentuk kepala tumpul, ekor meruncing atau membulat. Menurut Lesman (1986) dalam Pratama (2011), pembagian food and feeding habits berdasarkan bentuk morfologi ikan adalah : a. Bentuk Fusiform atau lurus, memungkinkan ikan untuk bergerak cepat, terutama dalam menangkap mangsa misalnya ikan tuna dan ikan hiu. b. Bentuk pipih tegak, memungkinkan ikan untuk bergerak dengan mudah diantara tumbuhan air dan areal sempit, misalnya ikan Penthus triachantus.

48

c. Bentuk pipih datar dan tipis memanjang, sperti pada belut dan beberapa ikan bentuk ini mensekresi semacam lendir yang dapat membantu gerakan di substrat lumpur dan mengurangi terjadinya luka di tubuhnya. 2.6 Rantai Makanan Di lautan yang menjadi produsen adalah fitoplankton, yaitu sekumpulan tumbuhan hijau yang sangat kecil ukurannya dan melayang-layang dalam air. Konsumen I adalah zooplankton (hewan pemakan fitoplankton) sedangkan konsumen Iinya adalah ikan-ikan kecil. Konsumen IIInya adalah ikan-ikan sedang dan konsumen IVnya adalah ikan-ikan besar. Urutan makan dan dimakan di atas dapat berjalan seimbang dan lancar bila seluruh komponen itu ada. Bila salah satu komponen tidak ada, maka terjadi ketidak seimbangan dalam urutan makanan tersebut (Effendi,2002). Menurut Hasby (2011), rantai makanan ada beberapa jenis, antara lain : 1. Rantai Pemangsa Rantai pemangsa adalah rantai makanan yangang landasan utamanya berupa tumbuhan hijau sebagai produsen. Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivora (konsumen I) dilanjutkan dengan hewan karnivora yang memangsa herbivora (konsumen II) dan berkahir pada hewan pemngsa karnivora maupun herbivora (Konsumen III). 2. Rantai Parasit Rantai parasit dimulai dari organisme mati hingga organisme yang hidup sebagi parasit, misalnya cacing dan bakteri. 3. Rantai Saprofit Dimulai dari organisme mati ke jasad pengurai, misalnya jamur dan bakteri. Rantai terebut tidak berdiri sendiri, akan tetapi saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Sehingga membentuk jaring-jaring makanan.

(Googleimage,2011)

49

BAB 3 METODOLOGI

3.1 Alat dan Fungsi Alat yang digunakan dalam Praktikum Biologi Perikanan tentang Food and Feeding Habits adalah sebagai berikut :

Timbangan Sartorius ketelitian 10


-4

untuk

menimbang

berat

lambung

dengan

Timbangan Analitik Handtally Counter Mikroskop Objek Glass Cover Glass

: untuk menimbang berat ikan dengan ketelitian 10-2 : Untuk menghitung fitoplankton dan zooplankton

: untuk mengamati fitoplankton dan zooplankton : sebagai tempat preparat : sebagai penutup preparat

Papan Penggaris : Untuk mengukur panjang tubuh ikan Nampan Serbet Dissecting set Gunting Kamera Jarum Pinset : Sebagai wadah alat dan bahan : Untuk mengkomdisikan ikan saat ditimbang : Untuk membedah ikan : Untuk membedah perut ikan : Untuk medokumentasikan organ dalam ikan : Untuk menusuk medula oblongata ikan bawal : Untuk mengambil gonad dan lambung

3.2 Bahan dan Fungsi Bahan yang digunakan dalam Praktikum Biologi Perikanan tentang Food and Feeding Habits adalah sebagai berikut : Ikan Bawal (Colossoma macropomum) : Sebagai objek pengamatan Kertas Saring lemak lambung Tissue Air : untuk membersihkan alat : membersihkan alat praktikum : Sebagai alas lambung saat ditimbang dan menyerap

50

3.3 Skema Kerja Ikan Bawal (Colossoma macropomum) Ditusuk medulla oblongata Ditimbang berat tubuh (W) dalam gram dengan timbangan analitik Diukur panjang total (Tl) dalam cm dari ikan Diamati dan ditemukan jenis ikan berdasarkan morfologi (gigi dan mulut) Dibuka bagian perut dengan alat sectioset Di foto

Lambung Dicari dan diambil lambung Ditimbang berat lambung keseluruhan (WL) dalam gram dengan timbangan Sartorius Lambung Sebagian Dipotong lambung sebagian pada bagian pangkal Diambil dan ditimbang lambung sebagian (wl) dalam gram dengan timbangan Sartorius Dicacah dan dibuat preparat Diamati di mikroskop dan dihitung jumlah zooplankton dan fitoplankton Hasil Dimasukkan semua data yang diamati pada form

51

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1 Analisa Prosedur Dalam praktikum tentang food and feeding habits alat yang digunakan adalah timbangan sartorius untuk menimbang berat lambung dengan ketelitian 10-4, timbangan analitik dengan ketelitian 10-2 untuk menimbang berat tubuh ikan bawal, handtally caunter untuk menghitung jumlah plankton, mikroskop digunakan untuk mengamati plankton, objek glass digunakan untuk tempat membuat preparat yang akan diamati dibawah mikroskop, cover glass digunakan untuk menutup objek glass, papan penggaris digunakan untuk mengukur panjang ikan bawal (TL), nampan ddigunakan untuk tempat alat dan bahan, serbet digunakan untuk membersihkan alat dan bahan serta memegang ikan bawal, disecting set untuk membedah ikan bawal, dan kamera untuk mengambil gambar ikan. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah ikan bawal (Colossoma macropomum) sebagai sampel yang akan diamati food and feeding habit, kertas saring sebagai tempat lambung ikan yang akan ditimbang, tissue digunakan untuk membersihkan alat, dan air digunakan sebagai media hidup ikan. Langkah pertama yang dilakukan adalah diambil ikan bawal, diletakkan di nampan, ditusuk medula oblongata agar ikan cepat mati karena terhubung dengan pusat saraf ikan, setelah itu ditimbang berat tubuh (WT) dalam gram dengan timbangan analitik, serta diukur panjang total dari mulut sampai dengan pangkal ekor (TL). Selanjutnya ikan dibedah dibagian perut dengan alat

disecting set yaitu ditusuk dibagian anusnya sepanjang linea lateralis sampai batas operculum. Ikan ditimbang berat lambung dalam gram dengan timbangan sartorius, kemudian lambung dipotong dibagian pangkal lalu diambil dan ditimbang lambung sebagian (w), dengan timbangan sartorius. Lambung sebagian dicacah dan dibuat preparat diatas objek glass yang sebelumnya ditambah aquades dan ditutup dengan cover glass 450 agar tidak terjadi gellembung. Setelah itu diletakkan dimikroskop untuk diamati dan dihitung jumlah fitoplankton dan zooplankton dengan hendtally caunter, terakhir dimasukkan semua data yng diperoleh dalam form dan diperoleh hasil.

52

4.2 Analisa Hasil 4.2.1 Analisa Hasil Kelompok Berdasarkan data yang diperoleh maka didapatkan hasil sebagai berikut: Wb klp (gr) TL (cm) WL (gr) WI (gr) Zoo (b) Fito (a) X (a+b) Xa (%) Xb (%)

50,42 58,43 69,01

13 15 15,5

1,45 1,22 1,38

1,26 0,18 0,10

1 1 1

3 3 4

4 4 5

75% 75% 80%

25% 25% 20%

Jadi, dari hasil data pengamatan yang diperoleh jumlah zooplankton dan fitoplankton pada food and feeding habits adalah ialah jumlah zooplankton lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah fiitoplanktonnya, sehangga berpengaruh pada pola makannya. Pakan yang digunakan saat ini merupakan pakan komersil untuk pembesaran ikan air tawar seperti ikan mas dan ikan lele. Jadi untuk mendapatkan benih yang cukup bermutu baik adalah dengan memperbaiki kualitas telur (Yulfiperus,2008) . 4.2.2 Analisa Hasil Seluruh Kelompok Dari praktikum yang telah dilaksanakan, didapatkan data hasil seluruh kelompok pada pengamatan food and feeding habits. Untuk kelompok 15 didapatkan Wt I, II, III berturut-turut 72,28 gr, 66,63 gr dan 44,40 gr. Sedangkan untuk TL I, II, III secara berurutan adalah 17 cm, 16 cm dan 13,3 cm. Untuk berat organisme plankton (WI) adalah 0,0409 gr, 0,0425 gr dan 0,075 gr. Sementara untuk organisme zooplankton tidak ditemukan, tetapi fitoplankton didapatkan untuk ikan I, II, III berturut-turut adalah 4, 5 dan 4 dan berat jenis organisme zooplankton (XB) adalah nol, sementara berat jenis organisme fitoplankton (Xa) adalah 127,13, 160 dan 46,43. Perbandingan data kelompok tertinggi dan terbesar ada pada ikan bawal kelompok 2 yang memiliki rata-rata data Wt I, II dan III berturut-turut 92,54 gr, 87,4 gr dan 72,22 gr dan rata-rata TL I, II, dan III berturut-turut 17 cm, 16 cm dan 15 cm. Untuk WL I, II, dan III berturut-turut 3,388, 2,3288 dan 1,7235 dan nilai WI I, II dan III tertinggi berturut-turut 2, 1, 1 dan fitoplankton pada ikan I, II, III berturut-turut 18, 15 dan 10. Nilai XB tertinggi didapat pada angka 91,55% dan 82% sementara Xa rata-rata berturut-turut 82, 76, 69, 52 dan 39,63. Untuk perbandingannya data rata-rata terendah dan terkecil didapat dari data kelompok 24 dengan nilai Wt berturut-turut 50,42 gr,

53

58,43 gr dan 69,01 gr. Dan nilai TL berturut-turut 15,5 cm, 15 cm dan 13 cm. Dengan WL I, II, III berturut-turut 1,45, 1,22 dan 1,38. Sementara untuk WI 1,26, 0,18 dan 0,10. Jumlah masing-masing zooplankton 1, 1 dan 1 dan fitoplankton 3, 3, dan 4 organisme. Nilai XB terendah berada pada angka 30, 213, 68, 44 dan 74,88 (data kelompok 25) dari berbagai perbandingan data tersebut dapat dikatakan ikan bawal adalah ikan pemakan segala (omnivora). Makanan sangat penting untuk pertumbuhan ikan karena makanan berfungsi pada pertumbuhan sel organisme. Makanan adalah organisme, bahan maupun zat yang dimanfaatkan ikan untuk menunjang kehidupan organ tubuhnya. Tujuan yang ingin dicapai adalah mengetahui jenis-jenis organisme yang menjadi makanan ikan (Anhar,2008). 4.3 Manfaat di Bidang Perikanan Pada praktikum Biologi Perikanan materi Food And Feeding Habits didapatkan beberapa manfaat yaitu: Kita dapat mengetahui dan membedakan ikan berdasarka makanannya, cara makannya, tipe ususnya dan mengetahui ciri-ciri morfologinya. Kita dapat mengetahui proses rantai makanan dan jaring makanan terdapat diperairan. Kita mengerti cara membedah ikan dan menimbang berat dan mengukur panjang, serta lingkar tubuh ikan. kita dapat memaksimalkan pertumbuhan ikan,sehingga dapat menghasilkan ikan dengan mutu yang baik yang

54

BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan o o o Kebiasaan makan adalah tingkah laku ikan saat mengambil dan mencari makanan. Kebiasaan makan ikan dipengaruhi oleh berbagai fakto factor Bawal air tawar termasuk kedalam kelompok ikan pemakan segala (omnivore), tetapi ada pula yang menyebutkan bahwa ikan ini cenderung menjadi karnivore (pemakan daging). o Di lautan yang menjadi produsen adalah fitoplankton, yaitu

sekumpulan tumbuhan hijau yang sangat kecil ukurannya dan melayang-layang dalam air. o Golongan ikan yang memakan bahan makanan yang berasal dari binatang dan tumbuan. Ikan golongan ini mempunyai sistem pencernaan antara bentuk herbivora dan karnivora. o Menurut Umar (2007), menyatakan bahwa hasil analisis kebiasaan pakan dari 14 jenis ikan menunjukkan bahwa kebiasaan makan ikan dapat dikelompokkan menjadi kelompok ikan herbivora ada 6 jenis 5.2 Saran Kalau bisa praktikum bioper kedepannnya harus disiapin mateng-mateng dan perlu ada kordinir dengan asisten bioper lainnya kami sangat menyesal sekali dengan praktikum kali ini

55

DAFTAR PUSTAKA

Amri,2011. Kebiasaan Makan dan Laju Pertumbuhan . http:// tipepetani .blogspot .com /2011 / 03.html.Diakses tanggal 24 November 2011 pukul 20.00. Anatahime,2011. Kebiasaan makan ikan . http:// anatahime09 .blogspot.com /2011 /05.html.Diakses pada 25 November 2011 pukul 21.00. Andika,2008.Rantai makanan .http://putraandika.blogspot.com /2008/07 /Rantai makanan. Diakses pada 26 November 2011 pukul 21.05 Anhar et.all,2008. Cara makan dan Kebiasaan makan ikan.Bogor. Aquaticcommunity,2007.FeedingHabit.http://aquaticcommunity.com/FishFood.ht ml. diakses pada 24 November 2011 Balivetman,2007.Kebiasaan Makan Ikan .http://balivetman.wordpress

.com/2007/11/27 diakses pada 24 November 2011 Googleimages,2011.http://google.co.id/imghp?hl. diakses pada 26 November 2011 Haetami et.al,2007.Kebutuhan dan Pola Makan Ikan.Bandung. Khairul,2008.Buku Pintar Budidaya Ikan Konsumsi Rustidja,2008.Pola Warna dan Genetik Ikan Nila.Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya.Malang. Saputra,2007. Kebiasaan Makan Ikan.http://balivetman.wordpress.com. diakses pada 24 November 2011 Scribd, 2011. Ikan Bawal.http://scribd.com/doc/33015845. Diakses pada 24 November 2011 Surya,2011. Konsumen-Konsumen dalam Rantai Makanan .http:// primassurya. wordpress.com. Diakses 24 November 2011.

56

3. FOOD AND FEEDING HABIT Form Data Kebiasaan Makan Ikan Tanggal : 19 November 2011 (08.00 -11.00 WIB) KLP Wt (gr) 47,98 1&2 61,58 76,09 54,70 3&4 74,24 TL (cm) 14,5 16 17,5 15 15 WL (gr) WI (gr) Plankton Zoo (b) Pyto (a) 73 43 5 0 3 3 68 96 80 0 13 5 0 2 3 8 15 28 X (a+b) 100 64 77 0 3 3 75 104 89 0 13 7 0 2 3 15 28 36 XA (%) 73 XB (%) 27

0,936 0,039 27 1,571 0,020 21 1,367 0,002 72 0,901 0,228 0 2,460 0,183 0 2,374 0,164 0 1,989 0,133 7 0,831 0,161 8 1,129 0,263 9 2,316 0,063 0 0,988 0,010 0 0,990 0,020 2 2,316 0,063 0 0,988 0,010 0 0,999 0,020 0 0,57 1,86 1,94 0,12 0,13 0,14 7 13 8

67,18 32,8 75 0 100 100 93,5 0 0 0

103,40 18 82,6 5&6 72,2 78,75 87,04 7&8 53,46 45,03 17 16 13 16,5 14 13

90,67 9,33 54,45 45,55 89,90 10,10 0 100 71,4 0 100 100 53,3 53,6 77,8 0 0 28,6 0 0 0 46,7 46,4 22,2

100,01 8,08 9&10 56,1 45,4 28,85 11&12 67,00 79,22 8,6 9,86 11,5 16 17

57

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN

HUBUNGAN PANJANG DAN BERAT

AGROBISNIS PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

58

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Menurut Harvati (2007) hasil studi hubungan panjang dan berat ikan

mempunyai nilai praktis yang memungkinkan merubah nilai panjang serta hubungan panjang dan berat ini hampir mengikuti hukum kubik yang dinyatakan dengan W=aL3 Dimana W= berat a = konstanta L = panjang Hal tersebut disertai dengan anggapan bahwa benda serta jenis ikan itu tetap selama hidupnya, tetapi karena ikan tumbuh dimana bentuknya panjang dan berat selalu berubah, maka menurut nile (1936) dalam Harvati (2007). Rumus umum ialah W=a/b Dimana W= berat a dan b= konstanta Menurut wiadnya (2006). Pertumbuhan panjang dan berat ikan dalam periode waktu tertentu disebut pertumbuhan panjang dan berat. Merupakan akibat yang bisa diukur panjang biasanya diukur dalam unitan dan berat dalam gram. Panjang dan berat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan demikian salah satu parameter yang lain dapat diamati keratin antara hubungan tsometik dan allometrik pada pertumbuhan isometic dimana bagian tumbuh berkembang pada waktu yag sama dan sebanding sebalik pada pertumbuhan allometrik bagian tubuh berkembang dengan laju sebanding. 1.2. Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum biologi perikanan tentang hubungan panjang dan berat adalah untuk mengetahui atau menentukan pertumbuhan ikan dalam populasi alami. Tujuan dari pratikum biologi perikanan tentang hubungan panjang dan

berat adalah mampu mendemontrasikan teknik-teknik pengukuran untuk menentukan pertumbuhan ikan.

59

1.3.

Waktu dan Tempat Praktikum biologi perikanan tentang hubungan panjang dan berat

dilaksanakan pada hari sabtu, tanggal 19 november 2011, pukul 08.00WIB11.00WIB, di laboratorium Reproduksi ikan ,Pembenihan dan Pemulihan ikan, gedung D lantai 1, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.

60

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Bawal Menurut Djanjual (2001) Klasifikasi ikan bawal sebagai berikut: Kelas :Ortrichytyes Ordo :Charcosmes

Family :Charachidae Genus : Calossorma Spesies :Calossorma SP (Google image,2011)

Morfologi Ikan ini tubuh berwarna abu-abu dengan bentuk tegak dan bulat, sisik berbentuk syloid warna perak dan pada dua sisi tubuhnya terdapat bercak hitam.Tubuh bagian ventral dan sisip dada ikan bawal muda berwarna merah,ikan bawal memiliki bibir bawah menonjol dan memiliki gigi-gigi besar dan tajam (Guzfar,2009). Udang Galah ( Rosenbergii) Menurut Bima (2010), Klasifikasi udang galah ( Rosenbergii) adalah: Kindom Phylum Class Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Arsiropoda :Malocostreca :Decepoda : Palaemonoidea : Macrebochium : Rosenbergi (Google image,2011)

Tubuh Udang Galah terdiri dari bagian yaitu kepala dan dada serta bagian badan dan serta bagian badan dan ekor. Kepala dan dadanya ditutupi kulit keras berupa kelopak kepala atau cangkang kepala.enjadi cirri Khas udang galah dibandingkan udang tawar lainnya adalah bagian badannya terdiri dari ruas. Sedangkan yang mempunyai sepasang kaki renang hanya 5 ruas, Sehigga kaki renang berjumlah 10 udang galah bersifat aktif dimalam hari (nocturnal) (Supriyanto,2010).

61

Belut (Synbranchus bengalalensis) Menurut Annelira (2010) Klasifikasi ikan belut adalah sebagai berikut : Kelas Sub kelas Ordo Family Genus Spesies ; Pisces : Teleostei :Synbranchidae : Synbranchidae : Synbranchus : Synbranchus bengalensis (Google image,2011)

Mempunyai sisik (sedikit sisik) dapat bernafas diudara. Bukan an insang sempit,tidak memiliki kantung renang dan tulang rusuk. Matanya kebanyakan tidak berfungsi baik. Ukuran tubuh berfariasi ,Kebanyakan tidak suka berenang dan suka bersembunyi didalam lumpur. Semua jenis ikan ini adalah pemangsa . Biasanya hewan-hewan kecil dirawa-rawa atau sungai . Seperti katak,ikan,

serangga, serta krustacea kecil (Hermawan,2010).

2.2. Pengertian Pertumbuhan Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran, baik panjang maupun berat. Pertumbuhan di pengaruhi factor genetetik, hormon dan zat hara, ketiga factor tersebut bekerja saling mempengaruhi baik dalam dari dalm arti saling menunjang maupun saling menghalangi , untuk mengendalikan urutan dan penjadwalan perkembanganyan (Fujaya,2004). Laju pertumbuhan merupakan peningkatan dalam satuan panjang atau berat per unit waktu. Data Pertumbuhan yang umumdipakai sebagai dasar perhitungan sisebabkan karenan penentuan keberhasilan usaha budidaya selalu dinyatakan dalam bobot.Pada umumnya pertumbuhan bobot ikan berlainan dengan burund dan mamalia.ikan tidak berarti tumbuh walupun telah mencapai tingkat kematangan seksual ( Kordi,2004). 2.3. Faktor -Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Suhu mempengaruhi pertumbuhan melalui kegiatan metabolism,

perairan, trakslokasi, respirasi, pembentukan potoplasma baru dan bahan diding sel. Pada siang hari temperature yang tinggi dapat meningkatkan laju transpirasi dan dengan demikian mengurangi turgar dan pertumbuhan (Tjikrosono,2008).

62

Pada pemeliharaan ikan ini kualitas air,kepadatan ikan serta jumlah dan kualitas pakan harus selalu diperhatikan kepadatan ikan sangat penting untuk menyamankan hidup.Jumlah dan kulialiatas pakan merupakan faktor penting. Bila pakannya terlalu sedikit ikan akan sukar tumbuh ,Sebaliknya bila terlalu banyak kondisin air menjadi jelek terutama pakan buatan ( Lesmana dan Dermawan,2006).

2.4. Pertumbuhan Autrometrik dan Isometrik Nilai-nilai b (slape) hasil kompetisi berkisar antara 2.933400-3,388204 dengan batas konfindennya masing-masing seperti pada gambar 1. Hasil uji t nilai-nilai b tersebut terhadap nilai 3 yang dicantumkan dalam table 2 menunjukkan bahwa pada pertumbuhan ikan laying diperairan sekitar teluk likupang.Umumnya adalah autrometrik positif (B>3) yaitu pertumbuhan panjang tidak secepat pertumbuhan beratnya ( Manik,2007). Menurut Rahman (2009) pertumbuha pada organisme dibedakan menjadi 2 yaitu: 1.Pertumbuhan isometric (iso= sama, metric = mengguar) pertumbuhan isomerik, jika terjadi jika suatu organ tubuh tumbuh dengan kecepatan rata-rata sama dengan prtumbuhan sisa organ tubuh lainnya atas bentuk luas tubuh organism tersebut. 2.Pertumbuhan Autromenrik (Ailis=lain, metrik=menggukur) yaitu jika sustu organ tumbuh dengan kecepanatan berbeda dengan pertumbuhan sisa tubuh

lainnya.Perubahan ukuran akibat pertumbuhan diikuti parubahan bentuk organisme.

2.5. Hubungan Pajang dan Berat Didalam ilmu biologi perikanan,hubungan panjang dan beratikan merupakan apengetahuan yang signifikan,terutama untuk kepentingan

pengelolaan perikanan. Pentingnya pengetahuaan sehigga Bayliff (1966) menegaskan hubungan panjang dan berat ikan dan distribusi panjangnya perlu diketahui terutama untuk menkonvehrsi stanstik tangkapan , menduga besarnya populasi dan lajumorfolitas ( Manik,2009). Analisi hubungan panjang dan berat dari suatu populasi ikan mempunyai beberapa kegunaan yaitu memprdiksi berat suatu jenis dari panajang ikan yang berguna untuk mengetahui biomassa populasi ikan tersebut (smith,1996) Data

63

meter yang digunakan untuk memprediksi hubungan panjang dan berat pada suatu populasi ikan dapat dibandingkan dengan populasiikna air yang lain,.Para meter pendugaan antara kelompok- kelompok ikan untuk mengidentifikasi keadaan suatupopulasi jenis ikan berdasarkan ruang dan waktu ( Said,2007).

64

BAB 3 METODOLOGI

3.1 Alat dan Fungsi Alat yang digunakan pada praktikum tentang hubungan panjang dan berat antara lain: Timbangan Analitik : untuk menimbang berat ikan (wt) dengan ketelitian 10-2 gr Papan Penggaris Nampan Serbet Disecting set : untuk mengukur panjang total tubuh sampel

: sebagai tempat meletakkan alat dan bahan : untuk mengkondisikan ikan sampel : untuk membedah

3.2 Bahan dan Fungsi Bahan yang digunakan dalam praktikum tentang hubungan panjang dan berat antara lain: Ikan Bawal (Collosomma Macropomum ): bahan yang digunakan dalam praktikum hubungan panjang dan berat Belut (Monopterus albus) : bahan yang digunakan dalam praktikum hubungan panjang dan berat Udang Galah ( Macrobrachium rosenbergii) : bahan yang digunakan dalam praktikum hubungan panjang dan berat Benang Kasur Tissue : bahan untuk membantu mengukur Girth : bahan untuk membersihkan alat

65

3.3 Skema Kerja Ikan Bawal (Collosomma Macropomum ) Ditusuk medulla oblongata Ditimbang berat tubuh (w) dalam gram dengan timbangan analitik Diukur panjang total dalam cm dan lingkar tubuh (Girth) dalam cm dari ikan Dimasukkan semua data yang diamati dalam form

Hasil Belut (Monopterus albus) Ditusuk medulla oblongata Ditimbang berat tubuh (w) dalam gram dengan timbangan analitik Diukur panjang total dalam cm dan lingkar tubuh (Girth) dalam cm dari belut Hasil Udang Galah ( Macrobrachium rosenbergii) Ditusuk medulla oblongata Ditimbang berat tubuh (w) dalam gram dengan timbangan analitik Diukur panjang total dalam cm dan lingkar tubuh (Girth) dalam cm dari belut Dimasukkan semua data yang diamati dalam form Dimasukkan semua data yang diamati dalam form

Hasil

66

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1 Analisa Prosedur Pada praktikum materi Hubungan Panjang dan Berat, proses pertama ialah menyiapkan alat dan bahan. Alat-alat yang digunakan antara lain papan penggaris untuk mangukur panjang tubuh ikan bawal (Colossoma macropomum), belut (Macropomus albus), dan udang galah (Macrobranchium rosenbergii). Nampan sebagai wadah alat dan bahan yang digunakan, timbangan analitik untuk menimbang berat tubuh ikan bawal, belu dan udang galah dengan ketelitian 0,01, serbet untuk mengkondisikan ikan bawal, belut dan udang galah supaya tidak bergerak pada saat ditimbang, dissecting set untuk membedah ikan, pinset untuk mengambil gonad ikan dan lambung ikan bawal, gunting untuk membedah perut ikan bawal, jarum untuk menusuk medulla oblongata ikan bawal. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan antara lain ikan bawal (Colossoma macropomum) sebagai objek pengamatan, belut (Macropomus albus) sebagai objek pengamatan, udang galah (Macrobranchium rosenbergii) sebagai objek pengamatan, benang kasur untuk mengukur lingkar tubuh ikan bawal, belut dan udang galah, tissue untuk membersihkan alat yang telah digunakan. Setelah alat dan bahan disiapkan langkah pertama adalah diambil ikan bawal (Colossoma macropomum), belut (Monopterus albus), udang galah (Macrobranchium rosenbergii) sebanyak tiga dengan ukuran yang berbeda dari aquarium dan bak, kemudian ikan bawal ditusuk medulla oblongatanya menggunakan jarum, karena di medulla oblongata tempat pusat syaraf, sehingga cepat mati, kemudian pada belut dimatikan dengan cara dihancurkan bagian kepalanya, sedangkan pada udang dibiarkan hidup. Setelah itu ikan bawal, belut dan udang galah ditimbang beratnya menggunakan timbanagan digital analitik dan dicatat hasilnya, setelah itu diukur panjangnya menggunakan papan penggaris. Pengukuran panjang ikan dan belut hampir sama yaitu dari ujung mulut sampai ujung ekor. Pada udang diukur dari ujung colosum terpanjang hingga ujung ekor kemudian dicatat hasilnya. Setelah itu diukur panjang linggkar tubuhnya menggunakan tali kasur, kemudian pengukuran dilakukan pada bagian tubuh erbesar dan kemudian dicatat hasilnya, kemudian semua data dimasukkan dalam rumus

67

W = al3, log W = log a+log b. Log a = Log b =

4.2 Analisa Hasil 4.2.1 Analisa Hasil Kelompok

Perhitungan Panjang dan berat ini untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan pada ikan bawal (Colossoma macropomum), belut (Macropterus albus), udang galah (Macrobranchium rosenbergii) dengan menggunakan rumus : Log a = Dimana L adalah panjang tubuh, W adalah berat tubuh ikan dan N adalah jumlah biota sejenis yang diukur. Pada kelompok 1 dan 2 pada ikan bawal (Colossoma macropomum) kecil didapat hasil TL=14,5 cm , Girth=2,4 cm , W=47,98 gr , Log L=1,16 , Log W=1,69 , Log L x Log W=1,9604 , (Log L)2=1,34. Pada ikan bawal berukuran sedang didapat hasil TL=16 cm , Girth=2,8 cm , W=61,58 gr , Log L=1,20 , Log W=0,76 , Log L x Log W= 2,148 , (Log L)2=1,44. Pada ikan bawal berukuran besar TL=17,5 cm , Girth=3,5 cm , W=76,09 gr , Log L=1,24 , Log W=1,89 , Log L x Log W=1,519 , (Log L)2=1,54. Setelah dilakukan perhitungan nilai b, didapatkan hasil sehingga termasuk pertumbuhan isometrik, karena b=3 sehingga pertumbuhan panjangnya seimbang dengan pertumbuhan berat. Pada udang galah (Macrobranchium rosen bergii) kecil dodapatkan hasil TL=1cm , Girth=1,5cm , W=0,56gr , LogL=0 , LogW=-0,25 , LogLxLogW=0 , (LogL)2=0. Pada udang berukuran sedang didapatkan hasil TL=2cm , Girth=4,5cm , W=4,03gr , LogL=0,47 , LogW=0,16 , LogLxLogW=0,28 , (LogL)2=0,09. Pada udang berukuran besar didapatkan hasil TL=3cm , Girth=4,5 , W=4,03 , LogL=0,47 , LogW=0,16 , LogLxLogW=0,28 , (LogL)2=0,22. Setelah dilakukan perhitungan nilai b, didapatkan hasil b=3, sehingga pertumbuhan termasuk pertumbuhan isomertik karena b=3, sehingga pertumbuhan seimbang dengan pertumbuhan berat. Pada belut (Monopterus albus) kecil, didapatkan hasil TL=17,5cm , Girth=2,4cm , W=3,72gr , logL=1,24 , LogW=0,57 , LogLxLogW=0,9068 ,

68

(LogL)2=1,5376. Pada belut berukuran sedang didapatkan hasil TL=21cm , Girth=2,8cm , W=6,42gr , LogL=1,32 ,LogW=0,8 , LogLxLogW=1,056 , (LogL)2=1,7424. Pada belut berukuran besar TL=23,6cm , Girth=3,5cm , W=8,96gr , LogL=1,37 , LogW=0,95 , LogLxLogW=1,3015 , (LogL)2=1,8764. Setelah dilakukan perhitungan nilai b, didapatkan hasil b<3, sehingga termasuk pertumbuhan allometrik negative. Karena b<3 sehingga pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan berat. Pertumbuhan isometrik adalah pertumbuhan ikan yang tidak berubah yaitu pertumbuhan panjan ikan seimbang dengan pertumbuhan beratnya. Pertumbuhan allometrik adalah saat pertambahan panjang ikan tidak seimbang dengan pertambahan beratnya (Rahman,2009). 4.2.2 Analisa Hasil Seluruh Kelompok

Pada kelompok 3 dan 4,ikan bawal (Colossoma macropomum) kecil didapatkan hasil L=15 cm.log L=1,176,W=54,70,log W = 1,73,log Lxlog W= 2,03 ,(logL)2 =1,32,pada ikan bawal sedang didapatkan hasil L=15 cm,log L =1,176 ,W = 74,24 gr,log W =1,87 ,log Lx log W =3,29,(log L)2 1,38.Pada ikan bawal berukuran besar L =18cm,log L=1,25,W=103,4 gr,Log W= 9,01,log L x log W =281,(log L)2 =1,58.Pada udang (Macrobranchium rosenbergii) kecil didapatkan hasil L=15 cm.log L=0,76,W=54,70,log W = 0,62,log L x log W= 2,03 ,(logL) 2 =0,03,pada udang ukuran sedang didapatkan hasil L=2 cm,log L =93 ,W = 1,05 gr,log W =0,02 ,log Lx log W =0,006,(log L)2 0,09.Pada udang berukuran besar L =3cm,log L=0,47,W=1,45 gr,Log W= 0,16,log L x log W =0,0752,(log L)2 =0,2209.Pada Belut (Monopterus albus) kecil didapatkan hasil L=17,5 cm.log L=1,24,W=3,72 gr,log W = 0,57,log L x log W= 0,7068 ,(logL)2 =1,55,pada belut ukuran sedang didapatkan hasil L=21 cm,log L =1,32 ,W = 6,42 gr,log W =0,8 ,log Lx log W =1,056,(log L)2 1,25.Pada belut berukuran besar L =24cm,log L=1,38,W=10,37 gr,Log W= 1,01,log L x log W =1,49,(log L)2 =1,90. Pada kelompok 5 dan 6,ikan bawal (Colossoma macropomum) kecil didapatkan hasil L=17 cm.log L=1,23,W=82,6,log W = 1,916,log Lxlog W= 2,3566,(logL)2 =1,512,pada ikan bawal sedang didapatkan hasil L=14 cm,log L =1,14 ,W = 53,46 gr,log W =1,72 ,log Lx log W =1,9,6 ,(log L) 2 1,29.Pada ikan bawal berukuran besar L =13cm,log L=1,13,W=45,03 gr,Log W= 1,65,log L x log W =1,83,(log L)2 =1,23.Pada udang (Macrobranchium rosenbergii) kecil didapatkan hasil L=2,5 cm.log L=0,39,W=3,25,log W = 0,151,log L x log W= 0,19

69

,(logL)2 =0,15,pada udang ukuran sedang didapatkan hasil L=2 cm,log L =0,3 ,W = 1,05 gr,log W =0,02 ,log Lx log W =0,006,(log L)2 0,09.Pada udang berukuran besar L =1,5cm,log L=0,0176,W=0,35 gr,Log W= 0,456,log L x log W =0,08,(log L)2 =0,03.Pada Belut (Monopterus albus) kecil didapatkan hasil L=22cm.log L=1,204,W=8,97 gr,log W = 0,925,log L x log W= 1,13 ,(logL)2 =1,45,pada Belut ukuran sedang didapatkan hasil L=21 cm,log L =0,954 ,W = 6,04 gr,log W =0,844 ,log Lx log W =0,805,(log L)2 0,91.Pada Belut berukuran besar L =18cm,log L=0,602,W=4,45 gr,Log W= 0,648,log L x log W =0,39,(log L)2 =0.362. Pada kelompok 7 dan 8,ikan bawal (Colossoma macropomum) kecil didapatkan hasil TL=16,5 cm.log L=1,21,W=87,04,log W = 1,93,log Lxlog W= 2,33,(logL)2 =1,46,pada ikan bawal sedang didapatkan hasil TL=14 cm,log L =1,14 ,W = 53,46 gr,log W =1,72 ,log Lx log W =1,96 ,(log L) 2 1,29.Pada ikan bawal berukuran besar TL =13cm,log L=1,13,W=45,03 gr,Log W= 1,65,log L x log W =1,83,(log L)2 =1,23.Pada udang (Macrobranchium rosenbergii) kecil didapatkan hasil TL=2,5 cm.log L=0,39,W=3,25,log W = 0,151,log L x log W= 0,19 ,(logL)2 =0,15,pada udang ukuran sedang didapatkan hasil L=2 cm,log L =0,3 ,W = 1,05 gr,log W =0,02 ,log Lx log W =0,006,(log L) 2 0,09.Pada udang berukuran besar L =1,5cm,log L=0,0176,W=0,35 gr,Log W= 0,456,log L x log W =0,08,(log L)2 =0,03.Pada Belut (Monopterus albus) kecil didapatkan hasil L=22cm.log L=1,204,W=8,97 gr,log W = 0,925,log L x log W= 1,13 ,(logL) 2 =1,45,pada Belut ukuran sedang didapatkan hasil TL=21 cm,log L =0,954 ,W = 6,04 gr,log W =0,844 ,log Lx log W =0,805,(log L)2 0,91.Pada Belut berukuran besar L =24,3cm,log L=1,38,W=4,45 gr,Log W= 1,03,log L x log W =1,42,(log L) 2 =1,9. Pada kelompok 9 dan 10 ikan bawal (Colossoma macropomum) kecil didapatkan hasil TL=15,2 cm.log L=1,19,W=82,6,log W = 1,916,log Lxlog W= 2,3566,(logL)2 =1,512,pada ikan bawal sedang didapatkan hasil TL=14 cm,log L =1,14 ,W = 53,46 gr,log W =1,72 ,log Lx log W =1,9,6 ,(log L) 2 1,29.Pada ikan bawal berukuran besar TL =13cm,log L=1,13,W=45,03 gr,Log W= 1,65,log L x log W =1,83,(log L)2 =1,23.Pada udang (Macrobranchium rosenbergii) kecil didapatkan hasil L=2,5 cm.log L=0,39,W=3,25,log W = 0,151,log L x log W= 0,19 ,(logL)2 =0,15,pada udang ukuran sedang didapatkan hasil L=2 cm,log L =0,3 ,W = 1,05 gr,log W =0,02 ,log Lx log W =0,006,(log L)2 0,09.Pada udang berukuran besar L =1,5cm,log L=0,0176,W=0,35 gr,Log W= 0,456,log L x log W =0,08,(log L)2 =0,03.Pada Belut (Monopterus albus) kecil didapatkan hasil TL=22cm.log

70

L=1,204,W=8,97 gr,log W = 0,925,log L x log W= 1,13 ,(logL)2 =1,45,pada Belut ukuran sedang didapatkan hasil TL=21 cm,log L =0,954 ,W = 6,04 gr,log W =0,844 ,log Lx log W =0,805,(log L)2 0,91.Pada Belut berukuran besar TL =18cm,log L=0,602,W=4,45 gr,Log W= 0,648,log L x log W =0,72,(log L)2 =0.014. Pada kelompok 11 dan 12 pada ikan bawal (Colossoma macropomum) kecil didapatkan L=11,5cm , LogL=1,06 , W=28,85gr , LogW=1,46 , Log W=1,5476 , (LogL)2=1,1236. Pada ikan bawal berukuran sedang didapatkan hasil L=16 , LogL=1,20 , W=67gr , LogW=1,82 , LogLxLogW=2,196 , (LogL) 2=1,44 .Pada ikan bawal berukuran besar didapatkan hasil L=17 , LogL=1,23 , W=79,22gr , LogW=1,9 , LogLxLogW=2,337 , (LogL)2=1,5129. Pada udang galah (Macrobranchium rosenbergii) kecil, didapatkan hasil L=3cm ,LogL=0,48 , W=0,90 , LogW=-0,045 , LogLxlogW=-0,0216 , (LogL)2=0,2304. Pada udang berukuran sedang didapatkan hasil L=3cm ,LogL=0,48 , W=54,70,log W = 0,62,log L x log W= 2,03 ,(logL)2 =0,03 .Pada udang ukuran sedang didapatkan hasil TL=2 cm,log L =93 ,W = 1,05 gr,log W =0,02 ,log Lx log W =0,006,(log L) 2 0,09.Pada udang berukuran besar L =3cm,log L=0,47,W=1,45 gr,Log W= 0,16,log L x log W =0,0752,(log L)2 =0,2209. Pada Belut (Monopterus albus) kecil didapatkan hasil TL=22cm.log L=1,204,W=8,97 gr,log W = 0,925,log L x log W= 1,13 ,(logL)2 =1,45,pada Belut ukuran sedang didapatkan hasil L=21 cm,log L =0,954 ,W = 6,04 gr,log W =0,844 ,log Lx log W =0,805,(log L) 2 0,91.Pada Belut berukuran besar L =22,5cm,log L=1,34,W=9,06gr , Log W= 0,957 , log L x log W =8,6704 , (log L)2 =1,805. 4.3 Grafik Hubungan Panjang dan Berat

Belut (Monopterus albus)


1.36 1.355 Berat 1.35 1.345 1.34 1.335 22.25 22.3 22.35 22.4 22.45 22.5 22.55 Panjang Berat Linear (Berat) y = 0.085x - 0.5555 R = 1

71

Ikan Bawal (Colossoma macropomum)


150 Berat 100 50 0 13 13.5 14 14.5 Panjang 15 15.5 16 y = 19.049x - 215.39 R = 0.5951

berat Linear (berat)

Udang Galah (Macrobrancium rosenbergii)


0.5 0.4 Berat 0.3 0.2 0.1 0 0 1 Panjang 2 3 y = 0.2262x - 0.1606 R = 0.9989 Berat Linear (Berat)

4.4 Analisa Grafik Pada grafik kedua terlihat pertumbuhan panjang lebih cepat dari pada pertumbuhan berat, sehingga disebut allometrik negative, contohnya pada belut (Monopterus albus). Pada grafik kedua terlihat bahwa pertumbuhan panjang dan berat seimbang, sehingga disebut pertumbuhan isometrik, contohnya pada ikan bawal (Colossoma macropomum). Pada grafik ketiga terlihat pertumbuhan berat yang lebih cepat, sehingga disebut allometrik positif, contohnya pada udang galah (Macrobranchium rosenbergii).

4.5 Manfaat di Bidang Perikanan Dari praktikum panjang dan berat yang dilakukan. Kita dapat mengetahui tipe atau sifat ikan dengan berat tubuh ikan dengan panjang tubuh ikan. Dalam budidaya untuk mengetahui suatu pertumbuhan diperlukan perhitungan dan

72

bagaimana perbandingan antara berat dalam menentukan apakah ikan tersebut mengalami pertumbuhan.

73

BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan Pada praktikum Hubungan Panjang dan Berat dapat di tarik kesimpulan bahwa : Pertumbuhan yaitu perubahan panjang berat dan panjang tubuh suatu spesies dalam kurun waktu tertentu Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, antara lain : Faktor keturunan Faktor seks Umur Penyakit dan Parasit Suhu Air Salinitas

Pertumbuhan Allometrik apabila > atau < dari 3 Pertumbuhan Issometrik yaitu panjang ikan dan pertambahan beratnya seimbang. Dapat disimpulkan bahwa hubungan panjang dan berat yaitu panjang ikan mempengaruhi berat suatu ikan tetapi berat suatu ikan belum tentu mempengaruhi panjang ikan tersebut.

Rumus Perhitungan Log a = Log b =

5.2 Saran Pada praktikum biologi perikanan tentang hubungan panjang dan berat dikatakan bahwa sebaiknya praktikum ini dilakukan dengan cepat agar pada saat perhitungan dapat dengan teliti.

74

DAFTAR PUSTAKA

Anneahira,2010.mengenal ikan belut. http://www.anneahira.com. Diakses pada 17 november 2011 pukul 20.00 wib. Bima,2010. Klasifikasi udang galah.http://bima woodpres.com.diakses pada 19 november 2011pukul 19.50wib. Djanajal,2011.Budidaya ikan bawal.kanisius Yogyakarta. Fujaya, yushita,2004. Fisiologi ikan dasar. Pengembangan teknologi PT,Asdi mahasatya;Jakarta. Guzfar,2009. Klasifikasi dan morfologi ikan bawal.http://guzfar_Klasifikasi_dan Morfologi_ikan bawal.Blogspot.com Diakses pada 19 noveber 2011 pukul 19.45 wib. Harvati, 2007. pertumbuhan dan perkembangan.http://gogol word

press.com.Diakses pada 20 November 2011pukul 19.00 wib. Hermawan,2010. Pengenalan ikan belut. http://belut tasuser.blogspot.com Diakses pada 17 november 2010. Pukul 19.35 wib. Kordi,2004. Usaha pemesaran ikan kerapu ditambak.konisus: jogyakarta. Lesmana dan Darmawan,2006. Faktor yang mempengaruhi reproduksi dari perairan. http:// Lesman 66 blogspot,com. Diakses pada 17 november 2011 pukul14.00 wib. Manik nurdin,2009.Hubungan panjang berat dan faktor kondisi ikan layang (

Decepterus russali)dari perairan sekitar teluk likapang Sulawesi .tawa oceanologi di Indonesia/2009/3/1/: 65-75. Diakses pada 19 november 2011 pukul 19.15 wib. Rahmn Abaw,2009.Perkembangan dan pertumbuhan pada ikan. http://abaw 06.blogspot.com/est divery. Diakses pada 17 november 2011 pukul 15.00 wib. Said azwar,2007.Penelitian beberapa aspek biologi ikan selar di damusi sumatera selatan neptunus.vol 14 no 1 juli 2007 .115-23. Diakses pada 19 november 2011 pukul 19.15 wib. Supriannto, 2010. Morfologi udang galah.http:// suprianto woodpres.com diakses pada 20 november 2011 pukul 12.00wib. Tjikrosono,2008.Faktor yang mempengaruhi partumbuhan.

http://Tjikrosono_/2008/05/08.blogspot. com. diakses 20 november 2011 pukul 14.30wib.

75

Wiadnya, 2006. Pertumbuhan ikan. http:// www.scribd.com/doc.Diakses pada 20 November 2011 pukul 19.15 wib.

76

4. HUBUNGAN PANJANG DAN BERAT Morfologi dan Anatomi Ikan 1. Ikan Bawal (Collosoma macropomum) GAMBAR KETERANGAN 1. Sirip Dorsal 2. Sirip Caudal 3. Sirip Anal 4. Sirip Pektoral 5. Sirip Ventral GAMBAR LITERATUR

(Google.images, 2011) Data Hubungan Panjang dan Berat Spesies Kelompok No 1 2 3 TL (cm) 3 3 4 : Ikan Bawal (Collosoma macropomum) : 11 Girth (cm) 3 3 4 W (gr) 0,90 1,45 3,16 Log L x Log (Log L)2 W 11 & 12 1 2 3 11,5 16 17 1,06 1,20 1,23 28,85 67,00 79,22 1,46 1,82 1,9 1,5476 2,196 2,337 1,1236 1,44 1,5129

Analisa Data Kel. No.Ikan L Log L W Log W

77

Morfologi dan Anatomi Udang Galah GAMBAR KETERANGAN 1. Kepala 2. Ekor 3. Badan

GAMBAR LITERATUR

(Google.images, 2011)

Data Hubungan Panjang dan Berat Spesies Kelompok No 1 2 3 TL (cm) 3 3 4 : Udang Galah : 11 Girth (cm) 3 3 4 W (gr) 0,90 1,45 3,16 Log L x Log (Log L)2 W 11 & 12 1 2 3 3 3 4 0,48 0,48 0,6 0,90 1,45 3,16 -0,045 0,161 0,49 -0,0216 0,0773 0,294 0,2304 0,2304 0,36

Analisa Data Kel. No.Udang L Log L W Log W

78

Morfologi dan Anatomi Belut GAMBAR KETERANGAN 1. Kepala 2. Badan 3. Ekor

GAMBAR LITERATUR

(Google.images, 2011) Data Hubungan Panjang dan Berat Spesies Kelompok No 1 2 3 TL (cm) 16 20 22,5 : 11 : Belut Girth (cm) 1,5 2,5 2,8 W (gr) 2,59 6,77 9,06 Log L x Log (Log L)2 W 11 & 12 1 2 3 16 20 22,5 1,20 1,30 1,35 2,59 6,77 9,06 0,413 0,830 0,957 0,4956 1,079 8,6704 1,44 1,69 1,805

Analisa Data Kel. No.Belut L Log L W Log W

79

Data Hubungan Panjang dan Berat Tanggal : 19 November 2011 (08.00 -11.00 WIB)

Analisa Data Kel Spesies Spesies ke- L I Bawal II III I Udang II III I Belut II III I Bawal II III I Udang II III I Belut II III I Bawal II III I Udang II III I Belut II III I al II Log L W 47,98 61,58 76,09 1,5 3 4,5 3,72 6,42 8,96 Log W Log L x Log W (Log L)2 1,68 1,78 1,88 -0,25 0,26 0,6 0,57 0,8 0,95 1,73 1,87 1,94 2,13 2,33 0 0,07 0,28 0,7068 1,056 1,3015 2,03 3,29 2,51 0,006 0,0752 0,7068 1,056 1,49 2,3566 1,932 1,799 0,0245 0,016 -0,08 1,13 0,805 0,39 2,33 1,96 1,34 1,44 1,53 0 0,09 0,22 1,5376 1,7424 1,8769 1,32 1,38 1,58 0,03 0,09 0,2209 1,55 1,75 1,90 1,512 1,081 1,276 0,362 0,09 0,03 1,45 0,91 0,362 1,46 1,29

14,5 1,16 16 1,2

17,5 1,24 1 2 3 17,5 21 23,6 15 15 18 1,5 2 3 17,5 21 24 17 16 13 4 2 1,5 22 21 18 0 0,3 0,47 1,24 1,32 1,37

1 & 2

1,176 54,70 1,176 74,24 1,25 0,76 0,30 0,47 1,24 1,32 1,38 1,23 1,14 1,11

103,40 2,01 0,62 1,05 1,45 3,72 6,42 10,37 82,6 72,2 38,75 0,02 0,16 0,57 0,8 1,01 1,916 1,858 1,588 0,408 0,056 -0,456 0,925 0,844 0,648 1,93 1,72

3 & 4

5 & 6

0,602 2,56 0,301 1,14 0,176 0,35 1,204 8,97 0,954 6,99 0,602 4,45 87,04 53,46

&

Baw

16,5 1,21 14 1,14

80

8 Udang

III I II III I Belut II III I Bawal II III I Udang II III I Belut II III I Bawal II III I Udang II III I Belut II III

13 2,5 2 1 24,3 22,3 20,5

1,13 0,39 0,30 0 1,38 1,34 1,31

45,03 3,25 1,05 0,33 10,86 6,96 6,29

1,65 0,51 0,02 -0,48 1,03 0,84 0,79

1,83 0,19 0,006 0 1,42 1,12 1,03 2,38 1,95 1,86 0,114 0,089 0,004 1,37 1,33 0,72 1,5476 2,196 2,337 -0,0216 0,0773 0,294 0,4956 1,079 8,6704

1,23 0,15 0,09 0 1,90 1,79 1,71 5,66 3,80 3,47 0,012 0,008 0,000016 1,87 1,79 0,014 1,1236 1,44 1,5129 0,2304 0,2304 0,36 1,44 1,69 1,805

15,7 1,19 15,3 1,18 13,5 1,13 2,4 2,11 1,6 22,5 22,5 22,3 11,5 16 17 3 3 4 16 20 22,5 0,38 0,32 0,20

100,01 2,00 56,1 45,4 2,04 1,02 0,95 1,75 1,65 0,30 0,28 0,02 1,0 0,99 0,90 1,46 1,82 1,9 -0,045 0,161 0,49 0,413 0,830 0,957

9 & 10

1,357 10,25 1,357 9,86 1,34 1,06 1,20 1,23 0,48 0,48 0,6 1,20 1,30 1,35 8,08 28,85 67,00 79,22 0,90 1,45 3,16 2,59 6,77 9,06

11 & 12

81

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN

FEKUNDITAS

AGROBISNIS PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

82

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Beberapa kegunaan pengetahuan fekunditas adalah antara lain sebagai

bagian

studi

sistematik

atau

studi

mengenai

ras,

dinamika

populasi,

prokduktifitas, potensi reproduksi, dan sebagainya. Dalam bidang akuakultur, jumlah telur yang dihasilkan oleh ikan pada waktu pemijahan secara alami atau buatan sangat jelas kegunaannya, terutama dalam persiapan fasilitas kultur ikan tersebut untuk keperluan selanjutnya (Anik, 1990). Fekunditas ikan adalah jumlah telur pada tingkat kematangan terakhir yang terdapat dalam ovarium sebelum berlangsung pemijahan. Fekunditas menunjukkan kemampuan induk ikan untuk menghasilkan anak ikan dalam suatu pemijahan. Tingkat keberhasilan suatu pemijahan ikan dapat dinilai dari prosentase anak ikan yang dapat hidup terus terhadap fekunditas (Komar, 2003).

1.2.

Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum biologi perikanan mengenai fekunditas ini adalah

agar praktikan mengetahui jumlah produksi telur pada ikan sampel. Tujuan dari praktikum biologi perikanan mengenai fekunditas ini adalah agar praktikan mampu mendemonstrasikan secara mikroskopis organ organ baik secara eksternal maupu internal. Mampu mendapatkan telur ikan dan mengetahui cara menghitung telur ikan. 1.3. Waktu dan Tempat Praktikum biologi perikanan mengenai fekunditas ini dilaksanakan pada hari sabtu minggu, 10 11 Desenber 2011 pada pukul 07.00 12.00 WIB, dan bertempat di Laboratorium Reproduksi Ikan, Pembenihan dan Pemuliaan Ikan. Gedung D Lantai 1. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Brawijaya. Malang.

83

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Sampel Menurut Saanin (1984) dalam Simanjuntak (1989) dalam Rustidja (1997) dalam Armansyah (2005). Klasifikasi ikan lele adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia

Sub kingdom : Metazoa Phylum Sub phylum Class Sub class Ordo Family Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Pisces : Teleostei : Ostoriophysoidei : Cloridae : Clarias : Clarias garipinus Ikan lele (Clarias garipinus) dewasa memiliki ciri ciri tubuh memanjang, licin dan tidak bersisik. Mempunyai alat pernafasan tambahan berbentuk seperti pohon yang biasa disebut aborescent organ tumbuh pada insang ke 2 dan 4. Mempunyai 2 buah alat penciuman yang letaknya berdekatan dengan sungut hidung (BPPP, 1992). Lele dumbo (Claris garipinus) memiliki patil yang tidak tajam dangen giginya tumpul. Sungut lele dumbo relative lebih panjang dan tampak lebih kuat dari pada lele local. Kulit badanya terdapat bercak kelabu seperti jamur kulit manusia. Kepala dan punggungnya berwarna kehitam hitaman atau kecoklat coklatan (Puspowardoyo, 2006). Tubuh ikan lele licin, berlendir dan tidak bersisik. Mulut ikan lele relatif lebih besar, yakni sekitar seperempat dari panjang total tubuhnya. Ciri kuat lele dumbo adalah adanya 4 pasang kumis atau sungut yang terletak disekitar mulutnya. Keempat pasang sungut tersebut terdiri dari sepasang hidung, sepasang sungut maxilla (rahang atas) dan dua pasang sungut mandibulla (rahang bawah), fungsi sungut tersebut adalah sebagai alat peraba ketika berenang dan sebagai sensor ketika mencari makan (Dipo, 2008). ( Anonymous, 2011 )

84

2.2 Pengertian Fekunditas Fekunditas adalah jumlah telur masak sebelum dikeluarkan pada waktu ikan memijah. Fekunditas demikian dinamakan fekunditas individu atau mutlak (Atik,1990). Fekunditas adalah semua telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan (Effendi, 1997 dalamNasyrah, 2001). Fekunditas ikan adalah jumlah telur pada tingkat kematangan terakhir yang terdapat dalam ovarium sebelum berlangsung pemijahan. Fekunditas menunjukan kemampuan induk ikan untuk menghasilkan anak ikan dalam suatu pemijahan. Tingkat keberhasilan suatu pemijahan ikan dapat dinilai dari prosentase anak ikan yang dapat hidup terus terhadap fekunditas (Komar, 2003). 2.3 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Fekunditas Menurut Doyle (1983) dalam Sutisna dan Sutarmanto (1995) dalam Nasyroh (2001), fekunditas juga dipengaruhi oleh makanan dan sedikit sekali yang dipengaruhi oleh genesisi, fekunditas itu sering dihubungkan dengan berbagai faktor, seperti panjang, berat, umur, pemijah berganda atau ras dari populasi. Pada umunya, terdapat hubungan antara fekunditas dengan ukuran panjang, berat, umur dan cara penjagaan (parental) serta ukuran butir telur semakin berat atau panjang badan ikan dan semakin tua umurnya maka fekunditas semakin tinggi (Komar,2003). 2.4 Macam Macam Fekunditas Fekunditas individu adalah jumlah telur dari generasi tahun itu yang akan dikeluarkan tahun itu juga. Dalam ovari biasanya ada 2 macam ukuran telur yang besar dan yang kecil. Telur yang besar akan dikeluarkan pada tahun itu juga dan yang kecil akan dikeluarkan pada tahun berikutnya (Nikolsky, 1963 dalam Nasyroh, 2001). Fekunditas relatif adalah jumlah telur per satuan berat atau panjang (Nasyrah, 2001). Fekunditas Individu adalah jumlah telur yang terdapat dalam ovarium ikan yang dikeluarkan pada saat pemijahan pada tahun itu juga. Fekunditas relatif adalah jumlah telur per satuan panjang atau berat (Erlin, 2001).Menurut Dani (2000), Fekunditas relatif adalah jumlah telur per satuan berat atau panjang.

85

2.5 Cara MendapatkanTelur Menurut Hariati (1990), ada dua macam untuk mendapatkan telur ikan dari indunya yaitu: a. Pada waktu musim pemijahan atau bila induk ikan dengan telur yang sudah masak siap untuk dimijahkan, tetapi induk ikan tidak dibunuh, telur akan dikeluarkan dari tubuh induknya dengan memberi tekanan yang ahalus di sepanjang tubuhnya. Kira-kira di bagian atas perut ke arah lubang genitalnya. b. Mengambil telur ikan dari ikan induk dengan mengangkat seluruh gonadnyadari dalam perut ikan yang masih segar atau sudah diawet, dengan perkiraan bahwa telur-telur ikan itu telah masak. Menurut Poberson (2011), untuk mendapatkan telur ikan dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama yaitu dengan cara di stripping, sedangkan cara kedua dapat dilakukan dengan melakukan pembedahan padaikan.

2.6 Cara menghitungTelur Menurut Murtidjo (2005), cara menghitung telur dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : 1. Metode Jumlah, dilakukan dengan cara menghitung telur yang dipijahkan satu per satu, biasanya dilakukan pada telur ikan air tawar yang jumlahnya relatif sedikit. 2. Metode Volumetrik, dilakukan dengan cara mengukur volume telur yang dipisahkan dengan teknik pemijahan air, biasa menggunakan rumus

3. Metode grafimetrik, dilakukan dengan cara mengukur berat seluruh telur yang dipisahkan dengan teknik pemindahan air, biasa menggunakan rumus

Menurut Hariati (1990), ada beberapa cara yang dipakai untuk menghitung telur dalam meneliti fekunditas, antara lain : 1. Menjumlah langsung, dilakukan dengan menghitung telur satu per satu dari telur yang ada, biasanya teknik ini dilakukan pada ikan yang menghasilkan telur dalam jumlah sedikit. 2. Cara Volumetrik, seluruh gonad yang berisi telur dikeringkan dahulu. Kemudian ukur volumenya dengan menggunakan teknik pemindahan air.

86

3. Cara Gravimetrik, dasar dari gravimetrik hampir sama dengan volumetrik, namun yang diukur adalah beratnya. 2.7 Cara Mengawetkan Telur Menurut Hariati (1990), pengawetan telur dapat dilakukan dengan beberapa teknik, antara lain : 1. Larutan Formalin, adalah bahan pengawet yang cukup baik dimana specimen yang sudah diawet dengan larutan formalin dapat diganti dengan bahan pengawet alkohol yang dapat mengawetkan lebih lama. 2. Larutan Glison, baik digunakan dalam penelitian fekunditas, larutan ini tidak hanya mengeraskan telur, tetapi dapat juga melepaskan serta

menghancurkan jaringan ovarium. 3. Cara Pendinginan, dilakukan untuk mencegah kebusukan pada telur dalam ovarium dan juga telur dalam tubuh secara utuh mulai dari lapangan sampai laboratorium yang diletakkan pada tempat berisi es. Menurut Poberson (2011), telur ikan dapat diawetkan dengan beberapa cara, antaralain : a. Dengan larutan formalin b. Larutan Glison c. Cara Pendinginan 2.8 Sifat-sifatTelur Menurut Wardana (2011), sifat-sifat telur adalah : a. Daya Koagulasi b. Daya buih c. Daya emulsi d. Kontrol kristalisasi e. Pewarna Menurut Serse(2011), sifat-sifat telur adalah : a. Mengikat b. Mengentalkan c. Menghancurkan kristal-kristal gula d. Emulsifikasi e. Klorosifikasi f. Melindungi / cocting

87

g. Memberi warna 2.9 Hubungan Fekunditas dengan Panjang dengan Panjang Berat Ikan Menurut Sumanta Dinata (2003), terdapat hubungan antara fekunditas ikan dengan ukuran berat, panjang, umur, dan cara penjagaan (parental care) serta ukuran butir telur. Semakin berat atau panjang badan ikan dan semakin tua umurnya, maka fekunditasnya semakin tinggi. Fekunditas sering dihubungkan dengan panjang dan berat, karena panjang penyusutannya relatif kecil sekali seperti berat yang dapat berkurang dengan mudah. Hubungan fekunditas dengan panjang ikan ditulis ,

dimana F = fekunditas, L= Panjang ikan, a dan b merupakan konstanta yang didapat dari alat (Ichsar, 2008).

88

BAB 3 METODOLOGI

3.1 Alat dan Fungsi Alat alat yang di gunakan dalam praktikum biologi perikanan materi fekunditas adalah : Timbangan analitik :untuk menimbang berat tubuh ikan dan berat ovary dengan ketelitian 10-2gram Serbet Cawan petri Beaker glass Gelas ukur Mangkok plastic Nampan Pipet tetes 3.2 Bahan dan Fungsi Bahan bahan yang digunakan dalam praktikum biologi perikanan materi fekunditas adalah: Ikan lele betina (clarias gariepinus) dan di ambil telurnya Tissue Nafis Air :untuk membersihkan dan mengeringkan alat 0 alat yang :sebagai sempel yang akan diamati :untuk menutupi mata ikan agar ikan tidak stress :sebagai tempat untuk meletakan telur ikan untuk

perhitungan telur ikan :tempat larutan pembuatan Nafis :untuk mengukur volume larutan dengan tepat dan

menghitung telur dengan metode volumetric :sebagai tempat penghomogenan sel telur dan sperma :sebagai tempat meletakan alat dan bahan yang digunakan

Handtally counter :untuk menghitung jumlah telur secara langsung :untuk mengambil larutan secara tepat

digunakan serta untuk memebersihkan darah dan lemak pada gonad :sebagai penonaktif dan mengurangi daya lengket telur ikan :sebagai media hidup ikan

89

3.3 Skema Kerja 3.3.1 Cara mendapatkan telur

Ikan Lele (clarias gariepenus) - Ditimbang (Wo) gram


Diukur panjang ikan (TI) cm Dilakukan pengangkatan ovari Ditimbang (Wt) gram Didapatkan berat telur

Hasi l
3.3.2 Cara menghitung telur a) Metode Volumetrik

Gelas Ukur
Diisi dengan NaCl fis pada batas volume tertentu Dimasukkan gonad ke dalam beaker glass yang telah berisi NaFis Dihitung selisih antara volume gelas ukur yang berisi telur dan volume air dalam gelas ukur sebelum diisi telur (V) Diambil gonad sebagian dan ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik

Gonad Sebagian dengan metode volumetrik seperti diatas (V) - Diukur


Dihitung jumlah telur sebagian (v) Dihitung nilai fekunditasnya (x) X:x = V:v

Hasil

90

b) Metode Gravimetrik

Gonad
Diambil gonad telur dari ikan sampel Ditimbang semua gonad/telur dengan timbangan analitik (G) Diambil gonad telur

Gonad Sebagian - Ditimbang dengan timbangan sartorius (g)


Dihitung semua telur yang telah ditimbang Dihitung nilai fekunditasnya X:x = G:g

hasil
c) Metode Gabungan Gonad diambil gonad satu telur dari ikan sampel ditimbang semua gonad/telur dengan timbangan analitik (G) diambil gonad/telur Gonad Sebagian Hasil ditimbang dengan timbangan analitik (Q) dimasukkan kedalam beakerglass yang berisi air 10CC (V) diaduk sampai rata diambil sebanyak 1CC dihitung telurnya (x) dihitung nilai fekunditasnya F =

91

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1 Analisa Prosedur 4.1.1. Cara mendapatkan telur Pada praktikum biologi perikanan materi fekunditas diawali dengan pengambilan gonad pada induk ikan lele (clariasgariepinus) betina disiapkan lalu di timbang beratnya (wo) gram dengan menggunakanan timbangan analiitik dengan ketelitian 0,01 gram untuk mengetahui berat awal saat gonad matang dan di ukur panjang total tubuhnya (TL) dengan menggunakan penggaris. Ukuran berat, panjang, usia, dan ukuran butir telur, semakin berat atau panjang tubuh ikan dan semakin tua usianya maka fekunditasnya semakin tinggi.

Kemudian dilakukan pengangkatan ovary dengan membedah bagian perut ikan dan diambil ovary matangnya. Setelah itu ditimbang berat dari ovary dengan timbangan analitik dengan ketelitian 0,01 gram, dan dicatat sebagai (wt) dalam gram sehingga didapatkan berat telur. 4.1.2. Cara menghitung telur Metode volumetrik

Pada prinsipnya metode perhitungan telur dengan velumetrikya itu dengan meihat perbandingan volume gonad utuh dan volume gonad sebagian. Hal pertama yang dilakukan dalam metode volumetrik adalah menyiapkan gelas ukur yang berisi Nafis pada batas tertentu. Kemudian dimasukkan gonad dalam gelas ukur yang berisi Nafis tersebut. Dilihat dan dihitung selisih volume gelas ukur yang berisi telur dengan volume air pada gelas ukur sebelum diisi telur dan dicatat sebagai (V). kemudian diambil gonad sebagian, lalu dimasukkan ke dalam gelas ukur berisi Nafis dan dilihat selisih perubahan volumenya yang dianggap sebagai (v). kemudian diambil NaFis yang berisi telur tersebut dengan menggunakan handtally counter lalu di catat hasilnya sebagai (x). Dalam metode ini, Nafis digunakan untuk mengencerkan atau menghilangkan daya lengket telur karena telur ikan lele bersifat mudah menempel pada substrat (adhesive). Langkah selanjutnya dihitung nilai fekunditasnya (X) dengan menggunakan rumus X : x = V : v , dimana X = nilai fekunditas, x = jumlah telur sebagian, V = volume total gonad, v = selisih volume NaFis sesudah diisi gonad sebagian dengan sebelum diisi gonad sebagian. Metode Gravimetrik

92

Metode gravimetric caranya adalah gond ikan lele diambil dari sampel. Lalu ditimbang semua gonad atau telur (G) dengan toimbangan analitik. Gonad sebagian (g) denganan timbangan analitik lalu dihitung jumlah telur sebagian yang telah ditimbang. Dihitung fekunditasnya dengan rumus X:x = G:g Metode Gabungan

Gonad ikan lele (Clarias Gariepeneus) duambil gonad atau telur dari sampel ditimbang gonad atau telur (G) dengan timbangan analitik. Lalu diambil gonad atau telur (g) tersebut. Gonad sebagian ditimbang dengan timbangan analitik. Dimasukkan gelas ukur dan ditambahkan Nafis sampai 10 CC. Diaduk sampai rata. Diambil 1 CC telur untuk sampel. Lalu dihitung jumlah telur dalam 1CC tersebut dan dihitung nilai fekunditasnya dengan rumus = .

4.2 Analisa Data Pada pengamatan perkembangan embrio ikan lele (Clarias Gariepinus), yang dilakukan selama 12 jam pengamatan yang dibagi menjadi 15 kali pengamatan, didapatkan data sebagai berikut : Pengamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Waktu 19.15 19.30 19.45 20.00 20.30 21.00 22.00 23.00 01.00 03.00 05.00 07.00 09.00 11.00 13.00 Suhu 290C 310C 30 C 31 C 290C 290C 30 C 31 C 290C 280C 29 C 28 C 280C 270C 27 C
0 0 0 0 0 0 0

Kondisi Telur Ikan Lele Fase Awal Pembelahan Sel Fase Awal Pembelahan Sel Fase Morulla Fase Gastrulla Fase Gastrulla Fase Gastrulla Fase Blastulla Fase Blastulla Fase Blastulla Fase Gastrulla Fase Gastrulla Fase Gastrulla Fase Gastrulla Fase Larva Fase Larva

Didapatkan dalam praktikum ini 1414 telur mati dari pukul 19.15-13.00 WIB.

93

4.3

Analisa Hasil

4.3.1 Metode Volumetrik Pada kelompok 1 dan 2, diperoleh volume gonad keseluruhan (V) sebesar 110 CC, volume gonad sebagian (v) sebesar 0.1CC, jumlah telur sebagian (x) didapatkan sebanyak 304 butir. Sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 334.400. Pada kelompok 3 dan 4, diperoleh volume gonad keseluruhan (V) sebesar 110 CC, volume gonad sebagian (v) sebesar 1CC, jumlah telur sebagian (x) didapatkan sebanyak 148 butir. Sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 16.280. Pada kelompok 5 dan 6, diperoleh volume gonad keseluruhan (V) sebesar 110 CC, volume gonad sebagian (v) sebesar 0.1CC, jumlah telur sebagian (x) didapatkan sebanyak 304 butir. Sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 69.300. Pada kelompok 7 dan 8, diperoleh volume gonad keseluruhan (V) sebesar 110 CC, volume gonad sebagian (v) sebesar 0.8CC, jumlah telur sebagian (x) didapatkan sebanyak 276 butir. Sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 37.950. Pada kelompok 9 dan 10, diperoleh volume gonad keseluruhan (V) sebesar 110 CC, volume gonad sebagian (v) sebesar 0.44CC, jumlah telur sebagian (x) didapatkan sebanyak 240 butir. Sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 62.438. Pada kelompok 11 dan 12, diperoleh volume gonad keseluruhan (V) sebesar 110 CC, volume gonad sebagian (v) sebesar 0.3CC, jumlah telur sebagian (x) didapatkan sebanyak 236 butir. Sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 185.653. Pada kelompok 13 dan 14, diperoleh volume gonad keseluruhan (V) sebesar 110 CC, volume gonad sebagian (v) sebesar 0.2CC, jumlah telur sebagian (x) didapatkan sebanyak 387 butir. Sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 212.850. Pada kelompok 15 dan 16, diperoleh volume gonad keseluruhan (V) sebesar 110 CC, volume gonad sebagian (v) sebesar 0.5CC, jumlah telur sebagian (x) didapatkan sebanyak 178 butir. Sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 39.160

94

Pada kelompok 17 dan 18, diperoleh volume gonad keseluruhan (V) sebesar 110 CC, volume gonad sebagian (v) sebesar 0.2CC, jumlah telur sebagian (x) didapatkan sebanyak 304 butir. Sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 125.400. Pada kelompok 19 dan 20, diperoleh volume gonad keseluruhan (V) sebesar 110 CC, volume gonad sebagian (v) sebesar 0.8CC, jumlah telur sebagian (x) didapatkan sebanyak 275 butir. Sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 37.812. Pada kelompok 21,22 dan 23, diperoleh volume gonad keseluruhan (V) sebesar 110 CC, volume gonad sebagian (v) sebesar 0.8CC, jumlah telur sebagian (x) didapatkan sebanyak 275 butir. Sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 37.812. Pada kelompok 24, diperoleh volume gonad keseluruhan (V) sebesar 110 CC, volume gonad sebagian (v) sebesar 0.2CC, jumlah telur sebagian (x) didapatkan sebanyak 387 butir. Sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 212.850. Pada kelompok 25, diperoleh volume gonad keseluruhan (V) sebesar 110 CC, volume gonad sebagian (v) sebesar 0.1CC, jumlah telur sebagian (x) didapatkan sebanyak 310 butir. Sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 3341.000. 4.3.2. Metode Gravimetrik Pada kelompok 1 dan 2, diperoleh berat gonad keseluruhan (G) sebesar 114.479, berat gonad sebagian (g) sebesar 0,44 gram, jumlah telur sebagian (x) sebesar 304 butir, sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 790.896. Pada kelompok 3 dan 4, diperoleh berat gonad keseluruhan (G) sebesar 114.479, berat gonad sebagian (g) sebesar 0,31 gram, jumlah telur sebagian (x) sebesar 148 butir, sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 54.651 Pada kelompok 5 dan 6, diperoleh berat gonad keseluruhan (G) sebesar 114.479, berat gonad sebagian (g) sebesar 0,27 gram, jumlah telur sebagian (x) sebesar 163 butir, sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 69.105 Pada kelompok 7 dan 8, diperoleh berat gonad keseluruhan (G) sebesar 114.479, berat gonad sebagian (g) sebesar 0,34 gram, jumlah telur sebagian (x)

95

sebesar 276 butir, sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 92.923. Pada kelompok 9 dan 10, diperoleh berat gonad keseluruhan (G) sebesar 114.479, berat gonad sebagian (g) sebesar 0,44 gram, jumlah telur sebagian (x) sebesar 240 butir, sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 6.905 Pada kelompok 11 dan 12, diperoleh berat gonad keseluruhan (G) sebesar 114.479, berat gonad sebagian (g) sebesar 0,38 gram, jumlah telur sebagian (x) sebesar 236 butir, sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 72.092. Pada kelompok 13 dan 14, diperoleh berat gonad keseluruhan (G) sebesar 114.479, berat gonad sebagian (g) sebesar 0,49 gram, jumlah telur sebagian (x) sebesar 387 butir, sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 90.408. Pada kelompok 15 dan 16, diperoleh berat gonad keseluruhan (G) sebesar 114.479, berat gonad sebagian (g) sebesar 0,36 gram, jumlah telur sebagian (x) sebesar 178 butir, sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 56.599. Pada kelompok 17 dan 18, diperoleh berat gonad keseluruhan (G) sebesar 114.479, berat gonad sebagian (g) sebesar 0,31 gram, jumlah telur sebagian (x) sebesar 278 butir, sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 84.191. Pada kelompok 19 dan 20, diperoleh berat gonad keseluruhan (G) sebesar 114.479, berat gonad sebagian (g) sebesar 0,44 gram, jumlah telur sebagian (x) sebesar 271 butir, sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 63.436. Pada kelompok 21,22 dan 23, diperoleh berat gonad keseluruhan (G) sebesar 114.479, berat gonad sebagian (g) sebesar 0,44 gram, jumlah telur sebagian (x) sebesar 275 butir, sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 95.392 Pada kelompok 24, diperoleh berat gonad keseluruhan (G) sebesar 114.479, berat gonad sebagian (g) sebesar 0,44 gram, jumlah telur sebagian (x) sebesar 387 butir, sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 30.407.

96

Pada kelompok 25, diperoleh berat gonad keseluruhan (G) sebesar 114.479, berat gonad sebagian (g) sebesar 0,36 gram, jumlah telur sebagian (x) sebesar 310 butir, sehingga setelah dimasukkan ke dalam rumus didapatkan nilai fekunditas (X) sebesar 98.571. 4.3.3. Metode Gabungan Pada kelompok 1 dan 2 dalam pengamatan fekunditas dari ikan lele (Clarias Gariepinus) didapatkan nilai fekunditas (F) sebesar 31.694. Pada kelompok 3 dan 4 didapatkan nilai fekunditas (F) sebesar 49.852. Pada kelompok 5 dan 6 didapatkan nilai fekunditas (F) sebesar 49.852. Pada kelompok 7 dan 8 didapatkan niai fekunditas (F) Sebesar 4.713. Pada kelompok 9 dan 10 didapatkan niai fekunditas (F) Sebesar 972.995. Pada kelompok 11 dan 12 didapatkan niai fekunditas (F) Sebesar 111.457. Pada kelompok 13 dan 14 didapatkan niai fekunditas (F) Sebesar 165.865. Pada kelompok 15 dan 16 didapatkan niai fekunditas (F) Sebesar 79.903. Pada kelompok 17 dan 18 didapatkan niai fekunditas (F) Sebesar 46.150. Pada kelompok 19 dan 20 didapatkan niai fekunditas (F) Sebesar 323.444. Pada kelompok 21, 22 dan 23 didapatkan niai fekunditas (F) Sebesar 45.689. Pada kelompok 24 didapatkan niai fekunditas (F) Sebesar 165.865. Pada kelompok 25 didapatkan niai fekunditas (F) Sebesar 125.851.

4.4 Analisa Produk Menurut puspowardoyo (2006), lele dumbo (Clarias Gariepinus) memeiliki patil yang tidak tajam dengan geriginya tumpul. Sungut lele dumbo relative lebih panjang dan tampak lebih kuat dari pada lele local. Kulit badannya terdapat bercak bercak kelabu seperti jamur pada kulit manusia, kepala dan punggungnya berwarna kehitam-hitaman atau kecoklatan. Ikan lele licin, berlendir dan tidak bersisik. Mulut ikan lele relative lebih besar yakni sekitar dari panjang total tubuhnya. Cirri khas ikan lele dumbo adalah adanya 4 pasang kumis atau sungut yang terletak di sekitar mulutnya. Keempat pasang sungut tersebut terdiri dari sepasang hidung, sepasang sungut maxilla, dan 2 pasang maroubula. Fungsi sungut tersebut sebagai alat peraba ketika berenang dan sebagai sensor saat mencari makan (Dipa, 2008).

97

4.4 Manfaat di Bidang Perikanan Manfaat Biologi Perikanan dari materi fekunditas adalah untuk

mengethaui dinamika dan mengontrol populasi ikan lele (Clarias Gariepinus). Mengetahui jumlah telur yang akan dikeluarkan oleh induk betina saat pemijahan sampai fase dmiana telur sudah mulai menetas serta dapat memahami cara menyuntik ikan lele dengan hormone ovaprim.

98

BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan Kesimpulan dari praktikum Biologi Prikanana materi Fekunditas adalah Fekunditas merupakana spek yang penting dalam biologi perikanan dan berhubungan dengan populasi dan reproduksi. Fekunditas adalah jumlah telur yang ada didalam ovary ikan betina sebelum pemijahan Ada beberapa farktor yang mempengaruhi fekunditas adalah factor luar seperti lingkungan, suhu perairan, oksigen dll. Factor dalam seperti panjang dan berat ikan, umur ikan, spesies ikan dll. Macam fekunditas ada fekunditas mutlak, relative, dan total Cara mendapatkan telur ada 2 cara yaitu dengan stripping atau pemberian tekanan halus pada perut ikan dan pengangkatan ovary Cara menghitung telur ada 4 metode yaitu volumetric, gravimetric, gabungan dan langsung Untuk mengawetkan telur ikan bisa diberi cairan seperti formalin, larutan glison, dan cara pendinginan Fekunditas berbanding lurus dengan panjang dan berat induknya Pada praktikum yang digunakan adalah metode gabungan. Dari gabungan gravimetric, volumetric, dan langsung 5.2 Saran Diharapkan menggunakan laporan ketik individu tanpa harus

mengggunakan laporan tulis karna akan memberatkan praktikan. Diharapkan juga asisten lebih jelas lagi dalam memberikan penjelasan. Dan alat-alat di laboratorium di perbanyak supaya menghemat waktu

99

DAFTAR PUSTAKA Arik, 1990. Diktat Praktikum Biologi Perikanan.Fpik UB:Malang Armansyah, 2005. Klasiikasi dan Morfologi Ikan Lele. http://

www.armasnyah.blogspot.com. Diakses pada tanggal 05 Desember 2011 pukul 20.00 WIB BPPP, 1992. Pedoman Teknisi Pembenihan Ikan Lele (Clarias Gariepinus) Departemen Pertanian:Jakarta Dani, Abdul Rahman, 2000. Ekologi Ikan.FPIK UB: Malang Dipa, 2008. Lele Ikan Berkumis Paling Populer. Agromedia Pustaka:Bandung Erlin, 2011. Fekunditas Individu Ikan. http:// www.erlin.blogspot.com diakses pada tanggal 05 Desember 2011 pukul 19.00 WIB Google image,2011 Ichsan,2008. Hubungan Fekunditas dengan Panjang dan Berat Ikan. http:// www.Ichsan.blogspot.com diakses pada tanggal 06 desember 2011 pukul 16.00 WIB Kawai, Sumantodinata.2003. Pengembangan Ikan-Ikan Parairan di Indonesia. FPIK:IPB Murtidjo, Bambang Agus.2005. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar. Kansius:Surabaya Nasyrah, Rangganis Alam.2001. Pengaruh Perbedaan dosis Super Natant Telur Ikan Mas (Ciprinus Carpic)terhadap perkembangan gonad Ikan Lele (Clarias Gariepinus)FPIK UB:Malang Paberson,2001. Cara mendapatkan Telur. http:// www.paberson.com diakses pada tanggal 05 Desember 2011 pukul 19.00 WIB Puspowardoyo, Harsono, 2006. Pembenihan dan Pembesaran Lele Dumbo Hemat Air. Kansius : Surabaya. Serse, 2010. Sifat-sifat telur. http:// www.Serseblogspot.com diakses pada tanggal 06 Desember 2011 pukul 19.00 WIB Wardana,2011. Definisi sifat-sifat telur.http:// www.wirawan.blogspot.com.

diakses pada tanggal 05 Desember 2011 pukul 20.25 WIB

100

LAMPIRAN I FEKUNDITAS

Spesies

: Clarias gariepinus Organ sex induk jantan

Organ sex induk betina

Gambar in

duk ikan

(Google image,2011)

101

LAMPIRAN II FROM DATA FEKUNDITAS SELURUH KELOMPK Spesies : Clarias gariepinus

Metode Volumetrik Kel. TL (Cm) 1&2 3&4 5&6 7&8 9&10 11&12 13&14 15&16 17&18 19&20 21&22 23 24 25 Spesies W (gr) V (ml) 110 110 110 110 110 110 110 110 110 110 110 110 110 110 : Clarias gariepinus v (cc) 0,1 1 0,1 0,8 0,44 0,3 0,2 0,5 0,2 0,8 0,8 0,8 0,2 0,1 X (butir) 304 148 163 276 240 236 387 178 228 271 275 275 287 310 X (butir) 334400 16280 179300 37950 60000 86533,33 212850 39160 125400 37262,5 37812,5 37812,5 212850 341000 Keterangan

102

Metode Gravimetrik Kel. TL (Cm) 1&2 3&4 5&6 7&8 9&10 11&12 13&14 15&16 17&18 19&20 21&22 23 24 25 W (gr) g (cc) 0,44 0,31 0,27 0,34 0,44 0,38 0,49 0,36 0,31 0,49 0,33 0,33 0,49 0,36 G (cc) 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 X (butir) 304 148 168 276 240 236 287 178 228 271 275 275 387 310 X (butir) 7908 5465 69105 92923 62438 71092 90408 56599 84191 63309 95392 95392 90408 98571 Keterangan

103

Spesies

: Clarias gariepinus

Metode Gabungan Kel W (gr) 1&2 3&4 5&6 7&8 9&10 11&12 13&14 15&16 17&18 19&20 21 22 23 24 25 G (gr) 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 114,47 V (cc) 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 X (butir) 243 27 23 28 34 74 142 49 25 199 84 84 84 142 79 Q (gr) 0,44 0,31 0,27 0,34 0,44 0,38 0,49 0,36 0,31 0,49 0,33 0,33 0,33 0,49 0,36 F (butir) 316093 49849 48756 47135 44227 111458 165865 77903 46157 232444 145689 145689 145689 165865 125599 Keterangan

104

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN

AWAL DAUR HIDUP

AGROBISNIS PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

105

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Menurut Rustidja (2005) , ikan, seperti halnya organisme lain, harus

mampu beradaptasi dengan lingkungan jika ingin terus bertahan hidup. Proses bertahan hidup adalah kemampuan untuk berkembang biak secara cepat selama hidupnya serta meningkatkan jumlah anak anak nya. Pemijahan sebagai salah satu fase dari reproduksi merupakan mata rantai siklus hidup yang menentukan kelangsungan hidup spesies. Penambahan populasi ikan bergantung pada berhasilnya pemijahan ini dan juga bergantung kepada kondisi dimana telur dan larva ikan kelak akan berkembang di alamnya (Lesmana, 2007). 1.2. Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum Biologi Perikanan materi Awal Daur Hidup ini adalah untuk membuat praktikan dapat mengetahui cara pemijahan ikan secara buatan, mengetahui perkembangan embrio ikan secara mikroskopis. Tujuan dari praktikum Biologi Perikanan materi Awal Daur Hidup ini adalah agar para praktikan mampu mempraktikkan cara pemijahan secara buatan pada ikan dan mampu mengidentifikasikan gambaran secara morfologi pada perkembangan embrio ikan secara mikroskopis. 1.3. Waktu dan Tempat Praktikum Biologi Perikanan materi Awal Daur Hidup ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Desember 2011 pukul 08.00 WIB sampai dengan Hari Minggu, 11 Desember 2011 pukul 13.00 WIB yang bertempat di Laboratorium Reproduksi ikan, Pembenihan dan Pemuliaan ikan, gedung D Lantai 1 , Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang.

106

BAB2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Menurut Topan (2011),Klasifikasi ikan lele dumbo adalah Filum Kelas Sub kelas Ordo Sub ordo Family Genus Spesies :Chordata :pices :telostei :Ostairiophysi :Silunasdae :clariadae :clarias :Clarias gariepinus (google image,2011)

Menurut Harsono (2008).Lele dumbo memiliki patil yang tidak tajam dan geriginya tumpul,sungut relative lebih panjang dan tampak lebih kuat daripada lele lokal.Lele dumbo termasuk binatang malam(nocturnal)karena mencari makan bila keadaan gelap atau malam hari.Lele dumbo termasuk golongan ikan karnivora yang menyukai protein hewani sebagai makanan utamanya dan dapat bertahan hidup dalam perairan yang telah tercemar sekalipun.Keistimewaan adalah mudah dikembangbiakkan.Pertumbuhan relative cepat mudah

beradaptasi serta efisien terhadap aneka macam dan bentuk ukuran pakan yang diberikan. 2.2 Ciri-Ciri Kematangan Gonad pada Ikan 2.2.1 ikan jantan Menurut Hrsono (2008).Ikan jantan yang telah matang kelamin memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Umurnya 8-24 bulan 2. Tidak cacat fisik tubuh 3. Postur tubuh ideal 4. Alat kelamin merah membengkak Menurut Rustidja (2005).Ciri-ciri yang siap memijah pada ikan jantan adalah 1. Ikan jantan mengeluarkan sperma sedikit apabila diberi tekanan pada berutnya

107

2. Pada sirip punggungnya menjadi kasar 3. Beberapa ikan jantan dari sungai amazon mengeluarkan suara saat mereka muncul kepermukaan 1.3.1. Ikan betina

Menurut Harsono(2008).Ikan betina yang telah matang kelamin memiliki ciri-ciri sebagai berikut 1. Umur 1-2 tahun 2. Tidak cacat fisik 3. Perut menggembung dan lembek 4. Alat kelmin memerah dan membesar Menurut Rustidja (2005).Ciri-ciri ikan betina adalah 1. Perut kembung dan lembut memenuhi sepanjang posterior dan genital terbuka 2. Genital terbuka menonjol warna kemerahan 3. Anus juga bengkak 4. Beberapa jenis ikan warnyanya berubah

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kematangan Gonad Faktor utama yang mempengaruhi kematangan gonad ikan antara suhu dan makanan didaerah tropic ikan lebih cepat memja.Kualitas pakan yang diberikan harus mempunyai komposisi khususbyang merupakan faktor penting dalam mendukung keberhasilan proses pematangan gonad (Rustidja,2005) Perkembangan telur dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar pengaruh faktor lingkungan terhadap gametosis adalah oleh hebungan antara proses hipotalamus peturtar sedangkan kematangan gonad pada ikan tertentu dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktornya antara lain dipengaruhi oleh suhu dan lawn jenis.Faktor dalam antara lain perbedaan spesies umur serta sifat fisiologis (Kordi et al,2010).

2.4 Macam-Macam Hormon Pemicu Kematangan Gonad Kelenjar hipofisa memproduksi mengakumulasi dan menyimpan hormone yang berperan untuk mengatur proses ovulasi telur. Dalam proses reproduksi, kelenjar hipofisa berperan sebagai perantara antara central net vour proter dan gonad hormone gonadotropin dihasilkan oleh ikan yang matang gonad dan

108

perubahan siklus konsentrasi dalam kelenjar hipofisa berhubungan dengan siklus reproduksi dalam kelenjar hipofisa berhubungan dengan siklus reproduksi ikan. Pelepasan gonadotropin oleh kelenjar hipofisa diperintah oleh hipotalamus setelah sekresi Gonadotropin RetasingHormon (GRH) (Rustija,2005). Menurut Ghufron dan Kordi (2008), hormon reproduksi diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu hormone reproduksi primer yaitu hormon-hormon yang secara langsung terlibat di dalam berbagai aspek reproduksi seperti spermatogenesis, ovulasi, fertilisasi, transportasitelur, proses kelahiran.jenis-jenis hormon reproduksi primer antara lain: a. FSH (Follide Stimulating Hormone) merupakan hormone yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa anterior. Fungsi hormone ini pada induk betina dapat merangsang perkembangan folikel melalui mekanisme yang hingga kini belum dapat diketahui. b. Lutenizing Hormon (LH) merupakan hormone yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa anterior. Pada induk betina hormone ini membantu perkembangan folikel sehingga dapat mencapai pematangan sempurna. c. Human Chorionic Gonadotropin (HCG) merupakan hormone yang terdapat baik dalam darah maupun air seni wanita hamil muda yang dihasilkan oleh jaringan plasenta. d. Luteotropic Hormon (LTH) merupakan hormone yang dihasilkan oleh

kelenjar hipofisa anterior yang berfungsi merangsang pertumbuhan kelenjar susu dan proses laktasi induk betina. e. Pregnant Mare Serum (PMS) ialah hormone yang terdapat dalam serum bangsa muda bunting yang dihasilkan oleh jaringan plasenta.

2.5 Teknik Penyuntikan Menurut Murtidjo (2005) penyuntikan suspense hipofisa untuk

mempercepat pemijahan dan ovulasi dapat dilakukan dengan cara : a) Intra Cranial (IC) ialah penyuntikan suspense hipofisa ke dalam rongga

melalui lubang acupital bagian yang tipis. b) Intra Peritonial (IP) ialah penyuntikan suspense hipofisa ke dalam rongga perut pada pursiantara ke-2 sirip perut sebelah depan atau dada sebelah depan. Penyuntikan dilakukan sejajar dengan dinding perut. c) Intra Muscular (IM) ialah penyuntikan suspense hipofisa pada otot punggung atau otot batang ekor.

109

Menurut Sumantadinata (2003) ada tiga cara penyuntikan dalam hipofisa yaitu intra muscular cara penyuntikan pada otot punggung, intra peritoneal yaitu penyuntikan ke dalam rongga perut lokasi penyuntikan kedua sirip perut sebelah depan dilakukan sejajar dengan dinding perut, dan intra cranial ialah penyuntikan ke dalam rongga otak melalui lubang ocripital atau bagian yang tipis. Penyuntikan sebanyak dosis yang diperlukan dapatdilakukan 1-3 kali.

2.6 Pengertian Pemijahan Pemijahan adalah suatu peristiwa pertemuan antara ikan jantan dan ikan betina yang bertujuan untuk pembuahan telur oleh spermatozoa pada ikan ,umumnya pembuahan berlangsung secara external yaitu di luar tubuh (Supri,2011). Proses pemijahan adalah proses yang ditunjukkan oleh suatu spesies dalam bentuk tingkah laku dalam melakukan perkawinan. Secara umum proses pemijahan biota aquatic dibagi dalam beberapa tahap yaitu proses maling, spawning, dan pasca spawning (kordi,2010). Proses pemijahan lele dumbo berasal dengan pengeluaran telur dari induk betina dan dususul dengan semprotan sperma dari induk jantan .induk yang telah berpijah dapat diliihat dari perilaku dan telur hasi lpemijahannya (Rustidja,2005).

2.7 Macam-Macam Pemijahan Menurut Rustidja (2006) macam-macam pemijahan adalah a. Pemijahan di Air Tenang Pemilihan tempat untuk memijah antara satu jenis ikan dengan jenis lainnya. Golongan ikan yang memijah di perairan yang tenang memilih perekat telur, seperti Eropen cyprinids telurnya dilekatkan pada rumput, batu dan kerikil. b. Pemijahan di Air Mengalir Pemijahan di air mengalir memberi keuntungan dalam melindungi telur dan larva. Telur yang tidak lengket, terapung dan melayang-layang memperoleh cukup oksigen untuk perkembangannya dan terlindung dari predator. c. Pemijahan di Daerah Tergenang

110

Tempat setelah banjir merupakan tempat yang ideal untuk pemijahan dan perkembangan larva. Tempat tersebut bebas dari bahaya, karena banjir telah mematikan fauna terestrial dan fauna predator dan fauna tersebut tidak memiliki waktu yang cukup untuk berkembang. Menurut Kordi (2008) pembenihan biota budidaya dilakukan secara alami (natural spawning/natural breading) dan secara buatan (artifical spawning/artifical breading). Pembenihan secara alami dilakukan dengan meniru kebiasaan biota tersebut memijah di alam. Sedangkan pemijahan buatan dilakukan dengan teknik kawin suntik (induced spawning/induced breading) atau dengan pemijahan (stripping). Namun teknik-teknik pemijahan ini bisa digunakan.

2.8 Bagian-Bagian Telur

(Wahyuningsih, et.al (2006) Menurut Rustidja (2006) pada saat swelling atau mengembang telur telah lengkap, telur mengalami dua fase, yaitu inti menjadi bentuk yang lebih mudah dibedakan, baik dari bentuk maupun dari warna. Kutub anima berkembang berbentuk bukit kecil dan kuning telur berkembang menjadi warna kuning gelap. Proses tersebut tergantung pada temperature air. Pembelahan kutub anima dimulai dan satu sel berturut-turut menjadi 2,4, 8, 16 dan 32 sel. Stadia ini terlihat seperti sebuah mulberry dan hal ini merupakan akhir sari stadia morulla. Selanjutnya, memasuki fase banyak sel atau blastoderm, yang dimulai dengan satu selaput sel. Kemudian secara berangsur-angsur berkembang beberapa

111

selaput sel. Sel-sel tersebut disebut blastomer. Jumlah blastomer meningkat, ukurannya menjadi semakin kecil. Menurut Wahyuningsih, et.al (2006) telut yang baru saja keluar dari tubuh induk dan bersentuhan dengan air akan terjadi perubahan yaitu: 1. Selaput chorin akan terlepas dengan selaput vitelline dan membentuk ruang yang ini dinamakan ruang perivitellin. Adanya ruang perivitellin ini, maka telur dapat bergerak lebih bebas selama dalam perkembangannya selain itu dapat juga mereduksi pengaruh gelombang terhadap embrio yang sedang berkembang. 2.9 Fase Perkembangan Embrio Ikan dan Gambarnya

(Wahyuningsih, et.al (2006) Pada stadia morulla perkembangan embrio sangat sensitif terhadap goncangan dan sel tersebut mudah terlepas dari permukaan sehingga menyebabkan kematian dari embrio. Dalam sel terbentuk sebuah ruang yang berukuran kecil antara kuning telur dan massa sel yang disebut segmentation cavity. Embrio pada stadia ini disebut blastula. Sel-sel blastoderm pada mulanya tersusun pada bagian atas kuning telur sampai seluruhnya. Yang tersisa hanya bagian akhir dengan bukaan yang kecil dari blastophore dan akhirnya blastophore ini juga tertutup seluruhnya. Ini merupakan fase transisi dari perkembangan embriomik dan memulai stadia perkembang germ atau inti (Rustidja,2006).

112

Menurut Kordi,et.al (2010) larva yang baru menetas bersifat pasif karena mulut dan matanya belum membuka, sehingga pergerakannya masih tergantung pada arus air. Larva yang baru ditetaskan biasanya disebut larva berumur 0 hari (D-0) dengan membawa cadangan kuning telur (yolk sack) dan gelembung minyak (oil globule). Gelembung minyak berada lebih jauh dari bagian kepala atau dekat ke arah bagian belakang.

113

BAB 3 METODOLOGI

3.1 Alat dan Fungsi Alat yang digunakan dalam praktikum Biologi Perikanan tentang Awal Daur Hidup adalah sebagai berikut : Timbangan Analitik 0,01gr Diseccting set : Untuk membedah ikan Aerator Objek glass Mangkok plastik tempat telur ikan Kolam : Sebagai media hidup ikan lele : Untuk menghitung jumlah telur saat ditebar : Sebagai tempat preparat yang diamati : Sebagai tempat gonad ikan setelah dibedah dan : Untuk mengukur berat ikan dengan ketelitian

Thermometer : Untuk mengukur suhu air Pipet Tetes Spuit Serbet Mikroskop Saringan teh Aquarium Kamera Digital Heater Aquarium kejutan suhu Pisau : Untuk memotong ikan lele dan tulangnya. : Untuk mengambil sperma dan telur : Untuk menyuntikkan hormon ke tubuh ikan : Sebagai alat bantu memegang ikan lele : Untuk mengamati perkembangan telur ikan : Untuk tempat hidup telur yang ditebar di aquarium : Sebagai tempat heatshock dengan suhu air 27C : Untuk mengambil gambar : Sebagai pemanas air yang digunakan dalam

114

3.2 Bahan dan Fungsi Bahan yang digunakan dalam praktikum Biologi Perikanan tentang Awal Daur Hidup antara lain: Indukan Ikan Lele Hormon ovaprim NaCl Fisiologis Larutan Fertilisasi Alkohol 70% Tissue Aquadest Air Plastik Hitam ikan : Untuk diambil gonad dan telurnya : Untuk mempercepat kematangan gonad : Sebagai pengencer sperma : Sebagai pengencer sperma : Untuk septis : Untuk membersihkan alat : Untuk membersihkan alat-alat saat praktikum : Sebagai media hidup telur yang berkembang : Untuk menutup mangkok plastik yang berisi telur

115

3.3 Skema Kerja 3.3.1. Proses Penyuntikan Induk Betina dan Striping

Induk ikan sebelum disuntik

ditimbang berat tubuh ikan dengan timbangan analitik ( Wo) disuntik dengan spuit yang berisi larutan ovarium+ NaCl Fisiologis (1:2) dengan teknik intramuscular (kanan dan kiri ) dihitung suhu kolam T dihitung latency time dengan rumus :

induk setelah disuntik

disediakan wadah distriping didapatkan telur permukaan wadah ditutup dengan plastik hitam

Hasil

116

3.3.2 Proses penyuntikan induk ikan Jantan dan pengambilan sample

Air Sampel
ditimbang berat tubuh ikan dengan timbangan analitik disuntik dengan spuit yang berisi larutan ovaprim dan Na fisiologis (1:2) dengan teknik intramusculart dibunuh dengan memotong bagian kepala ikan disectio bagian perutnya diambil gonadnya dan gonad dibersihkan dengan tissue dimasukkan wadah dan gonad dicacah ditambah Na fisiologis secukupnya didapatkan sperma

Hasil

117

3.3.3 Proses Pencampuran Telur Dengan Sperma Dan Penebaran Telur Yang Telah Terbuahi Ke Dalam Aquarium.

Telur dan Sperma


Dicampur lalu ditambahkan larutan fertilisasi pada mangkok Dihomogenkan Dibuang larutan fertilisasi yang tersisa didalam

mangkok pencampuran Dibilas dengan aquadest Didapatkan telur yang sudah dibuahi

Telur ang terbuahi


Ditebar dalam aquarium dan pada saringan yang telah disiapkan Diamati suhu dan difoto perkembangan telur pada mikroskop tiap 2 jam sampai telur menetas. Diambil telur yang mati Dimasukkan dalam form dan digambar bentuk

perkembangan embrio. Dihitung hatching rate : X 100%

Hasil

118

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1 Analisa Prosedur Dalam praktikum biologi perikanan mengenai awal daur hidup,langkah pertama yang dilakukan adalah mempersapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan.Alat-alat yang digunakan adalah timbangan analitik untuk menimbang berat ikan dengan ketelitian 10-2,mangkok plastik sebagai tempat telur yang telah diamati dan telur yang rusak/mati,spuit untuk menyuntik ikan.Kolam sebagai media hidup ikan,serbet digunakan untuk mengkondisikan ikan agar tetap hidup saat pengambilan dari aquarium,kamera untuk mengambil gambar pengamatan perkembangan telur/embrio,aerator untuk mensuplai oksigen dalam

air,thermometer untuk mengukur suhu aquarium,mikroskop untuk mengamati perkembagan telur,heater aquarium untuk member panas pada aquarium,pipet tetes untuk mengambil telur dan aquarium,saringan the sebagai tempat telur ikan di aquarium dan pisau untuk memotong kepala ikan dalam proses pengangkatan ovary.Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah induk ikan lele (Clarias gariepinus) jantan dan betina sebagai objek pengamatan hormone ovaprim (jantan 0,3 mg/l dan untuk betina 0,5 mg/l) untuk memacu kematangan sperma gonad NaFis sebagai larutan untuk gonad,larutan fertilisasi untuk mengaktifkan sperma,alkohol 70% untuk mengapseptiskan jarum suntik,tissue untuk

membersihkan alat-alat yang sudah digunakan dalam praktikum,dan aquadest untuk membilas alat-alat bekas larutan yang tersisa,serta air sebagai media hidup ikan. Setelah dipersiapkan alat dan bahan,selanjutnya dilakukan penyuntikan induk betina dan stripping.Caranya adalah induk ikan betina sebelum disuntik ditimbang berat tubuh dengan menggunakan timbangan analitik dicatat sebagai (W 0),kemudian disuntik dengan spuit yang berisi larutan ovaprim+Nafis dengan perbandingan 1:2 denga teknik intramuscular yaitu disuntikkan larutan ovaprim da Nafis tersebut di bagian punggung ikan (kiri dan kanan).Sementara itu suhu kolam dihitung dengan menggunakan thermometer dan dicatat sebagai

(T).Dihitung latency time (LT) yaitu selang waktu antara waktu penyuntikan dengan stripping dengan rumus .Kemudian induk ikan betina (Clarias

gariepinus) yang sudah disuntik dimsukkan dalam wadah kemudian beberapa saat lalu distripping untuk didapatkan telurnya dan telur yang yang dihasilkan

119

dimsukkan dalam baskom,lalu ditutup dengan plastik hitam agar cahaya tidak menembus ke telur karena bisa menutup lubang mikrofil sehingga proses pemijahan akan terganggu. Berikut adalah proses penyuntikan untuk ikan jantan dan pengambilan sperma.Induk ikan jantan setelah disuntik,ditimbang berat tubuhnya dengan menggunakan timbangan analitik dicatat sebagai (W 0).Kemudian disuntik dengan menggunakan spuit yang berisi larutan ovaprim+NaFis dengan perbandingan 1:2 dengan teknik intramuscular (penyuntikan pada bagian punggung kanan dan kiri ikan).Setelah penyuntikan ikan jantan dimatikan dengan menggunakan memotong bagian kepala ikan dan disectio pada bagian perutnya,setelah dibedah,diambil gonad dan dibersihkan gonad dengan menggunakan tissue.Selanjutnya dimasukkan wadah dan gonad kemudian dicacah dengan diberikan NaFis secukupnya,sehingga didapatkan sperma ikan. Proses yang dilakukan selanjutnya adalah proses pencampuran telur dengan sperma dan penetasan telur yang telah dibuahi kedalam

aquarium.Disiapkan telur dan sperma,kemudian dicampur dan ditambahkan larutan fertilisasi pada mangkok dan dihomogenkan dengan cara menggoyanggoyangkkan mangkok.Setelah itu dibuang larutan fertilisasi yang tersisa dalam mangkok pencampuran.Dibilas dengan aquadest sehingga didapatkan telur-telur yang sudah dibuahi.Telur yang telkah berhasil tersebut ditebar dalam aquarium dan pada saringan teh yang telah dipasang pada aquarium.Diamati dan diukur suhu agar tetap pada suhu yang diinginkan dan difoto perkembangan telurnya pada mikroskop dengan selang waktu 15 menit sebanyak 4 kali,30 menit selama 2 kali,1 jam selama 2 kali dan selanjutnya tiap 2 jam sekali sampai telur menetas telur-telur yang lain,jika tidak diambil akan membentuk jamur,data yang diperoleh dan digambar pengamatan dimasukkan dalam form yang sudah

disiapkan.Terakhir dihitung Hatching Rate (HR) dengan digunakan rumus: HR = X 100% dan dicatat hasilnya.

4.2 Analisa Data Pada pengamatan Hatching Rate (HR) pada aquarium satu didapat nilai HR sebesar 7,9%.Pada aquarium 2 didapat nilai HR sebesar 0,85%.Pada aquarium 3 didapat nilai HR 1,07%.Pada aquarium 4 didapat nilai HR 1,4%.Pada aquarium 5 didapat nilai HR 0,2%.Pada aquarium 6,7,dan 8 didapat nilai HR 0%.Pada aquarium 9 didapat nilai HR 0,22%.Pada aquarium 10 didapat nilai HR

120

sebesar 3,34%.Pada aquarium 11 didapatkan nilai HR sebesar 1,3%.Pada aquarium 12 didapatkan nilai HR sebesar 5,77% dan pada aquarium 13 didapatkan HR sebesar nilai HR sebesar 7,9%. 4.3 Analisa Hasil Pada pengamatan perkembangan embrio pada pukul 19.15 WIB telur berada pada fase pembelahan sel pada suhu 30oC,pada pengamatan pukul 19.30 berada pada fase morula suhu 29oC,pada pukul 19.45 WIB,telur berada pada fase blastula dengan suhu 29Oc.Pada pukul 20.00 WIB,telur berada pada fase blastula suhunya 29oC,pada pukul 20.30 WIB,telur berada pada fase blastula dengan suhu 29oC.Pada pukul 21.00 WIB,telur berada pada fase Morula suhunya 30oC.Pada pukul 22.00 WIB,telur berada pada fase morula dengan suhu 30oC.Pada pukul 23.00 WIB,pada fase blastula pada suhu 31oC.Pada pukul 01.00 WIB,berada pada fase blastula suhunya 30oC.Pada pukul 03.00 WIB,berada pada fase blastula dengan suhu 30oC.Pada pukul 05.00 WIB berada pada fase blastula dengan suhu 30oC.Pada pukul 07.00 WIB berada pada fase gastrula dengan suhu 29oC.Pada pukul 09.00 WIB,telur berada pada fase gastrula suhunya 28oC,dan pada pukul 11.00 WIB,telur menetas dengan suhu 30oC.Pada pukul 13.00 WIB,telur berada pada fase larva pada suhu 29oC. Faktor lingkungan yang dominan mempengaruhi perkembangan gonad adalah suhu dan makanan,selain itu adalah periode cahaya dan musim,terutama pada daerah sub tropis (Kordi et al,2010) Menurut Rustidja (2005),faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan gonad adalah: a. Suhu b. Cahaya c. Oksigen d. Padat telur

121

4.4 Manfaat Di Bidang Perikanan Manfaat awal daur hidup di bidang perikanan adalah: Mengetahui ciri-ciri ikan yang matang gonad dan yang belum matang gonad. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kematangan gonad. Mengetahui teknik penyuntikan dan tempat penyuntikan yang tepat pada tubuh ikan. Dapat mengetahui cara pemijahan buatan. Dapat mengetahui bagian-bagian telur ikan dan mengetahui perkembangan telur dari fase awal pembelahan sel sampai fase larva.

4.5 Hubungan Awal Daur Hidup Dengan Fekunditas Fekunditas ialah jumlah telur yang akan dikeluarkan saat memijah yang tentunya akan mengalami daur awal hidup dimulai dari fase pembelahan, moruila, blastula dan gastrula setelah itu berkembang menjadi larva, enbriogenesis dan menjadi individu baru. Di dalam awal daur hidup juga membahas kerentanan ikan. Disana kita tahu larva ikan sangat rentan terhadap penyakit, predator dan perubahan lingkungan. Jadi hubungan awal daur hidup dengan fekunditas nya berbanding lurus. Karena, semakin panjang atau berat tubuh ikan otomatis semakin besar pula tempat untuk menyoimpan telur sehingga fekunditasnya semakin tinggi.

122

BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang didapatkan dari praktikum Awal Daur Hidup adalah sebagai berikut: Adapun cirri-ciri ikan jantan matang gonad adalah alat kelamin meruncing dan tampak jelas, warna tubuh agak kemerah-merahan, tubuh tampak lebih ramping dan gerakan nya lincahh. Cirri-ciri betina matang gonad adalah perut gendut, jika diraba perut terasa lembek, dan bagian dubur tampak kemerah-merahan Factor yang mempengaruhi tingkat kematangn gonad adalah ketersediaan pakan, pola adaptasi dan strategi hidup yang dimiliki oleh ikan itu. Macam-macam hormon pemicu yang dapat digunakan untuk memicu kematangan gonad adalah : hypofisa, human chorionic gonadotropin (hcg), dan lH-rH. Teknik penyuntikan ada 3 yaitu: intramuscular, intraperitonial dan intra cranial. Pemijahan adalah proses pengeluaran sel telur oleh induk betina dan sperma oleh induk jantan yang diikuti dengan perkawinan. Fase perkembangn embrio yaitu singami, blastulasi, gastrulasi dan organogenesis. Adapun data mengenai suhu yang didapat oleh kelompok 7 dengan suhu control 300C, berturut-turut selama 18 kali pengamatan adalah 290C, 280C, 280C, 280C, 290C, 290C, 280C, 300C, 310C, 300C, 270C, 280C, 270C, 280C, 270C, 260C, 300C, 300C dan 300C. Hatcing rate dari kelompok 7 adalah sebesar 57%. Hatcing rate tertinggi adalah pada 3 yaitu sebesar 68,88%, sedangkan terendah adalah kelompok 2 sebesar 19%.

5.2 Saran Dari praktikum Awal Daur Hidup kali ini adalah diharapkan untuk praktikan selanjutnya peralatan dilengkapi lagi, agar tidak menghasilkan waktu untuk menunggu giliran memakai alat seperti mikroskop.

123

DAFTAR PUSTAKA

Armansyah,2008.Pengaruh Lama Perendaman (Dipping) Pada Perlakuan Kejuta Panas (Heat Shock) Terhadap Perkembangan Embrio Dan Penetasan Telur Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus).FPIK UB.Malang. Dipa,2008.Lele Ikan Berkumis Paling Populer.Agromedia.Jakarta. Ghuffron dan H.Kordi,2008.Budidaya Perairan.PT Citra Aditya Bakti. Bandung Puspowardoyo,Harsono,2008.Pembenihan Dan Pembesaran Lele Dumbo Hemat Air.Kanisius.Jogjakarta. Rustidja,2005.Pembenihan Ikan-Ikan Daerah Tropis.Bahtexpress.Malang. Topan,2011.Klasifikasi Ikan Lele.http://Topan.blogspot.com/klasifikasi-Ikan-leledumbo.Diakses pada 5 Desember 2011 pada pukul 19.00 WIB Wahyuningsih et al,2006.Buku Ajar Ichtyologi.Departemen Biologi

FMIPA_USU.Sumatera Utara.

124

Perkembangan Embrio Gambar Pengamatan Fase Waktu Suhu (Co) 30oC Gambar Foto Keterangan

Perkembangan (WIB) Awal Pembelahan Sel 19.15

Fase (B)

Morula 19.30

29 oC

Fase (B)

Blastula 19.45

29 oC

Fase (C)

Blastula 20.00

28 oC

Fase (C)

Blastula 20.30

29 oC

Fase (D)

Morula 21.00

30 oC

125

Fase (E)

Blastula 22.00

Fase (G)

Blastula 23.00

31 oC

Fase (G)

Blastula 01.00

30 oC

Fase Gastrula 03.00 (H)

30 oC

Fase Gastrula 05.00 (I)

30 oC

Fase Gastrula 07.00 (J)

29 oC

Fase Gastrula 09.00 (J)

28 oC

126

Fase Larva (L)

30 oC

Gambar Ikan Beserta Gonadnya


GAMBAR PRAKTIKUM IKAN JANTAN
GAMBAR PRAKTIKUM IKAN BETINA

GAMBAR PRAKTIKUM GONAD IKAN JANTAN

GAMBAR PRAKTIKUM GONAD IKAN BETINA

[[

127