Anda di halaman 1dari 11

05 Maret 2012 | Bali Post

Antisipasi Putus Sekolah akibat Kenaikan BBM Pemerintah Diminta Tingkatkan Beasiswa Miskin
Berdasarkan data, tahun 2011 Bali mengantongi 1.315 siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SMA/SMK. Dikhawatirkan, angka ini akan bertambah dengan adanya kenaikan harga BBM. Berbagai pihak mengkhawatirkan, rencana pemerintah menaikkan harga BBM akan menyebabkan warga yang hampir miskin bisa jatuh dalam jurang kemiskinan jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang prorakyat. Kebijakan ini dinilai juga akan memengaruhi dunia pendidikan. Untuk mengatasi permasalahan itu, pemerintah diminta meningkatkan beasiswa bagi siswa miskin. MENURUT pemerhati pendidikan, Ida Bagus Anom, kenaikan harga BBM juga akan sangat berdampak pada dunia pendidikan. Siswa yang berasal dari warga miskin bisa saja terancam putus sekolah akibat tidak berdaya untuk membiayai pendidikannya. Karenanya, ia meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah mengantisipasi makin melonjaknya angka putus sekolah akibat naiknya berbagai kebutuhan. Salah satu caranya, dengan meningkatkan beasiswa bagi siswa miskin. Pemprov Bali, kata dia, harus antisipasif dan responsif atas dampak yang akan muncul pada siswa miskin ini. Mantan Kadisdikpora Bali ini menyarankan Pemprov Bali memiliki estimasi terhadap siswa putus sekolah sehingga bisa disiapkan anggaran untuk mengantisipasi hal itu. ''Kami menyarankan Pemerintah Provinsi Bali memiliki estimasi, berapa angka putus sekolah yang akan terjadi akibat kenaikan BBM ini sehingga bisa menganggarkan beasiswa miskin. Pemerintah harus responsif terhadap estimasinya itu dan seyogianya di anggaran perubahan tercantum dana untuk mengantisipasi membengkaknya angka siswa putus sekolah,'' ucapnya.

Sementara itu, pengamat pendidikan, Rumawan Salain mengatakan, untuk mengantisipasi membengkaknya angka putus sekolah, Pemprov Bali bisa meningkatkan anggaran pendidikan yang saat ini hanya 16 persen. Padahal, UU Sisdiknas mengamanatkan 20 persen dari APBD/APBN. ''Anggaran pendidikan Bali yang belum 20 persen sudah membuat dunia pendidikan kalang kabut. Apalagi sekarang ditambah dengan adanya rencana kenaikan BBM, kalau anggaran pendidikan itu tetap belum 20 persen maka dunia pendidikan di Bali akan semakin kalang kabut,'' ujarnya. Ditambahkannya, selain menggelontorkan BLT (bantuan langsung tunai) pada warga miskin untuk kompensasi kenaikan BBM, pemerintah pusat juga harus mulai memikirkan bantuan langsung pendidikan dan juga meningkatkan dana BOS. Berdasarkan data, tahun 2011 Bali mengantongi 1.315 siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SMA/SMK. Dikhawatirkan, angka ini akan bertambah dengan adanya kenaikan harga BBM. Walau pemerintah pusat sudah berencana menambah program bantuan siswa miskin untuk mengantisipasi dampak kenaikan BBM, pemerintah daerah juga diharapkan mengambil langkah antispasif dan proaktif. (wid)

03 Agustus 2011 | BP Kependudukan

Realisasi E-KTP Terancam Molor


Denpasar (Bali Post)

Program pemerintah pusat untuk menerapkan KTP elektronik (e-KTP) yang rencana semula bisa terlaksana Agustus 2011 ini, terancam molor. Pasalnya, sampai saat ini ketersediaan peralatan untuk merealisasikan e-KTP ini belum datang. Kondisi ini dikhawatirkan akan sama dengan program bus Sarbagita yang beberapa kali mengalami penundaan.
Kepala Dinas Kependudukan dan Capil Denpasar Nyoman Gede Narendra yang dihubungi Rabu (3/8) kemarin mengakui peralatan untuk cetak KTP belum datang. Seharusnya, pihaknya mendapat 33 unit mesin untuk mencetak e-KTP ini. Sayangnya, memasuki minggu pertama Agustus, belum juga datang. ''Rencananya minggu keempat Juli, mesin itu sudah datang, tapi sampai sekarang belum datang juga,'' katanya. Akibat molornya mesin tersebut, pihaknya belum bisa mengganti 460 ribu KTP warga Denpasar menjadi KTP elektronik seperti rencana semula. Karena itu, dipastikan proses pergantian ini tidak bisa sesuai rencana semula. Ditanya kapan mesin itu akan datang, pihaknya belum bisa memastikannya. Yang jelas, kata dia, pihaknya sudah menyiapkan unit pendukungnya. Seperti SDM, anggaran dan segala sesuatunya sudah siap. Untuk tahun anggaran 2011 ini dialokasikan dana sekitar Rp 970 juta. Pihaknya akan menerapkan program tersebut setelah mesin sudah datang. (kmb12)

12 Oktober 2011 | Bali Post

Pengaruh Kuat Parpol Dalam Kebijakan Politik Pemerintah


Partai politiklah yang mampu menanamkan pengaruhnya di daerah, bahkan lebih kuat dibanding gubernur. Partai politik yang besar mampu memberikan situasi kondusif di daerah. Karena itulah demi mempertahankan stabilitas secara umum di daerah-daerah ini, pemerintah (presiden) perlu merangkul partai politik dalam membuat kebijakan makro. Perombakan kabinet, memecat dan memilih seorang menteri merupakan sebuah kebijakan makro dari pemerintah. Oleh I Nyoman Mantra Partai kembali memperlihatkan 'giginya' dalam dinamika politik di Indonesia. Ketika Presiden menyebut soal perombakan kabinet, penasihatnya mengatakan bahwa partai politik tetap akan dilibatkan. Ini menandakan presiden tidak bisa sepenuhnya menuangkan 'isi hati' dalam memilih menteri yang akan membantu. Dalam artian lebih jauh, partai politik tetap akan menjadi faktor pengaruh dalam kebijakan politik presiden. Dengan demikian, bisa dikatakan pada dua tahun sisa pemerintahan presiden, partai politik akan tetap mempunyai pengaruh kuat dalam pembuatan kebijaksanaan negara. Satu hal yang bisa dilihat dari ketergantungan presiden kepada partai politik saat menentukan kebijakan adalah munculnya keberpihakan. Hal ini mau tidak mau terjadi karena saat membuat keputusan, presiden pasti akan mempertimbangkan sosok partai tersebut, apakah pengaruhnya, komposisi di dalam parlemen atau peran dari elite-elite yang mengendalikan partai politik yang bersangkutan. Keberpihakan ini mempunyai dua fungsi. Yang pertama adalah fungsi stabilitas. Keberpihakan kepada partai politik itu pasti akan terjadi pada partai politik besar. Dalam hal Indonesia, itu bisa terjadi pada Partai Golkar atau PDI Perjuangan. Tetapi karena PDI Perjuangan telah menyatakan sikap oposisi kepada pemerintah, itu paling mungkin terjadi kepada Partai Golkar. Stabilitas politik yang dimaksudkan adalah stabilitas di parlemen. Gabungan antara Partai Demokrat dengan partai Golkar mungkin tidak cukup untuk menjamin stabilitas parlemen itu. Jadi, diperlukan dua atau lebih partai lain yang bisa menjamin stabilitas ini. Partai Keadilan Sejahtera atau PAN bisa jadi akan menjadi target karena ini menjadi pilihan yang cukup rasional, didasarkan atas kinerja mereka. Fungsi stabilitas ini sangat diperlukan untuk sisa dua tahun perjalanan pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono, sekurangkurangnya untuk menjaga agar tidak ada suara macam-macam, semisal ingin menurunkan presiden di tengah jalan. Kedua, fungsi kendali. Kongsi antara pemerintah dengan partai politik ini merupakan sebuah akibat dari ketidakberesan reformasi. Indonesia sesungguhnya masih belum siap untuk menjadi negara yang murni demokratis dengan berbagai atributnya itu. Masalah mendasar yang berhubungan dengan reformasi tetap muncul. Misalnya soal otonomi dan pemekaran daerah, peran seorang raja sebagai gubernur (Sultan), sampai dengan fungsi Dewan Perwakilan Daerah yang akhir-akhir ini menjadi sorotan. Pemekaran daerah misalnya tetap marak menjadi tuntutan dari beberapa daerah yang merasa berada dalam satu identitas, sedangkan sorotan pada otonomi adalah pemaknaannya yang tidak bisa dipahami dengan baik. Maksud hati mau mengembangkan potensi-potensi daerah, tiba-tiba saja muncul raja-raja baru yang mempunyai kekuasaan seolah-olah diatas negara. Persoalan Kesultanan Yogyakarta sampai sekarang masih belum berhasil dituntaskan oleh pemerintah pusat. Sedangkan masyarakat mulai menyoroti peran DPD yang tidak mempunyai hak suara dalam menentukan kepentingan daerah di pusat. Malah yang terakhir ini sering kali memunculkan ide untuk menganamdemen konstitusi.

Kebijakan Mikro Karena partai politik mempunyai pengaruh yang cukup besar sampai di daerah-daerah, terutama partai politik yang besar, maka kekuatan, kekuasaan dan pengaruh partai ini akan dipakai oleh pemerintah untuk mengendalikan pergolakan-pergolakan yang mungkin terjadi sebagai akibat masalah seperti yang diungkap tadi. Partai politiklah yang mampu menanamkan pengaruhnya di daerah, bahkan lebih kuat dibanding gubernur. Partai politik yang besar mampu memberikan situasi kondusif di daerah. Karena itulah demi mempertahankan stabilitas secara umum di daerah-daerah ini, pemerintah (presiden) perlu merangkul partai politik dalam membuat kebijakan makro. Perombakan kabinet, memecat dan memilih seorang menteri merupakan sebuah kebijakan makro dari pemerintah. Secara mendasar model penyusunan kabinet seperti ini (merangkul partai politik) jelas sangat melemahkan posisi presiden. Dalam sistem pemerintahan presidensial, presiden sesungguhnya harus mempunyai kekuatan mutlak untuk memilih dan menentukan para pembantunya itu (menteri). Sebab dengan cara demikian ia akan mampu membuat keputusan penting tanpa dipengaruhi oleh kehadiran partai politik. Harus diakui kelebihan zaman Orde Baru terletak pada kekuatan presiden dalam membuat kebijakan, sehingga mau tidak mau stabilitas bisa dipelihara. Stabilitas itu terletak pada bersihnya kebijakan presiden dari kritik partai politik, dan presiden mutlak kuasa untuk memilih menteri. Dengan demikian, yang harus diwaspadai dalam kelanjutan perpolitikan Indonesia pasca Susilo Bambang Yudhoyono ini terletak pada sikap partai politik terhadap realitas politik di Indonesia. Sikap mengandung komponen-kompoenen yang akan menentukan masa depan stabilitas negara. Misalnya kesediaan untuk berubah, kesediaan untuk bekerjasama serta realistis dalam melihat kondisi politik. Cara pemerintah sekarang yang mendekatkan diri dengan partai politik dalam memilih anggota kabinet, akan menguntungkan partai-partai besar. Keuntungan ini tentu akan dinikmati sebagai kesempatan untuk menerapkan pengaruhnya dalam kebijakan politik. Dalam posisi demikian, juga akan termasuk kemampuan untuk membesarkan partai politik yang bersangkutan. Anggota kabinet yang berasal dari partai politik tertentu, secara tidak langsung menjadi promosi partai yang bersangkutan di tingkat akar rumput. Akan tetapi, belum tentu pemimpin Indonesia pasca-Susilo Bambang Yudoyono juga menerapkan model politik seperti sekarang (berdekatan dengan partai politik dalam memilih menteri). Apabila hal ini terjadi, maka kemungkinan besar akan terjadi krisis politik di Indonesia yang disebabkan oleh partai politik. Kebiasaan menempel pemerintahan akan memberikan suasana kondusif bagi partai yang bersangkutan. Pemutusan kebiasaan ini akan bisa mengubah sikap. Stabilitas akan sangat tergantung dari sikap partai-partai politik Indonesia itu dalam mengakomodasi suasana. Partai politik kelak harus mampu menerima suasana apabila ada upaya pemutusan hubungan ini. Siapa pun partai politik yang akan didekati presiden untuk ikut membentuk kabinet, harus paham bahwa model pemerintahan seperti ini kemungkinan hanya akan terjadi di zaman pemerintahan sekarang, dan harus siap-siap untuk mengakomodasi keadaan lain di masa mendatang. Partai politik merupakan sebuah entitas yang amat diperlukan sebagai pengontrol pemerintah, penyedia sumber daya manusia, dan pemberi umpan balik kepada pemerintah. Karena itu, partai politik harus kembali kepada fitrahnya semula. Partai politik tidak ditujukan untuk merebut kekuasaan tetapi sebagai upaya bangsa untuk merepresentasikan kepentingan agar lebih terwakili. Penulis, pengamat politik, berdomisili di Denpasar

20 Januari 2012 | BP IGK Manila

Dukung Petisi dan Mosi Tak Percaya


Denpasar (Bali Post) Penyerahan Petisi Sadaksara dari tim Koalisi Masyarakat Peduli Kemerdekaan Pers dan HAM Bali kepada Ketua DPRD Bali Cok Ratmadi, S.H. didukung Ketua DPD Organisasi Masyarakat (Ormas) Nasional Demokrat (Nasdem) Bali Mayjen (Purn) IGK Manila, S.Ip. ''Saya mendukung penuh penyerahan Petisi itu ke DPRD Bali. Wakil rakyat yang memiliki fungsi kontrol, legislasi dan budgeting harus tahu. Saya sebenarnya mau ikut, tetapi karena ada keluarga yang menikah di mana saya menjadi wali, saya tidak bisa datang ke kantor DPRD Bali, di Renon,'' kata IGK Manila, Kamis (19/1) kemarin. Tidak hanya Petisi yang merupakan aspirasi krama Bali, mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Menteri Penerangan M. Yunus Yospiah itu juga sangat mendukung kemerdekaan pers. Manila yang ikut membidani lahirnya UU Pers bersama Komisi I DPR-RI ketika pemerintahan Presiden Habibie itu menegaskan, tanpa kemerdekaan pers, perputaran roda pemerintahan akan kacau-balau. Bahkan, bukan tidak mungkin akan terjadi gaya kepemimpinan seenak ''udelnya'' dari para pejabat. Pola kepemimpinan Orde Lama dan Orde Baru akan bersemi kembali. Jika model kepemimpinan ini kembali diterapkan secara arogan oleh para pemimpin, Indonesia akan jauh tertinggal. Sesungguhnya, demokrasi yang esensinya merupakan pemerintahan dari rakyat oleh rayat, dan untuk rakyat yang dimandatkan rakyat kepada legislatif, eksekutif dan yudikatif, sudah sangat baik. Hanya aparatur-aparaturnya kerap bertindak di luar ranah dan jalur demokrasi. ''Mari kita kawal bersama-sama kemerdekaan pers yang menyuarakan demokrasi dengan sangat baik, jujur dan objektif itu. Kalau kemerdekaan pers dikebiri, apalagi dibredel sama juga tidak menjalankan pemerintahan demokrasi itu sendiri,'' tambah mantan Ketua STPDN Jati Nangor, Jawa Barat ini. Beberapa aksi kesewenang-wenangan seperti kasus Mesuji, Bima dan Papua merefleksikan ada tindakan main hukum sendiri dari aparat. Peran pers dalam mengisi pembangunan ini harus diapresiasi. Perslah yang mengangkat peristiwa di pelosok menjadi besar kemudian tersosialisasi meluas dan mendapat atensi pemerintah pusat. ''Di era demokrasi hal ini sebenarnya tidak boleh terjadi. Tanpa pers, saya tidak yakin akan terjadi pemerintahan yang baik di negeri ini. Dan tanpa pers yang memberikan kontrol, kinerja para pejabat akan sewenang-wenang dan arogan,'' tukas IGK Manila, yang terkenal ketika masih perwira dua melati di pundak, menggiring ribuan gajah liar yang merangsek ke kota untuk kembali ke habitatnya di hutan di daerah Lampung. Jenderal TNI-AD ini juga mendukung mosi tidak percaya apabila pemimpin sewenang-wenang terhadap pers. Pihaknya sendiri mendukung menyelesaikan dengan cara damai sebagaimana yang direkomendasikan Dewan Pers. Dewan Pers-lah institusi resmi pemerintah yang berwenang menyelesaikan kasus pers dengan siapa saja, termasuk aparat pemerintah. ''Jika sampai penyelesaian damai baik di pengadilan negeri maupun lewat DPRD di luar pengadilan tidak tercapai, saya mendukung mosi tidak percaya kepada Gubernur Bali. Sebab,

intinya, apa pun permasalahan menyangkut pers harus diselesaikan sesuai amanat Undang-undang Pers,'' tegas mantan Manajer Tim Persija Jakarta itu. Pendekatan Musyawarah Bentuk dukungan moril Ormas Nasional Demokrat di Bali terhadap petisi yang disampaikan KPMKP-HAM itu ditunjukkan 15 pengurusnya. Belasan pengurus ormas yang digagas berdirinya oleh Surya Paloh ini dipimpin Ketua Ormas Nasional Demokrat Badung IGN Eka Subagiarta. Mereka ikut bergabung bersama KPMKP-HAM menemui Ketua DPRD Bal. ''Kami terpanggil untuk ikut bereaksi terhadap adanya ancaman kebebasan pers di Bali. Gubernur Pastika pun seharusnya mempertimbangkan masak-masak implikasi serius terhadap masyarakat jika hendak menempuh gugatan hukum terhadap Bali Post,'' ujar Eka Subagiarta didampingi pengurus wilayah Bali Bagus Santa Wardana dan Vidi Simanjuntak. Menurutnya, sebagai pemimpin sebaiknya Mangku Pastika menempuh pendekatan musyawarah. Ini dinilai jauh lebih elegan dibandingkan mengambil langkah gugatan hukum. Implikasinya bukan hanya mengancam kebebasan pers. Gugatan hukum Gubernur Pastika juga sudah tentu tidak sejalan dengan spirit Bali shanti yang didengung-dengungkan Gubernur selama ini, tambahnya. Gugatan hukum tersebut dinilai amat berpotensi merusak soliditas. Padahal diharapkan membangun soliditas justru dimotori pemimpin daerahnya. Bagaimana Bali bisa damai jika pemimpin enggan menjadi contoh untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan, ujarnya. Mangku Pastika diharapkan lebih pas memilih menggunakan hak jawab dalam menyelesaikan masalah dengan Bali Post. Ini jauh lebih anggun dan elegan untuk citra seorang Gubernur Bali, kata Eka Subagiarta. Seperti diberitakan sebelumnya (BP, 18/1) ratusan krama Bali mendatangi gedung DPRD Bali. Mereka diterima Ketua DPRD Bali Cok Ratmadi dan Ketua Komisi I DPRD Bali I Made Arjaya. Selain menyampaikan petisi Sadaksara, mereka juga menyampaikan keprihatinan terhadap adanya upaya-upaya menghambat kemerdekaan pers. Menanggapi berbagai persoalan yang disampaikan Koalisi Masyarakat Peduli Kemerdekaan Pers dan HAM, Cok Ratmadi menyatakan segera memanggil Gubernur Bali mangku Pastika untuk dimintai penjelasan. Sebelumnya (BP, 20/12) Gubernur membantah bahwa gugatannya merupakan upaya pengekangan terhadap kebebasan pers. ''Selama ini, saya selalu bersikap terbuka dan menjunjung tinggi kemerdekaan pers. Dan hal itu sudah saya lakukan dari menjabat sebagai Ketua Investigasi Bom Bali, Kapolda, dan Gubernur. Saudarasaudara bisa menilai sendiri, pernahkah saya mengganggu kebebasan pers? Sedikit pun tidak pernah. Saya siap dihubungi wartawan kapan saja,'' ungkap Pastika. Mengenai gugatannya, sama sekali tidak bermaksud mengganggu kebebasan pers. ''Apakah dengan mengajukan gugatan hukum ke pengadilan mengganggu kebebasan pers? Saya rasa tidak. Saya pikir ini cara paling elegan bagi seseorang atau lembaga,'' tandasnya.(kmb11)

14 Maret 2012 | BP

PDI-P Tolak Kenaikan Harga BBM


Jakarta (Bali Post) Menjelang pengesahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) oleh DPR, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memberi pengarahan langsung kepada anggota Fraksi PDI-P DPR-RI. Dalam arahannya, Mega memerintahkan kepada semua anggota Fraksi PDI-P menolak rencana kenaikan harga BBM yang akan diberlakukan mulai April mendatang. ''Kami menyikapi dua opsi yang diajukan pemerintah membatasi BBM bersubsidi atau menaikkan harga BBM bersubsidi. Kami ajukan tiga opsi, menolak atau membatalkan keduanya,'' kata Megawati usai memberi arahan dalam Rapat Koordinasi DPP PDI-P dan Fraksi PDI-P di Gedung DPR, Selasa (13/3) kemarin. Menurutnya, PDI-P memiliki alasan menolak pembatasan maupun menaikkan harga BBM bersubsidi sekarang ini. Namun, ia tak bersedia menjabarkan alasan itu kepada pers. ''Ini nantinya akan dijabarkan dengan baik ketika sidang paripurna sebagai jawaban dari PDI-P,'' katanya. Presiden RI kelima ini menambahkan bahwa tiga bulan terakhir, PDI-P sendiri telah melakukan telaah profesional dan rasionalitas terhadap dinamika BBM. ''Kami mempunyai hal yang sangat rasional dan profesional dalam hal ini. Dan sebenarnya dari sejak tiga bulan ini Fraksi PDI-P sudah melakukan suatu telaah secara mendalam dan profesional,'' ujarnya. Untuk menguatkan telaah itu, Fraksi PDI-P mengundang mantan Menko Ekuin yang juga mantan Kepala Bappenas Kwik Kian Gie dalam rapat tersebut. ''Setelah mendengar keterangan Pak Kwik, dari tiga opsi yang ada, maka kami telah memfinalkan bahwa Fraksi PDI-P menolak. Jadi tidak adanya kenaikan harga BBM pada saat sekarang ini, itulah prinsip yang telah dilakukan. Dan, itulah pengarahan saya,'' kata Mega. Ketua Fraksi PDI-P di DPR Puan Maharani menegaskan, sikap partainya tetap menolak rencana kenaikan harga BBM. ''Sikap kami sudah jelas yakni menolak kenaikan dan pembatasan BBM bersubsidi. Argumentasinya karena dalam UU APBN 2011 ada pasal 7 ayat 6 dan 4 menyebutkan tidak ada kenaikan dan pembatasan BBM subsidi. Selain itu, kalau kenaikan dilakukan sekarang maka beban masyarakat kecil makin berat,'' kata Puan. (kmb4)

26 Februari 2012 | BP

Harga BBM Naik, Kemiskinan Meningkat


Denpasar (Bali Post) Kebijakan pemerintah pusat untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tak bisa terelakkan. Kebijakan ini pun seakan menjadi kabar buruk bagi warga miskin di pelosok negeri ini karena kenaikan harga BBM itu akan memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok sehingga dikhawatirkan kehidupan mereka kian merana. Walau pemerintah mencanangkan ada bantuan langsung tunai (BLT) itu dinilai tidak akan bisa mengimbangi akumulasi lonjakan harga yang begitu tinggi sehingga masyarakat akan makin mudah terperosok dalam jurang kemiskinan. Pengamat ekonomi Unud, Prof. Dr. I Made Kembar Sri Budhi, M.P., mengatakan BBM merupakan bahan dasar di semua sektor bukan hanya di transportasi. Dengan adannya kenaikan harga BBM, akan terjadi peningkatan biaya produksi sehingga harga barang-barang lainnya akan melonjak naik. Menurutmya akan ada akumulasi peningkatan harga selain kebutuhan pokok seperti kenaikan harga air dan tarif listrik. Kalau ini tidak diimbangi dengan peningkatan penghasilan masyarakat jelas kesejahteraan masyarakat akan menurun. Orang-orang yang tadinya hampir miskin, dengan kondisi kenaikan harga BBM ini, menurutnya, akan kian tergelincir dalam jurang kemiskinan. Angka kemiskinan akan semakin tinggi kalau kenaikan harga BBM ini tidak diimbangi dengan perluasan kesempatan kerja dan proyek-proyek yang melibatkan masyarakat kecil, ucapnya. Ditambahkannya, strategi peningkatan harga BBM seharusnya tidak drastis karena harus ada tahapantahapan yang dilalui. ''Kalau harga BBM meningkatnya besar akan mengarah pada inflasi yang tinggi,'' ucapnya. Dampak dari kenaikan harga BBM ini akan sangat terasa bagi masyarakat pada tiga dan empat bulan awal. Pengamat ekonomi Unud, Prof. Dr. I Wayan Ramantha, S.E., M.M. Ak., mengatakan dengan adanya kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi pemerintah wajib menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Jangan sampai oleh pihak tertentu kenaikan harga BBM ini dijadikan momen dan alasan untuk memainkan stok barang dan harga barang. ''Kalau harga naik secara gila-gilaan inflasi sulit dikendalikan,'' ucapnya. Menurutnya, kenaikan harga BBM sangat berdampak bagi masyarakat, khususnya warga miskin sehingga kompensasi dari pemerintah berupa BLT harus tetap diberikan pada warga miskin ini bersamaan dengan naiknya harga BBM atau lebih awal. Mantan Dekan Ekonomi Unud ini mengatakan walau nantinya ada BLT, hal itu bukan jaminan warga miskin tidak akan kesulitan akibat kenaikan BBM ini. BLT itu mungkin tidak akan sebesar akumulasi kenaikan bahan kebutuhan pokok. ''Persentase masyarakat miskin akan bertambah kerana BLT ini tidak akan menutupi perubahan tambahan konsumsi mereka,'' ucapnya. Sementara itu, pengamat ekonomi Unwar Drs. I Wayan Arjana, M.M. menilai kenaikan BBM ini terjadi karena dasar pijakan pemerintah hanya terfokus pada masalah subsidi bukan pada kesejahteraan masyarakat. Subsidi BBM ini harus tetap diberikan dan dialihkan dari dana-dana yang lain. Masyarakat kecil akan semakin terjepit karena semua variabel akan naik. Jurang kemiskinan akan semakin tinggi. Nyoman Murni salah seorang warga miskin asal Karangasem yang bekerja sebagai kuli angkut di Pasar

Badung mengaku kecewa berat dengan kebijakan pemerintah yang berencana menaikkan harga BBM. Menurutnya, berdasarkan pengalaman sebelumnya, setiap harga BBM naik, kenaikan barang kebutuhan pokok tak bisa dihindarkan dan itu menurutnya sangat memberatkan dia dan warga miskin lainnya. Ibu dua anak ini mengaku dengan penghasilan rata-rata 15 ribu hingga 20 ribu rupiah sehari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Apalagi menurutnya kalau kenaikan harga BBM terjadi yang akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, dia khawatir tidak bisa memenuhi sejumlah kebutuhan pokok karena kenaikan harga ini tidak diimbangi dengan kenaikan penghasilan. Kekhawatiran serupa dirasakan Gede Sudapa seorang buruh proyek asal Tabanan yang mengadu nasib di Denpasar. Menurutnya, penghasilan yang didapatkannya yang berkisar 40 ribu per hari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan apalagi harus digunakan untuk pengobatan istrinya yang kerap sakit-sakitan. Saya waswas kehidupan kami akan makin susah kalau harga BBM naik. Mungkin kecemasan dan ketakutan yang sama dirasakan seluruh warga miskin di pelosok negeri ini. ''Kami rasa kebijakan ini tidak memihak kami sebagai rakyat kecil,'' ucap pria berperawakan kurus ini. (wid)

Pembagian BLT makin Rawan ---

Gunakan Data Lama, Banyak Rakyat Miskin tak Kebagian


BALI POST, Minggu Pon, 25 Mei 2008

Kebijakan pemerintah pusat untuk membantu masyarakat miskin (maskin) akibat kenaikan harga BBM dilakukan dengan memberikan bantuan langsung tunai (BLT). Realisasi pembagian BLT kepada maskin di beberapa daerah sudah dimulai kemarin. Namun, untuk maskin di Bali, hingga kini belum menerima BLT tahap pertama ini. Dalam pembagian BLT yang ditangani oleh PT Pos Indonesia ini sejatinya memiliki kelemahan yang cukup besar. Misalnya saja, masalah penggunaan data maskin yang dipakai untuk dasar pembagian BLT. Seperti apa tanggapannya di masing-masing daerah? SEKRETARIS Kota (Sekkot) Denpasar Drs. I Nyoman Aryana, M.Si. yang ditemui Sabtu (24/5) kemarin, mengaku tidak bisa berbuat banyak, karena kebijakan tersebut sudah digulirkan pemerintah pusat. Hanya, pihaknya menginginkan data yang digunakan untuk dasar pembagian jatah BLT direvisi. ''Kami khawatir akan terjadi gejolak, karena data yang digunakan masih yang lama yakni tahun 2005 lalu,'' katanya. Di sisi lain, sikap pemkot tetap menerima kucuran dana BLT karena sudah menjadi kebijakan pemerintah pusat. Namun, pihaknya telah melakukan upaya antisipasi terhadap adanya gejolak di masyarakat. Masalahnya, data maskin yang digunakan dasar untuk pembangian BLT ini dinilai sudah kedaluwarsa. Buktinya, pemerintah pusat masih menggunakan data maskin tahun 2005 lalu. Bila data ini tetap digunakan dalam mencairkan dana BLT, mantan Kepala Dinas Capil Kota Denpasar ini mengatakan rawan gejolak. Ia khawatir akan terjadi protes dari masyarakat yang belum tercatat, padahal kondisinya kurang mampu. ''Saya khawatir akan terjadi gejolak bila data yang lama itu tetap menjadi dasar pembagian BLT,'' katanya. Untuk itu, pihaknya telah bersurat kepada BPS untuk menyampaikan data maskin terbaru yakni tahun 2007. Ia berharap pemerintah pusat bisa melakukan revisi terhadap data maskin yang ada di Denpasar. Seperti diketahui, data base maskin yang telah dikirim Pemkot Denpasar kepada pemerintah pusat mencapai 15.482 (sesuai SK Wali Kota). Data ini akan digunakan untuk program jamkesmas. Bila ini digunakan untuk BLT, dikhawatirkan akan memunculkan gejolak, karena masih banyak maskin di Denpasar yang belum masuk data base tersebut.

Kurang Bermanfaat Pengamat ekonomi dari Undiknas Prof. Dr. I.B. Raka Suardana, S.E., M.M. Sabtu (24/5) kemarin, mengungkapkan program BLT kali ini manfaatnya kurang dirasakan masyarakat. Terlebih lagi data penduduk miskin yang digunakan masih belum akurat. Pada sisi ini, dia meragukan apakah data yang dikantongi pemerintah nantinya dapat merekam jumlah penduduk miskin sebenarnya. Siapa-siapa yang disebut miskin menurut pemerintah tampaknya masih rancu. Inilah kelemahan utama yang dapat menimbulkan berbagai kontradiksi saat pelaksanaan. ''Padahal data yang digunakan harus benar-benar akurat. Pertanyaannya sekarang, yang disebut miskin itu menurut ukuran siapa. Sekarang jika data tahun 2005 yang digunakan, berarti akan banyak penduduk miskin yang tidak kebagian,'' ujarnya. Meskipun kurang setuju dengan program BLT, mengenai pengawasan penyaluran BLT, Raka menilai program kali ini menunjukkan arah yang lebih baik. Apalagi saat ini digunakan sistem kartu dan langsung ditangani oleh Kantor Pos. ''Penyelewengan sepertinya akan bisa diminimalisasi, namun tetap saja pengawasan ketat harus dilakukan untuk menjamin program dapat berjalan dengan baik,'' katanya. Terkait mengenai penolakan masyarakat terhadap penyaluran BLT yang direspons keras oleh pemerintah pusat, Raka menilai hal tersebut sebagai bentuk arogansi pemerintah pusat kepada daerah. ''Ini menunjukkan pemerintah pusat tidak mengetahui kondisi dan kebutuhan masyarakat di bawah,'' katanya. (ara/ded)