Anda di halaman 1dari 40

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Puskesmas merupakan institusi dimana fungsi utamaya adalah memberikan pelayanan kepada pasien sebaik-baiknya itu secara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi.Maka dengan itu Puskesmas merupakan peran yang paling strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.Pusat Kesehatan Masyarakat yang lebih dikenal dengan sebutan Puskesmas merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas, yakni unit organisasi di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten/kota yang melaksanakan tugas teknis operasional dan bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian wilayah kecamatan. Setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan oleh Puskesmas dan jaringannya, yang meliputi Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), Puskesmas Keliling, dan Bidan di Desa merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan kepada masyarakat, berdasarkan prinsip nondiskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia, serta peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa bagi pembangunan nasional; Selain itu Puskesmas dan jaringannya secara langsung juga bertanggungjawab dalam meningkatkan kemandirian masyarakat untuk hidup sehat dalam lingkungan yang sehat melalui pendekatan azas pertanggungjawaban wilayah, azas peran serta masyarakat, azas keterpaduan lintas program dan lintas sektor serta azas rujukan Puskesmas sebagai salah satu institusi pelayanan umum, dapat dipastikan membutuhkan keberadaan sistem informasi yang akurat dan handal, serta cukup memadai untuk meningkatkan pelayanan puskesmas kepada para pengguna (pasien) dan lingkungan terkait. Dengan lingkup pelayanan yang begitu luas, tentunya banyak sekali permasalahan kompleks yang terjadi dalam proses pelayanan di puskesmas. Banyaknya variabel di puskemas turut menentukan kecepatan arus informasi yang dibutuhkan oleh pengguna dan lingkungan puskesmas.

Selama ini banyak puskesmas yang masih mengelola data-data kunjungan pasien, data-data arus obat, dan juga membuat pelaporan dengan menggunakan cara-cara yang manual. Selain membutuhkan waktu yang lama, keakuratan dari pengelolaan data juga kurang dapat diterima, karena kemungkinan kesalahan sangat besar. Beberapa puskesmas mungkin sudah memakai komputer sebagai alat bantu untuk pengelolaan data, hanya saja sampai sekarang belum banyak program komputer yang secara khusus didesain untuk manajemen data di puskesmas. Sistem Informasi di Puskesmas sangat diperlukan selain mempermudah akses pelayanan juga pelayanan dapat dijalankan semaksimal mungkin, dimana sistem informasi merupakan rangkaian atau komponen terdiri dari pengumpulan data yang kemudian diproses menjadi sebuah informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan. Dikarenakan pentingnya sistem informasi kesehatan pada puskesmas, penulis bermaksud meneliti mengenai sistem informasi kesehatan yang terdapat pada puskesmas timbangan, Indralaya. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimanakah penerapan sistem informasi manajemen kesehatan di puskesmas timbangan, Indralaya? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui penerapan sistem informasi manajemen kesehatan di Puskesmas Timbangan, Indralaya. 2. Tujuan Khusus a. b. c. d. Mengetahui peranan system informasi kesehatan poli umum di puskesmas timbangan, Indralaya. Mengetahui kendala mengenai sistem informasi manajemen kesehatan di puskesmas timbangan, Indralaya. Mengetahui solusi sistem informasi manajemen di puskesmas timbangan, Indralaya. Mengetahui alternatif pemecahan system informasi manajemen kesehatan di puskesmas timbangan, Indralaya.

e.

Mengetahui Indralaya.

sekilas

mengenai

profil

puskesmas

timbangan,

1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Sebagai bentuk pengalaman nyata dalam menerapkan konsep teori dengan riset di lapangan dan sebagai bahan informasi dalam memperluas atau memperkaya wawasan bagi peneliti maupun pembaca/pemerhati kesehatan masyarakat khususnya mengenai penerapan system informasi manajemen kesehatan poli umum di Puskesmas Timbangan, Indralaya. 2. Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan informasi baru serta sebagai sarana menambah pengetahuan dan dapat menjadi bahan perbandingan atau referensi . 3. Bagi Ilmu Pengetahuan Memberikan tambahan referensi ilmu kesehatan pada komunitas. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian 1. Lingkup Materi Lingkup materi dalam penelitian ini adalah mengenai profil puskesmas timbangan, Indralaya, penerapan system informasi kesehatan, peran simkes pada poli umum di Puskesmas Timbangan, Indralaya, masalah mengenai system informasi manajemen kesehatan di puskesmas timbangan, solusi simkes di puskesmas timbangan, serta alternative pemecahannya. 2. Lingkup Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di puskemas timbangan, Indralaya. 3. Lingkup waktu Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 10-13 Mei 2011.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Sistem Informasi Manajemen Kesehatan 2.1.1.Definisi Sistem Informasi manajemen Kesehatan merupakan tatanan berbagai komponen data dan informasi kesehatan yang saling terkait satu dengan yang lainnya untuk menghasilkan data dan informasi tentang kondisi kesehatan dan kinerja kesehatan di suatu wilayah. (Tiar : 2009). Kadang disebut juga sistem informasi kesehatan (SIK) atau health information system (HIS). Dalam bahasan tentang administrasi atau manajemen secara umum, materi tentang sistem informasi manajemen jarang dibahas tersendiri secara khusus, karena pada umumnya unsur-unsurnya dianggap sudah terintegrasi (build-in) di dalam hampir semua fungsi, unsur atau komponen dari sistem manajemen organisasi secara keseluruhan, karena dalam setiap tahap pengambilan keputusan dalam proses manajemen hampir selalu memerlukan dukungan data informasi.Sistem informasi kesehatan dikembangkan untuk mendukung manajemen kesehatan yang merupakan bagian dari sistem kesehatan. Sistem informasi manajemen kesehatan sebagai sub sistem dalam sistem administrasi kesehatan merupakan kesatuan/rangkaian kegiatan-kegiatan yang mencakup seluruh jajaran upaya kesehatan diseluruh jenjang administrasi yang mampu memberikan informasi kepada : 1. pengelola, yaitu para administrator atau manajer kesehatan untuk dasar pertimbangan menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan dalam menjalankan fungsi-fungsi administrasinya. 2. masyarakat, dalam upaya untuk meningkatkan kemampuannya untuk menolong dirinya sendiri dalam memenuhi kebutuhan kesehatannya.Sumber daya organisasi antara lain man, money, macine, method, material, dan juga data/informasi. Peran utama dari data/informasi pada hakekatnya adalah pada dukungannya terhadap fungsi-fungsi administrasi/manajemen dalam pengelolaan program kesehatan. Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita rasakan bagaimana sulitnya menentukan kebijakan atau pengambilan keputusan yang baik bila data/informasi yang akan dipakai untuk mendasarinya kurang atau tidak cukup tersedia. Tanpa dukungan data/informasi yang baik kebijakan yang kita ambil akan kurang tepat atau keliru.

2.1.2.Tujuan dan manfaat Upaya pemantapan dan pengembangan sistem informasi kesehatan ditujukan ke arah terbentuknya suatu sistem informasi kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna, yang mampu memberikan informasi yang akurat, tepat waktu dan dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan untuk: 1. Pengambilan keputusan di seluruh tingkat administrasi dalam rangka perencanaan, penggerakan pelaksanaan, pengawasan, pengendalian dan penilaian 2. 3. 4. Mengatasi masalah-masalah kesehatan melalui isyarat dini dan upaya penanggulangannya Meningkatkan peran serta masyarakat dan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri Meningkatkan penggunaan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang kesehatan Sasaran dalam upaya pemantapan dan pengembangan sistem informasi kesehatan meliputi: 1. Terciptanya pengorganisasian dan tata kerja pengelolaan data/informasi dan atau tersedianya tenaga fungsional pengelola data/ informasi yang terampil di seluruh tingkat administrasi 2. 3. Ditetapkannya kebutuhan esensial data/ informasi di tiap tingkat dan pengembangan instrumen pengumpulan dan pelaporan data Dihasilkannya berbagai informasi kesehatan di seluruh tingkat administrasi secara teratur, tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan dan atau atas permintaan dari pengguna data/ informasi 4. Tersedianya dukungan teknis dan sumber daya yang memadai dalam rangka pemantapan dan pengembangan otomasi pengolahan data di seluruh tingkat administrasi 5. Pengembangan bank data kesehatan, pengembangan jaringan komunikasi komputer dan informasi 1.1.3. Masalah-Masalah dalam Pengembangan SIKNAS dan SIKDA Untuk mewujudkan SIKNAS yang diharapkan, sampai saat ini masih dijumpai sejumlah kelemahan yang bersifat klasik, antara lain: 1. Sistem informasi kesehatan masih terintegrasi 5

Depkes RI memiliki berbagai sistem informasi kesehatan, tetapi belum terintegrasi. Sistem informasi kesehatan itu antara lain: a. b. c. d. e. Sistem informasi puskesmas Sistem informasi rumah sakit Sistem informasi kewaspadaan pangan dan gizi Sistem informasi obat Sistem informasi sumber daya manusia kesehatan, yang mencakup: 1. Sistem informasi kepegawaian kesehatan 2. Sistem informasi pendidikan tenaga kesehatan 3. Sistem informasi diklat kesehatan 4. Sistem informasi tenaga kesehatan a. Sistem informasi IPTEK kesehatan/ jaringan litbang kesehatan 1. Sebagian besar daerah belum memiliki kemampuan memadai Daerah masih memerlukan fasilitasi. Adanya proyek ADB, HP5 dan lainlain mendorong daerah mengembangkan SIK. Akan tetapi setiap proyek cenderung menciptakan sistem informasi kesehatan sendiri dan kurang memperhatikan kelangsungan sistem. 2. Pemanfaatan data dan informasi oleh manajemen belum optimal Era sentralisasi menyebabkan segala sesuatunya serba dari atas menyebabkan para manajer tidak pernah memikirkan perlunya memanfaatkan data untuk mendukung pengambilan keputusannya 3. Pemanfaatan data dan informasi oleh masyarakat kurang dikembangkan Minat masyarakat memanfaatkan data dan informasi semakin meningkat dengan makin meluasnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Namun demikikian tuntutan masyarakat yang mening kat ini kurang berkembang di bidang kesehatan karena kurangnya respon. 4. Pemanfaatan teknologi telematika belum optimal Masalah nomor 5 bersumber dari masalah pada nomor 4. Biaya untuk teknologi telematika memang besar, ditambah lagi dengan apresiasi terhadap penggunaan teknologi telematika yang masih kurang, akibat pengaruh budaya (kultur). Apresiasi yang rendah ini dikarenakan oleh alasan rasio manfaat biaya, yang kurang memadai. teknologi telematika yang besar belum dapat menghasilkan manfaat yang sepadan. 6 Investasi untuk menjamin akan

5. Dana untuk pengembangan sistem informasi kesehatan terbatas Kelemahan ini berkaitan dengan masalah rasio biaya manfaat yang maasih sangat rendah. Selain investasi, sistem informasi kesehatan juga memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk pemeliharaannya. 6. Kurangnya tenaga purna waktu untuk sistem informasi kesehatan Selama ini di daerah, pengelola data dan informasi umumnya adalah tenaga yang merangkap tugas atau jabatan lain. Dibeberapa tempat memang dijumpai adanya tenaga purna waktu. Akan tetapi mereka tidak dapat sepenuhnya bekerja mengelola data dan informasi karena imbalan yang kurang memadai. Belum lagi ditambah dengan rendahnya keterampilan dan pengetahuan mereka di bidang informasi, khususnya teknologi informasi dan manfaatnya.Jabatan fungsional untuk para pengelola data dan informasi yaitu Pranata Komputer dan Statistisi, memberikan tunjangan jabatan sebagai imbalan, namun demikian untuk dapat memangku jabatan-jabatan tersebut diperlukan persyaratan tertentu yang sulit dipenuhi oleh para pengelola data dan informasi. 2.1.4.Strategi Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional Berdasarkan kepada analisis situasi dan kebijakan yang telah ditetapkan maka strategi pengembangan SIKNAS adalah: 1. Integrasi sistem informasi kesehatan yang ada Pengertian terintegrasi tidak bermaksud mematikan/ menyatukan semua sistem informasi yang ada. Sistem-sistem informasi yang lebih efisien bila digabungkan akan disatukan. Sistem-sistem informasi lainnya, pengintegrasian lebih berupa pengembangan: pembagian tugas, tanggung jawab dan otoritas-otoritas dan mekanisme saling hubung. Dengan integrasi ini diharapkan semua sistem informasi yang ada akan bekerja secara terpadu dan sinergis membentuk SIKNAS. Pembagian tugas dan tanggung jawab akan memungkinkan data yang dikumpulkan memiliki kualitas dan validitas yang baik. Otaritas akan menyebabkan tidak adanya duplikasi dalam pengumpulan data, sehingga tidak akan terdapat informasi yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Mekanisme saling hubung, khususnya dengan Pusat Data dan Informasi Departemen Kesehatan akan menjamin dapat dilakukannya pengolahan dan analisis data secara komprehensif. 7

1.1.5. Penyelenggaraan pengumpulan dan pemanfaatan bersama (sharing) data dan Informasi Terintegrasi Pertimbangan akan perlunya mengkoordinasikan lima jenis pengumpulan data yang masing-masing memiliki kekhasan dan kepentingan yang sangat signifikan, yaitu: a. Surveilans, yang meliputi surveilans penyakit, gizi, kesehatan lingkungan dan pemantauan ketersediaan obat b. Pencatatan dan pelaporan data rutin dari UPT kabupaten/ kota ke Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota, dari UPT provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota ke Dinas Kesehatan Provinsi ke Departemen Kesehatan (kegiatan-kegiatan ini memerlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan yang terintegrasi dan terkoordinasi. c. Pencatatan dan pelaporan program-program kesehatan khusus yang ada, seperti program pemberantasan malaria d. Pencatatan dan pelaporan sumber daya dan administrasi kesehatan yang sudah berjalan seperti ketenaga kesehatan (Sinakes, Sidiklat, dan lain-lain) e. Survei dan penelitian untuk melengkapi data dan informasi dari pengumpulan data rutin, yang meliputi baik yang berskala nasional (seperti Survei Kesehatan Nasional), maupun yang berskala provinsi dan Kabupaten/ Kota (SI IPTEK Kesehatan / Jaringan Litbang Kesehatan) 1.1.5. Fasilitasi pengembangan sistem informasi kesehatan daerah Sistem Informasi Kesehatan Daerah mencakup SIK yang dikembangkan di unit-unit pelayanan kesehatan (khususnya puskesmas dan rumah sakit), SIK kabupaten/ kota, dan SIK provinsi. Sistem Informasi Kesehatan (SIK) di Puskesmas memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan: a. Mencatat dan mengumpulkan data baik kegiatan dalam gedung maupun luar gedung b. Mengolah data c. Membuat laporan berkala ke Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota d. Memelihara bank data e. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen pasien dan manajemen unit puskesmas

f. Memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan pihakpihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya. Sistem Informasi Kesehatan di rumah sakit memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan: a. Memantau indikator kegiatan-kegiatan penting rumah sakit (penerimaan pasien, lama rawat, pemakaian tempat tidur, mortalitas, waktu tunggu dan lain-lain) b. Memantau kondisi finansial rumah sakit (cost recovery) c. Memantau pelaksanaan sistem rujukan d. Mengolah data e. Mengirim laporan berkala ke Dinas Kesehatan/ Pemerintah setempat f. Memelihara bank data g. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen pasien dan manajemen unit rumah sakit h. Memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan pihakpihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya Sistem Informasi Kesehatan Kabupaten/ Kota memiliki

tanggungjawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan: a. Mengolah data dari unit-unit pelayanan kesehatan dan sumber-sumber lain b. Menyelenggarakan survei/ penelitian bilamana diperlukan c. Membuat profil kesehatan kabupaten/ kota untuk memantau dan mengevaluasi pencapaian Kabupaten/ kota untuk memantau dan mengevaluasi pencapaian Kabupaten/ Kota sehat d. Mengirim laporan berkala/ profil kesehatan kabupaten/ kota ke dinas kesehatan provinsi setempat dan pemerintah pusat e. Memelihara bank data f. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen klien, manajemen unit dan manajemen sistem kesehatan kabupaten/ kota g. Memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan pihakpihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya Sistem Informasi Kesehatan propinsi memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan:

a. Mengolah data dari DKK, unit-unit pelayanan kesehatan milik daerah propinsi dan sumber-sumber lain b. Menyelenggarakan survei/ penelitian bilamana diperlukan c. Membuat profil kesehatan propinsi untuk memantau dan mengevaluasi pencapaian propinsi sehat d. Mengirim laporan berkala/ profil kesehatan propinsi ke pemerintah pusat e. Memelihara bank data f. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen klien, manajemen unit dan manajemen sistem kesehatan kabupaten/ kota g. Memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan pihakpihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya Fasilitasi pengembangan SIK daerah dilaksanakan dengan terlebih dahulu membantu menata sistem kesehatannya, membantu pengadaan perangkat keras, perangkat lunak, rekruitmen dan pelatihan tenaga kesehatan. 1.1.5. Pengembangan pelayanan data dan informasi untuk manajemen Pengembangan pelayanan data dan informasi untuk manajemen diawali dengan mengidentifikasi peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan untuk menyajikan data dan informasi kesehatan. Misalnya dalam rapat dengar pendapat dengan DPRD harus dapat disajikan, kemasan-kemasan data dan informasi yang menggambarkan kecenderungan masalah-masalah kesehatan rakyat dan kerugian yang diakibatkannya. Pembahasan rancangan anggaran harus disajikan kemasan data dan informasi tentang cost benefit dari kegiatan-kegiatan yang diusulkan. Selain itu dikembangkan pula publikasi berkala cetak atau elektronik atau akses online. 1.1.6. Pengembangan pelayanan data dan informasi untuk masyarakat Pemanfaatan fasilitas intranet dan internet karena penggunaannya sudah meluas di masyarakat. Depkes menyelenggarakan pelatihan bagi tenaga-tenaga fungsional pengelola data dan informasi kesehatan. 2.1.9.Pengembangan teknologi dan sumber daya informasi Pengembangan teknologi dan sumber daya informasi berlangsung paralel dengan kegiatan 3,4 dan 5. Depkes menyusun Rencana Induk Penataan Kerangka 10

Teknologi Informasi (Information Technology Framework Rearrangement Master Plan) dan Rencana Induk Pengembangan Sumber Daya Manusia Informasi (Information Human Resource Development Master Plan). Depkes juga menerbitkan standar dan pedoman, serta advokasi agar terpenuhi sesuai rencana induk. 2.2 . Puskesmas 2.2.1.Definisi Pusat Kesehatan Masyarakat, disingkat Puskesmas, adalah Organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajad kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan.

2.2.2.Visi dan Misi Puskesmas Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat . Indikator Kecamatan Sehat: 1) lingkungan sehat, 2) perilaku sehat, 3) cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu 4) derajat kesehatan penduduk kecamatan. Sementara misi puskesmas adalah sebagai berikut : 1) Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya 2) Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya 3) Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan 4) Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya 11

2.2.3. Sejarah Perkembangan Puskesmas Sejarah dan perkembangan puskesmas di Indonesia mulai dari didirikannya berbagai institusi kesehatan seperti balai pengobatan, balai kesejahteraan ibu dan anak, serta diselenggarakannya berbagai upaya-upaya kesehatan seperti usaha hygiene dan sanitasi lingkungan yang masing-masing berjalan sendiri-sendiri.Pada pertemuan Bandung Plan (1951) dr.J.Leimena mencetuskan pemikiran mengintegrasikan berbagai institusi dan upaya tersebut dibawah satu pimpinan agar lebih efektif dan efisien.Konsep ini kemudian diadopsi oleh WHO. Konsep pelayanan yang terintegrasi lebih berkembang dengan pembentukan team work dan team approach dalam pelayanan kesehatan (1956). Gagasan ini dirumuskan sebagai konsep pengembangan sistem pelayanan kesehatan tingkat primer dengan membentuk unit-unit organisasi fungsional dari Dinas Kesehatan Kabupaten di setiap kecamatan yang mulai dikembangkan sejak tahun 1969/1970.Penggunaan istilah puskesmas pertama kali dimuat pada Master Plan of Operation for Strenghtening National Health Service in Indonesia Tahun 1969. Dalam dokumen tersebut disebutkan puskesmas terdiri atas 3 tipe puskemas (tipe A, tipe B, tipe C). Kemudian dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional ke III tahun 1970 menetapkan hanya ada satu tipe puskesmas dengan 6 kegiatan pokok. Perkembangan selanjutnya lebih mengarah pada penambahan kegiatan pokok seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemampuan pemerintah serta keinginan program ditingkat pusat, sehingga kegiatan berkembang menjadi 18 kegiatan pokok,bahkan DKI Jakarta mengembangkan menjadi 21 kegiatan pokok.Melalui rakerkesnas tersebut timbul gagasan untuk menyatukan semua pelayanan kesehatan tingkat pertama kedalam suatu organiisasi yang dipercaya dan diberi nama macam : 1. Puskesmas tingkat Desa 2. Puskesmas tingkat Kecamatan 3. Puskesmas tingkat Kawedanan 4. Puskesmas tingkat Kabupaten Pada rakernas ke II 1969 pembagian puskesmas dibagi menjadi 3 kategori 12 PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT ( Puskesmas ) dan puskesmas waktu itu dibedakan menjadi 4

1. Puskesmas tipe A dipimpin oleh dokter secara penuh 2. Puskesmas tipe B dipimpin oleh dokter tidak secara penuh 3. Puskesmas tipe C dipimpin oles paramedik 2.2.4. Fungsi Puskesmas Sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional, Puskesmas sebagai fasilits pelayanan kesehatan tingkat pertama mempunyai 3 (tiga) fungsi sebagai berikut : 1. Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan. Memiliki makna bahwa Puskesmas fasilitator) harus dan mampu serta membantu memantau menggerakkan (motivator, turut

pembangunan yang diselenggarakan di tingkat kecamatn agar dalam pelaksanaannya mengacu, berorientasi serta dilandasi oleh kesehatan sebagai faktor pertimbangan utama. Diharapkan setiap pembangunan yang dilaksanakan seyogyanya yang mendatangkan dampak positif terhadap kesehatan. 2. Pusat Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga. Pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya fasilitas yang bersifat non instruktif guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas yang ada, baik dari instansi lintas sektoral maupun LSM dan tokoh mayarakat.Pemberdayaan keluarga adalah segala upaya fasilitas yang bersifat non instruktif guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuyan keluarga agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan dan mengambil keputusan untuk melakukan pemecahannya dengan benar, tanpa atau dengan bantuan pihak. 3. Upaya Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama Upaya pelayanan kesehatan tingkat pertama yang diselenggarakan puskesmas bersifat holistic, komprehensif/menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan yang bersifat pokok (basic health service), yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.Pelayanan kesehatan tingkat pertama meliputi pelayanan kesehatan masyarakat dan pelayanan 13

medik.Pada umumnya pelayanan kesehatan tingkat pertama ini bersifat pelayanan rawat jalan (ambulatory/out patient service). Sebagai pusat pelayanan tingkat pertama di wilayah kerjanya, puskesmas merupakan sarana pelayanan kesehatan pemerintah yang wajib menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara bermutu,terjangkau, adil dan merata.Upaya pelayanan yang diselenggarakan meliputi : Pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih mengutamakan pelayanan promotif dan preventif, dengan pendekatan kelompok masyarakat, serta sebagian besar diselenggarakan bersama masyarakat melalui upaya pelayanan dalam dan luar gedung di wilayah kerja puskesmas. Pelayanan medik dasar yang lebih mengutamakan pelayanan, kuratif dan rehabilitatif dengan pendekatan individu dan keluarga pada umumnya, melalui upaya rawat jalan dan rujukan. Pada kondisi tertentu dan bila memungkinkan dapat dipertimbangkan puskesmas dapat memberikan pelayanan rawat inap sebagai rujukan antara sebelum dirujuk ke Rumah Sakit. 2.2.5. Wilayah Kerja Puskesmas Wilayah kerja adalah batasan wilayah kerja puskesmas dalam melaksanakan tugas dan fungsi pembangunan kesehatan, yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berdasarkan keadaan geografis, demografi, sarana transportasi, masalah kesehatan setempat, keadaan sumberdaya, beban kerja puskesmas dan lain-lain. Selain itu juga harus memperhatikan dalam upaya untuk meningkatkan koordinasi, memperjelas tanggung jawab pembangunan dalam wilayah Kecamatan, meningkatkan sinergisme pembangunan dalam wilayah Kecamatan, meningkatkan sinergisme kegiatan, dan meningkatkan kinerjaApabila dalam satu wilayah Kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat menunjuk salah satu Puskesmas sebagai Koordinator pembangunan kesehatan di Kecamatan. Sesuai dengan luas wilayah, keadaan geografis, sulitnya sarana transportasi dan kepadatan penduduk, dalam upaya untuk memperluas jangkauan

14

dan mutu pelayanan kesehatan, Puskesmas ditunjang dengan unit pelayanan kesehatan yang lebih sederhana dalam bentuk : 1. Puskesmas Pembantu adalah Unit Pelayanan Kesehatan yang sederhana dan berfungsi menunjang serta membantu melaksanakan kegiatan yang dilakukan Puskesmas dalam masyarakat lingkungan wilayah yang lebih kecil serta jenis dan kompetensi pelayanan yang disesuaikan dengan kemampuan tenaga dan sarana yang tersedia. Tugas pokok adalah menyelenggarakan sebagian program kegiatan puskesmas sesuai dengan kompetensi tenaga dan sumberdaya lain yang tersedia. 2. Puskesmas Keliling adalah merupakan tim pelayanan kesehatan puskesmas keliling, terdiri dari : tenaga yang dilengkapi dengan kendaraan bermotor/perahu bermotor, peralatan kesehatan, peralatan komunikasi yang berasal dari Puskesmas. Puskesmas Keliling berfungsi menunjang dan membantu melaksanakan program kegiatan puskesmas dalam wilayah kerja.yang belum terjangkau atau lokasi yang sulit dijangkau oleh sarana kesehatan. 3. Disamping institusi tersebut di atas, ada Bidan di Desa yang mempunyai peran spesifik.Bidan di Desa adalah tenaga bidan yang ditempatkan di desa dalam rangka meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan Puskesmas, mempunyai wilayah kerja satu-dua desa dan bertanggung jawab kepada kepala Puskesmas.Tugas pokok umum adalah memelihara dan melindungi kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya, sedangkan secara khusus bertanggung jawab terhadap program kesehatan ibu dan anak termasuk Keluarga Berencana. Dalam keadaan tertentu misalkan letak puskesmas jauh dari rumah sakit, sulitnya keadaan medan puskesmas menuju rumah sakit, sulitnnya sarana transportasi menuju rumah sakit, daerah rawan kecelakaan/rawan bencana lainlain, maka puskesmas dapat diberi tambahan ruangan untuk rawat inap sementara dan fasilitas tindakan operasi terbatas. Puskesmas Rawat Inap adalah Puskesmas dengan tambahan ruangan dan fasilitas tempat perawatan untuk menolong penderita gawat darurat baik berupa tindakan operatif terbatas atau perawatan sementara.Fungsinya sebagai Pusat

15

Rujukan Antara yang melayani penderita gawat darurat sebelum dapat dirujuk ke rumah sakit.

2.2.6. Struktur Organisasi dan Tata Kerja Puskesmas

KP E P SE UKS
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mempunyai tugas untuk menetapkan struktur organisasi puskesmas dengan pertimbangan beban kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di Puskesmas. Pola organisasi puskesmas sebagai berikut : 1. Kepala 2. Wakil Kepala (disesuaikan beban kerja dan kebutuhan puskesmas dan yang menetapkan ada atau tidak adalah Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota). 3. Unit tata usaha dalam unit tata usaha, sebagai berikut : 1. Unit Perencanaan 16 Unit fungsional Alternatif lain yang dapat dipertimbangkan satuan organisasi

UI I N T

UI I N I T

UI II N I T

P SE M UKS A S P M NU EB T A

2. Unit Keuangan 3. Unit Perlengkapan 4. Unit Umum

2.2.6.1. Tugas Pokok 1. Kepala Puskesmas : Bertugas memimpin, mengawasi dan mengkoordinasikan kegiatan puskesmas yang dapat dilakukan dalam jabatan structural, dan jabatan fungsional. 2. Kepala urusan tata usaha Bertugas dibidang kepegawaian, keuangan perlengkapan dan surat menyurat serta pencatatan dan pelaporan. 3. Unit I Bertugas melaksanakan kegiatan kesejahteraan ibu dan anak, keluarga berencana dan perbaikan gizi. 4. Unit II Melaksanakan kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular khususnya imunisasi, kesehatan lingkungan dan laboratorium sederhana. 5. Unit III Melaksanakan kegiatan kesehatan gigi dan mulut, kesehatan tenaga kerja dan manula. 6. Unit IV Melaksanakan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat, kesehatan sekolah dan olahraga, kesehatan jiwa, kesehatan mata dan kesehatan khusus lainnya. 7. Unit V Melaksanakan dan dana sehat. 8. Unit VI 17 kegiatan pembinaan dan pengembangan upaya masyarakat dan penyuluhankesehatan masyarakat, kesehatan remaja

Melaksanakan kegiatan pengobatan rawat jalan dan rawat inap 9. Unit VII Melaksanakan kegiatan kefarmasian. 2.2.7. Sistem Rujukan 1.Pengertian Seperti yang telah dirumuskan dalam SK Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 1972 tentang Sistem Rujukan adalah suatu system penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggungjawab timbal balik terhadap suatu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal dalam arti dari unit yang berkemampuan kurang kepada unit yang lebih mampu atau secara horizontal dalam arti antar unit-unit yang setingkat kemampuannya. 2. Jenis Rujukan Rujukan secara konseptual terdiri atas : a) Rujukan Medik yang pada dasarnya menyangkut masalah pelayanan medik perorangan yang antara lain meliputi : 1) Rujukan kasus untuk keperluan diagnostic, pengobatan, tindakan operasi dan lain-lain. 2) Rujukan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium klinik yang lengkap. 3) Rujukan ilmu pengetahuan antara lain mendatangkan atau mengirim tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk melakukan tindakan, memberi pelayanan, alih pengetahuan dan teknologi dalam meningkatkan kualitas pelayanan. a) Rujukan Kesehatan Masyarakat pada dasarnya menyangkut masalah kesehatan masyarakat luas yang meliputi 1) Rujukan sarana berupa antara lain bantuan laboratorium kesehatan, teknologi kesehatan. 2) Rujukan tenaga dalam bentuk antara lain dukungan tenaga ahli untuk penyidikan sebab dan asal usul penularan penyakit serta penanggulangannnya pada bencana alam dan gangguan kamtibmas.

18

3) Rujukan operasional berupa antara lain bantuan obat, vaksin, pangan pada saat terjadi bencana, pemeriksaan specimen jika terjadi keracunan masal, pemeriksaan air minum penduduk. 3.Jalur Rujukan Kesehatan a). Rujukan Pelayanan Medis 1) Antara masyarakat dengan puskesmas 2) Antara Puskesmas Pembantu/Bidan di Desa dengan Puskesmas 3) Intern antara petugas Puskesmas/Puskesmas Rawat Inap 4) Antara Puskesmas dengan Rumah Sakit, Labratorium atau fasilitas pelayanan lainnya. b). Rujukan Pelayanan Kesehatan 1) Dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota 2) Dari Puskesmas ke instansi lain yang lebih kompeten baik intrasektoral maupun lintas sektoral. 3) Jika rujukan di Kabupaten/Kota masih belum mampu menanggulangi, dapat diteruskan ke Provinsi/Pusat. 2.3. Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas 2.3.1.Definisi Sistem Informasi Kesehatan (SIK) Puskesmasmerupakan sistem informasi di tingkat puskesmas untuk mengelola data dan menghasilkan informasi bagi pengambil keputusan manajerial tingkat puskesmas.Sistem informasi kesehatan adalah program sistem informasi kesehatan daerah yang memberikan informasitentang segala keadaan kesehatan masyarakat di tingkat Puskesmas mulai dari datadiri orang sakit, ketersediaan obat sampai data penyuluhan kesehatan masyarakat . (Wayan K : 2009) 2.3.2.Tujuan Pengembangan SIK Puskesmas Tujuan Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) Puskesmas adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui sistem informasi yang terintegrasi di semua unit pelayanan Puskesmas sehingga dapat meningkatkan kecepatan proses pada pelayanan, mempermudah akses data, pelaporan dan akurasi data sehingga menjadi lebih baik.Tujuan umum proyek Pengembangan 19

Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas adalahmeningkatkan status kesehatan khususnya bagi masyarakat kurang mampu, dengan carameningkatkan cakupan pelayanan kesehatan, kualitas pelayanan dan penggunaan fasilitaspelayanan. Tujuan Khusus : 1) Membantu pemerintah dalam penyelenggaraan proses desentralisasi 2) Membantu pemerintah dalam pengelolaan dana tambahan bagi kesehatan 3) Membantu pemerintah dalam advocacy sector Kesehatan 4) Membantu provinsi dan kabupaten/kota untuk menyempurnakan sistem informasikesehatan yang ada untuk mendukung desentralisasi. Sistem yang baru akan terdiridari informasi yang diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan, masyarakat dandata survailans epidemologi. 2.3.3. Latar Belakang penggunaan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) Puskesmas Latar belakang digunakannya system informasi kesehatan di Puskesmas sendiri dikarenakan oleh hal berikut, yakni : 1) Belum adanya ke-validan data mengenai orang sakit, penyakit, bumil,dll dalam wilayahsuatu puskesmas. 2) Memperbaiki pengumpulan data di Puskesmas, guna laporan ke Dinas KesehatanKabupaten. 3) Memasuki Era Otonomi Daerah mutlak diperlukan Informasi yang tepat, akurat dan upto date berkenaan dengan data orang sakit, ketersediaan obat, jumlah ibu hamil, 4) masalah imunisasi dll. 2.3.4.Mamfaat Pengembangan SIK Puskesmas Manfaat Pengembangan Sistem Informasi Puskesmas (SIK) Puskesmas adalah dapat meningkatkan Pelayanan Kesehatan kepada Masyarakat melalui penerapan Sistem informasi Kesehatan Puskesmas yang terintegrasi dari semua unit pelayanan. Demikian pula dapat menyajikan informasi secara cepat, tepat dan dapat dipercaya sehingga informasi yang disajikan puskesmas dapat dipakai untuk pengambilan keputusan di berbagai tingkat sistem kesehatan dan berbagai jenis manajemen kesehatan baik untuk manajemen pasien, unit dan sistem kesehatan

20

sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan Dinas Kesehatan kepada masyarakat.( Prayekti : 2008) 2.3.4.1.GambaranSistem Informasi Kesehatan (SIK) PuskesmasSIK Puskesmas terdiri dari tujuh Sub Sistem yaitu : 1. Sub Sistem Kependudukan, yang berfungsi untuk mengelola data kependudukan terdiri dari family folder, pencatatan mutasi lahir, mutasi wafat dan mutasi pindah. 2. Sub Sistem Ketenagaan, yang berfungsi untuk mengelola data ketenagaan. Data yang diolah adalah data pribadi, anak, riwayat kepangkatan, riwayat jabatan, riwayat pendidikan, riwayat penjenjangan, riwayat latihan teknis/fungsional, data riwayat penghargaan serta data penugasan pegawai. 3. Sub Sistem Sarana dan Prasarana, yang berfungsi mengelola data sarana dan prasarana, seperti peralatan medis, kendaraan, gedung, tanah dan peralatan lainnya. 4. Sub Sistem keuangan, yang berfungsi untuk mengelola data keuangan secara garis besar saja yaitu mencakup besar pembiayaan menurut kegiatan dan sumber biaya. 5. Sub Sistem Pelayanan Kesehatan, yang berfungsi mengelola data pelayanan kesehatan, terdiri dari pelayanan dalam gedung yaitu sub sistem rawat jalan yang meliputi pelayanan dasar (BP,GIGI, KIA,Imunisasi, Laboratorium) dan pelayanan puskesmas keliling, rawat inap, rekam medis dan manajemen obat. Pelayanan luar gedung meliputi sub sistem KIA dan GIZI, Kesling dan TTU, Pemberantasan Penyakit Menular, PKM, PSM, dan PERKESMAS. 6. Sub Sistem Pelaporan, yang berfungsi untuk menyediakan laporanlaporan, meliputi laporan SP2TP (LB1, LB2, LB3 dan LB4) dan laporan program. 7. Sub Sistem Penunjang, yang menyediakan layanan penunjang sistem seperti: membuat backup dan restore data, data recovery, user list and right assignment, user shortcut, short message over network.( Prayekti : 2008) 2.3.5.Implementasi

21

Kegiatan pengembangan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) Puskesmas dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan anggaran yang ada.Kegiatan dalam melaksanakan uji coba implemetasi SIK Puskesmas terdiri dari : 1. Sosialisasi SIK : Kegiatan Sosialisasi SIK berupa kegiatan pertemuan antara Dinas Kesehatan Provinsi, ini Dinas bertujuan Kesehatan untuk Kabupaten/Kota, SIK Puskesmas.Kegiatan memperkenalkan

Kabupaten/Kota kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas menyangkut latar belakang pengembangan SIK, arsitektur komputer, cakupan data, cara komunikasi data, sarana pendukung dan kebijakan pendukung SIK. 2. Penyesuain Input dan Output SIK Kegiatan ini juga berupa pertemuan yang dilaksankan di Kabupaten/Kota di wilayah puskesmas yang dipakai uji coba SIK.Tujuan kegiatan ini untuk memperkenalkan SIK Kabupaten dan Puskemas. Penyesuaian kebutuhan data program antara Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta Puskesmas yang dipakai uji coba serta membahas format pelaporan. 3. Instalasi SIK Kegiatan ini dilakukan Tim dari Data Mandiri yang didampingi Tim dari Dinas Kesehatan Provinsi ke tempat lokasi puskesmas yang dipakai uji coba SIK berupa menginstal SIK Puskesmas, Instal anti virus, mensetting jaringan serta kegiatan lain sesuai kebutuhan puskesmas yang diuji coba. Kegiatan ini bertujuan agar komputer jaringan dan piranti lunak SIK di masing masing puskesmas yang dipakai uji coba di Provinsi Bali terpasang dan terhubung. 4. Pelatihan Manajer dan Operator SIK Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk melatih petugas manajer dan operator SIK di setiap puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota agar memiliki skill untuk mengoperasikan SIK. Peserta untuk pelatihan manajer SIK terdiri dari 1 orang petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta 2 orang dari setiap puskesmas yang dipakai untuk uji coba SIK, sedangkan untuk peserta pelatihan operator SIK semua

22

peserta pelatihan manajer SIK, ditambah 1 orang petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta 7 orang dari setiap puskesmas yang dipakai uji coba SIK. 5. Pendampingan SIK Kegiatan pendampingan SIK dilaksanakan dengan mengunjungi setiap puskesmas yang dipakai uji coba SIK oleh Tim Data Mandiri yang didampingi oleh Tim dari Dinas Kesehatan Provinsi.Tujuan pendampingan SIK adalah untuk menjamin kelancaran pengoperasian SIK di masingmasing puskemas uji coba serta memberikan bimbingan teknis pengoperasian SIK. Tim pendamping dari data mandiri akan mendampingi operator SIK secara teratur dari masing masing unit sampai operator SIK dianggap mampu mengoperasikan SIK. 6. Monitoring SIK Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi hasil perkembangan hasil program SIK Puskesmas. 7. Penyempurnaan SIK Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan penyempurnaan piranti lunak SIK sesuai hasil rekomendasi hasil uji coba.Kegiatan ini berupa pertemuan, perbaikan software serta pendampingan SIK di masing-masing puskemas. SIK Puskesmas yang dikembangkan memiliki dua tipe atau model yang dapat diterapkan sesuai dengan ketersediaan komputer pada puskesmas, adapun model tersebut adalah: 1. Model A Model ini dalam melakukan pelayanan dalam gedung, dilakukan secara online dan penginputan data dilakukan pada saat tengah berlangsung. Model ini membutuhkan setidaknya 5 unit komputer yang ditempatkan pada loket, apotek, dan ruang pelayanan ( BP, KIA, GIGI, dll). 2. Model B Komputer yang dibutuhkan pada model ini hanya 2 unit, yang dapat diletakkkan pada loket dan ruang pelayanan (BP). Pada model data pelayanan BP diinputkan pada saat pelayanan dan data pelayanan yang lain diinputkan setelah pelayanan. Hal ini menuntut petugas khusus entry

23

data setelah pelayanan untuk ruang pelayanan yang tidak tersedia komputer.( Prayekti : 2008) 2.3.6. Paska Implementasi Penerapan Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas (SIK) Puskesmaas yang telah dilaksanakan perlu dilakukan suatu evaluasi sistem.Evaluasi sistem informasi perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pelaksanaan pengembangan system informasi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan baik dari segi waktu, biaya maupun teknis.Evaluasi sistem dilakukan juga untuk mengetahui efektifitas implementasi dan dampak positif pelayanan kesehatan yang diberikan. Dalam melakukan evaluasi ada beberapa hal yang dapat dipergunakan yakni : wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dapat dilakukan terhadap pengguna, baik pengguna langsung ataupun pengguna tidak langsung.Observasi dapat dilakukan dengan mengamati secara langsung sistem komputerisasi sedangkan dokumentasi dapat dilakukan dengan melihat dokumendokumen yang dihasilkan oleh sistem komputerisasi, apakah lebih tepat, cepat dan akurat dibandingkan dengan dokumen yang dihasilkan oleh sistem sebelumnya. Banyak teori yang menjelaskan mengenai model untuk menilai kesuksesan sistem informasi.Salah satunya adalah teori Technology Acceptance Model (TAM) yang diperkenalkan oleh Davis tahun 1986. Berdasarkan teori tersebut maka penerapan Sistem Informasi Puskesmas (SIK) Puskesmas dievaluasi dengan fokus utama pada komponen manfaat/kegunaan yang dirasakan oleh user, sikap pengguna terhadap penggunaan teknologi dan mengetahui kemudahan penggunaan oleh user.( Prayekti : 2008)

BAB III PEMBAHASAN

1.1. Profil Puskesmas Simpang Timbangan Puskesmas Simpang Timbangan merupakan unit terkecil bagian dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir, didirikan pada tahun 1984 dan telah mengalami beberapa kali perubahan lokasi. Dan renovasi terakhir Tahun 2010. Pelayanan 24

Puskesmas bertujuan untuk tercapainya masyarakat yang berperilaku Hidup Bersih dan Sehat di Wilayah Puskesmas Simpang Timbangan Kabupaten Ogan Ilir serta meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan angka kematian dalam usia produktif akibat kecelakan, kecelakaan kerja maupun kecelakaan lalulintas. Profil Puskesmas Timbangan ini menggambarkan hasil kegiatan dalam Tahun 2010. Menyajikan data tentang keadaan umum, visi, misi, motto, sarana dan prasarana serta hasil kegiatan. Diharapkan kepada Puskesmas Simpang Timbangan dapat menunjang tercapainya Kabupaten Ogan Ilir Sehat dan Sejahtera 1.2.Visi dan Misi Puskesmas Simpang Timbangan a. Visi Tercapainya masyarakat yang Berprilakku Hidup Bersih dan Sehat di Wilayah Puskesmas Simpang Timbangan, Kabupaten Ogan Ilir. b. Misi Memelihara dan meningkatkan Mutu Pemerataan dan Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan yang diselenggarakan. Mendorong Kemandirian Hidup Sehat bagi Keluarga dan Masyarakat Memberikan Pelayanan Kesehatan yang Bermutu Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang Profesional dan Berkualitas. a. Motto Pelayanan yang terbaik, Siap Melayani Anda

1.1. Gambaran Umum Puskesmas Simpang Timbangan. a. Lokasi Puskesmas Simpang Timbangan terletak di Kelurahan Timbangan Kecamatan Indralaya Utara b. Bangunan Dibangun pada tahun 1984, rehab terakhir tahun 2010 untuk Luas tanah 1000m2, memiliki 3 bangunan ( bangunan utama puskesmas, KIA dan Rumah Dokter) c. Sarana Transportasi 25

Satu buah mobil Operasional Pusling, 1 buah mobil Ambulance, 3 buah sepeda motor. d. Unit Gawat Darurat 24 Jam e. Pelayanan Rawat Inap (Umum dan Kebidanan) 1.1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan Puskesmas Simpang Timbangan Sebagai Puskesma Rawat Inap : a. Fasilitas Pelayanan Unit Gawat Darurat 24 Jam Pelayanan Rawat Jalan: Poli Umum Poli Gigi Pelayanan KIA, KB, MTBS, Gizi, TB, Poli Usila

Pertolongan Persalinan Pelayanan Rawat Inap (Umum dan Kebidanan) Pelayanan Penunjang: Laboratorium Apotik Klinik IMS

1.1. Data Kepegawaian PNS/CPNS (38 orang) terdiri dari: Dokter umum Dokter Gigi Bidan Perawat S1 Perawat S1 (Ners) Perawat (Akper) Perawat (SPK) Perawat Gigi Ahli Madya Rekam Medis Pengelola Obat : 2 orang : 1 orang : 6 orang : 1 orang : 2 orang : 11 orang : 2 orang : 2 orang : 1 orang : 2 orang 26

Sarjana Kesehatan Masyarakat : 2 orang

Tenaga Laboratorium (SMAK): 1 orang

LOPK/Pekarya Kesehatan Bidan Desa

: 2 orang : 2 orang

1.1. Keadaan Umum Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Timbangan Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banyuasin dan kota Palembang. Sebelah selatan berbatasan dengan Kec. Tanjung Batu Sebelah barat berbatasan dengan Desa Payakabung dan Kota Prabumulih Sebelah Timur berbatasan dengan Indralaya Selatan 1.1. Luas Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Timbangan. Luas wilayah kerja Puskesmas 6025 km2, meliputi 1 Kelurahan dan 3 Desa. Terdiri dari: Kelurahan Timbangan Desa Permata Baru Desa Tanjung Pering Desa Tanjung Baru 1.1. Data Dasar Jumlah Penduduk Laki-laki Perempuan Jumlah KK KK Miskin Jumlah Rumah Jumlah Dusun : 10.035 jiwa : 4818 jiwa : 5217 jiwa : 3043 jiwa : 1190 Jiwa : 2455 : 10 : 519 ha : 300 ha : 2975 ha : 2750 ha

1.1. Sasaran Kesmas Tahun 2010 Bayi Balita Bumil Bulin PUS WUS : 189 : 420 : 230 : 237 : 1472 : 2287 27

Lansia Jumlah Jiwa Askeskin Jumlah Sekolah PAUD SD SMU Unggulan SLB Jumlah Pustu Jumlah Panti Jompo Poskesdes Posyandu Kader Petani Pedagang PNS, TNI, Polri Lain-lain

: 795 : 1190 :4 :5 :1 :1 ::1 :3 :6 : 45 orang : 30 % : 25 % : 35 % : 15 % TK SMP SMK :2 :2 :1

Mata Pencaharian Penduduk :

1.1.Hasil Kegiatan Tahun 2010 Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas a. Promosi Kesehatan Jadwal Penyuluhan di Puskesmas Setiap Hari Penyuluhan Posyandu setiap bulan Penyuluhan oleh petugas setiap bulan Penyuluhan Kader Posyandu a. KIA dan KB K1 pencapaian Bufas Pencapaian K4 Pencapaian Persalinan Nakes TT1 Pencapaian Vit.A Bufas Pencapaian TT2 Pencapaian : 95,8 % (Target 95 %) : 87,4 % (Target 90 %) : 90,4 % (Target 90 %) : 87,4 % (Target 90 %) : 63 % : 65 % (Target 95 %) (Target 90 %) 28 : 87,4 % (Target 95 %)

KIE ASI Pencapaian Nakes Pencapaian Non Nakes Pencapaian 1.1.Upaya Pengobatan Jumlah kunjungan Poli Tahun 2010 Umum Askes Jakesmas Total : 2016 orang : 615 orang : 166 orang : 8175 orang

: 89,2 % (Target 90 %) : 9,5 % : 3,0 % (Target 20 %) (Target 10 %)

Jamkoskes : 5378 orang

1.1.10 Penyakit Terbanyak ISPA Gastritis Peny. Kulit Alergi Penyakit Gigi Rheumatic Hypertensi Thypoid Diare Febris Peny. Kulit Infeksi : 817 : 518 :391 : 376 : 310 : 306 : 267 : 248 : 144 : 116

1.1.Jumlah Kunjungan Pasien

29

JUMLA

Jumlah Kunjung Pas an

6000 5000 4000 3000


3 3

JU LA K M H U

Ju la K n n a P s nR w tI m h u ju g n a ie a a

2016 2000 1000

2 .5

615

0
2

Umum
30

Askes

1 .5

JUMLAH KU

Jum K lah unjung L ora an ab

35 32 30

25

20

L p nK g ta P ra K s h ta In e a ora e ia n rog m e e a n d

1 15 15

5
10

5
31

4.5
5

KUNJUN
30

25

24

20

17 GRAFIK KUNJUNGAN 10 P 16 RAWAT JALAN UPDT PUS KE 15 11

18

900 10 800 700 5 600

817

10

55 3

6 44 44
32

518

1.2.Struktur Organisasi

S U TR

Administrasi

TU

Keuangan

33

Promkes n

34

1.3.Flow Chart Pendaftaran Pasien Di Puskesmas Simpang Timbangan

DIAGRAM ALIR PROSE

Askes,

Keterangan : : Menunjukkan notasi untukawal dan akhir bagan alir : Menunjukkan suatu operasi input atau suatu operasi output : Menunjukkan suatu proses yang akan digunakan

Poli

: Menunjukkan petunjuk dari aliran fisik pada program

35

Poli Umum

Poli Gigi

KB/ KIA/

1.15. SIK di Poli Umum Puskesmas Simpang Timbangan Sistem informasi kesehatan yang digunakan di puskesmas Simpang timbangan masih secara manual, belum komputerisasi, termasuk sistem informasi di bagian poli umum masih menggunakan sistem pencatatan dan pelaporan pasien secara tertulis. Kebutuhan informasi yang teridentikasi di poli umum puskesmas Simpang Timbang yaitu kunjungan pasien perbulan. 1.16. Tujuan dan Manfaat SIK di Puskesmas Timbangan Tujuan sistem informasi kesehatan di puskemas simpang timbangan yaitu untuk membentuk suatu sistem informasi kesehatan yang berdaya guna dan mampu memberikan informasi secara akurat , tepat waktu, dan dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan puskesmas. Sistem informasi kesehatan yang dihasilkan tersebut diharapkan dapat menjadi acuan ataupun sebagai dasar pengambilan suatu keputusan maupun kebijakan dalam rangka peningkatan kinerja pelayanan kesehatan di Puskesmas Simpang Timbangan 1.17. Pelaksanaan SIK di Puskesmas Simpang Timbangan

D G A A IRP O S P N A T R IA R M L R SE E D F A

A k s Ja s s e s e , mo k s

P li o

36

Keterangan : : Menunjukkan notasi untukawal dan akhir bagan alir : Menunjukkan suatu operasi input atau suatu operasi output : Menunjukkan suatu proses yang akan digunakan : Menunjukkan petunjuk dari aliran fisik pada program 1.18. Kelebihan dan kekurangan SIK di Puskesmas Timbangan a. Kelebihan Karena sistem informasi kesehatan yang digunakan di puskesmas simpang timbangan masih bersifat manual sehingga kelebihan yang dirasakan sedikit sekali. Kelebihannya : Petugas tidak harus mahir menggunakan komputer dan aplikasinya Petugas tidak harus mengikuti pelatihan khusus penggunaan sistem informasi kesehatan berbasis komputer dan multimedia Tidak memerlukan dana yang besar.

a. Kekurangan Sistem informasi kesehatan di puskesmas Simpang Timbangan masih bersifat manual sehingga proses lambat dan rumit. Resiko kehilangan data-data pasien cukup besar. Pencatatan dan pelaporan informasi-informasi kesehatan yang dibutuhkan cenderung tidak lengkap.

BAB IV 37

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Sistem informasi kesehatan yang digunakan di puskesmas simpang timbangan masih secara manual, belum komputerisasi. Sehingga lebih banyak memiliki kekurangan atau kendala dari pada kelebihannya. Kekurangan system informasi kesehatan di puskesmas timbangan: Sistem informasi kesehatan di puskesmas Simpang Timbangan masih bersifat manual sehingga proses lambat dan rumit. Resiko kehilangan data-data pasien cukup besar. Pencatatan dan pelaporan informasi-informasi kesehatan yang dibutuhkan cenderung tidak lengkap. Salah satu cara yang dilakukan oleh petugas kesehatan di puskesmas simpang Timbangan untuk meminimalisir kekurangan dari system informasi kesehatan yang masih bersifat manual, seperti kehilangan data adalah dengan merekap setiap data baik LB1, laporan kematian, laporan apotek dan sebagainya, sebanyak tiga lembar, yang mana satu lembar untuk laporan ke dinas kesehatan, satu lembar untuk puskesmas dan satu lembar untuk arsip petugas yang bersangkutan. A. Saran 1. Menggunakan sistem informasi kesehatan yang berbasis komputer dan teknologi sehingga pengumpulan data lebih cepat dan data tidak hilang. 2. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan para petugas kesehatan di Puskesmas Simpang Timbangan tentang sistem informasi kesehatan melalui kegiatan penyuluhan maupun pelatihan 3. Mengadakan pelatihan tentang penggunaan dan pemanfaatan sistem informasi berbasis komputerisasi 4. Pemerintah daerah kabupaten Ogan Ilir menganggarkan dana untuk penyediaan sistem informasi kesehatan yang berbasis komputer dan multimedia pada puskesmas di wilayah kerjanya sehingga bisa tercipta siknas yang terpadu. 5. Pemerintah diharapkan dapat memberikan bantuan berupa fasilitas media berupa computer sebagai alat bantu pengelolaan data di puskesmas serta 38

program computer yang di desain sedemikian rupa untuk manajemen data . Hal ini agar dapat memudahkan petugas puskesmas dalam pelaksanaan system informasi kesehatan 6. Hendaknya hal tersebut diiringi dengan membentuk staf khusus yang bertanggung jawab dan mengelola system informasi kesehatan di puskesmas ,diantaranya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan khusus dalam hal penanganan data dan komputerisasi.

Daftar Pustaka
Anonim. 2010. http://bursakerjaindonesia.info/lowongan-kerja/tujuan puskesmas.php. Diakses tanggal 30 April 2011 39

Anonim. 2007. http://www.bahtiarlatief.co.cc/2010/03/puskesmas.html Diakses tanggal 30 April 2011 Anonim.2007. _pdf=1&id=27.Diakses 30 april 2011 Gsianturi.Sistem Informasi Kesehatan di Era Desentralisasi Memburuk.http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi? newsid1093927714,74159,.(tanggal akses : 8 Mei 2011)

Junaedi.PENAWARAN APLIKASI SISTEM INFORMASI PUSKESMAS (SIMPUS).http://sisteminformasimanajemenkesehatan.blogspot.co m/. (tanggal akses : 8 Mei 2011)
Nashir, M. 2009.Sistem Manajemen Data Puskesmas dalam Menunjang Sistem Informasi Dinas Kesehatan Kota Pekalongan.Surakarta :Universitas Muhammadiyah Surakarta

Prayekti. 2008. http://prayekti.wordpress.com/2008/07/07/pengembangan-sisteminformasi-kesehatan-sik-puskesmas-di-provinsi-bali/ Diakses tanggal 30 april 2011 Simkes.SISTEM INFORMASI KESEHATAN KIA PENCATATAN DAN PELAPORAN PUSKESMAS

MARIPATIhttp://srinopi.blogspot.com/2007/12/sistem-informas kesehatanpencatatan.html. (tanggal akses : 8 Mei 2011) Sukamto, Maulana. 2009. Rencana Tingkat Puskesmas. http://ngaliyansehat.org/files/RTP%20PUSKESMAS%20NGALIYAN %20SMG.pdf . Diakses tanggal 30 April 2011 Wikipedia.2010.http://id.wikipedia.org/wiki/Pusat_Kesehatan_Masyarakat. Diakses tanggal 30 April 2011

40