Anda di halaman 1dari 20

II.

Tinjauan pustaka

1. Keluarga

A. Definisi keluarga

Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga (friedman,1998), sedangkan menurut Duvall keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap anggota. Depkes RI tahun 1998 dalam Johnson et al (2010) keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Keluarga memegang peranan penting dalam promosi kesehatan dan pencegahan terhadap penyakit pada anggota keluarganya. Nilai yang dianut keluarga dan latar belakang etnik/kultur yang berasal dari nenek moyang akan mempengaruhi interpretasi keluarga terhadap suatu penyakit. Masalah kesehatan dan adanya krisis perkembangan dalam suatu keluarga dapat mempengaruhi anggota keluarga yang lain karena keluarga merupakan satu kesatuan (potter and perry, 2005).

B. Bentuk keluarga

Menurut Shirley (1996) keluarga terdiri dari dua bentuk, yaitu: a. Tradisional The Nuclear family (keluarga inti) Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak. The dyad family Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu rumah. The childless family Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat waktunya yang disebabkan karena mengejar karier/pendidikan yang terjadi pada wanita. Keluarga usila Keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang sudah tua dengan anak yang sudah memisahkan diri. The extended family Keluarga yang terdiri dari dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah, seperti nuclear family disertai: paman, tante, orang tua (kakek-nenek), keponakan. The single parent family

Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah atau ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan). Commuter family Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja di luar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pad saat weekend. Multigenerational family Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah. Kin-network family Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama (contoh: dapur, kamar mandi, televisi, telepon,dll). Blended family Duda atau janda (karena perceraian) yang menikah kembali dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya. The single adult living alone/single adult family Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan (perceraian atau ditinggal mati). b. Non-Tradiional The unmarried teenage mother

Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah. The stepparent family Keluarga dengan orang tua tiri. Commune family Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok/membesarkan anak bersama. The nonmarital heterosexsual cohabiting family Keluarga yan ghidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan. Gay and lesbian families Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana marital pathners. Cohabitating couple Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan pernikahan karena beberapa alasan tertentu. Group-marriage family Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang saling merasa telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu termasuk sexsual dan membesarkan anak. Group network family

Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan, dan bertanggung jawab membesarkan anaknya. Foster family Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara di dalam waktu sementara, pada saat orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya. Homeless family Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental. Gang Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam

kehidupannya.

C. Struktur dan fungsi keluarga

Struktur dan fungsi merupakan hal yang berhubungan erat dan terus menerus berinteraksi satu sama lain. Struktur didasarkan pada organisasi, yaitu perilaku

anggota keluarga dan pola hubungan dalam keluarga. Hubungan yang ada dapat bersifat kompleks, misalnya seorang wanita bisa sebagai istri, sebagai ibu, sebagai menantu, yang semua itu mempunyai kebutuhan, peran dan harapan yang berbeda. Pola hubungan itu akan membentuk kekuatan dan struktur peran dalam keluarga. Struktur keluarga dapat diperluas dan dipersempit tergantung kemampuan dari keluarga tersebut untuk merespon stressor yang ada dalam keluarga. Struktur keluarga yang sangat kaku atau sangat fleksibel dapat mengganggu atau merusak fungsi keluarga (potter and perry, 2005) Fungsi keluarga yang berhubungan dengan struktur: a. Struktur egalisasi : masing-masing keluarga mempunyai hak yang sama dalam menyampaikan pendapat (demokrasi) b. c. Struktur yang hangat, menerima dan toleransi Struktur yang terbuka, dan anggota yang terbuka : mendorong kejujuran dan kebenaran (honesty and authenticity) d. e. f. g. h. Struktur yang kaku : suka melawan dan tergantung pada peraturan Struktur yang bebas : tidak adanya aturan yang memaksakan (permisivenes) Struktur yang kasar : abuse (menyiksa, kejam dan kasar) Suasana emosi yang dingin (isolasi, sukar berteman) Disorganisasi keluarga (disfungsi individu, stress emosional)

Dalam Jhonson et al (2010), ada beberapa funsi yang dapat dijalankan keluarga sebagai berikut: a) Fungsi biologis

1. Meneruskan keturunan 2. Memelihara dan membesarkan anak 3. Memenuhi kebutuhan gizi keluarga 4. Memelihara dan merawat anggota keluarga b) Fungsi psikologis 1. Memberikan kasih sayang dan rasa aman 2. Memberikan perhatian diantara anggota keluarga 3. Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga 4. Memberikan identitas keluarga c) Fungsi sosialisasi 1. Membina sosialisasi pada anak 2. Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat

perkembangan anak 3. Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga d) Fungsi ekonomi 1. Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga 2. Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga 3. Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga di masa yang akan datang (pendidikan, jaminan hari tua, kesehatan keluarga) e) Fungsi pendidikan 1. Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliknya

2. Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi perananya sebagai orang dewasa 3. Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.

Adapun menurut Suprajitno (2004) sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, meliputi:

a) Mengenal masalah kesehatan keluarga b) Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi kelurga c) Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan d) Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga e) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi keluarga.

D. Siklus kehidupan keluarga

Setiap keluarga akan berkembang mengikuti sebuah siklus, dimana dalam setiap siklus atau tahap perkembangan ada tugas-tugas yang harus dicapai. Tugas-tugas perkembangan keluarga adalah tanggung jawab yang harus dicapai oleh keluarga selama setiap tahap perkembangannya sehingga dapat memenuhi kebutuhan afektif, sosial, kesehatan, reproduksi, dan ekonomi dalam keluarga. Tahap-tahap siklus kehidupan keluarga menurut Duvall (1967) terdiri dari delapan siklus, yaitu:

a. Pasangan baru (keluarga baru)

o o o o o

Membina hubungan dan kepuasan bersama Menetapkan tujuan bersama Mengembangkan keakraban Membina hubungan dengan kelaurga lain, teman, kelompok sosial Diskusi tentang anak yang diharapkan

b. Child bearing (menanti kelahiran) o o o o o

Persiapan untuk bayi Role masing-masing dan tanggung jawab Persiapan biaya Adaptasi dengan pola hubungan seksual Pengetahuan tentang kehamilan, persalinan dan menjadi orang tua

c. Keluarga dengan anak pra-sekolah o o o

Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan keluarga Merencanakan kelahiran anak kemudian Pembagian tanggung jawab dengan anggota keluarga

d. Keluarga dengan anak usia sekolah o o o o

Menyediakan aktivitas untuk anak Biaya yang diperlukan semakin meningkat Kerjasama dengan penyelenggara kerja Memperhatikan kepuasan anggota kelaurga dan pasangan

Sistem komunikasi keluarga

e. Keluarga dengan anak remaja o o o o

Menyediakan fasilitas dengan kebutuhan yang berbeda Menyertakan remaja untuk tanggung jawab dalam keluarga Mencegah adanya gap komunikasi Mempertahankan filosuf hidup dalam keluarga

f. Keluarga dengan anak dewasa (pelepasan) o o o o o

Penataan kembali fasilitas dan sumber-sumber Penataan kembali tanggung jawab antar anak Kembali suasana suami istri Mempertahankan komunikasi terbuka Meluasnya keluarga dengan pelepasan anak dan mendapatkan menantu

g. Keluarga dengan usia pertengahan o o o o o

Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan Tanggung jawab semua tugas rumah tangga Keakraban pasangan Mempertahankan kontak dengan anak Partisipasi aktivitas sosial

h. Keluarga dengan usia lanjut

10

o o o o o o

Persiapan dan menghadapi masa pensiun Kesadaran untuk saling merawat Persiapan suasana kesepian dan perpisahan Pertahankan kontak dengan anak cucu Menemukan arti hidup Mempertahankan kontak dengan masyarakat

2. Rumah dan Lingkungannya

A. Definisi rumah sehat Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya yang dipakai sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga (UU RI No. 4 Tahun 1992). Menurut WHO, rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk kesehatan keluarga dan individu (Komisi WHO Mengenai Kesehatan dan Lingkungan, 2001). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rumah sehat adalah bangunan tempat berlindung dan beristirahat serta sebagai sarana pembinaan keluarga yang menumbuhkan kehidupan sehat secara fisik, mental dan sosial, sehingga seluruh anggota keluarga dapat bekerja secara produktif. Oleh karena itu keberadaan perumahan yang sehat, aman, serasi, teratur sangat diperlukan agar fungsi dan kegunaan rumah dapat terpenuhi dengan baik. Perumahan yang sehat tidak lepas dari ketersediaan prasarana dan sarana yang

11

terkait, seperti penyediaan air bersih, sanitasi pembuangan sampah, transportasi, dan tersedianya pelayanan sosial (Krieger and Higgins, 2002).

B. Syarat rumah sehat Menurut Budiman Chandra (2007), persyaratan rumah sehat yang tercantum dalam Residential Environment dari WHO (1974) antara lain : 1. Harus dapat berlindung dari hujan, panas, dingin, dan berfungsi sebagai tempat istrahat 2. Mempunyai tenpat-tempat untuk tidur, memasak, mandi, mencuci, kakus dan kamar mandi 3. Dapat melindungi bahaya kebisingan dan bebas dari pencemaran. 4. Bebas dari bahan bangunan berbahaya. 5. Terbuat dari bahan bangunan yang kokoh dan dapat melindungi penghuninya dari gempa, keruntuhan, dan penyakit menular. 6. Memberi rasa aman dan lingkungan tetangga yang serasi. Persyaratan rumah sehat berdasarkan pedoman teknis penilaian (Depkes RI, 2007) adalah: 1. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang rumah sehat

cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah, adanya ruangan khusus untuk istirahat (ruang tidur), bagi masing-maing penghuni. 2. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah
12

rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari makanan pagi, terlindungnya

dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan

dan penghawaan yang cukup. 3. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena pengaruh luar dan dalam rumah, antara lain persyaratan garis sempadan jalan, konstruksi bangunan rumah, bahaya kebakaran dan kecelakaan di dalam rumah. Persyaratan rumah sehat menurut APHA (American Public Health Assosiation) adalah: 1. Memenuhi syarat kebutuhan fisik dasar penghuninya : temperatur, penerangan, ventilasi dan kebisingan; 2. Memenuhi syarat kebutuhan kejiwaan dasar penghuninya : health is begun at home; 3. Memenuhi syarat melindungi penghuninya dari penularan penyakit : air bersih, pemb sampah, terhindar dari pencemaran lingk, tidak jadi sarang vektor, dll); 4. Memenuhi syarat melindungi penghuni dari kemungkinan bahaya dan kecelakaan : kokoh, tangga tak curam, bahaya kebakaran, listrik, keracunan, kecelakaan lalu lintas (Ircham Machfoedz, 2008).

13

Adapun ketentuan persyaratan kesehatan rumah tinggal menurut Kepmenkes No. 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut : a) Bahan bangunan Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan bahan yang dapat membahayakan kesehatan, an tara lain : debu total kurang dari 150 mg/m2 , asbestos kurang dari 0,5 serat/m3 per 24 jam, plumbum (Pb) kurang dari 300 mg/kg bahan Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme patogen. b) Komponen dan penataan ruangan Lantai kedap air dan mudah dibersihkan Dinding rumah memiliki ventilasi, di kamar mandi dan kamar cuci kedap air dan mudah dibersihkan Langit-langit rumah mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan Bumbungan rumah 10 m dan ada penangkal petir Ruang ditata sesuai dengan fungsi dan peruntukannya Dapur harus memiliki sarana pembuangan asap.

c) Pencahayaan Pencahayaan alam dan/atau buatan langsung maupun tidak langsung dapat menerangi seluruh ruangan dengan intensitas penerangan minimal 60 lux dan tidak menyilaukan mata. d) Kualitas udara Suhu udara nyaman antara 18 30 o C;

14

Kelembaban udara 40 70 %; Gas SO2 kurang dari 0,10 ppm/24 jam; Pertukaran udara 5 kaki 3 /menit/penghuni; Gas CO kurang dari 100 ppm/8 jam; Gas formaldehid kurang dari 120 mg/m3

e) Ventilasi Luas lubang ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% luas lantai. f) Penyediaan air Tersedia sarana penyediaan air bersih dengan kapasitas minimal 60 liter/ orang/hari; Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan/atau air minum menurut Permenkes 416 tahun 1990 dan Kepmenkes 907 tahun 2002. g) Pembuangan Limbah Limbah cair yang berasal rumah tangga tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan bau, dan tidak mencemari permukaan tanah; Limbah padat harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan bau, tidak mencemari permukaan tanah dan air tanah. h) Sarana Penyimpanan Makanan Tersedia sarana penyimpanan makanan yang aman. i) Kepadatan hunian Luas kamar tidur minimal 8 m2 dan dianjurkan tidak untuk lebih dari 2 orang tidur.

15

C. Penilaian rumah sehat Menurut Munif Arifin (2009), kriteria rumah sehat didasarkan pada pedoman teknis penilaian rumah sehat Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI tahun 2007. Pedoman teknis ini disusun berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan Kesehatan Perumahan. Sedangkan pembobotan terhadap kelompok komponen rumah, kelompok sarana sanitasi, dan kelompok perilaku didasarkan pada teori Blum, yang diinterpetasikan terhadap Lingkungan (45%), Perilaku (35%), Pelayanan Kesehatan (15%), Keturunan (5%). Dalam hal rumah sehat, persentase pelayanan kesehatan dan keturunan diabaikan, sedangkan untuk penilaian lingkungan dan perilaku ditentulan sebagai berikut : 1. 2. 3. Bobot komponen rumah (25/80 x 100%) : 31 Bobot sarana sanitasi (20/80 x 100%) Bobot perilaku (35/80 x 100%) : 25 : 44

Penentuan kriteria rumah berdasarkan pada hasil penilaian rumah yang merupakan hasil perkalian antara nilai dengan bobot, dengan kriteria sebagai berikut : 1. 2. Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat : 80 -100 % dari total skor. : < 80 % dari total skor.

Kelompok Komponen Rumah yang dijadikan dasar penilaian rumah sehat menggunakan Indikator komponen sebagai berikut : 1. 2. Langit-langit Dinding

16

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Lantai Jendela kamar tidur Jendela ruang keluarga Ventilasi Lubang asap dapur Pencahayaan

10. Kandang 11. Pemanfaatan Pekarangan 12. Kepadatan penghuni. Indikator sarana sanitasi yang dijadikan dasar penilaian rumah sehat menggunakan Indikator sarana sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Sarana air bersih Jamban Sarana pembuangan air limbah Sarana pembuangan sampah.

Indikator penilaian perilaku penghuni rumah meliputi bebrapa parameter sebagai berikut : 1. 2. 3. kebiasaan mencuci tangan. keberadaan tikus. keberadaan jentik.

D. Syarat lingkungan sehat

17

Persyaratan lingkungan perumahan yang sehat menurut Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No.829/Menkes/SK/VII/ 1999 sebagai berikut : a. Lokasi Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai, aliran lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa, dan sebagainya; Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah atau bekas tambang; Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti alur pendaratan penerbangan. b. Kualitas udara Kualitas udara ambien di lingkungan perumahan harus bebas dari gangguan gas beracun dan memenuhi syarat baku mutu lingkungan sebagai berikut : Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi; g/m3 ;g maksimum 150 Debu dengan diameter kurang dari 10 Gas SO2 maksimum 0,10 ppm; Debu maksimum 350 mm3 /m2 per hari. c. Kebisingan dan getaran Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A; Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik d. Kualitas tanah di daerah perumahan dan pemukiman Kandungan Timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg

18

Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg Kandungan Benzopyrene maksimum 1 mg/kg e. Sarana dan prasarana di lingkungan Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan konstruksi yang aman dari kecelakaan Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan vektor penyakit Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan tidak mengganggu kesehatan, konstruksi trotoar tidak

membahayakan pejalan kaki dan penyandang cacat, jembatan harus memiliki pagar pengaman, lampu penerangan, jalan tidak

menyilaukan mata Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas air yang memenuhi persyaratan kesehatan Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas air yang memenuhi persyaratan kesehatan Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus memenuhi persyaratan kesehatan Pengelolaan pembuangan sampah rumah tangga harus memenuhi syarat kesehatan Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi, tempat kerja, tempat hiburan, tempat pendidikan, kesenian, dan lain sebagainya

19

Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninya Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak terjadi kontaminasi makanan yang dapat menimbulkan keracunan. f. Vektor penyakit Indeks lalat harus memenuhi syarat. Indeks jentik nyamuk dibawah 5%. g. Penghijauan Pepohonan untuk penghijauan lingkungan pemukiman merupakan pelindung dan juga berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian alam.

20