Anda di halaman 1dari 8

PENENTUAN KADAR FORMALIN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

I.

Tujuan Menetapkan kadar formalin dengan metode spektrofotometri visible

II.

Dasar Teori Spektrofotometri serapan merupakan pengukuran suatu interaksi antara radiasi

elektromagnetik dan molekul atau atom dari suaatu zat kimia. Teknik yang sering digunakan dalam analisis farmasi meliputi spektrofotometri ultraviolet, cahaya tampak, infra merah, dan serapan atom. Jangkauan panjang gelombang untuk daerah ultraviolet adalah 190-380 nm, daerah cahaya tampak 380-780 nm, daerah infra merah dekat 780-3000 nm, dan daerah infra merah 2,5-40 mikrometer atau 4000-250 cm-1(Tahir. 2008). Radiasi ultraviolet dan sinar tampak diabsorbsi oleh molekul organik aromatik, molekul yang mengandung electron phi terkonjugasi dan atau atom yang mengandung elekron-n, menyebabkan transisi electron di orbital terluarnya dari tingkat energi elektron dasar ke tingkat energi tereksitasi tinggi, Besarnya serapan radiasi tersebut sebanding dengan banyaknya molekul analit yang mengabsorpsi sehingga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif. (Satiadarma, 2004) Spektrofotometri UV-Vis termasuk salah satu metode analisis instrumental yang frekuensi penggunaannya paling banyak dalam laboratorium analisis. Demikian pula spektrofotometer UV-Vis merupakan instrumen yang paling ditemukan dalam laboratorium kimia analisis. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan diantaranya : 1. Metode ini merupakan metode yang lahir pertama kali di lingkungan kimia analisis. 2. Pelaksanaan analisisnya cepat, mudah, relatif murah, termasuk harga instrumen yang relatif murah.

3. Pengenalan dan pemahaman operasional instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis dapat dilaksanakan dilaksanakan dengan mudah. 4. Hampir semua molekul organik dan anorganik dapat ditentukan dengan metode Spektroofotometri UV-Vis serta tersedia banyak cara untuk mengantisipasi berbagai macam komponen atau matriks pengganggu. 5. Analisis kuantitatif untuk analit tunggal (Single Componenet Analysis) ataupun penentuan campuran dua atau lebih analit didapatkan hasil syang dapat dipercaya dan sahih (Integrity and Validity) (Widjaja,2008) Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif (Widjaja, 2008).

Absorbsi sinar oleh larutan mengikuti hukum Lambert-Beer, yaitu : A = log ( 1 / T ) = b c T = It / Io = 10 b c A = log (Io/ It) = b c Keterangan : T= Persen transmitan Io = Intensitas sinar datang It = Intensitas sinar yang diteruskan = Absorptivitas b = Panjang sel/kuvet c = konsentrasi (g/l) A = Absorban Gambar 2. Skema absorpsi sehingga

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri UV-Vis terutama untuk senyawa yang semula tidak berwarna yang

akan dianalisis dengan spektrofotometri visibel karena senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa yang berwarna. Berikut adalah tahapan-tahapan yang harus diperhatikan : Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis Hal ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada daerah tersebut. Cara yang digunakan adalah dengan merubah menjadi senyawa lain atau direaksikan dengan pereaksi tertentu. Pereaksi yang digunakan harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu : 1. 2. 3. 4. Reaksinya selektif dan sensitif. Reaksinya cepat, kuantitatif, dan reprodusibel. Hasil reaksi stabil dalam jangka waktu yang lama. Waktu operasional

Cara ini biasa digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau pembentukan warna. Tujuannya adalah untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. Waktu operasional ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan.

Pemilihan panjang gelombang Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Ada beberapa alasan mengapa harus menggunakan panjang gelombang maksimal, yaitu : 1. Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar. 2. Disekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum lambert-beer akan terpenuhi.

3. Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali, ketika digunakan panjang gelombang maksimal (Gandjar dan Rohman, 2007). Keuntungan dari spektrofotometer adalah : 1. Penggunaannya luas, dapat digunakan untuk senyawa anorganik, organik dan biokimia yang diabsorpsi di daerah ultra lembayung atau daerah tampak. 2. Sensitivitasnya tinggi, batas deteksi untuk mengabsorpsi pada jarak 10-4 sampai 10-5 M. Jarak ini dapat diperpanjang menjadi 10-6 sampai 10-7 M dengan prosedur modifikasi yang pasti. 3. Selektivitasnya sedang sampai tinggi, jika panjang gelombang dapat ditemukan dimana analit mengabsorpsi sendiri, persiapan pemisahan menjadi tidak perlu. 4. Ketelitiannya baik, kesalahan relatif pada konsentrasi yang ditemui dengan tipe spektrofotometer UV-Vis ada pada jarak dari 1% sampai 5%. Kesalahan tersebut dapat diperkecil hingga beberapa puluh persen dengan perlakuan yang khusus. 5. Mudah, spektrofotometer mengukur dengan mudah dan kinerjanya cepat dengan instrumen modern, daerah pembacaannya otomatis

Formalin Senyawa kimia formaldehida (metanal atau formalin) merupakan aldehida dengan rumus kimia H2CO, yang berbentuk gas, atau cair yang dikenal sebagai formalin, atau padatan yang dikenal sebagai paraformaldehyde atau trioxane. Formaldehida awalnya disintesis oleh kimiawan Rusia Aleksandr Butleror tahun 1859, tapi diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867. (Anonim a, 2006). Formalin merupakan larutan yang terdiri atas 37% formaldehide dalam air. Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, kadar formaldehid tidak kurang dari 34,0%

dan tidak lebih dari 38,0% dan dapat dicampur dengan air dan dengan etanol (95%) P. (Depkes RI, 1979). Sifat-sifat formalin : Rumus molekul Bentuk molekul Massa molar Penampilan Densitas Titik leleh Titik didih Titik nyala : CH2O : trigonal planar : 30,03gmol1 : gas tak berwarna : 1kgm3 : -117C (156K) : -19,3C (253,9K) : -53 C

Kelarutan dalam air : > 100g/100 ml (20C) Momen dipol Bahaya utama : 2,33168(1) : beracun, mudah terbakar (Anonim a, 2006)

Formaldehida dapat digunakan untuk membasmi sebagian besar bakteri, sehingga sering digunakan sebagai disinfektan dan juga sebagai bahan pengawet. Sebagai disinfektan, Formaldehida dikenal juga dengan nama formalin dan dimanfaatkan sebagai pembersih; lantai, kapal, gudang dan pakaian. Formaldehida juga dipakai sebagai pengawet dalam vaksinasi. Dalam bidang medis, larutan formaldehida dipakai untuk mengeringkan kulit, misalnya mengangkat kutil. Larutan dari formaldehida sering dipakai dalam membalsem untuk mematikan bakteri serta untuk sementara mengawetkan bangkai. Dalam industri, formaldehida kebanyakan dipakai dalam produksi polimer dan rupa-rupa bahan kimia. Jika digabungkan dengan fenol, urea, atau melamina, formaldehida menghasilkan resin termoset yang keras. Resin ini dipakai untuk lem permanen, misalnya yang dipakai untuk

kayulapis/tripleks atau karpet. Juga dalam bentuk busa-nya sebagai insulasi. Lebih dari 50% produksi formaldehida dihabiskan untuk produksi resin formaldehida.

Jika larutan formalin berada di ruang tertutup, seperti coolbox ikan, atau palka, dapat diduga bahwa reaksi kesetimbangan antara formaldehide dan metanadiol terjadi hampir sempurna. Gabungan kedua senyawa ini merupakan antibiotik yang sangat efektif dalam merusak proses fisiologis sel bakteri melalui mekanisme denaturasi protein, merusak membran sel, dehidrator, sekaligus memecah ikatan hidrogen pada sel bakteri. Walaupun memiliki daya hambat yang sangat baik, formalin tidak dapat digunakan untuk keperluan pangan karena daya rusak fisiologisnya tidak terbatas pada sel bakteri saja, namun kepada sel-sel lain pada inang bakteri tersebut (Dolaria dkk, 2007). Formalin direaksikan dengan pereaksi tertentu untuk menghasilkan larutan berwarna yang bisa diukur di daerah visibel pada panjang gelombang 412 nm. Beberapa pereaksi yang dapat digunakan antara lain asam kromotropat Purpold, MBTH-M ethylbenzothiazinonhydrazone dan Nash. Formalin dapat bereaksi membentuk warna dengan pereaksi Nash pada metode analisis formalin (Dolaria dkk, 2007). Pereaksi nash digunakan karena pereaksi ini memilki kestabilan dalam larutan, pembentukan warna yang dianalisis cepat serta menghasilkan reaksi warna yang dikehendaki, pereaksi selektif dan spesifik (Anonim b, 2011). Oleh karena itu, analisis spektrofotometer visible dapat dijadikan sebagai metode standar penentuan kadar formalin.

III.

ALAT DAN BAHAN 1. Alat 1. Pipet tetes 2. Pipet ukur 1 mL 3. Labu ukur 10 mL 4. Botol vial 5. Gelas beaker 6. Spektrofotometer 2. Bahan 1. Larutan Formalin 200 g/mL 2. Aquadest 3. Pereaksi Nash

IV. CARA KERJA a. Pembuatan Larutan Stok Formalin 200 g/mL Diambil 0,5 mL larutan formalin 20%, ditambahkan aquades hingga 500 mL. b. Pembuatan Pereaksi Nash 15 gram ammonium asetat (NH4CH3COO) ditambah 0,3 mL asam asetat (CH3COOH) dan 0,2 mL asetil aseton lalu diencerkan dengan aquades hingga 100 mL. c. Pembuatan Larutan Standar Pada penelitian ini dibuat 5 variasi kadar larutan standar, yaitu: diambil 0,5; 1; 1,5; 2; 2,5 mL larutan stok baku ditambahkan dengan aquades hingga 5 mL. Diukur absorbansi salah satu larutan standar poin c pada rentang panjang gelombang 350-450 nm, kemudian ditentukan panjang gelombang

maksimumnya. Dibuat kurva kalibrasinya.

d.

Penentuan Kadar Formalin Sampel formalin ditetapkan kadarnya dengan mengukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimumnya. Lalu kadar formalin ditetapkan dengan memanfaatkan persamaan linear dari 5 variasi larutan standar.