Anda di halaman 1dari 12

DAFTAR ISI

TENS ..................................................................................................................... Kanker ................................................................................................................... Carpal Tunnel Syndrome ...................................................................................... Low Back Pain ...................................................................................................... OA Genu ............................................................................................................... Daftar pustaka ........................................................................................................

2 5 7 9 10 12

A. Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) TENS adalah penggunaan arus listrik yang dihasilkan oleh perangkat untuk merangsang saraf untuk mengurangi rasa sakit. Unit ini dilengkapi dengan elektroda untuk menyalurkan arus listrik yang akan merangsang saraf pada daerah yang mengalami nyeri. Rasa geli sangat terasa dibawah kulit dan otot yang diaplikasikan elektroda tersebut. Sinyal dari TENS ini berfungsi untuk mengganggu sinyal nyeri yang mempengaruhi sarafsaraf dan memutus sinyal nyeri tersebut sehingga pasien merasakan nyerinya berkurang. Namun teori lain mengatakan bahwa stimulasi listrik saraf dapat membantu tubuh untuk memproduksi obat penghilang rasa sakit alami yang disebut endorfin, yang dapat menghalangi persepsi nyeri. TENS memberikan arus listrik dengan amplitudo sampai dengan 50mA dengan frekuensi 10-250Hz, banyak digunakan untuk terapi pengurangan rasa sakit. Banyak teori yang mendukung prinsip kerja TENS, satu diantaranya adalah teori pain gates yang diajukan oleh Melzack dan Walls. Menurut teori ini TENS diperkirakan mengaktifkan secara khusus perifer A beta pada daerah tanduk dorsal sehingga memodulasi serabut A delta dan C yang menghantarkan rasa nyeri. Hipotesis lain menjelaskan efek TENS dalam mengurangi nyeri melalui system neurotransmitter lain yaitu perubahan system serotonin dan substansia P. Dengan menggunakan metode TENS, transkutan (yaitu melalui kulit) Listrik Stimulasi saraf, fungsi saraf penting dapat diaktifkan secara efektif. Frekuensi impuls, yang sebanding dengan bioelectricity alami, merangsang menghilangkan rasa sakit. Dengan cara ini, transmisi nyeri oleh serabut saraf terhambat dan aliran listrik menghilangkan rasa sakit, seperti zat endorphin, yang dipicu. Selanjutnya, aliran darah melalui zona tubuh ditingkatkan. Terapi dengan TENS dilakukan dengan kontak langsung alat terhadap pasien melalui sepasang elektroda. Demi memenuhi persyaratan standar keamanan alat medis sebuah sistem keamanan harus dirancang sehingga cidera pada pasien dapat dicegah. Sistem keamanan yang dirancang pada dasarnya adalah mencegah terjadinya luka bakar pada kulit 2

akibat kesalahan penempatan elektroda. Kesalahan penempatan elektroda memungkinkan elektroda tidak melekat dengan baik pada kulit dan sementara itu arus dialirkan, dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien. Adapun penempatan elektroda TENS: Di sekitar lokasi nyeri : Cara ini paling mudah dan paling sering digunakan, sebab metode ini dapat langsung diterapkan pada daerah nyeri tanpa memperhatikan karakter dan letak yang paling optimal dalam hubungannya dengan jaringan penyebab nyeri. Dermatom : Penempatan pada area dermatom yang terlibat, penempatan pada lokasi spesifik dalam area dermatom, penempatan pada dua tempat yaitu di anterior dan di posterior dari suatu area dermatom tertentu. Area trigger point dan motor point

Gambar II. Aplikasi dari TENS Keuntungan dari menggunakan TENS adalah bahwa tidak seperti menghilangkan rasa sakit oleh obat, karena tidak menimbulkan ketagihan, tidak menyebabkan kantuk atau mual, dan dapat dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan. Namun penggunaan alat terapi TENS saat ini pada umumnya tidak praktis karena diperlukan keterampilan dan pengetahuan khusus untuk menyesuaikan program yang ada pada alat terapi TENS dengan keluhan dan jenis terapi yang diinginkan. Oleh karena itu TENS lebih banyak digunakan di klinik rehabilitasi medik dan fisioterapi.

TENS mengubah persepsi tubuh mengenai rasa sakit. TENS juga diakui sebagai alternatif akupunktur sebagai non- farmakologis untuk mengobati dismenorea. Pada impuls rendah (2 Hz) produksi endorphin sebagai penghilang rasa sakit alami dipacu untuk dikeluarkan (Macnair, 2004). Oleh karena itu TENS telah digunakan untuk mengobati nyeri yang akut seperti patah tulang, nyeri sendi, strain otot, pasca operasi dan menstruasi yang menimbulkan rasa sakit. Efeknya berkurangnya rasa nyeri bisa lambat tapi dapat mengurangi rasa nyeri yang berlangsung selama beberapa jam. Pada impuls tinggi (90150Hz) 'gerbang ' rasa sakit akan ditutup. Hal ini terjadi pada sakit kepala, migrain, arthritis, neuralgia pasca-herpes, linu panggul, sakit pinggang, leher dan punggung nyeri akan segera mereda, tapi efeknya tidak begitu lama (Kenny dan Kenny, 2002). Pada penderita yang memakai pacu jantung. Selain itu jangan meletakan elektroda di area arteri karotis pada region anterolateral leher dan mata, penderita dengan hilangnya sebagian besar sensasi kulit, kulit yang mengalami gangguan (luka, infeksi, radang) pada lokasi penempatan TENS, dan daerah pharyngeal. Umumnya TENS diterapkan pada: Frekuensi tinggi (> 50 Hz) dengan intensitas di bawah kontraksi motor (intensitas sensorik). Pada frekuensi tinggi, secara selektif merangsang syaraf tertentu 'non-sakit' serat untuk mengirim sinyal ke otak yang menghalangi sinyal saraf lainnya membawa pesan rasa sakit. Frekuensi rendah (<10 Hz) dengan intensitas yang menghasilkan kontraksi motor. Pada frekuensi rendah, dengan merangsang produksi endorfin, alami menghilangkan rasa sakit-hormon. TENS digunakan untuk meringankan rasa sakit yang disebabkan oleh berbagai kondisi kronis, termasuk:

leher dan nyeri punggung bawah sakit kepala / migrain radang sendi

Perangkat ini juga efektif terhadap nyeri jangka pendek, seperti:

persalinan 4

nyeri pasca bedah patah tulang otot dan nyeri sendi olahraga cedera kram menstruasi

Tidak seperti banyak menghilangkan rasa sakit obat-obatan, TENS tidak menimbulkan ketergantungan dan tampaknya memiliki beberapa efek samping. Kebanyakan orang bisa menggunakan mesin TENS tetapi tidak cocok untuk:

Epilepsi. Mereka dengan alat pacu jantung dan beberapa jenis lain penyakit jantung. Diketahui penyebab sakit. Tanpa pengawasan pada kehamilan (selain tenaga kerja).

B. KANKER Penilaian Fungsional Kanker adalah pertumbuhan sel yang abnormal yang dapat merusak jaringan. Status fungsional pasien kanker dapat dikorelasikan dengan hasil akhir dari penyakit yang mendasarinya. Skala Status Kinerja Karnofsky, suatu ukuran status fungsional pasien kanker yang paling banyak dipergunakan, memungkinkan suatu sarana pengategorian yang konsisten. Cocokkan tujuan rehabilitasi dengan tingkat fungsional pasien. Penderita multipel mieloma dapat mengalami fraktur patologis, Nyeri yang hebat dan berkepanjangan, penurunan daya tahan tubuh, infeksi sekunder, gagal ginjal dan komplikasi lainnya yang mengakibatkan gangguan tingkat fungsional yang nyata. Disabilitas dan handicap yang dialami oleh penderita akan mengurangi kualitas hidup dan secara langsung maupun tidak langsung dapat mengurangi usia harapan hidup dari penderita. Permasalahan Masalah yang dihadapi pada penderita kanker terutama pada stadium lanjut antara lain: Pain (70%) Dry mouth (68%) Anorexia (61%) 5

Weakness (47%) Constipation (45%) Difficulty breathing (42%) Nausea, vomiting (36%) Insomnia (34%) Sweating (25%) Problems swallowing (23%) Urinary symptoms (21%) Neuropsychiatric symptoms: disorders of consciousness, cramps, dizziness, restlessness (20%) Skin problems: itching, allergic reactions, infections, decubitus ulcers (16%) Dyspepsia (11%) Diarrhea (70%) Penanganan Tujuan utama penanganan pada penderita adalah memperpanjang waktu harapan hidup (quantity of life) dan meningkatkan kualitas hidup (quality of life) Regimen yang dipergunakan untuk memelihara fungsi meliputi mobilisasi, aktivitas, nutrisi, sistem pendukung social, dan pengendalian rasa nyeri. Keseluruhan program ini diterapkan bersamaan dengan intervensi spesifik berdasarkan sistem organ yang terkena. Rehabilitasi kanker mula-mula memusatkan diri pada orang yang baru keluar dari perawatan akut. Rehabilitasi lanjutan berlangsung dalam lingkungan rumah. Intensitas usaha rehabilitasi dan perawatan klinis tergantung pada jenis, lokasi dan luasnya keterlibatan kanker tersebut. Penatalaksanaan Nyeri Rasa nyeri muncul pada kanker stadium menengah sebesar 40%. dan 60 sampai 80% pada kanker stadium lanjut. Nyeri akibat kanker seperti yang dikategorikan oleh Foley bisa diberikan regimen yang sistematik. Pertama, pastikan jenis nyeri kanker yang ada. Kategorikan pasien dengan menggunakan klasifikasi nyeri ini. Penanganan kanker yang mendasarinya adalah baris pertama terapi. Pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi yang diarahkan pada tumor secara keseluruhan dapat mengurangi nyeri. Kemudian, gunakan penghilang rasa nyeri golongan non-narkotik seperti as-pirin, asetaminofen, dan obat-obat anti-inflamasi nonsteroid dikombinasikan dengan modalitas 6

fisik seperti vibrasi, transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), pemijatan, dan pemanasan atau pendinginan. Giatkan mobilisasi dan aktivitas yang terus-menerus. Hindari modalitas fisik yang menggunakan pemanas sekitar daerah yang diketahui terdapat tumor.

C. CARPAL TUNNEL SYNDROME SLK (Sindroma Lorong Karpal) adalah neuropati karena jebakan pada n. medianus di daerah pergelangan tangan . N. medianus mengalami kompresi pada saat saraf tersebut berjalan dari lengan bawah ke telapak tangan di antara ligamen transversal ( Stevens JC , 1997 ) . Tanda-tanda dan gejala yang dihubungkan dengan SLK adalah paraestesia , rasa tebal pada distribusi sensorik n. medianus yaitu pada ibu jari , jari telunjuk , jari tengah dan sisi radial jari manis , terdapatnya tanda Tinel , tanda Phalen , hipoestesia , nocturnal awakening , dan kadangkadang kelemahan tangan ( Katz JN , 1990 , Hennessey WJ , 1995 ). Etiologi dari SLK tidak diketahui meski demikian SLK lebih sering terjadi pada pekerjapekerja dengan gerakan tangan yang berulang-ulang ( seperti pengetik komputer , operator mesin , pelaksana aktivitas rumah tangga ) . SLK mungkin juga disebabkan oleh beban yang berlebihan pada beberapa otot yang lebih kecil , dimana selain faktor ergonomik kelainan medis sistemik seperti DM . penyakit thiroid rematik artritis , gout , kegemukan juga mempengaruhi terjadinya SLK disamping faktor-faktor psikososial Standar pengobatan SLK ialah terapi konservatif meski kadangkal diperlukan tindakan operasi untuk membebaskan ligamentum karpal transversal . Pengobatan konservatif termasuk mengatur kembali lingkungan kerja dan cara kerja , penggunaan splint pada pergelangan tangan serta pemberian obat-obat anti inflamasi ( Feuerstein dkk , 1999 ) . Injeksi langsung dari steroid ke dalam terowongan karpal hanya memberikan kesembuhan 2 sampai 4 bulan dan pada bulan ke 18 hanya 22% pasien yang bebas dari gejala ( Gelberman , dkk , 1980 ) . Operasi pembebasan lig karpal transversum dilakukan pada 40% 50% kasus dengan medikal $ 1.9 miliar ( Vennix MJ dkk , 1999 ) . Setelah operasi hampir sepertiga pasien masih mengeluh nyeri dan kehilangan fungsi , hanya 40%

memperoleh fungsi normal sedang 5% nya memburuk . Pekerja kantor kembali bekerja pada beberapa minggu sedang pekerja berat membutuhkan rehabilitasi 4 6 bulan . Mekanisme Dalam Mengatasi Nyeri ( Karu Ti , 1987 ) 1.Peningkatan produksi ATP oleh mitokondria dan peningkatan konsumsi oksigen pada tingkat seluler 2.Peningkatan serotonin dan peningkatan edorfin ( naloxone telah diteliti dapat menghambat efek analgesik dari LLLT dengan laser GaAlAs ) 3.Efek anti inflamasi 4.Perbaikan sirkulasi daerah di kulit Mekanisme TENS Dalam Mengatasi Nyeri TENS dapat meningkatkan konsentrasi ATP dan sintesis protein di tingkat seluler dengan efek terbesar pada amplitudo sebesar 500 mikroamper . Arus listrik yang lebih besar dari 5 mA dapat menurunkan konsentrasi ATP dan sistesis protein dan pergerakan metabolit transmembran ( Cheng N dkk , 1982 ). Pemeriksaan Fisik: 1.Pemeriksaan motorik otot-otot intrinsik 2.Tanda Phalen ( 60 detik ) dan tanda Tinel 3.Diskriminasi dua titik 4.Frekuensi parestesia jari-jari 5.Distribusi nyeri termasuk Nocturnal awakening 6.Pemeriksaan / tes kompresi leher serta pemeriksaan sindroma outlet thoracic Aplikasi teknologi TENS diaplikasikan pada PC7 yaitu di tengah-tengah lekukan pergelangan tangan sedang satu elektrode lainnya diletakan pada titik TW4 di dorsum pergelangan tangan , parameter yang digunakan ialah frekuensi 292 Hz selama 2 menit diikuti frekuensi 0,3 Hz selama 18 menit. Selama TENS diaplikasikan selama 20 menit laser dibeerikan pada titik-titik akupuntur di daerah pergelangan tangan , tangan dan jari-jari yang berjumlah kurang lebih 11 tiitik . Diisamping itu diberikan pada 5 titik di ekstremitas atas , trapezius dan area paraspinal servikal .

Hasil Terapi 1.Sebelum terapi 9 dari 11 kasus mengalami tanda Phalen ( 81,8% ) positif sedang setelah terapi hanya 2 orang yang masih positif ( 18,2% ) 2.Semua pasien yang mempunyai tanda tinel psitif menghilang setelah pengbatan 3.Skor nyeri rata rata sebelum terapi 21,87 SD 9,06 setelah di terapi menjadi 3,75 SD 6,52 . Secara keseluruhan 7 dari 8 kasus melaporkan pengurangan nyeri lebih dari 50% .

D. LOW BACK PAIN Nyeri punggung bawah adalah nyeri yang paling umum kita alami baik saat masa remaja/muda atau saat kita dewasa, yaitu pada umur dua puluh lima (25) tahun dan lima puluh lima (55) tahun. Delapan puluh persen (80% ) populasi penduduk pernah mengalami fase nyeri punggung selama hidupnya, dan sekali fase ini dialami maka nyeri punggung mungkin akan terus berkelanjutan. Untuk alasannya, perlu dan pentingnya dipahami bahwa sesuatu aktivitas mungkin menjadi penyebab atau timbulnya fase nyeri punggung, dan apa yang akan anda harapkan ketika anda mencari pengobatan konservatif dan fisioterapi. Sebagian besar pasien yang mengalami nyeri punggung mempercayai bahwa nyeri punggung yang dialaminya sebagai akibat dari kejadian trauma (luka) yang terjadi pada punggungnya, sebagai contoh misalnya dari hasil aktivitas olahraga atau mengangkat sesuatu yang berat. Tetapi sering juga nyeri punggung terjadi tanpa ada penyebabnya. Sering pasien menceritakan bahwa trauma/cidera pada punggungnya terjadi beberapa hari sebelum nyeri punggung terjadi pada dirinya. Untuk investigasi lebih lanjut, nyeri punggung dihubungkan dengan jeleknya postur dan posisi tubuh, yang mana seseorang yang mempunyai postur jelek dan posisi tubuh yang salah akan mengalami nyeri punggung setelah melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan nyeri punggung, bukan aktivitas fisik penyebabnya. Untuk itu sangat penting untuk mengatur posisi kita saat duduk, mengangkat dan menunduk serta mengerti beberapa gerakan/cara untuk mengurangi nyeri punggung. Menggunakan Passive Modalitas Tujuan utama dari program rehabilitasi ini adalah mengembalikan aktivitas dan fungsi sehingga dapat mengendalikan gejala nyeri punggung bawah, ada cara cepat yang terkadang 9

dianjurkan yaitu penggunaan passive modalitas. Dalam banyak kasus, passive modalitas digunakan untuk mendukung program fisioterapi lainnya dan jenis aktif dilakukan fisioterapis selama perawatan. Fisioterapis menggunakan modalitas sebagai sarana awal untuk membantu pasien mengurangi nyerinya. Bagaimanapun juga kemajuan program fisioterapi bukan terfokus pada penggunaan modalitas tetapi peningkatan kemampuan dan fungsi yang cepat dengan menggunakan aktivitas dan latihan dan anjuran untuk perawatan dirinya sendiri. Modalitas pasif adalah gambaran dari aplikasi peralayan fisioterapi yang meliputi cold pack, pemanasan atau pemakaian arus ketubuh untuk membantu mengurangi nyeri. Pemakaian peralatan ini dikatakan pasif karena dalam pelaksanaanya pasien tidak terlibat. Jenis yang sering dipakai untuk pemanasan adalah hot pack dan ultrasound. Pearawatan dengan peralatan dingin semisal cryotherapy juga dapat mengurangi nyeri. Dalam pelaksanaannya dengan menggunakan jenis cold pack atau ice massage untuk nyeri punggung. Fluoromethane adalah semprotan yang bisa diaplikasikan dikulit oleh terapis, dan selalu diikuti dengan penguluran otot punggung pasien oleh terapis. Stimulasi listrik dapat juga digunakan untuk mengurangi nyeri. Tipe khusus adalah penggunaan TENS (transcutaneous electric nerve stimulation) dan arus sedang. Dalam kasus ini TENS berguna intuk mengontrol nyeri, khususnya nyeri yang sudah lama (kronik), portable TENS dapat juga kita gunakan di rumah.

E. OA GENU Osteoarthritis (OA) adalah salah satu bentuk arthritis yang paling sering terjadi (memiliki angka prevalensi yang tertinggi dibandingkan jenis arthritis lain). Sebagian besar penderita OA adalah para lansia dengan usia 65 tahun keatas terutama OA lutut. Terapi yang efektif untuk menangani nyeri (yang biasanya merupakan keluhan utama penderita OA) akan dapat meningkatkan kualitas mobilitas penderita. Salah satu modalitas Fisioterapi untuk mengontrol nyeri yang sering diaplikasikan adalah TENS. TENS dalam berbagai penelitian telah terbukti efektif menurunkan nyeri pada penderiata OA lutut, tapi beberapa hasil penelitian masih kontroversial. Dalam berbagai penelitian yang telah dilakukan, ternyata masih belum diketahui berapa waktu terapi yang optimal pengaplikasian 10

TENS pada penderita OA lutut. Dalam peneltian sebelumnya waktu yang digunakan bervariasi antara 30 hingga 60 menit per hari. Cheing et al (2003) dalam penelitiannya membahas hal tersebut (waktu yang paling efektif untuk pengaplikasian TENS pada penderita OA lutut). Cehing et al (2003) membandingkan empat model pengaplikasian TENS yaitu TENS dengan lama pengaplikasian 20 menit, 40 menit, 60 menit dan TENS plasebo. TENS yang digunakan berupa TENS konvensional dengan frekuensi 100 pps, durasi pulsa 200 mikrosecon, dengan penempatan electrode pada titik-titik akupuntur di daerah lutut. Hasil penelitian Cheing et al (2003) tersebut adalah bahwa TENS konvensional pada penderita OA lutut paling efektif (waktu optimal) diaplikasikan selama 40 menit.

11

DAFTAR PUSTAKA

http://jurnaldokter.com/2011/03/31/transcutaneous-electrical-nerve-stimulation-tens http://agungprihatnanto.blogspot.com/ http://fisiosby.com/fisioterapi-pada-sindroma-lorong-kapal/ http://seripayku.blogspot.com/2008/03/pelayanan-fisioterapi.html http://fordisfisio.forumotion.com/t5-waktu-optimal-tens-untuk-pengurangan-nyeri-pada-oalutut http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/1992358-apa-itutens/#ixzz1MBcVVUhg

12