Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

  • A. Latar Belakang Trematoda atau cacing daun adalah cacing yang termasuk kelas Trematoda Filum Platyhelminthes dan hidup sebagai parasit. Pada umumnya cacing ini bersifat hermafrodit kecuali cacing Schistosoma. Spesies yang merupakan parasit pada manusia termasuk sub kelas Digenea, yang hidup sebagai endoparasit. Berbagai macam hewan dapat berperan sebagai hospes definitive cacing trematoda, antara lain kucing,anjing, kambing, sapi, tikus, burung, musang, harimau, dan manusia. Schistosomiasis adalah salah satu penyakit infeksi parasit pada manusia yang paling luas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa schistosomiasis dan soil transmitted disease (cacing yang ditularkan melalui tanah) mewakili lebih dari 40% dari beban penyakit global yang disebabkan oleh semua penyakit tropis, termasuk malaria. Ada tiga spesies trematoda darah yang penting bagi manusia yaitu schistosoma japonicum, schistosoma mansoni dan schistosoma hematobium. Tiga spesies schistosoma tersebut berparasit pada manusia, dimana ketiganya struktur bentuknya sama, tetapi beberapa halseperti morfologinya sedikit berbeda dan juga lokasi berparasitnya pada tubuh hospes definitif. S. hematobiumdan S. mansoni, banyak dilaporkan menginfeksi orang di Mesir, Eropa dan Timur Tengah, sedangkan S.

japonicum,banyak menginfeksi orang di daerah Jepang, China, Taiwan, Filippina, Sulawesi, Laos, Kambojadan Thailand. (Widyastuti, 2002).

B. Tujuan

  • 1. Mengetahui pengertian Trematoda Darah

  • 2. Mengetahui taksonomi dari golongan Trematoda Darah

  • 3. Mengetahui epidemiologi dan distribusi geografis dari TrematodaDarah

  • 4. Mengetahui morfologi dari golongan TrematodaDarah

  • 5. Mengetahui siklus hidup dari TrematodaDarah

  • 6. Mengetahui patologi dari Trematoda Darah

  • 7. Mengetahui diagnosis, pencegahan dan pengobatan infeksi trematoda darah.

BAB II PEMBAHASAN

Cacing trematoda darah (schitosomiasis) adalah cacing yang berbentuk pipih dan tinggal di berbagai aliran darah. Biasanya cacing ini masuk ke tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang mengandung parasite cacing ini dan mandi pada air yang kotor. Hospes definitifnya adalah manusia, berbagai macam binatang dapat berperan sebagai hospes reservoir. Pada manusia cacing ini menyebabkan penyakit skistosomiasis atau

bilharziasis(Unggowaluyo, 2002). Schistosoma dikenal sebagi Blood fluke yang menyebabkan penyakit skistomiasis atau bilharziasis. Jenis cacing yang menyerang hewan dan manusia adalah Schistosoma haematobium, S. mansoni, S. japonicum, S. intercalatum dan S. mekongi. S. haematobium menyebabkan schistosomiasis kemih. Skistomiasis menyerang beberapa negara sedang berkembang di Afrika, Amerika Selatan, Timur Tengah, Asia Timur dan Tenggara termasuk Indonesia (Iskandar, 2006). S. mansoni (hati / usus) terdistribusi di seluruh sub-Sahara Afrika dan Timur Tengah, tapi juga ditemukan di beberapa pulau Karibia, Brasil, Venezuela dan pantai Suriname. S. haematobium (kemih) endemik di lebih dari 50 negara Afrika (dan paling banyak ditemukan di timur Afrika, khususnya Danau Malawi), pulau-pulau Madagaskar dan Mauritius, dan Timur Tengah. Hal ini juga diketahui terjadi di beberapa wilayah kecil di India. S. japonicum (hati / usus) ditemukan di timur dan Asia Tenggara dan Pasifik Barat, terutama di Cina, Indonesia dan Filipina. S. intercalatum (hati /

usus) ditemukan di daerah hutan tengah dan barat Afrika. Persebaran parasit

schistosoma dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut:

usus) ditemukan di daerah hutan tengah dan barat Afrika. Persebaran parasit schistosoma dapat dilihat pada gambar

Gambar 2.1 Distribusi Schistosomiasis di Dunia Sumber: WHO, 2008

Cacing betina panjang 20-26 mm, lebar 0,25-0,3 mm; cacing jantan

panjang 10-20 mm; lebar 0,8-1 mm. Cacing ini hanya mempunyai satu macam

hospes perantara yaitu keong air, tidak terdapat hospes perantara II.

Mirasidium masuk kedalam tubuh keong air dan berkembang menjadi

sporokista I dan sporokista Iinkemudian menghasilkan serkaria yang banyak.

Serkaria merupakan bentuk infektif dari cacing ini. Cara infeksinya yaitu

serkaria menembus kulit pada waktu manusia masuk kedalam air yang

mengandung serkaria. Waktu yang diperlukan untuk infeksi adalah 5-10

menit. Setelah serkaria menembus kulit larva ini kemudian masuk ke dalam

kapiler darah, mengalir dengan aliran darah masuk ke jantung kanan, lalu ke

paru dan kembali ke jantung kiri, kemudian masuk ke sistem peredaran darah

besar, ke cabang-cabang vena porta dan menjad dewasa di hati. Setelah

dewasa cacing ini kembali ke vena porta dan vena usus atau vena kandung

kemih untuk S. haematobium dan kemudian cacing betina bertelur setelah

bekopulasi.

Secara umum. Tiga spesies schistosoma tersebut berparasit pada

manusia, dimana ketiganya struktur bentuknya sama, tetapi beberapa

halseperti morfologinya sedikit berbeda dan juga lokasi berparasitnya pada

tubuh hospes definitif. Perbedaan ketiga jenis cacing scistosoma dapat dilihat

pada tabel 2.1 berikut ini:

Tabel 2.1 Perbandingan tiga Schistosoma pada manusia

Perbedaan

S. mansoni

s. hematobium

s. japonicum

Tempat

     

hidup

Vena hati dan usus

Vena kandung kemih

Vena hati dan usus

 

Biomphalaria

Bulinus, Physopsis

Oncomelania

Hospes

Hospes
Hospes
Hospes

Peranatar

a (genus)

Distribusi

Afrika, Asia, Amerika Latin

Afrika

Filipina, Jepang, Asia timur, Taiwan, Indonesia

Patogenesi

     

s

Paling patogen

Kencing darah

Morbiditas tinggi

 

Lateral spine

 

Rounded nodule

Terminal spine

Terminal spine

Terminal spine

Telur

Telur

Sumber: www. course1.winona.edu

Menurut Gandahusada (2006), diantaranya trematoda darah terdapat

sejumlah spesies yang penting bagi manusia karena dapat menularkan

penyakit, yaitu :

  • A. Schistosoma japonicum

Class : Trematoda

Order

: Strigeatoidea

Family

: Schistosomatoidae

Genus : Schistosoma

Species

: Schistosoma japonicum

  • 2. Epidemologi dan Distribusi geografis

S. japonicum ini ditemukan di RRC, Jepang, Filipina, Taiwan,

Muangthai, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia. Hospesnya adalah

manusia dan berbagai macam binatang seperti anjing, kucing, rusa,

tikus sawah (rattus), sapi, babi rusa, dan lain-lain (Gandahusada,

2006). Cacing ini membutuhkan hospes perantara siput air tawar

spesies

oncomelania

nosophora,

O. Hupenis,

O. Formosana, O.

Hupensis lindonensis di danau Lindu (Sulawesi Tengah), dan O.

Quadrasi. Telah diketahui ada 2 strain yang bersifat geograpichal

yaitu strain Thailand-Malaysia dan strain Sulawesi. Terdapat

perbedaan pada kedua strain yaitu tuan rumah siput yang sesuai

(Natadisastra dkk, 2009).

Skistosomiasis di Indonesia hanya ditemukan di daerah yang

sangat terpencil di Sulawesi Tengah, yaitu di lembah Napu, Besoa dan

dataran tinggi Lindu. Hewan yang biasa menjadi inang reservoar yaitu

sapi, babi,anjing, kucing, kerbau, domba, rusa, kuda, tikus dan celurut.

Sedangkan pada manusia pertama kali dilaporkan di Desa Tomado

oleh Tesch pada tahun 1937 Penelitian selanjutnya telah menemukan

penyebabnya, yaitu cacing Schistosoma japonicum. Inang

perantaranya baru ditemukan pada tahun 1971 oleh Davis and Carney

di daerah pesawahan Paku yaitu siput (snail) yang diidentifikasi

sebagai subspesies dari Oncomelania hupensis dan diberi nama

Oncomelania lindoensis.

Habitatnya ada dua macam:

1. Fokus pada daerah yang digarap seperti ladang, sawah yang

tidak dipakai lagi, atau di pinggir parit antar sawah.

2. Fokus di daerah hutan di perbatasan bukit dan dataran

rendah.

Penelitian yang mendalam mengenai siput penular tersebut

telah dilakukan semenjak tahun 1972 dengan mendirikan laboratorium

lapangan yang disebut le Petit Soleil atau “Matahari Kecil”. Penelitian

yang intensif akhirnya menemukan bahwa siput tersebut bersifat

amfibius tidak tahan akan kekeringan dan juga tidak dapat hidup

dalam keadaan terendam air dalam waktu yang cukup lama (Iskandar,

2006).

3.

Morfologi

3. Morfologi Gambar 2.1 Morfologi S. japonicum (a). Dewasa (b). Telur Cacing dewasa menyerupai S. haematobium

Gambar 2.1 Morfologi S. japonicum (a). Dewasa (b). Telur

Cacing dewasa menyerupai S. haematobium dan S. mansoni

akan tetapi tidak memiliki intergumentary tuberculation. Cacing

jantan berukuran panjang 12-20 mm, diameter 0,5-0,55 mm, dan

kanalis ginekoporik dan memiliki 6-8 buah testis. Betina panjang

kurang lebih 26 mm dengan diameter 0,3 mm. Ovarium dibelakang

pada pertengahan tubuh, kelenjar vitelaria terbatas di daerah lateral

pada ¼ bagian posterior tubuh. Uterus merupakan saluran yang

panjang dan lurus berisi 50-100 butir telur.

Telur berhialin, subsperis atau oval dilihat lateral, dekat salah

satu kutub terdapat daerah melekuk tempat tumbuh semacam duri

rudimeter. Telur berukuran 70-100 x 50-65 µ. Khas sekali, telur

diletakan dengan memusatkanya pada vena kecil pada submukosa atau

mukosa organ yang berdekatan (Natadisastra dkk, 2009).

Gambar 2.2 siklus hidup dari Schistosoma japonicum Telur keluar bersama feaces kemudian menetas menjadi miracidium, masuk

Gambar 2.2 siklus hidup dari Schistosoma japonicum

Telur keluar bersama feaces kemudian menetas menjadi

miracidium, masuk ke tubuh keong (Oncomelania) berubah menjadi

sporokista I dan sporokista II kemudian mennjadi banyak serkaria.

Serkaria berenang di air dan menginfeksi manusia dengan masuk ke

kulit kemudian serkaria memutus ekor menjadi skistosomula dan

menjadi cacing dewasa dalam hati (Gandahusada, 2006).

  • 5. Patologi

Penyakitnya disebut Oriental schistosomiasis, katamaya atau

demam keong. Kelainan tergantung dari beratnya infeksi. Kelainan

yang ditemukan diantaranya adalah gatal- gatal (urtikaria). Gejala

intoksikasi disertai demam, hematopegali dan eosinofilia tinggi ..

  • 6. Diagnosis, Pengobatan dan pencegahan

Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur di dalam tinja

atau jaringan biopsi hati dan biopsi rektum. Reaksi serologi dapat

dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis. Reaksi serologi

dapat dipakai adalah COPT (Circumoval precipitin test), IHT

(Indirect Haemagglutation test), CFT (Complement fixation test),

FAT (Fluorescent antibody test) dan ELISA (Enzyme linked immuno

sorbent assay).

Praziquantel 20 mg/kg BB, dosis tunggal untuk pengobatan

ternak cukup efektif. Sedangkan untuk manusia dosis 60 mg/kg BB,

dibagi dalam 2 dosis dan diberikan selama 1 hari, cukup efektif.

Pemberantasan multiintervensi dengan pengobatan penderita,

pemberantasan siput dengan mulluscide dan perbaikan kebersihan

lingkungan serta penyuluhan kesehatan berhasil menurunkan angka

infeksi skistosomiasi (Iskandar, 2004).

  • B. Schistosoma mansoni

1.

Klasifikasi

Kingdom

Phylum

Class

Order

: Strigeatoidea

Family

: Schistosomatoidae

Genus

: Schistosoma

Species

: Schistosoma mansoni

Daerah penyebaran S. mansoni di Afrika meliputi Mesir,

Sudan, Libia, Uganda, Tanzania, Mozambique, Rhodesia, Zambia,

Congo, Senegal, Gambia, Nigeria, Gabon, Togo, Ghana, Pantai

Gading, Liberia dan Sierra Lione. Sedangkan di Amerika Selatan

ditemukan endemik di Venezuela, Brazil, Suriname, Republik

Dominika, Pueterico, Guadelope, St. Marten, St. Lucia, St. Kitts dan

Antiqua (Iskandar, 2006). Cacing ini mempunyai hospes perantara

berupa siput/keong air tawar dari genus Biomphalaria (keluarga

Planorbidae). S. mansoni ditemukan pada hewan pengerat dan primata

tetapi target utama infeksi adalah manusia.

3.

Morfologi

Daerah penyebaran S. mansoni di Afrika meliputi Mesir, Sudan, Libia, Uganda, Tanzania, Mozambique, Rhodesia, Zambia, Congo,
Daerah penyebaran S. mansoni di Afrika meliputi Mesir, Sudan, Libia, Uganda, Tanzania, Mozambique, Rhodesia, Zambia, Congo,

a

b

Gambar 2.3 Morfologi S. mansoni (a). Dewasa (b). Telur

Cacing dewasa jantan berukuran kira-kira 1 cm dan yang betina kira-

kira 1,4 cm. Pada badan cacing jantan S.mansoni terdapat tonjolan

lebih kasar bila dibandingkan dengan S.hematobium dan

S.japonicum. Badan S.japonicum mempunyai tonjolan yang lebih

halus. Tempat hidupnya di vena, kolon dan rektum. Telur berukuran

140 x 60 µ atau lebih besar dari S. japonicum. Telur juga tersebar ke

alat-alat lain seperti hati, paru dan otak.

  • 4. Siklus hidup

140 x 60 µ atau lebih besar dari S. japonicum. Telur juga tersebar ke alat-alat lain

Gambar 2.4 siklus hidup dari Schistosoma mansoni

Telur berisi embrio menembus keluar dinding pembuluh

darah,masuk ke rongga usus atau kandung kemih dan dikeluarkan

melalui tinja. Masuk ke dalam air dan menetas menjadi mirasidium (

larva ) mirasidium berenang aktif dalam air, mencari hospes

perantaranya yaitu keong. Mirasidiun menembus masuk tubuh keong,

dalam keong air mirasidium berkembang menjadi sporokista I dan

sporokista II dan membentuk banyak serkaria. Serkaria adalah bentuk

infektif cacing Schistosoma. Serkaria keluar dari keong air, berenang

aktif di dalam air, serkaria menembus kulit manusia pada waktu

manusia masuk ke dalam air yang mengandung serkaria, waktu yang

diperlukan untuk infeksi adalah 5-10 menit.

Setelah serkaria menembus kulit, kemudian masuk ke dalam

kapiler darah, mengalir dengan aliran darah masuk ke jantung kanan,

lalu paru dan kembali ke jantung kiri kemudian masuk ke dalam

sistem peredaran darah besar, ke cabang-cabang vena portae dan

menjadi dewasa di hati. Setalah dewasa cacing ini kembali ke vena

portae dan vena usus kemudian cacing betina bertelur setelah

berkopulasi.

  • 5. Patologi

Kelainan tergantung dari beratnya infeksi, kelainan yang di

temukan pada stadiun I adalah gatal-gatal (urtikaria). Gejala

intoksikasi disertai demam, hepatomegali dan eosinifilia tinggi. Pada

stadium II ditemukan pula sindrom disentri. Pada stadium III

ditemukan sirosis hati splenomegalia yang biasanya si penderita

menjadi lemah, mungkin terdapat gejala syaraf, gejala paru dan lain-

lain.

  • 6. Diagnosis, Pengobatan dan pencegahan

Diagnosis dan pengobatan sama dengan S. japonicum.

Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur di dalam tinja atau

jaringan biopsi hati dan biopsi rektum. Reaksi serologi dapat dipakai

untuk membantu menegakkan diagnosis. Reaksi serologi dapat

dipakai adalah COPT (Circumoval precipitin test), IHT (Indirect

Haemagglutation test), CFT (Complement fixation test), FAT

(Fluorescent antibody test) dan ELISA (Enzyme linked immuno

sorbent assay).

Praziquantel 20 mg/kg BB, dosis tunggal untuk pengobatan

ternak cukup efektif. Sedangkan untuk manusia dosis 60 mg/kg BB,

dibagi dalam 2 dosis dan diberikan selama 1 hari, cukup efektif.

Pemberantasan multiintervensi dengan pengobatan penderita,

pemberantasan siput dengan mulluscide dan perbaikan kebersihan

lingkungan serta penyuluhan kesehatan berhasil menurunkan angka

infeksi skistosomiasi (Iskandar, 2004).

  • C. Schistosoma hematobium

Class : Trematoda

Order

: Strigeatoidea

Family

: Schistosomatoidae

Genus : Schistosoma

Species

: Schistosoma hematobium

  • 2. Epidemologi dan distribusi geografis

Cacing ini mempunyai hospes perantara berupa keong dari

genus bulinus. Hospes deinitif adalah manusia, sedangkan baboon dan

beberapa jenis kera dilaporkan menjadi hospes reservoir. Cacing ini

menyebabkan penyakit schistosomiasis urinary (kandung kemih).

Schistosomiasis haematobium endemik di lebih dari 50 negara

Asia Barat. S. haematobium di temukan di Timur Tengah antara lain

di Yaman,, Aden, Saudi Arabia, Libanon, Syria, Turki, Irak dan Iran.

S. interculatum di temukan di Libanon, Uganda, Kenya, dan

Madagaskar (Iskandar, 2006).

WHO memperkirakan bahwa di seluruh dunia, 180 juta orang

tinggal di daerah endemik dan 90 juta terinfeksi dengan parasit.

Sebagian besar hidup di Sub-Sahara Afrika. Sekitar 70 juta orang

menderita hematuria schistosomal (darah dalam urin), 18 juta orang

terkait gangguan dari dinding kandung kemih, dan 10 juta dari

hidronefrosis (akumulasi urin terkait di ginjal akibat obstruksi ureter).

Diperkirakan 150.000 orang meninggal setiap tahun akibat gagal

ginjal resultan dan sejumlah tapi signifikan dari kandung kemih dan

kanker genitourinari lainnya. Angka kematian keseluruhan

diperkirakan minimal 2 per 1.000 pasien yang terinfeksi per tahun.

Di banyak tempat, ada insiden yang lebih tinggi infeksi pada

anak laki-laki dan perempuan. Hal ini terjadi karena kontak dengan air

meningkat dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya dalam

budaya di mana perempuan biasanya mengambil air untuk keperluan

rumah tangga dan anak laki-laki sering bermain di atau dekat air. Di

beberapa daerah di mana pria terutama nelayan air tawar atau petani

menggunakan irigasi, mereka memiliki tingkat lebih tinggi terkena

schistosomiasis (www.stanford.edu, 2004).

3.

Morfologi

Gambar 2. 5 Morfologi cacing S . hematobium Cacing jantan dewasa berukuran 10-15 mm. Mereka memiliki
Gambar 2. 5 Morfologi cacing S . hematobium Cacing jantan dewasa berukuran 10-15 mm. Mereka memiliki

Gambar 2. 5 Morfologi cacing S. hematobium

Cacing jantan dewasa berukuran 10-15 mm. Mereka memiliki

alur yang mendalam yang disebut canal gynecophoral dimana cacing

betina dewasa biasanya melekat. Cacing jantan memiliki nodul kecil

(tuberkel) pada permukaan dorsal dan banyak duri kecil pada alat

hisap dan gynecorphoral calanya. Cacing betina lebih panjang yaitu

sekitar 16-22 mm, halus dan lebih ramping. Kedua jenis kelamin ini

memiliki dua alat hisap, satu di anterior ventral dan satu lagi

digunakan sebagai peganangan pada dinding venula.

Gambar 2. 5 Morfologi cacing S . hematobium Cacing jantan dewasa berukuran 10-15 mm. Mereka memiliki

Gambar 2. 5 Telur S. hematobium

Telur dapat ditemukan dalam urin dari hospes yang terinfeksi.

Ukuranya 110-170 µ panjang sampai 70 µ. Bentuknya memanjang

dengan tulang belakang terminal yang khas dan terlihat seperti bola

rugby

dengan

tonjolan

tajam

pada

salah

satu

ujungnya

  • 4. Siklus hidup

rugby dengan tonjolan tajam pada salah satu ujungnya <a href=( www.stanford.edu , 2004). 4. Siklus hidup Gambar 2.6 siklus hidup dari Schistosoma mansoni Mirasidium masuk kedalam tubuh keong air dan berkembang menjadi sporokista I dan sporokista Iinkemudian menghasilkan serkaria yang banyak. Serkaria merupakan bentuk infektif dari cacing ini. Cara infeksinya yaitu serkaria menembus kulit pada waktu manusia masuk kedalam air yang mengandung serkaria. Waktu yang diperlukan untuk infeksi adalah 5-10 menit. Setelah serkaria menembus kulit larva ini memutus ekor menjadi skistosomula kemudian masuk ke dalam kapiler darah, mengalir dengan aliran " id="pdf-obj-16-25" src="pdf-obj-16-25.jpg">

Gambar 2.6 siklus hidup dari Schistosoma mansoni

Mirasidium masuk kedalam tubuh keong air dan berkembang

menjadi sporokista I dan sporokista Iinkemudian menghasilkan

serkaria yang banyak. Serkaria merupakan bentuk infektif dari cacing

ini. Cara infeksinya yaitu serkaria menembus kulit pada waktu

manusia masuk kedalam air yang mengandung serkaria. Waktu yang

diperlukan untuk infeksi adalah 5-10 menit. Setelah serkaria

menembus kulit larva ini memutus ekor menjadi skistosomula

kemudian masuk ke dalam kapiler darah, mengalir dengan aliran

darah masuk ke jantung kanan, lalu ke paru dan kembali ke jantung

kiri, kemudian masuk ke sistem peredaran darah besar, ke cabang-

cabang vena porta dan menjadi dewasa di hati. Setelah dewasa cacing

ini meninggalkan hati dan bermigrasi, pada akhirnya berakhir di

pembuluh darah disekitar kandung kemih (vena kandung kemih)

kemudian cacing betina bertelur setelah bekopulasi. Telur dilepaskan

pada dinding kandung kemih, kemudian masuk kedalam dan keluar

bersama urin untuk memulai siklus lagi (IARC, 1994).

5.

Patologi

Kelainan terutama ditemukan di dinding-dinding kandung

kemih. Gejala yang ditemukan adalah hematuria dan disuria bila

terjadi sistisis. Syndrome disentri ditemukan bila terjadi kelainan di

rectum. Gatal-gatal atau ruam kulit atau disebut “swimmer itch” dan

pembengkakan lokal sering terjadi 24 jam setelah infeksi awal dan

berlangsung selama 4 hari. Pada satu atau dua bulan, mungkin muncul

gejala berupa demam, hepatitis, pembesaran hati, limpha dan kelenjar

getah bening. Gejala ini berlangsung selama 2-3 minggu. Tidak emua

orang mengalami manifestasi klinik pada tahap awal ini.

Setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun, individu yang terinfeksi

dapat mengalami buang air kecil sakit atau sulit (disuria), darah di urin

(hematuria), obstruksi uretra, kerusakan ginjal dari obstruksi air seni

(nefropati obstruktif), tidak buang air kecil (disuria), dan / atau kaki

gajah penis. 50-70% orang dengan infeksi jangka panjang memiliki

semacam gejala saluran kemih pada pemeriksaan.

Infeksi saluran kencing kronis oleh bakteri adalah komplikasi

yang sering terjadi dari disfungsi saluran kemih yang disebabkan oleh

parasit. Kandung kemih juga dapat mengembangkan tuberkel, polip,

tukak, patch berpasir, sistitis cystica, dan / atau leukoplakia yang

terlihat pada pemeriksaan endoskopi. Kanker kandung kemih

(karsinoma sel skuamosa) dikaitkan dengan jangka panjang

schistosomiasis kemih, tetapi kejadian ini tidak diketahui

  • 6. Diagnosis, Pengobatan dan pencegahan

Cara yang paling umum untuk mendiagnosis infeksi S.

haematobium adalah dengan identifikasi ova (telur) dalam urin atau di

biopsi kandung kemih, rektum, atau dinding vagina. Urinalisis juga

dapat mengungkapkan darah dalam urin. Orang yang terinfeksi sering

mengalami anemia, eosinofil tinggi tingkat, dan / atau trombosit

rendah dalam darah mereka. Tes antibodi juga dapat digunakan untuk

mendiagnostik, meskipun jarang dilakukan.

Praziquantel (20 mg / kg secara oral 3 kali selama 1 hari) atau

metrifonate (10mg/kg 1x seminggu setiap minggu, dengan total 3

dosis) adalah obat pilihan. Kortikosteroid juga dapat diberikan dengan

infeksi akut. Sementara terapi obat yang efektif untuk membunuh

parasit sudah dalam tubuh, tidak mencegah infeksi baru. Pasien harus

didorong untuk mengembangkan strategi pencegahan serta memiliki

perawatan ulangi jika perlu

Pencegahan dapat dilakukan dengan mengobati penderita

untuk menghilangkan sumber infeksi. Menyediakan air bersih untuk

memasak, minum, dan mandi memberi alternatif lain untuk

melakukan kontak dengan air yang terdapat serkaria. Menyediakan

sistem pembuangan kotoran yang sehat sehingga penularan bisa

dicegah. Pemberantasan siput dengan bahan kimia maupun secara

biologis menggunakan predator alami siput (www.stanford.edu,

2004).

BAB III

PENUTUP

Cacing trematoda darah (schitosomiasis) adalah cacing yang berbentuk

pipih dan tinggal di berbagai aliran darah. Biasanya cacing ini masuk ke

tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang mengandung parasite

cacing ini dan mandi pada air yang kotor. Pada manusia ditemukan 3

spesies penting yaitu S. Japonicum, S. Mansoni, S. Haematobium. Hospes

definitifnya adalah manusia, berbagai macam binatangdapat berperan

sebagai hospes reservoir. Pada manusia cacing ini menyebabkan penyakit

skistosomiasis atau bilharziasis.

Anonim.

2004.

DAFTAR PUSTAKA

Schistosoma

haematobium

(blood

flukes).

html. diakses tanggal 30 Maret 2012.

_______.

2007.

Lecture

9:

tanggal 30 Maret 2012.

Schistosomes.

diakses

Gandahusada, Sriasi. Illaude, Henry D.

Pribadi, Wita.

2006, Parasitologi

Kedokteran Edisi Ketiga, Balai Penerbit FKUI, Jakarta

IARC.

1994. Schistosoma Haematobium.

IARC

Working

Group

in

1994

Monograph

Vol

100

B

.

diakses tanggal 30 Maret 2012.

Iskandar. 2006. Tinjauan Skistosomiasis Pada Hewan Dan Manusia Di Lembah Napu, Lembah Besoa Dan Lembah Danau Lindu Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Nakah Loka Karya Nasional Penyakit Zoonosis

Natadisastra, Djaenudin dan Agoes, Ridhad. 2009. Parasitologi Kedikteran :

Ditinjau dari Organ yang Diserang. Edisi I. EGC. Jakarta

Ridley,

Jhon

W.

2010.

Parasitology

for

Medical

And

Profesionals. Delmar Cengage, New York

Clinical

Laboratory

Unggowaluyo, J.S. 2002. Parasitologi Medik I. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta

WHO. 2008. Traveller Information Sheets : Schistosomiasis. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs115/en/index.html. diakses tanggal 30 Maret 2012.

Widyastuti,

Retno,

Jakarta

2002,

Parasitologi,

Pusat

Penerbit

Universitas

Terbuka,