Anda di halaman 1dari 1

Pendahuluan Beberapa senyawa obat memiliki aktivitas farmakologi yang berbeda satu dengan yang lain antara enantiomernya.

Perbedaan tersebut dapat berupa efek farmakologi yang antagonis, aktivitas farmakologi yang berbeda, atau salah satunya tidak berkhasiat. Oleh karena itu perlu dilakukan pemisahan rasemat untuk memisahkan enantiomer senyawa obat yang diinginkan dan membuang efek yang tidak diinginkan. Pada dasarnya, enantiomer adalah isomer senyawa tidak memiliki sifat fisik yang berbeda kecuali sifat optisnya sehingga sulit dipisahkan. Namun demikian, garam diastereomernya memiliki perbedaan karakter fisik yang cukup jauh, terutama pada kelarutannya. Pada percobaan kali ini dilakukan pemisahan rasemat ibuprofen. Rasemat ibuprofen memiliki 2 enantiomer yaitu R-ibuprofen dan S-Ibuprofen, S-Ibuprofen memiliki sifat anti-inflamasi dan analgesik sedangkan R-ibuprofen tidak memiliki efek farmakologi yang berarti. Ibuprofen merupakan asam dengan satu kiral, sehingga untuk memisahkan campuran rasematnya perlu dibentuk menjadi garam diastereomer agar memudahkan pemisahan. Dalam membentuk senyawa diastereomer, Ibuprofen yang hanya memiliki satu kiral perlu ditambah kiralitasya. Oleh karena itu Ibuprofen direaksikan dengan basa kinin yang berasal dari garam kinin yang direaksikan dengan NaOH. Setelah itu, dilakukan ekstraksi untuk memisahkan basa kinin dengan garam yang terbentuk dengan menambahkan pelarut etil asetat yang mampu menarik basa kinin yang tidak larut dalam air. Basa kinin yang telah diekstraksi direaksikan dengan Ibuprofen untuk membentuk garam diastereomer dimana garam tersebut mengandung S-Ibuprofen dan R-ibuprofen dengan perbandingan yang sama namun kelarutan yang berbeda. S-Ibuprofen memiliki kelarutan dalam etanol yang lebih tinggi, sehingga dapat dipisahkan satu sama lain.