Sejarah Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita

Purwaka Caruban Nagari, Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran), karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbedabeda untuk bertempat tinggal atau berdagang. Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah sebagai nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi, petis, dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon inilah berkembanglah sebutan cai-rebon (Bahasa Sunda:, air rebon) yang kemudian menjadiCirebon. Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, Cirebon tumbuh menjadi cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat. [sunting]Perkembangan awal [sunting]Ki Gedeng Tapa Ki Gedeng Tapa (atau juga dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati) adalah seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati, Cirebon. Ia mulai membuka hutan ilalang dan membangun sebuah gubug dan sebuah tajug (Jalagrahan) pada tanggal 1 Syura 1358 (tahun Jawa) bertepatan dengan tahun 1445 Masehi. Sejak saat itu, mulailah para pendatang mulai menetap dan membentuk masyarakat baru di desa Caruban. [sunting]Ki Gedeng Alang-Alang Kuwu atau kepala desa Caruban yang pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Gedeng Alang-alang. Sebagai Pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah Raden Walangsungsang, yaitu putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, yang tak lain adalah puteri dari Ki Gedeng Tapa. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Walangsungsang yang juga bergelar Ki Cakrabumi diangkat menjadi penggantinya sebagai kuwu yang kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuana. [sunting]Masa Kesultanan Cirebon (Pakungwati) [sunting]Pangeran Cakrabuana (…. –1479) Pangeran Cakrabuana adalah keturunan Pajajaran. Putera pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang kedua bernama SubangLarang (puteri Ki Gedeng Tapa). Nama kecilnya adalah Raden Walangsungsang, setelah remaja dikenal dengan nama Kian Santang. Ia mempunyai dua orang saudara seibu, yaitu Nyai Lara Santang/ Syarifah Mudaim dan Raden Sangara. Sebagai anak sulung dan laki-laki ia tidak mendapatkan haknya sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran. Hal ini disebabkan oleh karena ia memeluk agama Islam (diturunkan oleh Subanglarang ibunya), sementara saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha. Posisinya digantikan oleh adiknya, Prabu Surawisesa, anak laki-laki Prabu Siliwangi dari istrinya yang ketiga Nyai Cantring Manikmayang. Ketika kakeknya Ki Gedeng Tapa yang penguasa pesisir utara Jawa meninggal, Walangsungsang tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan lalu mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman, tampil sebagai "raja" Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon. [sunting]Sunan Gunung Jati (1479-1568) Pada tahun 1479 M, kedudukannya kemudian digantikan putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir, yakni Syarif Hidayatullah (1448-1568) yang

cucu Sunan Gunung Jati. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570. yang saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari Mataram. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram. Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu Trunojoyo.[1] [sunting]Panembahan Ratu I (1570-1649) Sepeninggal Fatahillah. dua tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung. karena ayah Pangeran Rasmi yaitu Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih dahulu. Kuningan. maka kedua putra Panembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan dan dibawa kembali ke Cirebon untuk kemudian juga dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Cirebon. Makamnya di Jogjakarta. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II. dan memerintah Cirebon secara resmi menjadi raja sejak tahun 1568. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun. [sunting]Terpecahnya Kesultanan Cirebon Dengan kematian Panembahan Girilaya. Namun. Dengan bantuan Trunojoyo. terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam Cirebon. maka terjadi kekosongan penguasa. pemerintahan dijabat oleh Fatahillah atau Fadillah Khan. takhta kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Emas putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. [sunting]Perpecahan I (1677) . yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. di bukit Girilaya. Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.Kabupaten Bantul. dan Banten. dekat dengan makam raja raja Mataram di Imogiri. Kawali (Galuh). Menurut beberapa sumber di Imogiri maupun Girilaya. [sunting]Fatahillah (1568-1570) Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah. Pangeran Dipati Carbon meninggal lebih dahulu pada tahun 1565. atas tanggung jawab pihak Banten. Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri. Panembahan Girilaya adalah menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Kesultanan Mataram.setelah wafat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah. oleh karena tidak ada calon lain yang layak menjadi raja. tinggi makam Panembahan Girilaya adalah sejajar dengan makam Sultan Agung di Imogiri. Pada mulanya calon kuat pengganti Sunan Gunung Jati ialah Pangeran Dipati Carbon. pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim. Sunda Kelapa. [sunting]Panembahan Ratu II (1649-1677) Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649. Sultan Ageng Tirtayasa segera menobatkan Pangeran Wangsakerta sebagai pengganti Panembahan Girilaya. Sunan Gunung Jati kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka. Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan. Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram (Amangkurat I adalah mertua Panembahan Girilaya). Fatahillah kemudian naik takhta. Putra Pangeran Pasarean. Setelah Sunan Gunung Jati wafat.

yaitu Kesultanan Kacirebonan. Meskipun demikian keraton-keraton yang ada tetap menjalankan perannya sebagai pusat kebudayaan masyarakat khususnya di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri. dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703) Sultan Kanoman. sehingga semakin surutlah peranan dari keraton-keraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya. dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723) Pangeran Wangsakerta. para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah: Sultan Keraton Kasepuhan. sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677-1713). akan dicari cucu atau cicitnya. . ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan. dengan penduduk sekitar 20. wilayah Kesultanan Cirebon menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai sultan. mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh. pecahan dari Kesultanan Kanoman.450 hektar. Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. di mana seorang sultan akan menurunkan takhtanya kepada anak laki-laki tertua dari permaisurinya. Kesultanan Cirebon tidak lagi merupakan pusat dari pemerintahan dan pengembangan agama Islam. Sementara tahta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811). yang mencakup luas 1. Jika tidak ada.000 jiwa (Stlb. sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803). cukup dengan gelar pangeran. yaitu Pangeran Raja Kanoman. yang secara administratif masing-masing dipimpin oleh pejabat pemerintah Indonesia yaitu walikota dan bupati. 370). akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron). [sunting]Masa kolonial dan kemerdekaan Sesudah kejadian tersebut. pemerintah Kolonial Belanda pun semakin dalam ikut campur dalam mengatur Cirebon. yaitu tempat belajar para intelektual keraton. dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. dan keraton masingmasing. maka orang lain yang dapat memangku jabatan itu sebagai pejabat sementara. yaitu Sultan Sepuh. Tahun 1942. Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi. Pada masa kemerdekaan. Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Dengan demikian. 1926 No. Pangeran Martawijaya. rakyat. dimana kekuasaan pemerintahan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan disahkannya Gemeente Cheirebon (Kota Cirebon). Sultan Anom. Dalam tradisi kesultanan di Cirebon. [sunting]Perkembangan terakhir Setelah masa kemerdekaan Indonesia. Jika terpaksa. 122 dan Stlb. Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya besluit (Bahasa Belanda: surat keputusan) Gubernur-Jendral Hindia Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan. Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2. 1906 No. [sunting]Perpecahan II (1807) Suksesi para sultan selanjutnya pada umumnya berjalan lancar. wilayah Kesultanan Cirebon tercakup dalam Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon.100 Hektar. dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. dimana terjadi perpecahan karena salah seorang putranya.Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon. karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten. Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926. Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon. Secara umum. suksesi kekuasaan sejak tahun 1677 berlangsung sesuai dengan tradisi keraton. Pangeran Kartawijaya. Kesultanan Cirebon turut serta dalam berbagai upacara dan perayaan adat masyarakat dan telah beberapa kali ambil bagian dalam Festival Keraton Nusantara (FKN).

sedangkan Keraton Kanoman sebagai istana Sultan Anom berdiri tahun 1622. Pelantikan kedua sultan ini diperkirakan menimbulkan perpecahan di kalangan kerabat keraton tersebut. dan yang terkemudian adalah Keraton Kacirebonan dan Keraton Kaprabonan. untuk pengangkatan tahta Sultan Kanoman XII. .Umumnya. Keraton Kasepuhan sebagai istana Sultan Sepuh dianggap yang paling penting karena merupakan keraton tertua yang berdiri tahun 1529. telah terjadi konflik internal di keraton Kanoman. Pada awal bulan Maret 2003. antara Pangeran Raja Muhammad Emirudin dan Pangeran Elang Muhammad Saladin.

Buku ini menarik untuk dibaca karena menyajikan faksi dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Ulama besar yang pernah mengunjungi Negeri Tiongkok untuk menyebarkan ajaran Islam lewat tata cara ibadah shalat ini telah membuat sang putri kaisar jatuh cinta. yang membedakan dari putri-putri China lainnya. . Legenda bokor kuningan di perut sang putri yang menghilang berkat kesaktian sang ulama mampu membuka hati Putri Ong Tien untuk mengikuti ajaran Islam. Putri Ong Tien memang hanya salah satu putri Tiongkok yang pernah bermukim dan menikah di Tanah Jawa. serta perjuangannya meleburkan diri dengan kebudayaan di Cirebon.Siapakah Putri Ong Tien? Dialah Putri Kaisar Hong Gie dari masa Dinasti Ming yang rela menempuh perjalanan panjang melintasi Laut China Selatan dan Laut Jawa demi menjadi istri Sunan Gunung Jati. Namun. Untaian fakta dan fiksi dalam buku ini mengangkat dengan sangat indah suka duka sang putri sebagai putri kaisar. Banyak barang kerajinan China peninggalannya yang menjadi warisan budaya bernilai tinggi. saat-saat perjumpaannya dengan Sunan Gunung Jati. Bacaan yang mampu mengajak siapa saja lebih memahami sekaligus menghargai warisan sejarah dan budaya bangsa. dia menorehkan sejarah sebagai perempuan asing yang berhasil masuk ke lingkaran keluarga Kesultanan Cirebon dan ikut dimakamkan di Kompleks Pemakaman Keramat Sunan Gunung Jati.

1:59 a. Perjalanan Putri Ong Tien ke tanah Jawa berlanjut. apalagi untuk seorang perempuan. menikah dengannya. Konon nama Pai Li Bang kemudian menjadi nama Kota Palembang sekarang. Sebuah versi menceritakan. Karena banyak orang berhasil disembuhkan Syarif Hidayatullah. Oleh masyarakat Sriwijaya. Sebagai seorang putri dari negeri yang besar. Tapi ia berhasil. Putri Ong Tien diangkat menjadi semacam Menteri Keuangan. Ia merupakan putri Tiongkok anak Kaisar Hong Gie dari masa Dinasti Ming. memeluk Islam. dan mempelajari Islam dengan lebih mendalam. mengundangnya ke Istana. khususnya di Jawa Barat. Kaisar Hong Gie yang tak lain ayah Putri Ong Tien. Bagi masyarakat Islam Jawa. Dalam buku ini dikisahkan bagaimana Ong Tien untuk pertama kalinya bertemu dengan Syarif Hidayatullah di istana kerajaan Tiongkok. menyatukan fakta historis dengan pendekatan fiksi sebagaimana dalam novel ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Jaman itu perjalanan laut yang memakan waktu berbulanbulan sangatlah berbahaya. Padahal. masuknya Putri Ong Tien ke dalam Islam tak pelak memberi warna tersendiri dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. cerita tentang putri Ong Tien sudah dikenal sejak lama.Putri Ong Tien Yayat Suratmo Published 12/15/2010 . Hingga akhir hayatnya Putri Ong Tien digambarkan sebagai perempuan yang patuh kepada suami sebagai kepala keluarga. Di sana ia menjadi seorang tabib sekaligus berdakwah menyiarkan Islam. Maka ketika Syarif Hidayatullah kembali ke tanah Jawa. salah satu dari sembilan wali di tanah Jawa. GMT Putri Ong Tien adalah istri dari Syarif Hidayatullah yang tiada lain Sunan Gunung Jati. termasuk ketika keinginannya untuk memperoleh keturunan tidak dikabulkan oleh Tuhan. Pai Li Bang adalah murid Syarif Hidyatullah selama menjadi tabib di Tiongkok. Apa yang dikatakan oleh sang suami selalu menjadi kekuatan baginya untuk menghadapi konflik batinnya.m. Bahkan makamnya yang bersebelahan dengan makam Sunan Gunung Jati di Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati. Putri Ong Tien langsung kagum akan kepandaian Syarif Hidayatullah. Dalam perjumpaan pertama itu. Pai Li Bang ini selanjutnya menjadi Adipati. Kaisar Hong Gie menyetujuinya dan memberikan sejumlah bekal serta tiga pengawal yang salah satunya bernama Pai Li Bang. Novel ini sungguh memberikan pengetahuan luas terhadap perkembangan Islam di tanah Jawa. masih sering diziarahi hingga kini. Diceritakan. Penulis Winny Gunarti tampak begitu piawai merangkai fakta sejarah dengan kisah interpretatif yang dilukiskannya. Putri Ong Tien minta ijin kepada ayahnya untuk menyusul. . Namun Putri Ong Tien berhasil melaluinya dan akhirnya bertemu dengan Syarif Hidayatullah. Cirebon. Jawa Barat. Ketika itu Syarif Hidayattullah memang sedang berada di Tiongkok. semasa mendampingi Sunang Gunug Jati memimpin Cirebon. bahwa rombongan putri Ong Tien sempat singgah ke kerajaan Sriwijaya.

Meskipun Kaisar menyayangi Putri Ong Tien. Ada apa dengan beliau? Yang menjadi Putri Ong Tien disebut dalam sejarah Indonesia. Ia pun memperkenalkan motif-motif baru. tapi tidak setiap saat mereka bisa bertemu dan berbicara dengan santai. Putri Ong Tien mengikuti semua aturan yang telah ditetapkan oleh kaisar sebagai Anak Langit. Putri Ong Tien pun menikah dengan Sunan Gunung Jati dan memeluk agama Islam. Putri Ong Tien jatuh cinta pada pria yang baru ia lihat. Salah satunya nih. . Hari-hari Putri Ong Tien dihabiskan dengan mempelajari kaligrafi Cina dan filsafat Cina. banyak pengentahuan baru yang gue dapat dari membaca buku ini. “Pe-de banget putri ini. Kecakapan dan tutur kata Sunan Gunung Jati mampu merebut hatinya. Meskipun gue berpikir. Maka diundanglah ulama itu ke Kerajaan dan diminta untuk membuktikan kebenaran atas kesaktiannya itu. yaitu Sunan Gunung Jati atau dikenal juga dengan nama Syarif Hidayatullah. Ulama itu – sang Sunan Gunung Jati – akhirnya pergi. tapi tak berdaya untuk membebaskan selir itu dari hukuman raja. Hihihi. “Kesaktian‟ ulama itu terdengar sampai ke telinga Kaisar. Tapi. ia merasa iba. :D Tapi gue rada bingung. Beliau hanya meminta orang yang sakit itu melakukan gerakan-gerakan sholat dan Insya Allah. sebagai Kaisar itu tidak percaya begitu saja dengan berita itu. Terbetik kabar bahwa seorang ulama dari Jawa bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit tanpa obat-obatan seperti yang selama ini dilakukan oleh para tabib Cina. Pada masa itu pula. Dinding di depan makam Putri Ong Tien dihiasi dengan keramik asal Cina yang ia bawa ketika berlayar ke Tanah Jawa. Bahkan salah satu daerah di Cina. asal kata kota Palembang.” Halahh…. Putri Ong Tien rela meninggalkan Cina. kala salah satu selir raja tertimpa musibah.. tapi meninggalkan „penderitaan‟ pada Putri Ong Tien. Kaisar sudah mempersiapkan sebuah tebakan. Ia dimakamkan di Kompleks Pemakaman Keramat Sunan Gunung Jati. Putri Ong Tien meninggal dunia karena sakit. Kaisar yang merasa dipermalukan mengusir ulama itu dari istana. berlayar jauh-jauh demi cinta. yaitu kota Xian jadi daerah yang populasi penduduk Islam paling banyak. apakah buku ini dikategorikan sebagai „historical fiction‟ atau bukan? Dan apa maksudnya dengan fakta-fiksi? Di belakang buku ini kategorinya adalah non-fiksi/sejarah. sembuhlah orang itu. Tapi sayang. Wah. karena ia adalah salah satu istri ulama besar Indonesia. mengarungi lautan yang ganas menuju tanah Jawa. penyebaran agama Islam sudah sampai ke Cina. Demi bertemu kembali pria pujaannya itu. gue memang orang Palembang yang „kafir‟.Putri Ong Tien – putrid Kaisar Hong Gue di masa Dinasti Ming. Putri Ong Tien adalah putri yang kritis. Sebagai putri kaisar. Hari-harinya di Cirebon dihabiskan dengan membatik.

Karya buku Islam-nya. novelet remaja. dan kini tengah menyelesaikan Program Magister Desain di FSRD Universitas Trisakti. Suara Pembaruan. yang membedakan dari putri-putri China lainnya. serta naskah drama radio di Radio Amigos Jakarta. saat-saat perjumpaannya dengan Sunan Gunung Jati. dia menorehkan sejarah sebagai perempuan asing yang berhasil masuk ke lingkaran keluarga Kesultanan Cirebon dan ikut dimakamkan di Kompleks Pemakaman Keramat Sunan Gunung Jati. Legenda bokor kuningan di perut sang putri yang menghilang berkat kesaktian sang ulama mampu membuka hati Putri Ong Tien untuk mengikuti ajaran Islam.Siapakah Putri Ong Tien? Dialah Putri Kaisar Hong Gie dari masa Dinasti Ming yang rela menempuh perjalanan panjang melintasi Laut China Selatan dan Laut Jawa demi menjadi istri Sunan Gunung Jati. Ulama besar yang pernah mengunjungi Negeri Tiongkok untuk menyebarkan ajaran Islam lewat tata cara ibadah shalat ini telah membuat sang putri kaisar jatuh cinta. Kawanku.5 x 20 cm Tebal: 216 halaman Cover: Soft Cover ISBN: 978-979-22-6213-1 Kategori: Nonfiksi/Sejarah Tentang Pengarang: Winny Gunarti HJ. keduanya diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2009. WINNY GUNARTI lahir di Jakarta. serta perjuangannya meleburkan diri dengan kebudayaan di Cirebon. Periode tahun 1982 hingga 1997 banyak menulis cerita remaja di majalah Anita Cemerlang. sekaligus merangkap sebagai Reporter Majalah Interior-Arsitektur Laras. Mutiara. Fantasi. Untaian fakta dan fiksi dalam buku ini mengangkat dengan sangat indah suka duka sang putri sebagai putri kaisar. Dimensi: 13. Periode tahun 1996 hingga 2001 berkecimpung dalam bidang advertorial di Kelompok Kompas Gramedia. Selepas kuliah menjadi Redaktur Majalah Anak-Anak Siswa. telah menulis lima buku tentang seni desain. ikut berpartisipasi dalam buku Antologi Cerpen dan Puisi Wanita. serta menjadi penulis lepas di Kompas edisi Anak hari Minggu. Namun. Sarjana Komunikasi dari FISIP Universitas Indonesia. Buku ini menarik untuk dibaca karena menyajikan faksi dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Banyak barang kerajinan China peninggalannya yang menjadi warisan budaya bernilai tinggi. Al-Qur`an Menjawab dan 40 Keajaiban Naik Haji: Kisah Nyata Para Tamu Allah Di Tanah Suci. Bacaan yang mampu mengajak siapa saja lebih memahami sekaligus menghargai warisan sejarah dan budaya bangsa. 6 Mei 1967. Saat ini aktif menulis tentang anak dan seni. . meraih diploma Special Needs Management dari Council of Allied Educators. Tahun 1995 dan 1998 pernah meraih penghargaan sayembara mengarang cerpen Femina. Sempat menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Internal Bank Universal Jakarta dan bergabung dengan Yayasan Obor Indonesia di bawah pimpinan almarhum Mochtar Lubis sebagai editor. Putri Ong Tien memang hanya salah satu putri Tiongkok yang pernah bermukim dan menikah di Tanah Jawa. Sejak tahun 1979 menulis cerpen dan puisi di Sinar Harapan. dan Republika.yang telah terbit adalah Anak Punya Masalah. divisi Gramedia Majalah.

Perkembangan perkotaan yang dirasa semakin tidak terkendali semestinya dapat dibatasi dengan perencanaan yang turut mendasarkan perkembangan beberapa bagian wilayah kota pada studi sejarah dari masa Kesultanan Cirebon hingga menjadi Kota Cirebon seperti sekarang. Keempat keraton tersebut memiliki potensi dan kekurangannya masing. Tertutup oleh bangunan-bangunan lain yang menyembunyikan keberadaan keraton yang dulunya pusat sebuah kota bernama Cirebon. jika keraton dilihat dalam pengertian arsitektural. Keprabonan. namun dalam pengertian fisik bangunan tengaran di dalam kota. Maksudnya tidak lain adalah terasi yang dibuat dari rebon (udang kecil). Namun. seperti alun-alun. sehingga mereka diminta untuk menghadap Raja dan mempersem bahkan oleh-oleh terasi tersebut. (Keraton Kasepuhan tertutup oleh bangunan-bangunan perumahan yang mengelilinginya. Sejarah tersebut dapat terceritakan kembali secara detail saat kita mengunjungi setiap keraton yang terdapat di Cirebon. Keraton Jika dilihat dari pengertian keraton sebagai wadah institusional kesultanan. Sesampainya di Rajagaluh. Cirebon sebenarnya memiliki empat buah Keraton. budaya dan sejarah lokalnya. Kanoman. Sementara kedua keraton yang lain (dalam pengertian arsitektural) lebih tepat dibilang sebagai bangunan ndalem. mulai dari terbentuknya Kesultanan Cirebon hingga terbagi menjadi empat kepemimpinan seperti sekarang. Para abdi memasak terasi tersebut menjadi hidangan istimewa. dll (CMIIW). pada saat ini daerah kesultanan justru menjadi daerah yang tertinggal dalam hal pengembangan kota. Kekuatan dan potensi sejarah mampu menjadi alur yang kuat untuk membawa pengembangan fisik Kota Cirebon menjadi objek wisata budaya misalkan seperti Yogyakarta yang mapan dengan Keraton. masjid agung. Hal ini sampai ke telinga Raja.Cirebon berasal dari kata cai dan rebon. Para utusan itu merasa puas dengan hidangan yang disediakan tuan rumah. Keraton-keraton yang berada di Cirebon telah menjadi saksi sejarah panjang Kota Cirebon sejak abad 13 hingga sekarang. Pada suatu ketika rombongan tamu dari Raja Galuh berkunjung ke Cirebon. siti inggil. Keraton menjadi sebuah tengaran (landmark) hanya dalam pengertian tengaran dalam sejarah panjangnya. karena hanya kedua Keraton tersebut yang memiliki bagian-bagian bangunan yang seharusnya ada dalam sebuah komplek keraton. dan Kacirebonan. Setiap situs yang tertinggal di keraton-keraton ini memiliki falsafah yang luhur yang (semestinya) mampu menjadi potensi filosofis sebuah kota untuk maju dan berkembang. mereka memperkenalkan oleh-oleh berupa terasi kepada saudara dan tetangga yang diterima dengan senang hati. Suguhan tersebut dimasak dengan bumbu terasi. hal-hal tersebut dapat menjadi . Keraton Kanoman tertutup oleh besarnya Pasar Kanoman yang juga sekaligus menjadi gerbang masuk utama menuju Keraton Kanoman). yaitu Kasepuhan. yang cocok disebut sebagai (bangunan) keraton hanyalah Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Maka sejak itu Raja menyuruh penduduk Galuh untuk berdagang dengan Cirebon terutama terasi. Keraton tidak cukup kuat lagi keberadaannya. Namun sangat disayangkan.

ia tetap harus mampu melihat dan menyelami keadaan setiap rakyat yang berada dibawahnya”. sebab suara kerikil akan langsung terdengar begitu ada yang menginjak dan berjalan diatasnya. Alun-alun sendiri yang seharusnya menjadi potensi sebagai ruang publik bagi masyarakat cirebon. Keraton ini juga memiliki wilayah kekeratonan yang terluas. Keraton Pakungwati dibangun menghadap ke arah Laut Jawa dan membelakangi Gunung Ciremai. Atau kerikil-kerikil yang tersebar merata ditanah disepanjang pinggir pagar yang ditujukan untuk mengantisipasi penyusup yang masuk. dan acara-acara tertentu. 1. Pada masa awal didirikannya Keraton Kasepuhan ini. saya dan kawan saya terpesona dengan setiap maksud atau filosofi yang dijelaskan oleh pemandu akan setiap bagian bangunan atau koleksi dari keraton. namun dibuat membelok dan dapat lebih mudah diatasi. Sementara itu. Keraton Kasepuhan memiliki sejarah yang paling panjang dibanding ketiga keraton lainnya. keraton ini terletak di selatan alun-alun dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa di barat alun-alun. Saat saya berkunjung kesana. meraka tidak dapat langsung melihat dan menyerang menuju singgasana. kurang berfungsi optimal selain sebagai tempat untuk pelaksanaan tradisi di hari-hari tertentu. wilayah Baluarti kekeratonannya mencapai lebih dari 10 Ha. Dan masih banyak lagi penjelasan yang indah akan kebijaksanaan dan kearifan yang semestinya dimiliki seorang Sultan pada setiap bagian keraton. Misalkan: selasar menuju Bangsal Prabayaksa (singgasana sultan) yang dibuat tidak tegak lurus terhadap bagian teras depan bangunan keraton. Lazimnya sebuah keraton di Pulau Jawa. “Setinggitingginya seorang pemimpin terbang dan berada di langit kepemimpinannya. Hal ini ternyata dimaksudkan agar apabila ada musuh menyerang. Keraton Kasepuhan Sebagai keraton Kesultanan Cirebon yang pertama.pertimbangan untuk pengembangan lingkungan sekitar keraton selanjutnya. Bangunan ini terdapat disebelah timur bangunan Keraton Pakungwati II yang dibangun pada masa selanjutnya (bangunan Keraton yang lebih baru yang akan kita temui saat masuk melalui Siti Inggil). banyak juga falsafah hidup masyarakat cirebon dulu yang dapat dipelajari di dalam keraton ini. . Beberapa penjual Nasi Lengko bisa kita temui di depan Masjid Agung. penjara di utara alun-alun dan pasar di timur alun-alun sudah tidak ada lagi. Selebihnya alun-alun di Keraton Kasepuhan hanya menjadi lapang kosong yang minim aktivitas didalamnya. bagian yang pertama kali dibangun adalah bangunan Keraton Pakungwati I (Jika kita ke Keraton Kasepuhan. Sebuah filosofi akan kearifan dan kebijaksanaan sultan salah satunya diceritakan oleh pemandu saat menjelaskan mengenai sebuah tandu bebrbentuk makhluk berkepala burung dan berbadan ikan. namun disisi lain kondisi alun-alun relatif sepi. akan dibawa kemanakah pengembangan fisik lingkungan sekitar keraton-keraton ini selanjutnya. bangunan ini terletak di bagian timur komplek Keraton). Banyak sejarah penting yang tersimpan di dalam keraton ini.

Setelah melewati patung berbentuk naga. disini terdapat koleksi piring-piring antik dari Eropa. Di luar bangunan Kraton terdapat sebuah bangunan bergaya bali yang disebut dengan Balai Manguntur yang terbuat dari Batu merah. Dan menjadi potensi wisata bagi para pengunjung Kota Cirebon. pada masa itu bangunan ini menjadi bangunan terpenting bagi perekonomian Kesultanan Cirebon. Bahkan kerata yang disebut-sebut merupakan duplikat dari kereta yang terdapat di Keraton Kanoman. Bangunan Kraton Kanoman seluruhnya menghadap ke utara. dimana setiap barang yang masuk dari luar kerajaan dibawa oleh perahu yang berlayar dari arah laut jawa untuk kemudiang menyusuri kali Krayan. Kraton Kanoman juga mempunyai museum dengan pintu-pintunya yang berukir. Selesai mengunjungi Kraton Kanoman ada baiknya anda melihat-lihat Pasar Kanoman yang terletak persis di depan Kraton. sebuah istana yang lebih kecil ukurannya dari pada Kraton Kasepuhan. dan memasuki Bangunan Lawang Sanga ini (saya jadi terbayang hebatnya perekonomian Cirebon pada masa itu. Fungsi bangunan ini adalah tempat kedudukan Sultan apabila menghadiri Upacara seperti apel prajurit atau menyaksikan pemukulan gamelan Sekaten pada tanggal 8 Maulid dan lain-lain. Di dekat bangunan Balai Maguntur ini terdapat sebuah pohon beringin yang berukuran besar. . Sebagaimana umumnya Kraton di Jawa. Koleksi museum lainnya adalah aneka senjata seperti keris dan tombak. termasuk Arab dan Cina. koleksi terpenting museum ini adalah Kereta Perang Paksi Naga Liman dan Kereta Jempana dengan bentuk mirip seperti kereta pada Kraton Kasepuhan. Bangunan ini merupakan bangunan kepabeanan pada masa Kesultanan Cirebon dulu. 2. pengunjung akan sampai di bangunan Kraton Kanoman. Keraton Kanoman Tidak jauh dari Kraton Kasepuhan terdapat sebuah Kraton lain bernama Kraton Kanoman yang di bangun pada tahun 1588 oleh Sultan Badaruddin yang memisahkan diri dari Kesultanan utama Cirebon karena berbeda pendapat dengan saudaranya mengenai siapa yang berhak menjadi ahli waris Kesultanan Cirebon. Kraton Kanoman mempunyai pendopo dengan sebuah altar didalamnya. Ada juga masyarakat yang mengatakan bahwa Balai Maguntur diartikan sebagai Balai mangunn tutur yang artinya tempat sultan berpidato atau berbicara kepada masyarakat tentang hukum dan agama. tepat di sisi Sungai Krayan. Museum yang terdapat di Kraton Kanoman ini tidak memiliki jadwal kunjungan yang teratur. sebagai tempat bea dan cukai kesultanan cirebon dahulu kala. Pemugaran kawasan Kesultanan Kasepuhan ini dapat mengembalikan sejarah yang mungkin telah terlupa bagi sebagian masyarakat Cirebon saat ini. dengan perahu-perahu yang menyusuri kali membawa barang dagangan dari daerah-daerah lain.Perca lain dari sejarah yang tersisa adalah bangunan Lawang Sanga di bagian selatan Kerat0n. gamelan dan lain-lain. Kereta yang terdapat di Krataon Kanoman ini di klaim sebagai yang kereta yang lebih tua. Pengunjung yang datang kesini harus melapor dan mengisi buku tamu dan pemandu akan membukakan pintu museum dan menemani pengunjung berjalan mengelilingi museum.

ruko-ruko di sepanjang jalan Lemahwungkuk yang terleta di sebalah timur Keraton Kanoman. tidak memiliki alun-alun. Dan lebih daripada itu. Komplek Keraton Kanoman sendiri memiliki ruang yang cukup menarik sebagai tempat wisata. Sebagai situs sejarah. Kami sampai-sampai melewati gerbang masuknya karena tidak menyadari bahwa jalan masuk Keraton Keprabon tersebut hanya berupa gang kecil. Alun-alun ini lebih terlihat sebagai ruang perluasan Pasar Kanoman. dan bagian dari garis sejarah Kesultanan Cirebon. karena Keraton Keprabon tidak memiliki struktur sebuah komplek atau bangunan keraton. 3. lebih berbentuk rumah dengan halaman kecil didalamnya. Sama seperti Keraton Keprabon. Keraton ini memiliki aksesibilitas yang paling mudah dibanding ketiga keraton lainnya karena terletak tepat dipinggir sebuah jalan besar. Apalagi sambil menikmati tahu gejrot yang pedas dan segar. terletak di pinggir jalan besar Pulosaren. keraton ini sebaiknya mudah dijangkau oleh setiap warga kota dan wisatawan. Keraton ini dari segi arsitektural lebih tepat disebut bangunan Ndalem. Maknyuss. 4. Keraton Kacirebonan Kesultanan Kacirebonan merupakan kesultanan pecahan dari Kesultanan Kanoman. Namun demikian pada acara-acara tradisi tertentu lapangan ini akan berubah menjadi lautan orang yang membludak ingin mengikuti tradisi seperti Muludan dan acara-acara tradisi lainnya. tidak menunjukkan kemewahan dan kemegahan sebuah keraton. alun-alun keraton yang seharusnya menjadi ruang publik yang terbuka sebagai tempat aktivitas warga saat ini kurang berfungsi secara optimal sebagai ruang publik. Keraton Keprabon Keraton Keprabon terletak di Jalan Lemah Wungkung. namun lebih terlihat sebagai sebuah kediaman pemangku adat (Ndalem). (lagi) bagian sejarah yang menyambung dari sejarah Kesultanan Kasepuhan bisa diketahui dari Keraton ini. dengan pohonpohon beringin yang rimbun serta taman-taman keraton yang dikelilingi benteng bata menjadi sebuah oase yang sejuk di tengah Kota Cirebon yang cukup panas. bangunan Keraton Kacirebonan . dan masjid agung.Pada komplek Keraton Kanoman inilah pertama kali dibangun sebuah bangunan kerajaan sebelum pindah ke Pakungwati 1 di lokasi Keraton Kasepuhan. tertutup oleh bangunan Pasar Kanoman di bagian utara. kondisi yang harus segera diperbaiki dan dikembangkan fungsinya. Bangunan Keraton nyaris tenggelam diantara bangunan-bangunan yang mengelilinginya. dan bangunan perumahan permukiman di sebelah selatan dan baratnya. bangunan tersebut merupakan bangunan tertua di Cirebon. sesederhana apapun bentuk bangunannya. keraton ini tetap merupakan potensi yang patut dikembangkan. Bangunan di dalamnya pun sangat sederhana. Seperti di Keraton Kasepuhan. di dekat Keraton Kanoman. Komplek Keraton ini terpencil keberadaannya di tengah Kota Cirebon. Akses masuk keraton ini adalah sebuah gang selebar 3 meter diantara deretan ruko. dibandingkan sebagai ruang depan Keraton Kanoman. Padahal sebagai potensi sebuah kota.

Bentuk bangunannya lebih seperti bangunan pembesar pada zaman kolonial Belanda. Ternyata di Keraton Kacirebonan ini budaya tersebut masih terus dilestarikan dengan sanggar tarinya. Beberapa pemuda pertukaran budaya dari Brazil sempat belajar tari topeng disini. Di Keraton ini terdapat sebuah sanggar tari topeng cirebon yang sudah mulai ditinggalkan.tidak termasuk tipologi arsitektural bangunan keraton. sayang sekali bila harus punah dan tidak ada yang melestarikannya. dengan pengaruh arsitektur eropa yang kuat. Tari Topeng Cirebon sangat khas dan menarik. . seorang wanita dari keraton tersebut yang mengantarkan kami melihat-lihat bangunan keraton dengan bangganya memperlihatkan foto-foto para bule tersebut menari topeng. Kalau ada yang bertanya mengapa Keraton di Cirebon banyak sekali itu semua terkait dengan perjalanan sejarah Kesultanan Cirebon yang juga penuh intrik dan perseteruan antar saudara (putra mahkota). Satu potensi lain dari satu keraton lain di Cirebon.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful