Anda di halaman 1dari 8

Definisi dan Istilah Hukum Persaingan Bisnis Di dalam dunia bisnis tidak terlepas dari hal yang namanya

persaigan. Dalam prakteknya juga persaingan kerap kali terkesan melakukan berbagai tindakan yang merugikan para pesaingnya yang kurang dominan sehingga menimbulkan peluang untuk melakukan praktek monopoli. Untuk mengatsasi hal tersebut di indonesia dibentuk Undang-undang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat atau dikenal juga sebagai hukum persaingan bisnis. Hukum persaingan bisnis adalah hukum yang mengatur hukum yang mengatur tentang persaingan usaha di bidang ekonomi. terdapat beberapa macam istilah yang digunakan oleh beberapa negara mengenai Hukum persaingan bisnis diantaranya yakni : 1. Antitrust Law-amerika 2. Antimonopoly Law-jepang 3. Retristive Trade Practice Law-australia 4. Competition Law-eropa sedangkan istilah yang digunakan diIndonesia adalah Larangan Praktek Monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, pengaturan hal ini terpapar dalam undang-undang nomor 5 tahun 1999. Antitrust untuk pengertian yang sepadan dengan istilah anti monopoli atau istilah dominasi yang dipakai masyarakat Eropa yang artinya juga sepadan dengan arti istlah monopoli Disamping itu terdapat istilah yang artinya hampir sama yaitu kekuatan pasar. Dalam praktek ke-empat kata tersebut, yaitu istilah monopoli, antitrust, kekuatan pasar dan istilah dominasi saling dipertukarkan pemakaiannya. Keempat istilah tersebut dipergunakan untuk menunjukkan suatu keadaan dimana seseorang menguasai pasar. Pengertian Praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat menurut UU No.5 Tahun 1999 tentang Praktek monopoli adalah pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Ada lagi yang mengartikan kepada tindakan monopoli (yang umum) sebagai suatu hak atau kekuasaan hanya untuk melakukan suatu kegiatan atau aktivitas yang khusus, seperti membuat suatu produk tertentu, memberikan suatu jasa, dan sebagainya. Atau, suatu monopoli (dalam dunia usaha) diartikan sebagi pemilikan atau pengendalian persediaan atau pasaran untuk suatu

produk atau jasa yang cukup banyak untuk mematahkan atau memusnahkan persaingan, untuk mengendalikan harga, atau dengan cara lain untuk membatasi perdagangan.

Sejarah Hukum Anti Monopoli di Indonesia Tidak banyak yang dicatat dalam sejarah Indonesia di seputar kelahiran dan perkembangan hukum anti monopoli ini. Yang banyak dicatat adalah sejarah justru tindakan-tindakan atau perjanjian dalam bisnis yang sebenarnya harus dilarang oleh Undang-Undang Anti Monopoli. Dimasa orde baru Soeharto misalnya, di masa itu sangat banyak terjadi monopoli, oligopoly dan perbuatan lain yang menjurus kepada persaingan curang. Misalnya monopoli tepung terigu, cengkeh, jeruk, pengedaran film dan masih banyak lagi. Bahkan dapat dikatakan bahwa keberhasilan beberapa konglomerat besar di Indonesia juga bermula dari tindakan monopoli dan persaingan curang lainnya, yang dibiarkan saja bahkan didorong oleh pemerintah kala itu. Karena itu tidak mengherankan jika cukup banyak para praktisi maupun teoritisi hukum dan ekonomi kala itu yang menyerukan agar segera dibuat sebuah Undang-undang Anti Monopoli. Namun sampai dengan lengsernya Mantan Presiden Soeharto, dimana baru dimasa reformasi tersebut diundangkan sebuah undang-undang Anti Monopoli No 5 Tahun 1999. Memang sebelum lahirnya Undang-undang anti monopoli secara sangat minim dalam beberapa undangundang telah diatur tentang monopoli atau persaingan curang ini sangat tidak memadai, ternyata tidak popular dimasyarakat dan tidak pernah diterapkan dalam kenyataannya. Ketentuan tentang anti monopoli atau persaingan curang sebelum diatur dalam Undang-undang anti monopoli tersebut, diatur dalam ketentuan ketentuan sebagai berikut :

Undang- undang no 5 Tahun 1984 tentang perindustrian. Diatur dalam Pasal 7 ayat (2) dan (3), pasal 9 ayat (2) Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Terdapat satu pasal yaitu pasal 382 bis. Undang-undang Perseroan Terbatas No 1 Tahun 1995 Ketentuan monopoli diatur dalam pasal 104 ayat (1)

Latar belakang diundangkannya Undang-undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Lembaran Negara RI No. 33 Tahun 1999) adalah karena sebelum UU tersebut diundangkan muncul iklim persaingan usaha yang tidak sehat di Indonesia, yaitu adanya pemusatan kekuatan ekonomi pada perorangan atau kelompok tertentu, baik itu dalam bentuk monopoli maupun bentuk-bentuk persaingan usaha tidak sehat lainnya. Pemusatan kekuatan ekonomi pada kelompok pengusaha tertentu terutama yang dekat dengan kekuasaan, telah menyebabkan ketahanan ekonomi Indonesia menjadi rapuh karena bersandarkan pada kelompok pengusaha-pengusaha yang tidak efisien, tidak mampu berkompetisi, dan tidak memiliki jiwa wirausaha untuk membantu mengangkat perekonomian Indonesia.2 UU No. 5/1999 ini diundangkan setelah Indonesia mengalami krisis ekonomi di tahun 19971998 yang meruntuhkan nilai rupiah dan membangkrutkan negara serta hampir semua pelaku ekonomi. Undang-undang ini juga merupakan salah satu bentuk reformasi ekonomi yang disyaratkan oleh International Monetary Fund untuk bersedia membantu Indonesia keluar dari krisis ekonomi.3 Undang-undang ini berlaku efektif pada tanggal 5 Maret 2000. Untuk mengawasi dan menerapkan Undang-undang ini dibentuk Komisi Pengawas Pengawas Persaingan Usaha atau disingkat KPPU (berdasar pasal 30 UU No. 5/1995) Secara umum, isi UU No. 5/1999 telah merangkum ketentuan-ketentuan yang umum ditemukan dalam undang-undang antimonopoli dan persaingan tidak sehat yang ada di negara-negara maju, antara lain adanya ketentuan tentang jenis-jenis perjanjian dan kegiatan yang dilarang undangundang, penyalahgunaan posisi dominan pelaku usaha, kegiatan-kegiatan apa yang tidak dianggap melanggar undang-undang, serta perkecualian atas monopoli yang dilakukan negara. Sejauh ini KPPU telah sering menjatuhkan keputusan kepada para pelaku usaha di Indonesia yang melakukan perjanjian-perjanjian atau kegiatan-kegiatan yang dikategorikan terlarang oleh UU No. 5/19994 serta yang menyalahgunakan posisi dominan mereka. Akan tetapi, sejauh ini KPPU belum pernah memberi keputusan yang berkaitan dengan kegiatankegiatan usaha yang dikecualikan dari ketentuan UU No. 5/1999, padahal terdapat sepuluh jenis perjanjian dan kegiatan usaha yang dikecualikan dari aturan UU No. 5/1999 (sebagaimana diatur di pasal 50 dan 51 UU No.5/19996). Sepuluh jenis perjanjian dan kegiatan usaha yang

dikecualikan tersebut berpotensi menimbulkan masalah dalam pelaksanaannya karena dimungkinkan munculnya penafsiran yang berbeda-beda antara pelaku usaha dan KPPU tentang bagaimana seharusnya melaksanakan sepuluh jenis perjanjian dan kegiatan usaha tersebut tanpa melanggar UU No. 5/1999. Bisa jadi suatu perjanjian atau suatu kegiatan usaha dianggap masuk dalam kategori pasal 50 UU No. 5/1999 oleh pelaku usaha, tetapi justru dianggap melanggar undang-undang oleh KPPU. Oleh karena itu, perlu adanya ketentuan lanjutan yang lebih detil mengatur pelaksanaan sepuluh jenis perjanjian dan kegiatan usaha tersebut demi menghindarkan salah tafsir dan memberikan kepastian hukum baik bagi pengusaha maupun bagi KPPU. Sebagaimana dapat dibaca di pasal 50 dan 51, aturan tentang sepuluh jenis perjanjian dan kegiatan usaha tersebut masing-masingnya diatur dengan sangat singkat, dalam satu kalimat saja. Salah satu kegiatan/perjanjian usaha yang tidak dikategorikan melanggar UU No. 5/1999 adalah perjanjian dan atau perbuatan yang bertujuan untuk ekspor yang tidak mengganggu kebutuhan dan atau pasokan pasar dalam negeri (pasal 50 huruf g UU No. 5/1999). Undang-Undang Anti Monopoli Indonesia Undang-Undang Anti Monopoli No 5 Tahun 1999 memberi arti kepada monopolis sebagai suatu penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha (pasal 1 ayat (1) Undang-undagn Anti Monopoli. Sementara yang dimaksud dengan praktek monopoli adalah suatu pemusatan kekuatan ekonomi oleh salah satu atau lebih pelaku yang mengakibatkan dikuasainya produksi atau pemasaran atas barang atau jasa tertentu sehingga menimbulkan suatu persaingan usaha secara tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Sesuai dalam Pasal 1 ayat (2) UndangUndang Anti Monopoli. Asas dan Tujuan Antimonopoli dan Persaingan Usaha Pelaku usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum.

Dalam penerapanya Hukum persaingan bisnis memiliki tujuan umum dan tujuan khusus, tujuan umum tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Menjaga persaingan antar pelaku usaha tetap hidup; 2. Persaingan antar pelaku usaha dilakukan secara sehat; 3. Konsumen tidak dieksploitasi oleh pelaku usaha; 4. Mendukung sistem ekonomi pasar yang dianut oleh suatu negara; sedangkan tujuan khusus hukum persaingan bisnis tercantum dalam pasal 3 undang-undang persaingan bisnis itu sendiri yang dapat diuraikan sebagai berikut : 1. menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; 2. mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil; 3. mencegah praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha; dan 4. terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha. (Pasal 3 UU No.5/1999) Undang-undang Persaingan Bisnis indonesia yang terbentuk pada tahun 1999 dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, sampai dengan tahun 1998 indonesia belum memiliki undang-undang persaingan bisnis, undang-undang yang digunakan untuk mengatur hal demikian masih menggunakan uu no.5 tahun 1984 tentang perindustrian, pasal 1365 BW dan pasal 382 bis KUHP, sehingga pada tahun 1993 departemen pedagangan, PDI dan fakultas Hukum universitas indonesia membuat naskah akademik undang-undang Persaingan sehat di bidang perdagangan. Kemudian pada tahun 1998 dibuatlah Letter Of Intent antara IMF dan pemerintah Republik indonesia dan disusul dengan inisiatif DPR untuk membuat RUU persaingan bisnis. Sepintas persaingan meimbulkan pemikiran akan adanya jarak atau ketegangan antara para pihak dalam kegiatanya dibidang perdagangan, namun demikian persaingan memiliki makna penting dalam hal kemajuan sistem perdagangan yang modern, keuntungan yang diperoleh dari adanya persaingan yaitu : 1. Persaingan perlu adanya aturan main, karena terkadang tidak selamanya mekanisme pasar dapat berkerja dengan baik (adanya informasi yang asimetris dan monopoli);

2. Untuk meningkatkan efisiensi alokasi; 3. Meningkatkan efisiensi produksi; 4. Menimbulkan dorongan untuk melakukan kemajuan Inovasi. Berikut ini adalah struktur dan materi undang-undang No.5 tahun 1999 1. ketentuan umum 2. asas dan tujuan 3. perjanjian yang dilarang 4. kegiatan yang dilarang 5. Posisi domain 6. KPPU 7. Tata cara penanganan perrkara 8. ketentuan lain 9. sanksi 10. ketentuan peralihan 11. ketentuan penutup Di dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 diklasifikasikan beberapa perjanjian yang

dilarang dalam kegiatan perdagangan. Tindakan ini ditempuh untuk membatasi pihak yang mempunyai kekuatan pasar/Market power dalam mengendalikan kegiatan pasar atau sering dikenal dengan istilah monopoli pasar. perjanjian yang dimaksud tersebut adalah : 1. Perjanjian Tentang Oligopoli, adalah suatu keadaan pasar yang dikuasai oleh beberapa pelaku usaha sebagai Produsen, penjual atau pemegang saham dengan kaitanya terhadap pembeli yang banyak. Mengenai hal ini diatur dalam pasal 4 uu no.5 tahun 1999; 2. Perjanjian penetapan harga, penetapan harga yang dilarang untuk diperjanjikan dikualifikasikan dalam pasal 5 ayat (1) ditujukan pada pembuatan perjanjian oleh pelaku usaha dengan pelaku usaha pesaingnya yang menetapkan harga diatas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar yang sama. namun demikian terdapat pengecualian yang ditentukan dalam pasal 92 yaitu dalam perusahaan yangdibuat dalam suatu usaha patungan dan atau perjanjian yang didasarkan undang-undang yang berlaku;

3. Perjanjian pembagian wilayah, maksudnya pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap barang atau jasa sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; 4. Perjanjian Pemboikotan, dijelaskan dalam pasal 10 ayat (1) bahwa pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang dapat menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan usaha yang sama, baik untuk sasaran pasar domestik maupun luar negeri, hal ini dianggap membatasi pelaku usaha lain dalam menjual atau membeli barang atau jasa dari pasr yang bersangkutan; 5. Perjanjian tentang Kartel, kartel adalah organisasi yang mengontrol kebijakan perdagangan bagi perusahaan yang menjalankan sektor produksi yang sama. Kartel dilarang sebab mengandung unsur berikut : - mengatur produksi dan atau ; - mengatur pemasaran barang atau jasa; - bermaksud untuk mempengaruhi harga ; - berpotensi menimbulkan praktek monopoli; 6. Perjanjiaan tentang pembentukan Trust(kepercayaan), trust didasarkan pada hubungan kepercayaan yang dalam hubungan itu suatu orang lebih bertindak menguasai harta kekayaan tunduk pada kewajiban-kewajiban equity untuk memelihara harta kekayaan itu untuk kepentingan orang lain; 7. Perjanjian Tentang Oligopsoni, oligopsoni adalah keadaan dimana suatu pasar dikuasai oleh beberapa pembeli dalam hubunganya dengan banyak penjual atau produsen. perjanjian ini dilarang oleh pasal 13 karena dalam penerapanya antar pelaku usaha bersama-sama menguasai pembelian atau penerimaan pasokan barang atau jasa dengan tujuan mereka dapat mengendalikan harga barang atau jasa dalam suatu pasar, sehingga menimbulkan potensi terjadinya kegiatan monopoli. 8. Perjanjian Tentang Integrasi keluar, perjanjian ini adalah mengenai perbuatan menguasai produksi sejumlah produk yang prosesnya merupakan rangkaian mata rantai produksi, setiap hasil merupakan hasil proses sebelumnya baik dalam rangkaian langsung maupun tidak langsung, jika proses tersebut dikuasai oleh seihak orang maka sangat berpotensi merugikan masyarakat, maka perjanjian ini dilarang oleh pasal 14.

9. Perjanjian Tertutup, perjanjian ini adalah perjanjian yang memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa hanya akan memasok atau tidak memasok kembali barang dan atau jasa tersebut kepada pihak tertentu dan pada tempat tertentu pula, perjanjian seperti ini hampir mirip dengan perjanjian Pemboikotan oleh karna itu dilarang oleh pasal 15. 10. Perjanjian dengan pihak luar negeri, pelaku usaha diarang membuat perjanjian dengan pihak luar negeri yang berpotensi menimbulkan kegiatan monopoli dan atau PUTS yang tentunya akan merugikan masyarakat luas terutama masyarakat domestik, mengenai pengaturan perjanjian ini terdapat dalam pasal 16.