LAPORAN PENDAHULUAN “HALUSINASI”

Dosen : Venny Elita, S. Kp., MN ( Mental Health ) Oleh : Nama : Nadzla Kirana Nim : 1011121499 Ruang: Kuantan

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2012

(Budi Anna Keliat. 1179 ). Pengertian     Halusinasi adalah persepsi sensori yang salah atau pengalaman persepsi yang tidak sesuai dengan kenyataan ( Sheila L Vidheak. 2. Halusinasi Pengecapan.LAPORAN PENDAHULUAN I. Halusinasi Penciuman. 2001 : 298 ). Halisinasi adalah sensori yang timbul berdasarkan pada stimulus internal yang tidak sesuai kenyataan ( Ruth F. Klien mencium bau – bau yang muncul dari sumber – sumber tertentu tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak menciumnya. Klien mendengar suara dan bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata dan orang lain tidak mendengarnya. Halusinasi pendengaran. 2002 . b. 3. . Halusinasi Perasaan. Klien melihat gambaran yang jelas atau samar – samar tanpa stimulus nyata dan orang lain tidak melihatnya. “Proses Keperawatan Jiwa”. Halusinasi adalah penginderaan tanpa sumber rangsangan eksternal ( Vavold I. 1998 : 267 ). 5. Kasus ( masalah utama ) : Halusinasi a. 4. Cvaven. 1992). Koplen. Halusinasi Penglihatan. 2001 : 23 ). Klien merasa makan sesuatu yang tidak nyata. biasnya merasakan rasa nyaman atau tidak enak. ( Rasmun. Jenis – jenis Halusinasi 1. Klien merasa sesuatu pada kulit tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak merasakannya. Pengertian Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar) dimana klien memberi persepsi atau pendapat tentang sesuatu yang tanpa objek atau rangsangan dari luar yang nyata.

Mengatakan mendengar suara. b. a. senyum dan tertawa sendiri. 4. Faktor Psikologis. Pemicu Gejala. Pembicaraan kacau. Tidak dapat memusatkan perhatian dan konsentrasi. Etiologi 1. Tanda dan Gejala 1. orang lain dan lingkungan. menghindar dari orang lain. melihat. hidup terisolasi. Faktor Pendukung. 5. mencium dan merasa sesuatu tidak nyata. Stres Lingkungan. mengecap. Tidak dapat membedaka hal nyata dan tidak nyata. Biologis. d. Ketidak harmonisan social budaya. c. ( Stuart dan Sundeen. konflik perkawinan. kadang tidak masuk akal.c. Bicara. Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi dengan stressor lingkungan. 2. 8. 3. . Sikap curiga. 1998 : 305 – 310 ). 2. Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurologi yang mal adaptif berhubungan dengan kesehatan lingkungan dan sikap individu. Faktor Biologis. Menarik diri. stress yang menumpuk. Stresor biologis yang berhubungan dengan respon neurologist yang mal adaptif termasuk ganguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur proses informasi dan abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidak mampuan. c. Merusak diri sendiri. Faktor Pencetus. Orang tua yang salah mendidik anak. a. 6. Abnormalitas otak yang menyebabkan respon neurologist yang maladaptive. 7. koping menghadapi stress tidak konstruktif. b. Faktor Sosial Budaya. untuk menentukan terjadinya ganguan perilaku.

10. Ekspresi wajah tenang. menguasai dan mengontrol klien. Halusinasi berubah menjadi mengancam. perasaan perpisahan. menjadi dominan mulai dirasakan yang tidak jelas. 2. Fase Controling / fase ketiga. klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya. cemas. 1998 : 98 – 103 ). 11. Proses Terjadinya Masalah 1. Sulit membuat keputusan. tak berdaya. Muka merah dan kadang pucat. Fase comforting / fase pertama. Klien mengalami stres. 13. memerintah. Tidak mampu melakukan asuhan mandiri. melamun sendiri. ketakutan. Mudah tersinggung dan menyalahkan diri sendiri dan orang lain. klien mulai melamun dan memikirkan yang menyenangkan. II. Klien menjadi takut. Bisikan suara. dan memarahi. Nadi cepat dan banyak keringat.9. Fase Conguering / fase keempat. 4. Klien tidak ingin ada orang yang tahu apa yang dirasakannya dan klien tetap mengontrolnya. Tekanan Darah meningkat. 14. Kecemasan meningkat. Fase Condemning / fase kedua. isi halusinasi makin menonjol. kesepian yang progresif dan tidak dapat dipecahkan. . hilang kontrol dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang yang berada di lingkungannya secara umum. 3. ( Mary C. Townsend. 12.

Tidak efektifnya penatalaksanaan regimen terapeutik. d. Tidak efektifnya koping keluarga . A. Halusinasi Dengar. e. Defisit perawatan diri.III. g. Perilaku kekerasan. Isolasi social . h. Tidak efektifnya koping individu. Pohon Masalah B. i. Menarik Diri. f. Resti mencederai diri. Menurunya motifasi perawatan diri. b. HDR. ketidak mampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit. c. Masalah Keperawatan dan data yang Perlu dikaji a. orang lain dan lingkungan. j. Ganguan konsep diri . Perubahan persepsi sensori . .

Jakarta : Widya Medika. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Beri dorongan dan pujian dalam hubungan interpersonal. Keliat. Keperawatan Jiwa Cetakan 1.1998. b. Mary C . Keperawatan Dasar: Konsep. Diagnosa Keperawatan a. Sindrum defisit perawatan diri . 2001. & Perry. Jakarta: EGC. Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri. h. Tanyakan pengaruh dari gejala halusinasi pada aktivitas dan kehidupan sehari – hari. c. Fokuskan pada gejala dan tanyakan kepada klien untuk mendapatkan gambaran apa yang terjadi. Rencana Tindakan Keperawatan a. Perubahan sensori persepsi . Yosep.d Halusinasi. I.d intoleransi aktivitas. mungkin info menggambarkan isi dari halusinasi. 2005. Resti melakukan kekerasa b. 2007. d. . Halosinasi b.A. menarik diri b. Kerusakan interaksi social . Bina hubungan saling percaya. 1999. V. Towsend. g. Jakarta : Fajar Interpratama Tomb. Identifikasi apakah klien sedang mengunakan obat – obatan atau alcohol. Proses keperawatan kesehatan jiwa. A. 2003. Bantu klien mengidentifikasi keperluan. Proses dan Praktik (terjemahan) Edisi 4. Daftar Pustaka Kaplan& Sadock . b. bandung: PT Refika Aditama.. mandi atau berpakaian b. P. e. Budiana. d. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan Keluarga.d HDR. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Potter. Buku Saku Psikiatri.G. Jika ditanya tegaskan dengan sederhana bahwa anda tidak mengalami rangsangan yang sama.IV. intensitas dan frekuensi. D. Rasmun .1998. c. Tetapkan gejala dari halusinasi termasuh durasi. f. Jakarta : EGC.d menarik diri. hubungan interpersonal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful