Anda di halaman 1dari 13

Ancaman Globalisasi terhadap Implementasi Hukum Lingkungan :

Sebuah Tinjauan Perspektif Feminist Legal Theory

Pendahuluan

Wilayah hidup rakyat di berbagai kampung di Indonesia telah dan sedang


mengalami perusakan yang mengancam keselamatan dan kesejahteraan rakyat yang
hidup di dalamnya. Ribuan bentuk perusakan dari yang paling halus hingga paling kasat
mata terus menerus mengancam dan menggerogoti wilayah-wilayah hidup rakyat, lahan
pertanian, hutan, lahan peternakan, termasuk meminggirkan cara rakyat bertahan hidup
yang telah lama ada.1 Kondisi serupa juga dialami oleh rakyat miskin kota, penggusuran
hunian sudah jamak terjadi di berbagai kota besar di Indonesia. Gejala penggusuran yang
semakin massif akhir-akhir ini merupakan indikasi betapa tata ruang kota sebagai salah
satu aspek dari tata lingkungan yang bersifat makro tidak mengakomodasi hak rakyat
yang bersifat mendasar.
Setidaknya ada 3 (tiga) jenis perusak lingkungan yang hadir di dunia dan
mengancam keselamatan dan kesejahteraan masyarakat lokal di negara-negara
berkembang. Pertama, adalah industri pertanian global, kedua, industri pertambangan,
dan ketiga, adalah industri kehutanan.2 Dalam konteks tata ruang kota, gejala
transformasi ruang publik menjadi ruang privat merefleksikan komodifikasi ruang hidup
dan ruang sosial yang cenderung memarjinalkan dan mengorbankan rakyat miskin kota.
Manakala suatu komunitas dimarjinalkan dari wilayah hidup, kita harus melihat
bahwa di dalam komunitas-komunitas tersebut terdapat kelompok-kelompok dan
golongan-golongan yang mengalami penderitaan yang lebih dibandingkan dengan
kelompok-kelompok dan golongan-golongan yang lain. Realita menunjukkan bahwa
dalam kasus-kasus kerusakan lingkungan, perempuan dan anak-anak menjadi kelompok
dan golongan yang lebih berisiko dan berpotensi mengalami penderitaan lebih
dibandingkan dengan kelompok dan golongan yang lain.3 Kelompok dan golongan
tersebut lebih rentan menjadi korban karena secara tradisional mereka telah menjadi
sasaran proses dan perlakuan diskriminasi. Doktrin hukum Hak Asasi Manusia (HAM)
mengkategorisasikan kelompok dan golongan ini dengan sebutan kelompok rentan dan
tidak beruntung (vulnerable and disadvantage groups).4
Tulisan ini mencoba mendeskripsikan perempuan sebagai korban atas kerusakan
lingkungan yang terjadi sebagai akibat globalisasi ekonomi dan kemudian mentautkannya
dengan HAM khususnya hak asasi perempuan. Perspektif feminist legal theory dijadikan
pisau analisis untuk memetakan sampai sejauhmana keberpihakan peraturan perundang-
undangan di sektor lingkungan berpihak pada perempuan.

1
Meentje Simatauw, Leonard Simanjuntak, Pantoro Tri Kuswardono, Gender & Pengelolaan Sumber
Daya Alam : Sebuah Panduan Analisis, Yayasan PIKUL, 2001, hal. 1
2
Ibid, hal. 33
3
Saat Freeport belum masuk, perempuan asli mungkin sekali tidak merasakan beban kehidupan yang berat.
Namun ketika Freeport masuk, dampak yang dirasakan oleh perempuan lebih berat dibandingkan dengan
laki-laki. Pembedaan secara tradisional ternyata menimbulkan kesengsaraan bagi peempuan saat terjadi
perubahan. Karena perempuan harus mengurus makan keluarga maka kerja perempuan menjadi lebih berat
saat lingkungan rusak oleh pertambangan. Lihat ibid, hal. 12
4
Economic, Social, and Cultural Committee United Nations memasukan perempuan dan anak-anak
sebagai kelompok rentan dan tidak beruntung
Globalisasi Ekonomi dan Dampaknya terhadap Lingkungan
Globalisasi memperlihatkan 2 (dua) dimensi yakni, pertama dimensi ekonomi
dan korporasi (economic and corporation globalization). Kedua, dimensi politik dan
negara (political and state globalization).5 Kedua dimensi tersebut nampak pada
kebijakan yang diskenariokan dan didesain oleh negara-negara maju yang tergabung
dalam G 86 melalui 3 (tiga) mesin globalisasi yaitu, pertama lembaga keuangan
internasional (International Financial Institutions/IFI’s),7 kedua Organisasi
Perdangangan Dunia (World Trade Organization/WTO), dan ketiga perusahaan
multinasional (Multinational Corporation/MNC).8
Melalui mesin-mesin globalisasi di atas, negara-negara maju semakin
memperkokoh hegemoni mereka untuk mengatur dan mengontrol sumber-sumber di
dunia. Lewat tangan WTO mereka mengatur kebijakan perdagangan dunia.9 Melalui
lembaga keuangan multilateral, mereka dapat menentukan negara mana yang dapat
menikmati kucuran uang. Kemudian dengan meminjam kekuatan IMF, mereka menekan
negara-negara untuk melakukan deregulasi, privatisasi, dan liberalisasi.10

5
M. Ridha Saleh, Ecoside : Politik Kejahatan lingkungan dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia, Jakarta,
Walhi, 2005, hal. 50
6
Negara-negara yang tergabung dalam G 8 terdiri dari Amerika Serikat, Kanada, Itali, Perancis, Inggris,
Jerman, Rusia, dan Jepang .
7
Lembaga Keuangan Internasional yakni : Bank Dunia (WB), Dana Moneter Internasional (IMF), Bank
Pembangunan Asia (ADB), Bank Pembangunan Afrika (AfDB), Bank Pembangunan Eropa (EBRD), Bank
Pembangunan antar Amerika (IADB), dan Bank Pembangunan Islam (IDB).
8
Selain melalui institusi-institusi tersebut, negara-negara maju dengan menciptakan lembaga keuangan
untuk mendukung investasi mereka di luar negeri. Lembaga ini umumnya disebut sebagai Lembga Kredit
Ekspor (Export Credit Agencies/ECA) seperti JBIC (Jepang), Exim Bank (AS), EDC (Kanada), Hermes
Jerman). Kemudian mereka juga menciptakan lembaga penjamin yang ditujukan untuk menjamin investasi
atas aset-aset negara tersebut di luar negeri, misalnya OPIC (AS). Lihat Konspirasi Global : Kejahatan
yang Terorganisir dalam Aflina Mustafainah, et. al. Manual Pendidikan Dasar Globalisasi, Jakarta,
debtWATCH Indonesia, JK-LPK, dan Community Development Bethesda, 2004, hal. 14
9
Salah satu aspek yang diatur oleh WTO adalah perdagangan yang terkait dengan Hak atas Kekayaan
Intelektual (HaKI)/Trade Related Aspect of Intelectual Property Rights (TRIPs). TRIPs merupakan
instrumen hukum internasional untuk melindungi kekayaan intelektual dan penemuan termasuk makhluk
hidup yang salah satunya adalah benih atau varietas pertanian. Dengan hak paten atas mahkluk hidup,
seseorang atau suatu lembaga memiliki hak sepenuhnya untuk memanfaatkan atau menjual jenis atau
varietas yang telah dipatenkan. Bila orang lain ingin memanfaatkan atau menjual jenis atau varietas yang
sama mereka harus membayar pada pemilik paten. Implikasinya para petani dan masyarakat adat tidak
dapat lagi menjalankan aktivitas seperti menyimpan benih, mempertukarkan, menanam, dan menjual tanpa
seijin pemilik paten. Lihat Posisi Koalisi Ornop terhadap WTO dalam Meentje Simatauw, Leonard
Simanjuntak, Pantoro Tri Kuswardono, op. cit, hal. 38
10
Aflina Mustafainah et. al, loc. cit. Kebijakan yang dikembangkan oleh lembaga keuangan multilateral
selalu mengarah kepada privatisasi (yang selalu didahului oleh restrukturisasi) dan liberalisasi lewat mesin
mereka : pinjaman (loan). Setiap pinjaman yang diberikan kepada negara-negara debitor selalu disertai
syarat-syarat (conditionalities) yang lebih dikenal sebagai Program Penyesuaian Struktural (Structural
Adjusment Program/SAP). Fungsi utama SAP adalah untuk meromabk sistem lama disuatu negara agar
sesuai dengan mekanisme pasar bebas murni yang diusung oleh aliran neoliberalisme. Lihat Arimbi
Heroepoetri dalam Fabby Tumiwa, Listrik yang Menyengat Rakyat : Menggugat Peranan Bank-Bank
Pembangunan Multilarel, Jakarta, WGPSR, 2002, hal. Xii. Berdasarkan kesepakatan dengan IMF,
Indonesia akan membuka keran impor beras dengan bea masuk 0% pada bulan Agustus 2002. Artinya
beras dari luar akan membanjiri pasar eras di Indonesia dengan harga murah. Harga beras di pasar dunia
Kemudian dampak dari investasi MNC yang mengakibatkan penderitaan pada
masyarakat adat (indigenous people) dilakukan oleh Hitchock sebagaimna dipaparkan
dalam tabel di bawah ini.11
Tabel 1 : Proyek MNC yang menyebabkan dampak negatif bagi kesejahteraan masyarakat adat
Perubahan Negara Dampak

Ecuador oil development Ecuador Waorani dan masyarakat adat


(Petroequador, Maxus oil Co.) lainnya tergusur dari tanahnya,
keanekaragaman hayati hilang,
air terkena racun, da kerusakan
lingkungan secara masif karena
tumpahan minyak
Total, Unocal (Union Oil Burma Terlibat dalam hak-hak buruh
Company of California) dan menggunakan budak
Royal dutch shell Nigeria Perusakan lingkungan,
penindasan, perampasan milik
rakyat ogoni, penangkapan dan
penahanan dengan sewenang-
wenang, dan menghukum mati
aktivis lingkungan
Tanzania Wheat Project Tanzania Pemindahan secara paksa,
pelecehan dan penahan, serta
mengurangi akses
Borneo Logging (Mitshubishi) Malaysia Perusakan hutan, dan penindasan
atas suku Punan dan masyarakat
asli lainnya
Western Desert Mining (Rio Australia Aborigin tergusur dari wilayah
Tinto Zinc) tradisionalnya, polusi dan
perusakan sumber daya
Uranium Mining (Kerr-McGee) New Mexico Penambangan-penambangan
Navajo menderita kanker dan
penyakit lainnya, tetapi
mendapat kompensasi dan
bantuan sangat minimal
Agricultural Project (Swft Brasil Pembersihan hutan dan
Armour, King Ranch) timbulnya konflik-konflik sosial

Selain merusak lingkungan, korporasi global yang didukung oleh negara-negara


maju dan kaya, WTO, kartel utang terutama IMF, Bank Dunia sebagai mesin utama
globalisasi dalam mengakumulasi kekayaan dan menghisap sumber daya negara-negara
berkembang, operasi korporasi global tersebut menyokong terjadinya pemiskinan yang
semakin masif.12 Kecenderungannya kesenjangan sosial ekonomi antara negara maju dan
negara miskin semakin memprihatinkan sepanjang 10 tahun terakhir. Data UNDP tahun
1999 menunjukkan bahwa jumlah orang miskin yang hidupnya kurang dari 1 dollar AS

pada tahun 2000 berkisar 1500 rupaiah sementara harga beras lokal berkisar antara 2000 hingga 3000
rupiah perkila gram. Lihat Meentje Simatauw, Leonard Simanjuntak, Pantoro Tri Kuswardono, ibid. hal 34
11
Ifdhal Kasim, Hak atas Lingkungan Hidup dan Tanggung Gugat Korporasi Internasional, SUAR,
Volume 5 No. 10 & 11 Tahun 2004, hal. 24
12
Kemiskinan merupakan suatu kondisi yang menghambat terpenuhinya hak atas lingkungan yang sehat.
Permasalahan pemenuhan atas hak lingkungan juga terkait dengan hak atas permukiman yang layak (right
to adequate housing) dan akses terhadap layanan air bersih. Rakyat yang hidup dalam kondisi miskin justru
sulit untuk memperoleh kedua penikmatan atas hak ini.
sehari meningkat dari 1,197 milyar pada tahun 1987 menjadi 1,214 milyar pada tahun
1997 atau sekitar 20% dari penduduk dunia. Dua puluh lima persennya lagi (sekitar 1,6
milyar) dari penduduk dunia bertahan hidup dengan 1-2 dollar AS setiap hari.
Dampaknya setiap hari 11.000 anak mati kelaparan di seluruh dunia, sedangkan 200 juta
anak menderita kekurangan gizi dan protein serta kalori (satu dari empat anak di dunia).
Selain itu lebih dari 800 juta orang menderita kelaparan kronis di seluruh dunia dan kira-
kira 70% dari mereka adalah perempuan dan anak.13
Di sisi lain, globalisasi menghasilkan pemusatan kekayaan di tangan segelintir
orang. Tiga orang terkaya di dunia menguasai aset yang nilainya setara dengan milik 600
juta orang di 48 negara miskin. Saat ini pula seperlima penduduk di negeri-negeri paling
menguasai 86 % produk domestik bruto dunia, 82% pasar ekspor dunia, dan 68 %
penanaman modal langsung yang mana pelaku ekonominya didominasi oleh korporaso
global.14 Gejala ini menunjukkan bahwa kekuasaan korporasi kini telah menyaingi
kekuasaan ekonomi-ekonomi negara-negara yang mana proses akumulasi kekayaan
tersebut bukan terjadi secara alamiah tetapi berdasarkan suatu rancangan kebijakan
politik-ekonomi yang kini dikenal sebagai neoliberalisme dan globalisasi kapitalis.15
Demikian juga halnya dengan tata ruang kota yang hanya memfasilitasi kepentingan
pemodal melalui pembangunan apartemen, mal, dan sentra-sentra bisnis lainnya melalui
penggusuran hunian masyarakat miskin kota sebangun dengan kecenderungan terjadinya
komodifikasi ruang-ruang publik sebagai nafas utama kapitalisme.

Perempuan sebagai Korban

Dalam perspektif hukum HAM, kondisi di atas dapat dipetakan menjadi 2 (dua)
pihak di mana pihak yang satu menjadi pelaku, sementara pihak yang lain menjadi
korban. Pihak pelaku selalu dilekati dengan kekuasaan (power) yang bisa bersumber dari
otoritas/kewenangan dan bisa juga berasal dari kekuatan modal. Yang pertama melekat
pada negara/pemerintah, sedangkan yang kedua biasanya melekat pada korporasi. Pihak
korban yang pasti tidak memiliki kedua-duanya atau tuna kuasa (powerless). Kelompok
ini seringkali disebut masyarakat sipil (civil society). Secara konseptual terdapat 3 (tiga)
sektor dengan ukuran, kekuatan, dan kekuasaan relatif yang bisa mempengaruhi
kehidupan masyarakat, yakni : (i) Masyarakat sipil; (ii) Negara; dan (iii) Pasar.
Dalam konteks globalisasi, liberalisasi ekonomi, penyesuaian struktural, dan
kebijakan privatisasi yang dilakukan negara malahan memperkuat peran pasar dan
cenderung memperlemah bekerjanya negara dan kemampuannya untuk memberikan
layanan dasar. Pintu masuknya melalui deregulasi16 yang membebaskan pasar dari
otoritas negara. Dengan deregulasi terjadi pergeseran locus otoritas dari negara ke tangan
pemilik modal. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan peran, kekuatan, dan kekuasaan dari

13
Menuju Forum Sosial Indonesia dalam Bukan Sekedar Anti-Globalisasi, Amalia Pulungan dan Roysepta
Abimanyu, Jakarta, IGJ dan Walhi, 2005, hal.169-170
14
Dari 100 pelaku ekonomi terbesar di dunia, 52 di antaranya adalah korporasi global. Gabungan
pendapatan Mitsubishi, General Motor, dan Ford Motor lebih besar dibandingkan gabungan Denmark,
Thailand, Turki, Afrika Selatan, Arab Saudi, Norwegia, Finlandia, Malaysia, Chili, dan Selandia Baru. ibid
15
ibid
16
Deregulasi berarti kemauan pemerintah untuk menyerahkan kedaulatannya demi keuntungan korporasi
transnasional dan para operator pasar keuangan. Lihat Susan George, Republik Pasar Bebas, Jakarta,
INFID, 2002, hal. 18
ketiga sektor tersebut. Kondisi ini pada akhirnya merugikan masyarakat sipil yang tidak
dilekati dengan kewenangan dan modalitas finansial/kapital. Dalam titik ini negara yang
seharusnya mempunyai kewajiban utama memenuhi HAM warganya gagal menjalani
hakikat fungsi filosofi negara yakni mensejahterakan warga negaranya
Jika ketiga sektor tersebut dikerangkakan dalam perspektif pelanggaran HAM, maka
akan didapati tabel sebagai berikut :17
Tabel 2 : Tiga pelaku dan tiga peranan dalam HAM
Negara Modal Masyarakat Sipil
Pelaku Ya Ya Bukan
Korban Bukan Ya Ya
Pemberdaya Ya Bukan Ya
Sumber : Galtung, 1994: 147-151

Dampak kerusakan lingkungan hidup sebagai akibat beroperasinya korporasi


global menempatkan korporasi global sebagai pelaku pelanggaran HAM.18 Matthew
Lippman mengetengahkan 4 (empat) factor bagi masuknya korporasi global sebagai
actor yang berkewajiban menjamin dan melindungi HAM yang tertuang dalam berbgai
konvensi HAM. Keempat argument tersebut meliputi : (i) kekuasaan ekonomi perusahaan
multi nasional; (ii) sifat internasional dari perusahaan multinasional; (iii) dampak operasi
perusahaan multi nasional; dan (iv) terbatasnya kemampuan negara-negara berkembang
dalam mengatur tingkah laku perusahaan multinasional.19 Sejalan dengan pemikiran
Matthew LippmanTerdapat satu dokumen penting yang dikeluarkan Komisi HAM (CHR)
Sub Komisi Promosi dan Perlindungan HAM PBB. Dokumen ini berjudul “Norms on
the responsibilities of transnational corporations and other business enterprises with
regard to human rights” – selanjutnya disebut dengan Norma tentang Tanggungjawab
korporasi global. Membaca dokumen CHR ini, maka ‘corporate crime’ secara sederhana,
dapat diklasifikasikan sebagai kejahatan (crime) yang dilakukan korporasi (badan usaha)
mencakup kejahatan HAM, humaniter, perburuhan, kejahatan terhadap hak konsumen
serta praktik-praktif yang luas dari definisi korupsi.20
Norma tentang Tanggungjawab korporasi global menjadi penting karena 2 (dua)
alasan pokok: pertama, dokumen ini dianggap oleh banyak komentator merupakan
sebuah langkah maju yang diambil PBB – dalam hal ini Komisi HAM – untuk
menegaskan prinsip-prinsip hukum internasional (international legal principle) yang
(dapat) diterapkan pada sektor bisnis. Hukum internasional yang dimaksud, meliputi
hukum hak asasi manusia, humaniter, perburuhan, lingkungan hidup, konsumen, dan
17
Hari Wibowo, Kampanye Hak Asasi Manusia, dalam Diseminasi Hak Asasi Manusia : Perspektif dan
Aksi, E. Shobirin Nadj, Naning Mardiniah (Editor), Jakarta, CESDA LP3ES, 2000, hal.245
18
Pandangan yang selama ini dominant mengenai konsep pertanggungjawaban (liability) dalam hal
pelanggaran HAM berpusat pada negara (state-centric paradigm) yang menempatkan negara sebagai
pelaku utama yang bertanggung jawab untuk menjamin dan melindungi HAM. Inilah konsep yang dikenal
dengan state responsibility. Namun seiring dengan kecenderungan pergerakan investasi asing yang
mengglobal untuk mengekspolitasi sumber daya alam di negara lain, maka langsung atau tidak langsung
korporasi global terlibat dalam pelanggaran HAM baik hak-hak sipil dan politik maupun hak-hak ekonomi,
social, dan budaya. Kondisi demikian merubah state-centric paradigm dalam pelanggaran HAM.
Tanggung jawab terhadap pelanggaran HAM sudah seharusnya mempertimbangkan actor-aktor baru
apakah korporasi global, IMF, WTO sebagai subyek hak dan kewajiban (right and duty holder). Lihat
Ifdhal Kasim, op. cit, hal. 26-29
19
ibid
20
Lihat Lihat A. Patra M. Zen, op.cit hal. 89 – 90
hukum anti-korupsi. Kedua, dokumen ini memberikan norma sekaligus alat analisis untuk
menilai apakah sebuah korporasi melanggar HAM.21
Sebagaimana telah dipapar di atas, setiap pelanggaran HAM yang menimbulkan korban
senantiasa menerbitkan kewajiban negara untuk mengupayakan pemulihan (reparation)
kepada korbannya. Dengan demikian, pemenuhan terhadap hak-hak korban tersebut
harus dilihat sebagai bagian dari usaha pemajuan dan perlindungan HAM secara
keseluruhan. Tidak ada HAM tanpa pemulihan atas pelanggarannya. Hal ini sama artinya
dengan mengatakan bahwa impunitas akan terus berlangsung apabila tidak ada langkah
konkret untuk pemenuhan hak-hak korban pelanggaran HAM. 22
Korban pelanggaran HAM didefisinikan melalui studi van Boven dengan merujuk pada
Deklarasi Prinsip-Prinsip Dasar Keadilan bagi Korban Kejahatan dan Penyalahgunaan
Kekeuasaan (Declaration of Basic Principle of Justice for Victim of Crime and Abuse of
Power) . Korban didefisinikan sebagai berikut :
Orang yang secara individual maupun kelompok telah menderita kerugian, termasuk
cedera fisik maupun mental, penderitaan emosional, kerugian ekonomi atau
perampasab yang nyata terhadap hak-hak dasarnya, baik karena tindakan (by act)
maupun karena kelalaian (by omission)…23
Perlu ditegaskan bahwa korban dalm pengertian yang digunakan dalam deklarasi di atas
bukan hanya terbatas pada perseorangan atau kelompok yang mengalami secara
langsung, tetapi juga mencakup orang-orang yang secara tidak langsung menjadi korban
seperti kelurga korban, orang yang menjadi tanggungannya atau orang dekatnya (their
relatives), dan orang-orang yang membantu atau mencegah agar tidak menjadi korban.24
Dalam konteks kerusakan lingkungan penderitaan yang melingkupi perempuan
dapat di analisis menggunakan analisis feminis sebagai beikut : (ii) stereotipi; (ii)

21
Sebuah langkah tindak lanjut dari norma yang ditelurkan oleh Komisi HAM PBB, Sekjen PBB Kofi
Anan mengeluarkan Global Compact pada Forum Ekonomi Dunia pada 31 Januari 1999. Saat itu, Anan
meminta para pemilik korporasi untuk bergabung dengan badan-badan PBB, organisasi/serikat buruh, dan
organisasi masyarakat sipil lain bekerjasama dan melakukan aksi-aksi menjawab tantangan global,
termasuk menjawab problem-problem yang ditimbulkan ekonomi global. Secara singkat, merujuk pada
dokumen Global Compact, penilaian HAM atas kinerja korporasi meliputi 9 isu, sebagai berikut:
(1) dukungan dan penghormatan HAM yang diterima secara internasional (internationally proclaimed
human rights) berdasarkan pengaruh yang dimilikinya;
(2) aktivitas yang dilakukan dipastikan tidak melanggar dan menyebabkan timbulnya kejahatan HAM
(human rights abuses);
(3) mewujudkan kebebasan berserikat dan pengakuan terhadap hak atas posisi tawar kolektif buruh (the
right to collective bargaining);
(4) turut serta menghapus segala bentuk perbudakkan dan pemaksaan kerja (forced and compulsory labor);
(5) berpartisipasi menghapus buruh anak;
(6) menghapus praktek-praktek diskriminasi dalam pekerjaan dan lapangan kerja;
(7) mendukung pendekatan pencegahan kerusakan lingkungan;
(8) mengambil inisiatif mempromosikan tanggungjawab lingkungan yang lebih besar;
(9) mendorong pengmbangan dan difusi tekonologi yang ramah lingkungan. Lihat A. Patra M. Zen, ibid
22
Ifdhal Kasim, “Prinsip-Prinsip van Boven” Mengenai Korban Pelanggaran Berat HAM, Kata Pengantar
dalam Mereka yang Menjadi Korban : Hak Korban Atas Restitusi, Kompensasi, dan Rehabilitasi, Jakarta,
ELSAM, 2002, hal. xiii
23
ibid
24
ibid, hal. viv
dominasi; (iii) diskriminasi; (iv) beban ganda; dan (v) kekerasan.25 Bagi perempuan
kerusakan lingkungan di kawasan industri Mobil Oil (Aceh), Freeport (Papua), Newmont
Minahasa (Sulaewsi Utara), dan Newmont Nusa Tenggara (NTB) jika dianalisis dengan
pisau feminis berdampak berlipat ganda dan berefek domino ketika model kekerasan
yang patriarkhi dan militeristik berpadu dengan factor kekuatan modal internasional. Di
desa Buyat Pantai, Sulawesi Utara, lokasi pembuangan limbah penambangan emas PT
Newmont Minaha misalnya, beberapa perempuan dan anak-anak seperti kehilangan
harapan hidup karena tidak mampu lagi menghadapi proses pemiskinan akibat hancurnya
perairan tempat menangkap ikan.26 Kondisi ini merefleksikan 2 (dua) persoalan besar
sebagai akibat dari konflik kepentingan antara rakyat dan investasi yang berdampak
pada perempuan, yakni pertama kehilangan tanah (wilayah kelola) dan kedua kerusakan
lingkungan.27

Hak Asasi Perempuan atas Lingkungan Hidup yang Sehat

Kesadaran mengenai keterpautan antara HAM dengan lingkungan dipicu oleh


tingginya laju perusakan lingkungan secara global yang diakibatkan oleh pertumbuhan
industri yang cepat di bidang kehutanan, kelautan, energi, dan pertambangan. Perusakan
ini pada gilirannya memustahilkan penikmatan atau pemenuhan HAM, yang tidak hanya
terbatas pada hak-hak ekonomi, social, dan budaya, tetapi juga mencakup hak-hak sipil
dan politik.28 Berdasarkan doktrin hokum HAM internasional, menurut Karel Vasak, hak
atas lingkungan hidup merupakan salah satu hak yang termasuk dalam kategori generasi
ketiga di mana yang mendapatkan perlindungan tidak hanya hak yang bersifat individu
tetapi juga hak-hak kolektif. Paul Sieghart mengidentifikasi sedikitnya 6 (enam)
golongan hak-hak kolektif, yaitu : (i) hak atas penentuan nasib sendiri; (ii) hak atas
perdamaian dan keamanan internasional; (iii) hak untuk menggunakan kekayaan dan
sumber daya alam; (iv) hak atas pembangunan; (v) hak kaum minoritas, dan (vi) hak atas
lingkungan hidup. 29 Perkembangan terkini, berdasarkan Konvensi HAM Wina 1993,
tidak terdapat lagi perbedaan kategorisasi HAM berdasarkan perkembangan generasi,
kepentingan yang dilindungi, maupun dikotomi antara hak-hak sipil dan politik dengan
hak-hak ekonomi, social, dan budaya karena HAM pada prinsipnya saling terkait
(interdependence) dan tidak dapat dipisahkan (indivisible).
Draft Deklarasi HAM dan Lingkungan Hidup Pasal 2, bagian 1 menyatakan :30

25
Rio Ismail, Risma Umar, Titi Soentoro, Suara Mayoritas yang Samar : Studi tentang Respon Partai
Politik terhadap Kepentingan Perempuan Menjelang Pemilu 2004, Jakarta, Solidaritas Perempuan, 2004,
hal. 13 - 21
26
ibid
27
Bagi perempuan kehilangan wilayah kelola memiliki dampak pada semakin tingginya beban kerja dan
menurunkan pendapatan yang berdampak pada kesehatan, pendidikan, dan kekerasan. Perempuan dalam
masyarakat patriarki merupakan tulang punggung mengelola rumah tangga sehingga merupakan pihak yang
paling merasakan penderitaan tersebut. Meentje Simatauw, Leonard Simanjuntak, Pantoro Tri
Kuswardono, op. cit, hal. 47
28
Tonggak terpenting dari tumbuhnya kesadaran tersebut termanifestasi dengan lahirnya deklarasi
Stockholm 1972. Di sini untuk pertama kalinya masyarakat internasional mengakui bukan hanya saling
keterkaitan antara lingkungan hidup dengan HAM, tetapi juga kaitannya dengan hak atas pembangunan.
Lihat Ifdhal Kasim, Hak atas Lingkungan Hidup. Op.cit 24
29
Ridha Saleh, op. cit, hal. 34
30
Ifdhal Kasim, Hak atas Lingkungan Hidup, loc. cit
All persons have the right to secure, healthy, and ecologically sound environment.
This right and other human rights, including civil, cultural, economic, political,
and social rights, are universal, interdependent, and indivisible.
Meskipun hak atas lingkungan tidak secara spesifik dirumuskan secara hokum dalam
instrument internasional HAM, oleh karena itu keberadaan hak atas lingkungan
dihadirkan dengan membuat penafsiran yang luas terhadap isi dari hak atas hidup (right
to life) dengan merujuk pada survey R.G. Ramcharan yang mencoba melihat keterkaitan
antara hak atas hidup dengan hak atas lingkungan :31
Threats to the environment or serious environmental hazard my threaten the lives of
large groups of people directly; the connection between the rights to life and the
environment is an obvious one… A discussion of the interrelationship between the two
rights should, however, go beyond this…(and) may be summarized in the following
proposition : (i) There is a strict duty upon States, as well as upon the international
community as a whole, to take effective measures to prevent and safeguard of human
being; (ii) every states, as well as the UN, should establish and operate adequate
monitoring and early-warning system to detect hazard or threats before actually occur;
(iii) the right to life, as an imperative norm, takes priority above economic considerations
and should, in all circumstances, be accorded priority; (iv) States and other responsible
entities (corporations or individuals) may be criminally or civilly responsible under
international law for causing serious environmental hazard posing grave risks to life.
Dalam kerangka pemenuhan dan perlindungan hak perempuan, maka instrument
hokum HAM internasional menjadi pijakan karena hak asasi perempuan merupakan
bagian dari HAM secara umum.32 Keberadaan hak atas lingkungan sebagai salah satu
hak sudah tercakup pada pasal 28 Deklarasi Universal HAM dan Pasal 12 (b) Kovenan
Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Meskipun formulasinya terbilang sangat
abstract. 33 Untuk itu hak atas lingkungan harus diinterpretasikan secara luas sebagai hak
untuk memperoleh mutu atau kondisi lingkungan yang baik dan sehat, dalam arti tidak
dibatasi hanya menyangkut obyek ruang berupa bumi, air, dan udara. Namun hak atas
lingkungan hidup harus menegaskan pula penjaminan yang meliputi penghormatan,
perlindungan, dan pemenuhan bagi subyek lingkungan hidup. 34
Meskipun hak atas lingkungan hidup dalam instrument hokum HAM tidak diatur
dan diformulasikan secara khusus, namun hokum nasional telah mengakui hak atas
lingkungan hidup secara expressive verbis, malahan telah menjadi bagian hak
konstitusional setiap warga Negara Indonesia. Pasal 28 H UUD 1945 menegaskan bahwa
setiap orang berhak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. 35 Karena hak

31
ibid
32
Convention on the Elimination of Discrimination Against Women (CEDAW) yang secara sui generis
mengatur hak-hak perempuan menegaskan bahwa perempuan harus sejajar dengan laki-laki dalam
pengakuan, penikmatan atau penggunaan HAM dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik,
ekonomi, social, budaya, dan sipil. Terkait dengan permasalahan hak atas lingkungan maka berdasarkan
interpretasi terhadap hak atas hidup, maka pemenuhan hak-hak politik, sipil, ekonomi, social, dan budaya
menjadi conditio sina quanon. Interpretasi ini diperlukan karena CEDAW tidak secara khusus mengatur
hak perempuan atas lingkungan dan memformulasikan hak atas lingkungan ke dalam pasal-pasalnya.
33
Ifdhal Kasim, Hak atas Lingkungan Hidup, op. cit, hal. 25
34
M. Ridha Saleh, op. cit, hal. 31
35
UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM juga mengaskan hal yang serupa khususnya ketentuan Pasal 9
(3) bagian hak atas hidup : Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Lihat pula
atas lingkungan telah mendapatkan tempat secara yuridis baik dilevel internasional
maupun nasional, maka hak atas lingkungan merupakan hak yang justiciable dan
enforceability. Artinya hak ini merupakan hak hokum yang apat dieksaminasi melalui
prosedur institusi peradilan baik di level domestic maupun internasional.

Dampak Globalisasi terhadap Efektifitas Implementasi Hukum Lingkungan :


Kasus Terbitnya Perpu Nomor 1 Tahun 2004

Meskipun hak atas lingkungan telah dijamin dalam instrument hokum, namun
penegakannya mendapatkan hambatan karena pengaruh globalisasi. Dengan demikian
justiciability hak ini tidak efektif lagi dalam menjamin penikmatan hak atas lingkungan.
Pemberian izin kepada 13 perusahaan pertambangan untuk meneruskan kegiatan
penambangan secara terbuka (open-pit mining) di hutan lindung menunjukkan bahwa
pemerintah tidak memiliki visi dalam pengelolaan lingkungan hidup. Kenyataan itu
sekaligus mempertegas bahwa konsep pembangunan berkelanjutan di Indonesia sekadar
jargon. Keppres Nomor 41 Tahun 2004 tersebut ditandatangani Presiden Megawati
Soekarnoputri tanggal 12 Mei 2004, menyusul keluarnya Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang- Undang (Perpu) No 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No 41/1999
tentang Kehutanan, 11 Maret 2004. Perpu itu menegaskan, semua perizinan atau
perjanjian di bidang pertambangan di kawasan hutan sebelum berlakunya UU No
41/1999 dinyatakan tetap berlaku sampai berakhirnya izin atau perjanjian tersebut.36
Terkait dengan justiciability hak atas lingkungan hidup yang baik, efektifitas hak ini
mendapatkan hambatan dari institusi peradilan. Ironisnya hambatan ini berasal dari
Mahkamah Konstitusi (MK) yang bertugas sebagai the guardian of the constitusion.
Salah satu buktinya adalah penolakan MK terhadap permohonan judicial review37
terhadap Perpu Nomor 1 Tahun 2004 yang diajukan oleh 11 LSM dan 81 warga
masyarakat yang tinggal di lokasi 13 perusahaan pertambangan yang beroperasi di
kawasan hutan lindung itu. MK dapat memahami alasan pemerintah soal perlunya
ketentuan transisional bagi izin eksplorasi hutan lindung.38 Padahal dampak
dikeluarkannya perizinan tersebut berdampak pada kerusakan hutan dan kelestarian
lingkungan dan nyata-nyata melanggar hak atas lingkungan yang telah menjadi hak
konstitusional warga negara Indonesia.
Keluarnya Perpu Nomor 1 Tahun 2004 tersebut dan dukungan yuridis dari MK
merupakan upaya Pemerintah memfasilitasi kepentingan korporasi global dalam
melakukan investasi melalui kontrak karya. 39 Sebenarnya negara ini mempunyai

ketentuan Undang-Undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Nomor 23 Tahun 1997, Pasal 5 (1)
mengaskan kembali perlindungan tersebut.
36
www.kompas.com/kompas-cetak/0405/19/humaniora
37
Para pemohon menganggap persyaratan lahirnya Perpu Nomor 1 Tahun 2004 bertentangan dengan Pasal
22
Ayat (1) Undang Undang Dasar 1945, Pasal 28, dan Pasal 33. Lihat www.kompas.com/kompas-
cetak/0507/08/ekonomi
38
ibid
39
Menteri Lingkungan Hidup Nabiel Makarim menyebut terbitnya perpu itu sebagai suatu kecelakaan.
Akan tetapi, katanya, Perpu No 1/2004 itu tidak perlu dikhawatirkan akan menjadi preseden buruk.
"Seharusnya itu diperlakukan sebagai suatu kecelakaan. Ini kasus aneh. Mudah-mudahan tidak terulang
lagi," kata Makarim. Ia menjelaskan, masalah tersebut menjadi pelik karena kontrak karya dengan
perusahaan pertambangan sudah ditandatangani sebelum kawasan itu ditetapkan sebagai hutan lindung.
kedaulatan berdasarkan prinsip hak menentukan nasib sendiri (the right to self-
determination) untuk mengelola kekayaan alamnya. Pengalaman Pemerintah Kosta
Rika pada bulan Juni 2002 perlu dijadikan rujukan untuk menentukan sikap terhadap
intervensi kekuatan korporasi global. Karena menurut Direktur Eksekutif Greenomics
Indonesia Elfian Effendi, presiden Abel Pacheco ketika itu, berani membuat keputusan
untuk melarang praktik tambang terbuka dengan sebuah deklarasi damai terhadap alam
dan lingkungan.40
Praktik-praktik seperti ini akan berdampak pada eksploitasi secara massif terhadap
sumber daya alam. Jika dibiarkan akan mengarah pada tindakan pengerusakan dan
pemusnahan ekosistem lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan. Deplesi ekologi
yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh pengarahan pembangunan yang tidak
memperhatikan kelangsungan hidup dan masa depan generasi manusia yang akan
datang. Praktek ecoside semakin tampak melalui fenomena dan praktik pengrusakan
lingkungan hidup. Franz J. Broswimmer mengartikan ecoside is the killing of an
ecosystem, termasuk mereka yang ikut serta dalam membuat kebijakan dan
mengkonsumsikannya secara massif. 41
Realita di atas menunjukan bahwa globalisasi secara langsung berdampak pada
pengelolaan lingkungan hidup. Apabila dianalisis lebih jauh kondisi ini menunjukkan
bahwa implementasi dan penegakkan hokum lingkungan di Indonesia mengalami kendala
yang justru berasal dari kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia dilakukan melalui kerja dan relasi
yang sistematis dan massal. Melalui dukungan modal sebagai komprador atau negara
sebagai fasilitator dan regulator, akan tetapi juga melibatkan pengarahan massa sebagai
konsumen aktif. 42 Oleh karenya terbitnya Perpu tersebut perlu dikaitkan dengan
diskursus ecoside karena, pertama, eksploitasi lingkungan hidup selama ini telah
mengarah pada tindakan pemusnahan sumber-sumber kehidupan manusia. Kedua,
pemusnahan tersebut merupakan tindakan yang berkaitan erat dengan praktik
penghilangan hak-hak hidup manusia bahkan telah menyebabkan hak hidup ekosistem di
dalamnya ikut kehilangan kelayakannya. Ketiga, menjadi bagian dari ekspolitasi sumber
daya alam yang mengarah terancamnya keamanan hidup manusia saat ini dan kehiduoan
generasi yang akan datang, demikian pula ancaman terhadap punahnya keberagaman
hidup dan keanekaragaman hayati lainnya. 43 Senada dengan itu, Hardjasoemantri
menghubungkan masalah lingkungan dengan aktivitas pembangunan. Menurutnya,
pembangunan dapat menimbulkan risiko-risiko kerusakan pada kemampuan dan fungsi
sumber alam dan lingkungan. Risiko-risiko tersebut dapat berupa: (1) rusaknya berbagai
sistem pendukung peri-kehidupan yang vital bagi manusia, baik sistem biofisik maupun

"Kita tidak bisa mengatakan kontrak itu tidak berlaku karena kawasannya ditetapkan sebagai hutan lindung
setelah kontrak ditandatangani. Artinya, kalau kita mau kawasan itu tetap menjadi hutan lindung, harus
ditebus dengan ganti rugi. Kita tidak punya uang untuk itu. Lihat www.kompas.com/kompas-
cetak/0405/16/humaniora
40
ibid
41
M. Ridha Saleh, Rezim Ecoside & Implikasi Pelanggaran HAM, Majalah SUAR Vol. 5 No. 10 & 11,
Tahun 2004, hal. 31
42
Kerusakan lingkungan karena pola konsumsi yang berlebihan bukan oleh 80% penduduk miskin di 2/3
belahan bumi, tetapi oleh 20% penduduk kaya yang mengkonsumsi 86% dari seluruh sumber daya alam
dunia. Lihat M. Ridha Saleh, Rezim Ecoside, ibid, hal. 32
43
M. Ridha Saleh, Rezim Ecoside, ibid
sosial; (2) munculnya bahaya-bahaya baru akibat ciptaan manusia, seperti bahan
berbahaya beracun atau B3 serta hasil-hasil bioteknologi; (3) pengalihan beban dan risiko
generasi berikutnya atau kepada sektor serta kepada daerah lain; (4) kurang berfungsinya
sistem organisasi sosial dalam masyarakat. Risiko-risiko ini terutama akan berdampak
pada: pertumbuhan penduduk, pertumbuhan produksi untuk memenuhi kebutuhan
penduduk dan lembaga-lembaga masyarakat termasuk teknologi yang dikembangkan
untuk meningkatkan produksi44

Analisis Feminist Legal Theory terhadap Substansi Hukum Lingkungan

Perpu Nomor 1 Tahun 2004 yang memberikan ijin kepada perusahaan tambang
untuk membuka tambang terbuka di kawasan hutan lindung berdampak pada kerusakan
lingkungan dan lebih jauh berdampak pada penderitaan perempuan. Jika kerusakan
lingkungan ditilik berdasarkan perspektif feminis maka harus dilihat penderitaan
perempuan secara personal. Mengingat perspektif feminisme menjunjung nilai-nilai
pengetahuan dan pengalaman personal, rumusan tentang diri sendiri, kekuasaan personal,
dan otentitas.45
Dalam konteks lingkungan hidup, terdapat keterpautan antara pola dominasi
terhadap perempuan dan perlakuan dominasi terhadap alam. Dalam titik ini muncul aliran
ekofiminisme. Karen J. Warren menspesifikan lebih jauh asumsi dasar dari
ekofeminismeyang meliputi : (1) ada keterkaitan penting antara opresi terhadap
perempuan dan opresi terhadap alam; (2) pemahaman terhadap alam dalam kaitan ini
adalah penting untuk mendapatkan pemahaman yang memadai atas opresi terhadap
perempuan dan opresi terhadap alam; (3) teori dan praktik feminisme harus memasukkan
perspektif ekologi; dan (4) pemecahan masalah ekologi harus menyertakan perspektif
feminisme.46
Terkait dengan perspektif feminisme, maka untuk melihat suatu substansi
peraturan perundang-undangan berperspektif feminis atau tidak, termasuk hokum
lingkungan47 atau hokum yang terkait dengan aspek lingkungan, dapat mempergunakan

44
Koesnadi Hardjasoemantri, 1986. Aspek Hukum Peran Serta Masyarakat Dalam Pengelolaan
Lingkungan Hidup, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
45
Arimbi Heroepoetri, R. Valentina, Percakapan Tentang Feminisme vs Neoliberalisme, Jakarta,
debtWATCH Indonesia dan Institut Perempuan, 2004, hal. 17-19
46
Lebih lanjut Warren menawarkan feminisme transformatif untuk menyikapi kegagalan 4 (empat) cabang
pemikiran feminis – liberal, marxis, radikal, dan sosialis – untuk melaksanakan praktik ekofeminisme.
Feminisme transformatif mempunyai 6 (enam) karakteristik: (1) feminisme transformatif mengakui dan
mengeksplisitkan saling keterkaitaan antara semua sistem opresi; (2) menekankan keberagaman
pengalaman perempuan; (3) menolak logika dominasi; (4) memikirkan ulang apa artinya menjadi manusia;
(5) bergantung pada etika yang menekankan nilai-nilai etika “feminin” tradisional yang cenderung untuk
menjalin, saling menghubungkan, dan menyatukan manusia; dan (6) ilmu pengetahuan dan teknologi
hanya dipergunakan untuk menjaga kelangsungan bumi. Lihat Rosemarrie Putnam Tong, Feminist
Thought, Yogyakarta, Jalasutra, 2005, 366 – 391
47
Hukum lingkungan adalah keseluruhan kaedah dan azas yang terkandung di dalam peraturan
perundang-undangan yang berobyek lingkungan hidup yang oleh masyarakat diwujudkan dalam kehidupan
bermasyarakat melalui lembaga-lembaga dan proses kemasyarakatan. Mengadopsi pemikiran Mochtar
Kusumaatmadja
pisau analisis Feminist Legal Theory. Feminist Legal Theory menyangkut 2 (dua) aspek
yakni teori hokum berperspektif feminis dan praktik hokum berperspektif feminis.48
Teori hokum berperspektif feminis membantu memetakan persoalan-persoalan yang
terkait dengan adanya kebutuhan untuk menangani persoalan yang menyangkut hak-hak
perempuan di hadapan hokum. Untuk itu karakteristik dasar teori hokum berperpektif
feminis menjadi hal yang patut untuk dijadikan pijakan untuk melakukan perubahan
substansi hokum lingkungan. Karakteristik dasar tersebut meliputi : (i) mengubah
pandangan bahwa hokum adalah sesuatu yang netral dan obyektif; (ii) mengidentifikasi
implikasi hokum yang menyokong subordinasi terhadap perempuan; (iii) bagaimana
hokum itu bekerja dalam konteks yang lebih luas.49 Kemudian praktik hokum yang
berperspektif femisnis setidak-tidaknya mencermati pada 2 (dua) focus sebagai berikut:
pertama, bagaimana hokum mempengaruhi perempuan dan menyumbangkan penindasan
terhadap mereka. Kedua, bagaimana hokum digunakan untuk meningkatkan posisi social
perempuan.50
Jika substansi hokum lingkungan dianalisis dengan perspektif feminist legal
theory maka perspektif ini dapat dipergunakan untuk mengeksaminasi sampai
sejauhmana substansi tersebut berpihak pada perempuan atau malah menyumbang
terjadinya subordinasi terhdap perempuan. Dalam kerangka ini maka analisis substansi,
proses pembentukan hokum, metode pemikiran hokum dan epistemology hokum yang
berobyek lingkungan perlu dilakukan.51 Di samping itu upaya mengajukan permasalahan
kerusakan lingkungan hidup yang berdampak pada perempuan melalui proses
penyelesaian melalui mekanisme hokum, baik melalui pengadilan maupun alternative
dispute resolution perlu terus diupayakan. Upaya ini dilakukan dengan landasan bahwa
hak perempuan atas lingkungan hidup yang sehat bersifat justiciable dan enforceable
dalam arti kata dapat diputuskan pemenuhannya lewat pengadilan dan dipaksa
pemenuhannya lewat sebuah vonis hakim karena pelanggaran HAM menerbitkan upaya
pemulihan bagi korbannya.
Terkait dengan upaya pemulihan korban, studi van Boven mengemukakan bahwa
hak-hak korban pelanggaran HAM secara komprehensif tidak hanya terbatas pada hak
untuk tahu (right to know) dan hak atas keadilan (right to justice), tetapi mencakup juga
hak atas reparasi (right to reparation).52 Pemulihan adalah hak yang menunjuk kepada
semua tipe pemulihan baik material maupun non material bagi para korban pelanggaran
HAM. Aspek-aspek pemulihan bagi korban meliputi kompensasi53, retitusi54,

48
Ratna Kapoor, Pendekatan Hukum Berperspektif Gender, disarikan dan diterjemahkan oleh sri Wiyanti
Eddyono, dalam Materi Pelatihan HAM bagi Pengacara Angkatan VII, Jakarta, Elsam, 2002
49
ibid. Perspektif feminisme perlu pula dijadikan pisau analisis untuk melengkapi sehingga dalam
memandang persoalan perempuan lebih komprehensif dan lebih utuh. Adapun perpektif tersebut meliputi :
(i) pendekatan holistic; (ii) berorientasi pada proses; (iii) menghargai keanekaragaman; (iv)pendekatan win-
win terhadap konflik; (v) menghargai intuisi, rasio, dan logika; (vi) menolak pemisahan antara pikiran,
perasaan, dan ketubuhan; (vii) pengambilan keputusan tidak hierarkis; (viii) menolak naturalisme; (ix)
pembagian kekuasaan yang adil; dan (x) menghargai pengorganisasian secara kolektif untuk melakukan
perubahan. Lihat Arimbi Heroepoetri, R. Valentina, op. cit, hal. 25-29
50
ibid
51
Ratna Kapoor, op.cit.
52
Ifdhal Kasim, Prinsip-Prinsip van Boven, op. cit. , hal. xv
53
Kompensasi merupakan kewajiban yang harus dibayarkan dalam bentuk uang tunai atau diberikan dalam
berbagai bentuk, seperti perawatan kesehatan mental dan fisik, pemberian pekerjaan, perumahan,
pendidikan, dan tanah. Lihat Ifdhal Kasim, Prinsip-Prinsip van Boven, ibid. xvi
rehabilitasi55, kepuasan (satisfaction) dan jaminan terhadap tidak terulanginya lagi
pelanggaran (guarantees of non-repetition).56
Dalam titik ini dapat terlihat apakah hak atas lingkungan yang baik dan sehat
yang telah menjadi hak konstitusional efektif berhadapan dengan kekuatan arus utama
neoliberalisme yang digawangi oleh korporasi global.

Pejaten Barat, Jakarta, 15 November 2005

Adzkar Ahsinin

54
Restitusi merupakan kewajiban pengembalian harta milik atau pembayaran atas kerusakan, atau kerugian
yang diderita, penggantian baiaya-biaya yang timbul sebagai akibat jatuhnya korban atau penyediaan jasa
oleh pelakunya sndiri. Lihat, Ifdhal Kasim, ibid
55
Rehabilitasi merupakan kewajiban untuk memulihkan korban secara medis dan social., ibid
56
Sedangkan kepuasan dan jaminan tidak terulangnya pelanggaran merupakan bagian dari kewajiban
negara dan bentuk khusus dari reparasi. ibid