Anda di halaman 1dari 4

Good governance is less governing:

Strengthening Student Role in Governance


Oleh: Pony Purnamasari H

Konsep good governance yang dianjur-anjurkan oleh lembaga-lembaga donor internasional tersebut kemudian berubah akibat pengaruh Amerika Serikat yang menggunakan globalisasi untuk menebarkan sistem pasar bebas ke segala penjuru dunia. Sejak itu good governance diartikan sama dengan less government. Semua kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan masyarakat di negara dapat dipenuhi lebih baik bila campur tangan pemerintah tidak terlalu dominan. Pada good governance, menurut Masyarakat Transparansi Indonesia, merupakan upaya pengelolaan pemerintahan yang baik dengan mengikuti kaidah-kaidah tertentu sesuai prinsip dasar good governance. Adapun prinsip dasar good governance tersebut adalah: 1. Partisipasi masyarakat. Semua warga masyarakat mempunyai suara dalam pengambilan keputusan, baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga perwakilan yang sah yang mewakili kepentingan mereka. Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun berdasarkan kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat, serta kapasitas untuk berpartisipasi secara konstruktif. 2. Tegaknya supremasi hukum. Kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa pandang bulu, termasuk di dalamnya hukum-hukum yang menyangkut hak asasi manusia. 3. Transparansi. Transparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau.

4. Peduli pada stakeholder. Lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintahan harus berusaha melayani semua pihak yang berkepentingan. 5. Berorientasi pada konsensus. Tata pemerintahan yang baik menjembatani kepentingan-kepentingan yang berbeda demi terbangunnya suatu konsensus menyeluruh dalam hal apa yang terbaik bagi kelompokkelompok masyarakat, dan bila mungkin, konsensus dalam hal kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur. 6. Kesetaraan. Semua warga masyarakat mempuntai kesempatan memperbaiki atau mempertahankan kesejahteraan mereka. 7. Efektivitas dan efisiensi. Proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga membuahkan hasil sesuai kebutuhan warga masyarakat dan dengan n menggunakan sumber-sumber daya yang ada seoptimal mungkin. 8. Akuntabilitas. Para pengambil keputusan di pemerintah, sektor swasta dan organisasi-organisasi masyarakat bertanggung jawab baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga yang berkepentingan. Bentuk pertanggungjawaban tersebut berbeda satu dengan lainnya tergantung dari jenis organisasi yang bersangkutan. 9. Visi Strategis. Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh ke depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, serta kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut. Selain itu mereka juga harus memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan, budaya dan sosial yang menjadi dasar bagi perspektif tersebut.

Belgia merupakan negara yang sangat dekat dengan label good governance is less governing, karena dapat bertahan tanpa pemerintah. Salah satu rahasia stabilitas Belgia adalah kuatnya kebiasaan. Seperti Negara tetangganya, Belanda, negara dengan 11 juta penduduk itu terbiasa mempunyai pemerintah sementara untuk waktu yang panjang. Bagaimana kondisi good

governance di Indonesia? Berbagai assessment yang diadakan oleh lembaga-lembaga internasional selama ini menyimpulkan bahwa Indonesia sampai saat ini belum pernah mampu mengambangkan good governance. Mungkin karena alasan itulah gerakan reformasi yang digulirkan oleh para mahasiswa dari berbagai kampus telah menjadikan good governance, walaupun masih terbatas pada pemberantasan praktek KKN (Glean governance). Namun, hingga saat ini salah satu tuntutan pokok dari amanat reformasi itupun belum terlaksana. Kebijakan yang tidak jelas, penempatan personil yang tidak kredibel, enforcement menggunakan, serta kehidupan politik yang kurang berorientasi pada kepentingan bangsa. Tidak perlu disanggah lagi bahwa Indonesia masa depan yang kita cita-citakan amat memerlukan good governance. Pengembangan good governance tersebut harus menjadi tanggungjawab kita semua. Dalam kondisi seperti sekarang, pemerintah, yang selama ini mendapat tempat yang dominan dalam penyelenggaraan otoritas politik, ekonomi dan administrasi, sukar diharapkan secara sadar dan sukarela, akan berubah dan menjelma menjadi bagian yang efektif dari good governance Indonesia. Karena itu pembangunan good governance dalam menuju Indonesia masa depan harus dilakukan melalui tekanan eksternal dari luar birokrasi atau pemerintah, yakni melalui pemberdayaan civil society untuk memperbesar partisipasi berbagai warganegara dalam peneyelenggaraan pemerintahan. Partisipasi mahasiswa sangat diperlukan dalam mencapai good governance di Indonesia. Apa yang terjadi jika terhdap kebijakan yang disusun kita hanya bisa diam dan tidak memberikan respon bahkan meskipun kita menemukan ketidakpuasan atau ketidakcocokan didalamnya? Dimana tanggung jawab kita terhadap bangsa dan status mahasiswa yang kita sandang ini? Kita mahasiswa dikenal dengan pemikiran kritisnya, sudah saatnya kita bersama-sama mendukung keberlangsungan sistem pemerintahan dengan menyalurkan aspirasi yang membangun. Mahasiswa harus berperan aktif, aktif sebagai subjek dalam penentuan kebijakan. Mahasiswa perlu berubah, dari reaktif menjadi responsif. Lebih dari itu, sejatinya mahasiswa dapat berperan sebagai public pressure yang mengerti isu dan ikut berperan dalam pengambilan keputusan.

Partisipasi juga mengandung arti sebagai kolusi, penggabungan kekuatan berbagai pihak yang memiliki minat yang sama, dalam hal ini bahu membahu antar mahasiswa menuju sistem tata kelola yang baik dan terintegrasi. Kolusi yang tidak kalah penting tentu sinergi antara harapan mahasiswa dengan pemangku kepentingan terkait. Seorang mahasiswa juga berperan dalam mengontrol kebijakan pemerintah yang akan diberlakukan di Negara ini. Mahasiswa yang akan memperjuangkan nasib bangsa ini, apakah kebijakan itu berdampak positif maupun negatif. Apabila dampak itu dirasa berdampak negatif dan bahkan merugikan rakyat, maka mahasiswalah yang akan memperjuankan. Mahasiswa juga dapat menjadi aktor penting dalam mendorong dan memaksa pemerintah dalam mewujudkan good governance dalam sistem pemerintahan. Kedua aspek peran sosial mahasiswa tersebut (social control dan social development) merupakan sebuah pengejawantahan Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Bentuk pengabdian sosial seperti itulah yang akan menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan yang sebenarnya. Lalu, bagaimana peran kita setelah menjadi mahasiswa yakni peran selanjutnya ketika dewasa menjadi seorang pemimpin Negara (eksekutif, legislatif maupun yudikatif). Sebenarnya, apapun tujuan kita adalah sama yaitu sebagai warga Negara Republik Indonesia dan menjaga keutuhan Negara kita sendiri. Namun, yang membedakan kita disini yaitu peran kita. Kedudukan yang menentukan bagaimana tindakan yang akan kita lakukan.

Referensi : 1. Effendi, Sofian, 2005. Membangun Good Governance: Tugas Kita Bersama. Yogyakarta: UGM University Press 2. Hirst, Paul. 2000. Democracy and Governance. in Debating Governance: Authority, Steering, and Democracy, Jon Pierre, ed., Oxford: Oxford University Press, 13-35. 3. Plumptre, Tim, 2009, Governance and Good Governance. US: Institute On Governance 4. Rhodes, R. A. W. 1997. Understanding Governance: Policy Networks, Governance, Reflexivity, and Accountability. Buckingham: Open University Press.