Anda di halaman 1dari 3

Excretion of starch and esterified short-chain fatty acids by ileostomy subjects after the ingestion of acylated starches1_3

Julie M Clarke, Anthony R Bird, David L Topping, and Lynne Cobiac

Abstrak: Asam lemak rantai pendek (ALRP) memiliki peran dalam menjaga kesehatan usus dan dapat membantu mencegah dan mengobati penyakit usus (kolon). Kemampuan pati terasilasi untuk menghasilkan ALRP pada usus besar sudah ditunjukkan dalam studi hewan namun belum dikembangkan pada manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan apakah setelah dimasak, pati terasilasi sebagian besar dapat bertahan dalam pencernaan usus kecil relawan ileostomi. Relawan mengkonsumsi satu dosis custards (puding) yang mengandung 20 g cooked high-amylose maize starches acetylated (HAMSA), high-amylose maize starches propionylated (HAMSP), atau high-amylose maize starches butyrylated (HAMSB) pada setiap hari pengumpulan. Banyaknya pati dan ALRP teresterifikasi yang dicerna dan dikeluarkan didalam limbah stoma diukur. Puding yang mengandung unacylated high-amylose maize starch (Hylon VII,HAMS) dan low-amylose maize starch (3401C,LAMS) dikonsumsi sebagai kontrol. Sebanyak 73-76% ALRP teresterifikasi mampu menyelamatkan pencernaan usus halus, dimana hal ini menunjukkan potensi dari pati terasilasi untuk memberikan ALRP secara spesifik untuk usus besar. Resistensi pati untuk pencernaan usus kecil yang diukur berdasarkan ekskresi ileum secara signifikan lebih besar untuk HAMSA, HAMSP, HAMSB dan HAMS daripada LAMS (P<0.001). Konsentrasi dari asetat dalam stoma digesta lebih tinggi dari yang diinginkan pada semua kelompok, Asam tambahan ini kemungkinan bersal dari sumber endogen. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pati terasilasi merupakan metode yang berpotensi efektif untuk menghasilkan ALRP spesifik dalam jumlah yang signifikan di usus manusia. Produk ini memiliki potensi untuk pengaplikasian dalam pengobatan dan pencegahan gangguan usus berdasarkan modulasi ALRP.

Pendahuluan Asam lemak rantai pendek (ALRP) terutama asetat, propionate, dan butirat dihasilkan selama Fermentasi karbohidrat oleh bakteri didalam usus manusia dan penting bagi pencernaan untuk berfungsi normal. ALRP berpotensi untuk mengobati dan mencegah gangguan usus seperti konstipasi, diare, kanker kolorektal dan colitis usertarif serta dapat membantu pemulihan akut dari kemoterapi dan bekas operasi. Konsumsi pati resisten (RS) dapat meningkatkan ALRP pada usus besar. ALRP dilepaskan oleh bacterial enzim dan tersedia untuk diserap dan dimanfaatkan oleh mikroba usus. Pati terasilasi menawarkan tingkat kekhususan dalam menghasilkan ALRP karena peningkatan asam terbesar adalah ketika teresterifikasi, sedangkan residu pati dapat digunakan sebagai fermentasi tambahan ALRP. Metode Penelitian ini menggunakan relawan sebanyak 7 orang (6 wanita dan 1 pria) dengan rata-rata umur 56 tahun (kisaran 37-81 tahun) yang telah sembuh dari ileostomi dan dalam kondisi sehat tanpa gejala peradangan atau disfungsi usus kecil. Percobaan dibagi menjadi 2 periode masing-masing 3 hari terdiri dari 3 hari pengumpulan secara berturut-turut. Ada 5 pelakuan yaitu menggunakan 20 g HAMSA, HAMSP, HAMSB (Pati jagung terasilasi tinggi amilosa) serta LAMS dan HAMS sebagai kontrol. Puding yang mengandung LAMS dikonsumsi 2 kali selama percobaan dan sisanya mengkonsumsi puding yang mengandung 4 pati lainnya. Selama 2 periode dan 24 jam sebelum percobaan relawan harus mengkonsumsi makanan diet yang rendah pati. Relawan harus mengosongkan kantung stoma setiap 2 jam sampai pukul 21.00 pada hari tes dan menempatkan isinya pada suhu 20oC untuk menimimalkan degradasi bakteri pada stoma limbah. Pengumpulan dilakukan pada pukul 07.00 setelah konsumsi pati. Pati dikonsumsi sebagai pudding susu cokelat yang dipanggang pada suhu 72oC dan didinginkan maks. 72 jam sebelum dikonsumsi. 1 porsi pudding mengandung 20 g pati, 100 mL susu coklat merk Pura Klasik, 12 g Coklat topping merk Capilano dan essens vanili. 1 puding dibuat bebas laktosa susu. 4 puding dibuat untuk analisis dan screening bakteri. Sampel digesta stoma setiap relawan dicairkan, dikumpulkan, dihomogenkan dan disubsampel untuk dianalisis. Sampel puding dan digesta stoma dianalisis unesterifikasi dan total ALRP. Sampel puding dan pati dihidrolisis dengan cara divortex selama 2 jam bersama NaOH 0,45 mol/L sebanyak 12,5 kali volume sampel dan dinetralkan dengan H3PO4 10% sebelum penyulingan. Sampel digesta beku dihidrolisis sebelum disuling kemudian dianalisis total ALRP-nya. Jumlah ALRP sampel digesta beku dibandingkan dengan sampel basah untuk membuktikan bahwa ALRP unesterifikasi tidak hilang selama pembekuan digesta. Tidak ada metode standar untuk megukur total pati terasilasi, maka puding dan digesta stoma dianalisis menggunakan metode modifikasi dimana pati disebar sebanyak 10 kali volume

sampel dalam 4 mol KOH/L. Untuk menentukan kadar asetil dari pati asetat dilakukan penggabungan metode diatas dengan metode pretreatment hidrolisis dimana sampel divortex selama 2 jam bersama NaOH 0,45 mol/L sebanyak 12,5 kali volume sampel. Hasil dan Pembahasan Tidak ada perbedaan signifikan antara output digesta stoma, pH dan materi kering (%) pada setiap perlakuan (tabel 2). Nilai pH dalam kisaran netral menunjukkan produksi asam minimal fermentasi pati oleh bakteri dalam kantong stoma. Tidak ada perbedaan signifikan antara jumlah unesterifikasi ALRP (mmol) dikeluarkan di stoma digesta (tabel 3) pada setiap perlakuan. Jumlah unesterifikasi butirat dan propionat namun asetat memiliki kadar tertinggi diantara semua perlakuan. Output pati lebih saat mencerna LAMS lebih rendah dari pati lain, sedangkan output konsumsi HAMS dan pati terasilasi tidak mengalami perbedaan yang signifikan (tabel 4). Puding yang dimasak menggunakan pati terasilasi mengandung kadar asam unesterifikasi yang lebih tinggi dibandingkan control. Hal ini menunjukkan bahwa asam lemak unesterifikasi tetap berada didalam pati setelah asilasi atau asam lemak teresterifikasi lepas saat memasak pati. Puding yang dibuat menggunakan pati terasilasi mengandung lebih banyak ALRP teresterifikasi dibandingkan control. Sebagai kesimpulan, proporsi ALRP teresterifikasi untuk pati asilasi yang selamat mencerna di usus kecil antara 73-76% (Tabel 6). Produksi pati terasilasi menyediakan sebuah metode untuk menghasilkan sejumlah besar ALRP spesifik dengan konsentrasi yang lebih besar daripada fermentasi RS dalam kolon (HAMS dan LAMS). Meningkatkan konsentrasi ALRP di usus besar dengan pati terasilasi akan lebih banyak diserap dibandingkan dengan HAMS. Kesimpulan Pati terasilasi yang dicerna manusia sebanyak 73-76% ALRP teresterifikasi tahan di usus halus. Data mengkonfirmasi bahwa pati terasilasi berpotensi efektif untuk menghasilkan ALRP spesifik secara signifikan ke usus besar maka produk ini memiliki potensi untuk pengaplikasian dalam pengobatan dan pencegahan gangguan usus.

Beri Nilai