Anda di halaman 1dari 17

HAKIKAT DAN FUNGSI BUKU TEKS

Sebagaimana tersebut pada bagian sebelumnya bahwa buku teks merupakan salah satu jenis buku pendidikan. Buku teks adalah buku yang berisi uraian bahan tentang mata pelajaran atau bidang studi tertentu, yang disusun secara sistematis dan telah diseleksi berdasarkan tujuan tertentu, orientasi pembelajaran, dan perkembangan siswa, untuk diasimilasikan. Rumusan senada juga disampaikan oleh A.J. Loveridge (terjemahan Hasan Amin) sebagai berikut. Buku teks adalah buku sekolah yang memuat bahan yang telah diseleksi mengenai bidang studi tertentu, dalam bentuk tertulis yang memenuhi syarat tertentu dalam kegiatan belajar mengajar, disusun secara sistematis untuk diasimilasikan. Chambliss dan Calfee (1998) menjelaskannya secara lebih rinci. Buku teks adalah alat bantu siswa untuk memahami dan belajar dari hal-hal yang dibaca dan untuk memahami dunia (di luar dirinya). Buku teks memiliki kekuatan yang luar biasa besar terhadap perubahan otak siswa. Buku teks dapat mempengaruhi pengetahuan anak dan nilai-nilai tertentu. Sementara itu Direktorat Pendidikan Menengah Umum (2004: 3) menyebutkan bahwa buku teks atau buku pelajaran adalah sekumpulan tulisan yang dibuat secara sistematis berisi tentang suatu materi pelajaran tertentu, yang disiapkan oleh pengarangnya dengan menggunakan acuan kurikulum yang berlaku. Substansi yang ada dalam buku diturunkan dari kompetensi yang harus dikuasai oleh pembacanya (dalam hal ini siswa). Pusat Perbukuan (2006: 1) menyimpulkan bahwa buku teks adalah buku yang dijadikan pegangan siswa pada jenjang tertentu sebagai media pembelajaran (instruksional), berkaitan dengan bidang studi tertentu. Buku teks merupakan buku standar yang disusun oleh pakar dalam bidangnya, biasa dilengkapi sarana pembelajaran (seperti pita rekaman), dan digunakan sebagai penunjang program pembelajaran. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2005 menjelaskan bahwa buku teks (buku pelajaran) adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan.

Dari kelima rumusan itu kiranya dapat diketahui indikator atau ciri penanda buku teks sebagai berikut. Buku teks merupakan buku sekolah yang ditujukan bagis siswa pada jenjang pendidikan tertentu. Buku teks berisi bahan yang telah terseleksi. Buku teks selalu berkaitan dengan bidang studi atau mata pelajaran tertentu Buku teks biasanya disusun oleh para pakar di bidangnya

Buku teks ditulis untuk tujuan instruksional tertentu. Buku teks biasanya dilengkapi dengan sarana pembelajaran. Buku teks disusun secara sistematis mengikuti strategi pembelajaran tertentu. Buku teks untuk diasmilasikan dalam pembelajaran. Buku teks disusun untuk menunjang program pembelajaran. Dari butir-butir indikator tesebut, buku teks mempunyai ciri tersendiri bila dibanding dengan buku pendidikan lainnya, baik dilihat dari segi isi, tataan, maupun fungsinya. Dilihat dari segi isinya, buku teks merupakan buku yang berisi uraian bahan ajar bidang tertentu, untuk jenjang pendidikan tertentu, dan pada kurun ajaran tertentu pula. Dilihat dari segi tataanya, buku teks merupakan sajian bahan ajar yang mempertimbangkan faktor (1) tujuan pembelajaran, (2) kurikulum dan struktur program pendidikan, (3) tingkat perkembangan siswa sasaran, (4) kondisi dan fasilitas sekolah, dan (5) kondisi guru pemakai. Dari segi fungsinya, selain mempunyai fungsi umum sebagai sebagai sosok buku, buku teks memupunyai fungsi sebagai (1) sarana pengembang bahan dan program dalam kurikulum pendidikan, (2) sarana pemerlancar tugas akademik guru, (3) sarana pemerlancar ketercapaian tujuan pembelajaran, dan (4) sarana pemerlancar efisiensi dan efektivitas kegiatan pembelajaran.

Secara teknis Geene dan Pety (dalam Tarigan, 1986: 21) menyodorkan sepuluh kategori yang harus dipenuhi buku teks yang berkualitas. Sepuluh kategori tersebut sebagai berikut.

* Buku teks haruslah menarik minat siswa yang mempergunakannya. * Buku teks haruslah mampu memberikan motivasi kepada para siswa yang memakainya. * Buku teks haruslah memuat ilustrasi yang menarik siswa yang memanfaatkannya. * Buku teks seyogyanya mempertimbangkan aspek-aspek linguistik sehingga sesuai dengan kemampuan para siswa yang memakainya. * Isi buku teks haruslah berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya, lebih baik lagi kalau dapat menunjangnya dengan terencana sehingga semuanya merupakan suatu kebulatan yang utuh dan terpadu. * Buku teks haruslah dapat menstimuli, merangsang aktivitas-aktivitas pribadi para siswa yang mempergunaknnya. * Buku teks haruslah dengan sadar dan tegas menghindar dari konsep-konsep yang samar-samar dan tidak biasa, agar tidak embuat bingung siswa yang memakainya. * Buku teks haruslah mempunyai sudut pandang atau point of view yang jelas dan tegas sehingga ada akhirnya juga menjadi sudut pandang para pemakainya yang setia.

* Buku teks haruslah mamu memberi pemantapan, penekanan pada nilai-nilai anak dan orang dewasa. * Buku teks haruslah dapat menghargai perbedaan-perbedaan pribadi para pemakainya.

Sepuluh kategori yang disodorkan Geene dan Petty tersebut pada dasarnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari ketiga ciri buku teks yang disampaikan sebelumnya. Dikatakan demikian, karena butir-butir kategori tersebut bisa dimasukkan ke dalam tiga ciri buku teks. Sebagai kelengkapan kategori tersebut, Schorling dan Batchelder (1956) memberikan empat ciri buku teks yang baik, yaitu (1) direkomendasikan oleh guru-guru yang berpengalaman sebagai buku teks yang baik; (2) bahan ajarnya sesuai dengan tujuan pendidikan, kebutuhan siswa, dan kebutuhan masyarakat; (3) cukup banyak memuat teks bacaan, bahan drill dan latihan/tugas; dan (4) memuat ilustrasi yang membantu siswa belajar.

Sebagai buku pendidikan, buku teks memainkan peranan penting dalam pembelajaran. Dengan buku teks, program pembelajaran bisa dilaksanakan secara lebih teratur, sebab guru sebagai pelaksana pendidikan akan memperoleh pedoman materi yang jelas. Terhadap pentingnya buku teks ini, Grambs, J. D. dkk. (1959) menyatakanThe textbook is one of the teachers major tools in guiding learning. Sementara itu, Hubert dan Harl menyoroti nilai lebih buku teks bagi guru sebagai berikut.

* Buku teks memuat persediaan materi bahan ajar yang memudahkan guru merencanakan jangkauan bahan ajar yang akan disajikannya pada satuan jadwal pengajaran (mingguan, bulanan, caturwulanan, semesteran). * Buku teks memuat masalah-masalah terpenting dari satu bidang studi. Buku teks banyak memuat alat bantu pengajaran, misalnya gambar, skema, diagram, dan peta. * Buku teks merupakan rekaman yang permanen yang memudahkan untuk mengadakan review di kemudian hari. * Buku teks memuat bahan ajar yang seragam, yang dibutuhkan untuk kesamaan evaluasi, dan juga kelancaran diskusi. * Buku teks memungkinkan siswa belajar di rumah. * Buku teks memuat bahan ajar yang relatif telah tertata menurut sistem dan logika tertentu.

* Buku teks membebaskan guru dari kesibukan mencari bahan ajar sendiri sehingga sebagian waktunya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain.

Bagi siswa sasaran, buku teks akan berpengaruh terhadap kepribadiannya, walaupun pengaruh itu tidak sama antara siswa satu dengan lainnya. Dengan membaca buku teks, siswa akan dapat terdorong untuk berpikir dan berbuat yang positif, misalnya memecahkan masalah yang dilontarkan dalam buku teks, mengadakan pengamatan yang disarankan dalam buku teks, atau melakukan pelatihan yang diinstruksikan dalam buku teks. Dengan adanya dorongan yang konstruktif tersebut, maka dorongan atau motif-motif yang tidak baik atau destruktif akan terkurangi atau terhalangi. Oleh karena itu benar apa yang dikatakan oleh Musse dkk (1963:484) bahwa pengaruh buku teks terhadap anak bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu (1) dapat mendorong perkembangan yang baik dan (2) menghalangi perkembangan yang tidak baik. Sebagai pemantapan tentang fungsi buku teks, Loveridge menyatakan sebagai berikut: Pelajaran dalam kelas sangat bergantung pada buku teks. Dalam keadaan guru tidak memenuhi syarat benar, maka buku teks merupakan pembimbing dan penunjang dalam mengajar. Bagi murid, buku teks bertugas sebagai dasar untuk belajar sistematis, untuk memperteguh, mengulang, dan untuk mengikuti pelajaran lanjutan.

Bagi orang tua pun buku teks mempunyai peran tersendiri. Dengan buku teks orang tua bisa memberikan arahan kepada anaknya apabila yang bersangkutan kurang memahami materi yang diajarkan d sekolah. Dari keadaan ini orang tua akhirnya bisa mengetahui daya serap anaknya terhadap materi mata pelajaran tertentu. Apabila daya serapnya kurang, perlu dilakukan langkahlangkah perbaikan; dan apabila daya serapnya baik, perlu juga dilakukan langkah-langkah pemantapan atau pengayaan.

Pada sisi lain, buku teks dapat dipandang sebagai simpanan pengetahuan tentang berbagai segi kehidupan (Pusat Perbukuan, 2005). Karena sudah dipersiapkan dari segi kelengkapan dan penyajiannya, buku teks itu memberikan fasilitas bagi kegiatan belajar mandiri, baik tentang substansinya maupun tentang caranya. Dengan demikian, penggunaan buku teks merupakan bagian dari upaya pencipataan budaya buku bagi siswa, yang menjadi salah satu indikator dari masyarakat yang maju.

Dipandang dari hasil belajar, buku teks mempunyai peran penting. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks berperan secara maknawi dalam prestasi belajar siswa. Laporan World Bank (1995) mengenai Indonesia, misalnya, ditunjukkan bahwa tingkat kepemilikan siswa akan buku dan fasilitas lain berkorelasi positif dengan prestasi belajar siswa. Di Filipina, peningkatan rasio kepemilikan buku siswa dari 1 : 10 menjadi 1 : 2 di kelas 1 dan 2 secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa (World Bank, 1995). Pernyataan tersebut diperkuat oleh Supriadi (2000) yang

menyatakan bahwa tingkat kepemilikan siswa akan buku berkorelasi positif dan bermakna dengan prestasi belajar.

Dipandang dari proses pembelajaran pun demikian. Untuk mencapai kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran, siswa perlu menempuh pengalaman dan latihan serta mencari informasi tertentu. Salah satu alat yang efektif untuk mencapai kompetensi tersebut adalah lewat penggunaan buku teks. Sebab, pengalaman dan latihan yang perlu ditempuh dan informasi yang perlu dicari, begitu pula tentang cara menempuh dan mencarinya, tersaji dalam buku teks secara terprogram.

Walaupun buku teks diperuntukkan bagi siswa, guru pun dapat memanfaatkannya. Pada waktu memberikan pembelajaran kepada siswa, guru dapat mempertimbangkan pula apa yang tersaji dalam buku teks. Namuk demikian, guru tetap memiliki kebebasan dalam memilih, mengembangkan, dan menyajikan materi pembelajaran. Semua itu merupakan wewenang dan tanggung jawab profesionalitas guru.

Dari uraian tersebut jelaslah bahwa keberadaan buku teks sangat fungsional baik bagi kelancaran pengelolaan kelas, bagi guru, bagi siswa, maupun bagi orang tua.

Diposkan oleh Masnur Muslich di 10:17 Label: Artikel

PENGGUNAAN BUKU TEKS DI SEKOLAH MENENGAH (THE LIFE SPAN OF TEXTBOOKS)

Buku teks ialah rujukan utama dalam proses pembelajaran dan pengajaran di bilik darjah. Buku teks bolehlah dinisbahkan sebagai sebuah empangan yang dibina berdasarkan spesifikasi kedalaman, keluasan dan muatan air yang akan ditampung. Buku teks ialah penanda aras liputan dan batasan untuk tujuan aktiviti kurikulum dan pentaksiran. Kepentingan buku teks dibuktikan menerusi peruntukan besar kerajaan menyediakan skim pinjaman buku teks (SPBT) kepada semua pelajar dari tahun 1 sekolah rendah hinggalah tingkatan 5. Hanya pelajar prauniversiti tingkatan 6 yang harus membeli sendiri buku teks mereka. Buku teks yang diperakukan telah melepasi segala bentuk tapisan, terutama keselarasannya dengan sukatan pelajaran dan falsafah pendidikan kebangsaan.

Kelebihan buku teks berbanding dengan buku rujukan tambahan, suplemen dan buku kerja ialah penyediaannya dilakukan oleh panel penulis dan penilai yang pakar dalam bidang mata pelajaran masing-masing, serta telah mengambil kira semua kehendak domain pendidikan, iaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Isi kandungan dan persembahan buku teks juga disesuaikan dengan aras pencapaian murid, serta peruntukan masa aktiviti bilik darjah. Pendek kata, fungsi buku teks tidak boleh diambil alih oleh buku rujukan, modul atau e-buku teks yang telah diubahsuaikan.

Penggunaan buku teks di sekolah rendah, serta kebanyakan mata pelajaran di sekolah menengah memang telah dioptimumkan. Di tangan guru yang kreatif dan inovatif, buku teks akan menjadi bahan bantu mengajar (BBM) yang paling lengkap. Segala aktiviti bilik darjah, modul dan tugasan murid semata-mata menggunakan buku teks secara optimum.

Buku teks memberi keadilan kepada semua murid tanpa mengira status sosioekonomi untuk memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan yang lengkap dan sah. Asas ilmu pengetahuan tetap sama walaupun mungkin berlaku perubahan dari segi contoh dan huraian. Isu keusangan fakta dalam buku teks tidak harus timbul jika semua pihak akur bahawa murid sekolah patut dibekalkan dengan asas pengetahuan, kemahiran dan sikap bagi menjana modal insan minda kelas pertama yang didambakan oleh negara.

Isu keusangan fakta buku teks boleh ditangani jika pihak berwajib menyediakan laman sesawang atau portal khas yang mengemas kini contoh dan huraian kepada asas pengetahuan dari masa ke masa. Penegasan perlu dibuat bahawa pentaksiran sama ada secara formatif atau sumatif digubal berdasarkan asas pengetahuan yang terkandung dalam buku teks semata-mata. Aras kefahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan penilaian (taksonomi Bloom) juga telah diterapkan dalam kandungan asas pengetahuan buku teks. Isu beban beg berat yang berkaitan dengan ketebalan buku teks dapat diatasi jika naskhah buku teks dipecahkan kepada beberapa jilid mengikut penggal persekolahan dalam setahun. Selain itu, perancangan aktiviti bilik darjah yang berkesan dapat mengelakkan penggunaan buku teks sebagai baca dan dengar sahaja. Modul pembelajaran yang dirujuk daripada kandungan teks akan menjadikan aktiviti bilik darjah lebih menarik, menyeronokkan dan berkesan.

Walaupun penggunaan e-teks dan e-buku makin meluas, tetapi isu kesihatan mata perlu diberi pertimbangan. Berlama-lama di hadapan skrin komputer mungkin mengakibatkan kelesuan kornea dan retina. Susuk tubuh dan penampilan fizikal generasi muda Malaysia juga mungkin dipengaruhi tempoh berlama-lama tunduk menghadap skrin komputer.

Kekerapan perubahan huraian sukatan pelajaran sepatutnya tidak menjejaskan tempoh hayat buku teks. Kalaupun kita perlu menyemak huraian sukatan berkenaan setiap dua tahun sekali, buku teks

yang akur kepada penyediaan asas ilmu pengetahuan boleh bertahan dalam tempoh yang lebih panjang. Buku teks tidak mungkin dapat disaingi oleh rujukan tambahan yang lebih menjurus kepada keuntungan wang ringgit Posted by CIKGU AZHAR RODZI at 3:06 AM

HAKIKAT DAN FUNGSI TELAAH BUKU TEKS BAGI GURU

16 Jul 2011 5 Komentar

by arifsunarya in Uncategorized

NAMA

: ARIF SUNARYA

NIM

: A1B109235

PRODI

: PBSI (FKIP UNLAM)

1. 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Buku teks merupakan salah satu jenis buku pendidikan. Buku teks adalah buku yang berisi uraian bahan tentang mata pelajaran atau bidang studi tertentu, yang disusun secara sistematis dan telah diseleksi berdasarkan tujuan tertentu, orientasi pembelajaran, dan perkembangan siswa, untuk diasimilasikan.

Rumusan senada juga disampaikan oleh A.J. Loveridge (terjemahan Hasan Amin), sebagai berikut : Buku teks adalah buku sekolah yang memuat bahan yang telah diseleksi mengenai bidang studi tertentu, dalam bentuk tertulis yang memenuhi syarat tertentu dalam kegiatan belajar mengajar, disusun secara sistematis untuk diasimilasikan.

Buku teks adalah alat bantu siswa untuk memahami dan belajar dari hal-hal yang dibaca dan untuk memahami dunia (di luar dirinya). Buku teks memiliki kekuatan yang luar biasa besar terhadap perubahan otak siswa. Buku teks dapat mempengaruhi pengetahuan anak dan nilai-nilai tertentu.

Direktorat Pendidikan Menengah Umum (2004: 3) menyebutkan bahwa buku teks atau buku pelajaran adalah sekumpulan tulisan yang dibuat secara sistematis berisi tentang suatu materi pelajaran tertentu, yang disiapkan oleh pengarangnya dengan menggunakan acuan kurikulum yang berlaku.

Buku teks memiliki kekuatan yang luar biasa besar terhadap perubahan otak siswa. Buku teks dapat mempengaruhi pengetahuan anak dan nilai-nilai tertentu.

1.2

Rumusan Masalah

1. Apa Itu Buku Teks? 2. Apa saja Manfaat Buku Teks Bagi Siswa dan Guru? 3. Apakah Buku Teks Berpengaruh Bagi Siswa?

1.3

Tujuan

1. Untuk Mengetahui Lebih Jauh Tentang Buku Teks 2. Untuk Mengetahui Manfaat Buku Teks Guru 3. Untuk Melihat Pengaruh Buku Teks Bagi Siswa 4. 2. PEMBAHASAN

2.1

Apa Itu Buku Teks?

Seperti yang disebutkan di atas, buku teks merupakan salah satu jenis buku pendidikan. Buku teks adalah buku yang berisi uraian bahan tentang mata pelajaran atau bidang studi tertentu, yang disusun secara sistematis dan telah diseleksi berdasarkan tujuan tertentu, orientasi pembelajaran, dan perkembangan siswa, untuk diasimilasikan.

Sebagai buku pendidikan, buku teks memainkan peranan penting dalam pembelajaran. Dengan buku teks, program pembelajaran bisa dilaksanakan secara lebih teratur, sebab guru sebagai pelaksana pendidikan akan memperoleh pedoman materi yang jelas.

Buku teks merupakan buku standar yang disusun oleh pakar dalam bidangnya, biasa dilengkapi sarana pembelajaran (seperti pita rekaman), dan digunakan sebagai penunjang program pembelajaran.

Ciri penanda buku teks sebagai berikut :

* Buku teks merupakan buku sekolah yang ditujukan bagis siswa pada jenjang

pendidikan tertentu.

* Buku teks berisi bahan yang telah terseleksi. * Buku teks selalu berkaitan dengan bidang studi atau mata pelajaran tertentu * Buku teks biasanya disusun oleh para pakar di bidangnya * Buku teks ditulis untuk tujuan instruksional tertentu. * Buku teks biasanya dilengkapi dengan sarana pembelajaran. * Buku teks disusun secara sistematis mengikuti strategi pembelajaran tertentu. * Buku teks untuk diasmilasikan dalam pembelajaran. * Buku teks disusun untuk menunjang program pembelajaran.

Dari butir-butir indikator tesebut, buku teks mempunyai ciri tersendiri bila disbanding dengan buku pendidikan lainnya, baik dilihat dari segi isi, tataan, maupun fungsinya.

Dilihat dari segi isinya, buku teks merupakan buku yang berisi uraian bahan ajar bidang tertentu, untuk jenjang pendidikan tertentu, dan pada kurun ajaran tertentu pula.

Dilihat dari segi tataanya, buku teks merupakan sajian bahan ajar yang

mempertimbangkan faktor :

(1) tujuan pembelajaran,

(2) kurikulum dan struktur program pendidikan,

(3) tingkat perkembangan siswa sasaran,

(4) kondisi dan fasilitas sekolah, dan

(5) kondisi guru pemakai.

2.2

Manfaat Buku Teks Bagi Guru

Dengan buku teks, program pembelajaran bisa dilaksanakan secara lebih teratur, sebab guru sebagai pelaksana pendidikan akan memperoleh pedoman materi yang jelas.

selain mempunyai fungsi umum sebagai sosok buku, buku teks memupunyai fungsi sebagai:

(1) sarana pengembang bahan dan program dalam kurikulum pendidikan,

(2) sarana pemerlancar tugas akademik guru,

(3) sarana pemerlancar ketercapaian tujuan pembelajaran, dan

(4) sarana pemerlancar efisiensi dan efektivitas kegiatan pembelajaran.

Sementara itu, Hubert dan Harl menyoroti nilai lebih buku teks bagi guru sebagai berikut.

1. Buku teks memuat persediaan materi bahan ajar yang memudahkan guru merencanakan jangkauan bahan ajar yang akan disajikannya pada satuan jadwal pengajaran (mingguan, bulanan, caturwulanan, semesteran). 2. Buku teks memuat masalah-masalah terpenting dari satu bidang studi. 3. Buku teks banyak memuat alat bantu pengajaran, misalnya gambar, skema, diagram, dan peta. 4. Buku teks merupakan rekaman yang permanen yang memudahkan untuk mengadakan review di kemudian hari. 5. Buku teks memuat bahan ajar yang seragam, yang dibutuhkan untuk kesamaan evaluasi, dan juga kelancaran diskusi. 6. Buku teks memungkinkan siswa belajar di rumah. 7. Buku teks memuat bahan ajar yang relatif telah tertata menurut sistem dan logika tertentu. 8. Buku teks membebaskan guru dari kesibukan mencari bahan ajar sendiri sehingga sebagian waktunya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain.

Sebagai seorang guru, kita juga harus pandai dalam memilih buku teks yang baik. Geene dan Pety (dalam Tarigan, 1986: 21) menyodorkan sepuluh kategori yang harus dipenuhi buku teks yang berkualitas. Sepuluh kategori tersebut sebagai berikut.

1. Buku teks haruslah menarik minat siswa yang mempergunakannya. 2. Buku teks haruslah mampu memberikan motivasi kepada para siswa yang memakainya. 3. Buku teks haruslah memuat ilustrasi yang menarik siswa yang memanfaatkannya. 4. Buku teks seyogyanya mempertimbangkan aspek-aspek linguistik sehingga sesuai dengan kemampuan para siswa yang memakainya. 5. Isi buku teks haruslah berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya, lebih baik lagi kalau dapat menunjangnya dengan terencana sehingga semuanya merupakan suatu kebulatan yang utuh dan terpadu. 6. Buku teks haruslah dapat menstimuli, merangsang aktivitas-aktivitas pribadi para siswa yang mempergunaknnya.

7. Buku teks haruslah dengan sadar dan tegas menghindar dari konsep-konsep yang samar-samar dan tidak biasa, agar tidak embuat bingung siswa yang memakainya. 8. Buku teks haruslah mempunyai sudut pandang atau point of view yang jelas dan tegas sehingga ada akhirnya juga menjadi sudut pandang para pemakainya yang setia. 9. Buku teks haruslah mamu memberi pemantapan, penekanan pada nilai-nilai anak dan orang dewasa. 10. Buku teks haruslah dapat menghargai perbedaan-perbedaan pribadi para pemakainya.

Schorling dan Batchelder (1956) memberikan empat ciri buku teks yang baik, yaitu :

(1) direkomendasikan oleh guru-guru yang berpengalaman sebagai buku teks yang baik,

(2) bahan ajarnya sesuai dengan tujuan pendidikan, kebutuhan siswa, dan kebutuhan masyarakat,

(3) cukup banyak memuat teks bacaan, bahan drill dan latihan/tugas, dan

(4) memuat ilustrasi yang membantu siswa belajar.

2.3

Pengaruh Buku Teks Bagi Siswa

Buku teks akan berpengaruh terhadap kepribadiannya, walaupun pengaruh itu tidak sama antara siswa satu dengan lainnya. Dengan membaca buku teks, siswa akan dapat terdorong untuk berpikir dan berbuat yang positif, misalnya memecahkan masalah yang dilontarkan dalam buku teks, mengadakan pengamatan yang disarankan dalam buku teks, atau melakukan pelatihan yang diinstruksikan dalam buku teks.

Dengan adanya dorongan yang konstruktif tersebut, maka dorongan atau motif-motif yang tidak baik atau destruktif akan terkurangi atau terhalangi. Pengaruh buku teks terhadap anak bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu (1) dapat mendorong perkembangan yang baik dan (2) menghalangi perkembangan yang tidak baik.

Buku teks merupakan pembimbing dan penunjang dalam mengajar. Bagi murid, buku teks bertugas sebagai dasar untuk belajar sistematis, untuk memperteguh, mengulang, dan untuk mengikuti pelajaran lanjutan.

Buku teks dapat dipandang sebagai simpanan pengetahuan tentang berbagai segi kehidupan. Karena sudah dipersiapkan dari segi kelengkapan dan penyajiannya, buku teks itu memberikan fasilitas bagi kegiatan.

Penggunaan buku teks merupakan bagian dari upaya pencipataan budaya

buku bagi siswa, yang menjadi salah satu indikator dari masyarakat yang maju.

Buku teks berperan secara maknawi dalam prestasi belajar siswa. Laporan World Bank (1995) mengenai Indonesia, misalnya, ditunjukkan bahwa tingkat kepemilikan siswa akan buku dan fasilitas lain berkorelasi positif dengan prestasi belajar siswa. Di Filipina, peningkatan rasio kepemilikan buku siswa dari 1 : 10 menjadi 1 : 2 di kelas 1 dan 2 secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa (World Bank, 1995).

PENUTUP

3.1 Simpulan

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan beberapa hal. Diantaranya :

1. Buku teks merupakan salah satu jenis buku pendidikan. Buku teks adalah buku yang berisi uraian bahan tentang mata pelajaran atau bidang studi tertentu, yang disusun secara sistematis dan telah diseleksi berdasarkan tujuan tertentu, orientasi pembelajaran, dan perkembangan siswa, untuk diasimilasikan. 2. Sebagai buku pendidikan, buku teks memainkan peranan penting dalam pembelajaran. Dengan buku teks, program pembelajaran bisa dilaksanakan secara lebih teratur, sebab guru sebagai pelaksana pendidikan akan memperoleh pedoman materi yang jelas. 3. Dengan buku teks, program pembelajaran bisa dilaksanakan secara lebih teratur, sebab guru sebagai pelaksana pendidikan akan memperoleh pedoman materi yang jelas. Dengan membaca

buku teks, siswa akan dapat terdorong untuk berpikir dan berbuat yang positif, misalnya memecahkan masalah yang dilontarkan dalam buku teks.

3.2 saran

Sebagai seorang guru hendaknya kita pandai dalam memilih buku teks yang berkualitas. Di atas ada disebutkan cara memilih buku teks yang berkualitas, ada baiknya jika kita mencoba cara itu.

DAFTAR PUSTAKA

://masnur-muslich.blogspot.com/2008/10/hakikat-dan-fungsi-buku-teks.html

Sabtu, 04 Oktober 2008

Buku Teks Pelajaran dan Peranannya

Buku Teks Pelajaran dan Peranannya Pendidikan sebagai aktor utama yang memegang peran penting bagi kemajuan bangsa saat ini masih terus dalam tahap perbaikan dan peningkatan kualitas. Usaha-usaha perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan, khususnya pelajaran bahasa Indonesia secara sistematis telah dilakukan oleh pemerintah. Perbaikan-perbaikan tersebut dilakukan dalam berbagai hal seperti tenaga pendidik, fasilitas sekolah, dan juga penataan perangkat pendukung pembelajaran bahasa Indonesia. Perangkat pembelajaran bahasa Indonesia yang di anggap strategis dalam upaya peningkatan mutu pendidikan bahasa Indonesia yaitu kurikulum. Kurikulum yang di kembangkan di Indonesia selalu mengalami kemajuan yang signifikan. Kurikulum 1975 sebagai kurikulum penyempurna dari kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum 1968 merupakan kurikulum yang sudah mengalami kemajuan. Kurikulum 1975 ini merupakan awal dari terbentuknya pengajaran yang semula berorientasi pada guru berubah pada pengajaran yang lebih berorientasi pada siswa terbukti dalam kurikulum 1975 ada yang di namakan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Kurikulum 1975 ini kemudian disempurnakan oleh kurikulum 1984 dan kemudian disempurnakan lagi oleh kurikulum 1994 yang sudah diarahkan pada pada fungsi komunikasi. Kurikulum 2004 yang merupakan kurikulum penyempurna kurikulum sebelumnya lebih mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar. Kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi ini menyediakan banyak sekali pembaharuan dalam pembelajaran. Pembaharuan pembelajaran yang dilakukan dalam kurikulum ini misalnya

dengan menerapkan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Kurikulum 2004 atau biasa disebut KBK itu ternyata hanya berlaku dalam kurun waktu 2 tahun. Tahun 2006 dikeluarkan kembali kurikulum baru yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum yang sering disebut dengan KTSP ini merupakan usaha perbaikan yang dilakukan pemerintah. Kurikulum ini menempatkan satuan pendidikan mengelola sendiri pembelajaran yang dilakukan sesuai karena dengan asumsi bahwa satuan pendidikanlah yang mengetahui potensi siswanya, bagaimana siswanya dan lingkungan siswa. Usaha perbaikan mutu pengajaran bahasa Indonesia selain dengan adanya kurikulum yang terus berkembang harus juga di topang oleh buku pelajaran yang baik yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Buku teks sebagai buku penopang dalam pembelajaran bahasa Indonesia memiliki peranan yang sangat penting yaitu menentukan baik buruknya hasil pembelajaran yang dilakukan karena guru menggunakan buku teks tersebut sebagai acuan dalam membelajarkan materi. Jika kualitas buku teks yang digunakan oleh sekolah baik maka besar kemungkinan kualitas pengajaran bahasa Indonesia yang dilakukan akan baik, akan tetapi jika buku teks yang digunakan kurang baik, atau bahkan buruk maka pengajaran yang terjadi akan sangat sulit mencapai hasil yang diharapkan. Berkenaan dengan pentingnya faktor buku teks dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang di gunakan dalam pengajaran bahasa Indonesia di SMP timbul pertanyaan apakah buku teks yang digunakan di sekolah-sekolah telah memenuhi standar mutu baik dilihat dari tolok ukur kurikulum maupun teori-teori yang relevan. Untuk mengetahui hal tersebut terlebih dahulu kita pahami tentang buku teks itu sendiri.

Pengertian Buku Teks Pengertian buku teks telah banyak disampaikan oleh para pakar yang diantaranya adalah menurut Hall-Quest (dalam Tarigan 1986:11). Menurutnya buku teks adalah rekaman pikiran rasial yang di susun untuk maksud-maksud dan tujuan-tujuan intruksional. Lange (dalam Tarigan 1986:11) menjelaskan bahwa buku teks adalah buku standar, buku setiap cabang khusus dan studi dan dapat terdiri dari dua tipe yaitu buku pokok/utama dan suplemen/tambahan. Lebih terperinci lagi Bacon (dalam Tarigan 1986:11) mengemukakan bahwa buku teks adalah buku yang dirancang buat penggunaan di kelas, dengan cermat yang disusun dan disiapkan oleh para pakar ataupara ahli dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi. Buckingham (dalam Tarigan 1986:11) mengatakan bahwa buku teks adalah sarana belajar yang biasa dugunakan di sekolah-sekolah dan di perguruan tinggi untuk menunjang suatu program pengajaran dalam pengertian modern dan yang umum dipahami. Buku pelajaran adalah buku yang dijadikan pegangan siswa pada jenjang tertentu sebagai media pembelajaran (instruksional), berkaitan dengan bidang studi tertentu (Depdiknas 2004:4). Berdasarkan pendapat para ahli tesebut, dapat disimpulkan bahwa buku teks adalah buku pelajaran yang disusun oleh para ahli atau pakar dalam bidangnya untuk menunjang program pengajaran yang telah digariskan oleh pemerintah.

Fungsi Buku Teks Penyusunan buku teks dalam upaya pengembangan pembelajaran di sekolah tidaklah disusun tanpa fungsi yang jelas. Funsgsi dan peranan buku teks itu adalah: (a) mencerminkan suatu sudut pandang yang tangguh dan modern mengenai penagjaran serta mendemonstrasikan aplikasinya dalam bahan pengajaran yang disajikan, (b) menyajikan suatu sumber pokok masalah yang kaya, mudah dibaca dan bervariasi yang sesuai dengan minat dan kebutuhan para siswa, sebagai dasar bagi program-program kegiatan yang disarankan dimana keterampilan-keterampilan ekspresional diperoleh di bawah kondisi-kondisi yang menyerupai kehidupan yang sebenarnya, (c) menyediakan suatu sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai keterampila-keterampilan ekspresional yang mengemban masalah pokok dalam komunikasi, (d) metode da sarana penyajian bahan dalam buku teks harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Misalnya harus menarik, menantang, merangsang, bervariasi sehingga siswa benar-benar termotivasi untuk mempelajari buku teks tersebut, (e) menyajikan fiksasi (perasaan yang mendalam) awal yang perlu dan juga sebagai penunjang bagi latihan-latihan dan tugas-tugas praktis, (f) di sampin sebagai sumber bahan buku teks juga berperan sebagai sumber atau alat evaluasi dan pengajaran remidial yang serasi dan tepat guna (Green dan Petty dalam Tarigan 1986) Fungsi buku teks bagi guru adalah sebagai pedoman untuk mengidentifikasi apa yang harus diajarkan atau dipelajari oleh siswa, mengetahui urutan penyajian bahan ajar, mengetahui teknik dan metode pengajaranya, memperoleh bahan ajar secara mudah, mdan menggunaknya sebagai alat pembelajaran siswa di dalam atau diluar sekolah (Krisanjaya 1997:85). Fungsi buku teks bagi siswa adalah sebagi sarana kepastian tentang apa yang ia pelajari, alat kontrol untuk mengetahui seberapa banyak dan seberapa jauh ia telah menguasai materi pelajaran, alat belajar (di luar kelas buku teks berfungsi sebagai guru) di mana ia dapat menemukan petunjuk, teori, maupun konsep danbahan-bahan latihan atau evaluasi (Krisanjaya 1997:86).

Kualitas Buku Teks Buku teks berkaitan erat dengan kurikulum yang berlaku. Buku teks yang baik harus relevan dan menunjang pelaksanaan kurikulum. Ada sebelas aspek untuk menentukan kualitas buku teks, yaitu (1) memiliki landasan prinsip dan sudut pandang yang berdasarkan teori linguistik, ilmu jiwa perkembangan, dan teori bahan pembelajaran, (2) kejelasan konsep, (3) relevan dengan kurikulum yang berlaku, (4) sesuai dengan minat siswa, (5) menumbuhkan motivasi belajar, (6) merangsang, menantang, dan menggairahkan aktivitas siswa, (7) ilustrasi tepat dan menarik, (8) mudah dipahami siswa, yaitu bahasa yang digunakan memiliki karakter yang sesuai enan tingkat perkembangan bahasa siswa, kalimat-kalimatnya efektif, terhindar dari makna ganda, sederhana, sopan dan menarik, (9) dapat menunjang mata pelajaran lain, (10) menghargai perbedaan individu, kemampuan, bakat, minat, ekonomi, sosial dan budaya, (11) memantapkan nilai-nilai budi pekerti yang berlaku di masyarakat (Tarigan 1986:22) Hal-hal yang berhubungan dengan kualitas buku pelajaran menurut tim penilai buku ajar dapat dikelompokkan ke dalam empat aspek, yakni (1) isi atau materi pelajaran, (2) penyajian materi, (3) bahasa dan keterbacaan, dan (4) format buku atau grafika. Keempat aspek ini saling

berkait satu sama lain (Depdiknas 2004:15). Dengan demikian, secara garie besar standar buku pelajaran diukur melalui aspek isi atau materi, penyajian materi, bahasa, dan keterbacaan, serta grafik.

Spiralisasi Untuk memudahkan siswa memperoleh pemahaman yang utuh dan berkesinambungan, penulis buku pelengkap perlu menata urutan penyajiannya berdasarkan prinsip-prinsip spiralisasi yang baik. Prinsip-prinsip itu adalah penjenjangan dan pembobotan (Abdussamad 2002: 57). Prinsip penjenjangan mengharuskan materi diurutkan dari yang lebih mudah ke yang lebih sulit, dari yang harus dikuasai lebih dulu ke yang merupakan lanjutan, dari yang sederhana ke yang lebih kompleks. Prinsip pembobotan menyangkut keluasan dan kedalaman materi yang harus disajikan pada setiap pembelajaran. Penerapan prinsip ini harus memperhitungkan kesinambungan program. Materi tertentu yang memiliki tingkat kesulitan tersendiri atau yang keterampilannya sangat diperlukan dapat diulang penyajiannya. Pengulangan penyajian itu hendaknya memperhitungkan keluasan dan kedalaman materi. Materi yang diulang harus lebih luas dan dalam bobotnya daripada penyajian sebelumnya atau merupakan pengembangan dari materi yang pernah disajikan sebelumnya.