Anda di halaman 1dari 34

Arti Semiotika

Secara Etimologis, istilah semiotik berasal dari kata

Yunani semeion yang berati tanda. Tanda adalah sesuatu yang yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya., mewakili sesuatu yang lain (Eco, dalam Alex Sobur, 95 : 2002) Secara terminologis, semiotik didefinisikan sebagai Ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda.

Van Zoes mengartikan semiotika sebagai Ilmu tanda

(sign) dan segala yang berhubungan dengannya : cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang menggunakannya. Teeuw (Baca Alex Sobur, 95) menyatakan bahwa tanda adalah tindak komunikasi.
Seseorang dapat menafsirkan tanda-tanda yang ada

sebagai upaya memahami makna secara semiotik.

SEMIOTIKA
Semiotik adalah ilmu yang mempelajari tentang

tanda-tanda
Semiotik atau semiotika berasal dari kata Yunani

semeion yang berarti tanda.


Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari

sederetan luas obyek - obyek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda.

Cara mengkaji Obyek (Zoest, 1993:18-20)


Hubungan penalaran dengan jenis penandanya : a. Qualisms : penanda yang bertalian dengan kualitas b. Singsins : penanda yg berhubungan dgn kenyataan c. Legisigs : penanda yang berkaitan dengan kaidah
1.

Qualisma : adalah tanda-tanda yg merupakan tanda

berdasarkan suatu sifat. Contohnya : hitam, warna duka, damai dll. (hanya utuk mewakili dan dibentuk walau bentuk realnya tidak ada)

Sinsign adalah tanda yang merupakan tanda atas dasar

tampilnya dalam kenyataan Seperti : jerintan yang bermakna kesakitan, keheranan, langkah kakinya, tertawanya, nada dasar suaranya. Bersifat metafora Legisign ; adalah tanda-tanda yg merupakantanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum/. Seperti menganggung, tanda jempol menggelengkan kepala dll.

2. Hubungan kenyataan dengan jenisnya :


a. Icon : sesuatu yg melaksanakan fungsi sebagai

penanda yg serupa dengan bentuk objeknya. (gambar atau kulisannya0 b. Index ; sesuatu yg melaksanakan fungsi sebagai penanda yg mengisyaratkan petandanya c. Symbols : sesuatu yg melaksanakna fungsi sebagai penanda yg oleh kaidah secara konvensi telah lazim digunakan dlm masyarakat

H ubungan pikiran dgn jenis petandanya : a. Rhem or sense : penanda yg bertalian dgn mungkin terpahaminya petanda bagi penafsir. b. Dicent or decisign or pheme : penanda yg menampilkan informasio tentang penandanya. c. Argument : penanda yg petandanya akhir bukan suatu bukan suatu tetapi kaidah.
3.

Kesembilan petanda ini adalah struktur semiosis yg dapat digunakan sebagai kombinasi satu dengan yang lainnya.

Contoh
Ikonis Lukisan kicing Gambar kucing Patung kucing Toko kucing Sketsa kucing Makna gerak kucing indeksikal Suara kucing Simbolis Diucapkannya kata kucing

Suara langkah-langkah kucing Makna gambar kucing Bau kucing Makna suara kucing Gerak kucing Makna bau kucing

SEMIOTIKA
Semiotik adalah ilmu yang mempelajari tentang

tanda-tanda Semiotik atau semiotika berasal dari kata Yunani semeion yang berarti tanda. Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas obyek - obyek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda.

TOKOH SEMIOTIKA
Ferdinand de de Saussure
Roland Barthes Algirdas Greimas Yuri Lotman Christian Metz Umberco Eco Julia Kristeva

TEORI SEMIOTIKA C.S PEIRCE


Peirce mengemukakan teori segitiga makna atau triangle meaning yang terdiri dari tiga elemen utama, yakni tanda (sign), object, dan interpretant.

Tanda adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat

ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri.

Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang

menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda. Interpretant atau pengguna tanda adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda. Hal yang terpenting dalam proses semiosis adalah bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang saat berkomunikasi.

FERDINAND DE SAUSSURE
Menurut Saussure,

tanda terdiri dari: Bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau penanda, dan konsepkonsep dari bunyibunyian dan gambar, disebut signified

Seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Objek bagi Saussure disebut referent. Hampir serupa dengan Peirce yang mengistilahkan interpretant untuk signified dan object untuk signifier, bedanya Saussure memaknai objek sebagai referent dan menyebutkannya sebagai unsur tambahan dalam proses penandaan. Contoh: ketika orang menyebut kata gila (signifier) dengan nada mengumpat maka hal tersebut merupakan tanda kemarahan (signified).

ROLAND BARTHES
Roland Barthes meneruskan pemikiran Saussure

dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan order of signification, mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifiersignified yang diusung Saussure.

Barthes juga melihat aspek lain dari

penandaan yaitu mitos yang menandai suatu masyarakat. Mitos menurut Barthes terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem signsignifier-signified, tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos.

BAUDRILLARD
Baudrillard memperkenalkan teori simulasi. Di mana peristiwa yang tampil tidak

mempunyai asal-usul yang jelas, tidak merujuk pada realitas yang sudah ada, tidak mempunyai sumber otoritas yang diketahui. Konsekuensinya, kata Baudrillard, kita hidup dalam apa yang disebutnya hiperrealitas (hyper-reality). Segala sesuatu merupakan tiruan, tepatnya tiruan dari tiruan, dan yang palsu tampaknya lebih nyata dari kenyataannya (Sobur, 2006). bisa jadi kuat seperti macan. Iklan ini jelas mengada ngada , mana mungkin biskuit bisa membuat anak kecil memiliki kekuatan fisik seperti macan. Iklan tersebut hanya ingin menyampaikan pesan produk Biskuat sebagai produk makanan ringan buat anak-anak yang mengandung vitamin dan gizi tinggi. . Namun, cerita iklan dibuat luar biasa agar konsumen percaya. Inilah tipuan realitas atau hiperealitas yang merupakan hasil konstruksi pembuat iklan

Sebuah iklan menampilkan seorang anak kecil yang memakan biskuit Biskuat

JACQUES DERRIDA
Derrida terkenal dengan model semiotika

Dekonstruksi

Dekonstruksi, menurut Derrida, adalah sebagai

alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku. Konsep Dekonstruksi dimulai dengan konsep demistifikasi, pembongkaran produk pikiran rasional yang percaya kepada kemurnian realitas. Ini dimaksudkan menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (siginifier) melalui penyusunan konsep (signified).

UMBERTO ECO
Umberto Eco sebagai ahli semiotikan yang

menghasilkan salah satu teori mengenai tanda yang paling komprehensif dan kontemporer. Eco menyimbulkan bahwa satu tanda bukanlah entitas semiotik yang dapat ditawar, melainkan suatu tempat pertemuan bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua sistem berbeda dari dua tingkat yang berbeda yakni ungkapan dan isi, dan bertemu atas dasar hubungan pengkodean

CONTOH PENELITIAN DENGAN SEMIOTIKA


Analisis semiotika Iklan A Mild Versi Wajan Yang diteliti adalah : 1. Pesan linguistik (semua kata dan kalimat dalam iklan) Iklan A Mild versi wajan mengungkapkan isi hati sebuah wajan yaitu Jangan cuma bisa\ manas-manasin doang. Ungkapan ini secara denotatif menunjuk wajan sebagai benda yang berfungsi sebagai alat memasak, orang dapat memasak bila ada api atau panas sehingga wajan selalu identik dengan panas.

2. Pesan ikonik yang terkodekan (konotasi yang

muncul dalam foto iklan yang hanya dapat berfungsi jika dikaitkan dengan sistem tanda yang lebih luas dalam masyarakat) Foto iklan A Mild versi wajan mengandung konotasi visual : Wajan mengandung arti benda yang selalu identik dengan panas Papan yang berisi tulisan Jangan cuma bisa manasmanasin doang mengandung arti peringatan bagi siapa saja untuk memanfaatkan situasi yang sensitif dengan menjadi provokator yang tidak bertanggung jawab.

3. Pesan ikonik tak terkodekan (denotasi dalam foto iklan) Foto iklan A Mild versi wajan mengandung arti denotasi visual, wajan sebagai alat untuk memasak baik untuk menggoreng, menumis, dan lain-lain, memasak hanya dapat dilakukan bila ada api, sehingga pada saat wajan itu dipergunakan dan setelah dipergunakan selalu dalam kondisi panas.

Interaksi simbolik menurut Effendy INTERAKSI SIMBOLIK(1989) adalah

suatu faham yang menyatakan bahwa hakekat terjadinya interaksi sosial antara individu dan antar individu dengan kelompok, kemudian antara kelompok dengan kelompok dalam masyarakat, ialah karena komunikasi, suatu kesatuan pemikiran di mana sebelumnya pada diri masing-masing yang terlibat berlangsung internalisasi atau pembatinan. Dalam kelompok tradisi ilmu komunikasi versi Robert T Craig, kajian Interkasi Simbolik termasuk ke dalam The Sociocultural

TOKOH INTERAKSI SIMBOLIK

George Harbert Mead meluncurkan the theoretical

perspective yang pada perkembangannya nanti menjadi cikal bakal Teori Interaksi Simbolik Mead, ilmuwan lain yang mengkaji Interaksi simbolik diantaranya Herbert Blumer ,Manfred Kuhn , Kimball Young, John Dewey, Robert E. Park, William James, Charles Horton Cooley, Ernest Burgess, James Mark Baldwin

TEORI INTERAKSI SIMBOLIK

Mind, Self and Society merupakan karya George Harbert Mead yang paling terkenal dimana dalam buku tersebut memfokuskan pada tiga tema konsep dan asumsi yang dibutuhkan untuk menyusun diskusi mengenai teori interaksi simbolik. Tiga tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang mendasari interaksi simbolik antara lain: a) Pentingnya makna bagi perilaku manusia, b) Pentingnya konsep mengenai diri, c) Hubungan antara individu dengan masyarakat.

Implikasi dari teori interaksi simbolik dapat dijelaskan dari beberapa teori atau ilmu dan metodologi berikut ini, antara lain: Teori sosiologikal modern (Modern Sociological Theory) menurut Francis Abraham (1982) dalam Soeprapto (2007), dimana teori ini menjabarkan interaksi simbolik sebagai perspektif yang bersifat sosial-psikologis

Teori sosiologikal modern menekankan pada struktur

sosial, bentuk konkret dari perilaku individu, bersifat dugaan, pembentukan sifat sifat batin, dan menekankan pada interaksi simbolik yang memfokuskan diri pada hakekat interaksi. Teori sosiologikal modern juga mengamati pola-pola yang dinamis dari suatu tindakan yang dilakukan oleh hubungan sosial, dan menjadikan interaksi itu sebagai unit utama analisis, serta meletakkan sikap-sikap dari individu yang diamati sebagai latar belakang analisis.

Perspektif interaksional (Interactionist perspective)

merupakan salah satu implikasi lain dari interaksi simbolik, dimana dalam mempelajari interaksi sosial yang ada perlu digunakan pendekatan tertentu, yang lebih kita kenal sebagai perspektif interaksional Perspektif ini menekankan pada pendekatan untuk mempelajari lebih jauh dari interaksi sosial masyarakat, dan mengacu dari penggunaan simbolsimbol yang pada akhirnya akan dimaknai secara kesepakan bersama oleh masyarakat dalam interaksi sosial mereka.

Teori peran (Role Theory) merupakan implikasi

selanjutnya dari interaksi simbolik menurut pandangan Mead dimana, salah satu aktivitas paling penting yang dilakukan manusia setelah proses pemikiran (thought) adalah pengambilan peran (role taking). Teori peran menekankan pada kemampuan individu secara simbolik dalam menempatkan diri diantara individu lainnya ditengah interaksi sosial masyarakat.

Teori diri (Self theory) dalam sudut pandang konsep

diri, dimana diri dikonstruksikan oleh sebuah teori pribadi (diri). Artinya, individu dalam belajar untuk memahami diri dengan menggunakan sebuah teori yang mendefinisikannya, sehingga pemikiran seseorang tentang diri sebagai person merupakan sebuah konsep yang diturunkan dari gagasan-gagasan tentang personhood yang diungkapkan melalui proses komunikasi

Teori dramatisme (Dramatism theory) merupakan

implikasi yang terakhir yang akan dipaparkan oleh penulis, dimana teori dramatisme ini merupakan teori komunikasi yang dipengaruhi oleh interaksi simbolik, dan tokoh yang menggemukakan teori ini adalah Kenneth Burke (1968). Teori ini memfokuskan pada diri dalam suatu peristiwa yang ada dengan menggunakan simbol komunikasi. Dramatisme memandang manusia sebagai tokoh yang sedang memainkan peran mereka, dan proses komunikasi atau penggunaan pesan dianggap sebagai perilaku yang pada akhirnya membentuk cerita tertentu

CONTOH PENELITIAN
Penelitian mengenai analisis interkasi simbolik Desain

Komunikasi Visual City Branding sebuah kota. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Sebagaimana perspektif yang mempakan suatu rentang dari yang sangat objektif hingga sangat subjektif, maka metode yang digunakan sebenamya merupakan suatu rentang juga dari yang sangat kuantitatif (objektif) hingga yang sangat kualitatif (subjektif).