P. 1
MEKANISME DEFEKASI

MEKANISME DEFEKASI

|Views: 1,261|Likes:
Dipublikasikan oleh Wulan dyah'Retno

More info:

Published by: Wulan dyah'Retno on Apr 23, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2013

pdf

text

original

MEKANISME DEFEKASI Dengan kata lain adalah mekanisme “buang hajat”.

Semua diawali dengan adanya feces di colon sigmoideum, saat jumlah feces sudah melebihi kapasitas penyimpanan di colon sigmoideum, maka feces akan turun menuju ke rectum. Rectum biasanya kosong dan hanya terisi saat akan memulai defekasi. Dinding rectum mempunyai reseptor regangan yang dipersarafi oleh serabut viscero sensible parasymphatis segmen sacral 2-4. Rangsang yang diterima dari reseptor regang menjalar melalui saraf kemudian masuk ke cornu posterior medulla spinalis dan akan naik ke otak. Rangsang akan diproses di otak, apakah akan ditahan atau meneruskan proses defekasi. Jika kita memutuskan untuk menahan defekasi, maka impuls akan turun menuju cornu anterior medulla spinalis segmen sacral 2-4 yaitu ke nervus pudendus yang mensarafi m. levator ani, lalu terus menuju ke cabangnya yaitu nervus rectalis inferior yang mensarafi musculus sphincter ani externus dan. Hal ini menyebabkan m. sphincter ani externus dan m. levator ani berkontraksi untuk menahan defekasi. Jika kita memutuskan untuk meneruskan proses defekasi, maka impuls akan turun menuju ke berbagai saraf:
      

N. facialis (VII) untuk mengkontraksikan otot2 wajah. N. vagus (X) untuk menutup epiglottis. n. Phrenicus untuk memfiksasi diapraghma. nn. Thoracales segmen yang berhubungan untuk mengkontraksikan otototot dinding abdomen. n. splanchnicus pelvicus, yang berisi pesan untuk mengurangi kontraksi m. sphincter ani internus. n. pudendus, yang berisi pesan untuk mengurangi kontraksi m. sphincter ani externus dan m. levator ani. n. ischiadicus, untuk mengkontraksikan otot-otot hamstring.

Penutupan epiglottis dan kontraksi otot-otot dinding abdomen berfungsi untuk meningkatkan tekanan intra abdominal, sehingga mendukung pengeluaran feces. Selanjutnya feces dikeluarkan melalui canalis analis. Tunica mucosa bagian bawah canalis analis menonjol melalui anus mendahului massa feces. Pada akhir

C. kelainan tersebut adalah incontinentia alvi (in= tidak. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 17. namun.. Jika kerusakan medulla spinalis berada di segmen sacral. levator ani). alvi=defekasi). F. continentia= menahan. Tetapi terkadang ada suatu kelainan dimana seseorang tidak dapat mengontrol defekasinya. Sumber : Ganong W. Hal ini disebabkan jika terjadi kerusakan medulla spinalis di atas segmen sacral. sphincter ani. E. Hall J. tunica mucosa kembali ke canalis analis akibat tonus serabut-serabut longitudinal dinding canalis analis serta penarikan ke atas oleh m. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Refleks defekasi masih tetap terjadi karena semua komponen refleksnya masih utuh.defekasi. 19. Kemudian lumen canalis analis yang kosong ditutup oleh kontraksi tonik m. maka reflex defekasi tidak akan terjadi sama sekali. puborectalis (bagian dari m. . Jakarta : EGC Guyton A. Sehingga orang yang mengalami kerusakan ini akan mengalami pengosongan colon secara tidak sadar atau “buang air besar tanpa aba – aba”. jadi manifestasi dari kerusakan ini adalah konstipasi. Jakarta : EGC. impuls rangsang tidak akan bisa diproses ke otak karena “kabel” penghubungnya ke otak yaitu medulla spinalis putus di tengah jalan.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->