Anda di halaman 1dari 3

Emphysema Subkutis Post WSD (Water Sealed Drainage) Atas Indikasi Pneumothorax Sinistra Et Causa Bronchitis Kronis

Dibuat oleh: Nazmiansyah,Modifikasi terakhir pada Wed 25 of Aug, 2010 [06:04 UTC] Abstrak Emphysema subkutis merupakan salah satu komplikasi dari pemasangan WSD (water sealed drainage) yang tidak tepat sehingga udara dapat masuk ke jaringan kulit. Diperlukan segera repair WSD karena komplikasi ini dapat menyebabkan sesak dalam bernafas dan jika udara yang terkumpul sangat banyak dapat dilakukan pengeluaran udara dari kulit dengan skin prick (penusukan kulit) agar udara yang terkumpul di jaringan kulit dapat keluar.Pada kasus ini, pasien mengalami Emphysema subkutis setelah pemasangan WSD atas indikasi pneumothorax.

Kata kunci: Emphysema, subkutis, WSD, pneumothorax, bronchitis- kronis

Isi Laki-laki 64 tahun datang dengan keluhan sesak nafas mendadak, sesak disertai batuk berdahak yang kental dan berwarna kuning serta demam. Pasien kemudian dikonsulkan ke bagian bedah dan didiagnosis pneumothorax dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologi. Pasien kemudian dilakukan pemasangan WSD. Satu hari setelah pemasangan WSD keluhan sesak masih dirasakan namun sudah berkurang dibandingkan sebelumnya. Pasien kemudian dikonsulkan ke bagian penyakit dalam. Pasien mempunyai riwayat batuk >6 bulan. Sebelumya pasien sering berobat ke Puskesmas dengan keluhan batuk berdahak namun tidak pernah membaik dan sering kumat-kumatan. Riwayat trauma pada dada disangkal, riwayat penyakit TBC disangkal, Riwayat kontak dengan pasien TBC disangkal, riwayat penurunan berat badan drastis disangkal. Pemeriksaan fisik menunjukkan keadaan umum pasien baik, kesadaran compos mentis, vital sign menunjukkan tekanan darah 140/80 mmHg, nadi 88 x/menit, respirasi 40 x/menit, dan suhu 37,2 o C. Pemeriksaan kepala, leher, abdomen, dan ekstrimitas dalam batas normal. Pada pemeriksaan thorax didapatkan cor tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan paru kanan didapatkan pada inspeksi tampak simetris, terdapat retraksi, tidak ada ketinggalan gerak, dan sela iga tidak tampak, pada palpasi didapatkan vokal fremitus kanan lebih kurang daripada kiri dan terdapat krepitasi. Pada perkusi didapatkan hipersonor pada 1/3 lapang paru, dan pada auskultasi

didapatkan Suara dasar vesikular menurun, terdapat Ronkhi kering, terdapat krepitasi, dan ekspirasi memanjang. Pada pemeriksaan paru kiri tidak didapatkan kelainan. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap dalam batas normal. pemeriksaan rontgen thorax didapatkan radio opaque pada 1/3 lapang paru sinistra dengan kesan pneumothorax sinistra.

Diagnosis Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis dengan Emphysema subkutis post WSD (Water sealed drainage) atas indikasi pneumothorax sinistra et causa bronchitis kronis

Terapi Pasien dilakukan repair WSD dan medikamentosa yaitu aminophilin 1 ampul/drip, injeksi cefotaxime 2x1 gram, dan injeksi ketorolac 3x30 mg.

Pembahasan Pasien datang ke bagian poliklinik bedah dan di diagnosis pneumothorax. Pneumothorax pada pasien ini dikarenakan adanya penyakit paru yaitu bronchitis kronik. Pada pasien dengan bronchitis kronik, tekanan akibat batuk yang terus menerus dapat meneyebabkan robeknya lapisan paru sehingga udara terkumpul di rongga thorax. Hal ini dapat menyebabkan pasien menjadi sesak nafas yang terjadi mendadak karena paru-paru tidak dapat mengembang karena tertekan oleh udara dalam rongga thorax. Pemasangan WSD diindikasikan pada pasien ini karena adanya pneumothorax. WSD berfunsi untuk mengeluarkan udara dalam rongga thorax sehingga paru-paru dapat mengembang dengan sempurna. pemasangan WSD yang salah dapat mengakibatkan udara memasuki jaringan kulit, seperti pada pasien ini akibat kesalahan dari pemasangan WSD menyebabkan udara memasuki jaringan paru. Tanda khas dari emphysema subkutis adalah terdapatnya krepitasi pada saat palpasi dan auskultasi rongga thorax. Pada pasien ini diperlukan repair WSD untuk mencegah terkumpulnya udara lebih banyak dalam jaringan kulit, diperlukan juga skin prick untuk mengeluarkan udara yang telah terjebak dalam jaringan kulit. Pada pasien ini juga diberikan aminophilin, aminophilin berfungsi sebagai bronkodilator agar bronkus mengembang sehingga memudahkan jalan nafas. Cefotaxime diberikan sebagai antibiotic untuk mengobati infeksi bakteri penyebab dari bronchitis kronik juga sebagai mencegah infeksi karena pemasangan WSD. Ketorolac berfungsi sebagai analgesic kuat, untuk mencegah nyeri akibat pemasangan WSD.

Kesimpulan Emphysema subkutis merupakan salah satu komplikasi dari pemasangan WSD (water sealed drainage) yang tidak tepat sehingga udara dapat masuk ke jaringan kulit. Penanganan pada emphysema subkutis karena kesalahan pemasangan WSd adalah secepatnya me-repair posisi WSD sehingga udara yang masuk pada jaringan kulit tidak bertambah banyak serta skin prick untuk mengeluarkan udara yang telah terperangkap di jaringan kulit.

Referensi Jeffrey Glenn Bowman. 2009. Pneumothorax, Tension and Traumatic. Artikel, diakses tanggal 4 mei 2009 dari http://emedicine.medscape.com/article/827551-overview Price, SA dan LM Wilson. 1996. Patofisiologi: Konsep Klinik Proses-proses Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Sat Sharma. 2006. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Artikel, diakses tanggal 4 mei 2009 dari http://emedicine.medscape.com/article/297664-overview Sat Sharma. 2006. Emphysema. Artikel, diakses tanggal 4 mei 2009 dari http://emedicine.medscape.com/article/298283-overview Iman. 2009. Keadaan Gawat Darurat yang Mengganggu Pernapasan, artikel, diakses tanggal 4 mei 2009 dari http://dokter-medis.blogspot.com/2009/06/keadaan-keadaan-yangmengganggu.html

Penulis Nazmiansyah, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, RSUD Saras Husada, Kab. Purworejo, Jawa Tengah.