Anda di halaman 1dari 54

Assalamualikum Wr.

Wb

Nama : yoga hardani Smstr : III

Tuan H dirawat di RSNU Tuban 3 hari lalu. Keluhan utama pertama kali MRS adalah panas tinggi dan sakit pada dada. Keadaan umum tuan H tampak pucat lemah dengan posisi badn semi fowler dan terpasang oksigen nasal kanul . Pada jari terdapat clubbing finger. Pada pemeriksaan radiologis didapatkan gambar opaciti. Aspirasi pleura menunjukan adanya nanah pada rongga pleura.

Clubbing

Finger Gambar Opaciti Aspirasi pleura

Clubbing finger

: jari tabuh / digital clubing adalah kelainan bentuk jari dan kuku tangan yang menjadikan jari tangan dan kaki membulat yang berkaitan dengan penyakit jantung dan paru-paru.

Gambar Opaciti

: Keadaan tidak tembus pandang / kekeruhan pada paru karena adanya penumpukan cairan/nanah sehingga menghasilkan putih keabu-abuan.Gambaran ini diperoleh dari pemeriksaan foto thoraks.

Emfisema

merupakan keaadan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terus menerus terisi udara walaupun setelah ekspirasi (Kus Irianto;2004.216) Emfisema merupakan morfologi di difisiensi sebagai pembesaran ruang-ruang udara distal dan brokiolus terminal dengan destruksi dindingnya ( Robbins;1994.253) Emfisema adalah penyakit obstruksi kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan luas permukaan alveoli. ( Corwin;2000.435)

Beberapa hal yang dapat menyebabkan emfisema paru yaitu : 1.Rokok Rokok secara patologis dapat menyebabkan gangguan pergerakan silia pada jalan nafas, menghambat fungsi makrofag alveolar, menyebabkan hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus bromkus. 2.Polusi Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan emfisema. Insiden dan angka kematian emfisema bisa dikatakan selalu lebih tinggi di daerah yang padat industrialisasi, polusi udara seperti halnya asap tembakau, dapat menyebabkan gangguan pada silia menghambat fungsi makrofag alveolar. 3.Infeksi Infeksi saluran nafas akan menyebabkan kerusakan paru lebih berat. Penyakit infeksi saluran nafas seperti pneumonia, bronkiolitis akut dan asma bronkiale, dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya emfisema.

4.faktor Genetik (atopi yg dtandai dengan eosinfilia/pengikatan IgE) 5.Obstruksi jalan napas Emfisema terjadi karena tertutupnya lumen bronkus atau bronkiolus, sehingga terjadi mekanisme ventil. Udara dapat masuk ke dalam alveolus pada waktu inspirasi akan tetapi tidak dapat keluar pada waktu ekspirasi. Etiologinya ialah benda asing di dalam lumen dengan reaksi lokal, tumor intrabronkial di mediastinum, kongenital.Pada jenis yang terakhir, obstruksi dapat disebabkan oleh defek tulang rawan bronkus

Terdapat

3 tipe dari emfisema yaitu sebagai

berikut a) Emfisema Centriolobular b) Emfisema Panlobular c) Emfisema Paraseptal

WOC

System pernafasan terdiri dari hidung , faring,

laring ,
trakea ,

bronkus
Bronkiolus alveoli

Hidung

merupakan saluran pernafasan yang pertama , mempunyai dua lubang/cavum nasi. Didalam terdapat bulu yang berguna untuk menyaring udara , debu dan kotoran yang masuk dalam lubang hidung . hidung dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa (Drs. H. Syaifuddin. B . Ac , th 1997 , hal 87 ) Faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan, faring terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. faring dibagi atas tiga bagian yaitu sebelah atas yang sejajar dengan koana yaitu

Trakea

merupakan cincin tulang rawan yang tidak lengkap (16-20cincin), panjang 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos dan lapisan mukosa . trakea dipisahkan oleh karina menjadi dua bronkus yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri (Drs .H . Syaifuddin .B. Ac th 1997, hal 88-89) Bronkus merupakan lanjutan dari trakea yang membentuk bronkus utama kanan dan kiri , bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri cabang bronkus yang lebih kecil disebut bronkiolus yang pada ujung ujung nya terdapat

Paru- paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung gelembung .paru-paru terbagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus . Paru-paru terletak pada rongga dada yang diantaranya menghadap ke tengah rongga dada / kavum mediastinum. Paru-paru mendapatkan darah dari arteri bronkialis yang kaya akan darah dibandingkan dengan darah arteri pulmonalis yang berasal dari atrium kiri.besar daya muat udara oleh paru-paru ialah 4500 ml sampai 5000 ml udara. Hanya sebagian kecil udara ini, kira-kira 1/10 nya atau 500 ml adalah udara pasang surut . sedangkan kapasitas paru-paru adalah volume udara yang dapat di capai masuk dan keluar paru-paru yang dalam keadaan normal kedua paru-paru dapat menampung sebanyak kuranglebih 5 liter. (Drs. H. Syaifuddin . B.Ac .th 1997 hal 90 , EVELYN,C, PIERCE , 1995 hal 221)

Emfisema merupakan kelainan/kerusakan yang terjadi pada dinding alveolar. Dapat menyebabkan permanen ruang perjalanan udara terganggu akibat dari perubahan ini. Kesulitan selama ekspirasi pada efisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) diantara alveoli,kolaps jalan nafas sebagian dan kehilangan elastisitas rekoil. Pada saat alveoli dan septum kolaps, udara akan tertahan diantara ruang alveolar dan diantara parenkim paru. Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilasi pada dead space atau area yang tidak mengalami pertukaran gas/ darah kerja nafas meningkat dikarenakan kekurangan fungsi jaringan paru untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbondioksida. Emfisiema juga menyebabkan destruksi kapiler paru. Akibat lebih lanjutannya adalah oenurunan perfusi oksigen dan penurunan ventilasi. Beberapa tingkat emfisema dianggap normal dengan usia, tetapi jika hal ini timbul pada awal kehidupan ( usia muda ) , biasanya berhubungan dengan bronkitis dan merokok.

Demam menggigil Nyeri dada Dispnea Sianosis Kelelahan Takikardi Anoreksia Distensi vena leher

Manifestasi Klinis a. Penampilan Umum - Kurus, warnakulit dan pucat - Tidak ada tanda CHF kanan dengan dependen pada stadium akhir a. Usia 65 75 Tahun b. Pemeriksaan Fisik dan laboratorium

Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostofrenik. Bila cairan lebih 300ml, akan tampak cairan dengan permukaan melengkung. Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis. Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada sela iga ke-8. Didapati cairan yang mungkin serosa (serotorak), berdarah (hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang). Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, basil tahan asam (untuk TBC), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase (LDH), protein), analisis sitologi untuk sel-sel malignan, dan pH.

Penatalaksanaan Utama pada klien emfisema adalah meningkatnya kualitas hidup,memperlambat perkembangan proses penyakit dan mengobati obstruksi saluran nafas agar tidak terjadi hipoksia.Pendekatan terapi mencakup : Pemberian terapi untuk meningkatkan ventilasi dan menurunkan kerja nafas Mencegah dan mengobati infeksi Teknik terapi fisik untuk memperbaiki dan meningkatkan ventilasi paru Memelihara kondisi linkungan yang memungkinkan untuk memfasilitasi pernafasaan yg adekuat Dukungan psikologis dan Edukasi dan rehabilitasi klien.

Bronkodilators
Terapi aerosol Terapi infeksi Kortikosteroid oksigenasi

Pengkajian
Pengkajian Data Dasar Riwayat/adanya faktor-faktor penunjang

Merokok, terpapar polusi udara yang berat, riwayat alergi pada keluarga Eksaserbasi seperti : Alergen (debu, serbuk kulit, serbuk sari, jamur) Stress emosional, aktivitas fisik berlebihan Infeksi saluran nafas Drop out pengobatan

Riwayat yang dapat mencetuskan


a)

Aktivitas/Istirahat Gejala: - umum/kehilangKeletihan, kelelahan, malaise - Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernapas - Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi - Dispnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau latihan Tanda: - Keletihan, gelisah, insomnia - KeleAmahan an massa otot Sirkulasi Gejala: - pembengkakan pada ekstremitas bawah Tanda: - Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, disritmia, distensi vena leher - Edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung - Bunyi jantung redup (yang berhubungan dengan peningkatan diameter AP dada) - Warna kulit/membran mukosa: normal atau abu-abu/sianosis - Pucat dapat menunjukkan anemia

b)

c)

Makanan/Cairan Gejala:

Mual/muntah, nafsu makan buruk/anoreksia (emfisema) Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan Penurunan berat badan menetap (emfisema), peningkatan berat badan menunjukkan edema (bronkitis) Turgor kulit buruk, edema dependen Berkeringat, penuruna berat badan, penurunan massa otot/lemak subkutan (emfisema) Palpitasi abdominal dapat menyebabkan hepatomegali (bronkitis)

Tanda:

d)

Hygiene Gejala:

Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari Kebersihan, buruk, bau badan

Tanda:

e)

Pernafasan Gejala:

Nafas pendek (timbulnya tersembunyi dengan dispnea sebagai gejala menonjol pada emfisema) khususnya pada kerja, cuaca atau episode berulangnya sulit nafas (asma), rasa dada tertekan, ketidakmampuan untuk bernafas (asma) Lapar udara kronis Bentuk menetap dengan produksi sputum setiap hari (terutama pada saat bangun) selama minimum 3 bulan berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun. Produksi sputum (hijau, putih dan kuning) dapat banyak sekali (bronkitis kronis) Episode batuk hilang timbul biasanya tidak produktif pada tahap dini meskipun dapat terjadi produktif (emfisema) Riwayat pneumonia berulang: terpajan pada polusi kimia/iritan pernafasan dalam jangka panjang (mis., rokok sigaret) atau debu/asap (mis., abses, debu atau batu bara, serbuk gergaji) Faktor keluarga dan keturunan, mis., defisiensi alfa-anti tripsin (emfisema) Penggunaan oksigen pada malam hari atau terus menerus

Tanda:

Pernafasan: biasanya cepat, dapat lambat, penggunaan otot bantu pernapasan Dada: hiperinflasi dengan peninggian diameter AP, gerakan diafragma minimal Bunyi nafas: mungkin redup dengan ekspirasi mengi (emfisema); menyebar, lembut atau krekels, ronki, mengi sepanjang area paru. Perkusi: hiperesonan pada area paru Warna: pucat dengan sianosis bibir dan dasar kuku.

f)

Keamanan Gejala:

Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan Adanya/berulangnya infeksi Kemerahan/berkeringat (asma)

g)

Seksualitas Gejala:

Penurunan libido

h)

Interaksi sosial Gejala:

Hubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, ketidak mampuan membaik/penyakit lama Ketidakmampuan untuk/membuat mempertahankan suara pernafasan Keterbatasan mobilitas fisik, kelainan dengan anggota keluarga lalu

Tanda:

i)

Penyuluhan/Pembelajaran Gejala:

Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan, kesulitan menghentikan merokok, penggunaan alkohol secara teratur, kegagalan untuk membaik.

1.

2.

3.

4.

Pola nafas tidak efektif yg berhubungan dgn proses radang/penurunan ekspansi paru ditandai dengan dispnea,takipneua,perubahan kedalaman pernafasaan. Resiko tinggi terhadap tauma berhubungan dgn proses cidera,system drainase dada,kursng pendidikan keamanan. Nyeri dada/nyeri akut yg berhubungan dgn inflamasi parenkim paru Kerusakan pertukaran gas yg berhubungan dgn penurunan kemampuan rekoil paru,

a.
1.

Faal Paru

Spinometri (VEP, KVP). - Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP 1 < 80 % KV menurun, KRF dan VR meningkat. - VEP, merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya dan perjalanan penyakit. 2. Uji bronkodilator - Setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan 15-20 menit kemudian dilihat perubahan nilai VEP 1 b. Darah Rutin Hb, Ht, Leukosit.

c.

Gambaran Radiologis Pada emfisema terlihat gambaran : - Diafragma letak rendah dan datar. - Ruang retrosternal melebar. - Gambaran vaskuler berkurang. - Jantung tampak sempit memanjang. - Pembuluh darah perifer mengecil. Pemeriksaan Analisis Gas Darah Terdapat hipoksemia dan hipokalemia akibat kerusakan kapiler alveoli. Pemeriksaan EKG Untuk mengetahui komplikasi pada jantung yang ditandai hipertensi pulmonal dan hipertrofi ventrikel kanan.

d.

e.

f.

Pemeriksaan Enzimatik Kadar alfa-1-antitripsin rendah.

Data

Etiologi

Masalah

Do: -TTV: TD:120/80 mmhg N: 88 x/menit S: 37c - gambaran opacity -Clubbing finger
-DS: kx mengeluh sesak nafas dan nyeri dada

Rokok dan polusi udara


Gg pembersihan jalan nafas Peradangan bronkus Obstruksi jalan nafas akibat peradangan Penyempitan saluran bronkhiolus. Pe ekspansi paru dan Pengembangan alveolus Kolaps alveolus Penumpukan lendir brlebih Sesak nafas Gg jalan napas

Ketidak efektifan bersihan jalan nafas

Dx 1: bersihan jalan nafas brhubungan dgn ditandai dgn penumpukan lendir berlebihan. Do: -TTV: TD:120/80 mmhg,N: 88 x/menit,S: 37c,ada gambaran opacity dan ada cluubing finger . DS: kx mengatakan sesak dan nyeri dada Tujuan : jalan nafas bersih dan efektif setelah beberapa hari perawatan. KH: tidak keluhan sesak suara nafas normal Sianosis (-) Batuk (-) Jumlah pernafasan dlm btas normal sesuai usia

INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri a. Kaji jumlah/kedalaman pernapasan Evaluasi awal untuk melihat kemajuan dan pergerakan dada dri hasil intervensi yg telah dilakukan. b. Auskultasi daerah paru,catat area yg menurun/tidak adanya aliran udara,dan adanya suara nafas tambahan crackles, wheezes Penurunan aliran udara timbul pda area yg konsolidasi dgn cairan.suara napas bronkial(normal diatas brnkus) dpt jg. Crakles,ronchi dan wheezes trdengar psa saat inspirasi dan atau ekspirasi sbgai respons dri akumulasi cairan,sekresi kental dan spasme/obstruksi napas. Diafragma yg lebih rendah akn membantu dlm mengkatkan ekspansi dada,pengisian udara,mobilisasi dan ekspektorasi dri sekresi

c. Elevasi kepala, sering ubah posisi

d. Bantu kalian dlm melakukan latihan napas dalam. Demonstrasikan/bantu kx belajar untuk batuk, misalnya menahan dada dan batuk efektif pda saat posisi tegak lurus.

Nafas dlm akn memfasilitasi ekspansi maksimum paruparu/saluran udara kecil. batu,k merupakan mekanisme pembersihan diri normal,dibantu silia untuk memelihara kepatenan saluran udara. Menahan dada akn membantu untuk mengurangi ketidak nyamanan,dan posisi tegak lurus akn memberikan tekanan lbh untuk batuk. Stimulasi batuk/pembersihan saluran napas secara mekanis pda kx yg tidak dpt melakukannya dikarenakan ketidak efektifan batuk/penurunan kesadaran Cairan(terutama cairan hangat) akn membantu memobilisasi dan mengekspektorasi sekret.

e. Lakukan suction atas indikasi

f. Berikan cairan kurang lbh 2500ml/hari ( jika tidak ada kontraindikasi). Berikan air hangat

Kolaborasi
Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan, misal nasal kanul, masker Pemberian terapi oksigen untuk memelihara PaO2 diatas 60 mmHg, oksigen yg diberikan sesuai dgn toleransi dri klien

S: kx merasa sesak nafas hilang dan nyeri lebih mendingan O: TTV: TD: 120/80, N: 80x/menit, S: 37c. Tidak ada friction pleural,perkusi dulness,palpasi vocal premitus. A: masalah teratasi sebagian P: lanjutkan intervensi

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Pokok bahasan Sub pokok bahasan Sasaran Waktu Hari/tanggal Tempat Penyuluh

: : : : : : :

Penyakit Emfisema Pengenalan Penyakit Emfisema Pengunjung 30 menit. Rabu, 12 Oktober 2011 Poli Paru Mahasiswa Stikes NU Tuban semester 3

Tujuan

Instruksional umum:

Peserta

penyuluhan dapat mengerti dan mengetahui tentang penyakit Emfisema setelah mendapatkan penyuluhan selama 30 menit tentang penyakit Emfisema

Tujuan

Instruksional khusus:

Setelah mendapatkan penyuluhan 1 x diharapkan peserta penyuluhan mampu : Mendefinisikan pengertian tentang Emfisema Mengidentifikasikan penyebab Emfisema Menyebutkan tanda dan gejala Emfisema Mengerti tentang tata cara mencegah penyakit

Metode

Ceramah. Tanya jawab.

Media

Leaflet. Laptop dan LCD

No 1

Kegiatan Pendahuluan : -Menyampaikan salam -Memperkenalkan Diri -Menjelaskan tujuan

Respon klien -membalas salam -memperhatikan

waktu 5 menit

Penyampaian materi : a. Menjelaskan dan menguraikan materi ttg : Pengertian Emfisema Penyebab Emfisema Tanda dan Gejala Emfisema Pencegah penyakit Emfisema Mendemonstrasikan cara melakukan pencegahan awal. b. Memberikan kesempatan pada peserta penyuluh untuk bertanya.
c. Menjawab pertanyaan peserta penyuluhan yang berkaitan dengan materi.

-Memperhatikan penjelasan dan demonstrasi dg cermat

10 menit

-Menanyakan hal yang belum jelas -Memperhatikan jawaban penyuluhan. -Menjawab salam

10 menit

Penutup : Tanya jawab (evaluasi) Menyimpulkan hasil materi Mengakhiri kegiatan Mengucapkan salam

5 menit

Pengorganisasian dan Job Discription 1. Pembimbing : 2. Moderator : Job Discription : Membuka dan menutup kegiatan Membuat susunan acara dengan jelas Memimpin jalannya kegiatan 3. Penyaji : Job Discription : Menyampaikan materi penyuluhan dengan jelas 4. Observer : Job Discription : Membuat resume kegiatan Penyuluhan 5. Fasilitator : 1) 2) 3) Job Discription : Membantu menyiapkan perlengkapan penyuluhan Memotivasi audience untuk bertanya Membantu penyaji dalam menganggapi pertanyaan audience

Evaluasi

struktur

Mahasiswa STIKES NU Tuban semester 3 Penyelenggaraan penyuluhan di poli paru Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa semester 3. Kontrak waktu dilakukan 1 hari sebelum Penyuluhan dan 15 menit sebelum pelaksanaan Penyuluhan.

Evaluasi proses
Pengunjung antusias terhadap materi penyuluhan. Pengunjung mengikuti penyuluhan sampai selesai. Pengunjung mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar. Pengunjung berpartisipasi aktif dalam kegiatan sharing.

Evaluasi hasil :

Mahasiswa Mahasiswa Mahasiswa Mahasiswa Mahasiswa asma.

mampu mampu mampu mampu mampu

menyebutkan menyebutkan menyebutkan menyebutkan menyebutkan

definisi asma. etiologi asma. tipe dan gejala asma. terapi atau pengobatan asma. usaha-usaha pencegahan

NB : Dalam suatu acara penyuluhan bukti kita telah melakukan Penyuluhan yaitu berupa Daftar hadir,, sedangkan target penyuluhan biasanya mendapat leaflet.

Emfisema

merupakan keaadan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terus menerus terisi udara walaupun setelah ekspirasi (Kus Irianto;2004.216) Emfisema merupakan morfologi di difisiensi sebagai pembesaran ruang-ruang udara distal dan brokiolus terminal dengan destruksi dindingnya ( Robbins;1994.253) Emfisema adalah penyakit obstruksi kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan luas permukaan alveoli. ( Corwin;2000.435)

Beberapa hal yang dapat menyebabkan emfisema paru yaitu : 1. Rokok Rokok secara patologis dapat menyebabkan gangguan pergerakan silia pada jalan nafas, menghambat fungsi makrofag alveolar, menyebabkan hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus bromkus. 2.Polusi Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan emfisema. Insiden dan angka kematian emfisema bisa dikatakan selalu lebih tinggi di daerah yang padat industrialisasi, polusi udara seperti halnya asap tembakau, dapat menyebabkan gangguan pada silia menghambat fungsi makrofag alveolar. 3.Infeksi Infeksi saluran nafas akan menyebabkan kerusakan paru lebih berat. Penyakit infeksi saluran nafas seperti pneumonia, bronkiolitis akut dan asma bronkiale, dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya emfisema.

Demam menggigil Nyeri dada Dispnea Sianosis Kelelahan Takikardi Anoreksia Distensi vena leher

Legal

aspek Prosedur ini dilakukan oleh dokter.perawat membantu agar prosedur dapat dilaksanakan dengan baik. Dan perawat memberi dukungan moril pada pasien.

Tanggung jawab inti dari perawat: Untuk mencegah nokturia, memberikan obat di pagi hari Memantau intake dan output cairan, berat badan, tekanan darah, dan kadar elektrolit. Perhatikan tanda-tanda dan gejala hipokalemia, seperti kelemahan otot dan kram. obat dapat digunakan dengan diuretik hemat kalium untuk mencegah kehilangan kalium. Konsultasikan ke dokter dan ahli tentang diet tinggi kalium. Makanan yang kaya kalium termasuk buah jeruk, tomat, pisang, kurma, dan aprikot. Memantau tingkat glukosa, terutama pada pasien diabetes. Memantau tua pasien, khususnya yang rentan terhadap diuresis yang berlebihan. Pada pasien dengan hipertensi, respon terapi mungkin tertunda beberapa minggu. Peran perawat dalam perawatan pasien dengan emfisemameliputi: Menerapkan rejimen medis. Perawat mempersiapkan dan posisi pasien untuk Thoracentesis dan menawarkan dukungan seluruh prosedur. Nyeri manajemen prioritas, dan perawat membantu pasien untuk mengambil posisi yang paling menyakitkan. Sering mengubah dan ambulasi yang penting untuk memfasilitasi drainase perawat mengelola analgesik yang diresepkan dan yang diperlukan. Jika tabung dada drainase dan sistem air-segel digunakan, perawat bertanggung jawab untuk memantau fungsi sistem dan merekam jumlah drainase pada interval yang ditentukan. Jika pasien harus dikelola sebagai pasien rawat jalan dengan kateter pleura untuk drainase, perawat bertanggung jawab untuk mendidik pasien dan keluarga mengenai pengelolaan dan perawatan dari sistem kateter dan drainase.

Pencegahan

primer a. Pendidikan terhadap penderita dan keluarganya. Mereka harus mengetahui faktor-faktor yg dapat mencetuskan eksaserbasi serta faktor yg bisa memperburuk. b. Menghindari rokok dan zat-zat inhalasi lain yg brsifat iritasi. Rokok merupakan faktor utama yg dapat memperburuk perjalanan penyakit,penderita harus berhenti merokok. Disamping itu zat-zat inhalasi yg brsifat iritasi harus dihindari.

c. Menghindari infeksi Infeksi saluran nafas sedapat mungkin dihindari oleh karena dapat menimbulkan suatu eksaserbasi akut penyakit. d.Lingkungan yg sehat dan kebutuhan cairan yg cukup e.imunoterapi

Meliputi diagnosa dini(pemeriksaan penyakit dan pengobatan yg tepat). Adapun pengobatan yg dapat dilakukan. 1.Bronkodilator (jenis anti koligenenkik dan beta-2 agnis) 2.Teofilin (meningkatkan faal paru dan mencegah keletihan) 3.Kortikosteroid (pemberiaan dalam bentuk oral dosis 1 prednison 40 mg/hari sedikitnya selama 2 minggu)

4. Antibiotik (mengurangi lama dan beratnya eksaserbasi. Antibiotik yg bermanfaat adalah golongan penisilin,ertromisin dan kotriomaksazol biasanya diberikan 7-10 hari) 5. Terapi oksigen (pemberian oksigen 1-3 lpm terus menerus memberikan psikis,koordinasi otot dan toleransi beban kerja.

Pencegahan ini berupa rehabilitasi, disebabkan pasien cenderung menemui kesulitan bekerja, merasa sendiri dan terisolasi, untuk itu perlu kegiatan sosialisasi agar terhindar dari depresi. Rehabilitas untuk pasien ini: a. Fisioterapi: mengeluarkan sputum, meningkatkan efisiensi batuk, gangguan pernafasaan pasien. b. Rehabilitas psikis c. Rehabilitas pekerjaan.

Wassalamualaikum Wr, Wb