Anda di halaman 1dari 15

Pengolahan Nikel ITS 2010 BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Keserbagunaan dan kombinasi sifat-sifat yang khas dari nikel membuatnya ada di mana-mana dalam kehidupan sehari-hari. Selain keras, nikel sekaligus juga dapat ditempa, tahan karat dan tetap mempertahankan ciri mekanis dan fisiknya walaupun ditempatkan pada suhu yang sangat tinggi. Logam putih keabu-abuan ini, yang dihasilkan dari produk matte PT Inco, dikenal sebagai nikel primer karena diperoleh dari bijih nikel. Baja nirkarat dewasa ini menguasai kira-kira dua pertiga dari konsumsi nikel primer Dunia Barat, naik kira-kira 50 persen dari satu dekade sebelumnya. Kurang lebih 76 persen produksi baja nirkarat Dunia Barat dalam tahun-tahun belakangan ini terdiri dari austenitic atau jenis yang mengandung nikel. Rata-rata, baja nir karat austenitic mengandung kurang lebih delapan sampai sepuluh persen nikel. Pada umumnya, jenis bijih nikel di dunia adalah sulfida dan mineral oksida. Di Indonesia Timur, kita sering melihat mineral oksida nikel yang disebut laterit nikel. Bijih nikel laterit terbentuk oleh pelapukan batuan tropis intensif ultrabasa di atas semua serpentinites, yang sebagian besar terdiri dari magnesium silikat serpentin dan berisi approx. 0,3% nikel. Konten nikel awal sangat diperkaya dalam lateritisasi. Dua jenis laterit bijih nikel harus dibedakan yaitu: jenis limonit dan jenis silikat. Pertama, saprolit yaitu nikel yang memiliki kandungan besi yang rendah. Umumnya, saprolit mengandung nikel 1,5-2,5% dan sebagian besar terdiri Magnesium. Dalam kantong dan celah dari batuan serpentinit garnierite hijau bisa hadir dalam jumlah kecil, namun dengan isi nikel yang tinggi - Sebagian besar 20-40%. Stainless steel merupakan salah satu jenis baja yang banyak digunakan dalam industri khususnya untuk industri yang membutuhkan bahan yang memiliki ketahanan terhadap korosi tinggi serta sifat mekanis yang baik Industri manufaktur material cor tahan karat di Indonesia selama ini menggunakan bahan baku seperti, nikel murni, ferrochrom (Fe-Cr), ferromangan (Fe-Mn),

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 1

Pengolahan Nikel ITS 2010 ferrosillicon (Fe-Si), ferromolybden (Fe-Mo), dan scrap low carbon steel. Semua bahan baku tersebut diimpor dari luar negeri, kecuali scrap low carbon steel. Masalah yang dihadapi adalah harga nikel murni yang cukup mahal yaitu sekitar $ 17.770/kg [1] Sehingga nikel mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga produk baja tahan karat seperti terlihat pada Padahal sebenarnya di Pomala, Sulawesi Tenggara terdapat bahan galian berupa ferronickel yang bisa dijadikan bahan baku untuk pembuatan coran tahan karat [2] Ferronickel ini saat ini lebih banyak diekspor keluar negeri untuk selanjutnya dilakukan ekstraksi terhadap nikelnya. Disamping itu minim sekali pemanfaatan ferronickel untuk kebutuhan industri pengecoran dalam negeri. Sebelumnya telah melakukan penelitian untuk lebih memanfaatkan ferronickel dengan menambahkan atau dipadu dengan chrom. Sehingga pada proses pembuatan material cor tahan karat hanya perlu ditambahkan sedikit unsur krom (Cr).

I.2. Tujuan Penulisan Mengetahui bagaimana proses pengolahan nikel dengan menggunakan ferronickel smelting dan blast furnace.

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 2

Pengolahan Nikel ITS 2010 BAB II PEMBAHASAN

II.1. Nikel Laterit Nikel adalah unsur kimia metalik dalam tabel periodik yang memiliki simbol Ni dan nomor atom 28. Nikel mempunyai sifat tahan karat. Dalam keadaan murni, nikel bersifat lembek, tetapi jika dipadukan dengan besi, krom, dan logam lainnya, dapat membentuk baja tahan karat yang keras. Perpaduan nikel, krom dan besi menghasilkan baja tahan karat (stainless steel) yang banyak diaplikasikan pada peralatan dapur (sendok, dan peralatan memasak), ornamen-ornamen rumah dan gedung, serta komponen industri. Batuan induk bijih nikel adalah batuan peridotit. Menurut Vinogradov batuan ultra basa rata-rata mempunyai kandungan nikel sebesar 0,2 %. Unsur nikel tersebut terdapat dalam kisi-kisi kristal mineral olivin dan piroksin, sebagai hasil substitusi terhadap atom Fe dan Mg. Proses terjadinya substitusi antara Ni, Fe dan Mg dapat diterangkan karena radius ion dan muatan ion yang hampir bersamaan di antara unsur-unsur tersebut. Proses serpentinisasi yang terjadi pada batuan peridotit akibat pengaruh larutan hydrothermal, akan merubah batuan peridotit menjadi batuan serpentinit atau batuan serpentinit peroditit. Sedangkan proses kimia dan fisika dari udara, air serta pergantian panas dingin yang bekerja kontinu, menyebabkan disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk. Pada pelapukan kimia khususnya, air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari udara dan pembusukan tumbuh-tumbuhan menguraikan mineral-mineral yang tidak stabil (olivin dan piroksin) pada batuan ultra basa, menghasilkan Mg, Fe, Ni yang larut; Si cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika yang sangat halus. Didalam larutan, Fe teroksidasi dan mengendap sebagai ferrihydroksida, akhirnya membentuk mineral-mineral seperti geothit, limonit, dan haematit dekat permukaan. Bersama mineral-mineral ini selalu ikut serta unsur cobalt dalam jumlah kecil. Larutan yang mengandung Mg, Ni, dan Si terus menerus kebawah selama larutannya bersifat asam, hingga pada suatu kondisi dimana suasana cukup netral

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 3

Pengolahan Nikel ITS 2010 akibat adanya kontak dengan tanah dan batuan, maka ada kecenderungan untuk membentuk endapan hydrosilikat. Nikel yang terkandung dalam rantai silikat atau hydrosilikat dengan komposisi yang mungkin bervariasi tersebut akan mengendap pada celah-celah atau rekahan-rekahan yang dikenal dengan urat-urat garnierit dan krisopras. Sedangkan larutan residunya akan membentuk suatu senyawa yang disebut saprolit yang berwarna coklat kuning kemerahan. Unsur-unsur lainnya seperti Ca dan Mg yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa kebawah sampai batas pelapukan dan akan diendapkan sebagai dolomit, magnesit yang biasa mengisi celah-celah atau rekahan-rekahan pada batuan induk. Dilapangan uraturat ini dikenal sebagai batas petunjuk antara zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan akar pelapukan (root of weathering). Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan bijih nikel laterit ini adalah: a. Batuan asal. Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan nikel laterit, macam batuan asalnya adalah batuan ultra basa. Dalam hal ini pada batuan ultra basa tersebut: - terdapat elemen Ni yang paling banyak diantara batuan lainnya - mempunyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil, seperti olivin dan piroksin - mempunyai komponen-komponen yang mudah larut dan memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel. b. Iklim. Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan terjadinya proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur yang cukup besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis, dimana akan terjadi rekahan-rekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia pada batuan. c. Reagen-reagen kimia dan vegetasi. Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang mengandung CO2 memegang peranan penting didalam proses pelapukan

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 4

Pengolahan Nikel ITS 2010 kimia. Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat merubah pH larutan. Asam-asam humus ini erat kaitannya dengan vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan: penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar pohon-pohonan akumulasi air hujan akan lebih banyak humus akan lebih tebal Keadaan ini merupakan suatu petunjuk, dimana hutannya lebat pada lingkungan yang baik akan terdapat endapan nikel yang lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan terhadap erosi mekanis. d. Struktur. Struktur yang sangat dominan yang terdapat didaerah Polamaa ini adalah struktur kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur patahannya. Seperti diketahui, batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-rekahan tersebut akan lebih memudahkan masuknya air dan berarti proses pelapukan akan lebih intensif. e. Topografi. Keadaan topografi setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi air beserta reagen-reagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan bergerak perlahan-lahan sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi. Pada daerah yang curam, secara teoritis, jumlah air yang meluncur (run off) lebih banyak daripada air yang meresap ini dapat menyebabkan pelapukan kurang intensif. f. Waktu. Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 5

Pengolahan Nikel ITS 2010 Profil nikel laterit keseluruhan terdiri dari 4 zona gradasi sebagai berikut : 1. Iron Capping Merupakan bagian yang paling atas dari suatu penampang laterit. Komposisinya adalah akar tumbuhan, humus, oksida besi dan sisa-sisa organik lainnya. Warna khas adalah coklat tua kehitaman dan bersifat gembur. Kadar nikelnya sangat rendah sehingga tidak diambil dalam penambangan. Ketebalan lapisan tanah penutup rata-rata 0,3 s/d 6 m. berwarna merah tua, merupakan kumpulan massa goethite dan limonite. Iron capping mempunyai kadar besi yang tinggi tapi kadar nikel yang rendah. Terkadang terdapat mineral-mineral hematite, chromiferous. 2. Limonite Layer Merupakan hasil pelapukan lanjut dari batuan beku ultrabasa.

Komposisinya meliputi oksida besi yang dominan, goethit, dan magnetit. Ketebalan lapisan ini rata-rata 8-15 m. Dalam limonit dapat dijumpai adanya akar tumbuhan, meskipun dalam persentase yang sangat kecil. Kemunculan bongkah-bongkah batuan beku ultrabasa pada zona ini tidak dominan atau hampir tidak ada, umumnya mineral-mineral di batuan beku basa-ultrabasa telah terubah menjadi serpentin akibat hasil dari pelapukan yang belum tuntas. fine grained, merah coklat atau kuning, lapisan kaya besi dari limonit soil menyelimuti seluruh area. Lapisan ini tipis pada daerah yang terjal, dan sempat hilang karena erosi. Sebagian dari nikel pada zona ini hadir di dalam mineral manganese oxide, lithiophorite. Terkadang terdapat mineral talc, tremolite, chromiferous, quartz, gibsite, maghemite. 3. Silika Boxwork Putih orange chert, quartz, mengisi sepanjang fractured dan sebagian menggantikan zona terluar dari unserpentine fragmen peridotite, sebagian mengawetkan struktur dan tekstur dari batuan asal. Terkadang terdapat mineral opal, magnesite. Akumulasi dari garnierite-pimelite di dalam boxwork mungkin berasal dari nikel ore yang kaya silika. Zona boxwork jarang terdapat pada bedrock yang serpentinized. 4. Saprolite

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 6

Pengolahan Nikel ITS 2010 Zona ini merupakan zona pengayaan unsur Ni. Komposisinya berupa oksida besi, serpentin sekitar <0,4% kuarsa magnetit dan tekstur batuan asal yang masih terlihat. Ketebalan lapisan ini berkisar 5-18 m. Kemunculan bongkah-bongkah sangat sering dan pada rekahan-rekahan batuan asal dijumpai magnesit, serpentin, krisopras dan garnierit. Bongkah batuan asal yang muncul pada umumnya memiliki kadar SiO2 dan MgO yang tinggi serta Ni dan Fe yang rendah. campuran dari sisa-sisa batuan, butiran halus limonite, saprolitic rims, vein dari endapan garnierite, nickeliferous quartz, mangan dan pada beberapa kasus terdapat silika boxwork, bentukan dari suatu zona transisi dari limonite ke bedrock. Terkadang terdapat mineral quartz yang mengisi rekahan, mineralmineral primer yang terlapukkan, chlorite. Garnierite di lapangan biasanya diidentifikasi sebagai kolloidal talc dengan lebih atau kurang nickeliferous serpentin. Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat. 5. Bedrock Bagian terbawah dari profil laterit. Tersusun atas bongkah yang lebih besar dari 75 cm dan blok peridotit (batuan dasar) dan secara umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis (kadar logam sudah mendekati atau sama dengan batuan dasar). Batuan dasar merupakan batuan asal dari nikel laterit yang umumnya merupakan batuan beku ultrabasa yaitu harzburgit dan dunit yang pada rekahannya telah terisi oleh oksida besi 5-10%, garnierit minor dan silika > 35%. Permeabilitas batuan dasar meningkat sebanding dengan intensitas serpentinisasi.Zona ini terfrakturisasi kuat, kadang membuka, terisi oleh mineral garnierite dan silika. Frakturisasi ini diperkirakan menjadi penyebab adanya root zone yaitu zona high grade Ni, akan tetapi posisinya tersembunyi.

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 7

Pengolahan Nikel ITS 2010 II.2. Pengolahan Nikel dengan Blast Furnace

Tungku itu sendiri adalah dalam girderwork pusat. Sebuah ledakan tungku adalah jenis metalurgi tungku yang digunakan untuk peleburan untuk memproduksi logam industri, umumnya besi . Pada tungku sembur, bahan bakar dan bijih terus diberikan melalui bagian atas tungku, sementara udara (kadang-kadang dengan oksigen pengayaan) akan dikumandangkan ke dasar ruangan, sehingga reaksi kimia berlangsung sepanjang tungku sebagai bahan bergerak ke bawah .. Produk akhir biasanya cair logam dan terak fase disadap dari bawah, dan buang gas keluar dari puncak tungku. Blast furnace harus berlawanan dengan tungku udara (seperti tungku reverberatory ), yang disedot secara alami, biasanya oleh konveksi gas panas di cerobong cerobong asap. Menurut definisi yang luas, bloomeries untuk besi, meniup rumah untuk timah , dan berbau pabrik untuk memimpin , akan diklasifikasikan sebagai tungku ledakan . Namun, istilah tersebut biasanya terbatas dengan yang digunakan untuk peleburan bijih besi untuk memproduksi pig iron , bahan antara yang digunakan dalam produksi komersial besi dan baja . Ledakan tungku tetap menjadi bagian penting dari produksi besi modern. tungku modern sangat efisien, termasuk kompor Cowper untuk pra-panas udara ledakan dan menerapkan sistem pemulihan untuk mengekstrak panas dari gas

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 8

Pengolahan Nikel ITS 2010 panas keluar dari tungku. Persaingan di industri drive tingkat produksi lebih tinggi.. The blast furnace terbesar memiliki volume sekitar 5.580 m 3 (190.000 cu ft)
[30]

dan dapat menghasilkan sekitar 80.000 ton (88.000 ton singkat) besi per

minggu. Ini adalah kenaikan besar dari abad ke-18 tungku khas, yang rata-rata sekitar 360 ton (400 ton singkat) per tahun. Variasi dari tungku ledakan, seperti ledakan Swedia tanur listrik, telah dikembangkan di negara-negara yang tidak memiliki sumber daya batubara asli.

Blast furnace ditempatkan di sebuah instalasi

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 9

Pengolahan Nikel ITS 2010 Tanur tinggi diagram 1. ledakan Hot dari tungku Cowper 2. Melting zona (omong kosong) 3. Pengurangan zona oksida besi (laras) 4. zona Reduksi oksida besi (stack) 5. Pra-pemanasan zona (tenggorokan) 6. bijih, kapur, dan kokas 7. Gas buang 8. Kolom bijih, kokas dan kapur 9. Penghapusan terak 10. Tapping dari cair pig iron 11. Koleksi limbah gas

Tungku modern dilengkapi dengan berbagai sarana penunjang untuk meningkatkan efisiensi, seperti meter penyimpanan bijih di mana tongkang yang diturunkan. Bahan baku yang ditransfer ke kompleks stockhouse oleh jembatan bijih, atau gerbong kereta api dan mobil bijih transfer . Rail-mount mobil skala atau komputer hopper dikendalikan menimbang berat bahan baku untuk menghasilkan berbagai logam panas yang diinginkan dan terak kimia.Bahan baku tersebut dibawa ke bagian atas tungku ledakan melalui skip powered by derek mobil atau ban berjalan. Ada beberapa cara berbeda dimana bahan baku dibebankan kedalam tanur ledakan. Beberapa blast furnace menggunakan bel "ganda" sistem di mana dua "lonceng" digunakan untuk mengontrol masuknya bahan baku kedalam tanur ledakan. Tujuan dari dua lonceng adalah untuk meminimalkan kehilangan panas dalam gas blast furnace. Pertama bahan baku yang mengalir ke atas atau lonceng kecil. Lonceng itu kemudian diputar jumlah yang telah ditetapkan dalam rangka untuk mendistribusikan mengisi lebih akurat. Bel kecil kemudian terbuka untuk mengosongkan muatan ke dalam lonceng besar. Bel kecil kemudian menutup, untuk menutup tungku ledakan, sedangkan mengeluarkan suatu lonceng besar muatan kedalam tanur ledakan. Sebuah desain yang lebih baru adalah dengan menggunakan lonceng-kurang "sistem". Sistem ini menggunakan beberapa hopper

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 10

Pengolahan Nikel ITS 2010 masing-masing mengandung bahan baku, yang kemudian dibuang ke dalam tungku ledakan melalui katup. Katup ini lebih akurat dalam mengontrol berapa banyak setiap konstituen ditambahkan, dibandingkan dengan melewati atau sistem konveyor, sehingga meningkatkan efisiensi tungku. Beberapa dari kurang-bel sistem juga menerapkan cerobong untuk tepat kontrol di mana biaya tersebut dimasukkan. Ledakan membuat besi tanur itu sendiri dibangun dalam bentuk tinggi cerobong asap seperti struktur-pohon dengan refraktori bata. Coke, kapur fluks, dan bijih besi (oksida besi) yang dibebankan ke atas tungku dalam urutan yang tepat mengisi membantu mengendalikan aliran gas dan reaksi kimia dalam tungku. Empat "uptakes" memungkinkan gas, panas kotor untuk keluar dari kubah tungku, sementara "katup pemeras" melindungi bagian atas tungku dari tekanan gas mendadak surges. Ketika terhubung, katup pemeras harus dibersihkan dengan pembersih pemeras. Partikel-partikel kasar di gas menetap di penangkap debu dan dibuang ke kereta api atau mobil truk untuk pembuangan, sedangkan gas itu sendiri mengalir melalui venturi scrubber dan pendingin gas untuk mengurangi suhu gas dibersihkan. The casthouse di bagian bawah tungku berisi pipa kesibukan, tuyeres dan peralatan untuk pengecoran besi cair dan terak. Setelah taphole adalah dibor melalui plug tanah liat tahan api, besi cair dan terak mengalir sebuah palung melalui skimmer pembukaan, memisahkan besi dan terak. Modern, tungku ledakan lebih besar mungkin memiliki sebanyak empat tapholes dan dua tungku pembakar. Setelah babi dan terak besi telah disadap, taphole sekali lagi terhubung dengan tanah liat tahan api. Para tuyeres digunakan untuk menerapkan ledakan panas , yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi tungku ledakan. Ledakan panas diarahkan kedalam tanur melalui nozel air tembaga-didinginkan disebut tuyeres dekat pangkalan. Ledakan suhu panas dapat dari 900 C hingga 1300 C (1600 F 2300 F) tergantung pada desain kompor dan kondisi. Suhu mereka menghadapi mungkin 2000 C sampai 2.300 C (3600 F untuk 4200 F). Minyak , tar , gas alam , bubuk batubara dan oksigen juga dapat disuntikkan ke dalam tungku di tingkat tuyere untuk menggabungkan dengan kokas yang untuk melepaskan energi tambahan yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas.

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 11

Pengolahan Nikel ITS 2010 II.3. Pengolahan Nikel dengan Ferronickel Smelting Metode peleburan feronikel yang terdiri dari tangga justing kedalaman mandi terak, kedalaman perendaman dari thereinto elektroda dan kekuatan tertentu di elektroda permukaan dibasahi dengan terak. metode ini, kedalaman mandi terak dipertahankan dalam kisaran 0,6-1,1 dari diameter elektroda, sedangkan kedalaman perendaman dari elektroda dan kekuatan tertentu di elektroda permukaan dibasahi dengan terak tersebut disimpan di tingkat untuk menyediakan modus mendekati ke modus busur, tapi pada saat yang sama dengan yang suhu feronikel mandi harus cukup tinggi untuk feronikel bebas penyadapan. Kedalaman perendaman dari elektroda ke dalam mandi terak dari 0,1-0,25 diameter elektroda dan kekuatan spesifik pada permukaan elektroda dibasahi dengan terak dari 5,0-6,5 MW / m hereinabove. Penemuan ini dilaksanakan untuk peleburan feronikel di bawah lapisan biaya dalam industri peleburan bijih-listrik tungku-eksperimental dengan kekuatan 6,5 MVA, daerah perapian sebesar 26,6 m
2 2

yang optimal untuk modus disebutkan

dan tiga elektroda 0,5 m

dengan diameter. Bijih nikel teroksidasi dari salah satu deposito bijih Soviet, yang terdiri dari nikel 0,95%, 0,09% dari kobalt, besi 22,5%, 41,5% dari silika, 15% dari magnesium oksida, 5% dari alumina dan kotoran yang menyertai digunakan untuk produksi feronikel. bijih ini panggang dalam tabung berputar tungku pada suhu dipertahankan pada kisaran dari 720 sampai 830 C. bersama dengan agen mengurangi dan sebuah fluks. Kapur digunakan sebagai agen pereduksi, sedangkan batu bara antrasit debu bekerja sebagai fluks.. Masing-masing dari mereka telah ditambahkan ke bijih sebesar 10% dari berat badan bijih. Lalu bata panas itu dimasukkan ke tungku dan peleburan feronikel dilakukan. Dalam perjalanan dari peleburan feronikel, ketinggian lapisan muatan dipertahankan dalam kisaran 1,0-1,2 dari diameter elektroda dan disesuaikan dengan menambahkan biaya seperti itu mencair. Kedalaman mandi terak telah disesuaikan dengan pemakaian terak dari tungku, mempertahankan itu pada salah satu dari nilai-nilainya yang sesuai dengan esensi penemuan ini dan ditetapkan di bawah pengejawantahan daripadanya. Parameter listrik bak mandi dipertahankan untuk dekat dengan modus busur, tetapi tidak memungkinkan pembentukan busur

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 12

Pengolahan Nikel ITS 2010 listrik antara elektroda dan terak, sementara suhu mandi feronikel dipertahankan pada tingkat cukup tinggi untuk feronikel bebas penyadapan. 50 C. with Diketahui bahwa feronikel bebas mengetuk disediakan dengan panas dari mandi feronikel sebesar 20 hingga 50 C. sehubungan dengan suhu likuidus. Mode ini dipertahankan dengan menyesuaikan posisi elektroda di mandi terak dan kekuatan tertentu di elektroda permukaan dibasahi dengan terak, dengan

mempertimbangkan kedalaman tertentu dari terak mandi. Dengan kedalaman perendaman tertentu dari elektroda ke dalam bak mandi kekuatan terak elektroda spesifik pada permukaan dibasahi dengan terak itu disesuaikan dengan mengubah tegangan belitan sekunder dari transformator tungku

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 13

Pengolahan Nikel ITS 2010 BAB III KESIMPULAN

III.1. Kelebihan Ferronickel dan Blast Furnace 1. Proses pengolahan dengan blast furnace untuk mengurangi kadar karbon digunakan metode meniupkan panas dari luar tungku lebih mudah dikendalikan karena proses kerjanya lamban. 2. Pada blast furnace, proses oxy baja secara modern menghasilkan kualitas yang lebih baik. 3. Pada blast furnace, komposisi bahan dapat diatur lebih teliti. 4. Pada ferronickel smelting, dibutuhkan biaya yang relatif lebih murah apabila dibandingkan dengan menggunakan metode pengolahan yang lainnya.

III.2. Kekurangan Ferronickel dan Blast Furnace 1. Produk Fero-Nikel dalam perdagangan, seperti halnya bijih nikel, dalam komoditi dihargai hanya kandungan kadar logam nikel-nya saja, lainnya adalah besi dalam paduan (feronikel berkisar 80% ) tidak ada harganya. 2. Blast Furnace membutuhkan energi listrik yang lebih tinggi serta membutuhkan tempat yang relatif luas dalam proses pengolahannya.

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 14

Pengolahan Nikel ITS 2010

DAFTAR PUSTAKA

Technology Road Map PT KRAKATAU STEEL (PERSERO) 20042020.

M Gojic and S Kojuh, Development of Direct Reduction Processes and Smelting Reduction Processes for Steel Production, Faculty of Metallurgy, University of Zagreb, 2006

Shuzo ITO dan Osamu TSUGE, Method for Producing Granular Metal, EP (European Patent) 1405924, 2007.

http://journal.eng.ui.ac.id/data//4._bambangok_.pdf. Diakses tanggal 28 April 2010

http://www.google.co.id/search?hl=id&q=tanur+tinggi+nikel&start=10&sa=N. Diakses tanggal 28 April 2010

http://wong168.wordpress.com/2010/05/03/proses-pengolahan-nikel-di-indonesiapt-international-nickel-indonesia-tbk/. Diakses tanggal 28 April 2010

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI ITS

Page 15