P. 1
PENGARUH PERUBAHAN HARGA BBM (PREMIUM, MINYAK TANAH, SOLAR) TERHADAP INDEKS HARGA KONSUMEN (IHK) DI KOTA BENGKULU TAHUN 1998 - 2009

PENGARUH PERUBAHAN HARGA BBM (PREMIUM, MINYAK TANAH, SOLAR) TERHADAP INDEKS HARGA KONSUMEN (IHK) DI KOTA BENGKULU TAHUN 1998 - 2009

|Views: 738|Likes:
Dipublikasikan oleh Tina Wahyufitri

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Tina Wahyufitri on Apr 23, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2013

pdf

text

original

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu

2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
1
PENGARUH PERUBAHAN HARGA BBM (PREMIUM,
MINYAK TANAH, SOLAR) TERHADAP INDEKS HARGA
KONSUMEN (IHK) DI KOTA BENGKULU TAHUN 1998 - 2009

Tina Wahyufitri
1
)
Muh. Abduh
2
)
Edy Rahmantyo TH
2
)

ABSTRACT

This paper analyzes the impact and causality among the fuel prices and the
CPI basket of goods and services. We use the Granger Causality with 142 months
observation period. The result indicate that the price of fuel has one way
relationship to CPI basket of goods and services and no relation in one way or
both ways between the CPI basket of goods and services to the fuel prices.
Based on this finding, the government policy should allocate fund
effectively to CPI basket of goods and services that have sensitivity to changing
fuel price.

Key Words :
Inflation, Consumer Price Index, Causality

I. PENDAHULUAN
Pada kurun waktu dari tahun 2005 hingga 2009 harga Bahan Bakar
Minyak (BBM) di Indonesia mengalami kenaikan juga penurunan akibat
pengurangan subsidi BBM dan perubahan harga minyak dunia. Mulai tahun 2001
pemerintah Indonesia menurunkan subsidi BBM dengan tujuan untuk
mengalihkan subsidi BBM tersebut untuk kepentingan pendidikan, kesehatan dan
bantuan kepada rakyat miskin dimana salah satunya berbentuk bantuan langsung
tunai (BLT). Subsidi BBM sebelumnya diberikan pemerintah kepada produsen
atau konsumen dengan tujuan agar BBM dapat diperoleh dengan harga yang lebih
rendah. Namun dengan jumlah konsumen yang terus meningkat, juga harga
minyak dunia yang terus naik, subsidi BBM ini menjadi beban yang sangat besar
terhadap APBN. Untuk menghindari hal tersebut, mulai tahun 2001 pemerintah
mengurangi subsidi terhadap BBM (Lestari, 2004).
Penurunan subsidi BBM menyebabkan kenaikan harga BBM yang berturut
turut terjadi hingga mencapai harga tertinggi di bulan November 2008. Selain
penurunan subsidi BBM, kenaikan harga BBM dipicu oleh harga minyak dunia
yang tercatat menyentuh titik tertinggi pada tanggal 3 Juli 2008 yaitu mencapai

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
2
level USD 144,22 per barrel untuk Brent Crude dan USD 145,31 per barrel untuk
Light sweet. Sebagai konsekuensi dari naiknya harga minyak dunia tersebut, maka
pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada bulan Mei 2008
sebesar 27,8%.
Seiring berjalannya waktu harga minyak dunia mengalami fluktuasi.
Setelah mencapai titik tertinggi pada bulan November 2008, harga minyak dunia
kemudian mengalami titik balik penurunan harga pada akhir bulan November
2008. Penurunan harga minyak dunia ini mendorong penurunan Indonesian Crude
Price (ICP) menjadi cukup rendah yaitu sebesar USD 43 barrel. Dengan turunnya
harga minyak dunia maka muncul desakan pada pemerintah oleh masyarakat
untuk menurunkan harga BBM (Antara, 2008). Akhirnya pada tanggal 1
Desember 2008 pemerintah menurunkan harga BBM jenis premium dari Rp.
6.000,- menjadi Rp. 5.500,- dan langkah ini kemudian disusul dengan penurunan
harga solar.
Menurut Lestari (2004) perekonomian di Indonesia cenderung memiliki
ketergantungan yang cukup tinggi terhadap minyak. Ketergantungan ini dapat
dilihat dari semakin meningkatnya permintaan minyak yang diserap terutama oleh
sektor transportasi, rumah tangga, listrik dan industri. Semakin kuat
ketergantungan perekonomian terhadap minyak berarti pula kenaikan harga
minyak cukup memiliki kekuatan untuk mendorong harga.
Teori inflasi desakan biaya (cost push inflation) menyebutkan bahwa
kenaikan harga-harga dalam perekonomian disebabkan oleh kenaikan biaya
produksi. BBM merupakan salah satu komponen utama dalam biaya produksi,
tarif angkutan, listrik dan komunikasi. Kenaikan harga BBM tentunya akan
menaikkan biaya produksi. Untuk mempertahankan margin keuntungan atau
menghindari kerugian, maka produsen akan menaikkan harga barang dan jasa
yang dibuatnya.
Di Indonesia harga barang dan jasa dicatat oleh Badan Pusat Statistik
dalam bentuk indeks yang disebut Indeks Harga Konsumen (IHK). IHK
merupakan salah satu indikator ekonomi makro yang yang dipergunakan untuk
mengukur rata-rata perubahan harga secara umum dari sejumlah jenis barang
dalam kurun waktu tertentu atau disebut juga dengan inflasi. IHK berguna untuk

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
3
melihat perkembangan harga (mengalami inflasi/deflasi) dan dapat digunakan
sebagai indikator untuk mengukur besarnya perubahan biaya hidup. Tingkat
perubahan IHK (inflasi/deflasi) yang terjadi, dengan sendirinya mencerminkan
daya beli dari uang yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-
harinya. Semakin tinggi inflasi maka semakin rendah nilai uang dan semakin
rendah daya belinya.
Untuk mengetahui pengaruh dari perubahan harga BBM ini, IHK dipilih
sebagai salah satu indikator ekonomi yang dapat memberikan informasi mengenai
perkembangan harga barang dan jasa yang dibayar oleh konsumen. Jika dilihat
dari semakin meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak setiap tahunnya
(Lestari, 2004), maka kenaikan harga BBM akan berpengaruh kepada kemampuan
daya beli masyarakat berpenghasilan tetap.
Kota Bengkulu sebagai bagian dari perekonomian Indonesia juga
merasakan dampak dari gejolak akibat perubahan politik dan krisis ekonomi yang
terjadi di Indonesia. Jika dibandingkan antara inflasi nasional dan inflasi Kota
Bengkulu, inflasi Kota Bengkulu cenderung lebih tinggi atau lebih rendah dari
inflasi Nasional. Kota Bengkulu pernah tercatat sebagai kota dengan inflasi
tahunan tertinggi kedua di Indonesia pada tahun 2005 yaitu sebesar 25,23%
(nasional 17,11%). Sementara di tahun 2007 Kota Bengkulu tercatat memiliki
inflasi tertinggi untuk kontrak rumah yaitu sebesar 25,8%. Tahun 2009 diwarnai
dengan deflasi yang terjadi sejak akhir tahun 2008 hingga pertengahan 2009.
Faktor penyebab deflasi antara lain: penurunan harga BBM yang terjadi tiga kali
berturut-turut dalam jangka waktu kurang dari tiga bulan, rendahnya harga
komoditas unggulan Bengkulu yang terjadi sejak akhir tahun 2008 dan masih
terjaganya pasokan bahan makanan dan kebutuhan masyarakat Bengkulu (Bank
Indonesia, 2009).
Hasil pertemuan forum pengendalian Inflasi Daerah Provinsi Bengkulu
yang difasilitasi oleh Bank Indonesia menyebutkan, secara umum inflasi
Bengkulu tahun 2008 disebabkan oleh: fluktuasi harga internasional komoditas
unggulan Bengkulu, kenaikan harga BBM di triwulan II dan efek lanjutannya
serta kesenjangan permintaan dan penawaran beberapa kebutuhan masyarakat.
Kenaikan harga BBM telah menjadi alasan bagi pelaku ekonomi untuk menaikkan

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
4
harga barang dan jasa pada waktu- waktu tersebut. Dari penemuan oleh tim
pengendali inflasi daerah Kota Bengkulu terungkap bahwa permasalahan di
Provinsi Bengkulu terutama menyangkut kendala transportasi akibat keterbatasan
infrastruktur. Kendala ini menyebabkan barang-barang kebutuhan masyarakat
yang banyak didatangkan dari daerah luar memerlukan biaya yang tinggi untuk
sampai di Bengkulu.
Sejalan dengan salah satu agenda utama kebijakan pemerintah tahun 2009
yaitu mengelola inflasi pada batas tertentu dan mempertahankan daya beli
masyarakat, diperlukan penelitian untuk mengetahui kelompok komoditas barang
dan jasa yang mana di Kota Bengkulu yang paling terkena dampak dari perubahan
harga BBM. Hal ini perlu untuk menunjang strategi yang ditetapkan oleh Menteri
Koordinator Bidang Perekonomian yaitu supaya pemerintah menerapkan program
stabilitas harga yang efektif.
Penelitian ini akan menelaah dampak perubahan harga BBM terhadap IHK
di Kota Bengkulu secara lebih mendalam dengan melihat pengaruh perubahan
harga BBM terhadap IHK masing-masing Kelompok Barang dan Jasa (antara
lain: Kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, kelompok perumahan,
kelompok sandang, kelompok kesehatan, kelompok pendidikan dan kelompok
transportasi), serta menganalisa hubungan kausalitas antara harga premium, harga
minyak tanah, harga solar dengan IHK masing - masing kelompok barang dan
jasa di Kota Bengkulu.

II. TINJAUAN TEORITIS
2.1.1 Harga
Menurut Hirshleifer (1985) ”Harga suatu barang dan jumlah barang yang
diperjualbelikan ditentukan oleh permintaan dan penawaran barang tersebut”.
Perpotongan antara kurva - kurva permintaan dan penawaran menentukan nilai -
nilai keseimbangan dari harga dan jumlah yang dipertukarkan.
2.1.2 Indeks Harga Konsumen
Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi
penting yang dapat memberikan informasi mengenai perkembangan harga barang
dan jasa yang dibayar oleh konsumen. Penghitungan IHK ditujukan untuk

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
5
mengetahui perubahan harga dari sekelompok tetap barang dan jasa yang pada
umumnya dikonsumsi masyarakat Perubahan IHK dari waktu ke waktu
menggambarkan tingkat kenaikan (inflasi) atau tingkat penurunan (deflasi) dari
barang dan jasa kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Kenaikan atau penurunan
harga barang dan jasa mempunyai kaitan erat dengan kemampuan daya beli dari
uang yang dimiliki masyarakat, terutama yang berpenghasilan tetap. Pencatatan
perubahan harga barang dan jasa dilakukan oleh oleh BPS melalui survei Harga
Konsumen mingguan, dua mingguan dan bulanan. Penghitungan inflasi di
Indonesia dilaksanakan di 66 kota meliputi sekitar 300 - 600 jenis barang/jasa.
Kota Bengkulu mencatat sebanyak 337 jenis barang/jasa. Berdasarkan klasifikasi
internasional, barang/jasa ini kemudian dikelompokkan menjadi 7 kelompok
utama, yaitu :
1. Kelompok Bahan Makanan
2. Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau
3. Kelompok Perumahan
4. Kelompok Sandang
5. Kelompok Kesehatan
6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
7. Kelompok Transportasi dan Komunikasi
Presentase perubahan IHK bisa bernilai positif atau negatif. Bila persentase
perubahan IHK positif, maka dapat dikatakan sudah terjadi inflasi (kenaikan harga
secara umum) dan sebaliknya jika persentase perubahan IHK bernilai negatif
berarti terjadi deflasi (penurunan harga secara umum).
2.1.3 Inflasi
Menurut Nanga (2001) jika dilihat dari faktor- faktor penyebab timbulnya,
inflasi dapat dibedakan ke dalam tiga macam, yaitu :
1. Inflasi tarikan permintaan (demand-pull inflation).Inflasi ini disebut juga
sebagai inflasi sisi permintaan atau inflasi karena guncangan permintaan. Inflasi
ini terjadi akibat dari adanya kenaikan permintaan agregat (AD) yang terlalu besar
dibandingkan dengan penawaran atau produksi agregat. Barang- barang menjadi
berkurang dikarenakan pemanfaatan sumber daya yang telah mencapai tingkat

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
6
maksimum atau karena produksi tidak dapat ditingkatkan secepatnya untuk
mengimbangi permintaan yang semakin meningkat atau bertambah.
2. Inflasi dorongan biaya (cost push inflation). Inflasi dorongan biaya atau juga
sering disebut inflasi sisi penawaran (supply side inflation) atau inflasi karena
guncangan penawaran (supply schock inflation) merupakan masalah kenaikan
harga- harga dalam perekonomian yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi.
Pertambahan biaya produksi akan mendorong perusahan - perusahaan menaikkan
harga walaupun mereka harus mengambil resiko akan menghadapi pengurangan
dalam hal permintaan barang - barang yang diproduksinya.
3. Inflasi struktural (structural inflation) yaitu inflasi yang terjadi sebagai akibat
dari adanya berbagai kendala atau kekakuan struktural (structural rigidities) yang
menyebabkan penawaran di dalam perekonomian menjadi kurang atau tidak
responsif terhadap permintaan yang meningkat.
2.1.4 Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM)
Subsidi merupakan bantuan/kebijakan dari pemerintah yaitu bagian dari
kebijakan fiskal kepada produsen atau konsumen dengan tujuan agar barang / jasa
dapat diperoleh dengan harga yang lebih rendah (Prayitno, 2000). Menurut
Prayitno, kebijakan yang berkaitan dengan anggaran belanja mempunyai tiga
fungsi pokok. Fungsi pertama adalah fungsi alokasi, maksudnya mengalokasikan
faktor faktor produksi yang tersedia di dalam masyarakat sedemikian rupa
sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Fungsi kedua adalah fungsi
distribusi, yaitu fungsi yang pada pokoknya mempunyai tujuan untuk
menyelenggarakan pembagian pendapatan nasional yang adil. Fungsi ketiga
adalah fungsi stabilitasi, yaitu fungsi yang menunjukkan terpeliharanya tingkat
kesempatan kerja yang tinggi, tingkat harga yang relatif stabil dan tingkat
pertumbuhan ekonomi yang cukup memadai.
Menurut Lestari (2004) subsidi BBM yang diberikan pemerintah adalah
subsidi harga sehingga harga BBM menjadi lebih murah. Sejalan dengan
bertambahnya jumlah konsumen, tingginya konsumsi terhadap BBM
menyebabkan pemerintah harus menyediakan subsidi BBM dalam jumlah yang
besar dalam tiap anggarannya. Subsidi yang terlalu besar dapat menyebabkan
terjadinya anggaran yang defisit. Untuk menghindari hal tersebut, pemerintah

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
7
mengambil kebijakan mengurangi subsidi yang diberikan kepada BBM.
Kebijakan penghapusan subsidi BBM juga merupakan kebijakan global terutama
negara- negara berkembang yang mengalami defisit anggaran, meskipun pada
sebagian negara, kebijakan tersebut masih dipertahankan.
Harga BBM di Indonesia tergantung pada tiga faktor, antara lain: harga
minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan besaran subsidi
BBM di APBN (Antara, 2008). Dengan seringnya harga minyak dunia
berfluktuasi serta dikuranginya subsidi BBM oleh pemerintah, maka harga BBM
di Indonesia bisa mengalami perubahan mengikuti perkembangan ekonomi yang
sedang terjadi. Hal ini pada akhirnya berpengaruh pada ketidakstabilan harga
barang dan jasa terutama yang dominan kebutuhannya terhadap bahan bakar
minyak.
2.1.4 Kaitan antara Indeks Harga Konsumen dan Harga Bahan Bakar
Minyak (BBM)
Teori inflasi desakan biaya (cost push inflation) menyebutkan bahwa
kenaikan harga-harga dalam perekonomian disebabkan oleh kenaikan biaya
produksi. BBM merupakan salah satu komponen utama dalam biaya produksi,
tarif angkutan, listrik dan komunikasi. Kenaikan harga BBM tentunya akan
menaikkan biaya produksi. Untuk mempertahankan margin keuntungan atau
menghindari kerugian, maka produsen akan menaikkan harga barang yang
dibuatnya.
III. DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN
III.1. Data Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam
bentuk time series. Data harga BBM dan IHK diperoleh dari publikasi Badan
Pusat Statistik (BPS). Periode waktu penelitian adalah 142 bulan yaitu dari
Januari Tahun 1998 hingga Oktober 2009 dengan tahun dasar untuk IHK adalah
Tahun 1996. Analisis yang dilakukan dibatasi pada 7 (tujuh) Kelompok Barang
dan Jasa. Perangkat lunak yang digunakan dalam pengolahan data untuk mencapai
tujuan penelitian adalah Eviews 5.



1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
8
III.2. Metodologi Penelitian
Uji kausalitas dilakukan untuk mengetahui adanya kemungkinan dalam
suatu model variabel IHK kelompok komoditi barang dan jasa ditentukan oleh
variabel harga BBM, tetapi sebaliknya variabel harga BBM juga ditentukan oleh
variabel IHK kelompok komoditi barang dan jasa. Syarat uji kausalitas yaitu data
time series dan data harus stasioner. Syarat ini diperlukan supaya model yang
diperoleh memenuhi kemampuan prediksi yang handal.
III.2. 1. Uji akar-akar Unit
Uji akar- akar unit dilakukan dalam pengujian stasioneritas terhadap data
sebagai syarat dilakukannya uji kausalitas. Di dalam menguji apakah data
mengandung akar unit atau tidak, Dickey-Fuller menyarankan untuk melakukan
regresi model berikut:
t t
Y Yt µ µ + =
÷ 1

- t adalah bulan
- µ adalah koefisien otoregresif
- u
t
adalah stochastic error term
u
t
mengikuti asumsi klassik : rata-rata nol, varian konstan, dan nonautokorelasi.
Pengujian Akar Unit dalam penelitian ini mempertimbangkan konstanta
dan trend baik untuk level maupun data differensiasi. Para peneliti biasanya selalu
menggunakan pengujian ini untuk menyakinkan bahwa pengujian telah
memperhatikan kemungkinan trend dalam data (Siswanto, 2006).
Adapun formulasi uji ADF dengan intersep dan trend yaitu :
¿
÷
÷ ÷
+ A + + + = A
k
i
t i i t i it
t Y Y t Y
1
) 1 ( ) 1 ( 2 1
µ o o | |
i = 1,2, …,10
Di mana
Y
1
= IHK kelompok bahan makanan
Y
2
= IHK kelompok makanan jadi , minuman, rokok dan tembakau
Y
3
= IHK kelompok perumahan
Y
4
= IHK kelompok sandang
Y
5
= IHK kelompok kesehatan
Y
6
= IHK kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
9
Y
7
= IHK kelompok transportasi dan komunikasi
Y
8
= harga Premium
Y
9
= harga Minyak Tanah dan
Y
10
= harga Solar.
Uji ADF menggunakan time lag
|
.
|

\
|
A
¿
=
÷
k
i
i t
Y
1
o
dengan k maksimum, yaitu k = N
1/3
.
III.2. 2. Uji Kausalitas
Granger Causality dilakukan bermula dari ketidaktahuan pengaruh antar
variabel. Jika ada dua variabel X dan Y, maka apakah X menyebabkan Y atau Y
menyebabkan X atau berlaku keduanya atau tidak ada hubungan antara keduanya.
Granger Causality hanya menguji hubungan diantara variabel dan tidak
melakukan estimasi terhadap model (Alfirman, 2006).
Model Umum dari uji kausalitas granger dapat dituliskan seperti berikut :
¿ ¿
+ + =
÷ ÷
t Y X X
t n j t m i mt
1
) 1 ( ) 1 (
µ | o
¿ ¿
+ X + Y =
÷ ÷ t j t m j t n i nt
Y
2 ) ( ) 1 (
µ o ì
Dimana :
X
mt
= IHK Kelompok barang dan jasa m bulan ke-t
Y
nt
= Harga BBM n bulan ke-t,
t 1 µ dan
t 2
µ = Diasumsikan tidak saling berkorelasi
m = Kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan
tembakau, kelompok perumahan, kelompok sandang, kelompok kesehatan,
kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga, kelompok transportasi dan
komunikasi.
n = harga premium, minyak tanah, solar.
k
| = Koefisien variabel harga BBM jenis m;
j
o = Koefisien IHK Kelompok barang dan jasa n
i-j = Operasi kelambanan (lag/masa lalu)
Dari persamaan di atas terdapat beberapa kasus yang bisa terjadi:

1. Terdapat hubungan kausalitas satu arah antara harga BBM terhadap IHK
kelompok barang dan jasa, yaitu jika koefisien yang diestimasi pada nilai
masa lalu IHK secara statistik tidak sama dengan nol atau
¿
k |

= 0 dan

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
10
jika koefisien yang diestimasi dari nilai masa lalu harga BBM sama dengan
nol atau
¿
o
j
= 0.
2. Terdapat hubungan kausalitas satu arah antara IHK kelompok barang dan jasa
terhadap harga BBM yaitu jika,
¿
k | =0 dan
¿
o
j
= 0
3. Terdapat hubungan kausalitas dua arah antara IHK kelompok barang dan jasa
dan harga BBM atau sebaliknya. Jika
¿
k |

= 0 dan
¿
o
j
= 0
4. Tidak terdapat hubungan kausalitas dua arah antara IHK kelompok barang dan
jasa dan harga BBM. Jika :
¿
o
j
= 0 dan
¿
k | =0
Keputusan untuk menentukan hasil penelitian signifikan data hasil
perhitungan dibatasi sampai dengan o 1°, dengan melihat nilai Probabilitanya
yaitu jika dibawah 1 % data tersebut signifikan, akan tetapi kalau diatas 10%
maka tidak signifikan. Dari uji kausalitas selain dapat diketahui apakah harga
BBM dan IHK Kelompok Komoditi barang dan jasa memiliki hubungan
kausalitas, juga variabel mana yang terjadi sebelum variabel lainnya.

IV. PEMBAHASAN DAN HASIL ESTIMASI
IV.1. Pengujian Akar-Akar Unit (Unit Root Test)
Uji Stasioneritas digunakan untuk memenuhi salah satu asumsi dalam uji
kausalitas. Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji akar-akar unit (Unit
Root Test) dengan metode Augmented Dickey Fuller Test (ADF Test). Hasil
pengolahan data untuk menguji stasoneritas data dipresentasikan pada tabel.1,
sebagai berikut:
Tabel 1 Ringkasan Augmented Dickey Fuller Test (ADF Test).
lag δ t-hit 1% 5% 10% AIC Tingkat
Prm 3 -1.201381 -6.89307 -4.026429 -3.442955 -3.146165 -2.413495 FD
Slr 3 -1.191738 -6.679515 -4.026429 -3.442955 -3.146165 -2.059088 FD
MT 0 -0.982821 -11.50167 -4.024935 -3.442238 -3.145744 -2.064738 FD
BM 5 -0.810581 -5.743272 -4.027463 -3.443450 -3.146455 -4.057093 FD
MJ 6 -0.886634 -8.673425 -4.027959 -3.443704 -3.146604 -6.119910 FD
PRMHN 5 -0.165003 -4.841698 -4.026942 -3.443201 -3.146309 -5.586087 Level
SNDG 6 -1.215854 -8.612233 -4.027959 -3.443704 -3.146604 -6.717801 FD
KSHTN 6 -0.141173 -3.344572 -4.027463 -3.443450 -3.146455 -5.763457 Level
PDDKN 6 -0.158268 -3.836740 -4.027463 -3.443450 -3.146455 -5.786654 Level
TRNSP 3 -0.989011 -6.255545 -4.026429 -3.442955 -3.146165 -3.616150 FD
Sumber : Data diolah FD: First Difference

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
11
Jika hasil pengolahan uji akar-akar unit pada tingkat level menunjukkan
data harga premium tidak signifikan pada o 1%, 5%, 10% (t hitung < t tabel), ini
berarti data tidak stasioner. Maka dilanjutkan dengan langkah berikutnya yaitu
mengolah data pada diferensi tingkat satu (first difference). Setelah terbukti bahwa
tabel hitung
t t > yang berarti Ho ditolak yaitu data stasioner maka hasil uji
stasionaritas data pada tingkat diferensi pertama variabel yang bersangkutan
menunjukkan bahwa data stationer pada nilai kritis di masing-masing tingkat
kepercayaan.

IV. 2. Analisis Kausalitas
Setelah uji stasioneritas melalui uji akar-akar unit, maka langkah
selanjutnya adalah melakukan uji Kausalitas untuk melihat pengaruh harga BBM
terhadap IHK Kelompok Barang dan Jasa. Pada penelitian ini uji kausalitas lebih
ditujukan untuk mengetahui variabel-variabel harga BBM yang mempengaruhi
IHK Kelompok Barang dan Jasa.
Tabel 2 Uji Kausalitas Granger antara harga BBM dengan IHK
Kelompok Bahan Makanan Kota Bengkulu
Ho
Lag
1 2 3 4 5
lnBM does not Granger Cause lnPR
0.94746 0.88611 0.25849 0.05410 0.73635
lnPR does not Granger Cause lnBM
9.0E-05 0.01811 0.05621 0.05363 0.10586
lnBM does not Granger Cause lnMT
0.57993 0.87168 0.80000 0.83991 0.91674
lnMT does not Granger Cause lnBM
1.1E-06 0.01217 0.00443 0.00344 0.00172
lnBM does not Granger Cause lnSL
0.99643 0.90404 0.58497 0.26598 0.91296
lnSL does not Granger Cause lnBM
0.00110 0.05751 0.10133 0.14557 0.21784
Signifikan pada taraf uji 1%

Uji Kausalitas antara harga premium, minyak tanah dan solar terhadap
IHK kelompok bahan makanan dilakukan dengan mengambil kelambanan 1 - 5.
Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa pada lag 1 terdapat kausalitas satu arah dari harga
premium, harga Minyak tanah dan harga solar ke IHK Bahan Makanan pada level
yang sangat signifikan o = 1%. Sedangkan pada lag 2 hanya harga solar yang
memiliki kausalitas satu arah terhadap IHK Bahan Makanan. Kelompok bahan
makanan terdiri dari sub kelompok dimana salah satu sub kelompok adalah ikan

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
12
segar. Sub kelompok ikan segar memiliki andil yang cukup besar terhadap inflasi
kelompok bahan makanan yaitu 14,3% (BPS). Hal ini menyebabkan harga minyak
solar sebagai bahan bakar yang digunakan oleh nelayan untuk mendapatkan ikan
segar menjadi variabel yang berpengaruh pada kelompok bahan makanan. Dengan
hubungan satu arah ini, berarti harga BBM mempengaruhi IHK Bahan Makanan
namun tidak berlaku sebaliknya. Dipengaruhinya Kelompok bahan makanan oleh
harga BBM sesuai dengan teori inflasi dorongan biaya, dimana kenaikan harga
BBM tentunya akan menaikkan biaya produksi dan pada akhirnya akan
menyebabkan terjadinya kenaikan harga barang dan jasa.
Tabel 3 Uji Kausalitas Granger antara harga BBM dengan IHK
Kelompok Makanan Jadi Kota Bengkulu
Ho
Lag
1 2 3 4 5
lnMK does not Granger Cause lnPR
0.31965 0.03445 0.05831 0.01932 0.63529
lnPR does not Granger Cause lnMK
3.9E-08 0.00337 0.00794 0.02342 0.07149
lnMK does not Granger Cause lnMT
0.07997 0.01916 0.05441 0.08860 0.63529
lnMT does not Granger Cause lnMK
7.1E-12 0.00020 0.00585 0.10626 0.07149
lnMK does not Granger Cause lnSL
0.21616 0.01429 0.02501 0.02023 0.63529
lnSL does not Granger Cause lnMK
2.7E-09 0.00135 0.00772 0.03411 0.07149
Signifikan pada taraf uji 1%

Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa pada lag 1 - 3 terdapat kausalitas satu arah
dari harga premium, harga minyak tanah, dan harga solar terhadap IHK Makanan
Jadi. Sedangkan pada lag 4 - 5 tidak terdapat hubungan kausalitas antara kedua
variabel tersebut. Ini berarti harga BBM berpengaruh pada IHK Makanan
Jadi,minuman, rokok dan tembakau sampai pada tiga bulan setelah perubahan
harga BBM. Perubahan harga BBM akan berimbas pada kelompok ini yang sub
kelompoknya memang banyak menggunakan bahan bakar minyak dalam proses
produksi maupun distribusinya.







1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
13
Tabel 4 Uji Kausalitas Granger antara harga BBM dengan IHK
Kelompok Perumahan Kota Bengkulu
Ho
Lag
1 2 3 4 5
lnPRM does not Granger Cause lnPR
0.25608 0.38482 0.29873 0.53926 0.48189
lnPR does not Granger Cause lnPRM
0.01401 0.11407 0.02835 0.23659 0.20194
lnPRM does not Granger Cause lnMT
0.10042 0.24592 0.37176 0.52835 0.63053
lnMT does not Granger Cause lnPRM
0.00019 0.08378 0.08364 0.33986 0.58412
lnPRM does not Granger Cause lnSL
0.21779 0.40647 0.69905 0.82937 0.52406
lnSL does not Granger Cause lnPRM
0.00037 0.02808 0.02889 0.10941 0.24597
Signifikan pada taraf uji 1%

Uji Kausalitas antara harga premium, minyak tanah dan solar terhadap
IHK kelompok perumahan dilakukan dengan mengambil kelambanan 1 - 5. Dari
tabel dapat dilihat bahwa pada taraf uji 1%, harga minyak tanah dan harga solar
memiliki hubungan satu arah terhadap IHK Kelompok perumahan hanya pada
lag1. Harga solar berpengaruh pada kelompok barang dan jasa ini karena sektor
perumahan sangat tergantung pada bahan bakar solar untuk pendistribusian bahan-
bahan bangunan dan proses pembuatan bangunan.

Tabel 5 Uji Kausalitas Granger antara harga BBM dengan IHK
Kelompok Sandang Kota Bengkulu
Ho
Lag
1 2 3 4 5
LnSAN does not Granger Cause lnPR
0.31774 0.25714 0.16435 0.02763 0.76066
lnPR does not Granger Cause lnSAN
7.1E-05 0.17800 0.61029 0.51149 0.67416
LnSAN does not Granger Cause lnMT
0.19189 0.23621 0.36309 0.58878 0.76171
lnMT does not Granger Cause lnSAN
5.7E-13 0.00500 0.08190 0.26768 0.36188
LnSAN does not Granger Cause lnSL
0.54589 0.53473 0.45282 0.16580 0.89063
lnSL does not Granger Cause lnSAN
0.00018 0.20110 0.72305 0.84582 0.85968
Signifikan pada taraf uji 1%

Harga premium tidak memiliki hubungan jangka panjang dengan IHK
Sandang. Uji Kausalitas antara harga premium, minyak tanah dan solar terhadap
IHK kelompok sandang dilakukan dengan mengambil kelambanan 1 - 5. Pada lag
1 dengan tingkat kepercayaan 1%, harga premium, minyak tanah dan solar
mempengaruhi IHK Sandang. Namun hanya harga minyak tanah yang
berpengaruh pada IHK sandang pada lag 2.

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
14
Tabel 6 Uji Kausalitas Granger antara harga BBM dengan IHK Kelompok
Kesehatan Kota Bengkulu
Ho
Lag
1 2 3 4 5
LnKES does not Granger Cause lnPR
0.20270 0.50768 0.55667 0.02445 0.97206
lnPR does not Granger Cause lnKES
8.3E-09 0.00140 0.00632 0.01618 0.01337
LnKES does not Granger Cause lnMT
0.27874 0.48231 0.61946 0.82859 0.93021
lnMT does not Granger Cause lnKES
1.6E-14 0.00104 0.00452 0.00890 0.00702
LnKES does not Granger Cause lnSL
0.36595 0.71576 0.86613 0.32085 0.97954
lnSL does not Granger Cause lnKES
1.3E-08 0.00498 0.02453 0.05640 0.05863
Signifikan pada taraf uji 1%

Uji Kausalitas antara harga premium, minyak tanah dan solar terhadap
IHK kelompok kesehatan pada tingkat signifikan 1% memperlihatkan harga
minyak tanah mempengaruhi IHK Kesehatan mulai dari lag 1 - 5. Harga premium
berpengaruh pada IHK kesehatan hingga lag 3 sedangkan harga solar berpengaruh
hingga lag 2. Ini memperlihatkan variabel harga BBM relative lama dalam
mempengaruhi IHK Kelompok Kesehatan.

Tabel 7 Uji Kausalitas Granger antara harga BBM dengan IHK Kelompok
Pendidikan Kota Bengkulu
Ho
Lag
1 2 3 4 5
LnPDD does not Granger Cause lnPR
0.09130 0.08991 0.09108 0.05572 0.20042
lnPR does not Granger Cause lnPDD
3.4E-05 0.05734 0.07476 0.16913 0.24278
LnPDD does not Granger Cause lnMT
0.04304 0.08131 0.13050 0.23121 0.25881
lnMT does not Granger Cause lnPDD
1.1E-08 0.02077 0.05001 0.18216 0.26738
LnPDD does not Granger Cause lnSL
0.05549 0.07011 0.11532 0.17570 0.08712
lnSL does not Granger Cause lnPDD
2.0E-07 0.01818 0.03631 0.15205 0.20823
Signifikan pada taraf uji 1%

Uji Kausalitas antara harga premium, minyak tanah dan solar terhadap
IHK kelompok kesehatan secara signifikan menunjukkan harga BBM
berpengaruh pada IHK pendidikan pada lag 1. Ini berarti jika terjadi perubahan
harga BBM pada satu bulan yang lalu akan berpengaruh pada IHK pendidikan di
bulan sekarang.


1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
15
Tabel 8 Uji Kausalitas Granger antara harga BBM dengan IHK Kelompok
Transportasi Kota Bengkulu
Ho
Lag
1 2 3 4 5
LnTRN does not Granger Cause lnPR
0.06252 0.10863 0.24606 0.40537 0.36978
lnPR does not Granger Cause lnTRN
0.59238 0.54860 0.48757 0.58709 0.99045
LnTRN does not Granger Cause lnMT
0.62179 0.73235 0.63080 0.81480 0.92711
lnMT does not Granger Cause lnTRN
0.00044 0.00092 0.00015 0.00023 0.02888
LnTRAN does not Granger Cause lnSL
0.56479 0.81928 0.91810 0.96104 0.99011
lnSL does not Granger Cause lnTRAN
0.05644 0.15231 0.20650 0.31643 0.62763
Signifikan pada taraf uji 1%

Uji kausalitas antara harga premium, minyak tanah dan solar terhadap IHK
Transportasi dan Komunikasi pada taraf uji 1% menunjukkan terjadi hubungan
satu arah hanya pada variabel minyak tanah terhadap IHK Transportasi. Untuk
harga premium dan solar menunjukkan tidak ada hubungan kausalitas terhadap
IHK Transportasi dan Komunikasi. Hal ini kemungkinan disebabkan karena
terjadi kekakuan harga (sticky prize) pada sektor transportasi yang membuat
perubahan harga premium dan solar tidak dapat langsung mempengaruhi harga
barang dan jasa di sektor transportasi dalam jangka pendek. Menurut Mankiw
(2003) beberapa harga sulit berubah karena struktur pasar, dimana perusahaan
tidak secara instan menyesuaikan harga yang mereka tetapkan dalam
menganggapi perubahan permintaan.
.

V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
V.1. Kesimpulan
Harga bahan bakar minyak (BBM) telah diyakini sebagai salah satu faktor
yang berpengaruh terhadap stabilitas harga barang dan jasa. Berdasarkan analisis
kausalitas perubahan harga BBM terhadap IHK Kelompok barang dan jasa di
Kota Bengkulu, dapat disimpulkan bahwa :
IHK Kelompok Barang dan Jasa di Kota Bengkulu tampak memberikan reaksi
pada saat terjadi shock pada perekonomian di Indonesia. Tahun 1998 ketika
terjadi peristiwa reformasi sekaligus masih terimbas krisis ekonomi 1997, IHK
kelompok barang dan jasa mengalami fluktuasi yang ditunjukkan dengan inflasi
kelompok barang dan jasa di Kota Bengkulu yang cenderung tinggi. Pada saat

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
16
pemerintah menetapkan kebijakan kenaikan harga BBM di tahun 2005 dengan
presentase yang cukup tinggi (harga premium naik 87,5%, harga minyak tanah
naik 96,55% dan harga solar naik 104,76%), inflasi Kelompok barang dan Jasa di
Kota Bengkulu menunjukkan kenaikan cukup tajam dimana salah satunya inflasi
Kelompok Transportasi menembus angka 47,05%.
Penelitian ini telah menguji 42 (empat puluh dua) hipotesis dengan uji
kausalitas Granger dan semua data telah diuji stasioneritasnya dengan
menggunakan akar-akar unit, dalam memenuhi syarat uji kausalitas. Dari hasil
tentang hubungan antara harga BBM dengan IHK 7 (tujuh) kelompok barang dan
jasa tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan:
a. Harga premium memiliki hubungan satu arah terhadap IHK bahan
makanan, IHK makanan jadi, IHK sandang, IHK kesehatan dan IHK
pendidikan.
b. Harga minyak tanah memiliki hubungan satu arah terhadap IHK bahan
makanan, IHK makanan jadi, IHK perumahan, IHK sandang, IHK
kesehatan, IHK pendidikan dan IHK transportasi.
c. Harga solar memiliki hubungan satu arah terhadap IHK bahan makanan,
IHK makanan jadi, IHK perumahan, IHK sandang, IHK kesehatan dan
IHK pendidikan.
IHK kelompok barang dan jasa tidak memiliki hubungan kausalitas terhadap
harga BBM karena harga BBM ditentukan oleh pemerintah (adminitered prices).

V.2. Implikasi Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kelompok barang dan jasa yang
mudah berfluktuasi pada saat terjadi perubahan harga BBM. Pemerintah Daerah
hendaknya mengalokasikan anggaran dengan efektif pada Kelompok harga barang
dan jasa yang sensitif terhadap gejolak akibat perubahan harga BBM.
Sebagian komoditas barang di Kota Bengkulu adalah produk dari luar
wilayah Bengkulu. Kelancaran distribusi barang atau pendukung produk jasa
sangat mempengaruhi harga barang dan jasa di Kota Bengkulu. Maka pemerintah
harus memperhatikan kelancaran akses untuk mendapatkan barang-barang
tersebut.. Hal ini juga mengingat komoditas yang didistribusikan melalui laut

1) Alumni Program Magister Perencanaan Pembangunan Universitas Bengkulu
2) Dosen Program Magister Perencanaan PembangunanUniversitas Bengkulu
17
cukup memegang peranan penting bagi kestabilan harga di Kota Bengkulu
(bensin, solar, minyak tanah, semen, pupuk dan lain-lain) .

DAFTAR PUSTAKA

Alifirman, Luky.2006. “Analisis Hubungan Pengeluaran Pemerintah dan Produk
Domestik Bruto dengan Menggunakan Pendekatan Granger Causality,”
Jurnal Keuangan Publik.
Badan Pusat Statistik (BPS). Publikasi Harga Konsumen, Berita Resmi Statistik.
Babussalam, 2005. “Pengaruh Harga BBM Terhadap Indeks Harga Konsumen
(IHK) di Indonesia Tahun 1998 - 2005” Skripsi STIS Jakarta
Basuki, Agus Tri.2003.” Dampak KenaikanTarif Dasar Listrik dan BBM terhadap
Fungsi Inflasi di Indonesia (1991 – 2001).” Jurnal Ilmu Ekonomi Studi
Pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Bank Indonesia,2009.” Tinjauan Inflasi Kota Bengkulu Tahun 2008 dan 2009” .
Pertemuan Forum Pengendalian Inflasi Daerah Provinsi Bengkulu.
Beaver, Mendenhaen.2005. “Statistics for Management and Economics.”
Gujarati, Damodar.2006. “ Basic Econometrics.”
Hall, Robert E, 2005. “Economics Principles and Applications”
Hirshleifer,Jack.1985. “ Teori Harga dan Penerapannya.”
Iswardono, 2000. “Uang dan Bank”
Kunrohadi, Siswanto,2006. “Inflasi dan Suku Bunga Di Provinsi Bengkulu.”
Thesis Universitas Bengkulu.
Lestari, Esta, 2004. “Efektifitas Kompensasi Subsidi dan Dampak Penghapusan
Subsidi BBM di Indonesia.” . Jurnal Ekonomi dan Pembangunan 2004.
Muhaimin,2004.” Hubungan Kausalitas antara Inflasi dan Pertumbuhan
Ekonomi di Kota Palembang.” Tesis. UNSRI.
Marsuki, 2006. “Analisis Perekonomian Indonesia Kontemporer.” Jakarta. Mitra
Wacana Media.
Mankiw, 2003. “Principles of Macroeconomics.”
Nanga, Muana.2001. “Makro Ekonomi Teori, Masalah dan Ketenagakerjaan.”
Prayitno, Soediyono Rekso , 2000.” Ekonomi Makro : Analisis IS - LM dan
Permintaan Penawaran Agregatif.” UGM Yogyakarta
Rahmantyo, Edy,2009. “Ekonometrika Terapan.” Catatan Kuliah Tidak
Dipublikasikan.
Ramadhan, Gaffari, 2009. ‘Analis Keterkaitan Harga Antar Kelompok Komoditas
Pembentuk Inflasi di Sumatera Barat.” Buletin Ekonomi Moneter dan
Perbankan.
Sukirno, Sadono,2005. “Makronomi Modern.” Jakarta. Raja Grafindo.
Universitas Bengkulu , “Buku Panduan Penulisan Tesis”.
Widoyono, Agus. 2005. “Ekonometrika: Teori dan Aplikasi Untuk Ekonomi dan
Bisnis.” Yogyakarta

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->