Anda di halaman 1dari 7

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pertambahan penduduk yang terjadi saat ini akan menyebabkan

peningkatan kebutuhan air bersih. Padahal ketersediaan air bersih semakin menurun dan keberadaan air bersih semakin sulit didapatkan apalagi bila memasuki musim kemarau baik di pedesaan atau perkotaan. Kesulitan mendapatkan air bersih ini terjadi akibat tercemarnya air oleh limbah domestik atau industri seperti limbah plastik, deterjen, DDT, dan limbah kimia. Membuang sampah sembarangan ke sungai dapat menganggu aliran sungai, menimbulkan bau tak sedap serta dapat menyebabkan banjir di musim penghujan yang dapat menimbulkan wabah penyakit. Akibat lain terjadinya pencemaran air adalah semakin banyaknya jumlah penduduk yang meningkatkan jumlah permukiman penduduk terutama di kawasan perkotaan, sehingga kualitas air dan persediaan air akan semakin berkurang. Tidak semua penduduk dapat menikmati air bersih untuk menunjang aktivitas harian mereka. Menurut Maryono 2007, Bagi masyarakat miskin, biaya dan waktu untuk mengakses air memiliki korelasi yang tinggi dengan penghasilan bulanan mereka. Beberapa kasus yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia menunjukan bahwa biaya untuk mendapatkan air layak konsumsi bisa lebih besar dari 5% dari total penghasilan sebulan. Seringkali mereka menghabiskan waktu lebih dari 3 jam untuk mendapatkan air layak minum. Artinya dengan standar 8 jam kerja per hari, 30% dari waktu mereka habis untuk mengakses air bersih. Jika mereka tidak bekerja, maka pada hari itu penghasilan mereka akan turun atau bahkan akan hilang. Menurut Permenkes Nomor 416/MEN.KES/PER/IX/1990, air adalah air minum, air bersih, air kolam renang, dan air pemandian umum. Sedangkan menurut Undang-undang no 7 tahun 2004 tentang sumber daya air, air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat. Menurut Kepmenkes RI nomor 1405 tahun 2002 tentang persyaratan kesehatan lingkungan kerja perkantoran dan industri, air bersih adalah

air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak. Kualitas Air menurut Permenkes 416 tahun 1999 yaitu harus memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan mikrobiologi, Fisika, kimia, dan radioaktif. Sedangkan menurut Gail E Cordy kualitas air dapat diukur di laboratorium dengan cara mengukur temperature, keasaman (PH), oksigen terlarut, jumlah bakteri dan konduktansi listrik. Air merupakan salah satu sumber daya alam yang selalu dimanfaatkan oleh manusia dan makhluk hidup lainnya. Setiap hari kita membutuhkan air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti minum, memasak, mandi, mencuci, kakus dan sebagainya. Pada tubuh manusia, air merupakan bagian terbesar dan merupakan alat bantu proses metabolisme tubuh dan sumber nutrisi. Menurut Kleiner 1999, air adalah nutrisi dasar dari tubuh manusia dan sangat penting bagi kehidupan manusia, air mendukung pencernaan makanan, penyerapan, transportasi dan penggunaan nutrisi dan penghapusan racun dan limbah dari tubuh Air juga penting untuk persiapan bahan makanan dan persyaratan untuk persiapan makanan termasuk dalam konsumsi. Karena peran air yang sangat penting dalam kehidupan, maka kita harus mampu memanfaatkan air sebaik-baiknya. Menurut Diana Hendrawan 2005, pemanfaatan air untuk menunjang seluruh kehidupan manusia jika tidak diimbangi dengan tindakan bijaksana dalam pengelolaannya akan mengakibatkan kerusakan pada sumberdaya air. Menurut Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat, total jumlah kandungan air di bumi hampir 326 juta kubik mil. Sebanyak 72% permukaan bumi tertutup oleh air, tetapi 97% air tersebut asin dan tidak baik untuk diminum. Diantara 70% air minum tersebut berbentuk es, kurang dari 1% air minum yang ada di dunia siap dimanfaatkan secara langsung. Indonesia memiliki 6% dari persediaan air dunia atau sekitar 21% dari persediaan air Asia Pasifik, namun pada kenyataannya dari tahun ke tahun di berbagai daerah selalu terjadi kelangkaan dan kesulitan air. Kecenderungan konsumsi air naik secara eksponensial, sedangkan ketersediaan air bersih cenderung berkurang akibat kerusakan dan pencemaran lingkungan yang diperkirakan sebesar 1535% per kapita per tahun.

Berdasarkan hasil penelitian kualitas air baku air minum, diketahui kandungan ammonia 0,061,09 mg/l, COD 1245 mg/l, BOD 8,235 mg/l, Detergen ion Bebas 0,120,92 mg/l, phenol 00,55 mg/l dan bakteri Coliform 460.1021100.104 MPN/100cc. Secara kuatitas ketersediaan air baku air minum juga menjadi masalah. Akibat perubahan tataguna lahan di daerah hulu sampai hilir mengakibatkan fluktuasi debit air pada musim hujan dan kemarau sangat besar. Masalah air bersih merupakan masalah yang vital bagi kehidupan manusia. Karena itu, penyediaan air bersih menjadi hal yang sangat penting untuk dikaji mengingat air merupakan kebutuhan pokok yang selalu dikonsumsi oleh masyarakat dan dapat berpengaruh besar pada kelancaran aktivitas masyarakat tersebut. Keterbatasan penyediaan air bersih masyarakat yang berkualitas dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat, produktifitas ekonomi dan kualitas kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Kepadatan penduduk dapat mempengaruhi pencemaran lingkungan sungai dan situ. Hal ini dikaitkan dengan tingkat kesadaran penduduk dalam memelihara lingkungan yang sehat dan bersih. Untuk mengetahui adanya pencemaran air tersebut dapat dilakukan dengan melihat polutan-polutan yang ada dalam air tersebut dengan menggunakan parameter fisika, kimia dan biologi. Dalam menetapkan kualitas air, parameter-parameter tersebut sebaiknya tidak berdiri sendiri tapi dapat ditransformasikan dalam suatu nilai tunggal yang mewakili disebut sebagai Indeks Kualitas Air.

1.2

Rumusan Masalah Air sangat penting untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan,

jumlah yang memadai, aman, dapat diakses dan tersedia untuk kita semua. Sumber air minum yang dipergunakan masyarakat saat ini adalah PAM, air tanah, pompa dan sumur gali. Saat ini kualitas air yang digunakan masyarakat untuk sumber air minum tidak memenuhi persyaratan kualitas air bersih. Oleh sebab itu perlu dilakukan pemeriksaan kualitas air dan membandingkan dengan parameter yang telah ditetapkan berdasarkan PERMENKES RI No 416 tahun 1990.

1.3 1.3.1

Tujuan Tujuan Umum Mengetahui gambaran metode pemeriksaan kualitas air bersih di Balai

Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Jakarta tahun 2012.

1.3.2

Tujuan Khusus

1.3.2.1 Untuk mengetahui prosedur pemeriksaan sampel air di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Jakarta tahun 2012. 1.3.2.2 Untuk mengetahui cara pengambilan sampel air di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Jakarta tahun 2012. 1.3.2.3 Untuk mengetahui cara pemeriksaan kualitas air di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Jakarta tahun 2012. 1.3.2.4 Untuk mengetahui kualitas air di wilayah kerja Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Jakarta tahun 2012.

1.4 1.4.1

Pertanyaan Praktikum Kesehatan Masyarakat Bagaimana prosedur pemeriksaan sampel air di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Jakarta tahun 2012.

1.4.2

Bagaimana cara pengambilan sampel air di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Jakarta tahun 2012.

1.4.3

Bagaimana cara pemeriksaan kualitas air di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Jakarta tahun 2012.

1.4.4

Bagaimana kualitas air di wilayah kerja Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Jakarta tahun 2012.

1.5 1.5.1

Manfaat Bagi Mahasiswa Manfaat bagi praktikaan adalah dapat menerapkan ilmu yang didapat

selama masa perkuliahan dan dapat mengetahui gambaran metode pemeriksaan kualitas air bersih di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Jakarta tahun 2012 dan mendapatkan wawasan dan pengalaman bagi mahasiswa dalam menerapkan ilmu Kesehatan Lingkungan di dunia kerja. 1.5.2 Bagi Departemen Kesehatan Lingkungan FKM UI Manfaat bagi akademik yaitu memperkenalkan program kegiatan kerja praktek kepada BBTKL Jakarta, sebagai sarana untuk membina hubungan dan kerjasama dengan institusi tempat kerja praktek di bidang Kesehatan Lingkungan, memperluas wawasan dalam bidang kesehatan lingkungan, serta meningkatkan keprofesian dan laporan praktek dapat menjadi salah satu audit internal terhadap kualitas pendidikan yang diberikan oleh FKM UI. 1.5.3 Bagi Balai Basar Teknik Kesehatan Lingkungan PPM Jakarta Manfaat bagi instansi terkait adalah dapat membantu kegiatan manajemen atau kegiatan operasional tentang metode pemeriksaan kualitas air bersih di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Jakarta tahun 2012 dan mendapatkan interaksi dengan tenaga akademisi dari Departemen Kesehatan Lingkungan FKM UI yang dapat dilanjutkan dengan kerjasama lainnya untuk kemajuan program kerja yang dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Menghitung Jumlah Air di Bumi. (Diakses tanggal 25 Januari 2012 http://www.theglobejournal.com/kategori/lingkungan/menghitung-

jumlah-air-di-bumi.php ). Anonim. 2009. Potensi Air di Indonesia. (Diakses tanggal 25 Januari 2012 http://air.telapak.org/sumber-daya-air/sumber-daya-air/potensi-airindonesia/3-potensi-air-indonesia ). Cordy E, Gail. A Primer on Water Quality. http://pubs.usgs.gov/fs/fs-027-01/. Diunggah 21 Januari 2012. Hendrawan, diana. 2005. Kualitas Air Sungai dan Situ di DKI Jakarta. Jurnal Makara UI Vol.9 hal 13-19. (Diakses tanggal 20 Januari 2011.

http://journal.ui.ac.id/upload/artikel/03_KUALITAS AIR SUNGAI DAN SITU DI DKI JAKARTA_Diana.pdf). Howard Guy etc. 2003. Domestic Water Quantity, Service Level and Health. WHO. Kementerian Kesehatan (2010): Kualitas (diakses Air Minum, 25 NOMOR 2012

492/MENKES/PER/IV/2010.

tanggal

Januari

http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_permenkes/PMK%20No.%20492 %20ttg%20Persyaratan%20Kualitas%20Air%20Minum.pdf ). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1405/MENKES/SK/XIV/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkkungan Kerja Perkantoran dan Industri. Maryono. 2007. Menilai Aksesibilitas Air Minum (Studi Kasus: Aksesibilitas Air Bersih Bagi Masyarakat Miskin di Kota Semarang). Jurnal Presipitasi Vol. 3 No.2, ISSN 1907-187X. Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota FT UNDIP. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air, Nomor : 416/MEN.KES/PER/IX/1990. (diakses tanggal 25 Januari 2012 http://web.ipb.ac.id/~tml_atsp/test/PerMenKes%20416_90.pdf ).

Said, Nusa Idaman dan Satmoko Yudo (2010): Masalah dan Strategi Penyediaan Air Bersih di Indonesia. (Diakses tanggal 8 Desember 2011

www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/BukuAirMinum/BAB3MASALAH.pdf ). Undang-undang Republik Indonesia nomor 7 tahun 2004 tentang sumber daya air.