Anda di halaman 1dari 5

PROSEDUR & PEDOMAN BAGI YANG MENDAMBAKAN BAYI PEREMPUAN 1.

Lakukan senggama 3 hari sebelum ovulasi, lalu hentikanlah dalam 2 hari menjelang ovulasi. Senggama dapat diulang lagi 2 hari setelah ovulasi. 2. Dekat sebelum Anda melakukan persetubuhan, beberapa kali liang kemaluan dikembur dengan campuran 1 liter air + 2 sendok makan garam meja putih. 3. Sang istri hendaknya berusaha menghindari orgasme karena hal ini akan mengeluarkan sekresi alkalis yang akan menetralisir kandungan asam. 4. Pilihlah posisi muka berhadap muka, suami di atas dan istri di bawah, agar sperma tidak langsung menerobos mulut rahim. (misionaris) 5. Sebaiknya suami pada saat orgasme dan ejakulasi jangan melakukan penetrasi, penis yang dalam cabut sebagian. 6. Mengadakan hubungan kelamin setelah haid setiap 2 hari secara teratur sampai 23 hari sebelum ovulasi akan lebih baik. Karena jumlah sperma yang relatif kecil memperbesar kemungkinan memperoleh bayi perempuan. PROSEDUR DAN PEDOMAN BAGI YANG MENDAMBAKAN BAYI LAKI-LAKI 1. Lakukan senggama sedekat mungkin dengan detik terjadinya ovulasi, atau tepatnya 12 jam pra dan pasca ovulasi. 2. Dekat sebelum persetubuhan setiap kali sang istri membilas liang kemaluan dengan campuran 1 liter air + 2 sendok makan garam soda (natrium bikarbonat soda). 3. Kalau dapat, sebaiknya istri mencapai orgasme lebih dahulu lalu disusul oleh orgasme suami. 4. Posisi yang dianjurkan adalah knee chest (genupektoral) di mana suami mendekati istri dari belakang. 5. Pada detik suami mencapai orgasme dan ejakulasi lakukan penetrasi penis yang dalam. 6. Puasa atau pantangan bersetubuh sangat diperlukan mulai dari haid kering sampai hari terjadinya ovulasi maksudnya agar volume dan jumlah sperma permililiter akan menjadi sebanyak mungkin.

Keyakinan bahwa anak laki-laki dan perempuan sama saja, rupanya masih belum berlaku mutlak. Kenyataannya, dalam sebuah keluarga masihlah belum lengkap jika semua anaknya lelaki atau perempuan. Keinginan menambah anak dengan alasan demikian masih dapat kita jumpai di manamana. Dan bukan tidak mungkin keinginan menambah itu terus berulang karena jenis kelamin anak yang diharapkan tak muncul-muncul, kendati sudah beranak empat atau lima. Jenis kelamin sudah terbentuk sejak terjadinya penggabungan sel (fertilisasi) antara sel sperma dengan sel telur di saluran telur. Jadi, proses terjadinya manusia bukan di rahim, melainkan di ujung saluran telur yang disebut ampula tuba fallopi. Dr Prima Progestian Sp. OG dari RSIA Muhammadiyah Jakarta menerangkan, setelah pertemuan itu, boleh dibilang semua bahan dasar manusia terbentuk. Terjadilah penggabungan kromosom ibu dan ayah, termasuk jenis kelamin juga akan terbentuk. Setelah itu, sel yang sudah bergabung tadi masuk kembali dan menempel di rahim menjadi embrio. Atau sebaliknya, keluar lagi sebagai menstruasi. Faktor yang sangat memengaruhi jenis kelamin bayi adalah faktor genetik. Sebagai contoh, di Amerika, ditemukan keluarga yang memiliki kecenderungan selalu melahirkan bayi laki-laki. Selama 200 tahun, keturunan keluarga tadi laki-laki semua. "Ini tergantung kekuatan atau jumlah sel sperma yang ada. Tapi secara umum, probabilitas jenis kelamin bayi adalah 50-50, katanya. Tetapi di samping itu, banyak pendapat atau mitos yang menganjurkan trik tertentu agar diperoleh jenis kelamin bayi yang sesuai harapan, dari mulai posisi hubungan seks, makanan, dsb. Metode yang sekarang banyak dipakai adalah metode yang ditemukan Dr Landrum Shettles. Penulis buku How to Choose the Sex of Your Baby ini menganalisis bahwa pH vagina berperan dalam proses pembuahan. PH yang semakin basa (alkalis) cenderung menghasilkan bayi berjenis kelamin laki-laki, sementara pH yang lebih asam (asiditas)

sebaliknya. Dari dasar ini, kemudian diteliti dan dicari cara memperoleh suasana pH vagina yang diiinginkan. Salah satunya adalah posisi hubungan seks. Agar menimbulkan suasana pH vagina yang basa, posisi hubungan seks yang dianjurkan adalah penetrasi semakin dalam ke arah serviks. Ini bisa menimbulkan suasana basa, sementara penetrasi yang lebih ke arah luar, cenderung menciptakan suasana asam yang artinya peluang memperoleh anak perempuan lebih besar, lanjut Prima. Sementara untuk mengontrol dalam-tidaknya penetrasi, posisi yang dianjurkan adalah posisi misionaris untuk menciptakan pH asam, dan posisi rear-entry untuk menciptakan pH basa. Begitu juga dengan makanan, dipilih jenis yang bisa menimbulkan suasana asam atau basa. Misalnya, untuk menciptakan suasana asam, maka konsumsi makanan yang dianjurkan adalah makanan yang mengandung unsur garam, atau makanan yang tinggi kalsium dan magnesium, seperti produk susu olahan (keju, yoghurt ) dan turunannya. Kemudian, menghindari makanan yang mengandung daging, karena tinggi natrium dan kalium. Sebaliknya, untuk memperoleh bayi laki-laki, pilih makanan yang tinggi natrium dan kalium. Ini akan membantu suasana cairan vagina menjadi lebih basa. Waktu tepatselain posisi hubungan seks dan makanan, cara lain yang sering dipakai adalah mencuci vagina sebelum berhubungan intim. Misalnya, untuk mendapatkan pH vagina yang asam, vagina dicuci dengan cuka, sementara untuk mendapatkan suasana basa, bisa dibasuh dengan soda kue (baking soda). Teknik ini memiliki tingkat keberhasilan tidak terlalu tinggi, sekitar 50-70%. Teknik lainnya adalah dengan teknik waktu ovulasi (timing of ovulation), yang juga diperkenalkan oleh Dr. Shettles.

Dasar teknik ini adalah melihat tingkat gerakan sperma. Sperma Y lebih kecil, karena materi genetiknya lebih sedikit, tapi umurnya pendek. Sementara sperma X lebih gendut, lebih besar dan lebih lambat gerakannya, tapi umurnya lebih tahan lama, jelas Prima. Atas dasar bentuk anatomi sperma ini, Shettles melihat faktor waktu hubungan seksual bisa berpengaruh terhadap jenis kelamin bayi. Semakin dekat waktu hubungan seks ke waktu ovulasi, diharapkan sperma Y yang lebih cepat bergerak ke sel telur, sehingga kemungkinan menghasilkan anak laki-laki lebih besar. Shettles menganjurkan hubungan intim dilakukan 1-2 hari sebelum ovulasi. Kalau ingin anak perempuan, hubungan intim sebaiknya dilakukan jauh-jauh sebelum ovulasi, bisa 3-5 hari sebelum ovulasi, setelah itu jangan berhubungan lagi, lanjutnya. Diharapkan, sperma X sudah loyo, sementara sperma Y masih tahan sampai ke sel telur. Shettles mengklaim, teknik ini memiliki tingkat kemungkinan berhasil 70-80%. Pilah-pilih sperma Selain metode Shettles yang boleh dibilang low technology, orang mulai mencari cara memilih jenis kelamin dengan cara yang lebih scientific dan lebih pasti. Salah satunya dengan memilih sperma. X dan Y dengan jalan disaring dengan cairan albumin (albumin method). Metode ini ditemukan oleh Dr. Ronald Ericsson, PhD dan sekarang digunakan untuk proses inseminasi. Prinsipnya, sperma di-washing, diputar (centrifuged), kemudian dimasukkan ke dalam media albumin. Nah, sperma yang kemampuan berenangnya bagus diambil. Metode ini hanya memilah sperma yang baik, tapi tidak memilih jenis sperma, sehingga kemungkinannya hanya 78-85% untuk bayi laki-laki, dan 73-75% untuk bayi perempuan. Metode yang lebih canggih lagi adalah dengan mikro sortir (microsort). Prinsip metode ini adalah menandai kromosom dengan pewarna fluorescence atau FISH (fluorescence in situ hybridization ). Sperma ditandai dengan pewarna fluorescence, sehingga memancarkan warna tertentu, melalui alat yang dinamakan flow citometry. Misalnya, sperma Y hijau, sperma X merah. Setelah itu akan diperoleh X sort atau Y sort .

Keberhasilan metode ini diklaim meningkat sampai 85%, meskipun masih ada sperma yang lolos juga. Metode ini juga sudah dilakukan di Amerika Serikat, meskipun masih muncul pro-kontra seputar keamanan pewarna, pungkas Prima.