Anda di halaman 1dari 17

Gondorukem Gondorukem adalah getah dari pohon Pinus (Pinus merkusii) yang kemudian diolah menjadi gondorukem.

Gondorukem diperdagangkan dalam bentuk keping-keping padat berwarna kuning keemasan. Kandungannya sebagian besar adalah asam-asam diterpena, terutama asam abietat, asam isopimarat, asam laevoabietat, dan asam pimarat. Penggunaannya antara lain sebagai bahan pelunak plester serta campuran perban gigi, sebagai campuran perona mata (eyeshadow) dan penguat bulu mata, sebagai bahan perekat warna pada industri percetakan (tinta) dan cat (lak) Terpentin Terpentin adalah getah dari pohon Pinus (Pinus merkusii) yang kemudian diolah menjadi terpentin. Kegunaan terpentin adalah untuk bahan baku industri kosmetik, minyak cat, campuran bahan pelarut, antiseptik, kamfer dan farmasi. 1. 2. Proses Pengolahan Getah Pinus Dalam proses pengolahan Getah Pinus di Pabrik Gondorukem & Terpentin (PGT) Perum Perhutani, bahan baku industri berupa Getah Pinus (Pinus Merkusii) diproses melalui beberapa tahapan : 1) Penerimaan & Pengujian Bahan Baku 2) Pengenceran 3) Pencucian & Penyaringan 4) Pemanasan/pemasakan 5) Pengujian& Pengemasan Gondorukem dan Terpentin merupakan hasil distilasi/penyulingan dari getah Pinus. Gondorukem berupa padatan berwarna kuning jernih sampai kuning tua. Sedangkan Terpentin berbentuk cair berwarna jernih serta merupakan pelarut yang kuat. Proses pengolahan getah menjadi gondorukem pada umumnya meliputi 2 tahapan : - Pemurnian getah dari kotoran-kotaran - Pemisahan terpentin dari gondorukem dengan cara distilasi/penguapan. Proses pemurnian getah. - pengenceran getah dengan terpentin - pengambilan/penyaringan kotoran kasar - pencucian & pemisahan kotoran halus dengan penyaringan maupun pengendapan. Proses pemisahan gondorukem dari terpentinnya. - dilakukan dengan pemanasan langsung - dilakukan dengan pemanasan tidak langsung. (menggunakan uap) Dalam diagram blok digambarkan sebagai berikut :

Ruang lingkup Standar ini digunakan untuk pedoman pengujian minyak terpentin baik yang diproduksi maupun yang beredar di Indonesia. 2. Istilah dan definisi

2.1. alpha pinene : senyawa utama yang terdapat dalam minyak terpentin 2.2. berat jenis (BJ) : perbandingan berat suatu benda dengan berat air yang sama volumenya pada suhu yang sama. Misal BJ minyak terpentin 0,85 artinya minyak terpentin yang volumenya satu cm beratnya 0,85 gram atau minyak terpentin yang volumenya satu liter beratnya 0,85 kg 2.3. bilangan asam : jumlah mg kalium hidroksida yang dinetralkan oleh asam yang ada dalam satu gram minyak 2.4. indeks bias : hasil bagi (nisbah) antara kecepatan rambat gelombang elektromagnetik di ruang hampa dan di dalam zat antara (medium) yang dilaluinya atau perbandingan sinus sudut masuk cahaya terhadap sinus sudut bias, dapat digunakan untuk identifikasi suatu zat serta ukuran kemurniannya 2.5. kadar sulingan : bagian yang tersuling dibawah temperatur 170 0 C dengan tekanan atmosfer 2.6. minyak atsiri : minyak yang terdapat pada tumbuhan aromatik, mudah menguap, digunakan untuk minyak wangi, bumbu dan obat-obatan 2.7. minyak lemak : minyak yang diperoleh dari hewan dan tumbuh-tumbuhan, merupakan senyawa karbon, hidrogen dan oksigen, tetapi bukan suatu karbohidrat dan dapat larut dalam minyak terpentin 2.8. minyak terpentin : minyak atsiri yang diperoleh dengan cara penyulingan uap getah Tusam (Pinus sp.) 2.9. putaran optik : nilai sudut putar yang terukur dengan alat polarimeter pada volume 10 ml 2.10. sisa penguapan : bagian yang tersisa dari penguapan suatu zat pada temperatur 100 0 C 1050 C 2.11. titik nyala : suhu di mana suatu zat mulai menyala 2.12. organoleptik : uji terhadap suatu benda yang dilakukan dengan menggunakan pancaindera 2.13. warna : kesan yang diperoleh mata dari cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda yang dikenainya 3. Simbol dan singkatan istilah

3.1. BJ 25/25 adalah berat jenis yang ditentukan pada suhu 25 C. 3.2. ND20 adalah indeks bias pada 20 C.

3.3. P.P. adalah phenolptalein. 3.4. p.a. adalah pro analis 4. Klasifikasi mutu

Mutu minyak terpentin terbagi dalam dua kelas mutu, yaitu: 4.1. Mutu Utama ; dengan tanda mutu A pada kemasan dan dokumen. 4.2. Mutu Standar ; dengan tanda mutu B pada kemasan dan dokumen. 5. 5.1. Persyaratan mutu Persyaratan umum

5.1.1. Uji visual a. Bau khas terpentin. b. Jernih. 5.1.2. Uji laboratoris a. b. c. d. e. 5.2. BJ 25/25 C = 0,85 (0,848 0,865). Indeks bias (ND20 ) 1.464 1.478. Tidak mengandung zat lemak. Titik nyala 33 C - 38C. Titik didih 150 C - 160C pada tekanan atmosfer.

Persyaratan khusus

Persyaratan khusus mutu minyak terpentin dapat dilihat pada Tabel 1. berikut : Tabel 1 Persyaratan khusus mutu minyak terpentin

No

Karakteristik Utama (A) 1 2 3 4 Sisa penguapan Kadar sulingan Bilangan asam Warna < 2% > 90 % < 2

Mutu Standar (B) >2% < 90 % >2 Tidak dipersyaratkan

Sama/lebih jernih dari warna larutan standar

5 6

Kadar alpha pinene Putaran optik

> 80 % + > 32
0

< 80 % +< 32
0

6.

Cara uji

6.1. Prinsip : Pengujian dilakukan secara visual dan laboratoris. 6.2. Bahan : Bahan yang digunakan meliputi; H2SO4, K2Cr2O7, CoCl26H2O, HCl dan KOH (p.a). 6.3. Peralatan : Peralatan yang dipergunakan meliputi; hidrometer, timbangan, piknometer, termometer,

refraktometer, pinggan penguap, penangas, oven, labu didih, pipet, gelas ukur, alat penyulingan, erlenmeyer, tabung Nessler, termos, alat titik nyala (Pensky-Martens) dan alat gas kromatografi. 6.4. Pengambilan contoh : Pengambilan contoh uji minyak terpentin ditentukan sebagaimana Tabel 2 berikut : Tabel 2 Jumlah contoh uji No. 1 2 3 4 5 Jumlah populasi < 5 drum 6 - 25 drum 26 - 50 drum > 50 drum Kemasan Isotank + 18 ton Keterangan : I. II. Volume 1 (satu) contoh uji adalah 500 ml. Volume 1 drum adalah 200 liter setara dengan 170 Kg. Jumlah contoh uji 1 contoh 2 contoh 3 contoh 4 contoh 1 contoh

6.5.

Prosedur kerja pengujian

6.5.1. Uji visual

6.5.1.1. Uji bau Penetapan bau minyak terpentin dilaksanakan dengan cara organoleptik. Masukkan 50 ml contoh uji ke dalam tabung Nessler. Cium bau terpentin pada tabung Nessler tersebut dan amati apakah baunya khas terpentin atau tidak. 6.5.1.2. Uji warna Penetapan warna minyak terpentin dilaksanakan dengan cara membandingkan warna contoh uji dengan larutan warna standar. Masukkan 50 ml contoh uji ke dalam tabung Nessler. Bandingkan dengan larutan warna standar, kemudian amati dan catat apakah warna contoh uji sama/lebih jernih. 6.5.2. Uji laboratoris 6.5.2.1. Uji berat jenis dengan alat hidrometer Masukkan contoh uji sebanyak 200 ml ke dalam gelas ukur + 250 ml, kemudian endapkan selama + 5 menit. Catat suhu terpentin dengan menggunakan thermometer. Masukkan Hidrometer (0,80 0.90) ke dalam gelas ukur tadi. Amati angka pada hidrometer tepat pada permukaan terpentin. Angka tersebut merupakan angka BJ pada suhu tersebut diatas, sedangkan untuk suhu pada 25 C, setiap selisih 1 C ditambah/dikurangi 0.00064.

6.5.2.2. Uji berat jenis (BJ) 25/25 C dengan alat piknometer Timbang piknometer kosong, kemudian piknometer diisi dengan contoh uji sampai penuh dan dimasukkan ke dalam termostat pada suhu 27,5 C, dan dibiarkan selama 15 menit (suhu termometer pada piknometer harus dijaga 27,5 C). Piknometer diangkat kemudian dikeringkan dengan kertas atau kain lap yang tidak mengandung minyak dan ditimbang.

a BJ 27,5/25 C dapat dicari dengan rumus : b = --------------nilai piknometer

Keterangan : - a adalah (berat piknomotor + contoh) (piknometer kosong). - b adalah BJ 27,5/25 C. - Nilai piknometer disesuaikan dengan piknometer yang dipakai. BJ 25/25 C = b + (27,5 25) x 0,00064. Keterangan : 0,00064 adalah faktor koreksi.

6.5.2.3. Uji indeks bias (ND20) Indeks bias ditetapkan dengan alat refraktometer pada suhu 20 C. Alirkan air melalui refraktometer, agar alat berada pada suhu 20 C, dimana pem-bacaan alat akan dilakukan dan harus dipertahankan dengan toleransi + 0,2 C. Sebelum terpentin ditaruh di dalam alat, terpentin harus berada pada suhu yang sama dengan suhu dimana pengukuran akan dilakukan bila suhu sudah stabil.

6.5.2.4. Uji sisa penguapan 10 gram contoh uji dimasukkan ke dalam pinggan penguap yang telah diketahui beratnya. Uapkan diatas penangas air sampai kering. Keringkan dalam pengering listrik (oven) pada suhu 1000 C - 1050 C selama 30 menit. Dinginkan dan timbang hingga berat tetap. Sisa Berat penguapan = Berat contoh uji sisa -------------------------------- x penguapan 100 %

6.5.2.5. Uji titik didih dan uji kadar sulingan pada suhu maksimum 170 0 C. Masukkan contoh uji dengan pipet 100 ml ke dalam labu didih berdasar bulat 250 ml, kemudian bubuhi batu didih. Sambungkan labu didih dengan alat penyulingan (dilengkapi dengan termometer), kemudian disuling.

Pada saat tetes pertama (hasil sulingan) keluar, suhu titik didih segera dicatat dan sulingan ditampung dalam gelas ukur 100 ml. Penyulingan dilanjutkan sampai suhu maksimum 170 C, kemudian dicatat jumlah sulingan yang diperoleh. a Kadar (%) isi sulingan = volume contoh uji --------------------------- x 100 %

Keterangan : a adalah volume (ml) sulingan yang diperoleh.

6.5.2.6. Uji bilangan asam Masukkan 5 gram contoh uji ke dalam Erlenmeyer 250 ml, kemudian tambahkan 25 ml alkohol 96 % (netral) dan beberapa tetes phenolpthalein (PP). Titrasi dengan alkohol KOH 0,1N hingga timbul warna merah jambu. ml Bilangan berat asam = alk. KOH -------------------------- x contoh x N 56,1 uji

Keterangan :

adalah normalitet alkohol KOH

- 56,1 adalah berat molekul KOH.

6.5.2.7. Uji minyak lemak

Ke dalam tabung kimia larutkan 1 ml contoh uji dengan 9 ml alkohol 80 %.


Masukkan tabung kimia ke dalam termos es yang berisi campuran es dan garam dapur dengan perbandingan 3:1 dan biarkan selama 12 jam. Kemudian amati apakah terdapat gumpalan atau tidak, kalau ada gumpalan berarti minyak terpentin mengandung minyak lemak.

6.5.2.8. Uji titik nyala

Titik nyala ditetapkan dengan alat menurut Pensky-Martens sesuai SNI 0614671989 atau alat uji titik nyala lainnya . 6.5.2.9. Uji kadar Alpha pinene Kadar Alpha pinine ditetapkan dengan alat Gas Kromatografi. 6.5.2.10. Uji putaran optik Putaran optik ditetapkan dengan alat polarimeter pada temperatur 27,5 C.

6.5.3. Pembuatan larutan warna standar Kedalam labu ukur A, larutkan 1,8 gram K2Cr2O7 dengan air sampai satu liter (larutan A). Kedalam labu ukur B, larutkan 1,00 gram CoCl2 6H2O ditambah 20 ml HCl pekat, dengan air sampai satu liter (larutan B). Kedalam labu ukur C. campurkan 5 ml larutan A dengan 75 ml larutan B, kemudian encerkan dengan air sampai 500 ml (larutan C). Masukkan 50 ml larutan C ke dalam tabung Nessler yang kemudian dipergunakan sebagai larutan warna standar.

6.6.

Syarat lulus uji

6.6.1. Contoh uji Contoh uji dianggap lulus uji apabila : Hasil uji persyaratan umum sesuai dengan butir 4.2.1. Hasil uji persyaratan khusus sesuai dengan tabel 1. Persyaratan khusus mutu minyak terpentin pada butir 4.2.2. 6.6.2. Partai minyak terpentin Partai minyak terpentin dianggap lulus uji apabila 100 % contoh uji lulus uji. 6.6.3. Sertifikat pengujian Terhadap minyak terpentin yang telah lulus uji, kepada produsen diberi sertifikat pengujian.

7.

Pengemasan dan penandaan

7.1. Pengemasan

Pengemasan dilakukan dengan drum 200 liter, berat 170 kg. (netto), atau dengan bahan lain yang baik dan kuat. 7.2. Penandaan Terhadap kemasan diterakan : 7.2.1. Tanda pengenal perusahaan (TPP) 7.2.2. Tanda mutu. 7.2.3. Berat bersih (Netto). 7.2.4. Produksi Indonesia. Sumber : DEPARTEMEN KEHUTANAN - PUSAT STANDARDISASI DAN LINGKUNGAN Gedung Manggala Wanabakti Jalan Gatot Subroto Jakarta 10270 Telepon/Faximile : 5733433, E-mail: Pusdarling @ dephut.cbn.net.id

Terpentin . Adalah getah hasil sadapan dari berbagai jenis pohon pinus. Di Indonesia adalah getah dari pohon Pinus merkusii Jungh & de Vr. Apa yang disebut terpentin adalah minyak terpentin atau minyak tusam yang dihasilkan dari distilasi terpentin, sehingga yang tertinggal adalah kolofonium atau hars.

UGM Kembangkan Produk Turunan dari Terpentin


Yogya, KU Peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UGM mengembangkan produk turunan terpentin. Terpentin adalah getah dari pohon Pinus (Pinus merkusii) yang kemudian diolah menjadi terpentin. Kegunaan terpentin adalah untuk bahan baku industri kosmetik, minyak cat, campuran bahan pelarut, antiseptik, kamper dan farmasi. Sekarang lagi dikerjakan kerjasama untuk meneliti dan memproduksi produk turunan terpentin itu sendiri, ujar Presiden Direktur PT Perhutani Anugerah Kimia Ir Dodit Artanto MM, usai

melakukan penandatangan piagam kerjasama dengan Rektor UGM Prof Ir Sudjarwadi, M.Eng PhD, Jumat (16/11) di Ruang Sidang Pimpinan Kampus UGM. Menurut Dodit, dengan dilakukan kerjasama penelitian dengan Fakultas MIPA ini, terang Dodit, diharapkan produk turunan dari terpentin dapat diolah dan diproses lebih jauh untuk menjadi produk yang memiliki nilai jual dan daya guna yang lebih tinggi. Proses penyadapan getah pinus ini merupakan salah satu bentuk pemanfaatan hutan dari sisi non kayu, jelasnya. Dodit memaparkan, proses pengolahan terpentin dilakukan dengan cara melakukan penyadapan getah pohon pinus, lalu diproses secara evaporasi untuk ditampung uapnya, hasil uap air ini ketika dipisah dari airnya akan jadi terpentin. Produk turunan dari terpentin ini nantinya dapat digunakan sebagai bahan cat, bahan lem, bahan tinta, bahan kertas, katanya. Sementara itu, Rektor UGM Prof Ir Sudjarwadi, M.Eng PhD, mengemukakan bentuk kerjasana yang dilakukan dengan PT Perhutani Anugerah Kimia, yaitu kerjasama di bidang pendidikan, penelitian, pelatihan dan jasa konsultasi dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Humas UGM)

A. Minyak Terpentin Menurut SNI 01-5009.3-2001, Minyak Terpentin adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan cara penyulingan uap getah Tusam (Pinus sp.) B. Tujuan Menentukan kualitas minyak terpentin berdasarkan persyaratan mutu minyak terpentin SNI 01-5009.3-2001. C. Persyaratan Mutu Mutu minyak terpentin terbagi dalam dua kelas mutu yaitu : Mutu Utama dengan tanda mutu A pada kemasan dan dokumen Mutu Standar dengan tanda mutu B pada kemasan dan dokumen Persyaratan mutu terdiri atas persyaratan umum yang meliputi uji visual (bau khas terpentin dan kejernihan) dan uji laboratoris (BJ 25/25 derajatC = 0,85 (0,848 0,865) ; Indeks bias (ND20) 1.464 1.478 ; Tidak mengandung lemak ; titik nyala 33 38derajatC ; Titik didih 150 160 derajat C pada tekanan atmosfer.

D. Cara uji 1. Uji bau Penetapan bau minyak terpentin dilaksanakan dengan cara organoleptik Masukan 50 mL contoh uji ke dalam tabung Nessler Cium bau terpentin pada tabung Nessler dan amati apakah baunya khas terpentin atau tidak 2. Uji warna Penetapan warna miyak terpentin dilaksanakan dengan cara membandingkan warna contoh uji dengan larutan warna standar. Masukan 50 mL larutan contoh ke dalam tabung Nessler Bandingkan dengan larutan warna standar. Amati dan catat apakah warna contoh uji sama/lebih jernih. 3. Uji berat jenis dengan piknometer Timbang piknometer kosong.

Isi pikno dengan contoh yang akan diuji sampai penuh dan masukan ke dalam termostat pada suhu 27,5C dan biarkan selama 15 menit (suhu termometer harus tetap 27,5C)

Piknometer diangkat dan keringkan dengan kertas atau lap yang tidak mengandung lemak dan ditimbang. BJ 27,5C/25C = b = (Berat kosong+contoh) (berat piknometer kosong) nilai piknometer piknometer

Nilai piknometer disesuaikan dengan piknometer yang dipakai. BJ 27,5C/25C = b + (27,5 -25) x 0,00064 0,00064 adalah faktor koreksi 4. Uji sisa penguapan Masukan 10 gram contoh ke dalam pinggan penguap yang telah diketahui beratnya Uapkan di aatas penangas air hingga kering Keringkan dalam oven pada suhu 100 - 105C selama 30 menit Dinginkan dan timbang hingga berat tetap Perhitungan : Sisa penguapan = Berat sisa penguapan x 100% Berat contoh 5. Uji bilangan asam Masukan 5 gram contoh ke dalam erlenmeyer 250 mL Tambahkan 25 mL alkohol 96% netral dan beberapa tetes fenoftalein Titrasi dengan KOH 0,1 N hingga timbul warna merah jambu Perhitungan :

Bilangan asam = Volume KOH x N KOH x 56,1 Berat contoh 6. Uji minyak lemak Ke dalam tabung larutkan 1 mL contoh dengan 9 mL alkohol 80% Masukan tabung ke dalam termos berisi es yang berisi campuran es dan garam dapur dengan perbandinan 3 : 1 dan biarkan selama 12 jam Amati perubahan yang terjadi. Apabila terjadi gumpalan, maka minyak terpentin mengandung minyak lemak. Persyaratan khusus mutu minyak terpentin meliputi :

No 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Karakteristik Sisa penguapan Kadar sulingan Bilangan asam Warna Kadar alpha pinene Putaran optik

Mutu Utama (A) 2% 90% 2 Sama/lebih jernih dari warna larutan standar 80% +32 Standar (B) > 2% < 90% >2 Tidak dipersyaratkan < 80% +< 32

Sebagai terpentin (minyak balsam, minyak pinus), yang segar Harzausflsse berbagai tumbuhan runjung , khususnya pinus ( Pinus ) merujuk. Mereka adalah campuran dari resin danminyak atsiri , yang getah balsem tersebut. Lanjutkan hanya ketika mereka kering, dengan hilangnya volatile zat dalam resin atas. Terpentin adalah berwarna kekuningan, biasanya cair krem, komponen utama asam damar adalah. komponen volatil dapat ditemukan terutama 2 - pinene , 2 (10)-pinene, 3-caren dan monosiklik lainnya monoterpen di, tergantung pada asal, berbeda proporsi yang sangat. [1] terpentin berbahaya dan berbahaya bagi lingkungan. Ini nomor CAS untuk campuran 9005-90-7. Terpentin (juga Terpentinspiritus dan juga terpentin ) dengan penyulingan dari terpentin diperoleh. Ini adalah volatile, minyak dan melarutkan resin-agen sangat. Nomor CAS 8006-64-2 untuk ini adalah. Residu distilasi disebut damar .
Isi
[ hide ]

1 sifat 2 ekstraksi 3 pembersihan 4 spesies 5 Gunakan 6 Lihat juga 7 perincian

Fitur [ Edit ]
Terpentin adalah buram, kental, hampir atau berwarna putih kekuningan massa putih. [2] Dalam resin adalah air larut, tapi bisa di minyak , etanol dan larutan alkali larut. bahaya kesehatan dari campuran kuat pada isi pinenes dan Caren 3 - tergantung.

Ekstraksi [ Edit ]
(Lihat juga Pasal Pecherei ) Untuk mendapatkan antara kayu dan kulit pohon atau di rongga khusus yang dibentuk presipitat akan kulit vertikal menorehkan alur-suka dan ujung bawah dari pemotongan massal di sumur tertentu atau di bawah kapal tertangkap di. Kemungkinan lain adalah pengeboran dari suku-suku. Lubang-lubang adalah gabus yang disegel dan balsem waktu yang tersisa untuk mengalir keluar dengan waktu. Koleksinya dimulai pada musim semi dan berlangsung dalam musim gugur. Dalam pohon-pohon dengan kulit tebal, terkena sinar matahari, hasil yang terbesar.

Ekstraksi resin (pitch) pada pinus hitam: 1 kulit, 2 Tertawa, 3 pitch-lubang, 4 Biarkan, 5 hidup, 6 Schnabel, 7 Pechhferl, 8 kuku

Membersihkan [ Edit ]
Yang dikumpulkan, sering dengan bumi, pasir, potongan kulit dan jarum yang terkontaminasi bahan cair dengan pelelehan pada suhu rendah, kain kasar atau lapisan jerami disaring melalui dan kemudian diisi ke barel. Di Amerika Serikat mereka hanya drum panas lantai berlubang dengan matahari, setelah itu menetes terpentin murni dari dirinya sendiri. Bahkan di Perancis terpentin demikian dimurnikan. Strain kental disebut Pate de soleil au trbenthine cairan tipis la Chaudire .

Spesies [ Edit ]
Yang terpentin adalah madu-tebal, sangat kental, tergantung pada asal senyawa jernih atau berawan, aromatik, mencium dan mencicipi yang menunjukkan, meskipun sebagian besar komposisi yang sama dalam konsistensi, warna, aroma dan kandungan minyak tetapi penyimpangan. Menurut negara sumber, mereka dibagi ke dalam varietas komersial berikut dan kualitas tinggi dan "Edelterpentine" adalah:
Biasa, umum atau Jerman terpentin (Latin Terebinthina communis ) adalah terutama terdiri

dari Skotlandia pinus Pinus sylvestris , jarang dari putih ("Strasbourg terpentin") dan merah cemara ( cemara Norwegia Picea Abies menang). Hal ini lebih keras, lebih granular konsistensi, dan berawan serta kuat resinous bau putih kekuningan dan pedas rasa

pahit. Austria terpentin (Latin austriaca Terebinthina ) adalah dari black pine Pinus nigra , khususnya di Wina Woods adalah umum, dan dari Lower Austria Lgeln, tong oval kecil, dikirim dalam disebut. Prancis terpentin disebut khususnya pengendapan dari pinus maritim ( Pinus pinaster ), yang membentuk hutan di berbagai bagian selatan Perancis. Hal ini lebih tipis dan lebih halus dan memiliki bau yang menyenangkan. Yang terpentin Amerika Pinus palustris berbeda dari non-esensial biasa dan karena itu jatuh ke dalam kelompok yang sama.
Yang terbaik kelas terpentin adalah Venesia atau larch terpentin (Latin Terebinthina

Veneta ), terutama di Tyrol, Carinthia, Styria dan lebih ke timur ke Hongaria oleh larch Eropa, desidua Larix diperoleh. Tapi ada juga di Provence , Venesia otentik larch menyediakan terpentin hutan. The, tebal lengket, transparan massa cukup hanya sedikit berwarna kuning, sangat kaku dan lambat pengeringan. Memiliki pedas,, sedikit lemon seperti bau resin. kerucut Larch terpentin rebus lebih rendah. Jadilah karena resin tersisa splintery dan diserang oleh pengaruh atmosfer.
Amerika Utara menghasilkan yang terbaik dari semua terpentin, yang terpentin Kanada ,

yang dikenal sebagai balsam Kanada .


Biasanya terjadi terpentin masih, seperti Hongaria dan Siprus terpentin dari terebinthus

Pistacia memiliki sedikit makna. Italia terpentin (Latin italica Terebinthina ) berasal dari daerah yang sama dengan Venesia, namun lebih gelap di warna.

Gunakan [ Edit ]

Dari terpentin adalah damar menang.

Terpentin digunakan terutama untuk melunakkan dan halus resin, dan karena itu sebagai aditif untuk menyegel lilin , Harzfirnisse , pernis, putties dan tzgrnde digunakan. Produksi cat, hanya varietas Venesia anhidrat digunakan, sebagai danau yang keruh sebaliknya. Itu terbakar

bukan dengan air biasa mengandung terpentin tanpa berderak kebisingan. terpentin Berikutnya adalah sering digunakan sebagai aditif untuk salep , perban , sabun dan Hufkitt digunakan dalam kedokteran juga. Hal ini juga membentuk bahan baku untuk produksi terpentin dan damar. Selain itu, penting ikat dan pengencer dalam lukisan cat minyak yang digunakan. Sebelumnya, marmer vanity tops, lantai, dll, dengan campuran lilin lebah dan terpentin masuk. Dalam restorasi proses masih digunakan ini.

Lihat juga [ sunting ]

Anda mungkin juga menyukai