Matematika Diskret

Mahmud ’Imrona 2002

ii Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel

Kata Pengantar
Dengan harapan mahasiswa mempunyai kesempatan untuk mengikuti kuliah dengan baik, tanpa terganggu untuk menulis, dan aktifitas yang lain, maka buku ini disusun, sehingga mahasiswa di dalam kelas benar-benar hanya mencatat hal-hal yang dianggap penting saja, sedangkan catatan cukup dari buku ajar ini saja. Di lain pihak, dengan mengingat bahwa kuliah di dalam kelas berbatas waktu, maka latihan soal tentunya menjadi tidak terlalu banyak. Buku ini disusun dengan memuat soal-soal dengan jumlah yang cukup banyak dan dengan sebaran tingkat kesulitan yang cukup lebar, mulai dari yang sangat mudah sampai dengan soal yang mempunyai tingkat kesulitan sangat sukar. Buku ini disusun dalam empat bagian utama, yaitu: Teori Himpunan dan Relasi, yang meliputi: Dasar-dasar teori himpunan, Fungsi dan Relasi, Terurut Parsial, Relasi Ekivalensi, Himpunan Fuzzy dan Logika Fuzzy Struktur Aljabar, yang meliputi: Semi group, monoids, group, homomorphisme, relasi kongruen Kombinatorial, yang meliputi: Aturan Perkalian, Sample Terurut dan Permutasi, Sample tak Terurut tanpa Pengulangan, Sample tak Terurut dengan Pengulangan Graph, yang meliputi: Keterhubungan, Graph Planar, Representasi Komputer untuk Graph, Path, Cycle, Tree dan Spanning Tree, masalah minimal spanning Tree, Tree biner dan penelusurannya, algoritma Dijkstra.

Bagian I Teori Himpunan dan Relasi

1

.

Dengan menguraikan unsur-unsurnya (Principle of Extension) . istilah himpunan dianggap sudah dipahami oleh setiap matematikawan. Contoh 2 Principle of Extension A={1. yaitu: a. Dengan menyebutkan kriterianya (Principle of Abstraction). begitupun si Amir yang mempunyai NIM 113010056. yang biasa diistilahkan dengan pengertian. Himpunan ditentukan oleh adanya anggota. 2. Tetapi si Della jelas anggota himpunan A. 2. Seperti kursi jelas bukan anggota himpunan A. Contoh 3 Principle of Abstraction A={x ∈ Z|x2 − 3x − 4 = 0} 3 . Suatu himpunan dapat disajikan dalam dua bentuk. karena mempunyai NIM 613010027. walaupun sekaligus dia mahasiswa PAAP UNPAD dengan NIM PA000234. Contoh 1 Himpunan Misalkan A = himpunan semua mahasiswa STT Telkom. 3} b.1 Pengertian dan Jenis-jenis Himpunan Himpunan dalam matematika tidak didefinisikan. vektor a=(1. 3) jelas pula bukan anggota A. hubungan antara himpunan dan anggotanya inilah yang menjadi perbedaan antara satu himpunan dengan himpunan yang lain.Bab 1 Teori Himpunan 1. jelas anggota himpunan ini dapat dibedakan dengan unsur yang bukan anggota himpunan. jelas pula anggota himpunan A.

sehingga C={a. begitupun sebaliknya. c}. keduanya adalah sama. . b. Sedangkan untuk menyatakan bukan anggota. . Begitupun tidak mengenal duplikasi anggota. 3}.} Di dalam sistem bilangan. Jadi. b. 1. dikenal lambang-lambang himpunan bilangan. 7}. . Contoh 6 Kardinalitas A = {2. Definisi 8 Himpunan Sama atau Ekivalen Himpunan A dan B disebut dua himpunan yang sama. dan I menyatakan himpunan Irasional. Z menyatakan lambang himpunan bilangan bulat. Himpunan yang tidak mempunyai anggota disebut himpunan kosong dengan lambang {} atau ∅. berarti angka dua anggota dari Z (Z menyatakan himpunan bilangan bulat).5 ∈ Z. .5 bukan anggota himpunan bilangan bulat. 2. Contoh 7 Himpunan Semesta Jika A={1. 1. dinyatakan oleh ∈. TEORI HIMPUNAN Lambang himpunan menggunakan huruf kapital. / artinya: 0. Di dalam himpunan tidak dikenal urutan anggota. a. a. b. 4. Untuk himpunan yang berhingga. Q menyatakan himpunan bilangan Rasional. yaitu menyatakan banyaknya anggota suatu himpunan. A = {1. 5. Sehingga n(∅)=0. 3} dan B = {3. 3.4 BAB 1. kardinalitas A = n(A) = 3. Sedangkan himpunan yang anggotanya melingkupi semua anggota suatu himpunan disebut himpunan semesta (universal set). setiap anggota B juga menjadi anggota A. yaitu: R menyatakan lambang himpunan semua bilangan riil. dikenal istilah kardinalitas (lambang: n). c} sama dengan D={a. yaitu: himpunan yang banyaknya anggota berhingga. maka himpunan semestanya dapat diambil U = {0. Contoh 4 Anggota 2 ∈ Z. 2. 2. 2}. / Contoh 5 Bukan Anggota 0. Lambang anggota adalah ∈. sedangkan N menyatakan himpunan bilangan Natural (Asli). jika setiap unsur (anggota) himpunan A juga menjadi unsur (anggota) B. sedangkan anggota suatu himpunan menggunakan huruf kecil. c.

Contoh 12 Himpunan Kuasa A={1. 1. 2. {1. {2}. 2. 2. 0. disebut himpunan bagian murni (proper subset). {2. Definisi 11 Himpunan kuasa atau Power Set Himpunan kuasa dari himpunan A adalah himpunan yang anggotanya semua himpunan bagian yang mungkin terjadi dari himpunan A. maka A ⊂ B. 2}. 4. 2. Contoh 10 Himpunan Bagian A = {1. {1. karena setiap anggota himpunan kosong menjadi anggota dari setiap himpunan. 3} dan B={-2. Dengan demikian. {1}. dilambangkan dengan A ⊆ B. {3}. Sehingga n(P(A))=8. 3}. Latihan 13 1. {1}. 2}. jika A bukan himpunan bagian dari B. dilambangkan dengan A B. Dengan menggunakan diagram Venn dapat diilustrasikan seperti pada Gambar 1. PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS HIMPUNAN 5 Gambar 1. 2}. 3}. {2.1: A ⊆ B Definisi 9 Himpunan bagian atau Sub Set Himpunan A disebut sub himpunan B.1.1. 5}. 3}. 3} himpunan bagian yang mungkin terjadi adalah: ∅. {2}. 1. Dengan konsep himpunan bagian. {1. 4} dan B = {-2. 3. maka diantara pernyataan-pernyataan di bawah ini. 3. Jika A ⊆B dan A = B. jika setiap anggota A juga anggota himpunan B. Sebaliknya. 3}. -1. 0. -1. {1. dengan lambang P(A). himpunan kosong merupakan sub himpunan dari setiap himpunan. {1. sehingga P(A) = {∅. maka A = B dapat dinyatakan sebagai A⊆B dan B ⊆ A. 2. {1. 3. manakah yang benar? . Jika A={1. {3}. maka A ⊂ B. 3}}.1. 3}. 2.

sebagai berikut: A ∪ B = {x | x ∈ A ∨ x ∈ B} Contoh 15 Gabungan Jika A = {1. maka A ∪ B = {-1. {2. e} 3. {-1. yang dilambangkan oleh A ∩ B. TEORI HIMPUNAN 1.2 Operasi Himpunan Definisi 14 Union atau Gabungan Gabungan himpunan A dan B adalah himpunan yang anggota-anggotanya terdiri dari anggota himpunan A atau anggota himpunan B. Dengan meminjam notasi pada logika gabungan A dan B dapat ditulis. Jika A={2. 1 ∈ A b. 3} dan B = {-1. 2}⊆ A j. -2 ∈ A / d. 3} ⊆ A i. ∅ ∈ A e. 2. -2 ∈ B c. 1. Definisi 16 Intersection atau Irisan Irisan himpunan A dan B adalah himpunan yang anggota-anggotanya terdiri dari anggota himpunan A yang sekaligus menjadi anggota himpunan B. 1}⊆ A 2. B A h. Dengan notasi logika irisan dari himpuanan A dan B dapat ditulis. sebagai berikut: . b} BAB 1. A ⊂ B g. 2. 2. Jika B={3. 3}.6 a. ∅ ⊂ B f. yang dilambangkan oleh A ∪ B. a. {∅. 3} Dengan menggunakan diagram Venn dapat diilustrasikan seperti pada Gambar 1. 0.2. 0.

sebagai berikut: A − B = {x | x ∈ A ∨ x ∈ B} / Contoh 19 Selisih Jika A = {1.1. OPERASI HIMPUNAN 7 Gambar 1. Definisi 18 Difference atau Selisih Selisih himpunan A dengan himpunan B adalah himpunan yang anggotaanggotanya terdiri dari anggota himpunan A. Dengan meminjam notasi pada logika selisih antara A dan B dapat ditulis. 3} dan B = {-1. 2. tetapi bukan anggota himpunan B. 3} dan B = {-1. 0. yang dilambangkan oleh A − B. 2.3. 3}.3: A ∪ B A ∩ B = {x | x ∈ A ∧ x ∈ B} Contoh 17 Irisan Jika A = {1. maka A − B = {1} . maka A ∩ B = { 2.2. 3} Dengan menggunakan diagram Venn dapat diilustrasikan seperti pada Gambar 1.2: A ∪ B Gambar 1. 2. 3}. 0. 2.

Dengan meminjam notasi pada logika.4. 4. Definisi 22 Symmetric Difference atau Selisih Simetri Selisih Simetri himpunan A dan B adalah himpunan yang anggota-anggotanya terdiri dari anggota himpunan A atau anggota himpunan B. sebagai berikut: A ⊕ B = {x | (x ∈ A ∨ x ∈ B) ∧ x ∈ A ∩ B} / . sebagai berikut: AC = {x ∈ U | x ∈ A} / Contoh 21 Komplemen Jika U = {1. yang dilambangkan oleh A ⊕ B. 3}. TEORI HIMPUNAN Gambar 1.5. 5} Dengan menggunakan diagram Venn dapat diilustrasikan seperti pada Gambar 1. tetapi bukan anggota A. yang dilambangkan oleh AC . 2. komplemen A dapat ditulis. sehingga selisih antara A dan B dapat dibaca sebagai komplemen A relatif terhadap B.4: A − B Selisih disebut juga komplemen relatif. Definisi 20 Complement atau Komplemen Komplemen himpunan A adalah himpunan yang anggota-anggotanya terdiri dari anggota himpunan semesta (Universal Set). 4. maka AC = { 1. Dengan meminjam notasi pada logika. 3. tetapi bukan anggota himpunan A yang sekaligus anggota himpunan B. Selisih Simetri A dan B dapat ditulis. Dengan menggunakan diagram Venn dapat diilustrasikan seperti pada Gambar 1. 5} dan A = { 2.8 BAB 1.

3}.6. . 0.6: A ⊕ B Contoh 23 Selisih Simetri Jika A = {1. 0. 2. maka A ⊕ B = { -1.2.5: AC Gambar 1. 3. OPERASI HIMPUNAN 9 Gambar 1.1. 4} dan B = { -1. 2. 1. 4} Dengan menggunakan diagram Venn dapat diilustrasikan seperti pada Gambar 1.

Bilangan multiplisitas ini adalah bilangan bulat tak negatif. . setiap operasi ∩ dengan ∪. Contoh 25 Dual A ∪ A = A.3 Sifat-sifat Operasi Himpunan A∪A=A A∩A=A (A ∪ B) ∪ C = A ∪ (B ∪ C) (A ∩ B) ∩ C = A ∩ (B ∩ C) A∪B =B∪A A∩B =B∩A A ∪ (B ∩ C) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ C) A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) A∪∅=A A∩U =A A∪U =U A∩∅=∅ (AC )C = A A ∪ AC = U A ∩ AC = ∅ UC = ∅ ∅C = U (A ∪ B)C = AC ∩ B C (A ∩ B)C = AC ∪ B C Hukum Idempotent Hukum Asosiatif Hukum Komutatif Hukum Distributif Hukum Identitas Hukum Involusi Hukum Komplemen Dalil De Morgan Definisi 24 Dual E∗ dari sebuah persamaan himpunan E adalah persamaan himpunan yang didapat dari menggantikan setiap operasi ∪ dengan ∩. setiap himpunan semesta U dengan ∅.10 BAB 1.4 Multi Set (Himpunan Ganda) Tidak seperti konsep himpunan yang biasa yang tidak memperhatikan duplikasi anggota. dan setiap himpunan kosong ∅ dengan himpunan semesta U . maka dual dari persamaan ini adalah: A ∩ A = A. maka dual persamaan ini adalah: A ∪ U = U . 1. Definisi 26 Himpunan Ganda atau Multi set adalah himpunan yang dilengkapi dengan multiplisitas. TEORI HIMPUNAN 1. himpunan ganda (multiset) sangat mementingkan duplikasi anggota. A ∩ ∅ = ∅.

2 • d} maka A − B = {1 • b}. c}. 4 • c} dan B={5 • a. 1 • b. 4 • c}. Lambang: A − B Contoh 33 Selisih Himpunan Ganda Jika A={3 • a. . 4 • c} dan B={5 • a. jika multiplisitasnya negatif dianggap mempunyai multiplisitas 0 . 4 • c} dan B={5 • a. Lambang: A + B Contoh 35 Jumlah Himpunan Ganda Jika A={3 • a. 2 • b. Secara umum notasi multiset adalah: {m1 • a1 . . 2 • b. 2 • d} maka A + B = {8 • a. mr • ar }. Definisi 34 Sum atau Jumlah dari multiset A dan multiset B adalah multiset dengan anggota yang terdiri dari anggota multiset A dan multiset B. 2 • d} maka A ∩ B = {3 • a. Jika dituliskan dengan cara mendaftarkan setiap anggotanya. 4 • c. 2 • b. 2 • b. b. 4 • c}. d ∈ A ∩ B karena multiplisitas d pada multiset A adalah / 0. 8•. 1 • b. 4 • c. 4 • c.4. Definisi 28 Union atau Gabungan dari multiset A dan multiset B adalah multiset dengan anggota yang terdiri dari anggota multiset A dan anggota multiset B dengan multiplisitas dipilih yang maksimum. 2 • d} maka A ∪ B = {5 • a. c. . dimana m1 . a.1. b. . 4 • c. Definisi 30 Intersection atau Irisan dari multiset A dan multiset B adalah multiset dengan anggota yang terdiri dari anggota multiset A dan anggota multiset B dengan multiplisitas dipilih yang minimum. . a. m2 . sehingga yang minimum dari 0 dan 2 adalah 0. 2 • d}. . Contoh 27 Himpunan Ganda A={3 • a. mr menyatakan multiplisitas masing-masing anggota. 1 • b. dengan multiplisitas ditambahkan. . 4 • c} dan B={5 • a. c. sedangkan jika multiplisitasnya 1. Definisi 32 Difference atau Selisih dari multiset A dan multiset B adalah multiset dengan anggota yang terdiri dari anggota multiset A dan anggota multiset B dengan multiplisitas anggota A dikurangi multiplisitas anggota multiset B untuk anggota yang sama. MULTI SET (HIMPUNAN GANDA) 11 Jika multiplisitasnya nol berarti bukan anggota. Lambang: A ∪ B Contoh 29 Gabungan Himpunan Ganda Jika A={3 • a. . . m2 • a2 . Sehingga n(A)=9. 2 • b. 3 • b. seperti pada himpunan yang biasa. 4 • c. 2 • b. 2 • d}. c. Lambang: A ∩ B Contoh 31 Irisan Himpunan Ganda Jika A={3 • a. 1 • b. 1 • b. himpunan A ={a.

TEORI HIMPUNAN 1.5 Enny. dan 0.75 Setyo. 0. Definisi 37 Complementatau Komplemen komplemen himpunan fuzzy A adalah himpunan fuzzy yang anggota-anggotanya terdiri dari anggota himpunan A dengan derajat keanggotaan 1 dikurangi derajat keanggotaannya.5 Anton. 0. 0. 1. 0. B.5 Enny. C. Definisi 39 Union atau Gabungan Gabungan himpunan fuzzy A dan B adalah himpunan fuzzy yang anggotaanggotanya terdiri dari anggota himpunan A atau anggota himpunan B dengan derajat keanggotaan yang maksimum. yaitu: A. 0.5 Enny. Contoh 40 Gabungan Himpunan Fuzzy Jika A menyatakan himpunan kelulusan mahasiswa pada semester tertentu untuk matakuliah matematika diskret= {0. 1. Setyo lulus dengan nilai B. sedangkan Enny lulus dengan nilai C. 0.5 Anton.25 Anton.75 Rito. maka AC = {0.0 Bambang}. 1. dilambangkan oleh AC . Rito tidak lulus nilai E.75 Setyo. 0. 0. D.25 Enny. 0.12 BAB 1. Contoh 38 Komplemen Himpunan Fuzzy Jika A menyatakan himpunan kelulusan mahasiswa pada semester tertentu untuk matakuliah matematika diskret= {0.75 Setyo. yang berupa bilangan riil dari 0 sampai dengan 1. maka A ∪ B = {0.75 Anton. 0.75 Rito. 1. 1.25 Anton. 0. 0.0 Rito.5 Bambang}. dan E dengan nilai konversi berturut-turut 4. 0. yang dilambangkan oleh A ∪ B.0 Bambang} dengan himpunan ini berarti dapat dibaca Anton lulus dengan nilai D.5 Enny.0 Bambang} sedangkan B menyatakan himpunan kelulusan mahasiswa pada semester tertentu untuk matakuliah logika matematika={0. Contoh 36 Himpunan Fuzzy A=himpunan kelulusan mahasiswa pada semester tertentu untuk matakuliah matematika diskret = {0.5 Fuzzy Set (Himpunan Fuzzy) Himpunan Fuzzy adalah himpunan yang dilengkapi dengan derajat keanggotaan.75 Setyo.0 Rito. Dalam hal ini AC dapat pula diartikan sebagai himpunan ketidaklulusan mahasiswa pada semester tertentu untuk matakuliah matematika diskret. Bambang lulus dengan nilai A.25 Anton. 2.0 Bambang} Definisi 41 Intersection atau Irisan Irisan himpunan fuzzy A dan B adalah himpunan fuzzy yang anggota-anggotanya .0 Bambang} .0 Rito. 3.5 Enny. 0. 0.75 Setyo. Derajat keanggotaan untuk kasus ini ditentukan dari nilai matakuliah ada lima jenis. 0. 0. 0. 1.0 Rito. 0.25 Setyo.

5 Bambang}.0 Rito.1. 0. 0.75 Setyo. 0. 1.75 Rito.25 Anton. FUZZY SET (HIMPUNAN FUZZY) 13 terdiri dari anggota himpunan A yang sekaligus menjadi anggota himpunan B dengan derajat keanggotaan yang minimum.5 Enny.5 Enny.5 Anton. 0.5 Bambang} . 0.75 Setyo. 0. 0. 0. 0.25 Anton.75 Setyo.25 Enny. Contoh 42 Irisan Himpunan Fuzzy Jika A menyatakan himpunan kelulusan mahasiswa pada semester tertentu untuk matakuliah matematika diskret= {0. maka A ∩ B = {0.0 Bambang} sedangkan B menyatakan himpunan kelulusan mahasiswa pada semester tertentu untuk matakuliah logika matematika={0. 0.0 Rito. yang dilambangkan oleh A ∩ B.5. 0.

TEORI HIMPUNAN .14 BAB 1.

d)} Definisi 45 Relasi Misalkan A dan B himpunan. (2. (1. 2. d}. c. c). (1. a). (1. (3. 3} dan B={a. (2. Contoh 44 Hasil Kali Cartesian Jika A={1. fungsi merupakan relasi dengan syarat khusus. b). c) ∈ / R atau dapat ditulis 1\c Sifat-sifat relasi: refleksif. berarti relasi lebih luas semesta pembicaraannya dibandingkan dengan fungsi. d). (3. (2. 3} dan B={a. b. anti simetrik. maka A × B = { (1. 15 . (2. relasi dari A dan B didefinisikan sebagai R = { (1. (3. a).2 Fungsi Relasi Definisi 43 Hasil Kali Cartesian Misalkan A dan B himpunan. c). c. (2. (2. (2. Relasi dari A ke B adalah subset dari A × B. b). Sehingga pada contoh di atas didapat: (1. (3. a). d). c). 2. b)} Lambang Relasi biasanya dinyatakan oleh huruf R (R kapital). Dengan definisi ini. a) ∈ R atau dapat pula ditulis 1Ra. a). c). Contoh 46 Relasi A={1.1 2. b). d}. (1. (1.Bab 2 Fungsi dan Relasi 2. b). Atau dengan kata lain. a). Hasil kali Cartesian A dan B adalah himpunan yang anggotanya adalah semua pasangan terurut yang mungkin terbentuk dari A dan B. simetrik. dan transitif. b.

FUNGSI DAN RELASI .16 BAB 2.

Bagian II Struktur Aljabar 17 .

.

Bab 3 Group 19 .

20 BAB 3. GROUP .

Bab 4 Sub Group 21 .

22 BAB 4. SUB GROUP .

Bab 5 Semi Group 23 .

24 BAB 5. SEMI GROUP .

Bab 6 Homomorphisma 25 .

26 BAB 6. HOMOMORPHISMA .

Bab 7 Relasi Kongruen 27 .

RELASI KONGRUEN .28 BAB 7.

Bagian III Kombinatorial 29 .

.

Bab 8 Aturan Perkalian 31 .

32 BAB 8. ATURAN PERKALIAN .

Bab 9 Sample Terurut dan Permutasi 33 .

SAMPLE TERURUT DAN PERMUTASI .34 BAB 9.

Bab 10 Sample tak Terurut tanpa Pengulangan 35 .

36 BAB 10. SAMPLE TAK TERURUT TANPA PENGULANGAN .

Bab 11 Sample tak Terurut dengan Pengulangan

37

38

BAB 11. SAMPLE TAK TERURUT DENGAN PENGULANGAN

Bagian IV Graph

39

.

Bab 12 Keterhubungan 41 .

KETERHUBUNGAN .42 BAB 12.

Bab 13 Graph Planar 43 .

GRAPH PLANAR .44 BAB 13.

Bab 14 Representasi Komputer untuk Graph 45 .

REPRESENTASI KOMPUTER UNTUK GRAPH .46 BAB 14.

Bab 15 Path 47 .

48 BAB 15. PATH .

Bab 16 Cycle 49 .

50 BAB 16. CYCLE .

Bab 17 Tree dan Spanning Tree 51 .

52 BAB 17. TREE DAN SPANNING TREE .

Bab 18 Masalah minimal spanning Tree 53 .

54 BAB 18. MASALAH MINIMAL SPANNING TREE .

Bab 19 Tree biner dan penelusurannya 55 .

TREE BINER DAN PENELUSURANNYA .56 BAB 19.

Bab 20 Algoritma Dijkstra 57 .

58 BAB 20. ALGORITMA DIJKSTRA .

Appendix 59 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful