Anda di halaman 1dari 14

PENGANTAR

Dengan makin mahal dan langkanya minyak bumi, pemerintah memutuskan untuk melakukan konversi Bahan bakar minyak rumah tangga diganti dengan bahan bakar gas (LPG), jutaan tabung gas 3 kg berikut kompornya dibagikan kepada rakyat Indonesia yang belum memiliki dan belum mampu membeli kompor gas, kedepan bagaimanapun bahan bakar fosil makin langka (temasuk LPG) sehingga secara ekonomis kedepan tidak mungkin harga bahan bakar fosil bisa murah. sekeliling kita di masarakat pertanian cukup banyak energy yang belum termanfaatkan secara optimal dari sekam padi, jerami, tongkol jagung, kulit kacang tanah, batang kedelai dll yang merupakan residu hasil pertanian. Salah satu methode pemanfaatan nya yalah dikenal dengan gasifikasi dimana biomas tersebut dengan dibakar dengan oxygen terbatas dan menghasilkan arang, tar dan gas dengan istilah teknik Producer Gas atau Suyntetic Gas/ Syngas yang lebih aman dan nyaman digunakan sebagai energy panas (heating energy) maupun untuk power (diesel, turbine dll). Gasifikasi adalah suatu proses perubahan bahan bakar padat secara termo kimia menjadi gas, dimana udara yang diperlukan lebih rendah dari udara yang digunakan untuk proses pembakaran.. Selama proses gasifikasi reaksi kimia utama yang terjadi adalah endotermis (diperlukan panas dari luar selama proses berlangsung). Media yang paling umum digunakan pada proses gasifikasi ialah udara dan uap. Produk yang dihasilkan dapat dikategorikan menjadi tiga bagian utama, yaitu padatan, cairan (termasuk gas yang dapat dikondensasikan) dan gas permanen. Media yang paling umum digunakan dalam proses gasifikasi adalah udara dan uap. Gas yang dihasilkan dari gasifikasi dengan menggunakan udara mempunyai nilai kalor yang lebih rendah tetapi disisi lain proses operasi menjadi lebih sederhana. Beberapa keunggulan dari teknologi gasifikasi yaitu : 1. Mampu menghasilkan produk gas yang konsisten yang dapat digunakan sebagai pembangkit listrik. 2. Mampu memproses beragam input bahan bakar termasuk batu bara, minyak berat, biomassa, berbagai macam sampah kota dan lain sebagainya.

3. Mampu mengubah sampah yang bernilai rendah menjadi produk yang bernilai lebih tinggi. 4. Mampu mengurangi jumlah sampah padat. 5. Gas yang dihasilkan tidak mengandung furan dan dioxin yang berbahaya. Tahapan Proses Gasifikasi Selama proses gasifikasi terdapat beberapa tahapan proses yaitu: 1. Tahapan pemanasan dimana temperatur padatan naik sampai sebelum terjadi proses pengeringan. 2. Tahap pengeringan dimana terjadi pelepasan uap air dari padatan. 3. Tahap pemanasan lanjut dimana temperatur padatan naik kembali sampai sebelum terjadi proses devolatilisasi. 4. Tahap devolatilisasi dimana volatil dalam padatan keluar sampai tersisisa arang. Tergantung dari bahan bakar yang digunakan volatil dapat terdiri dari gas-gas H2O, H2N2, O2, CO, CO2, CH4, H2S, NH3, C2H6 dan hidrokarbon tidak jenuh. 5. Tahap gasifikasi 6. Tahap pembakaran arang (terjadi jika masih terdapat udara yang tersisa) Perbandingan Teknologi Gasifikasi dan Pembakaran Terdapat beberapa perbedaan antara proses gasifikasi dengan pembakaran secara langsung, diantaranya adalah sebagai berikut: Perbedaan Gasifikasi Meningkatkan Tujuan nilai tambah dan Pembakaran Membangkitkan panas atau mendestruksi sampah sempurna

kegunaan dari sampah atau material dengan nilai rendah Konversi kimia dan

termal Pembakaran

Jenis Proses

menggunakan sedikit oksigen atau menggunakan udara berlebih tanpa oksigen (oksigen) CO2, H2O, SO2, NOx dan partikulat

Komposisi gas kotor sebelum dibersihkan

H2, CO, H2S, NH3 dan partikulat

Komposisi gas bersih Produk padatan Temperatur(oC) Tekanan

H2 dan CO Arang atau kerak (slag) 700-1500 Lebih dari 1 atm

CO2 dan H2O Abu 800-1000 1 atm

PENDAHULUAN

I. Energy Biomass dapat dimanfaatkan melalui tiga methode:

1.1.Pembakaran langsung (burning) Ini adalah teknologi biomass energy yang paling tua atau Teknologi generasi pertama , barang kali setua peradaban manusia , dan dibanyak negara masih menggunakan kayu sebagai bahan bakar masak memasak, dimana kayu bakar kering dimasukkan kedalam tungku tanah dan dinyalakan untuk kebutuhan masak memasak, bahkan sampai saat ini di Papua masih digunakan pembakaran kayu untuk memasak dan acara ritual yang dikenal sebagai bakar batu.

1.2.Pengarangan dan pemadatan (carbonasi and briketing) Teknologi biomas energy generasi kedua adalah pengarangan dimana biomas dibakar dengan oxygen terbatas untuk dijadikan arang untuk mengurangi asap pada saat pembakaran dan untuk kemudahan engemasan dan pengiriman arang arang tersebut dipadatkan dengan bentuk dan ukuran yang dikehendaki (dibriketkan).

1.3.Konversi gasifikasi atau konversi ethanol Salah satu teknologi biomas energy generasi ke tiga adalah teknologi air gasifikasi , dimana biomas dibakar dengan oxygen terbatas (30% dari kebutuhan pembakaran sempurna) sehingga dihasilkan syngas H2 CO CH4 sebagai gas baker dengan hasil sampingan berupa arang dan juga asap cair (liquid smoke).

II. Theori gasifikasi.

2.1. Materi biomasa.

Materi bimasa terbentuk sbb

Proses foto sintesa oleh sinar matahari pada daun hijau akan merubah gugus CO2 dan H2O menjadi CH1.4O0.6 dan 1.05O2, Jadi kandungan biomas adalah Carbon, Hydrogen dan Oxygen. CH1.4O0.6 + 0.2O2 + 0.8N2 CO + 0.7H2 + 0.8N2 Pada pembakaran biomasa dengan Oxygen terbatas akan dihasilkan gas CO dan Hydrogen (sebagai producer gas/ synthetic gas) ,selain itu juga karena kandungan air dari biomas maka pada proses pemanasan atau pembakaran akan dihasilkan H2O dalam bentuk gas/uap, dihasilkan juga gas metan CH4 dan Nitrogen yang berasal dari udara serta tar dan partikel debu.

Tahapan gasifikasi

Zone Pengeringan Kadar air dari biomass akibat adanya rambat panas dikeringkan dihasilkan uap air yang juga merupakan bagian dari produser gas.

Zone Pyrolisis Dengan temperature yang lebih tinggi biomass terdekomposisi mmenghasilkan tar dan CH4 (pyrolisis gas)dan juga arang.

Zone pembakaran. Substansi dari dari bahan bakar padat termasuk biomas biasanya adalah elemen karbon, hydrogen dan oxygen, pada pembakaran sempurna carbon akan dibakar menjadi karbondioksida, hydrogen akan terbakar menjadi uap air, reaksi pembakaran exothermic dan pada temperature pembakaran 1450 celsius. C + O2 CO2 + 393 MJ/ kg mole > Pembakaran 2H2 + O2 2H2O - 242 MJ/ kg mole

Zone reduksi.

Pada zona reduksi beberapa reaksi terjadi menghasilkan carbon monoxide dan hydrogen sebagai constituent utama dari produser gas C +CO2 2 CO - 164.9 MJ/ kg mole. >Boudouard reaksi C +H2O CO + H2 - 122.6 MJ/ kg mole > water gas reaksi CO +H2O CO2 + H2 + 42 MJ/ kg mole > water shift reaksi C +2H2 CH4 + 75 MJ/ kg mole > Methane reaksi CO2 +H2 CO + H2O - 42,3 MJ/ kg mole.

Secara global gasifikasi diklasifikasikan sbb dengan beberapa modifikasinya.

Up draft (counter current ) gasifikasi Type yang paling sederhana dari gasifikasi adalah up draft, biomas dimasukkan dari bagian atas reactor dan bergerak kebawah menghasilkan gas dan arang, pemasukan udara untuk pembakaran dari bawah dan produser gas keluar dari atas, biomass sebagai bahan baker bergerak berlawanan arah dengan dengan aliran produser gas (counter current flow) melewati zona pengeringan, zona distilasi, zona reduksi dan zona oxidasi/pembakaran.

Down draft ( co current) gasifikasi

Pada type down draft biomas dimasukkan dari atas begitu pula udara untuk pembakaran, produser gas akan mengalir dari bawah reakror , jadi aliran biomas dan udara searah (co current flow) , zona pengeringan zona pirolisis zona reduksi seperti up draft diatas, kelebihan utama dari type down draft adalah menghasilkan producer gas dengan kandungan tar rendah. Cross draft gasifikasi

Fluidized bed gasifikasi

Didesign untuk mengatasi problem dari fixed bed dengan biomasa berkadar abu tinggi, type ini sesuai untuk gasifikasi dengan kapasitas besar , dibanding dua type diatas temperature gasifikasi relative lebih rendah ( 750 900 celsius) sementara pada fixed bed diatas 1200 celsius.

2.2. Gas biomasa untuk energy pemanasan. Gas biomasa dimanfaatkan sebagai energy pemanasan (heating energy), dimana tuntutan kwalitas gas yang dihasilkan tidak terlalu dipentingkan, kecuali untuk tujuan tujuan tertentu, selama periode 2007 2008 telah kami coba terapkan gas biomasa sebagai energy panas seperti gambar gambar dibawah.

Gas biomasa untuk keperluan memasak rumah tangga dan pondok pesantren. (pondok pesantren Tebuireng Jombang)

Gas biomasa untuk mesin pengering padi menggantikan energy minyak tanah. (terpasang pada mesin pengering padi di Madiun)

2.3. Pemanfaatan Biomass Energy di Negara tetangga. Sekilas bisa kita lihat bahwa beberapa Negara tetangga ternyata sangat intent dan concern dengan pengembangan aplikasi biomass energy.

200 Kw diesel gasifikasi pada penggilingan padi di Camboja.

Filipina memanfaatkan sekam untuk heating energy (reactor gasifikasi untuk indistri bakery) Dari ilustrasi diatas harus diakui bahwa dalam hal pemanfaatan biomas energy kita jauh ketinggalan dari Negara Negara tetangga, sementara hampir seluruh bahan / feedstock untuk biomass gasifikasi cukup banyak di Indonesia, yang keberadaannya merupakan by produk pertanian yang mudah dan murah untuk didapat, hanya mengeluarkan biaya untuk collecting, transport dan atau resizing apabila diperlukan.

III. Biomass material. 3.1. Feedstock yang tersedia cukup banyak di Negara kita.

Sekam padi energy terabaikan.

Dari data diatas dari sekam padi saja dengan jumlah lebih dari 11.000 ton pertahun merupakan potensi energy yang luar biasa, belum dari togkol jagung, batok kelapa, limbah sawit, limbah tanaman kacang kacangan, kotoran ayam (poultry manure) dll. Dari table diatas dapat dilihat betapa ekonomisnya penggunaan sekam padi untuk heating energy dibanding dengan fosil energy, meskipun dibanding dengan harga yang disubsidi.

3.2. Gas biomasa untuk penggerak diesel.

Diagram diatas menjelaskan lebih rinci tahap demi tahap biomass gasifikasi.

Dari ilustrasi diatas terlihat bahwa synthetic gas atau producer gas mengandung air (H2O)dalam bentuk uap, tar, gas CO, gas metan CH4 , gas CO2 dan H2 dan juga tidak bisa dihindari adanya partikel partikel debu. Kandungan uap air sangat tergantung dari kandungan air yang terdapat dari bahan biomasa, makin tinggi kandungan air biomasa akan didapat producer gas dengan kandungan uap air makin tinggi, begitu juga kandungan tar sangat tergantung dari karakter bahan biomasa, untuk heating energy kandungan air dan tar diatas tidak begitu menimbulkan masalah, tetapi untuk diesel gasifikasi akan mempengaruhi baik performance maupun kemungkinan terjadinya percepatan keausan dari mesin.

Gas Clean Up. Adalah upaya upaya mengeliminasi kandungan kandungan yang tidak diinginkan diatas dan sekaligus mendinginkan producer gas, untuk mengeliminasi partikel padat terikut umumnya digunakan cyclone, penelitian menunjukkan bahwa cyclone dengan design yang baik cukup effektif mengeliminasi partikel padat sd 70%. dengan semburan air (water scruber) atau pendinginan tidak langsung (dengan penukar panas atau condenser), semburan air merupakan method yang paling mudah dan sederhana tetapi mengakibatkan naiknya moisture content producer gas dan menghasilkan air yang tercemar dengan tar yang biasanya mengandung phenol. Pendinginan dengan penukar panas sedikit complicated tetapi akan dihasilkan producer gas yang lebih bersih karena selain berfungsi mendinginkan gas juga akan terjadi pengkondesasian uap air sekaligus tar yang terkandung dalam producer gas, sehingga dihasilkan by produk berupa asap cair (liquid smoke) yang juga mampunyai nilai ekonomis.

Beberapa diesel gasifikasi. Universitas California di Davis telah mengembangkan diesel gasifikasi, dengan reactor gasifikasi berdiameter 25 cm dilengkapi dengan gas clean up dikopel dengan mesin diesel silinder tunggal buatan China Type S195, dihasilkan output 5.59 kW atau 63,37% dari tenaga rata rata . diuji coba untuk pompa air selama 60 jam dengan hasil memuaskan. Composisi gas yang dihasilkan (Vol%) : CO 13,4%, H2 11,1%, CH4 22%,N2 58,9%, H2O 4,13%, specific gas output 2,39 Nm3/kg sekam.

Diagram diatas terlihat producer gas yang masih panas (diatas 250 celsius) didinginkan dengan scruber air sekaligus mengurangi partikel partikel padat yang terikut selanjutnya dilewatkan melalui filter yang akan mengurangi sisa partikel halus dan mengurangi moisture/ kelembaban dari producer gas, sehingga dihasilkan producer gas yang lebih bersih. Karena tar dll terikut di water scruber maka perlu kajian pengaruh dampak lingkungannya.

Angkur diesel gasifikasi (Srilangka) memberikan diagram gas clean up sbb:

Producer gas dengan venture scruber disembur air sebagai pendingin gas sekaligus mengurangi partikel padat yang terikut, selanjutnya dilewatkan dalam system saringan untuk mengurangi tar dan kelembaban sebelum dialirkan ke diesel engine. Angkur gasifikasi juga menghasilkan air scruber yang tercemar tar. Aplikasi biomas gasifikasi sudah dikembangkan dan diaplikasikan sejak 1996 baik untuk thermal energy (energy panas) maupun untuk power energy (diesel gasifikasi). India.

Scema diatas adalah reactor gasifikasi dengan gas clean up yang dikembangkan di India, producer gas dilairkan melalui box untuk mengeliminasi partikel padat selanjutnya dilewatkan melalui double cyclone, saringan gravel kasar dan didinginkan dengan heat exchanger kemudian dilewatkan saringan arang untuk mengurangi tar. Tidak digunakan pendingin semburan air (water scruber) sehingga tidak ada air buangan yang tercemar phenol dan tar, dengan pendingingan menggunakan heat exchanger seperti diagram diatas akan dihasilkan producer gas yang dingin tetapi masih tercampur dengan tar dan asap cair yang terkondensasi, model ini juga sudah sangat banyak di implementasikan dengan berbagai kapasitas untuk berbagai kebutuhan.

Indonesia.

Diagram diatas adalah model reactor gasifikai dengan system gas clean up yang dikembangkan di Indonesia, disbanding dengan beberapa diagram diatas adalah yang paling complicated tetapi tidak berhasil mencapai sasaran. Indonesia tahun1996 dengan dana international grant juga mengembangkan biomasa gasifikasi, sekitar 50 unit telah dikembangkan , sebagian diantaranya oleh PT Boma Bisma Indra dikenal sebagai Bioner 1 adalah down draft gasifikasi berbahan sekam padi, dikopel dengan diesel 18 KWe, dengan claim mampu menggantikan 67 sd 87% bahan bakar solar, dengan dana dari grant international agencies for development country ,problems yang dihadapi adalah tidak mampu meremove kandungan tar, sehingga selanjutnya project ini di abaikan (currently abandoned), begitu juga di Hargeulis 2003 dipasang 100 Kva dioperasikan PLN dengan dana DGEEU currently shutdown.

Apa yang mungkin diterapkan di Indonesia.

Dari ilustrasi diatas dapat disimpulkan bahwa berbagai metode gasifier reactor dan gas clean up telah dikembangkan dan diterapkan oleh berbagai Negara berkembang, sedangkan Indonesia dengan hambatan adanya kandungan tar kajian dan terapan selanjutnya dibatalkan (currently abandoned and shutdown). Beberapa metode pendinginan dan pembersihan producer gas dengan water scruber (semburan partikel air) sehingga didapat producer gas dingin dengan sebagian besar tar terikut di water scruber tetapi juga memberikan effect producer gas akan mengandung tambahan uap air, dan air buangan water scruber yang dibuang akan mengandung tar yang didalamnya ada phenol yang berdampak negative pada lingkungan. Terapan lain yang sangat memungkinkan dan masih dalam criteria sederhana adalah dengan mengkombinasi cyclone untuk mengurangi partikel padat yang terikut bersama aliran producer gas yang masih panas yang selanjutnya dialirkan dalam penukar panas dengan media pendingin air, sehingga akan didapat producer gas dingin yang bersih dan kering , tar akan dikondensasikan bersama kandungan uap air dari hasil pengeringan dan pembakaran biomasa dan akan dihasilkan produk sampingan asap cair (liquid smoke), sehingga air buangan bebas dari tar maupun phenol. Gas yang telah didinginkan dan dibersihkan dapat dimanfaatkan untuk diesel engine yang lebih dikenal dengan dual fuel engine, yaitu mesin diesel dengan bahan bakar solar dan gas dengan perbandingan 30% solar dan 70% menggunakan gas hasil dari biomas gasifikasi.

Continu gasifikasi dengan gas clean up (model dikembangkan di Jombang)

Model Gasifikasi continu bhn sekam padi dengan gas clean up (dihasilkan producer gas dingin dan bersih, arang dan asap cair)