Anda di halaman 1dari 49

Mery Kristianti 0510168

Pembimbing : dr. Giyati Retnowati., SpA

KETERANGAN UMUM
 Nama Penderita

: By Ny Leni  Jenis kelamin : Laki-laki  Tempat & tanggal lahir : Bandung, 13 April 2012  Umur : 4 hari  Tanggal dirawat : 13 April 2012  Tanggal diperiksa : 16 April 2012

Ayah  Nama : Tn. Agus Kusnadi  Umur : 22 tahun  Pekerjaan: Polisi  Penghasilan : Tidak bersedia menyebutkan  Alamat : Perum nangela, Tasikmalaya

Ibu  Nama : Ny. Leni  Umur : 20 tahun  Pendidikan : SMA  Pekerjaan : IRT  Alamat : Perum nangela, Tasikmalaya

ANAMNESIS
(heteroanamnesis dengan ibu pasien tanggal 16 April 2012)
 Keluhan Utama : kulit kuning  Pasien terlihat kuning, terjadi sehari setelah kelahiran,

orang tua pasien tidak mengetahui dari bagian tubuh mana kuning tersebut timbul, penderita masih kuat untuk minum ASI.  Warna kuning tampak hampir diseluruh tubuh pasien, keluhan kuning tidak disertai kejang, muntah, panas badan, serta penurunan kesadaran.  BAB : warna kuning, jumlah, frekuensi serta konsistensi dalam batas normal  BAK : warna kuning, jumlah dan frekuensi dalam batas normal

kontak dengan penderita sakit kuning sebelumnya.  Riwayat persalinan : penderita lahir cukup bulan. lahir SC . RPK : tidak ada anggota keluarga yang sakit kuning  Riwayat kehamilan : Riwayat PNC teratur. pernah ditransfusi darah selama kehamilan. karena gagal drip. menggunakan obat terlarang. pergi ke endemis hepatitis. ibu penderita menyangkal minum obat atau jamu secara teratur selama kehamilan. . bayi segera menangis.

Lahir hidup: 2 Lahir mati: .Abortus: 1  Lahir: aterm. langsung menangis.Riwayat kehamilan dan persalinan  Anak: ke-2 dari 2 anak. SC. Panjang badan lahir: 44 cm . ditolong oleh dokter  Berat badan lahir: 2410 gr.

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum  Kesadaran : compos mentis  Kesan sakit : sedang  Posisi : tidak ada letak paksa  Penampilan umum : Mental  normal Fisik  terlihat kuning .

5 oC :- .Tanda Vital  Nadi  Respirasi  Suhu  Tensi : 140 x/mnt. isi cukup : 48 x/mnt : (aksiler) 36. regular. ekual.

Pengukuran  Berat badan  Panjang badan : 2260 gram : 44 cm .

tidak pucat. frenulum lingue ikterik Leher : KGB tidak teraba membesar.Pemeriksaan Sistematik Kulit : ikterik +. UUB datar Mata : konjungtiva tidak anemis. sklera ikterik +/+ Telinga : tidak ada sekret Hidung : PCH -. retraksi suprasternal - . tidak ada sekret Mulut : bibir lembab. kramer IV. tidak sianosis Kepala : bentuk& ukuran normal simetris. mukosa basah.

retraksi interkostal ekspansi nafas simetris Sonor + - .Thorax-pulmo Hemithorax kiri Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi  VBS  Ronki  Wheezing  Slem Sonor + Hemithorax kanan bentuk normal. pergerakan nafas simetris.

CRT < 2 .a.Cor : bunyi jantung murni. tidak ada murmur Abdomen : datar. testis sudah turun.k Anus dan Rektum : anus +. lien tidak teraba. reguler. lembut.a. konsistensi kenyal. hepar teraba membesar 2 cm BAC (tepi tajam.k Anggota gerak dan tulang : akral hangat. permukaan rata). t. bising usus + N Alat Kelamin : ♂. t.

Neurologis Refleks fisiologis : sulit dinilai Refleks patologis : babinski + Rangsang meningen Kaku kuduk : sulit dinilai Saraf otak Pupil bulat.5mm refleks pupil sukar dinilai  N I. VII. XII : kesan normal  N VIII : kesan normal  N IX dan X : kesan normal  Doll’s eye maneuver (+) : Motorik Kekuatan motoris: kesan baik Normotonus. II. Ø 2. isokor. parese - Sensorik Rangsang nyeri +/+ Saraf Otonom : kesan normal Vegetatif : Kesan normal Refleks primitif Moro Sucking Rooting Plantar grasp Palmar grasp :+ :+ :+ : +/+ : +/+ . XI : sulit dinilai  N V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Bilirubin total Bilirubin direk Bilirubin indirek Gol darah : 13.21 mg/dl : 0.03 mg/dl :A .18 mg/dl : 13.

. dengan BB 2260 g. jumlah. muntah (-). jumlah dan frekuensi tidak tampak kelainan. Warna kuning (+) hampir diseluruh tubuh. Keluhan Utama : kulit kuning Sejak sehari setelah lahir. penurunan kesadaran(-). demam(-). kejang (-). TB 44      cm. BAK : warna kuning. berusia 4 hari. BAB : warna kuning.RESUME  Seorang bayi ♂ . pasien masih kuat untuk minum ASI. frekuensi serta konsistensi tidak tampak kelainan.

dengan SC . . a/i gagal drip. RPK : (-)  Riwayat kehamilan : Riwayat PNC teratur  Riwayat persalinan : Lahir cukup bulan. bayi segera menangis.

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum  Kesadaran : compos mentis  Kesan sakit : sedang  Posisi : tidak ada letak paksa  Penampilan umum : Mental  normal Fisik  terlihat kuning .

Tanda Vital  Nadi : 140 x/mnt. regular.5 oC  Tensi :Pengukuran  Berat badan : 2260 gram  Panjang badan : 44 cm . isi cukup  Respirasi : 48 x/mnt  Suhu : (aksiler) 36. ekual.

frenulum lingue ikterik Leher : KGB tidak teraba membesar. tidak sianosis Kepala : bentuk& ukuran normal simetris. retraksi suprasternal - . sklera ikterik +/+ Telinga : tidak ada sekret Hidung : PCH -. tidak ada sekret Mulut : bibir lembab. UUB datar Mata : konjungtiva tidak anemis.Pemeriksaan Sistematik Kulit : ikterik +. tidak pucat. kramer IV. mukosa basah.

retraksi interkostal ekspansi nafas simetris Sonor + - . pergerakan nafas simetris.Thorax-pulmo Hemithorax kiri Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi  VBS  Ronki  Wheezing  Slem Sonor + Hemithorax kanan bentuk normal.

konsistensi kenyal.k Anus dan Rektum : anus +. lien tidak teraba. hepar teraba membesar 2 cm BAC (tepi tajam.Cor : bunyi jantung murni.a. t. bising usus + N Alat Kelamin : ♂. permukaan rata). tidak ada murmur Abdomen : datar. t. lembut.a.k Anggota gerak dan tulang : akral hangat. reguler. CRT < 2 . testis sudah turun.

II. VII. XII : kesan normal  N VIII : kesan normal  N IX dan X : kesan normal  Doll’s eye maneuver (+) : Motorik Kekuatan motoris: kesan baik Normotonus.5mm refleks pupil sukar dinilai  N I. isokor.Neurologis Refleks fisiologis : sulit dinilai Refleks patologis : babinski + Rangsang meningen Kaku kuduk : sulit dinilai Saraf otak Pupil bulat. parese Sensorik Rangsang nyeri +/+ Saraf Otonom : kesan normal Vegetatif : Kesan normal Refleks primitif Moro Sucking Rooting Plantar grasp Palmar grasp :+ :+ :+ : +/+ : +/+ . XI : sulit dinilai  N V. Ø 2.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Hiperbilirubinemia .

♂. Fisiologis 2. lahir SC a/i gagal drip + BBLR  Diagnosis kerja : ikterus neonatorum fisiologis + BBLR . 1.c.DIAGNOSIS  Diagnosis Banding : ikterus neonatorum e. Patologis  Diagnosis tambahan : neonatus. aterm.

pemeriksaan antibodi Rh. ABO  Bilirubin direk .USUL PEMERIKSAAN  Pemeriksaan bilirubin serum berkala  Coomb’s test.

5 -37.PENATALAKSANAAN Non medika mentosa :  Fototerapi dengan blue lamps  Berikan minum ASI dini dan sering  Pertahankan suhu tubuh 36.5o C  Infus Dextrose 5% .

PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam : ad bonam : ad bonam .

susu botol maupun dekstrosa) pada neonatus nondehidrasi. Melarang pemberian cairan tambahan (air.Pencegahan  PNC yang baik  Menghindari obat-obatan yang dapat membuat bayi menjadi      kuning pada masa kehamilan dan kelahiran (missal: sulfafurazol. . novobiocin) Pencegahan infeksi Jemur bayi di bawah matahari pagi Pemberian ASI pada semua bayi cukup bulan dan hampir cukup bulan yang sehat sedikitnya 8-12 kali sehari selama beberapa hari pertama. ⇧ frekuensi menyusui.

Pembahasan Ikterus neonatorum :  Keadaan diskolorisasi kulit. membran mukosa dan sklera k/ ⇧ kadar bilirubin dalam serum (>2 mg/dl)  Secara klinis tampak pd kadar bilirubin darah 5-7mg/dl  Klasifikasi : Ikterus fisiologis Ikterus patologis .

Etiologi Ikterus patologis:  Anemia hemolitik: isoimunisasi.  Ekskresi bilirubin menurun.  Polisitemia. retroperitoneal dan sefalhematom.  Sirkulasi enterohepatik berlebihan: obstruksi usus.  Defek konjugasi bilirubin. dan mikroangiopati. ileus . ptekie. sekunder dari infeksi.  Ekstravasasi darah: hematoma. perdarahan paru. stenosis pilorus.Etiologi Ikterus fisiologis:  Peningkatan jumlah bilirubin yang masuk ke dalam sel hepar. otak. penyakit hemolitik bawaan. defek eritrosit.  Defek pengambilan bilirubin plasma.

4. 3. Ikterus menetap setelah 8 hr pada BCB. 5. kadar bilirubin total > 17 mg/dL Ikterus patologis : 1.Kriteria diagnosis: Ikterus fisiologis : 1. 4. 2. dan setelah 14 hr pada BKB Bilirubin direk > 2 mg/dL . Terjadi setelah 24 jam pertama 2. 3. Bayi cukup bulan nilai puncak 6-8 mg/dL tercapai hr ke 3-5 Bayi kurang bulan nilainya 10-12 mg/dL bahkan sampai 15 mg/dL Peningkatan bilirubin serum < 5 mg/dL Terjadi dalam 24 jam pertama Peningkatan bilirubin serum > 5 mg/dL Bayi yang mendapat ASI.

.

2 14. clavicula diteken ga kuning Clavicula diteken dah kuning s/d di atas 2 pusat (pusat belum kuning) 3 4 malelolus lateral Malelolus lat diteken 5 kuning s/d acral >20 Pusat s/d di atas lutut Lutut s/d atas 17.1 10.4 Bil .6 7.Pemeriksaan penunjang : klinis Ikterometer Kramer Kramer Kriteria Dari kepala s/d atas 1 clavicula.

TERAPI  Prinsipnya segera menurunkan bilirubin indirek untuk mencegah kern icterus  Fototerapi .

Bilirubin mengabsorbsi cahaya ⇨ rx fotokimia (isomerisasi) ⇨konversi ireversibel menjadi isomer kimia lain (lumirubin) yang dengan cepat dibersihkan dari plasma melalui empedu.Terapi sinar Mekanisme kerja Mengubah bilirubin menjadi bentuk yang larut dalam air untuk dieksresikan melalui empedu atau urin. .

Waktu minum fototerapi distop dulu. Selama penyinaran. Periksa kadar bilirubin total setiap 12-24 jam Berikan ekstra minum 10-15 ml/kgBB .5 C).Pemberian Terapi sinar  Bayi telanjang didalam inkubator (mata dan testis ditutup)  Jarak bayi dengan lampu 45-50 cm. Pantau keseimbangan cairan dan elektrolit. Ukur suhu bayi tiap 2 jam (pertahankan suhu bayi 36.25        inci. Posisi bayi diubah-ubah dalam 24 jam 3 posisi.5-37. ibu diizinkan kontak dengan bayi.  Bagian bawah unit fototerapi ditutup lapisan termoplastik setebal 0.

Indikasi Terapi sinar Berdasarkan Kadar Bilirubin Serum Usia Bayi Cukup Bulan Sehat Dengan Faktor Risikoa mg/dL Hari ke-1 Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4 dan seterus µmol/l mg/dL µmol/l Kuning terlihat pada bagian tubuh manapunb 15 18 20 260 310 340 13 16 220 270 290 17 .

Indikasi Terapi Sinar Pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah Berat Badan (gr) Kadar Bilirubin (mg/dL) < 1000 1000 – 1500 1500 – 2000 2000 – 2500 Fototerapi dimulai dalam usia 24 jam pertama 7–9 10 – 12 13 – 15 .

Komplikasi Terapi Sinar Kelainan Mekanisme yang mungkin terjadi Bronze baby syndrome Berkurangnya ekskresi hepatik hasil penyinaran bilirubin Diare Bilirubin indirek menghambat laktase Hemolisis Fotosensitivitas mengganggu sirkulasi eritrosit Dehidrasi Bertambahnya Insensible Water Loss (30-100%) karena menyerap energi foton Gangguan fotosensitasi terhadap sel mast kulit dengan pelepasan histamin Ruam kulit .

1982). . Tujuan : mencegah terjadinya ensefalopati bilirubin dengan cara mengeluarkan bilirubin indirek dari sirkulasi.TRANFUSI TUKAR Tindakan pengambilan sejumlah kecil darah yang dilanjutkan dengan pengembalian darah dari donor dalam jumlah yang sama yang dilakukan berulang-ulang sampai sebagian besar darah penderita tertukar (Friel.

 ISOVOLUMETRIC. . Darah secara bersamaan dan simultan dikeluarkan melalui arteri umbilikalis dan dimasukkan melalui vena umbilikalis dalam jumlah yang sama.  PARTIAL EXCHANGE TRANFUSION. dilakukan biasanya pada bayi dengan polisitemia. Push-Pull tehnique : jarum infus dipasang melalui kateter vena umbilikalis/ vena saphena magna. Darah dikeluarkan dan dimasukkan bergantian. Tranfusi tukar sebagian.Teknik Transfusi Tukar:  SIMPLE DOUBLE VOLUME.

Indikasi Transfusi Tukar Berdasarkan Kadar Bilirubin Serum Usia Bayi Cukup Bulan Sehat mg/dL Hari ke-1 Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4 dst 15 25 30 30 Dengan Faktor Risiko mg/dL 13 15 20 20 .

enterokolitis nekrotikan  Lain-lain: hipotermia. hipernatremia. hepatitis virus. hipoglikemia . trombosis  Kelainan jantung: aritmia. overload. asidosis  Koagulasi: trombositopenia.Komplikasi Transfusi Tukar  Vaskular: emboli udara atau trombus. sitomegalik. heparinisasi berlebih  Infeksi: bakteremia. henti jantung  Gangguan elektrolit: hipo/hiperkalsemia.

. agar beredar dalam sirkulasi Hisap dan masukkan darah berulang kali dengan cara yang sama sampai target transfusi tukar selesai Catat setiap kali darah yang dikeluarkan dan yang masuk pada lembaran observasi transfusi tukar Jika memakai darah dengan pengawet asam sitrat atau stearat fosfat (ACD/PCD) setiap tranfusi 100 mL diberikan 1 mL kalcium glukonas 10 % intra vena perlahan-lahan. Kecepatan menghisap dan mengeluarkan darah sekitar 2 mL/kgBB/menit Setelah darah masuk ke tubuh ditunggu selama 20 detik.Pelaksanaan Tranfusi Tukar  Darah bayi dihisap 10 – 20 mL/ tgtg BB bayi  Darah dibuang melalui pipa pembuangan dengan mengatur klep pada      three way stopcock. Masukkan jumlah yang sama perlahan-lahan.

lakukan jahitan silk purse string atau ikatan kantung melingkari vena umbilikalis. Selama tindakan semua tanda-tanda vital harus diawasi dengan neonatal monitoring  Setelah transfusi tukar selesai. Ketika kateter dicabut jahitan yang mengelilingi tali pusat dikencangkan . darah bayi diambil untuk pemeriksaan pasca transfusi tukar  Jika tidak diperlukan transfusi tukar ulang.

solusio plasenta Gawat janin. Etiologi:           Status sosial ekonomi yang rendah Ras (kulit hitam) Usia ibu < 16 tahun dan > 35 tahun Aktivitas ibu (stress fisik yang lama) Ibu menderita penyakit akut/kronis Kehamilan multiple Kehamilan sebelumnya jelek Malformasi uterus. IUGR Kelahiran dini (salah menentukan usia kehamilan) . trauma uterus.Bayi berat badan lahir rendah/ BBLR Bayi baru lahir dengan berat badan lahir < 2500 gram. plasenta previa.

bayi kurang bulan asfiksia perinatal. BBLR. 3. hipoksemia. perdarahan paru. hiponatremia. hipokalsemia. enterokolitis nekrotikans. asidosis metabolik. pnemonia aspirasi. kecil masa kehamilan depresi perinatal. apneu rekuren. infeksi. BBLR. yaitu: 1. polisitemia. BBLR. hipoglikemia. aspirasi mekonium. besar masa kehamilan Seperti pada bayi kurang bulan . hipo/hipertemia. perdarahan intracranial. 2. anemia prematuritas.Komplikasi Tergantung dari klasifikasi BBLR. penyakit membran hyaline. ikterus neonatorum. PDA.

Perawatan BBLR  Mempertahankan suhu tubuh optimal  Mempertahankan oksigenasi  Memenuhi kebutuhan nutrisi  Mencegah dan mengatasi infeksi  Mengatasi hiperbilirubinemia  Memenuhi kebutuhan psikologis  Melibatkan perawatan kedua orang tua  Program imunisasi .