Anda di halaman 1dari 156
MATERI KULIAH BAHASA INDONESIA UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA OLEH: SEGER & VARIA VIRDANIA
MATERI KULIAH
BAHASA INDONESIA
UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA
OLEH:
SEGER & VARIA VIRDANIA
FUNGSI BAHASA Bahasa adalah ucapan / tulisan verbal untuk  menyatakan dan mengungkapkan sebuah ide /
FUNGSI BAHASA
Bahasa
adalah
ucapan
/
tulisan
verbal
untuk
menyatakan
dan
mengungkapkan
sebuah
ide
/
gagasan.
Tiga Fungsi Bahasa:
1. Bahasa sebagai ekspresi diri
2.
Bahasa sebagai alat berpikir
3.
Bahasa sebagai alat komunikasi
Bahasa Sebagai Ekspresi Diri Bahasa berfungsi mengekspresikan suatu keadaan /  kondisi diri manusia secara langsung
Bahasa Sebagai Ekspresi Diri
Bahasa berfungsi mengekspresikan suatu keadaan /
kondisi diri manusia secara langsung (lisan) maupun
tidak langsung (tulisan) berupa perasaan dan aspirasi.
Adanya
bahasa
verbal
ini
seseorang
dapat
mengungkapkan apa yang ada di dalam benak atau
pikirannya.
Contoh: percakapan, puisi, surat pembaca, surat cinta,
dan seterusnya.
Bahasa Sebagai Alat Berpikir  Bahasa berguna untuk merumuskan sebuah pemikiran. Bahasa terdiri dari satuan tata
Bahasa Sebagai Alat Berpikir
Bahasa berguna untuk merumuskan sebuah pemikiran. Bahasa
terdiri dari satuan tata bahasa (gramatika) yang mengorganisir
kata-kata menjadi susunan yang bermakna.
Sumbangan bahasa bagi kehidupan jelas sangat besar.
Kelangsungan segala kegiatan manusia, salah satunya
disebabkan adanya bahasa. Tanpa bahasa verbal ini, kita tidak
bisa memiliki bayangan kehidupan seperti yang kita alami
sekarang ini.
Bahasa membantu manusia dalam mengabstraksikan segala
sesuatu terkait kehidupannya dan mengambil tindakan sesuai
dengan tujuannya.
Contoh: buku, artikel, iklan, dan sebagainya.
Bahasa Sebagai Alat Komunikasi  Adanya tata bahasa (gramatika) dan kata-kata yang konstan maknanya dalam bahasa,
Bahasa Sebagai Alat Komunikasi
Adanya tata bahasa (gramatika) dan kata-kata yang konstan maknanya
dalam bahasa, maka bahasa verbal adalah satu-satunya sarana untuk
berkomunikasi antarmanusia. Bahasa membantu manusia tidak saja
mengekspresikan/mengungkapkan ide dan alat berpikir, tetapi bahasa
membuat manusia dapat memahami satu sama lain.
Hakikat komunikasi dalam bahasa ini adalah sebuah sarana atau alat agar
berbagai hal dapat disampaikan/dikomunikasikan kepada pihak lain.
Adanya komunikasi inilah yang mensyaratkan adanya interaksi/hubungan
sosial di masyarakat.
Contoh:
1. Percakapan sehari-hari secara langsung maupun tidak langsung, seperti
lewat SMS, chatting, FB, dst.
2. Berita di TV, radio, media cetak, media internet.
3. Perintah yang digunakan petugas parkir, dapat mengarahkan sebuah truk
besar.
Bahasa Indonesia Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928  “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan,
Bahasa Indonesia
Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928
“Kami putra dan putri Indonesia menjunjung
bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”
Pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945
“Bahasa Negara adalah Bahasa Indonesia.”
Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional Bahasa Indonesia sebagai lambang kebanggaan 1. kebangsaan. Bahasa Indonesia sebagai
Kedudukan Bahasa Indonesia
sebagai Bahasa Nasional
Bahasa
Indonesia
sebagai
lambang
kebanggaan
1.
kebangsaan.
Bahasa
Indonesia
sebagai
lambang
identitas
2.
nasional.
3.
Bahasa indonesia sebagai alat
suku bangsa.
pemersatu berbagai
4.
Bahasa Indonesia sebagai alat perhubungan
antardaerah, antarwarga, dan antarbudaya.
Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi 1. kenegaraan. 2. Bahasa Indonesia
Fungsi Bahasa Indonesia sebagai
Bahasa Negara
Bahasa
Indonesia
sebagai
bahasa resmi
1.
kenegaraan.
2.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar
dalam dunia pendidikan.
Bahasa Indonesia sebagai alat perhubungan di
3.
tingkat nasional untuk kepentingan
pembangunan dan pemerintahan.
Bahasa Indonesia sebagai alat pengembangan
4.
kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bahasa Melayu diangkat sebagai bahasa Nasional? Bahasa Melayu sudah merupakan lingua 1. franca Indonesia. Sistem baha
Bahasa Melayu diangkat sebagai
bahasa Nasional?
Bahasa
Melayu
sudah
merupakan
lingua
1.
franca Indonesia.
Sistem baha Melayu sederhana.
2.
3.
Suku-suku bangsa di Indonesia dengan
sukarela menerima bahasa Melayu menjadi
bahasa Nasional Indonesia.
4.
Bahasa Melayu mempunyai kesanggupan
untuk digunakan sebagai bahasa kebudayaan
dalam arti luas.
RAGAM BAHASA KARYA TULIS BUKAN FIKSI DAN FIKSI Pertemuan 2
RAGAM BAHASA KARYA TULIS
BUKAN FIKSI DAN FIKSI
Pertemuan 2
Kenapa Belajar Bahasa Tulis? 1. Bahasa tulis merupakan sarana yang memadai untuk menyampaikan gagasan dalam konteks
Kenapa Belajar Bahasa Tulis?
1. Bahasa tulis merupakan sarana yang memadai
untuk menyampaikan gagasan dalam konteks ilmu
pengetahuan.
Bahasa tulis mensyaratkan gramatika yang lengkap
2.
sehingga karya tulis tidak dibatasi ruang dan waktu.
Bahasa tulis sebagai dokumentasi otentik atas
3.
peristiwa, gagasan, dan karya tulis seseorang.
Bukan Fiksi (non fiction) Bukan Fiksi: tulisan berdasarkan data dan fakta  (kenyataan di luar tulisan),
Bukan Fiksi
(non fiction)
Bukan
Fiksi:
tulisan
berdasarkan
data
dan
fakta
(kenyataan
di
luar
tulisan),
terlepas
cara
menyampaikannya
tergolong
ilmiah
atau
tidak
ilmiah.
Contoh:
1. Biografi
Laporan tulis di media cetak dan media internet.
2.
Sejarah.
3.
Fiksi (fiction) Fiksi: tulisan yang berdasarkan imajinasi dan khayalan  pengarang, namun tetap berpijak pada gagasan
Fiksi
(fiction)
Fiksi: tulisan yang berdasarkan imajinasi dan khayalan
pengarang, namun tetap berpijak pada gagasan nyata.
Kata “fiksi” berasal dari bahasa Latin, “fictum” yang artinya
mencipta.
Tulisan fiksi disampaikan dalam rangkaian kata dan kalimat
yang penuh „bunga‟ gaya bahasa (hiperbola, metafora,
personifikasi, dsb) yang dikategorikan bahasa sastra.
Contoh:
Puisi (sajak, lirik, nyanyian), Prosa (cerita pendek, novel,
roman)
Karya Tulis Ilmiah Karya Tulis Ilmiah: tulisan yang didasari oleh hasil  pengamatan, peninjauan, penelitian, dan
Karya Tulis Ilmiah
Karya Tulis Ilmiah: tulisan yang didasari oleh hasil
pengamatan, peninjauan, penelitian, dan
perenungan dalam bidang ilmu tertentu; disusun
menurut metode tertentu dengan penulisan yang
santun, baik, dan benar; atau berdasarkan kaidah
baku ragam bahasa tulis.
Laporan Penelitian: makalah seminar, jurnal
1.
Karya Tulis Akademik: skripsi, tesis, disertasi
2.
Buku Teks: buku diktat penunjang bahan ajar
3.
Ciri-ciri Karya Tulis Ilmiah 1. Koheren (terintegrasi): satu pikiran utama; ada kejelasan hubungan antara unsur2 pembentuk
Ciri-ciri Karya Tulis Ilmiah
1.
Koheren (terintegrasi): satu pikiran utama; ada kejelasan
hubungan antara unsur2 pembentuk kalimat.
Konsisten (ajeg): tulisan didukung fakta/data terpercaya,
2.
ide tidak meloncat.
3.
Sistematis: berdasar prosedur urutan (pendahuluan-isi-
simpulan).
Konseptual: perencanaan yang terarah dan terfokus.
4.
Komprehensif: tuntas dan menyeluruh.
5.
Logis: argumentasi bisa diterima nalar sehat.
6.
Bebas: leluasa, mempertimbangkan kebebasan pihak lain.
7.
8.
Bertanggung jawab: tulisan yang etis dan berwawasan,
penulis dapat menjawab apapun tentang tulisannya.
Karya Tulis Ilmiah Populer  Karya tulisan ilmiah populer adalah karangan yang ditulis berdasarkan metoda ilmiah
Karya Tulis Ilmiah Populer
Karya tulisan ilmiah populer adalah karangan yang ditulis
berdasarkan metoda ilmiah dengan bahasa komunikatif
hingga mudah dipahami oleh rata-rata pembaca.
Karya tulisan ilmiah populer biasa dimuat atau tersaji di
media massa (cetak dan internet).
Contoh:
-
Reportase (berita)
-
Esai
-
Artikel (opini)
-
Kolom
Karya Tulis Tidak Ilmiah  Karya Tulis non-ilmiah adalah tulisan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi
Karya Tulis Tidak Ilmiah
Karya Tulis non-ilmiah adalah tulisan ilmu pengetahuan yang
menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi
penulisan yang baik dan benar, topik dan cara penyajiannya
juga bervariasi, tapi isinya tidak didukung dengan fakta
umum. Data dihasilkan bukan dari riset langsung, melainkan
hasil dari kesimpulan wawancara, atau bentuk lain.
Ciri-ciri:
Emotif: sedikit informasi, situasional dan tidak sistematis.
1.
2.
Subjektif: lebih mengedepankan pendapat pribadi penulis
yang bersifat retorik, dan kebenaran yang ada adalah secara
nalar.
3.
Kritik (tanpa dukungan bukti): tidak memuat informasi
spesifik, berisi bahasan dan kadang-kadang mendalam tanpa
bukti, berprasangka menguntungkan atau merugikan, formal
tetapi sering dengan bahasa kasar, subyektif dan pribadi.
EJAAN YANG DISEMPURNAKAN (EYD) Pertemuan 3
EJAAN YANG DISEMPURNAKAN
(EYD)
Pertemuan 3
Ejaan  Ejaan adalah seperangkat aturan atau kaidah pelambangan bunyi bahasa, pemisahan, penggabungan, dan penulisannya termasuk
Ejaan
Ejaan adalah seperangkat aturan atau kaidah pelambangan bunyi
bahasa, pemisahan, penggabungan, dan penulisannya termasuk
menggunakan tanda baca dalam suatu bahasa.
Kaidah tersebut harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi
keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa
tulis.
Ruang Lingkup EYD
Pemakaian huruf
1.
Penulisan huruf Kapital
2.
Penulisan huruf Miring
3.
Penulisan kata
4.
Penulisan unsur serapan
5.
Pemakaian tanda baca
6.
1. Pemakaian Huruf  Pelafalan harus sesuai dengan pelafalan fonem (bunyi) bahasa Indonesia. Contoh : AC
1. Pemakaian Huruf
Pelafalan harus sesuai dengan pelafalan fonem
(bunyi) bahasa Indonesia.
Contoh : AC dibaca a-ce bukan a-se
Cara penulisan nama diri (nama jalan, sungai, gunung
dan nama lainnya) harus mengikuti EYD, kecuali ada
pertimbangan khusus yang menyangkut segi adat,
hukum, atau sejarah.
Contoh :
- Rumahnya di Jalan Pajajaran No. 5 Bandung.
- Ayahku dosen di Universitas Padjajaran Bandung.
2. Penulisan Huruf Kapital HK dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat. 1. HK dipakai sebagai
2. Penulisan Huruf Kapital
HK dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat.
1.
HK dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
2.
3.
HK dipakai sebagai huruf pertama ungkapan nama Tuhan
dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
HK dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar
4.
kehormatan,
keturunan,
dan
keagamaan
diikuti
nama
orang.
HK dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan
5.
pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai
sebagai pengganti nama orang, nama instansi, atau nama
tempat.
HK dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama
6.
orang.
7.
HK dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku
bangsa, dan bahasa.
8. HK dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa bersejarah. 9.
8. HK dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari,
hari raya, dan peristiwa bersejarah.
9. HK dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.
10.
HK dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara,
nama resmi badan/lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan,
serta nama dokumen resmi.
11.
HK dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang
sempurna yang terdapat pada nama badan/lembaga.
12.
HK dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam
penulisan
nama
buku,
majalah,
surat
kabar,
dan judul
karangan.
13.
HK dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan
kekerabatan seperti Bapak, Ibu, Adik, Kakak, Paman yang
dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
14.
HK dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama
gelar, pangkat, dan sapaan.
15.
HK dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
3. Penulisan Huruf Miring  Huruf Miring dipakai untuk menulis nama buku, majalah, dan surat kabar
3. Penulisan Huruf Miring
Huruf Miring dipakai untuk menulis nama buku,
majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
contoh: Majalah Bahasa dan Sastra.
Huruf
Miring
dipakai
untuk
menegaskan
atau
mengkhususkan
huruf,
bagian
kata,
kata
atau
kelompok kata.
contoh: Dia bukan menipu, tapi ditipu.
Huruf Miring dipakai untuk menuliskan kata nama
ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah
disesuaikan ejaannya.
contoh: Politik devide et impera pernah merajalela
di negeri ini.
4. Penulisan Kata Kata Dasar 1. Kata Turunan 2. Kata Ulang 3. Gabungan Kata 4. Kata
4. Penulisan Kata
Kata Dasar
1.
Kata Turunan
2.
Kata Ulang
3.
Gabungan Kata
4.
Kata Ganti –ku-, kau-, -mu, dan –nya
5.
Kata Depan di, ke, dan dari
6.
Kata Si dan Sang
7.
Partikel
8.
Singkatan dan Akronim
9.
Angka dan Lambang
10.
http://pusatbahasa.depdiknas.go.id/lamanv4/sites/default/files/EJ
D-KKP-PBN-BID.PENGEMBANGAN.pdf
5. Penulisan Unsur Serapan  Berdasar dibagi dua: integrasinya, unsur serapan (pinjaman)  Pertama, unsur serapan
5. Penulisan Unsur Serapan
Berdasar
dibagi dua:
integrasinya,
unsur serapan (pinjaman)
Pertama, unsur serapan yang belum sepenuhnya
terserap dalam bahasa Indonesia, dipakai dalam
konteks bahasa Indonesia tetapi pengucapan masih
mengikuti cara asing seperti reshuffle, shuttle cock.
Kedua, unsur serapan yang pengucapan dan
penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa
Indonesia, ejaan diubah seperlunya sehingga masih
dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya. Misal;
risk (risiko), system (sistem), effective (efektif).
6. Pemakaian Tanda Baca Tanda Titik (.) 1. Tanda Koma (,) 2. Tanda Titik Koma (;)
6. Pemakaian Tanda Baca
Tanda Titik (.)
1.
Tanda Koma (,)
2.
Tanda Titik Koma (;)
3.
Tanda Dua Titik (:)
4.
Tanda Hubung (-)
5.
Tanda Pisah (—)
6.
Tanda Elipsis (…)
7.
Tanda Tanya (?)
8.
Tanda Seru (!)
9.
Tanda Kurung ((…))
10.
Tanda Kurung Siku ([…])
11.
Tanda Petik (―…‖)
12.
Tanda Petik Tunggal (‗…‘)
13.
Tanda Garis Miring (/)
14.
Tanda Penyingkat atau Apostrof („kan = akan, „lah = telah, ‟88 =
15.
1988)
http://pusatbahasa.depdiknas.go.id/lamanv4/sites/default/files/EJD-KKP-PBN-
BID.PENGEMBANGAN.pdf
KALIMAT Pertemuan 4
KALIMAT
Pertemuan 4
KALIMAT  Kalimat : satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran secara utuh, baik dengan cara lisan
KALIMAT
Kalimat : satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran
secara utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan.
Wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan
keras lembut, disela jeda, dan diakhiri intonasi akhir yang diikuti
oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan atau
asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lain.
Wujud tulisan, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri
dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!); dan di
dalamnya dapat disertakan tanda baca seperti koma (,), titik dua
(:), pisah (-), dan spasi. Tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru
pada wujud tulisan sepadan dengan intonasi akhir pada wujud
lisan, sedangkan spasi yang mengikutinya melambangkan
kesenyapan. Tanda baca lain sepadan dengan jeda.
Unsur Kalimat: S – P – O – Pel - K Subjek (S)  Predikat (P)
Unsur Kalimat:
S – P – O – Pel - K
Subjek (S)
Predikat (P)
Objek (O)
Pelengkap (Pel)
Keterangan (K)
Subjek (S) Subjek adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku,  sosok (benda), sesuatu hal, atau masalah
Subjek (S)
Subjek adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku,
sosok
(benda),
sesuatu
hal,
atau
masalah
yang
menjadi
pangkal/pokok pembicaraan.
Ciri-ciri Subjek: a) berjenis kata benda/dibendakan; b) menjadi
inti/pokok pikiran; c) dijelaskan oleh bagian lainnya; d)
menjadi jawaban dari pertanyaan Siapa atau Apa; e) dalam
kalimat pasif berposisi sebagai objek.
Contoh: Adi membeli buku di Gramedia.
Predikat (P) Predikat adalah bagian kalimat yang memberitahu  melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana
Predikat (P)
Predikat adalah bagian kalimat yang memberitahu
melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan
bagaimana subjek (pelaku).
Selain menyatakan tindakan atau perbuatan subjek,
sesuatu yang dinyatakan oleh P dapat pula mengenai
sifat, situasi, status, ciri atau jati diri S.
Contoh: Adi membeli buku di Gramedia.
Objek (O) Objek adalah bagian kalimat yang melengkapi  predikat (P). Letak O selalu dibelakang P
Objek (O)
Objek adalah bagian kalimat yang melengkapi
predikat (P). Letak O selalu dibelakang P yang
berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut
wajib hadirnya O.
Ciri-ciri Objek: a) berupa kata benda; b) letak setelah
predikat; c) bila kalimat dipasifkan menjadi subjek; d)
jawban dari pertanyaan Apa.
Contoh: Adi membeli buku di Gramedia.
Pelengkap (Pel) Pelengkap atau komplemen adalah bagian kalimat yang  melengkapi predikat yang berupa verba. Letak
Pelengkap (Pel)
Pelengkap atau komplemen adalah bagian kalimat yang
melengkapi predikat yang berupa verba. Letak Pel tidak
selalu persis dibelakang predikat jika di dalam kalimat
terdapat objek, sehingga urutan penulisan bagian kalimat
kalimat: S –P –O – Pel.
Ciri-ciri Pel: a) dapat berupa kata benda, verba, klausa; b)
langsung berada di belakang verba intransitif; c) tidak
dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif.
Contoh: Adi membelikan Sari buku di Gramedia.
Keterangan (K)  Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal tentang kalimat yang lainnya. Letak
Keterangan (K)
Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan
berbagai hal tentang kalimat yang lainnya. Letak K
bisa di awal, di tengah, atau di belakang.
Keterangan dapat berfungsi menerangkan S, P, O dan
Pel.
Keterangan berupa: ket waktu, tujuan, tempat, sebab,
akibat, syarat, cara, posesif.
Contoh: Adi membelikan Sari buku di Gramedia.
Kalimat Efektif  Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran
Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan
untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran
pendengar dan pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran
pembicara atau penulis.
Kalimat efektif dapat mengomunikasikan pikiran pembicara
atau penulis kepada pendengar (pembaca) secara tepat dan
jelas sehingga tidak akan terjadi keraguan, kesalahan
komunikasi dan informasi, atau kesalahan pengertian.
Ciri-ciri Kalimat Efektif: 1) kesepadanan struktur; 2)
keparalelan; 3) ketegasan; 4) kehematan; 5) kecermatan; 6)
kepaduan; dan 7) kelogisan.
1. Kesepadanan Struktur  Kesepadanan struktur adalah keseimbangan antara pikiran/gagasan dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan
1. Kesepadanan Struktur
Kesepadanan struktur adalah keseimbangan antara
pikiran/gagasan dan struktur bahasa yang dipakai.
Kesepadanan ini ditunjukkan oleh adanya kesatuan
gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.
Ciri-ciri:
Kalimat itu memiliki subjek dan predikat yang jelas.
1.
Kalimat tidak terdapat subjek yang ganda/rangkap.
2.
Kata
penghubung
intrakalimat
tidak
dipakai
pada
3.
kalimat tunggal.
Predikat kalimat tidak didahului dengan kata yang.
4.
2. Keparalelan  Keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat. Artinya, apabila bentuk kata
2. Keparalelan
Keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang
digunakan dalam kalimat. Artinya, apabila bentuk kata
pertama menggunakan nomina, bentuk kata kedua,
ketiga, dst, juga harus menggunakan nomina.
Begitu pula apabila kata pertama menggunakan verba,
kata kedua, ketiga, dst, juga harus menggunakan verba.
Keparalelan sering disebut konsisten.
3. Ketegasan  Ketegasan disebut juga penekanan, adalah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Pada
3. Ketegasan
Ketegasan disebut juga penekanan, adalah suatu
perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Pada
dasarnya dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu
ditonjolkan yang tertuang dalam kalimat dengan
memberi penegasan atau penekanan.
Caranya:
Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat.
1.
Membuat urutan kata yang logis.
2.
Melakukan pengulangan kata (repetisi).
3.
Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
4.
4. Kehematan  Kehematan adalah „hemat‟ dalam menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak
4.
Kehematan
Kehematan adalah „hemat‟ dalam menggunakan kata,
frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu.
Kehematan bukan berarti harus menghilangkan kata-kata
atau frase yang dapat menambah kejelasan kalimat,
melainkan menghilangkan kata-kata atau frasa yang tidak
diperlukan sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Caranya:
Dilakukan dengan cara menghilangkan subjek.
1.
Menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi
2.
kata.
Menghindarkan kesinoniman dalam kalimat.
3.
5. Kecermatan  Kecermatan adalah „cermat‟ dalam membuat kalimat dengan pilihan kata yang tepat sehingga tidak
5.
Kecermatan
Kecermatan adalah „cermat‟ dalam membuat kalimat dengan
pilihan kata yang tepat sehingga tidak menimbulkan tafsir
ganda atau salah.
6.
Kepaduan
Kepaduan adalah terintegrasi pernyataan dalam kalimat
sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah.
Kalimat yang padu adalah kalimat
mencerminkan cara berpikir yang sistematis.
yang
lugas
dan
7.
Kelogisan
Kelogisan adalah ide kalimat itu dapat diterima oleh akal sehat
dan sesuai dengan ejaan atau kaidah tata bahasa yang berlaku.
TULISAN (yang) JELAS dan EFEKTIF Pertemuan 5
TULISAN (yang) JELAS dan
EFEKTIF
Pertemuan 5
Tulisan yang Jelas dan Efektif  Tujuan kita menulis adalah untuk mengungkapkan fakta atau mengekspresikan perasaan,
Tulisan yang Jelas dan Efektif
Tujuan kita menulis adalah untuk mengungkapkan fakta
atau mengekspresikan perasaan, sikap, dan pikiran secara
jelas dan efektif kepada pembaca.
Jelas: jika tulisan mampu mewakili secara tepat isi
pikiran atau perasaan penulisnya.
Efektif: bila penulisnya mampu membuat pembacanya
memfokuskan diri pada pokok pikiran tulisan.
Tulisan ilmiah yang jelas dan efektif harus: 1) singkat; 2)
koheren; 3) variasi; 4) kesatuan pikiran; 5) penegasan;
dan 6) logika.
1. Singkat  Tulisan ilmiah yang jelas dan efektif tidak perlu memuat ihwal yang tidak berkaitan
1. Singkat
Tulisan ilmiah yang jelas dan efektif tidak perlu memuat
ihwal yang tidak berkaitan langsung dengan topik utama
tulisan.
Contoh:
Meningkatnya perpindahan tenaga kerja wanita dari
a.
pedesaan ke kota terbukti telah mencapai angka
pertumbuhan 5.78%, sementara pertumbuhan jumlah
penduduk sangat lambat yakni menunjukkan angka 0.86%.
Perpindahan tenaga kerja wanita dari desa ke kota telah
b.
meningkat hingga 5.78%, sekalipun pertumbuhan jumlah
penduduk masih sangat lambat yakni 0.86%.
2. Koheren  Koheren, jika hubungan antarunsur pembentuk kalimat di dalam sebuah karya tulis ilmiah dibangun
2. Koheren
Koheren, jika hubungan antarunsur pembentuk kalimat di dalam
sebuah karya tulis ilmiah dibangun secara jelas, yakni bagaimana
hubungan antara subjek dan predikat; antara predikat dan objek;
serta keterangan-keterangan yang menjelaskan tiap-tiap unsur itu.
Contoh:
a.
Bila ditelusuri secara mendalam maka dapat dipastikan bahwa
setiap orang yang akan membentuk rumah tangga menginginkan
untuk hidup bahagia sejahtera untuk selama-lamanya. Tidak sedikit
pun tersirat maupun tersurat dalam hati yang bersangkutan bahwa
tujuan berumah tangga adalah untuk melakukan tindak kekerasan
dalam rumah tangga.
Setiap orang yang hendak berumah tangga tentu menginginkan
b.
hidup bahagia untuk selama-lamanya. Tidak sedikit pun terbersit
dalam pikirannya bahwa ia akan mengalami tindak kekerasan
dalam rumah tangga.
3. Variasi  Variasi boleh dilakukan baik dalam diksi (pilihan kata) maupun dalam struktur kalimat untuk
3. Variasi
Variasi boleh dilakukan baik dalam diksi (pilihan kata) maupun
dalam struktur kalimat untuk mencegah kebosanan pembaca.
Variasi dalam struktur kalimat, misal, dimungkinkan dengan cara
membentuk kalimat pembuka melalui frasa keterangan (cara,
waktu, tempat), frasa benda, frasa kerja, atau melalui partikel
penghubung.
Contoh:
a.
Di samping persamaannya yang besar dengan kelompok lain di
sekitarnya kelompok orang dalam masyarakat kadang-kadang
memiliki ciri-ciri budaya yang khas, termasuk bahasa yang
digunakan.
b.
Ciri-ciri budaya yang khas, termasuk bahasa, dimiliki kelompok-
kelompok orang dalam masyarakat. Kendati demikian, kelompok-
kelompok tersebut juga memiliki ciri-ciri budaya yang sama
dengan kelompok-kelompok lain yang berada di sekitarnya.
4. Kesatuan Pikiran  Kalimat yang jelas dan efektif mengandung kesatuan pikiran, yakni memiliki satu pokok
4. Kesatuan Pikiran
Kalimat yang jelas dan efektif mengandung kesatuan pikiran,
yakni memiliki satu pokok pikiran. Oleh karena itu, letakkanlah
pokok pikiran yang berupa informasi yang dikenal luas pada
awal kalimat.
Contoh:
a.
Marharoan adalah sistem kerja atau kelompok kerja yang
dilakukan oleh beberapa orang secara bersama-sama, yang
anggotanya mendapat giliran untuk mengerjakan ladangnya
secara berganti-ganti yang sifatnya gotong-royong.
Marharoan, yang sifatnya gotong-royong, merupakan suatu
b.
sistem kerja sekelompok peladang di Simalungun. Marharoan
dilakukan oleh beberapa orang secara bersama-sama.
Anggotanya mendapat giliran untuk mengerjakan ladangnya
secara berganti-ganti.
5. Penegasan  Penegasan adalah upaya si penulis dalam menonjolkan pokok pikirannya. Tujuannya, memberi ketegasan bahwa
5. Penegasan
Penegasan adalah upaya si penulis dalam menonjolkan pokok
pikirannya. Tujuannya, memberi ketegasan bahwa pokok pikiranya
amat penting diketahui pembacanya.
Penegasan dapat dilakukan melalui posisi dalam kalimat (meletakkan
pokok pikiran pada awal kalimat), melalui repetisi (mengulang-ulang
pokok pikiran), atau dapat pula dengan cara meletakkan informasi baru
dan tidak terduga pada akhir kalimat.
Contoh:
Dalam perspektif berbangsa dan bernegara kita dewasa ini di tengah
badai krisis mondialisasi, keteguhan STA menemukan relevansinya.
Pasalnya, ternyata kita adalah bangsa yang seolah-olah enggan terhadap
kehadiran roh tersebut. Alih-alih menunggu giliran munculnya
volkgeist (roh-bangsa), kita justru lebih memilih “roh” lain yang
bersifat profan, kekinian, dan instan. Alhasil, dewasa ini muncullah
sosok-sosok Bismarck yang bermimpi mewujudkan volkgeist dengan
cara melupakan kepentingan dan penderitaan rakyatnya sendiri.
6. Logika  Tulisan yang jelas dan efektif merupakan perwujudan dari cara berpikir logis si penulis
6. Logika
Tulisan yang jelas dan efektif merupakan perwujudan dari cara
berpikir logis si penulis yang tercermin dalam tulisannya.
Proses berpikir logis dicerminkan dari: 1) definisi atau proses
pembatasan makna yang dibuat oleh penulis karya tulis ilmiah
terhadap suatu kata, istilah, atau masalah yang ditulisnya. Sebuah
karya tulis ilmiah akan memiliki pijakan logika yang kuat jika
mengandung batasan-batasan yang jelas; 2) generalisasi yaitu
proses pemahaman si penulis karya tulis ilmiah terhadap sesuatu
yang semula bersifat sempit menjadi bersifat umum atau
sebaiknya.
Generalisasi merupakan proses berpikir sebagai evaluasi terhadap
pengalaman2. Pengalaman2 tanpa generaslisasi hanyalah
kumpulan fakta yang berserakan/terpisah.
Hindari generalisasi jika fakta belum cukup, mengingat
kecenderungan generalsiasi adalah merumuskan simpulan.
Kata-kata untuk generalisasi: „biasanya‟ atau „jarang‟, untuk
menghindari kata „selalu‟ atau „tidak pernah‟.
LATIHAN SOAL Pilihlah kalimat yang benar dan sesuai kaidah penulisan kalimat efektif: 1.a. Harga beras dibekukan
LATIHAN SOAL
Pilihlah kalimat yang benar dan sesuai kaidah
penulisan kalimat efektif:
1.a. Harga beras dibekukan atau kenaikan secara
luwes.
b. Harga beras dibekukan atau dinaikkan
secara luwes.
2.a. Tahap terakhir penyelesaian gedung itu
adalah kegiatan pengecatan tembok,
memasang penerangan, menguji sistem
pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
b. Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air,
b.
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah
kegiatan pengecatan tembok, pemasangan
penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan
pengaturan tata ruang.
3.a. Karena tidak diundang, ia tidak datang pada pada
rapat penting itu.
b.
Karena ia tidak diundang, ia tidak datang pada
rapat penting itu.
4.a. Masyarakat segera berlari setelah mengetahui
banjir telah datang.
b.
Masyarakat segera berlari setelah masyarakat
mengetahui banjir telah datang.
5.a. Saya hanya meneliti masalah dampak terjadinya gempa bumi Bantul Yogyakarta. b. Saya hanya meneliti dampak
5.a. Saya hanya meneliti masalah dampak terjadinya gempa
bumi Bantul Yogyakarta.
b.
Saya hanya meneliti dampak terjadinya gempa bumi di
Bantul Yogyakarta.
6.a. Sejak dari pengumpulan data, penganalisisan data, dan
pemaparan hasil analisis data, saya dibantu oleh beberapa
teman-teman.
b.
Sejak pengumpulan, penganalisisan, dan pemaparan hasil
analisis data, saya dibantu oleh beberapa teman.
7. Buatlah paragraf opini mengenai :
a.
Menjamurnya penggunaan BlackBerry
b.
Apakah struktur bangunan rumah kaca cocok untuk iklim
di Indonesia?
TEMA Tema →tithenai (Yunani): menempatkan/meletakkan   Tema (KBBI): pokok pikiran; dasar cerita (yang dipercakapkan, dipakai
TEMA
Tema →tithenai (Yunani): menempatkan/meletakkan
Tema (KBBI): pokok pikiran; dasar cerita (yang
dipercakapkan, dipakai sebagai dasar mengarang,
menggubah sajak, dsb): -- sandiwara ini ialah “yg
keji dan yg jahat pasti akan kalah oleh yg baik dan
mulia”;
Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan
penulis melalui karangannya.
Tema ini yang akan menentukan arah tulisan atau
tujuan dari penulisan artikel itu.
TOPIK Topik → topoi (Yunani) : tempat  Topik (KBBI) 1 pokok pembicaraan di diskusi, 
TOPIK
Topik → topoi (Yunani) : tempat
Topik (KBBI) 1 pokok pembicaraan di diskusi,
ceramah, karangan, dsb; bahan diskusi: masalah yg
akan
menjadi
-- sidang
DPA ke-4 tahun
itu ialah
“Pemerataan dl Pembangunan Regional dan
Pedesaan”; 2 hal yg menarik perhatian umum pd
waktu akhir-akhir ini; bahan pembicaraan;
Topik: pokok pembicaraan
Topik karangan merupakan jawaban atas pertanyaan:
“Masalah apa yang akan ditulis? & Hendak menulis
tentang apa?”
Ciri topik → permasalahannya bersifat umum dan
belum terurai
TEMA= TOPIK 1. 2. TEMA X TOPIK TEMA= LEBIH LUAS CAKUPANNYA TOPIK= LEBIH SEMPIT CAKYUPANNYA EX:
TEMA= TOPIK
1.
2.
TEMA X TOPIK
TEMA= LEBIH LUAS CAKUPANNYA
TOPIK= LEBIH SEMPIT CAKYUPANNYA
EX:
TEMA: POLUSI AIR
TOPIK: POLUSI AIR YANG MERUGIKAN
MANUSIA
MEMBUAT TOPIK Pembuatan Topik harus memperhatian: 1. Apa yang akan ditulis? 2. Sesuai dengan minat dan
MEMBUAT TOPIK
Pembuatan Topik harus memperhatian:
1. Apa yang akan ditulis?
2.
Sesuai dengan minat dan bakat?
3.
Sesuai dengan bidang studi yang dikuasai?
4.
Aktual (bidang jurnalistik)
CARA MENCARI TOPIK Membaca sumber-sumber dari ensiklopedi, 1. buku, bahan cetak lainnya, dan informasi lewat internet.
CARA MENCARI TOPIK
Membaca sumber-sumber dari ensiklopedi,
1.
buku, bahan cetak lainnya, dan informasi
lewat internet.
2.
Observatif: rekreasi, keseharian, atau kisah
perjalanan.
3.
Reflektif: hasil pemikirkan dan perenungan
tentang kehidupan sosial, makna keadilan,
kebahagiaan, kekerasaan, dll.
Kriteria TEMA/TOPIK 1. Sesuai latar belakang pengetahuan Anda 2. Menarik minat Anda 3. Jelas ruang lingkup
Kriteria TEMA/TOPIK
1. Sesuai latar belakang pengetahuan Anda
2.
Menarik minat Anda
3.
Jelas ruang lingkup dan batasannya
4.
Sesuai waktu dan situasi
5.
Ditunjang dengan bahan yang memadai
JUDUL Nama yang dipakai untuk buku atau bab  dalam buku yang dapat menyiratkan secara pendek
JUDUL
Nama yang dipakai untuk buku atau bab
dalam buku yang dapat menyiratkan
secara pendek isi buku atau bab itu. [kbbi]
Kepala karangan (cerita, drama, dsb);
tajuk.
Miniatur isi karangan atau bahasan.
Kriteria JUDUL yang BAIK Singkat dan padat 1. Menarik perhatian 2. Menggambarkan isi karangan 3. Atraktif,
Kriteria JUDUL yang BAIK
Singkat dan padat
1.
Menarik perhatian
2.
Menggambarkan isi karangan
3.
Atraktif, bombastis, (berita & iklan)
4.
Tidak lebih dari lima kata (artikel)
5.
KIAT CEPAT MEMBUAT JUDUL Menguasai tema karangan yang akan ditulis. 1. Baca buku, skripsi, thesis, jurnal.
KIAT CEPAT MEMBUAT JUDUL
Menguasai tema karangan yang akan ditulis.
1.
Baca buku, skripsi, thesis, jurnal.
2.
3.
Sering mengamati judul - judul artikel orang
lain yang sudah terbit di media massa. Hal itu
penting, karena membuat judul yang benar,
padat dan menarik, tidaklah mudah. Terlebih
lagi setiap media cetak berbeda dalam
menerbitkan suatu judul.
PARAGRAF/ALINEA Pertemuan 7
PARAGRAF/ALINEA
Pertemuan 7
PARAGRAF/ALINEA Paragraf adalah miniatur sebuah tulisan; kesatuan pikiran yang  lebih tinggi dan lebih luas ketimbang
PARAGRAF/ALINEA
Paragraf adalah miniatur sebuah tulisan; kesatuan pikiran yang
lebih tinggi dan lebih luas ketimbang kalimat.
Paragraf adalah satuan bahasa tulis yang terdiri atas beberapa
kalimat yang tersusun secara runtut, logis, dalam satu kesatuan
ide yang tersusun secara lengkap, utuh, dan padu.
Paragraf adalah bagian dari suatu karangan yang terdiri
sejumlah
kalimat
yang
mengungkapkan
satuan
informasi
dengan pikiran utama sebagai pengendalinya dan pikiran
penjelas sebagai pendukungnya.
Paragraf adalah rangkaian dari beberapa kalimat yang saling
berhubungan dan terkait dalam satu kesatuan serta hanya
mempunyai satu pokok pikiran atau gagasan.
A. Ciri-ciri Paragraf 1. Kalimat pertama menjorok ke dalam lima ketukan spasi untuk jenis karangan biasa
A. Ciri-ciri Paragraf
1.
Kalimat pertama menjorok ke dalam lima ketukan spasi untuk
jenis karangan biasa (makalah, skripsi, tesis, dan desertasi).
Karangan berbentuk lurus ditandai dengan jarak spasi
merenggang, satu spasi lebih banyak daripada jarak antarbaris
lainnya.
2.
Paragraf menggunakan pikiran (gagasan) utama yang dinyatakan
dalam kalimat topik.
Setiap paragraf menggunakan satu kalimat topik dan selebihnya
3.
merupakan kalimat pengembang yang berfungsi menjelaskan,
menguraikan, atau menerangkan pikiran utama yang ada dalam
kalimat topik.
Paragraf menggunakan pikiran penjelas yang dinyatakan dalam
4.
kalimat penjelas. Kalimat itu berisi detail-detail kalimat topik.
Paragraf hanya berisi satu kalimat topik dan beberapa kalimat
penjelas. Setiap kalimat penjelas berisi detail yang sangat
spesifik dan tidak mengulang pikiran penjelas lainnya.
B. Fungsi Paragraf 1. Mengekspresikan gagasan tertulis dengan memberi bentuk suatu pikiran dan perasaan ke dalam
B. Fungsi Paragraf
1. Mengekspresikan gagasan tertulis dengan memberi
bentuk suatu pikiran dan perasaan ke dalam serangkaian
kalimat yang tersusun secara logis dalam suatu kesatuan.
2.
Menandai peralihan (pergantian) gagasan baru bagi
karangan yang terdiri atas beberapa paragraf, ganti
paragraf berarti ganti gagasan.
3.
Memudahkan pengorganisasian gagasan bagi penulis,
dan memudahkan pemahaman bagi pembaca.
Memudahkan pengembangan topik karangan ke dalam
4.
satuan-satuan unit pikiran yang lebih kecil.
5.
Memudahkan pengendalian variabel, terutama karangan
yang terdiri atas beberapa variabel.
C. Pikiran Utama dan Kalimat Topik 1. Paragraf Tanpa Kalimat Topik Paragraf itu tidak memiliki pikiran
C. Pikiran Utama dan Kalimat Topik
1. Paragraf Tanpa Kalimat Topik
Paragraf itu tidak memiliki pikiran utama dan pikiran penjelas,
juga tidak memiliki kalimat utama dan kalimat penjelas. Semua
pikiran dan kalimat sama kedudukannya.
2. Kalimat Topik Dalam Paragraf
a. Kalimat Topik Pada Awal Paragraf: kalimat ini umumnya
berisi pikiran utama yang bersifat umum. Kalimat selanjutnya
berisi pikiran penjelas yang bersifat khusus (kalimat penjelas). Isi
kalimat itu berupa penjelasan, uraian, analisis, contoh-contoh,
keterangan, atau rincian kalimat topik. Paragraf tersebut
menggunakan penalaran deduktif.
b. Kalimat Topik di Akhir Paragraf: paragraf diakhiri kalimat topik dan diawali dengan kalimat penjelas. Artinya,
b.
Kalimat Topik di Akhir Paragraf: paragraf diakhiri kalimat
topik dan diawali dengan kalimat penjelas. Artinya, paragraf
menyajikan kasus khusus, contoh, penjelasan, keterangan, atau
analisis lebih dahulu, barulah ditutup dengan kalimat topik.
Paragraf tersebut menggunakan penalaran induktif.
c.
Kalimat Topik di Awal dan Akhir Paragraf: kalimat topik
pada awal paragraf menimbulkan sifat deduktif, pada akhir
menjadikan paragraf bersifat induktif, sementara pada awal
dan akhir menjadikan paragraf bersifaf deduktif-induktif.
d.
Kalimat Topik di Tengah Paragraf: paragraf dengan kalimat
topik di tengah paragraf berarti diawali dengan kalimat
penjelas dan diakhiri pula dengan kalimat penjelas. Paragraf
ini menggunakan pola penalaran iduktif-deduktif.
D. Syarat Utama Paragraf Kesatuan: jika mengandung hanya satu gagasan 1. utama; informasi lain merujuk gagasan
D. Syarat Utama Paragraf
Kesatuan: jika mengandung hanya satu gagasan
1.
utama; informasi lain merujuk gagasan utama
(mengembangkan, memperjelas, menganalisis)
2.
Kepaduan: hubungan antara satu kalimat dan
lainnya, tercermin pada urutan pikiran yang teratur,
tidak meloncat-loncat, logis, dan gramatikal.
Kepaduan dapat dibangun melalui: 1) penggunaan
kata kunci dan sinonim; 2) penggunaan rincian
peristiwa (kronologis, sebab-akibat); 3) penggunaan
kata transisi; 4) penggunaan paralelisme (repetisi);
5) penggunaan pronomina (kata ganti).
3. Konsistensi Sudut Pandang: konsistensi sudut pandang diperlukan bagi seorang penulis karya tulis ilmiah, untuk dapat
3.
Konsistensi Sudut Pandang: konsistensi
sudut
pandang
diperlukan
bagi
seorang
penulis karya tulis ilmiah, untuk dapat
menentukan gaya penulisan yang tepat.
Sudut Pandang; aku (diri sendiri), dia (orang
lain), penulis (untuk karya ilmiah).
4.
Ketuntasan: paragraf telah mencakup semua
hal yang diperlukan dalam mendukung
gagasan utama, sehingga pembaca tidak
bertanya-tanya maksud si penulis.
E. Struktur Paragraf Struktur sebuah paragraf lazimnya terbagi atas: 1) paragraf  pembuka; 2) paragraf tubuh;
E. Struktur Paragraf
Struktur
sebuah
paragraf
lazimnya
terbagi
atas:
1)
paragraf
pembuka; 2) paragraf tubuh; 3) paragraf penutup.
1)
Paragraf Pembuka, adalah paragraf yang diletakkan di awal tulisan,
ditujukan sebagai pengantar gagasan utama si penulis.
a.
Model 5W 1H; yakni memilih salah satu unsur dalam 5W 1H
(what, who, where, when, why, dan how).
b.
Model Kisahan; menciptakan suasana yang membuat pembaca
seolah terlibat di dalamnya peristiwa.
c.
Model
Pertanyaan;
menyodorkan
pertanyaan
yang kreatif,
menggelitik, dan merangsang rasa ingin tahu pembaca.
d.
Model Kutipan Langsung; mengutip secara ringkas pendapat
seseorang, baik itu objek tulisan maupun narasumber.
e.
Model Deskriptif; menghadirkan gambaran suatu peristiwa dalam
pikiran pembaca, seolah pembaca mengalami peristiwa tersebut.
f.
Model Ucapan Kondang; mengutip ungkapan yang sudah dikenal
secara umum.
g.
Model
Menuding;
mengupayakan
ada
komunikasi
langsung
bernada akrab dengan pembaca.
2) Paragraf Tubuh, adalah paragraf yang menguraikan gagasan utama yang terdapat dalam di dalam paragraf pembuka
2)
Paragraf Tubuh, adalah paragraf yang menguraikan
gagasan utama yang terdapat dalam di dalam paragraf
pembuka ke dalam paragraf-paragraf berikutnya.
a. Model Spiral; merinci gagasan utama yang terdapat dalam
paragraf pembuka ke dalam paragraf2 berikutnya, hingga
mencapai suatu gambaran persoalan yang bulat, padu, dan
komprehensif.
b. Model Rekatan; dilakukan dengan cara menghubung2-kan
antarparagraf secara kohesif melalui partikel penghubung
atau partikel penegas; seperti “sehubungan hal di atas”,
“berpijak dari hal di atas”, “akan tetapi”, “oleh karena itu”,
“selanjutnya”, atau “kendati demikian”. Tujuan penggunaan
paragraf model ini untuk memecah gagasan utama (pokok
pikiran) yang semula „bertunpuk‟ di dalam satu paragraf.
c. Model Block; model ini dengan cara menyebarkan (bagi2) gagasan utama menjadi beberapa pokok pikiran dan
c. Model Block; model ini dengan cara menyebarkan (bagi2)
gagasan utama menjadi beberapa pokok pikiran dan
menyebarkannya ke dalam paragraf2 yang terpisah. Namun,
pokok pikiran yang diuraikan dalam paragraf yang terpisah-
pisah ini harus merujuk ke paragraf pembuka.
d. Model Tematik; model ini digunakan untuk menggaris-
bawahi atau menegaskan gagasan utama pada paragraf
pembuka. Pokok pikiran yang terdapat dalam tiap-tiap
paragraf menjelaskan gagasan utama yang telah dkemukakan
pada paragraf pembuka.
e. Model Kronologis; model ini digunakan jika kita hendak
merinci dan mengembangkan paragraf tubuh berdasarkan
hukum sebab-akibat (kausalitas). Rincian dan pengembangan
yang kausalitas ini, tentu berpangkal dari gagasan utama dalam
paragram pembuka.
Kronologis dalam kaitan dengan karya tulis ilmiah dianggap
efektif untuk mendeskripsikan sebab-akibat (proses) terjadinya
suatu persistiwa yang diteliti si penulis.
3) Paragraf Penutup, adalah paragraf yang terletak pada paragraf akhir bagian simpulan. Fungsi utamanya menyimpulkan tulisan
3)
Paragraf Penutup, adalah paragraf yang terletak pada paragraf
akhir bagian simpulan. Fungsi utamanya menyimpulkan tulisan
kita, namun upayakan membangun paragraf penutup sedemikia
rupa agar mengesankan pembaca.
a. Model Simpulan; model ini dilakukan dengan cara merumuskan
antiklimaks dari keseluruhan persoalan yang telah diteliti dan
dibahas oleh penulisnya dalam paragraf tubuh. Cocok untuk
paragraf tubuh model kronologis.
b. Model Menggantung; model ini efektif digunakan jika kita
sengaja hendak membuat pertanyaan atau pernyataan yang tidak
selesai, menyentak, atau menyengat. Kesengajaan ini berkaitan
dengan upaya kita membuat pembaca ikut berpikir atau terlibat di
dalam persoalan yang kita teliti.
c. Model Ringkasan; model ini dilakukan jika kita hendak
meringkas intisari persoalan atau temuan penelitian, dengan catatan
ringkasan tersebut harus memfokus pada gagasan utama pada
paragraf pembuka.
F. Pengembangan Paragraf 1. Secara Alamiah: Pengembangan paragraf didasarkan pada urutan ruang dan waktu. Urutan ruang
F. Pengembangan Paragraf
1.
Secara Alamiah: Pengembangan paragraf didasarkan pada urutan
ruang dan waktu. Urutan ruang merupakan urutan yang akan
membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya dalam satu
ruang. Urutan waktu adalah urutan yang menggmbarkan urutan
terjadinya peristiwa, perbuatan, atau tindakan.
2.
Klimaks-Atiklimaks: Paragraf jenis ini lazim digunakan untuk
menyajikan sebuah cerita atau konflik. Penulisan diawali dengan
pengenalan tokoh, dilanjutkan dengan konflik, mencapai puncak
konflik, dan menurun menuju solusi (antiklimaks). Jenis paragraf ini
lazim digunakan untuk menulis sejarah dan cerita fiksi, kisah
permusuhan, atau peperangan.
3.
Deduksi dan Induksi: Deduksi adalah proses penalaran dengan
menyebut gagasan utama yang bersifat umum dan dilanjutkan
dengan gagasan-gagasan yang bersifat khusus. Sementara, induksi
adalah proses penalaran dengan menyebut gagasan-gagasan khusus
dan dilanjutkan dengan gagasan utama.
G. Paragraf Berdasar Fungsi 1. Perbandingan dan Pertentangan: adalah paragraf yang berusaha memperjelas paparannya dengan jalan
G. Paragraf Berdasar Fungsi
1.
Perbandingan dan Pertentangan: adalah paragraf yang
berusaha memperjelas paparannya dengan jalan membandingkan
dan mempertentangkan hal-hal yang dibicarakan.
a. Perbandingan; mengemukakan persamaan dan perbedaan
antara kedua hal, yakni dua hal yang tingkatannya sama dan
kedua hal tersebut memiliki perbedaan dan persamaan.
b. Pertentangan; merupakan proses argumentasi dengan
melakukan penolakan. Maka, pertentangan ditargetkan menolak
eksistensi dan disertai pembuktian.
2.
Analogi: paragraf berupa analogi biasanya digunakan penulis
untuk membandingkan sesuatu yang dikenal oleh umum dengan
yang kurang dikenal.
3.
Sebab - Akibat: Dalam paragraf sebab-akibat, sebab dapat
berfungsi sebagai pikiran utama dan akibat sebagai pikiran
penjelas. Sebaliknya, akibat sebagai pikiran utama dan sebab
sebagai rincian penjelasnya.
TEKNIK MEMBACA BAHASA INDONESIA Penulisan Kreatif 1
TEKNIK MEMBACA
BAHASA INDONESIA
Penulisan Kreatif 1
Pengertian Membaca  Allen dan Valette (177:249); membaca adalah proses yang berkembang. Tahap awal adalah pengenalan
Pengertian Membaca
Allen dan Valette (177:249); membaca adalah proses yang berkembang.
Tahap awal adalah pengenalan simbol-simbol huruf cetak yang terdapat
dalam sebuah wacana. Dari membaca huruf per huruf, kata per kata,
kalimat per kalimat, kemudian berlanjut dengan membaca paragraf per
paragraf dan esai pendek.
Kustaryo (1988:2); membaca adalah suatu kombinasi dari pengenalan
huruf, intelect, emosi yang dihubungkan dengan pengetahuan si
pembaca untuk memahami satu pesan yang tertulis.
Davies (1997:1); membaca sebagai suatu proses mental (kognitif) yang
di dalam proses tersebut seorang pembaca dapat mengikuti dan
merespons pesan yang disampaikan oleh penulis. Kegiatan membaca
adalah kegiatan bersifat aktif dan interaktif. Pembaca dengan
pengetahuannya berusaha mengikuti jalan pikiran penulis, dan daya
kritisnya merespons (menyetujui / menolak) ide penulis.
Hasil dari Membaca Memunculkan inspirasi menulis 1. Menyelami pemikiran-pemikiran baru 2. Memperkaya khazanah tulisan 3. “Setelah
Hasil dari Membaca
Memunculkan inspirasi menulis
1.
Menyelami pemikiran-pemikiran baru
2.
Memperkaya khazanah tulisan
3.
“Setelah membaca, langkah bijaknya
adalah mencatat ide dan pemikiran
tokoh (penulis) agar tidak lupa”
Teknik Membaca a. Membaca Cepat Pembaca memahami pesan yang disampaikan penulis secara cepat. Pembaca memanfaatkan teknik
Teknik Membaca
a. Membaca Cepat
Pembaca memahami pesan yang disampaikan penulis
secara cepat.
Pembaca memanfaatkan teknik skimming dan scanning.
b. Membaca Kritis
Pembaca mampu menyerap dan memahami hal yang
dibaca, sekaligus dapat memberikan tanggapan
terhadapnya serta dapat mengekspresikan tanggapannya
tersebut dalam bentuk lisan maupun tulisan.
Pembaca memanfaatkan teknik KWLH dan SQ3R.
Teknik Skimming dan Scanning Skimming adalah proses membaca cepat untuk mencari fakta.
Teknik Skimming dan Scanning
Skimming adalah proses membaca cepat untuk mencari
fakta.

  • Langkah-2:

Pembaca perlu pastikan dirinya tahu informasi yang 1) diperlukan; 2) Pembaca harus melihat baris demi baris,
Pembaca
perlu
pastikan
dirinya
tahu
informasi
yang
1)
diperlukan;
2)
Pembaca harus melihat baris demi baris, kalimat demi
kalimat secara cepat;
Pembaca perlu mengingat dan berpikir tentang informasi
3)
yang diperlukan selama proses skimming;
4)
Pembaca perlu memperlambat proses skimming saat
mendapatkan kalimat2/informasi yang dicarinya.
Langkah-langkah Skimming (Mikulecky:1990) Baca paragraf pertama dan kedua untuk 1) mendapatkan overview dari sebuah artikel; 2)
Langkah-langkah Skimming
(Mikulecky:1990)
Baca
paragraf
pertama
dan
kedua
untuk
1)
mendapatkan overview dari sebuah artikel;
2) Pada paragraf ketiga dst, mulai tinggalkan bagian2
yang tidak diperlukan dan baca kalimat2/frasa kunci
untuk mendapatkan pikiran utama dan beberapa
detail yang dibutuhkan;
Baca
seluruh
paragraf
terakhir
yang
biasanya
3)
merupakan rangkuman dari sebuah artikel.
 Scanning adalah membaca cepat untuk mendapat pesan yang khusus, bukan untuk mendapat gambaran umum tentang
Scanning adalah membaca cepat untuk mendapat pesan
yang khusus, bukan untuk mendapat gambaran umum
tentang keseluruhan bahan bacaan.
Teknik scanning, dilakukan dengan cara menggerakkan
mata dari atas ke bawah dengan cepat mengikuti halaman
muka teks yang dibaca, sambil memberi perhatian pada
pesan yang dicari.
Jika dalam bacaan terdapat indeks, baik indeks subjek
maupun indeks pengarang, ada baiknya scanning diawali
dari membaca indeks tersebut.
Teknik Membaca KWLH  K (know); apa yang telah diketahui (sebelum membaca)?  W (want); apa
Teknik Membaca KWLH
K (know); apa yang telah diketahui (sebelum
membaca)?
W (want); apa yang ingin dketahui (sebelum
membaca)?
L (learned); apa yang telah diketahui (setelah
membaca)?
H
(how);
bagaimana
mendapat pesan
tambahan – yang berkaitan (untuk membaca
seterusnya)?
Teknik Membaca SQ3R S (survey); meninjau  Q (question); menanyakan  R (read); membaca  R
Teknik Membaca SQ3R
S (survey); meninjau
Q (question); menanyakan
R (read); membaca
R (recite); menyatakan kembali secara lisan
R (review); membaca ulang
 Survey (meninjau): langkah membaca untuk mendapatkan gambaran keseluruhan apa yang terkandung dalam bacaan. Perhatikan judul
Survey (meninjau): langkah membaca untuk mendapatkan
gambaran keseluruhan apa yang terkandung dalam bacaan.
Perhatikan judul utama tulisan, sub-sub judul,
gambar/ilustrasi, grafik, bagian pendahuluan, bagian isi,
bagian akhir.
Question (pertanyaan): buat pertanyaan sebagai panduan
membaca untuk mencari jawaban dari bacaan.
Read (membaca): kegiatan membaca teks secara aktif dan
mencoba mendapat jawaban dari pertanyaan2 yang dibuat.
Recite (imbas kembali): mengingat kembali pesan2 yang
terdapat dalam bacaan. Pesan utama yang perlu diingat
adalah jawaban atas pertanyaan2 yang dibuat sebelumnya.
Review (baca ulang): baca kembali bagian2 teks tertentu
untuk cocokkan jawaban2 atas pertanyaan sebelumnya.
“Berpikir Kritis” Moore dan Parker (1998:23) Ketetapan yang hati-hati apakah kita menerima,  menolak atau menangguhkan
“Berpikir Kritis” Moore dan Parker (1998:23)
Ketetapan yang hati-hati apakah kita menerima,
menolak atau menangguhkan penilaian terhadap suatu
pertanyaan.
Apa topik utama bacaan yang Anda baca?
1)
Kesimpulan apa yang diambil oleh penulis tentang
2)
topik tersebut?
3)
Apakah alasan yang dikemukakan oleh penulis dapat
dipercaya?
Apakah penulis menggunakan fakta atau opini?
4)
Apakah
penulis
menggunakan
kata2
netral
atau
5)
emosional?
MENULIS RESENSI BAHASA INDONESIA Penulisan Kreatif 2
MENULIS RESENSI
BAHASA INDONESIA
Penulisan Kreatif 2
Resensi  Resensi adalah tulisan tentang informasi buku baru atau bentuk lain sebagai pertimbangan kelayakan bagi
Resensi
Resensi adalah tulisan tentang informasi buku baru atau
bentuk lain sebagai pertimbangan kelayakan bagi pembacanya.
(KBBI) Resensi : pertimbangan atau pembicaraan tentang
buku; ulasan buku.
”Suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya
atau buku” (Keraf, 2001 : 274)
Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja
revidere atau recensere. Artinya melihat kembali, menimbang,
atau menilai. Arti yang sama untuk istilah itu dalam bahasa
Belanda dikenal dengan recensie, sedangkan dalam bahasa
Inggris dikenal dengan istilah review.
Sistematika Resensi Unsur-unsur Resensi, Daniel Samad (1997: 7- 8) : 1) judul resensi; 2) data buku;
Sistematika Resensi
Unsur-unsur Resensi, Daniel Samad (1997: 7- 8) :
1) judul resensi;
2) data buku;
3) pendahuluan;
4) tubuh resensi; dan
5) penutup.
1. Judul Resensi  Judul resensi harus menggambarkan isi buku yang diresensi.  Judul resensi harus
1. Judul Resensi
Judul resensi harus menggambarkan isi buku
yang diresensi.
Judul resensi harus jelas, singkat, padat, dan
menarik.
Judul
resensi
tidak
menimbulkan
salah
penafsiran pembaca.
Judul resensi harus selaras dengan isi buku.
Penulisan judul resensi tidak harus ditetapkan
lebih dulu.
2. Data Buku Judul buku, (bila terjemahan, tulis juga judul asli); a. Pengarang, (penerjemah, untuk buku
2. Data Buku
Judul buku, (bila terjemahan, tulis juga judul asli);
a.
Pengarang, (penerjemah, untuk buku terjemahan);
b.
Editor, atau penyunting;
c.
Penerbit;
d.
Tahun terbit, (beserta cetakan ke berapa);
e.
Tebal buku, jumlah halaman;
f.
Harga buku, (bila diperlukan);
g.
Identitas peresensi.
h.
3. Pendahuluan Perkenalan siapa pengarang, karya, dan prestasinya; a. Bandingkan dengan buku sejenis (baik ditulis oleh
3. Pendahuluan
Perkenalan siapa pengarang, karya, dan prestasinya;
a.
Bandingkan dengan buku sejenis (baik ditulis oleh
b.
pengarang sendiri maupun pengarang lain);
Memaparkan kekhasan (atau sosok pengarang);
c.
Keunikan buku;
d.
Merumuskan tema buku;
e.
Mengungkapkan kesan terhadap buku;
f.
Memperkenalkan penerbit;
g.
Mengajukan pertanyaan;
h.
Membuka dialog.
i.
4. Tubuh Resensi Sinopsis, atau isi buku dan kronologis; a. Ulasan singkat buku dengan kutipan b.
4. Tubuh Resensi
Sinopsis, atau isi buku dan kronologis;
a.
Ulasan
singkat
buku
dengan
kutipan
b.
secukupnya;
Keunggulan buku;
c.
Kelemahan buku;
d.
Rumusan kerangka buku;
e.
Tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit);
f.
Adanya kesalahan cetak.
g.
5. Penutup Penutup, biasanya berisi buku yang diresensi  itu penting untuk : Siapa (segmen pembaca);
5. Penutup
Penutup, biasanya berisi buku yang diresensi
itu penting untuk :
Siapa (segmen pembaca); dan
a.
Mengapa?
b.
Pemahaman Dasar Penulis Resensi Paham atau menangkap maksud/tujuan 1. penulis buku; 2. Memiliki tujuan dalam membuat
Pemahaman Dasar Penulis Resensi
Paham atau menangkap maksud/tujuan
1.
penulis buku;
2.
Memiliki tujuan dalam membuat resensi
buku (mengajak orang baca/kritik pada
penulis);
Mengenal atau mengetahui tingkat
3.
pemahaman para pembaca;
4.
Memiliki pengetahuan dan menguasai
berbagai disiplin ilmu;
Jadilah
pengamat
buku
sekaligus
5.
kolektor buku.
KERANGKA KARANGAN BAHASA INDONESIA Penulisan Kreatif 3
KERANGKA KARANGAN
BAHASA INDONESIA
Penulisan Kreatif 3
Kerangka Karangan  Kerangka Karangan (out line) adalah pola urutan seluruh karangan (karya tulis) yang akan
Kerangka Karangan
Kerangka Karangan (out line) adalah pola urutan
seluruh karangan (karya tulis) yang akan kita buat.
Kerangka Karangan memuat garis besar suatu karangan
yang akan ditulis berupa rangkaian ide-ide yang
disusun secara sistematis.
Tujuan Kerangka Karangan adalah membuat karangan
tersaji rapi, ramping, enak dipandang, dan enak dibaca.
Kerangka Karangan berbeda dengan daftar isi.
Fungsi Kerangka Karangan Kerangka Karangan dapat membantu penulis 1. mengorganisasikan idenya, menyusun ide-ide pendukung. 2. Kerangka
Fungsi Kerangka Karangan
Kerangka Karangan dapat membantu penulis
1.
mengorganisasikan idenya, menyusun ide-ide
pendukung.
2.
Kerangka Karangan dapat mempercepat
proses penulisan. (KK = 75% tulisan).
Kerangka Karangan memungkinkan adanya
3.
kualitas bahasa yang tinggi
Susunan Kerangka Karangan KK pada dasarnya terdiri 4 bagian (Iqbal, 2009): Judul/wajah yang mencerminkan tema. 1.
Susunan Kerangka Karangan
KK pada dasarnya terdiri 4 bagian (Iqbal, 2009):
Judul/wajah yang mencerminkan tema.
1.
2.
Lead (sapaan/pendahuluan) yang memancing
minat dan gairah.
Tubuh yang ramping dan dinamis.
3.
Penutup yang bergaya pamit.
4.
Komposisi Kerangka Karangan 1. Judul (5%) 2. Lead (5%): - Pendahuluan - Paragraf paling menarik (dari
Komposisi Kerangka Karangan
1. Judul (5%)
2.
Lead (5%):
-
Pendahuluan
-
Paragraf paling menarik (dari tubuh)
3.
Tubuh (80%):
Kalimat-2 yang membentuk sebuah paragraf harus
merupakan kesatuan.
Pertama, menegaskan “apa” yang akan diceritakan;
gagasan, gambaran, atau definisi.
-
3. Tubuh (80%): - Kedua, menjelaskan pengertian (materi pokok) yang tersirat dari kalimat pertama, tujuannya agar
3. Tubuh (80%):
-
Kedua, menjelaskan pengertian (materi pokok) yang
tersirat dari kalimat pertama, tujuannya agar pembaca
punya gambaran yang jelas tentang gagasan yang
terkandung dalam kalimat pertama.
-
Ketiga,
kalimat
yang
menjelaskan
dua
kalimat
sebelumnya,
kehadirannya
memberikan
gambaran
yang jelas bagi pembaca terhadap yang diceritakan.
-
Demikian seterusnya. Kalimat belakangan berfungsi
menjelaskan kalimat sebelumnya, bukan merupakan
kalimat yang mencetuskan gagasan baru.
- Jika ada gagasan baru, buat paragraf baru. Namun, selesaikan paragraf sebelumnya sampai tuntas. - Paragraf
-
Jika ada gagasan baru, buat paragraf baru. Namun,
selesaikan paragraf sebelumnya sampai tuntas.
-
Paragraf yang banyak dibaca adalah yang beruntun,
kalimat-2 berkaitan menuju ke arah suatu gambaran
yang tertentu
4. Penutup (10%)
-
Paragraf yang bergaya pamit, bukan “penutup”
-
Misal; demikian, saatnya, jadi, inilah, oleh karena
itu, atau maka.
Pengembangan Kerangka Karangan Proses pengembangan karangan tergantung pada penguasaan  kita terhadap materi yang hendak ditulis.
Pengembangan Kerangka Karangan
Proses pengembangan karangan tergantung pada penguasaan
kita terhadap materi yang hendak ditulis.
Jika benar-benar memahami materi dengan baik, permasalahan
dapat diangkat dengan kreatif, mengalir dan nyata.
Terbukti pula kekuatan bahan materi yang kita kumpulkan
dalam menyediakan wawasan untuk mengembangkan
karangan.
Pengembangan karangan jangan sampai menumpuk dengan
pokok permasalahan yang lain.
Untuk itu pengembangannya harus sistematis, dan terarah.
Alur
pengembangan
juga
harus
disusun
secara
teliti
dan
cermat.
MENULIS OPINI (artikel), ESAI & KOLOM BAHASA INDONESIA Penulisan Kreatif 4
MENULIS OPINI (artikel),
ESAI & KOLOM
BAHASA INDONESIA
Penulisan Kreatif 4
OPINI Opini (KBBI): pendapat, pikiran, pendirian.   Artikel (KBBI): karya tulis lengkap di majalah, surat
OPINI
Opini (KBBI): pendapat, pikiran, pendirian.
Artikel (KBBI): karya tulis lengkap di majalah, surat
kabar, dsb atau karya tulis yang bersifat umum dan
luas, bisa berupa opini atau berita.
Artikel Opini adalah tulisan yang menekankan pada
pendapat seorang penulis atas suatu data, fakta, dan
kejadian berdasarkan analisis subjektif penulis.
Artikel Opini (ilmiah poluler) biasa dimuat di media
massa seperti koran dan majalah.
Panjang
tulisan
4-6
halaman
kwarto spasi ganda
(4.500-6.000 karakter).
Gaya Penulisan Eksposisi 1. Deskripsi 2. Narasi 3. Argumentasi 4.
Gaya Penulisan
Eksposisi
1.
Deskripsi
2.
Narasi
3.
Argumentasi
4.
1. Eksposisi  Eksposisi adalah tulisan yang tujuan utamanya mengklarifikasi, menjelaskan, mendidik, atau mengevaluasi suatu persoalan.
1. Eksposisi
Eksposisi adalah tulisan yang tujuan utamanya
mengklarifikasi, menjelaskan, mendidik, atau
mengevaluasi suatu persoalan.
Eksposisi mengandalkan strategi pengembangan
paragraf seperti dengan memberikan contoh, proses,
sebab-akibat, klasifikasi, definisi, analisis, komparasi,
dan kontras.
Untuk memperjelas uraian, biasanya eksposisi dapat
dilengkapi dengan grafik, gambar, atau statistik.
2. Deskripsi Deskripsi lebih memberi gambaran verbal terhadap  sesuatu yang akan ditulis, baik itu manusia,
2. Deskripsi
Deskripsi lebih memberi gambaran verbal terhadap
sesuatu yang akan ditulis, baik itu manusia, objek,
penampilan, pemandangan, atau kejadian.
[visualisasi)
Penulisan dengan menggambarkan suatu objek
sedemikian rupa sehingga pembaca seolah-olah
melihat sendiri, mengalami, dan merasakan apa yang
terjadi sebagaimana dipersepsikan oleh panca indera.
3. Narasi Narasi (bercerita), rangkaian suatu peristiwa  atau kejadian secara kronologis, baik fakta maupun rekaan
3. Narasi
Narasi (bercerita), rangkaian suatu peristiwa
atau kejadian secara kronologis, baik fakta
maupun rekaan (fiksi).
Narasi bisa bergaya sudut pandang orang
pertama sehingga terasa subjektivitas penulis,
atau orang ketiga
yang akan
terasa
sangat
objektif.
4. Argumentasi  Argumentasi adalah tulisan yang membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran sebuah pernyataan.  Argumentasi untuk
4. Argumentasi
Argumentasi adalah tulisan yang membuktikan kebenaran atau
ketidakbenaran sebuah pernyataan.
Argumentasi untuk meyakinkan orang lain (pembaca) dengan
disertai bukti atau alasan yang kuat.
Argumentasi Deduktif (umum-khusus) dan Induktif (khusus-
umum).
Pertimbangan yang dapat menguatkan argumentasi: 1)
kredibilitas penulis; 2) data empiris-bukti; 3) nalar-logika 4)
emosi, nilai dan etika.
ESAI  Esai adalah sebuah komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang subjek tertentu. Esai
ESAI
Esai adalah sebuah komposisi prosa singkat yang
mengekspresikan opini penulis tentang subjek tertentu.
Esai dibagi Tiga:
1. Pendahuluan yang berisi latar belakang informasi yang
mengidentifikasi subjek bahasan dan pengantar tentang
subjek.
Tubuh esai menyajikan seluruh informasi tentang subjek.
2.
Konklusi yang memberikan kesimpulan dengan
3.
menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan tubuh esai,
atau menambahkan beberapa observasi tentang subjek.
Esai Dibedakan Jadi:  1) deskriptif-visualisasi; 2) ekspositori-menjelaskan; 3) naratif-kronologis; 4) persuasif-motivasi; 5) dokumentatif-informasi penelitian. Contoh:
Esai Dibedakan Jadi:
1) deskriptif-visualisasi;
2) ekspositori-menjelaskan;
3) naratif-kronologis;
4) persuasif-motivasi;
5) dokumentatif-informasi penelitian.
Contoh: Catatan Pinggir (Tempo)
KOLOM  Kolom adalah sebuah rubrik khusus di media massa cetak yang berisikan karangan atau tulisan
KOLOM
Kolom adalah sebuah rubrik khusus di media massa cetak yang
berisikan karangan atau tulisan pendek, merupakan pendapat
subjektif penulisnya tentang suatu masalah (Samsul, 2003).
Panjang
tulisan
Kolom
separuh
artikel opini atau esai, gaya
penulisan khas.
Tulisan Kolom tidak mempunyai struktur tertentu; misal ada bagian
pendahuluan (lead), isi (tubuh tulisan), dan penutup.
Kolom berisi langsung tubuh tulisan, judul singkat (bisa hanya satu
kata).
Contoh: Resonansi dan Refleksi (Republika), Asal Usul (Kompas),
Perspektif (Ummat), dsb.
Kiat Menulis Kolom (Yeoh,2009) Pendirian teguh dalam tulisan; 1. Pertahankan fokus tulisan; 2. Pahami pandangan yang
Kiat Menulis Kolom (Yeoh,2009)
Pendirian teguh dalam tulisan;
1.
Pertahankan fokus tulisan;
2.
Pahami pandangan yang berlawanan;
3.
Mengaculah pada fakta;
4.
Gunakan analogi;
5.
Kritis;
6.
Lakukan reportase;
7.
Buat tulisan personal sesuai selera lokal;
8.
Tunjukkan hasrat pada pembaca;
9.
Berikan solusi.
10.
PENULISAN BERITA BAHASA INDONESIA Penulisan Kreatif 5
PENULISAN BERITA
BAHASA INDONESIA
Penulisan Kreatif 5
 BERITA (Menurut KBBI) berarti laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat.  BERITA adalah laporan
BERITA (Menurut KBBI) berarti laporan mengenai
kejadian atau peristiwa yang hangat.
BERITA adalah laporan tercepat mengenai fakta atau
ide terbaru yang benar, menarik dan atau penting bagi
sebagian besar khalayak, melalui media berkala
seperti surat kabar, radio, televisi, atau media on-line
internet.
NEWS (BERITA) mengandung kata new yang berarti
baru. Berita adalah sesuatu yang baru yang
diketengahkan
bagi
khalayak
pembaca atau
pendengar.
Unsur Fakta yang Layak Jadi Berita 1. Penting; kejadian yang dapat pengaruhi khalayak atau punya dampak
Unsur Fakta yang Layak Jadi Berita
1.
Penting; kejadian yang dapat pengaruhi khalayak atau punya
dampak terhadap kehidupan para pembaca.
2.
Besar; kejadian yang menyangkut angka-angka berarti bagi
kehidupan orang banyak atau kejadian yang dapat berakibat
dijumlahkan dalam rangka menarik buat pembaca.
3.
Waktu; kejadian menyangkut hal-hal yang baru terjadi atau
baru ditemukan.
4.
Dekat; kejadian yang dekat bagi pembaca. Kedekatan ini bisa
bersipat geografis ataupun emosional.
5.
Populer/luar biasa; menyangkut hal-hal yang terkenal atau
sangat terkenal oleh pambaca.
6.
Manusiawi; kejadian yang memberikan sentuhan perasaan
bagi para pembaca, kejadian yang menyangkut orang biasa
dalam situasi luar biasa atau orang besar dalam situasi biasa.
1. Straight News: berita langsung, apa adanya, ditulis secara singkat dan lugas. Straight News ada 2
1.
Straight News: berita langsung, apa adanya,
ditulis secara singkat dan lugas. Straight News ada
2 Macam :
a. Hard News: yakni berita yang memiliki nilai
lebih dari segi aktualitas dan kepentingan atau amat
penting segera diketahui pembaca. Berisi informasi
peristiwa khusus (special event) yang terjadi secara
tiba-tiba.
b. Soft News, nilai beritanya di bawah Hard News
dan lebih merupakan berita pendukung.
2. Depth News: berita mendalam, dikembangkan dengan pendalaman hal-hal yang ada di bawah suatu permukaan. 3.
2.
Depth
News:
berita
mendalam,
dikembangkan
dengan
pendalaman hal-hal yang ada di bawah suatu permukaan.
3. Investigation News: berita yang dikembangkan berdasarkan
penelitian atau penyelidikan dari berbagai sumber.
4.
Interpretative
News:
berita
yang
dikembangkan
dengan
pendapat atau penelitian penulisnya/reporter.
5. Opinion News: berita mengenai pendapat seseorang, biasanya
pendapat para cendekiawan, sarjana, ahli, atau pejabat,
mengenai suatu hal, peristiwa, kondisi poleksosbudhankam,
dan sebagainya.
1. Headline.  Biasa disebut judul. Sering juga dilengkapi dengan anak judul. Ia berguna untuk: (1)
1.
Headline.
Biasa disebut judul. Sering juga dilengkapi dengan anak judul. Ia berguna
untuk: (1) menolong pembaca agar segera mengetahui peristiwa yang akan
diberitakan; (2) menonjolkan satu berita dengan dukungan teknik grafika.
2.
Dateline.
Terdiri atas nama media massa, tempat kejadian dan tanggal kejadian.
Tujuannya adalah untuk menunjukkan tempat kejadian dan inisial media.
3.
Lead.
Lazim disebut teras berita. Biasanya ditulis pada paragraph pertama sebuah
berita. Ia merupakan unsur yang paling penting dari sebuah berita, yang
menentukan apakah isi berita akan dibaca atau tidak. Ia merupakan sari pati
sebuah berita, yang melukiskan seluruh berita secara singkat.
4.
Body.
Atau tubuh berita. Isinya menceritakan peristiwa yang dilaporkan dengan
bahasa yang singkat, padat, dan jelas. Dengan demikian body merupakan
perkembangan berita.
Berita Harus terdapat 5W + 1H (1) What - apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
Berita Harus terdapat 5W + 1H
(1) What - apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
(2) Who - siapa yang terlibat di dalamnya?
(3) Where - di mana terjadinya peristiwa itu?
(4) When - kapan terjadinya?
(5) Why - mengapa peristiwa itu terjadi?
(6) How - bagaimana terjadinya?
(7) What next - terus bagaimana?
Teknik Penulisan Berita
Teknik Penulisan Berita
SEMUA ORANG BERBAKAT MENULIS BAHASA INDONESIA Penulisan Kreatif 6
SEMUA ORANG
BERBAKAT MENULIS
BAHASA INDONESIA
Penulisan Kreatif 6
“ Yang mungkin diperlukan bukanlah suatu ‘bakat’ istimewa, tetapi lebih pada keinginan dan minat yang besar
“ Yang mungkin diperlukan bukanlah suatu ‘bakat’
istimewa, tetapi lebih pada keinginan dan minat
yang besar untuk mau belajar, membangun
kebiasaan menuangkan gagasan lewat tulisan ”
Andrias Harefa
(penulis buku-buku best seller)
PERTYANYAAN UMUM Mahasiswa, praktisi-profesional, kalangan pejabat, semua  ‘mengeluh’ kesulitan untuk mengungkpan gagasan lewat tulisan. 
PERTYANYAAN UMUM
Mahasiswa,
praktisi-profesional,
kalangan
pejabat,
semua
‘mengeluh’ kesulitan untuk mengungkpan gagasan lewat
tulisan.
Semua mengaku banyak sekali ide atau gagasan yang ingin
disampaikan dalam tulisan.
ALASAN TIDAK MENULIS
Tidak punya waktu
Tidak tahu memulai menulis dari mana
Tidak percaya diri
Memvonis diri sendiri tidak berbakat menulis
FAKTA KEMAMPUAN MENULIS  Dari pengalaman saya sendiri – rekan2 penulis, bahwa untuk bisa menjadi seorang
FAKTA KEMAMPUAN MENULIS
Dari pengalaman saya sendiri – rekan2 penulis,
bahwa untuk bisa menjadi seorang penulis
yang dibutuhkan hanya kemauan yang kuat
dan keberanian, termasuk berani ‘salah’.
Kecuali kitab suci (*Al-Quran), tidak ada
tulisan (buku) yang sempurna atau paripurna.
Hal Penting untuk Menjadi PENULIS (Peter Henshall dan David Ingram dalam The News Manual); Mempunyai ketertarikan
Hal Penting untuk Menjadi PENULIS
(Peter Henshall dan David Ingram dalam The News Manual);
Mempunyai
ketertarikan pada keadaan
1.
sekelilingnya;
2.
Mencintai bahasa; karena bahasa faktor
penting dalam menulis;
Dapat dipercaya; berdasar kebenaran, akurat
3.
dan objektif;
Kritis, tidak mudah percaya pada informasi
4.
Gigih, dan
5.
Bersahabat
6.
Modal Sosial Penulis  Mempunyai „kepekaan‟ dan „sikap berhadapan dengan „teks kehidupan‟. kritis‟  Teks Kehidupan
Modal Sosial Penulis
Mempunyai „kepekaan‟ dan „sikap
berhadapan dengan „teks kehidupan‟.
kritis‟
Teks Kehidupan itu, bersifat 1) tertulis (buku,
majalah, Koran, internet, dsb), 2) tidak tertulis (fakta-
fakta, peristiwa atau fenomena) yang kita lihat, kita
dengar, kita rasakan, dsb.
Rajin membaca memberikan pengayaan informasi,
wawasan yang luas dan referensi berkaitan dengan
apa yang kita tulis
MENGGALI GAGASAN/IDE “What the Dog Saw” – karya Malcolm Gladwell. “Mengarang Itu Gampang” – karya Arswendo
MENGGALI GAGASAN/IDE
“What the Dog Saw” – karya Malcolm Gladwell.
“Mengarang Itu Gampang” – karya Arswendo Atmowiloto
“Mahir Menulis” – karya Mudrajad Kuncoro
….dsb.
Mencari Inspirasi Untuk Menulis:
Kitab suci
1.
Membaca; koran, buku, majalah, dll
2.
Peristiwa sekitar
3.
…….Dst.
4.
Memulai Menulis MEYAKINKAN DIRI SENDIRI BAHWA SEMUA ORANG DAN SEGALA HAL PUNYA CERITA “witing bisa jalaran
Memulai Menulis
MEYAKINKAN DIRI SENDIRI BAHWA
SEMUA ORANG DAN SEGALA HAL
PUNYA CERITA
“witing bisa jalaran saka kulina”
[anda akan bisa menulis kalau anda telah
membiasakan diri (memaksakan diri bagi
pemula) untuk menulis]
SUMBER BACAAN 1. MAHIR MENULIS; Kiat Jitu Menulis Artikel Opini, Kolom & Resensi Buku oleh Mudrajad
SUMBER BACAAN
1.
MAHIR MENULIS; Kiat Jitu Menulis Artikel Opini, Kolom &
Resensi Buku oleh Mudrajad Kuncoro, Penerbit ERLANGGA,
2010.
Tata
Permainan
Bahasa
Karya Tulis Ilmiah oleh Wahyu
2.
Wibowo, Bumi Aksara, 2010.
3.
Bahasa Indonesia Untuk Mahasiswa oleh Tim Penulis Bahasa
Indonesia UNEJ, Penerbit Andi, 2008.
4.
Buku Pintar Penyuntingan Naskah oleh Pamusuk Eneste,
Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Web: pusatbahasa.kemendiknas.go.id
5.
MAKALAH BAHASA INDONESIA Penulisan Kreatif 7
MAKALAH
BAHASA INDONESIA
Penulisan Kreatif 7
1. Pengertian Makalah Makalah adalah suatu karya tulis ilmiah  mahasiswa mengenai suatu topik tertentu yang
1. Pengertian Makalah
Makalah adalah
suatu
karya
tulis
ilmiah
mahasiswa mengenai suatu topik tertentu yang
tercakup dalam ruang lingkup suatu
perkuliahan.
Makalah ini umumnya merupakan salah satu
syarat menyelesaikan suatu perkuliahan, baik
berupa kajian pustaka maupun hasil kegiatan
perkuliahan lapangan.
2. Karakteristik Makalah Makalah mahasiswa yang dimaksudkan dalam hal ini memiliki karakteristik sebagai berikut: a. Diangkat
2. Karakteristik Makalah
Makalah mahasiswa yang dimaksudkan dalam hal
ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.
Diangkat dari suatu kajian literatur dan atau laporan pelaksanaan
kegiatan lapangan.
b.
Ruang lingkup makalah berkisar pada cakupan permasalahan
dalam suatu mata kuliah.
c.
Memperlihatkan kemampuan mahasiswa tentang permasalahan
teoritis yang dikaji atau dalam menerapkan suatu prosedur,
prinsip atau teori yang berhubungan dengan perkuliahan.
d.
Memperlihatkan kemampuan para mahasiswa dalam memahami
isi dari sumber-sumber yang digunakan.
e.
Menunjukkan kemampuan mahaiswa dalam merangkai berbagai
sumber informasi sebagai satu kesatuan sintesis yang utuh.
3. Sistematika Makalah Secara garis besar makalah yang ditulis mahasiswa terdiri dari tiga bagian pokok sebagai
3. Sistematika Makalah
Secara garis besar makalah yang ditulis mahasiswa terdiri dari
tiga bagian pokok sebagai berikut :
a. Pendahuluan, memuat tentang persoalan yang akan dibahas antara
lain meliputi latar belakang masalah, fokus dan rumusan masalah,
prosedur pemecahan masalah dan sistematika uraiannya.
b. Isi, yakni bagian yang memuat tentang kemampuan penulis dalam
mendemonstrasikan kemampuannya untuk menjawab persoalan
atau masalah yang dibahasnya. Pada bagian isi boleh terdiri dari
lebih satu bagian sesuai dengan permasalahan yang dikaji.
c. Kesimpulan, yakni bagian yang memuat pemaknaan dari penulis
terhadap diskusi atau pembahasan masalah berdasarkan kriteria
dan sumber-sumber literatur atau data lapangan. Kesimpulan ini
mengacu kepada hasil pembahasan permasalahan dan bukan
merupakan ringkasan dari isi makalah.
Langkah Penulisan Makalah Dalam pembuatan/menyusun makalah, perlu diperhatikan langkah- langkah sebagai berikut: 1) Mempelajari/menganalisa topik yang
Langkah Penulisan Makalah
Dalam pembuatan/menyusun makalah, perlu diperhatikan langkah-
langkah sebagai berikut:
1) Mempelajari/menganalisa topik yang akan ditulis.
2) Menyusun pola pikir, meliputi:
a)
Pokok masalah dalam topik.
b)
Menentukan tujuan dan ruang lingkup.
3) Pengumpulan bahan-bahan materi (referensi)
4) Menulis/menyusun makalah dituntut:
a)
Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
b)
Susunan kalimat yang mudah dipahami.
c)
Rangkaian uraian yang berkaitan.
d)
Singkat, padat, tegas, dan jelas dalam uraian.
e)
Menulis/menyusun makalah secara “tidak bombastis”, banyak
atau panjang kalimatnya tanpa isi yang jelas.
Sistematika Penulisan Makalah (1) Untuk mendukung terhadap penyusunan makalah yang baik, makalah hendaknya disesuaikan dengan sistematika
Sistematika Penulisan Makalah (1)
Untuk mendukung terhadap penyusunan makalah yang baik, makalah
hendaknya disesuaikan dengan sistematika sebagai berikut:
1) Lembar Judul, memuat:
a) Judul Makalah
b) Nama, NIM
c) Nama dan Tempat Perguruan Tinggi
d) Tahun
2) Kata Pengantar
3) Daftar Isi
4) Daftar Gambar(jika ada)
5) Daftar Tabel (jika ada)
Sistematika Penulisan Makalah (2) 6) Batang Tubuh Makalah, terdiri dari : a) Pendahuluan Pendahuluan berisi pengantar
Sistematika Penulisan Makalah (2)
6) Batang Tubuh Makalah, terdiri dari :
a) Pendahuluan
Pendahuluan berisi pengantar ke permasalahan pokok yang
memberikan gambaran tentang batasan dan tujuan penulisan.
Isi pendahuluan + 15 %.
Bab ini dibagi dalam 3 Sub Bab sebagai berikut:
(1) Latar Belakang
Memberikan penjelasan tentang manfaat/pentingnya
timbulnya Judul/Topik untuk dibahas.
(2) Ruang Lingkup
Memberikan penjelasan tentang ruang lingkup permasalahan
yang menjadi batasan pembahasan.
(3) Maksud dan Tujuan Penulisan
Memberikan penjelasan tentang maksud penulisanmakalah
dan tujuan berisi tentang hal yang diinginkan pada penulisan
makalah, sesuai dengan konteks permasalahan yang akan dibahas.
Sistematika Penulisan Makalah (3) b) Pembahasan (ditulis topiknya) Pembahasan merupakan isi dari makalah, berupa uraian yang
Sistematika Penulisan Makalah (3)
b) Pembahasan (ditulis topiknya)
Pembahasan merupakan isi dari makalah, berupa uraian
yang relevan dengan ruang lingkup.
Isi pembahasan + 75%, dengan pembagian meliputi :
(1) Uraian yang membahas pemecahan masalah sesuai
dengan lsi topik.
(2) Dalam menguraikan pembahasan ini dapat
menggunakan bahan referensi yang resmi.
(3) Bila mungkin dapat memuat faktor-faktor penentu
(faktor pendukung dan f aktor penghambat).
(4) Pada dasarnya uraian tersebut adalah untuk
menjawab permasalahan dengan alternatif pemecahan
masalah
Sistematika Penulisan Makalah (4) c) Penutup Pada bab yang terakhir ini berisi tentang kesimpulan dan saran
Sistematika Penulisan Makalah (4)
c)
Penutup
Pada bab yang terakhir ini berisi tentang kesimpulan dan saran yang pada
dasarnya merupakan penegasan inti makalah yang
dirumuskan dengan jelas, singkat, dan tegas.
Isi penutup + 10%.
(1) Kesimpulan
Berisi jawaban dan permasalahan dalam bentuk resume atau ikhtisar dari
permasalahan.
(2) Saran
Saran yang dimaksud di sini, merupakan usul atau pendapat dari
penulis yang mengacu pada materi pembahasan. Hendaknya dikemukakan
secara jelas dan kemungkinan dapat dilaksanakan.
d)
Daftar Pustaka
Merupakan acuan dalam penulisan makalah baik dari buku, surat
kabar, internet, dan sumber tertulis lainnya.
Contoh penulisan daftar pustaka :
Sunarto, Perpajakan, BPFE Universitas Taman Siswa Yogyakarta dan Air
printing, Yogyakarta: 2OO2.
e)
Lampiran-lampiran
Teknik Penomoran I _______________________ (Bab)  A _________________ (Judul)  1. __________________ (Sub Judul)  a.
Teknik Penomoran
I
_______________________
(Bab)
A
_________________
(Judul)
1. __________________
(Sub Judul)
a. __________
(Sub SubJudul)
1)
___________
(dst)
a)
__________
(dst)
Teknik Kutipan Kutipan berfungsi sebagai pendukung penulisan makalah 1) Kutipan Tidak Langsung Adalah kutipan dengan mengambil
Teknik Kutipan
Kutipan berfungsi sebagai pendukung penulisan makalah
1) Kutipan Tidak Langsung
Adalah kutipan dengan mengambil pendapa/uraian dari
buku/sumber lain yang penyajiannya dengan bahasan sendiri.
Contoh: Sehingga ada 3 kategori
pembagian barang dan jasa menurut hubungannya, yaitu barang
komplementer, barang subtitusi, dan barang bebas.
2) Kutipan Langsung
Adalah kutipan dari buku atau tulisan yang harus sama dengan
aslinya baik dengan susunan kata-katanya maupun tanda bacanya.
Kutipan yang panjangnya 5 (lima) baris atau lebih, diketik berspasi
1 (satu) dengan mengosongkan lima ketik dari garis batas/
margin sebelah kiri dengan tidak diberi tanda kutip.
Format Ukuran Kertas dan Sampul a. Kertas : A4 80 gram b. Sampul : Kertas Buffalo
Format Ukuran Kertas dan Sampul
a.
Kertas : A4 80 gram
b.
Sampul : Kertas Buffalo warna Kuning
c.
Font : Arial
d.
Size : 12
e.
Spasi : 1,5
f.
Margin
-
Atas : 4 cm
-
Kiri : 4 cm
-
Bawah : 3 cm
-
Kanan : 3 cm
g.
Makalah ditulis minimal 10 halaman belum termasuk halaman Judul,
Lampiran, dan Daftar Pustaka.
h.
Nomor Halaman
-
Letak di kanan atas
-
Angka i,ii,iii,dst. Mulai dari kata pengantar sampai dengan sebelum Bab
Pendahuluan.
-
Angka 1,2,dst. Mulai dari Pendahuluan sampai dengan akhir