Anda di halaman 1dari 9

PERNIKAHAN BEDA AGAMA

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Fiqih 3 Dosen Pengampu :

Moh. Shofiyul Huda MF, M. Ag

Disusun Oleh M Zaenal Muttaqin

JURUSAN USHULUDDIN DAN ILMU SOSIAL PRODI TAFSIR HADIS SEKLAH TNGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) 2012

A. Pendahuluan Hukum Islam adalah salah satu aspek ajaran Islam yang menempati posisi penting dalam pandangan umat Islam, karena ia merupakan manifestasi paling konkret dari hukum Islam sebagai sebuah agama. Sedemikin pentingnya hukum Islam dalam skema doctrinal-Islam, sehingga seorang orientalis, Joseph Schacht, menilai bahwamustahil memahami Islam tanpa memahami hukum Islam1. Jika dilihat dari persepektif historisnya, Hukum Islam pada awalnya merupakan suatu kekuatan yang dinamis dan kreatif. Hal ini dapat dilihat dari munculnya sejumlah madzab hukum yang responsive terhadap tantangan historinya masing-masing dan memiliki corak sendiri-sediri, sesua dengan sosio cultural dan politis di mana madzab hukum itu mengambil tempat untuk tumbih dan berkembang. Dalam tata hukum nasional-Indonesia UU No. 1/1974 dan Inpres No. 1/1991 merupakan peraturan yang memuat nilai-nilai hukum Islam, bahkan KHI merupakan fiqih Indonesia yang sepenuhnya memuat materi hukum keperdataan Islam (Perkainan, kewarisan dan perwakafaan), Dalam hukum perbedaan agama dan keluarga Islam kontemporer mengalami banyak banyak perkembangan pemikiran, bolehnya ahli waris yang beda agama mendapatkan harta warisan dan lain sebagainya, dalam makalah ini fokusnya hanya pada pernikahan beda agama. Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan merupakan undang-undang yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan permasalahn yang terkait dengan perkawinan atau nikah, talak, cerai dan rujuk, yang ditandatangani oleh pengesahannya pada tanggal 2 januari 1974 oleh presiden Soeharto, agar undang-undang perkawinan dapat dilaksanakan dengan seksama, pemerintahan mengeluarkan peraturan pemerintahan (PP) No. 1975. Undang-undang ini merupakan hasil usaha untuk menciptakan hukum nasional dan merupakan hasil unifikasi hukum yang menghormati adanya variasi berdasarkan agama. Unifikasi ini bertujuan untuk melengkapi segala yang hukumnya yang di atur dalam agama tersebut2. Pengetian perkawinan ini menurut hukum adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagi suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga bahgia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa3. Pengertian

Jhosep Schacht, An Itroduction to Islamic law, The Chalendon Press, London, 1971, hal. 1 Tim Penyusun Ensiklopedia, Ensiklopedia Hukum Islam, Cet Ichiat van Hoeve, Jakarta hal. 1864. Undang-undang perkawinan Nomor 1 tahun 1974 Bab 1 pasal 1

Karena masalah ini adalah masalah hukum, untuk mengetahui pengertian tantang pernikahan beda agama, perlu kiranya kita mengetahui istilah-istilah dalam konteks hokum yang berlaku dinegara kita. Sebelum diundangkannya Undang-undang perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, di Indonesia pernah berlaku peraturan hukum antar golongan tentang pernikahan campuran, yaitu Regeling op de Gemengde Huwelijken (GHR) atau peraturan tentang perkawinan campuran sebagaimana dimuat dalam Staatblad 1898 Nomor 1584. Pasal 1 dari peraturan tentang perkawinan camouran itu dinyatakan bahwa yang dinamakan perkawinan campuran adalah perkawinan orang-orang di Indonesia yang tunduk kepada hukum yang berlainan. Terhadap pasal ini ada tiga pandangan dari para ahli hukum mengenai perkawinan antar agama, sebagai mana diungkapkan oleh Prof Dr. Sudargo Gautama sebagi berikut: 1. Perkawinan campuran antar agama dan antar tempat termasuk di bawah GHR.
2. Perkawinan antar agama dan antar tempat tidak termasuk di bawah GHR5.

3. Hanya perkawinan antar agama yang termasuk di bawah GHR. Kemudian dengan berlakunya Undang-undang perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, seperti disebut pada pasal 66, maka semua ketentuan-ketentuan perkawina terdahulu sepanjang telah diatur dalam undang-undang tersebut dinyatakan tidak berlaku6. 1. Pemahaman tentang pasal demi pasal dari UU No. 1/ 1974, Khususnya yang berkaitan dengan perkawinan beda agama, di kalangan para ahli dan praktisi hukum, dapat dijumpai tiga pendapat:
2. Perkawinan beda agama merupakan pelanggaran terhadap UU No. 1/1974 ayat (1):

Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya itu, dan pasal-8 huruf (f): Perkawinan di larang antara dua orang yang mempunyai hubungan oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin.

Himpunan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia, (Jakarta: Pt. Ichtiar Baru Van Hauve, 1989) hal 744-788
5

Teks pasal 66 UU No: Untuk perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan berdasarkan undang-undang ini, maka dengan berlakunya undang-undang ini ketentuan-ketentuan yang diatur dalam kitab Undang-undang hukum perdata (Buenggerlijk Wrtbuek), Ordinansi Perkawinan Indonesia Kristen (Huwelij Ordinantie Christen Indonesia S 1933 Nomer 74), Peraturan Perkawinan Campuran (Regeling op de gemengde Huwelijken bS. !898 No. 158), dan peraturan-peraturan lain yang mengatur tentang perkawinan sejauh telah diatur dalm undang-undang ini, dinyatakan tidak berlaku. Lihat H Zainal Abidin Abubakar, SH, Kumpulan Peraturan Perundang-undangan sdalam lingkungan Peradilan Agama, ( Jakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hal. 139
6

Rusli dan R. Tama, Perkawinan Antar Agama dan Masalahnya, (Bandungt: Shantika Dharma,1984)

3. Perkawinan antar agama adalah sah dan dapat dilangsungkan karena telah tercakup dalam perkawinan campuran, sebagaimana termaktub dalam pasal 57 undang-undang ini dan pelaksaannya dilakukan menurut tata cara yang diatur oleh pasal 66 UU No. 1/1974. 4. Perkawinan antar beragama sama sekali tidak diatur dalah UU No. 1/1974, oleh karenanya sesua dengan pasal 66 UU No. 1/1974, maka peraturan-peraturan lama dapat diberlakukan. B. Perkawinan Beda Agama dalam perspektif Hukum Islam Pernkawinan beda agama adalah suatu realita bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, suku, ras dan agama serta kaya akan budaya. Heteroginitas masyarakat itu sangat memungkinkan terjadinya perkawina antar suku, antar suku bahkan antar agama. Namun hal yang terakir ini bagi masyarakat Indonesia merupakan hal yang sangat peka, bahkan pada tahun delapan puluhan sebagi mana dikutip oleh Prof. Dr. Nassruddin Baidan dari majalah tempo sangat merisaukan sebagian umat muslim di Indonesia7. Persoalan social yang sangat kompleks tersebut tentunya harus didekati malalui berbagai disiplin ilmu, sehingga persoalan-persoalan tersebut dapat terjawab dengan benar dan jelas serta memberi kepuasan terhadap masyarakat, khususnya mengenai pembahasan di atas. Pembahsan tentang perkawinan, khususnya perkawina antara muslim dengan non moslim dalam persepektif hukum Islam, tentunya berangkat dari penelusuran terhadap sumber pokok ajaran (Al-Quran dam Al-Hadis) serta mencermati perkembangan hukum Islam tentang hal tersebut. Untuk mempersingkat pembhasan dalam makalah ini, maka paling tidak ada dua golongan yang di sebutkan dalam Al-Quran, yaitu golongan musyrik dan golongan ahlo kitabyang sekaligus menjadi dasar pernikahan antar muslim dengan mereka8. Namun yang menjadi persoalan adalah siapakah musyrikin dan siapakah yang ahli kitab ? Tampaknya para ulama sangat bervariasi dan tidak ada kata sepakat dalam menetapkan kedua istilah tersebut. Ada yang memasukan ahli kitab ke dalam kategori musyrik dan ada pula yang membedakan keduanya secara tegas. Ibn Umar misalnya, ia menganut yang pertama sebagaimana yang ditegaskan: saya tidak tidak melihat syirik yang lebih berat dari perkataan wanita itu bahwa tuhanya ialah isa9. Sedangkan seperti Syaikh Mahmud Syaltut, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan yang sependapat dengan mereka membedakan dengan jelas antar musyrik dengan ahli kitab10.
7

Prof Dr. Nasrudin Baidan, Tafsir Maudui: Solusi Qurani atas Masalh Kontemporer, (Yokyakarta: Pustaka Pelajar 2001) hal 23
8

QS. Al-Baqarah ayat 221 dan Quran Surat Al-Maidah ayat 5 Muhammad Ali al-Sabuni, Tafsir Ayat al-Ahkam, (makkah Dar al:Quran, 1972), hal. 536.

10

Lihat Muhammad Syatul, al-Fatwa, (Kairo Dar al-Kalam,II), hal 270-280 dan Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, (Mesir:Matbaah al-Qahirah, 1380), hal 186-187

Qatadah, seorang mufassir dari kalangan tabiin, sebagaimana dikutip oleh Rasyid Ridha, berpendapat bahwa yang dimaksud musyrik dalam ayat 221 surat Al-Baqarah adalah pentembah berhala pada saat Al-Quran turun. Oleh karena itu ayat tersebut tidak tegas melarang menikah dengan orang musyrik selain bangsa Arab, seperti Cina, Konghucu, Budha dan lain-lain11. Lebih tegas lagi Rasyid Ridha dengan mendasarkan pada ayat 24 surat Al-Fatir, ayat 7 pada surat AlRad, ayat 16 surat Al-Hadid dan 78 surat Al-Mukmin, ia menganggap bahwa majusi, Shabiin sebenarnya dulunya mereka mempunyai kitab dan nabi, namun karena masanya sudah terlalu lama dan jarak yang terlalu jauh dengan nabinya, maka kitab aslinya tidak dapat diketahui12. Pendapat inilah yang dijadikan ketentuan ileh Negara Pakistan dan Turki. Disamping itu, ada pendapat lain dari ulama syafiiyah yang menegaskan bahwa yang dimaksud ahli kitab yang halal dinikahi adalah mereka yang memeluk agama nenek moyangnya Nabi Muhammad diutus dan setelah itu tidak dapat dikatakan lagi ahli kitab13. Adapun secara konkret, al-Jaziri dalam karyanya: Kitab al-fiqh ala al-Madzabil al-arbaah membedakan golongan ahli kitab mnjadi tiga golongan, yaitu: 1. Golongan yang tidak berkitab samawi atau semacam kitab samawi, mereka adalah penyembah berhala. 2. Golongan yang mempunyai kitab samawi, mereka adalah orang-orang majusi (penyembah bintang).
3. Golongan yang mengimani kitab sucinya sebagai kitab samawi, mereka adalah Yahudi dan

Nasrani14. Sementara itu, Yusuf Qardhawi membagi menjadi lima kategori, yaitu: musyrik, muhlid, murtad, bahai, dan ahli kitab. Golongan pertama dan kedua yang disebut al-jaziri adalah termasuk musyrik, sedang muhlid, murtad dan bahai oleh Yusuf Qardhawi digolongkan musyrik. Dalam hal nlarangan pernikahan antara oaring muslim dengan orang musyrik para ulama sepakat tentang keharamannya, hal ini memang secara tegasa dinyatakan dalam al-Quaran. Namun dalam hal pernikahan antara pria muslim dengan wanita ahli kitab, dengan pernikahan seorang wanita muslimah dengan pria ahli kitab.
C. Pernikahan antara Pria Muslimah dengan Wanita Ahi Kitab.

11

Lihat Rasyid Ridha, Tafsir al_Manar, VI, hal. 190. Ibid hal. 186-187 Ali al-Sayis, Tafsit Ayat Al-Ahkam, (Mesir: Matbaah Muhammad Ali Sabih wa Auladah, 1953), hal. 168 Al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ala al-Mazahib al-Arbaah, (Beirut: dar Ihya al Turas al-Arabi, 1996), IV, hal. 190

12

13

14

Berbeda dengan larangan menikahi perempuan musyrik, penyembah berhala, matahari, bintang, ,dan etis, murtad. Al-Quran menghalalkan bagi laki-laki muslim menikahi perempuan dari kalangan ahli kitab. Tentang dibolehkannya laki-laki Muslim menikahi perempuan dari ahli Kitab, Allah berfirman: () Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan15 diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang merugi. Ibrahim Hosen mengelompokkan pendapat para ulama mengenai pernikahan tersebut, dalam tiga kelompok, yakni: ada yang menyatakan mengharam, ada yang mengatakan menghalalkan, ada yang mengatakan halah tetapi siasah tidak menghendaki16. Peretama adalah kelompok yang menbolehkan pernikahan antara pria muslim dengan wanita ahli kitab, yakni pendapat jumhurul ulama. Mereka mendasarkan pada dsalil al-Quran surat al-Maidah ayat 5 yang didu7kung dengan praktik. Pada zaman nabi ada beberapa beberapa sahabat yang melakukannya. Kedua adalah kelompok yang mengharamkannya, seperti yang termuka dari kalangan sahabat yaitu Ibn Umar. Pendapat ini diikuti oleh kalangan syiah Imamiyah. Apa pun dasar dari pendapat ini adalah pemahaman terhadap al-Quran sutar al-Baqarah ayat 221 yaitu: () Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik,
15

Ada yang mengatakan wanita-wanita yang merdeka.

16

Prof . Kh. Ibrahim Husen, Fiqh Perbadingan, (Jakarta: Yayasan Ihya Ulumuddin Indonesia, 1971) hal. 201-204.

walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. Adapun praktik para sahabat menurut pendapat ini adalah karena waktu itu Islam baru sedikit17. Ketiga golongan yang berpendirian bahwa mnikahi perempuan ahli kitab sah hukumnya, tetapi siasah tidak menghendakinya. Pendapat ini didasarkan pada riwayat Umar ibn Khathab merintah kepada para sahabat yang beristri ahli kitab: Ketika Umar meminta kepada para sahabat yang beristri ahli kitab untuk menceraikannya, lalu para sahabat mematuhinya kecuali Huzaifah. Maka Umar memerintahkan untuk yang kedua kalinya kepada Huzaifah ceraikanlah ia, lalu HUzaifah berkata kepada Umar Maukah menjadi saksi bahwa menikahi perempuan ahli kitab itu adalah haram? Umar menjwab ia akan menjadi fitnah, ceraikanlah , Kemudian Huzaifah mengulangi perintah tersebut, namun dijawab Umar ia adalah fitnahAkhirnya Huzaifah berkata sesungguhnya aku tahu ia adalah fitnah tetapi ia halal bagiku. Dan setelah Huzaifah meninggalkan Umar, barulah ia mentalaq istrinya. Kemudian ada sahabat yang bertanya kepadanya mengapa tidak engkau talaq istrimu ketika diperintah oleh Umar? Jawab Huzaifah karena aku tidak ingin diketahui orang bahwa aku melakukan hal yang tidak layak18. Dalam hal ini, al-Jazir berpendapat bahwa hokum perkawinan antara muslim dengan ahli kitab hukunnya adalah mubah, akan tetapi jadi persoalan bagi suami terebih setelah punya anak. Sebab kemudahan itu tidak bersifat mutlak, namun muqayyad19. Lebih tegas lagi, Saiyid Sabiq bahwa hukum antara laki-laki mukmin dengan perempuan kitabiyah, meskipun Jaiz makruh karena suami tersebut tidak terjamin bebas dari fitnah istri. Terlebih dengan kitabiyah harbiyah20. Demikan juga dengan Yusuf Qardhawi, berpendapat bahwa kebolehan nikah dengan wanita kitabiyyah tidak mutlaq, tetapi terikat dengan qayid-qayid yang perlu diperhatikan, yaitu: Kitabiyah itu benar-benar berpegang pada ajaran Samawi, tidak etis dan tidak murtad. Kitabiyah itu mukhsaanah (memelihara diri dari perbuatan zina) uIa tidak kitabiyah harbiyah. Sedang kitabiyah dzimmiyah hukumnya boleh

17

Prof. KH. Ibrahim Husen, op. Cit, hal. 202 Ibnu Qudaman, al-Mugni (Riyad: al-Maktabah al-Riyad al-hadisah), VI, 590 Al-Jaziri, Op. Cit, hal. 76. Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, (Beirut: dar v Kitab al-Arabi, 1973II, hal. 101

18

19

20

Dipastikan tidak terjadi fitnah baik dalam kehidupan rumah tangga terlebih dalam kehidupan sosial masyarakat. Sehingga semakin tinggi kemungkinan terjadi mafsadah, maka semakin besar tingkat larangan dan keharaman. Jika mayoritas ulama membolehkan pria muslim menikahi wanita ahli kita, maka dalam kasus anita muslimah dinikahi oleh para pria ahli kitab dan umumnya non muslim, mereka sepakat menhgharamkanya. Didalam ayat 5 al-Maidah, Allah hanya menegaskan makananmu halal bagi merka dan tidak ditegskannya wanita-wanita mu halal bagi mereka. Penegas teks tersebut, sebagai mana dijelaskan oleh al-Shabuni, dapat dijadikan indikator bahwa hukum kedua kasu itu tidak sama, artinya dalam makanan mereka boleh saling member dan menerima sarta masingmasingboleh menekan keduanya. Namun dalam kasus menikahi wanita-wanita muslimah dengan non muslim lebih urgen ketimbang dengan masalah makana serta memberi dampak yang lebih luas, sehingga tidak ada hubungan antar keduanya. Demikian juga al-Maraghi dalam mengomentari kasus ini, menjelaskan bahwa menikahkan wanita muslimah dengan laki-laki non muslim itu hukumnya haram, berdasarkan sunah Nabi, ijma umat. Rahasia larangan ini adalah karena istri tidak punya wewenang seperti suami, bahkan keyakinan berusaha memaksa istri untuk menukar keimanannya sesuai engan keyakinan suami. D. Kesimpulan

E. Daftar Pustaka Al-Quran Terjamah Schacht, Jhosep, An Itroduction to Islamic law, The Chalendon Press, London, 1971 Tim Penyusun Ensiklopedia, Ensiklopedia Hukum Islam, Cet Ichiat van Hoeve, Jakarta. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia, Jakarta: Pt. Ichtiar Baru Van Hauve, 1989. Abubakar, Zainal Abidin, SH, Kumpulan Peraturan Perundang-undangan sdalam lingkungan Peradilan Agama, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2001. Rusli dan R. Tama, Perkawinan Antar Agama dan Masalahnya, Bandungt: Shantika Dharma,1984.

Baidan, Nasrudin, Tafsir Maudui: Solusi Qurani atas Masalh Kontemporer, Yokyakarta: Pustaka Pelajar 2001. Ali al-Sabuni, Muhammad, Tafsir Ayat al-Ahkam, makkah Dar al:Quran, 1972. Muhammad Syatul, al-Fatwa, Kairo Dar al-Kalam,II, hal 270-280 dan Rasyid Ridha, Tafsir alManar, Mesir:Matbaah al-Qahirah, 1380. al-Sayis, Ali, Tafsit Ayat Al-Ahkam, Mesir: Matbaah Muhammad Ali Sabih wa Auladah, 1953. Al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ala al-Mazahib al-Arbaah, Beirut: dar Ihya al Turas al-Arabi, 1996. Husen, Ibrahim, Fiqh Perbadingan, Jakarta: Yayasan Ihya Ulumuddin Indonesia, 1971. Qudaman, Ibnu, al-Mugni, Riyad: al-Maktabah al-Riyad al-hadisah. Sabiq, Sayid, Fiqh al-Sunnah, (Beirut: dar v Kitab al-Arabi, 1973II.